Low Pressure

.

.

.

.

Original Story by

Sandra Brown

Edited by

3Min9Sec

.

.

.

.

Cast

Main

Min Yoongi X Park Jimin

Other member

OC

Genre

Mystery Thriller, Romance

Warning

GS! OOC! Typo(s)

Summary

Waktu itu Yoongi baru berusia sepuluh tahun ketika kakaknya Hoseok tewas dalam badai, lalu 12 tahun kemudian dia menulis novel tentang kejadian tersebut. namun, begitu banyak yang mengincarnya.

karena itulah dia harus berurusan dengan mantan pacar sang kakak. Yoongi bertekad mengungkap siapa yang telah membunuh sang kakak.

kecuali jika si pembunuh menyerangnya duluan …

Jimin berharap bisa mengabaikan ketakutan Yoongi, namun dia pun sampai pada kesimpulan meresahkan yang sama. Ada yang takut kisah yang berulang-ulang diceritakan kembali itu akan membongkar kenangan yang tadinya terkunci jauh di dalam alam bawah sadar Yoongi selama lebih satu dekade.

Yoongi sebagai anak kecil dengan ingatan sepotong-sepotong bukanlah merupakan ancaman berat bagi individu itu. Tetapi, Yoongi sebagai wanita dewasa dengan buku yang laku keras jelas bisa mengancamnya. Kau akan menyesal sekarang terasa lebih mirip janji daripada sekadar peringatan.

Jimin juga takut bahwa kenangan samar yang begitu ingin dibangkitkan lagi oleh Yoongi itu merupakan kenangan yang sebaiknya tetap tersimpan dalam alam bawah sadarnya. Jiwa Yoongi pasti punya alasan untuk membloknya. Yoongi mungkin nanti akan menyesal tahu mengapa dia dilindungi dari hal itu. Namun, Jimin punya alasan-alasan egois sehingga menginginkan wanita itu mengingat kembali semuanya, terutama demi meringankan Jimin sendiri. Jadi untuk sementara ini, dia akan menyimpan kecemasannya dan terus membantu Yoongi.

Dengan bantalan ibu jarinya, dia menghapus air mata dari pipi wanita tersebut, lalu, menggunakan paha untuk menahan ayunan supaya stabil, menyusupkan tangan ke ketiak Yoongi, mengangkatnya dari bangku, dan menurunkannya ke tanah. Dia lalu menarik tangannya dengan enggan. Dengan waspada dia memandang berkeliling. Lima menit telah berlalu sejak sepasang kekasih itu berhenti berciuman untuk menghirup udara. Paw-paw dan istrinya berhenti main lempar bola dan memasukkan si cucu ke van mereka lalu pergi. Pria usia empat puluhan yang memakai kaus tanpa lengan dan celana panjang memarkir sedan berdebunya, keluar, dan berjalan langsung ke meja piknik, tempat dia duduk dan segera membuka kerah dan ponselnya. Sambil berbicara di telepon, dia memandangi para pemandu sorak, yang melakukan koprol. Jimin menduga orang itu mengatur kedatangannya ke taman supaya pas dengan ketika gadis-gadis itu ada di sana. Tak ada yang tertarik pada dirinya dan Yoongi.

Dia kembali menghadap wanita itu dan bertanya, "Siapa yang tahu soal masalah ingatanmu?"

Yoongi menatapnya dengan ekspresi yang mengatakan banyak hal. ketika menyadari apa yang tanpa kata diberitahukan wanita itu padanya, Jimin ternganga. "Bercanda kau."

"Tidak," Ujar Yoongi pelan. "Cuma kau. Aku tak pernah memberitahu siapa pun. Orangtuaku sangat sedih karena kehilangan Hoseok, karena segalanya, jadi aku tidak mau menambah beban pikiran mereka. Waktu Kyungsoo bicara denganku, kuberitahu dia versi yang akhirnya kutulis di buku, dan setahuku memang itu yang benarㅡ Aku mencoba mengingat. Sumpah. Tapi, Ravi lalu ditangkap. Kyungsoo dan Joonmyeon sangat yakin telah menyelesaikan misteri itu, jadi rasanya tidak terlalu penting lagi kalau aku mengingat kembali semuanya.

"Selama persidangan, aku hanya perlu bersaksi tentang betapa sugestif dia dan Hoseok ketika berdansa, dan aku dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur. Aku tak bisa menuding Ravi dan secara positif mengidentifikasinya sebagai pembunuh Hoseok. Tapi, aku juga tidak bisa bilang bukan dia pelakunya. Begitu juga semua orang yang ada di ruang sidang." Jelas Yoongi, "Dia divonis hanya berdasarkan bukti tidak langsung. Jumlahnya banyak. Tapi, tidak ada bukti fisik. DNA-nya cocok," Yoongi berargumentasi.

"Beberapa helai rambut. Di pakaian Hoseok juga ada jejak ketombe si Ini dan sel kulit di Itu. Dia kan berdansa dengan banyak orang. Dia dipenuhi DNA dua belas orang atau lebih. tapi, air liur Ravi—" Yoongi memberi Jeda, sebelum melanjutkan. "Ravi mengaku menciumnya dengan bibir terbuka dan bahwa dia juga mencium payudara Hoseok."

"Kau bermaksud mengatakan bahwa menurutmu, Pria itu membunuhnya." Komentar Jimin, "Tidakㅡ aku hanya mau bilang bahwa dia tebakan terbaik Kyungsoo. Tapi, kalau dia memang bersalah dan di jebloskan ke penjara untuk merenungi dosanya selama dua puluh tahun yang panjang, keadilan ditegakkan, bukan? Kalau begitu, mengapa ada yang menakut-nakutimu karena membuat dunia memperhatikan perbuatannya? Dan omong-omong tentang… " Dia merangkul bahu Yoongi dan mendekatkan wanita itu ke sisi tubuhnya ketika dia berbalik dan melangkah menjauhi ayunan. "Aku ingin tahu siapa laki-laki dipick up itu."

"laki-laki apa? Di mana?"

"Jangan lihat." Dia menarik Yoongi erat supaya Yoongi tetap menghadap ke depan.

"Pokoknya jalan terus."

"Ada yang mengawasi kita?"

"Tidak bisa kupastikan. Tapi mobil yang sama lewat dua kali dalam beberapa menit terakhir. Aku tadinya tak terlalu memikirkannya, tapi dia sekarang lewat untuk ketiga kalinya. Ini taman yang indah, tapi kurasa bukan kolam bebek atau gazebo yang diperhatikannya. Dia bukan tipe seperti itu."

"Dia kelihatan seperti tipe apa?"

"Aku tidak bisa melihat raut mukanya, tapi mobilnya jelas-jelas menunjukkan dia bajingan tengik. Banyak stiker bumper, gambar tengkorak dan tulang disilangkan di pelindung lumpur, ban yang menggentarkan. Aku berani taruhan yang bahwa ada rak senjata di kabin mobilnya."

"Kau memperhatikan semua itu?"

"Aku biasa memperhatikan horizon, mencari pesawat yang harus kuhindari, biasanya hanya tampak seperti titik bergerak. pick up hampir sebesar apartemenku itu jelas gampang terlihat. Apakah kau kenal orang yang mengemudikan mobil seperti itu?" Yoongi memandangnya tajam.

"Sudah kukira." Jimin berhenti lalu membungkuk, seolah hendak memetik bunga, dan sambil melakukannya, dia melirik ke ujung jalan, tepat ketika pick up itu berbelok dipojok beberapa blok dari sana. "Hilang."

Yoongi memandang ke arah yang sama, tapi sudah terlambat untuk melihat mobil itu meskipun hanya sekelebatan.

"Bisa siapa saja."

"Memang, tapi aku sekarang gampang paranoid."

"Kurasa kita berdua sama-sama gampang paranoid."

"Buaya jangan dikadali, Kau menangis beberapa menit lalu. Kau ketakutan, dan memang beralasan. Kau sendiri bilang bahwa orang kita tidak ingin kau mengingat apa yang sebetulnya terjadi."

"Aku bilang begitu, ya, sebab aku tahu tentang hilangnya Ingatanku. Dia tidak."

"Yang membuat dia makin nekat untuk mengetahui apa yang akan kaulakukan, mengapa kau diam saja selama ini."

"Kalau mengetahui informasi krusial bagi kasus ini, aku pasti mengutarakannya selama penyelidikan waktu itu. Aku pasti memberitahukan semua yang kulihat."

"Tidak kalau yang kaulihat membuatmu ketakutan setengah mati." Dia menatap Yoongi dalam-dalam dan mengatakan apa yang mungkin sebetulnya sudah diketahui Yoongi namun tak berani diakuinya, bahkan pada diri sendiri.

"Misalnya menyaksikan pembunuhan kakakmu." Yoongi bergidik. "Tidak."

"Mungkin ada yang mengira begitu.Aku mengira begitu."

"Yah, kau salah. Aku pasti ingat kalau memang itu yang terjadi."

"Oke," katanya, tidak mau menambah kekalutan Yoongi . "Tapi, kita butuh memverifikasi semua yang kau ingat, atau kaupikir ingat. Kita butuh orang yang ada di sana untuk mengisi celah-celah yang kau dan aku tidak bisa isi." Da ragu sesaat. "Kita butuh bicara dengan orang tuamu."

"Soal ini? Sama sekali tidak boleh, Jimin."

"Mereka harus tahu."

"Aku tak mau mengungkit saat terburuk dalam hidup mereka."

"Kau sudah melakukannya."

"Yah, terima kasih sudah mengingatkan aku tentang hal itu!" bentak Yoongi. "Saat mulai menulis Low pressure, aku tidak tahu buku itu akan diterbitkan ketika appa sedang berjuang mempertahankan hidup."

"tidak lama lagi kau yang akan berjuang mempertahankan hidupmu,dan mereka pasti ingin diberitahu."

"Kau melihat orang asing naik mobil yang dimodifikasi, seolah yang seperti itu langka di Seoul, lalu mendadak hidupku dalam bahaya? Kau terlalu membesar-besarkan masalah ini."

"Oh, sekarang pengingkaran. Sehat sekali." Yoongi terpaksa membuang muka.

"Orangtuamu harus mengetahui bahaya yang mungkin terjadi." Dengan keras kepala Yoongi menggeleng. "Appamu punya uang. Dia bisa menyewa pengawal untukmu."

"Apakah kau sudah sinting? Aku tidak mau punya pengawal." Jimin mengalah mengenai hal itu. "Beritahu mereka, Yoongi."

"Tidak."

"Membicarakannya dengan mereka mungkin bisa menyegarkan ingatanmu."

"Kubilang tidak! Titik. Sudahlah." Jimin memang tidak berharap yoongi bakal setuju, tapi kengototan wanita itu menjengkelkan. Jimin berkacak pinggang dan menghembuskan napas. "Baiklah kalau begitu, Jungkook saja. Dan sebelum kau menyela dengan segala alasan mengapa kita tidak akan melakukannya, dengarkan aku dulu. Kau dan dia setidaknya berada di lokasi yang bisa dibilang sama waktu Badai menyerang, yang kebetulan sama dengan waktu ingatanmu hilang. Dia pilihan logis berikutnya yang sebaiknya kita ajak bicara."

Dengan segan Yoongi menggumam, "Mungkin."

"Apakah dia membantumu ketika kau menulis buku, dengan memberitahukan fakta-fakta yang hilang?"

"Kami makan siang bersama satu kali" Jimin menunggu, mengira akan mendengar lebih banyak, namun waktu Yoongi tidak berkata-apa-apa, dia melanjutkan, "Aku tidak tertarik pada apa yang kau makan."

"Jungkook tidak terlalu berterus terang mengenai kesannya tentang Memorial Day tahun itu."

"Mengapa?"

"Dia tidak terlalu berterus terang juga mengenai hal tersebut." Jimin mengerutkan kening.

"Jangan menafsirkan macam-macam," Kata Yoongi. "Waktu itu mengerikan juga baginya. Sudah menjadi masa lalu. Terkubur. Aku tidak terlalu menyalahkannya karena tak mau membicarakannya."

"Kalau dia pergi ke timur waktu itu, Ke mana?"

"Dia Sekarang berada di ibukota."

"Seoul." Jimin melihat jam tangan, lalu kembali berjalan, namun dengan langkah lebih cepat. "Kalau bergegas, kita bisa kesana dengan cepat."

"Bagaimana kau bisa tahuㅡ "

"Well kita bisa naik kereta."

.

.

ㅡ Low Pressure ㅡ

.

.

Kim Taehyung meluncur meninggalkan taman dan lingkungan rumah Min Yoongi. Menurutnya, tapi wanita itu dan Park Jimin tidak menyadari kehadirannya, dan dia memang tidak mau mereka sadar. Dia ingin menunggu sampai dirinya siap beraksi. Lalu barulah mereka boleh menyadari kehadirannya.

Menuruti perutnya yang keroncongan, dia mampir di 7-Eleven di jalan akses selepas jalan raya dan membeli burger serta Cola. Dia kembali ke mobil dan, sambil makan di balik setir, merenungkan apa yang tadi disaksikannya dan tindakan yang harus diambilnya. si wanita murahan itu tidak lagi muncul di TV berjualan buku setiap kali dia menyalakannya. Tetapi, apakah itu penting? Tidak juga. Menurut cara berpikir nya, kerusakan telah terjadi pada hari buku tersebut dipasarkan. Buku itu masih beredar, dibaca ribuan orang setiap hari.

Dengan geram dia menggigit burger lagi, membuat membuat kakanya Kim Won shik ㅡ Ravi terkesan seperti orang bodoh, dan pembunuh. Wanita itu harus mati karenanya. Namun, karena tidak ingin mempermudahnya bagi Yoongi, dia berencana bermain-main dulu dengan wanita itu sebelum membunuhnya.

Dia terutama sangat menikmati masuk ke mobil Yoongi dan mengusap-usap alas kulit yang masih hangat sehabis diduduki wanita tersebut. Rasanya hampir sama mengasyikan dengan memilih-milih celana dalam Yoongi di laci. Tetapi, meskipun aksi-aksi kecil itu menyenangkan, dia siap bertindak lebih lanjut. Dia seakan bisa mendengar Ravi berbisik di telinganya, "Serang selagi besinya masih panas," dan dia selalu mengikuti saran Ravi.

Pilot sok jagoan itu juga menjadi alasan tambahan baginya untuk melanjutkan aksi. Dia bisa menyerahkan salah satu tatonya—kecuali yang ular—demi melihat tampang Jimin waktu menyaksikan apa yang terjadi pada pesawatnya. Pria itu pasti marah besar. Dia tidak takut padanya. Sama sekali tidak. Tetapi, laki-laki itu komplikasi tambahan yang harus diperhitungkan.

Taehyung mengamati rumah Yoongi sepanjang pagi, dan benar saja, waktu dia pulang, Jimin bersamanya. Polisi datang dan pergi, tapi dia tak terlalu mencemaskan hal itu. Saat berada di dalam rumah Yoongi dia sangat berhati-hati. Lagi pula, dia tidak pernah masuk catatan polisi. Sidik jarinya tidak pernah diambil. Malah, selain di tempat kerja, hanya beberapa orang yang tahu bahwa dia ada. Temannya tidak banyak. Dia berangkat kerja. Dia pulang. Dia berolahraga dengan peralatan sendiri. Kalau berjalan-jalan, misalnya ke restoran, ke bioskop, dia selalu sendirian. Kalau sedang ingin bicara dengan seseorang, dia berpura-pura saja bahwa Ravi bersamanya, mendengarkan, tertawa, memberinya saran.

Dia terus mengawasi rumah Yoongi sementara berjam-jam berlalu. Dia penasaran apa yang mereka lakukan di dalam sana. Membersihkan kekacauan yang dibuatnya, atau berasyik-asyik? Jimin-si-pejantan-tangguh mungkin mengincar si adik, ingin tahu bagaimana Yoongi kalau dibandingkan dengan kakaknya. tetapi, yang benar-benar menggusarkannya adalah acara jalan-jalan mereka ke taman. Yoongi dan Jimin tampak begitu santai, padahal mestinya merasa terancam olehnya, merasa bahwa dia mengincar mereka, meskipun mereka tidak melihatnya.

Main ayunan, ya ampun. Seperti sepasang anak kecil yang tidak mengkhawatirkan apa-apa saja. Berbicara dengan kepala berdekatan. Bisik-bisik apa sih mereka? Betapa menyebalkannya Kim Won Shik? Darah taehyung langsung mendidih.

Dia ingin membalaskan dendam kakaknya, dan dia ingin melakukannya sekarang. Tak ada lagi main manis. Dia orang yang bicara dengan tindakan. Dia tidak akan menunggu. Dia tak bakal menunda sampai besok apa yang bisa dilakukan hari ini.

Dia menjejalkan sisa burger dalam mulut, meremas bungkusnya, dan melemparkannya ke lantai mobil, lalu menyesap setengah colanya dengan sedotan plastik. Dia hampir menyalakan mesin mobil waktu ponselnya berdering. Bosnya, menelepon lagi. Hari ini sudah sepuluh kali pria itu berusaha menghubunginya, namun Taehyung mengabaikan semua teleponnya sebab tahu mengapa orang itu menelepon. Dia ingin tahu kenapa Dia bolos kerja tiga hari berturut-turut. Karena ada hal-hal lebih penting yang harus dilakukan Oleh Kim Taehyung, itulah sebabnya. Dia tidak harus menjelaskan tindakannya pada siapa pun. Dia yang menentukan nasibnya sendiri.

Dia memungut telepon, berkata, "Persetan kau!" pada caller ID, lalu mengubahnya menjadi nada getar supaya tidak mengganggunya lagi. Dia menghidupkan mobil, keluar dari lapangan parkir 7-Eleven, dan meluncur kembali ke daerah yang barusan ditinggalkannya. Dikitarinya taman dua kali. Mereka tidak lagi ada di sana. Dia menyetir menuju rumah Yoongi, terdorong oleh amarah, tak ada rencana khusus di benaknya selain bahwa dia harus menghentikan napas Min Yoongi. Menghajar Park Jimin brengsek itu akan jadi bonusnya. Poin tambahan. Ravi pasti senang sekali.

Namun, ketika Dia berbelok ke blok Yoongi, mobil Vette itu ngebut melewatinya, hanya berupa bayangan merah kabur. Dia hanya sempat melihat bahwa ada dua orang di dalam. Dia menginjak pedal gas kuat-kuat dan berputar begitu ada kesempatan. Tetapi, pickup-nya bukanlah tandingan Vette dalam hal kecepatan dan kemampuan bermanuver. Ketika Dia berhasil menuju ke arah yang sama, Vette tersebut telah lenyap.

Begitu kereta telah berangkat, Yoongi pada Jimin, "Aku tak habis pikir mengapa kubiarkan kau membujukku untuk melakukan ini. perjalanan ini."

"Sesampainya di sana, kita akan punya waktu untuk makan malam, tidur sampai puas, menemui saudaramu besok pagi-pagi, pulang. Tak sampai 24 jam."

"Selama itu aku berada terlalu jauh dari rumah. Aku takut kondisi Appaku akan memburuk."

"Kalau kau ditelepon, kita carter jet untuk pulang."

"Kau sih gampang melakukannya."

"Kau mampu. Kau kan kaya dan terus bertambah kaya." Yoongi tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya. "Tapi, tidak memberitahu mereka bahwa kita pergi terasa seperti berbohong." Dia menelepon Ibunya dalam perjalanan ke stasiun di Ansan dan berbicara dengan ayahnya juga. Mereka berdua menenangkan Yoongi , mengatakan bahwa ayahnya merasa nyaman, bahwa obat-obatan berhasil mengurangiefek samping kemoterapi terbaru, dan bahwa untuk saat ini dia baik-baik saja. Meski begitu, dokter onkologi mendesaknya untuk tetap diopname supaya dia bisa dimonitor dengan cermat.

"Aku setuju itulah yang paling baik," Yoongi berkata pada ayahnya.

"tapi, aku rindu pada Appa."

"Aku juga Sayang. Aku sudah terbiasa melihatmu hampir setiap hari."

Meskipun bersikap tegar, sang ayah terdengar lemah, yang semakin menambah rasa bersalah Yoongi karena pergi tanpa memberitahu mereka tentang perjalanannya untuk menemui Jungkook. Karena Jimin yang mengatur segalanya, mereka bisa dibilang berlari dari taman ketika pulang ke rumah Yoongi. Jimin hanya memberinya waktu lima menit untuk berkemas ala kadarnya lalu menggusahnya ke mobil.

Dia ngebut di antara lalu lintas gila dengan kecepatan hampir 100 kilometer/jam lebih, yang pasti akan menyebabkan Yoongi sesak napas karena ketakutan kalau dia tidak sibuk menghadapi saluran telepon pemesanan tiket yang sama gilanya. Mereka sampai di pintu masuk ketika hanya tinggal beberapa menit. Yoongi berkeras memberitahu Jimin bahwa dia tidak suka yang dekat jendela. Kata Jimin, Yoongi bisa pingsan kalau memandang keluar dan melihat awan.

Senjak saat itu mereka ribut terus. Sekarang Yoongi berkata, "Kau bahkan tidak memberiku waktu untuk memikirkannya."

"Kalau kau pikirkan, kau takkan ikut." Jimin memandang ke sekeliling gerbong kereta.

"Laki-laki dipick up itu—"

"Aku tidak melihatnya dengan jelas."

"Aku juga. Kau terlalu ngebut tadi. Aku hanya sekilas melihat lengannya yang bertato, disandarkannya di jendela pengemudi yang terbuka." Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Barangkali cuma kebetulan bahwa dia melaju ke arah rumahku."

"Mungkin saja."

"Tapi, kau tidak beranggapan begitu."

"Kalau ada di suatu area di sekitar pinggiran kota, itu akan pas. Tapi, di lingkunganmu, di taman kota… " menggeleng.

"Eh-heh. Mengapa laki-laki seperti itu keluyuran di jalanan komplek elit seperti itu? Mencari anjing-nya yang hilang?" Omongan lain cuma akan bersifat spekulatif, jadi percuma saja dibahas lebih lanjut. Lagi pula, keresahan Jimin lama-lama menjengkelkan juga.

"Kenapa sih kau?" tanya Yoongi.

"Tidak apa-apa."

tiba tiba Yoongi ingin bertanya tentang insiden yang membuyarkan karier pria itu dalam dunia penerbangan komersial, namun ekspresi garang Jimin membuatnya membatalkan niat. kemudian memilih diam selama perjalanan menuju ke Seoul dengan suasana hening.

To Be Continued ㅡ

hallo~

Big thanks to my precious readers,

see you next chapter ~ *bow*