hai minna, jumpa lagi...
sebelumnya aku mau minta maaf karna chap 9 ini molor nya pake BANGET.
kemaren2 aku bener2 sibuk dg RL-ku smpe gk pny wktu buat ngelanjutin fic-ku.
tp karna skrg smua urusan udh kelar jd aku bisa apdet chap 9 dan bisa kmbali mmbalas review dari kalian, senangnya :D
oke, mari kita bls review dulu :)
Guest : ini udh lanjut, makasih banyak ya karna selalu setia menanti #nangis bombay
white's : ini udh lanjut, makasih dukungan ny :)
Mina Jasmine : halo Mina, boleh2 kok dan tebakan mu benar sekali, haaha makasih dukungan ny, jd mahasiswa emg sibuk (aku ny yg sok sibuk, hehehe)
Atieka natika : wah km tw bgt ya, bener loh, ehehe
asdf : makasih, ini udh lanjut :)
Mayow : udh aku lanjut kn :)
IisVadelova : benarkah? aku jg loh :) ahaha iya saku terus berjuang dan pantang menyerah kok, mari kita bantu doa :)
Guest : ini udh lanjut, maaf ya gk bisa kilat :(
123123 : wah naru keren ya, dia skrg lg cengar cengir gaje loh dblakang :D ini udh lanjut, makasih ya buat dukungan ny :)
Fina Imama : iya, manja bgt emg si ayam ehehe
pelapopmie : entah knp ketika baca pen name km yg keluar di otak ku adalah pop mie goreng, ahaha lupakan :D hmm pertanyaan km bnyk ya, ahaha dan smua ny bakal terjawab dg seiring ny wktu, maaf aku gk bs ksh bocoran #ditampol :)
yosh, selesai jg membalas review dr kalian, mgkn kalian bosen baca ny tp aku akan tetap mengatakan kalo aku selalu senyum2 tiap baca reviw dr kalian, ehehe.
oke kembali ke cerita, :D
Spoiled Prince
Disclaimer : om Masashi Kishimoto
Story by : Pinky Rain
Pairing : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Warning : AU, OOC, gaje, abal, norak, typo(s) berhamburan dimana-mana
Rated : M
Don't Like Don't Read
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 9
.
"Aku...sebenarnya..." ucapan Naruto terbata-bata. "Sebenarnya aku membawa kabur Hinata-chan." terang Naruto.
"APAAA?"
.
.
.
.
"Apa maksudmu dengan membawanya kabur Dobe?" selidik Sasuke.
"Sebaiknya kita masuk dulu." ajak Sakura. Lalu keempat anak remaja itu masuk ke dalam kediaman Uchiha dan duduk di kursi ruang tamu.
"Sekarang jelaskan semuanya padaku Dobe." titah Sasuke. Sakura hanya diam sambil merangkul pundak Hinata yang tertunduk. Naruto memandang ragu pada Sasuke yang tengah menyedekapkan kedua tangannya sambil menatapnya tajam, kemudian mulai bercerita.
Flashback on
Sudah beberapa hari ini Hinata menghindari Naruto. Dia selalu menolak setiap kali diajak pergi oleh pemuda blonde itu. Tentu saja Naruto merasa aneh dan dia juga jadi kesal karna dia tidak merasa telah melakukan kesalahan tetapi Hinata seperti tak mau bertemu dengannya.
"Ada apa denganmu Hinata-chan?" tanya Naruto. Begitu bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi dia langsung membawa Hinata ke atap sekolah dan mulai menginterogasi gadis indigo itu. Dia sudah tidak tahan dengan kediaman Hinata selama beberapa hari ini.
"..."
"Kenapa kau selalu menghindariku?"
"..."
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"..."
"Ayolah Hinata, aku tidak akan tau kalau kau terus diam seperti ini."
"A-aku menyukaimu, Naruto-kun." aku Hinata. Lensa lavender itu menantang blue shapire Naruto yang melebar. Hinata baru saja menyatakan cinta padanya. Jika memang Hinata menyukainya lalu kenapa dia menghindarinya?
"Kau menghindariku karna kau menyukaiku?" tanya Naruto masih tidak percaya dengan pengakuan Hinata. Gadis itu menggeleng.
"Aku telah dijodohkan dengan anak rekan bisnis Otou-san. Dan untuk mengikat hubungan kami, lusa aku akan ditunangkan dengannya." jelas Hinata. Untuk yang kedua kalinya manik sebiru lautan milik Naruto terbelalak.
"Lalu apa hubungannya dengan kau menghindariku?" nada suara Naruto terdengar lesu. Dia masih terkejut dengan penjelasan Hinata.
"Aku akan bertunangan Naruto-kun. Jadi mulai sekarang aku harus melupakanmu. Bagaimana bisa aku melupakanmu jika aku selalu bertemu denganmu. Karna itu aku..."
"Apa kau menyukai orang itu?" potong Naruto.
"Kan sudah kubilang aku menyukaimu, Naruto-kun."
"Kalau begitu tolak saja. Beres kan." suruh pemuda itu. Hinata menghela napas.
"Tidak semudah itu, Naruto-kun. Aku tidak memiliki keberanian sebesar dirimu untuk menyakiti perasaan ayahku."
"Tapi kau tidak menyukainya kan." Naruto masih berusaha membujuk Hinata. Entah mengapa saat ini dia merasa takut kehilangan gadis itu.
"Aku akan belajar menyukainya." terang Hinata, yang tentu saja membuat Naruto terkesiap. "Maafkan aku Naruto." setelah mengucapkan itu, dia pergi meninggalkan Naruto yang masih termangu sendirian.
.
.
.
Hinata menatap kosong pada tamu-tamu yang datang kemudian menghela napas. Mungkin sudah puluhan kali malam ini dia menghela napas. Pikirannya saat ini berada di tempat lain. Lebih tepatnya dia sedang memikirkan pemuda pirang yang kemarin lusa dia temui.
Mungkin tidak adil untuk pemuda itu karna selama beberapa hari ini dia selalu menghindarinya. Tapi dia tidak berdaya.
Sejak pertama kali bertemu dengan pemuda itu dia sudah menyukainya. Karna itu dia memilih untuk bersamanya meski banyak selentingan yang mengatakan kalau pemuda itu adalah pembawa sial. Baginya, pemuda itu adalah pembawa keberuntungan karena pemuda itu membuatnya menjadi gadis yang pemberani.
Dia berani mengungkapkan isi hatinya, termasuk mengatakan kalau dia menyukai pemuda itu. Wajahnya tiba-tiba memanas saat dia mengingat bahwa dia telah menyatakan cinta padanya. Tapi untuk menyakiti perasaan ayahnya, dia tidak memiliki keberanian itu.
Hinata kembali menghela napas. Saat tau dia akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis ayahnya, dia begitu terkejut. Ingin berontak.
Tapi dia tak kuasa. Dalam hal ini bukan hanya menyangkut perasaannya, tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup sang ayah. Jika dia menolak perjodohan itu maka relasi akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan Hyuuga.
"Kau tampak cantik Hinata-san." sebuah suara berhasil membuyarkan lamunan Hinata. Dia menoleh pada sumber suara. Seorang pemuda berkulit pucat tersenyum padanya. Dia memberikan sebuket mawar merah pada gadis Hyuuga itu.
Hinata tersenyum tipis kemudian menerima bunga itu. "Arigatou."
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya pemuda itu. Hinata menggeleng sebelum menjawab.
"Bukan apa-apa."
"Kalau begitu bersiaplah, karna acaranya akan segera dimulai."
Hinata mengangguk kemudian mulai berjalan ke dalam aula besar tempatnya mengadakan pertunangan. Sang pemuda hanya menatap sang gadis dari belakang kemudian menyusulnya masuk.
Tak butuh berapa lama setelah mereka masuk, acara pun dimulai. Hinata menundukkan kepala semakin dalam ketika acara tukar cincin akan dimulai. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.
Dia memejamkan mata.
"Kau bilang akan belajar menyukainya, tapi kenapa wajahmu susah begitu?"
Hinata seketika membuka mata saat mendengar suara yang sudah tak asing lagi bagi telinganya. Dia mendongak. Berdirilah seorang pemuda berambut duren dengan wajah kusut dan keringat yang bercucuran. Apa pemuda itu habis berlari?
"Na-Naruto-kun.."
"Maaf. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu untuk orang itu." utar pemuda itu kemudian menarik tangan Hinata. Gadis indigo itu tidak berontak atau pun menolak ketika Naruto membawanya pergi dari acara pertunangan itu.
Naruto menghentikan langkah sebelum menoleh ke belakang.
"Maafkan aku Hiashi ji-san. Aku akan bertanggung jawab nanti." setelah mengatakan itu dia langsung membawa lari Hinata. Semua yang ada di sana dibuat terkejut dengan aksi nekat Naruto. Bahkan Hiashi seperti berubah menjadi patung saat menyaksikan anaknya dibawa pergi oleh seorang pemuda.
Falshback off
"Yokatta..ukuran tubuh kita tidak jauh berbeda, jadi kau bisa memakai bajuku Hinata." ujar gadis musim semi saat melihat Hinata yang telah keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.
"Arigatou, Sakura-chan." Hinata tersenyum dan dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh gadis musim semi itu.
Hinata mendekat pada Sakura saat gadis itu menyuruhnya untuk duduk di ranjang di sisinya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya gadis gulali itu.
Hinata tampak menghela napas. "Aku tidak tau. Saat Naruto-kun datang untuk membawaku, tidak ada hal lain yang ada dipikiranku selain mengikutinya. Entah bagaimana aku merasa lega saat ini."
"Lega?"
"Hmm. Aku tidak bisa membantah ketika Tou-san ingin menjodohkanku, tapi saat Naruto-kun datang dan membawaku kabur, seolah dia mewakili perasaan yang tak bisa kuungkapkan."
"Apa kau menyukai Naruto, Hinata?" pertanyaan dari Sakura itu berhasil membuat wajah Hinata memerah. Dan sebelum Hinata menjawab pun Sakura sudah tau jawabannya. Gadis itu hanya mengangguk tanda 'iya'.
"Aku bahagia saat bersamanya. Hariku tidak membosankan saat melihat wajah tersenyumnya. Kau akan mengerti saat kau merasakannya, Sakura-chan." Hinata tersenyum lembut.
Sakura juga ikut tersenyum. Dia menunduk wajahnya saat di benaknya terlintas wajah seseorang. 'Aku mengerti perasaanmu, Hinata.' bisik hatinya.
Tok tok tok
Sebuah suara ketukan menghentikan obrolan para gadis itu. Si pengetuk membuka pintu saat gadis pink menyuruhnya masuk. Tampak sosok Naruto berdiri di ambang pintu.
"Apa aku mengganggu?" ucapnya sambil menjejakkan kakinya memasuki kamar.
"Tentu tidak Naruto-kun. Kau ingin bicara dengan Hinata?" pemuda itu hanya mengagguk. "Kalau begitu aku akan keluar." setelah mengatakan itu Sakura keluar kamar meninggalkan dua insan berbeda gender itu.
Setelah memastikan Sakura sudah keluar Naruto mendekati Hinata dan naik di atas ranjang dimana Hinata duduk.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya pemuda itu setelah duduk di sisi Hinata.
"Aku terkejut Naruto-kun." jawab Hinata.
Naruto meraih tangan Hinata dan menggenggamnya. "Maaf karna aku membawamu kabur begitu saja. Saat itu tidak ada hal lain yang terlintas di otakku untuk menggagalkan pertunanganmu." pemuda itu menatap sayu pada gadis indigo di hadapannya. Tampak dia merasa bersalah.
Hinata menggeleng, "Tidak Naruto-kun. Aku justru merasa senang. Aku jadi tau bagaimana perasaanmu padaku." dia tersenyum.
"Aku akan bertanggung jawab Hinata-chan. Akan kupastikan Hiashi ji-san merestui hubungan kita." janji Naruto. Hinata mengangguk dan tersenyum.
Dengan satu tarikan Naruto membawa Hinata dalam pelukannya. Berusaha menyalurkan kekuatan pada gadis yang kini ada dalam dekapannya tersebut. Dia baru menyadari kalau Hinata lebih berarti dari yang dia duga.
Oke, mari kita lupakan mereka sejenak. Sekarang kita beralih pada gadis pinky yang kini sedang berjalan dari arah dapur.
"Mereka sedang apa?" sebuah suara membuatnya berjengit karna terkejut.
"Astaga Sasuke-kun. Kau membuatku kaget." omel gadis itu. Yang diomeli tidak menanggapi.
"Kemarilah." suruh pemuda itu sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Sakura berjalan mendekat dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh pemuda emo itu.
"Kukira kau sudah tidur Sasuke-kun." utarnya.
"Apa kau di usir dari kamarmu?" alih-alih menanggapi pemuda itu malah bertanya.
"Ya begitulah. Sepertinya malam ini aku akan tidur di kamar tamu, atau tidur di sofa." Sakura menanggapi.
"Kenapa harus begitu? Kau bisa tidur denganku." bantah Sasuke.
"A-apa? Ke-kenapa aku harus tidur denganmu?" tanya Sakura gugup. Saat ini wajahnya sudah benar-benar memerah.
"Kenapa? Kita sudah sering tidur bersama sebelumnya kan." Sasuke malah memperjelas, membuat gadis gulali itu semakin malu.
"Ka-kau..tidak perlu memperjelasnya begitu kan." ucap Sakura kesal.
"Apa kau malu?" goda Sasuke.
"I-itu...aku..."
"Sudahlah." Sasuke memotong perkataan Sakura kemudian mengangkat pinggang ramping gadis itu, sehingga sekarang gadis itu berada di atas pangkuannya.
Tindakan itu malah semakin membuat wajah Sakura merona. Dan si Uchiha itu tentu tidak bebal untuk mengetahui kegugupan Sakura. Dia tersenyum penuh kemenangan karna telah berhasil membuat gadis itu salah tingkah.
"Aku suka saat melihatmu malu seperti ini Sakura." goda Sasuke. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya. Tidak mau memperlihatkan wajahnya yang sudah sangat merah. Ekpresi Sakura itu menjadi hiburan tersendiri bagi si bungsu Uchiha. Dia tersenyum melihat reaksi Sakura itu.
Pemuda raven itu meraih tangan Sakura kemudian menempelkannya di pipi porselennya. Dan lagi-lagi dia tersenyum saat melihat Sakura semakin merona. Apa kau senang eh, Sasuke?
"Sasuke-kun." panggil Sakura saat dia sudah bisa mengendalikan perasaannya.
"Hn."
"Apa menurutmu Naruto-kun menyukai Hinata?" tanya gadis yang identik dengan bunga khas jepang itu.
Alis pemuda itu berkerut kesal. "Berhentilah memanggilnya dengan embel-embel –kun."
"Kenapa? Aku selalu memanggilnya begitu." pemuda itu semakin kesal.
"Aku tidak suka."
"Ya, semuanya kau memang tidak suka. Saat aku memanggil Gaara-kun kau juga marah. Memang tidak ada yang kau sukai kan." sindir Sakura.
"Setidaknya jangan saat kau sedang bersamaku. Kau hanya boleh memanggil dengan embel-embel –kun pada namaku saja." titah Sasuke.
"Baiklah, SA-SU-KE-KUN." kembali gadis itu mengalah dengan memberikan penekanan pada panggilannya. "Sekarang jawab pertanyaanku."
Sasuke memperhatikan gadis dalam pangkuannya. Dia mengeratkan kungkungan tangannya di pinggang Sakura.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sasuke malah balik bertanya.
"Karna dia begitu nekat membawa kabur Hinata di acara pertunangannya. Aku hanya berpikir kalau Naruto-kun..." Sasuke memberikan deathglare pada Sakura. "Kalau Naruto tidak menyukainya mana mungkin dia melakukan itu." terang Sakura.
"Naruto memang menyukai Hinata." jawab Sasuke.
"Benarkah?" Sasuke mengangguk. "Apa Naruto sendiri yang mengatakannya padamu?" tanya Sakura.
"Dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku."
"Lalu bagaimana kau tau kalau dia menyukai Hinata?"
"Tanpa diberitahu pun aku sudah bisa menduga kalau si baka itu menyukainya."
"Kau tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dengan menduga Sasuke-kun, karna bisa saja dugaanmu itu salah." bantah Sakura.
"Tapi dia memang menyukai Hinata."
"Bisa saja kan dia hanya menganggap Hinata sebagai teman." Sakura masih tetap keukeuh dengan pendapatnya.
"Kau sendiri kan yang bilang Naruto tidak mungkin melakukan hal itu kalau dia tidak menyukai Hinata. Kenapa sekarang malah menyangkalnya?"
"Iya sih. Tapi sikap seseorang kan tidak bisa dijadikan indikasi orang itu suka atau tidak." Sakura menunduk. "Wanita juga butuh kepastian. Bagaimana jika dia salah sangka hanya karna dia salah mengartikan sikap dari si pria." sambungnya.
Sasuke diam. Dia merasa ada yang aneh dengan Sakura. Kenapa tiba-tiba gadis itu jadi begitu serius? Kenapa dia jadi begitu memikirkan bagaimana perasaan Naruto dan jadi khawatir dengan reaksi Hinata?
Dia menyentuh pipi Sakura kemudian mengelusnya.
"Hey, kenapa kau jadi serius begini? Sudahlah. Tidak usah terlalu memikirkan mereka. Aku yakin mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri." pinta Sasuke. Sakura memandang pada onyx yang menatapnya intens, kemudian tersenyum.
"Hu'um." Sasuke tersenyum tipis saat Sakura mengangguk dan tidak berusaha membantah kata-katanya.
"Sebaiknya sekarang kita tidur. Besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Kau akan tau besok."
Sakura mengangguk kemudian turun dari pangkuan Sasuke. Dia berjalan menuju kamarnya.
"Mau kemana kau?" pertanyaan yang dilontarkan Sasuke berhasil menghentikan langkah Sakura.
"Kau menyuruhku untuk tidur kan."
"Lalu kenapa kau ke sana?" Sasuke memajukan dagunya menunjuk arah kamar Sakura.
"Kamarku kan ada di sana, Sasuke-kun." Sakura tak mengerti.
"Memangnya kau mau menginterupsi apa yang mereka lakukan?" tanya Sasuke. Sakura berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepala saat mengerti apa maksud Sasuke.
"Sepertinya aku benar-benar harus tidur di kamar tamu." ucap Sakura. Sasuke sweatdrop mendengar penuturan Sakura. Ingin rasanya dia memakan Sakura sekarang juga karna kebebalannya itu.
Sasuke menarik lengan Sakura saat dia mulai berjalan menuju kamar tamu, kemudian mengurungnya dalam dekapan, membuat gadis itu terkejut.
"Kenapa kau harus tidur di kamar tamu? Kamarku masih cukup luas untuk tidur kita berdua." Sasuke menyeringai di sela perkataannya.
"He-hentai."
Buagh
Pukulan Sakura berhasil membuat si Uchiha mesum itu terkapar.
"Sudah lama sekali ya aku tidak merasakan pukulan mu ini, Pinky." pemuda itu mengelus pipinya sembari bangkit dari acara terkaparnya.
"Dan sifat mesummu itu masih tetap sama ya, Pantat Ayam." sindir Sakura masih mengepalkan tangan.
"Apanya yang mesum. Kita sudah sering tidur bersama kan." elak Sasuke.
Wajah Sakura merona seketika.
"Y-ya...ta-tapi kan selama ini tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita."
"Dan apakah sekarang kau mengharapkan terjadi sesuatu?" goda Sasuke. Dia menyeringai melihat reaksi Sakura yang gugup.
"Kyaaaaa..."
Dengan satu gerakan cepat pemuda emo style itu mengangkat tubuh mungil Sakura, sehinggan sekarang gadis itu sudah berada dalam gendongannya.
"Aku tidak menerima penolakan, Sakura." seringai Sasuke semakin lebar. Setelahnya, pemuda itu membawa Sakura masuk ke kamarnya ala bridal style. Tidak mempedulikan rontaan sang gadis minta diturunkan.
"Turunkan aku, Pantat Ayam. Hei, turunkan aku." rontanya.
Apa yang akan kau lakukan padanya, Sasuke?
.
.
.
.
Sakura mengikuti Sasuke turun dari mobil. Dia tidak mengerti saat tadi pagi Sasuke mengajaknya mendatangi toko bunga dan membeli sebuket bunga lili. Namun dia mulai mengerti ketika mobil yang membawa mereka memasuki area pemakaman elit.
Hanya satu yang terlintas di benak Sakura saat ini. Yaitu Mikoto yang tak lain dan tak bukan adalah ibunda dari Uchiha Sasuke.
Semalam saat Sasuke mengatakan akan mengajaknya ke suatu tempat, Sakura sempat berpikir bahwa pemuda itu akan mengajaknya jalan-jalan. Namun dia meragukan asumsi itu saat Sasuke membeli bunga.
Menurutnya, ini jauh lebih baik daripada pergi jalan-jalan. Dengan pemuda itu mengajaknya mengunjungi makan ibunya, dia bisa sedikit demi sedikit mengetahui tentang pemuda itu.
Langkah mereka terhenti di sebuah pusara dengan nisan bertuliskan 'Uchiha Mikoto'. Manik obsidian Sasuke menangkap sebuket bunga lili di atas pusara tersebut. Dia sedikit tercenung saat menyadari siapa yang mungkin meletakkan bunga tersebut.
"Sepertinya kita bukan yang pertama." interupsi Sakura. "Apa Fugaku-sama yang membawa bunga itu?" sebenarnya pertanyaan itu dia tujukan untuk dirinya sendiri. Tapi sepertinya berhasil memberikan reaksi pada pemuda di sampingnya meski pemuda itu tak menanggapi.
Sasuke berlutut dan meletakkan buket bunga lili itu di sebelah bunga lili yang tadi dia lihat. Diikuti oleh Sakura yang berlutut di sisinya. Kemudian mereka mulai khusyuk memanjatkan doa.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Niatnya untuk mengunjungi makam tersebut terpaksa ia urungkan saat melihat dua manusia telah duduk bersimpuh di sana. Dia sempat bertanya-tanya siapa gadis yang tengah persama pemuda di sana karena dia sama sekali belum pernah melihat gadis itu.
Dia langsung bersembunyi di balik pohon agar tak ketahuan. Sepertinya dia harus menunda acara berkunjungnya sampai kedua muda-mudi itu pergi.
.
"Apa Mikoto-sama menyukai bunga lili?" tanya Sakura ketika mereka telah berada dalam mobil untuk kembali ke rumah.
"Hn. Nii-san bilang Kaa-san sangat menyukai bunga lili. Hari ini adalah ulang tahunnya. Kata Nii-san, Kaa-san akan sangat senang jika diberi bunga lili saat ulang tahunnya. Karna itu setiap ulang tahunnya kami selalu kemari membawakannya bunga lili." terang Sasuke panjang lebar.
Sakura mengangguk-anggukkan kepala. Dia jadi teringat ibunya yang beberapa hari yang lalu baru ia kunjungi. Berbeda dengan Sasuke, Sakura selalu mengunjungi makam ibunya ketika ia merindukan wanita itu.
"Menurutmu bunga tadi dari Fugaku-sama atau Itachi-sama?"
"Mungkin dari Kakek Sihir itu. Semenjak meninggalkan rumah Nii-san juga sepertinya tidak pernah lagi mengunjungi Kaa-san."
"Jangan sok tau begitu, Sasuke-kun. Mungkin saja Itachi-sama saat ini sedang berada di sana mengunjungi Mikoto-sama." sanggah Sakura.
"Menurutmu begitu?"
"Hmm." gadis itu tersenyum lebar pada Sasuke. Sasuke menatap emerald yang menatap polos padanya.
"Karna hari ini adalah hari minggu, bagaimana kalau kita berkencan?" usul pemuda raven itu.
"Boleh. Kita mau kemana?" Sakura menyetujui.
"Kemana pun kau ingin pergi." jawab pemuda itu. Dia tersenyum tipis saat melihat wajah berbinar Sakura. Sepertinya kau sudah membuat gadis itu sangat senang, Sasuke.
.
.
.
.
Naruto berhenti di sebuah bangunan bergaya tradisional sambil menggandeng seorang gadis. Keduanya tampak sangat gugup saat akan memasuki bangunan yang tak lain adalah rumah Hinata itu.
Sebagai seorang lelaki Naruto menyadari bahwa dirinya harus bertanggung atas perbuatannya yang telah membawa lari Hinata. Bagaimanapun perbuatannya itu tidak bisa dibenarkan.
"Kau gugup Hinata?" tanya pemuda itu karna merasakan tangan Hinata yang dingin. Gadis itu mengangguk.
"Tenanglah, ada aku di sini." hibur Naruto. Kemudian mereka masuk dalam kediaman Hyuuga itu.
Saat mereka menjejakkan kaki dalam kediaman itu, seorang pria paruh baya bermata perak tengah duduk bersimpuh di di sebuah zabuton di teras rumah. Naruto dan Hinata berjalan mendekat pada pria itu.
"Otou-san." sapanya. Pria itu tidak menoleh. Namun sedikit gerakan dari tubuhnya menunjukkan bahwa dia bereaksi dengan suara yang dia kenal.
Naruto dan Hinata ikut bersimpuh di sisi pria itu.
"Otou-san, aku..."
"Maafkan aku, Hiashi ji-san." potong Naruto. "Aku telah mengacau di pesta anda dan membawa kabur Hinata. Aku minta maaf karna telah mempermalukan anda."
Tidak ada reaksi dari Hiashi.
"Tapi aku sungguh-sungguh mencintai Hinata. Mungkin kata-kataku ini terdengar naif tapi aku akan membahagiakannya. Aku tidak akan membuatnya menangis. Dan aku akan selalu menjaganya. Mohon anda merestui hubungan kami." pemuda itu menunduk menanti jawaban dari Hiashi. Namun pria itu masih tak ingin bicara.
"Otou-san, aku mencintai Naruto." Hinata menambahkan.
"Apa kau tau apa yang kau lakukan Hinata?" kata Hiashi masih setia memandang ke arah depan.
"Belum pernah seumur hidupku aku seyakin ini dengan apa yang kulakukan Tou-san."
"Kau membuat relasi Tou-san membatalkan kerja samanya dengan Tou-san Hinata."
"Maafkan aku, Tou-san." Hitana tertunduk semakin dalam.
"Berjanjilah padaku kau akan bahagia."
Hinata serta Naruto langsung mendongak. Tak percaya dengan pendengaran mereka.
"Tou-san tidak marah padaku?"
"Tentu saja aku marah. Tapi apa dengan aku marah bisa meluruskan kekacauan yang telah kalian lakukan?"
"Tou-san merestui kami?" tanya Hinata tak percaya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan. Anak kesayanganku telah menemukan sendiri kebahagiaannya." jelas Hiashi. "Tapi aku akan selalu mengawasi kalian. Jika kau membuat anakku menangis, kau akan tau akibatnya Naruto." Hiashi memperingatkan Naruto.
"Aku berjanji Hiashi ji-san. Terimakasih." janji Naruto kemudian memeluk Hinata. Hinata sendiri tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia sungguh lega. Dia pikir ayahnya akan marah dan tidak akan memaafkannya.
"Arigatou, Tou-san." ucap gadis indigo itu tulus.
.
.
.
.
"Permisi, nona." seorang pemuda berwajah pucat menepuk pundak seorang gadis pirang. Gadis itu menoleh.
"Oh, kau." kaget gadis itu yang ternyata adalah Ino. Pemuda itu tersenyum.
"Kita bertemu lagi nona. Ternyata kau sekolah di sini juga ya." pemuda raven itu kembali tersenyum. Ino mengangguk.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ino.
"Aku mencari kelas XII A. Apa kau tau?" tanya pemuda itu.
"Oh, tentu saja. Aku bisa mengantarmu kalau kau mau." Ino menawarkan.
"Apa kau tidak keberatan?"
"Tentu tidak. Ayo."
Mereka berdua mulai berjalan, namun sebuah suara menghentikan langkah keduanya.
"Muka pucat. Apa yang kau lakukan di sini?" yang dipanggil menoleh pada sumber suara.
"Uchiha-san." panggilnya.
"Kau mengenalnya, Sasuke-kun?" tanya gadis di sebelah Sasuke, Sakura.
"Oh, kau adalah gadis yang waktu itu." seru pemuda yang dipanggil 'Muka Pucat' itu saat melihat Sakura.
"Ah, iya. Kita bertemu lagi tuan." Sakura menundukkan kepala memberi salam.
"Aku ingat sekarang. Pantas saja aku seperti pernah melihatmu. Kau adalah gadis dalam lukisan Uchiha-san." lanjut pemuda itu. Sakura merona saat mengingat kejadian tentang lukisan itu.
"Adakah yang bisa menjelaskan situasi ini?" interupsi Sasuke. Dia merengut kesal saat melihat Sakura yang tampak begitu akrab dengan rivalnya itu.
"Begini Sasuke." Ino angkat bicara. "Kami pernah bertemu dengannya saat dia membeli bunga di tokoku. Kau tidak perlu merasa cemburu begitu." jelasnya dengan sedikit menggoda pemuda Uchiha itu.
"Jadi Uchiha-san adalah kekasihmu?" tanya pemuda itu.
"Etto..." Sakura gelagapan.
"Ngomong-ngomong, kita belum sempat berkenalan. Namaku Yamanaka Ino. Salam kenal." potong Ino kemudian mengulurkan tangan. Pemuda itu tersenyum.
"Namaku Shimura Sai. Salam kenal Yamanaka-san." dia menyambut uluran tangan Ino.
"Panggil saja aku Ino. Dan ini temanku, Haruno Sakura. Kau cukup memanggilnya Sakura." Ino tersenyum. "Lalu...sepertinya aku tidak perlu memperkenalkanmu padanya karna sepertinya kalian sudah saling kenal." Ino menunjuk Sasuke. Sai hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Apa yang kau lakukan di sini, Muka Pucat?" tanya Sasuke untuk yang kedua kalinya.
"Aku mencari kelas XII A."
"Mau apa kau mencari kelas XII A?" selidik Sasuke. Dia teringat ucapan Naruto dua hari lalu.
Flashback on
"Apa kau tau siapa yang akan bertunangan dengan Hinata-chan, Teme?"
Sasuke mengernyitkan alis. Bagaimana dia bisa tau kalau Naruto saja belum mengatakannya.
"Shimura Sai. Rivalmu dalam melukis itu." onyx Sasuke membulat.
"Kau bercanda kan Dobe."
"Tidak. Hinata-chan akan bertunangan dengannya Teme."
Untuk selanjutnya mereka hanya terdiam. Mengapa dunia ini begitu sempit?
Flashback off
"Karna mulai besok aku akan bersekolah di sini, aku bermaksud mencari tau dimana kelasku."
"Apa kau bilang?" tanya Sasuke tidak percaya. Bukan hanya Sasuke yang terkejut, bahkan Sakura dan Ino pun tidak percaya kalau Sai akan bersekolah di sini.
"Bukankah kau sekolah di Iwa?" Sasuke kembali bertanya.
"Aku pindah kemari." jawab Sai kemudian tersenyum.
"Kau pindah kemari? Kenapa?" Ino yang sedari tadi diam ikut menyela.
"Untuk mengejar seorang gadis." Sai kembali tersenyum.
Seperti yang Sasuke duga. Pemuda itu mengikuti Hinata sampai kemari. Sepertinya lawanmu lumayan berat, Naruto.
"Wah, kau romantis sekali Sai." kagum Ino. Dia jadi iri pada gadis yang dimaksud oleh Sai. Seandainya ada yang menyukainya seperti itu, pasti dia sangat bahagia.
.
.
.
.
Sasuke berjalan sambil menenteng sepatu roda di tangannya, diikuti oleh Sakura di belakang. Hari ini mereka berniat bermain sepatu roda di Konoha's Park. Saat melewati ruang kerja Fugaku, dia melihat pintunya terbuka. Kemudian terlintas sebuah ide di benak Sakura.
"Sasuke-kun." panggil gadis itu. Sasuke menghentikan langkah dan menoleh.
"Tunggu sebentar. Ada sesuatu yang tertinggal." gadis gulali itu langsung pergi tanpa menunggu jawaban Sasuke. Pemuda itu akhirnya memilih untuk menunggu Sakura di depan saja.
Sementara Sakura berlari kecil menuju ruang kerja Fugaku.
"Fugaku-sama." Fugaku mendongak. Seorang gadis bersurai merah muda tersenyum manis padanya.
"Apa anda sedang sibuk?" tanya gadis itu.
"Apa lagi yang kau rencanakan anak nakal?" cibir Fugaku.
Sakura nyengir lima jari. "Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari anda ya." senyuman Sakura semakin lebar.
"Aku ingin mengajak anda bermain ini." terang Sakura sambil menunjukkan sepatu rodanya.
Fugaku mengerutkan alis. Apa maksud gadis gulali ini dengan mengajaknya bermain sepatu roda?
"Aku tidak bisa menggukanan sepatu roda." kilah pria paruh baya itu.
"Aku bisa mengajari anda."
"Aku tidak punya sepatu roda."
"Aku sudah menyiapkannya untuk anda." Sakura menunjukkan sepasang sepatu roda yang telah dia siapkan untuk Fugaku. Pria itu tercengang.
"Darimana kau mendapatkan benda itu?" Fugaku memandang tak percaya pada gadis nekat di hadapannya.
"Kemarin aku membelinya bersama Juugo-san." jelasnya. "Tentu saja tanpa sepengetahuan Sasuke-kun." dia memelankan suaranya seraya meletakkan sebelah tangannya di sisi mulutnya.
"Dasar kau gadis nakal." komentar Fugaku dan ditanggapi dengan tawa oleh Sakura.
"Jadi anda mau ikut kan." Sakura mendekati Fugaku kemudian menarik lengannya.
Fugaku tidak punya pilihan lain selain mengikuti Sakura. Entah kenapa dia tidak pernah bisa menolak permintaan gadis yang kini tanpa sungkan memeluk lengannya dan membawanya untuk ikut bersamanya.
Sebenarnya dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Sakura. Bagaimana bisa anak itu berpikir untuk mengajak pria berumur sepertinya bermain sepatu roda. Di usianya yang tidak lagi muda itu apakah dia masih bisa melakukan hal-hal seperti itu?
"Sasuke-kun." panggil Sakura saat telah berada di beranda rumah dan melihat Sasuke yang tengah berdiri membelakanginya.
Sasuke berbalik, "Lama sekali kau..." ucapannya terhenti begitu melihat siapa yang bersama Sakura. Seketika wajahnya langsung cemberut.
"Kau bilang ada yang tertinggal. Apa itu?" tanya pemuda itu sambil sesekali melirik ayahnya.
"Ini." tunjuk Sakura pada Fugaku. Fugaku hanya sweatdrop saat disebut sebagai 'benda' tertinggal oleh Sakura.
"Untuk apa dia ikut?" tanya Sasuke tidak suka.
"Jaga bicaramu Sasuke." sergah Sakura. "Aku ingin mengajak Fugaku-sama, kalau kau tidak suka kau boleh tidak ikut, aku akan pergi berdua dengan Fugaku-sama."
Sasuke semakin cemberut saat mendengar pembelaan Sakura untuk ayahnya. Akhirnya dia memilih diam dan masuk ke dalam mobil. Dia tidak akan mau ditinggal di rumah sementara Sakura bersenang-senang bersama sang ayah.
Sakura tersenyum penuh kemenangan. Tentu dia tau kalau Sasuke tidak akan mau mengalah bahkan meski pun itu dengan ayahnya sendiri.
Masih menggamit lengan Fugaku, gadis itu membawanya mendekati mobil. Sakura membukakan pintu untuk Fugaku dan menutupnya. Kemudian dia berjalan dan membuka pintu belakang kemudian duduk di sisi Sasuke. Tak lama kemudian mobil yang mereka naiki mulai melaju menuju Konoha's Park.
Mereka bertiga turun dari dalam mobil ketika kendaraan beroda empat itu sampai di sebuah area yang cukup ramai. Konoha's Park.
Sasuke dan Sakura bersiap untuk mengenakan sepatu rodanya. Setelah Sakura selesai mengenakan sepatu rodanya, dia menghampiri Fugaku dan membantu tuan besar Uchiha itu mengenakan sepatu roda yang tadi dibawanya.
"Sekarang berdirilah Fugaku-sama. Aku akan memegangi anda agar tidak jatuh." titah Sakura. Secara perlahan pria paruh baya itu mulai berdiri. Tapi karna ini adalah kali pertama dia memakai sepatu roda langkahnya jadi tak seimbang dan dia hampir saja jatuh kalau saja tangan mungil tak menahannya.
"Kan sudah kubilang aku akan memegangi anda, Fugaku-sama." ucap gadis itu seraya tersenyum.
Sakura melirik ke arah Sasuke yang tengah menikmati kegiatan bersepatu rodanya. Dia tersenyum saat ada bola lampu menyala di atas kepalanya.
"Sasuke-kun~" panggilnya manja. Pemuda itu menoleh. "Bisa kemari sebentar?" seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Sasuke langsung menghampiri Sakura.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tolong bantu aku memegangi Fugaku-sama." pintanya masih dengan nada manja.
"Apa? Aku tidak mau. Kau sendiri saja." tolak pemuda itu. Sesekali dia melirik ke arah sang ayah.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Kau tau kan tenaga perempuan itu seberapa." kilah Sakura. "Masa kau tidak kasihan kalau nanti kami terjatuh." kini dia memelas.
Sasuke mendengus pasrah, kemudian mendekati gadis itu. Lagi-lagi Sakura tersenyum menang. Dia memberikan sebelah tangan Fugaku pada Sasuke. Fugaku hanya pasrah dengan perlakuan gadis merah muda itu.
"Sekarang kita berjalan perlahan agar Fugaku-sama bisa menyesuaikan diri dengan sepatu rodanya." seru Sakura.
Kemudian mereka berdua berjalan mundur. Masih sambil memegangi tangan Fugaku, mereka berjalan perlahan-lahan agar Fugaku tak jatuh.
"Kenapa Tou-san tidak menyerah saja? Tou-san sudah tidak cocok melakukan hal-hal seperti ini." sindir Sasuke.
"Sasuke." Sakura menyikut pinggang Sasuke. Pemuda itu memberengut ke arah si gadis.
"Jangan dengarkan dia Fugaku-sama. Dia juga tadinya sangat payah menggunakan sepatu roda." ejeknya. Sasuke hanya memalingkan wajah kesal, namun tak melepaskan pegangan tangannya pada ayahnya.
"Ayo kita mulai lagi." ajak Sakura. Mereka mulai berjalan lagi.
Sudah sekitar dua jam mereka melakukan itu. Terkadang ketika keseimbangan mereka terganggu mereka terjatuh, namun itu tidak menyurutkan semangat untuk bangkit lagi. Fugaku sendiri mulai terbiasa dan menikmati bermain sepatu roda. Sulit memang, tapi dia cukup bisa menyesuaikan.
Sedangkan Sasuke, dia sudah lupa dengan kekesalannya dan malah jadi semangat membantu ayahnya itu belajar sepatu roda. Meski caranya menyemangati adalah dengan mengejek atau menyindirnya. Tapi Sakura tau kalau pemuda itu bermaksud baik.
Mereka duduk di sebuah bangku kosong yang ada di sana. Rasa lelah membuat mereka memutuskan untuk menyudahi acara bersepatu roda.
"Silahkan Fugaku-sama." Sakura menyodorkan sebotol minuman pada Fugaku. Tuan besar itu menyambutnya karna memang dia sangat haus. Tak disangka beajar bersepatu roda ternyata sangat melelahkan. Dia langsung menenggak minuman itu hingga isinya tinggal setengah.
"Sepertinya sesi bersepatu rodanya kita cukupkan sampai di sini dulu ya. Kita harus segera pulang karna aku harus menyiapkan makan malam." utar Sakura saat melihat ternyata hari sudah sore.
"Hn." respon Sasuke dan Fugaku berbarengan. Mereka berdua langsung memalingkan wajah. Sakura terkikik menyaksikan tingkah ayah dan anak yang seperti anak kecil itu.
Kemudian Sakura melepas sepatu rodanya dan Sasuke pun melakukan hal yang sama.
Selesai melepas sepatu rodanya, Sakura mendekati Fugaku yang tengah berusaha melepas sepatu roda yang dikenakannya dan membantunya.
Fugaku memperhatikan Sakura yang tengah melepaskan sepatu roda. Ini seperti dia memiliki seorang anak perempuan. Sakura mendongak dan tersenyum pada pria itu. Namun kemudian emeraldnya membulat saat melihat segaris senyum dari Fugaku. Meski sangat tipis tapi dia dapat melihatnya.
Ini untuk pertama kalinya dia melihat tuannya itu tersenyum. Terkejut. Sudah pasti. Tapi perasaan bahagia lebih mendominasi hatinya. Bahkan Sasuke yang tak sengaja melihat pada mereka berdua pun terkejut saat melihat ayahnya tersenyum.
Setaunya ayahnya itu amat sangat jarang sekali tersenyum dan tidak semua orang dapat membuatnya tersenyum. Namun gadis buble gum itu dengan mudahnya membuat pria berhati keras itu menyunggingkan senyum, meski sangat tipis.
.
.
.
.
"Segelas coklat panas untuk anda Fugaku-sama." Sakura tersenyum kemudian meletakkan gelas coklat itu di atas meja di sisi kursi yang diduduki tuan besar itu.
"Terimakasih." ucap Fugaku. Sakura kembali tersenyum.
"Sama-sama Fugaku-sama." Sakura bersiap untuk pergi.
"Gadis nakal." panggilan Fugaku itu menghentikan langkah kaki Sakura. "Duduklah." pinta pria itu. Sakura menurut dan duduk di kursi yang berada di sisi lain meja.
"Apa bocah manja itu sudah tidur?"
"Hu'um. Setelah tadi aku memberinya segelas coklat panas seperti yang kuberikan pada anda, dia langsung tertidur dengan ssangat pulas." jelas Sakura.
"Kau lebih seperti baby sitter-nya ketimbang pelayannya. Berhentilah memanjakannya."
"Aku tidak memanjakannya kok. Aku malah sering memukulnya kalau dia melakukan hal yang kelewat batas. Ahaha..." Sakura tertawa saat membayangkan dirinya yang memberikan bogem mentah pada Sasuke.
"Oya? Sepertinya yang dikatakan Kabuto benar. Hanya kau yang dapat menjinakkannya." komentar Fugaku. Sakura kembali tertawa.
"Sasuke kan bukan hewan peliharaan Fugaku-sama."
"Memang bukan. Dia lebih dari itu." kembali Fugaku mengejek putra bungsunya itu. Sakura hanya terkekeh.
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
"Bagaimana kabar ibumu? Dia pasti sangat marah karna aku menjadikanmu pelayan seperti ini." utar Fugaku.
"Fugaku-sama mengenal ibuku?"
"Tentu. Dulu kami berteman saat di SMA. Berkat dia juga aku mengenal Mikoto." terang Fugaku. "Kau mirip sekali dengannya. Begitu bersemangat dan pantang menyerah. Dan kalian memiliki sesuatu dalam diri kalian yang membuat orang-orang tertawa saat bersama kalian." sambungnya.
Sakura tersenyum, kali ini ada sedikit kesedihan dalam senyum itu karna teringat sang ibu.
"Sebenarnya...Kaa-chan sudah meninggal Fugaku-sama." Sakura memberitahu. Onyx Fugaku membulat. Serta merta dia menolah pada gadis di sebelahnya.
"Maaf. Aku...tidak pernah mendengar hal itu." sesal Fugaku.
Sakura tersenyum, "Tidak apa-apa Fugaku-sama. Itu sudah sangat lama. Aku sudah terbiasa." Sakura membesarkan hati Fugaku.
"Apa yang menyebabkannya meninggal?"
"Kaa-chan menderita kanker paru-paru. Aku tidak mempunyai biaya yang cukup untuk memberikan perawatan yang baik bagi Kaa-chan." jelas Sakura.
"Lalu diamana Kizashi sekarang?"
"Aku tidak tau. Tou-chan pergi setelah Kaa-chan mulai sakit-sakitan."
"Bagaimana bisa dia melakukan hal itu padamu. Ayahmu pernah datang padaku dan meminjam sejumlah uang. Dia bilang uang itu untuk investasi agar usaha yang dia kembangkan semakin besar. Aku meminjamkannya karna memandang Mebuki." jeda sejenak. "Tapi setelah sekian lama ayahmu tak juga melunasinya. Karna hutangnya sangat besar aku bermaksud menyita semua benda yang dia jaminkan. Dan aku sangat terkejut ketika ternyata dia menjaminkan dirimu."
Sakura kembali mengingat moment saat dirinya diseret kemari dan dijadikan pelayan untuk melunasi hutang sang ayah. Perasaan kesal seketika muncul dalam hatinya.
"Jika aku tau keadaannya seperti ini, aku tidak akan menjadikanmu seorang pelayan. Kurasa Mebuki akan mengutukku di alam baka sana karna telah membuat anaknya menderita."
"Tidak Fugaku-sama. Aku tidak pernah menyesali hidupku yang seperti ini. Lagipula aku senang bisa mengenal anda dan juga Sasuke. Meskipun manja tapi sebenarnya Sasuke itu baik. Dan anda tidaklah sedingin yang terlihat." Sakura tersenyum.
Fugaku juga tersenyum, untuk kedua kalinya bagi Sakura. "Sepertinya Mebuki telah mendidikmu dengan sangat baik ya." komentarnya.
"Anda juga sudah membesarkan Sasuke-kun dengan baik, Fugaku-sama." timpal Sakura. Fugaku mendengus.
"Kalau aku telah membesarkannya dengan baik, tidak mungkin dia membenciku seperti ini." sangkal Fugaku.
"Tidak Fugaku-sama. Sasuke tidak membenci anda. Dia hanya marah karna Itachi-sama pergi dari rumah. Sasuke itu sangat kekanakan dan harga dirinya sangat tinggi. Dia tidak akan mau menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya." jelas Sakura. "Mungkin anda harus menghilangkan sedikit sifat keras anda dan mulai mendengarkan apa yang dia pikirkan juga yang dia rasakan." sambungnya.
Fugaku menghela napas. Tampak memikirkan kata-kata Sakura. Sungguh, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
Mungkin ada benarnya kata-kata Sakura itu. Tapi mampukah ia? Sekian lama dia dan putra bungsunya itu hidup dalam situasi yang begitu dingin. Lalu bagaimana caranya merubah situasi itu?
"Aku akan membantu anda, Fugaku-sama." seolah menjawab pertanyaannya, gadis buble gum itu berujar. Untuk kesekian kalinya dia tersenyum. Fugaku tampak tercenung menatap emerald Sakura.
'Sepertinya kau telah melahirkan seorang malaikat, Mebuki.' Fugaku membatin.
.
.
.
.
.
Seorang pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di keningnya bersiap mengenakan helm fullface-nya ketika dia melihat seorang gadis merah muda tengah berjalan. Dia kembali melepas helmnya dan menghampiri gadis itu.
Bruuk
Gadis itu mendongak dan mendapati seorang pemuda telah berdiri di hadapannya.
"Gaara-kun." kagetnya. Dia tidak mengangka akan bertemu dengan sahabatnya itu di tempat seperti ini.
"Sepertinya kau harus merubah sifatmu yang suka melamun saat sedang memikirkan sesuatu itu." saran Gaara. Sakura terkekeh.
"Kemana pangeran manja itu? Tumben sekali kau tidak bersamanya." tanyanya.
"Aku minta ijin untuk tidak pulang bersamanya hari ini."
"Lalu apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
"Aku sedang mencari pekerjaan. Tapi seperti biasa, sangat susah sekali tempat yang menerima anak SMA sepertiku." terang Sakura.
"Kupikir kau bekerja pada si Uchiha itu." Gaara tak mengerti.
"Memang. Tapi aku harus mulai mencari pekerjaan lain agar bisa mendapat uang."
"Kau tidak sedang bertengkar dengan si manja itu kan." selidik Gaara.
Sakura terkekeh. "Tentu saja tidak. Aku hanya berpikir untuk mencari pekerjaan agar bisa segera melunasi hutang-hutangku. Lagipula aku tidak mungkin selamanya tinggal di sana kan."
Gaara menatap intens Sakura.
"Adakah yang bisa kulakukan untukmu?"
"Ada." jawabnya Sakura.
"Apa itu?"
"Maukah kau mengantarku pulang?" gadis itu tersenyum.
Gaara tertawa. Selalu saja seperti ini. Gadis itu akan selalu menolak apapun bantuan yang di tawarkan oleh Gaara.
"Tentu saja, nona." jawab Gaara. Pemuda merah itu berjalan mendahului Sakura menuju tempat dimana CBR 1000RR terparkir.
Sakura berjalan menyusul pemuda itu, namu langkahnya terhenti saat melihat sebuah siluet di kejauhan. Dia hapal siluet itu. Meski siluet itu tampak belakang tapi dia tau siapa dia. Seorang pria yang tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita.
Tiba-tiba perasaan marah yang sangat besar menyelimuti rongga hatinya. Perasaan marah yang sangat menggebu-gebu hingga dia sangat ingin mencelakai orang itu saat ini juga.
Drap drap drap
Gaara menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang ternyata milik Sakura tersebut. Dia mengerutkan alisnya bingung kemudian memilih mengikuti gadis gulali itu.
"TOU-CHAN!" teriak Sakura sambil berlari ke arah pria tersebut, membuat sang pria menolehkan kepalanya. Manik biru pria itu melebar dan detik berikutnya-
Jduaaghh
-sebuah tendangan maut berhasil mendarat di punggung si pria. Membuat pria itu terkapar tak berdaya.
Gaara yang menyaksikan adegan itu hanya bisa ber-sweatdrop ria. Dia sudah tau kalau Sakura adalah gadis tomboy yang selalu melakukan hal-hal di luar dugaan, tapi tetap saja dia selalu kaget setiap kali gadis itu melakukan hal seperti ini.
"Mau lari kemana kau pak tua?" hardik Sakura. Dia mencengkeram kerah kaos pria yang ternyata ayahnya tersebut. Sang ayah yang masih terkejut hanya menatap takut sang anak. Hey Sakura, bukankah tindakanmu itu terbilang tidak sopan untuk ukuran seorang anak?
"Haha ue..." sebuah suara membuat Sakura, Kizashi, dan wanita yang tadi bersamanya menoleh.
Tampak Gaara yang tengah berdiri mematung sambil memandang tak percaya pada wanita yang ada di hadapannya.
"Apa yang Haha ue lakukan di sini?" masih tidak percaya pemuda itu bertanya.
Baik Sakura maupun Kizashi memandang bingung pada mereka. Sakura melihat pada Gaara dan wanita itu bergantian. Masih belum mengerti dengan situasi ini.
Sementara si wanita hanya memandang horor pada pemuda yang barusan memanggilnya 'Haha ue' tersebut.
.
.
.
TBC
.
.
hyaaaa...
ntah knp aku merasa konflik ny kok gk greget ya, ahaha
aku minta maaf buat para readers kalo chap ini kurang memuas kn dan feel ny kurang, aku akan lbh berusaha lg di chap selanjut ny :)
makasih buat para reviewer karna udh mw meluang kn waktu ny untuk mereview fic ini, dan makasih jg untuk silent reader (kalo ada :D) karna udh menyempat kn wktu ny untuk membaca fic ini, aku senang :)
mgkn segitu dulu deh ngebachot gk penting ny, ehehe
sampai jumpa di chap depan ya
jaa~
RnR pliis :)
