Main Cast : |EXO |

Other Cast : SHINee

Genre : Fantasy, Friendship

Rate : T

Disclaimer : Semua cast disini bukan milik saya. Saya disini hanya meminjam nama mereka. Fict ini hasil murni peresan otak saya dan saudara saya yang terinspirasi dari suatu sumber.

Summary : Mengabaikan sebuah firasat hingga berujung kekacauan. Tidak ada cara lain kecuali menuntaskan semua ini. Temukanlah mereka sebelum mereka yang lain menemukannya.

Warning : OOC, Typo(s) bertebaran, penggunaan EYD gak tepat, cerita abal dan pasaran, narasi mendominasi, alur lambat, imajinasi terbatas dan seadanya, membuat anda merasa pusing dan mual.

Don't Like Don't Read!

Happy Reading…

~O.O~

Kedua pasang kaki berjalan beriringan. Matahari bersemu jingga menemani mereka menyusuri jalanan kompleks menuju peraduan yang nyaman.

Jongdae menyumpal kedua telinganya. Menghalau segala suara yang mencoba masuk ke ruang dengarnya. Hanya alunan musik yang menyentak pendengarannya. Menikmati sejuknya hembusan angin sore hari, berulang kali Jongdae harus menghentikan langkahnya guna menunggu Taemin yang menurutnya menjelma menjadi seekor siput hari ini.

Taemin terlihat gelisah sepanjang perjalanan pulang mereka. Jongdae melepas earphone dari telinganya. "Mengkhawatirkan kompetisimu minggu depan? Kau sudah sering tampil, kenapa kau terlihat begitu gelisah?" tanya Jongdae begitu Taemin berdiri di sampingnya.

Taemin menganggukan kepalanya lemah. Menundukkan kepala memandangi ujung sepatunya. "Aku takut sebuah kesalahan akan melewatkan kesempatanku untuk menjadi seorang trainer." Sebuah kebohongan kecil untuk menutupi kegelisahannya yang sebenarnya. Jongdae mengangguk paham.

Ia mengetahui seberapa besar keinginan Taemin. Dibalik semua itu, ada hal lain yang terus saja berputar dalam kepalanya.

Diliriknya sekilas pada Jongdae yang tersenyum tipis menatap langit. "Kau akan mendapatkannya." Menolehkan kepalanya, Jongdae kembali berujar. "Dan aku akan berdiri pada barisan paling depan saat kau debut nanti."

Meninju pelan lengan Taemin, ia membalas dengan sebuah senyum yang merekah. Tapi seketika senyum itu berubah menjadi senyum miris ketika Jongdae melangkah kembali meninggalkannya.

"Kuharap kau bisa melakukannya Jongdae."

Mendongak menatap langit jingga, Taemin menutup kedua matanya lalu membuang kasar nafasnya.

"Aku benar-benar sahabat yang buruk."

Sore yang panas ketika Jongdae mendapati rumahnya masih tampak sepi. Hanya sebuah memo yang tertempel di atas rak sepatu yang ia temui.

"Jongdae!"

Teriakan membahana ketika kedua tangannya baru saja meraih pagar. Taemin berlari menerobos masuk pintu depan rumah Jongdae tanpa berniat mengetuk pintunya.

Hal yang biasa mengetahui Taemin keluar masuk rumahnya seperti itu. Jongdae menyamankan diri berbaring di atas karpet berbulu tebal di depan televisi yang menayangkan acara komedi. Ditemani segelas jus jeruk saat tiba-tiba saja Taemin datang dan menarik-narik tangannya.

Menusuk asal tombol remot, Jongdae melotot kesal ketika tanpa rasa bersalah sebelah tangan Taemin meraih jus jeruknya. Dengan cepat Jongdae merebut paksa gelas itu yang setengah isinya ditegak Taemin.

"Pulang sana. Kau mengganggu saja." Jongdae berucap kesal. Mengibaskan tangan tanda mengusirnya pada Taemin.

"Temani aku. Kucingku lepas dan dia berlari ke arah gudang di ujung jalan." Taemin bersikeras memaksa Jongdae untuk bangkit.

Gelengan mantap oleh Jongdae sembari setengah berusaha menarik tangannya. "Ada yang bilang tempat itu berhantu." Tatapan memohon dari Taemin yang sebenarnya tak sedikitpun dilirik oleh Jongdae.

"Dasar penakut. Dan sejak kapan kau punya kucing?"

Jongdae memukul cukup keras tangan Taemin yang memegangnya. Bergerak menuju dapur untuk menaruh gelas minumnya dengan pemuda lain ikut mengukir langkah di belakangnya. "Kucing itu milik bibiku. Dia pasti akan murka saat pulang nanti. Ayolah." Jongdae merasa telinganya gatal mendengar rengekan Taemin.

'Jangan diam saja Jongdae. Tendang aku keluar dari rumahmu. Katakan bahwa kau tak ingin lagi menjadi sahabatku. Itu lebih baik.'

Taemin tersenyum lebar mengikuti langkah Jongdae meninggalkan rumah. Seperti apapun anak itu, Taemin tahu ia adalah sosok teman yang baik. Sebuah rasa terus saja berperang dalam hatinya. Perlahan menggerogoti walaupun sekuat tenaga ia redam.

Matahari mulai kembali ke peraduannya. Keduanya sampai pada gerbang kecil yang menjadi salah satu jalan masuk. Taemin merasa jantungnya berdegup tak terkendali. Bulir-bulir keringat membasahi wajahnya. Tangannya gemetar sementara Jongdae melenggang tanpa ragu.

"Kau cari di sekitar sini saja. Aku akan masuk."

"Jongdae…hati-hati." Raut kecemasan tergambar jelas di wajahnya yang sedikit pucat.

Setakut itukah dirinya?

Mendengar ucapan Taemin itu membuat Jongdae memasang tampang mualnya. "Aku hanya perlu mencari kucingmu lalu pergi, bukan untuk berperang."

Memaksakan untuk menarik kedua sudut bibirnya, Taemin memandang sendu pada sahabatnya itu. Jongdae menyelipkan tubuhnya pada celah pintu geser yang sempit.

Taemin menundukkan kepalanya dalam. Pada akhirnya ia memang harus memilih tanpa bisa menemukan cara lain yang lebih baik. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Terkadang keinginan tak sejalan dengan kenyataan bukan?

"Taemin-ah?"

Suara itu seperti genderang yang menyadarkanku, membawa kembali dari lamunan yang mengembara tinggi. Melupakan sebuah sengatan rasa yang mengalir dari ujung jariku. Jongdae semakin hari kau semakin aneh saja.

"Jika nanti…"

Aku benci karena kau seringkali menggantung kata-kata yang ingin kau ucapkan. Ingin sekali kucekik lehermu untuk tak membuatku selalu penasaran. Tapi bertahun-tahun menjadi sahabatmu membuatku paham seperti apa dirimu.

"Nanti apa?"

Terkadang aku juga tidak sabar menunggu kalimatmu, kau tahu? Kau terlalu sering mengulur waktu. Mengintip raut wajahmu pasti ini adalah sesuatu yang penting. Aku terlalu mengenal dirimu.

"Jika nanti, kau tidak punya pilihan dan harus membunuhku…..apa kau akan melakukannya?"

Pertanyaan aneh lain yang kau gumamkan. Mungkinkah kau ingin mengajakku bercanda? Seperti biasa? Kau seringkali mengatakan hal-hal aneh yang membingungkan. Sekali lagi, jika melihat raut wajahmu kuyakin kali ini kau tidak sedang mengigau. Seolah kau tahu apa yang akan menantimu di depan.

"Hmmm….kurasa aku…akan…"

Seperti apa yang kuperkirakan...lagi-lagi kau menyebalkan. Tak memberi satu detik pun bagiku untuk berpikir. Apa kau sudah bisa menebak apa yang kupikirkan? Seharusnya kau tunggu jawabanku. Karena…..

Taemin mengangkat kepalanya, memandang sejenak bangunan besar di depan matanya sebelum niatnya kembali goyah. Ia mengayun langkah lebar meninggalkan tempat itu secepatnya.

"Jongdae…."

"…maafkan aku."

.karena aku mengingkari perkataanku sendiri.

Ini adalah pertama kalinya Jongdae melangkahkan kaki dalam bangunan besar itu. Sebuah ruangan luas menyapa ketika sepenuhnya ia berada di dalam. Bukan pabrik seperti apa yang ia sangkakan.

Sebuah tempat yang seingatnya pernah ia lihat pada beberapa film balap dimana mobil-mobil sport berjajar rapi dengan berbagai ornament yang bergaya pada setiap bagiannya.

Ruangan yang luas, tuas-tuas pengungkit, beberapa alat berat dan perkakas tersusun acak pada satu sudut. Mesin dan ban disusun pada rak besar pada sudut lain serta pintu besar bersisian yang tertutup rapat.

"Apa yang perlu ditakutkan di tempat seperti ini?" Gumam Jongdae pelan pada dirinya sendiri.

Tetap menyapukan pandangan ke setiap titik. Berharap seekor kucing melompat keluar dan ia bisa pulang menikmati selimut hangatnya. Jongdae menggantung langkahnya pada pijakan keras, meraih sebuah pintu besar lain yang sedikit terbuka.

Ruangan tanpa atap pelindung yang lebih luas dari sebelumnya, kali ini tampak lengang tanpa satu benda pun. Dari sudut matanya, langit mulai menghitam. Melirik jam di tangan kanannya, ia hanya punya beberapa menit untuk tidak membuat kedua orang tuanya khawatir.

Jongdae berniat menghampiri ruangan lain ketika matanya menangkap sosok seseorang yang sangat dikenalnya.

"Lee Joon?" Jongdae memajukan kepalanya dengan alis kanannya yang terangkat guna memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. "Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanyanya lagi.

"Menunggumu." Jawab Lee Joon dengan sebuah senyum merekah yang justru membuat Jongdae semakin berkerut bingung.

Teringat bahwa ia harus segera pulang, Jongdae berniat pergi setelah mengutarakan tujuannya datang ke tempat itu. Hampir saja ia meraih pintu jika suara Lee Joon tidak mengalun menghentkan langkahnya.

"Kau mencari ini?" seekor kucing berbulu putih dengan garis hitam melompat dari belakang kaki Lee Joon dan Jongdae baru menyadari bahwa ia tidak tahu seperti apa rupa kucing milik Taemin yang hilang.

Sebagian dalam dirinya seperti meneriakan sebuah alarm peringatan tapi tubuhnya justru merunduk guna menyambut kucing itu dalam pelukannya.

Jongdae merogoh saku celananya untuk menemukan sebuah benda persegi yang akan menyambungkannya pada Taemin. Tetapi gerak tangannya terhenti bersamaan dengan pekikan terkejutnya saat kucing itu menggigit tangannya yang lain.

Kucing itu melompat dan hilang dalam sekejap menjadi kepulan asap hitam. Jongdae meringis melihat bekas gigitan kucing itu yang seperti jejak terbakar.

"Tsk, buang-buang waktu."

"Apa?" Jongdae mengubah arah pandangnya kembali pada Lee Joon yang tiba-tiba jatuh terkulai pada lantai. Tak ada sedikit pun respon ketika Jongdae menggoyangkan tubuhnya.

"Dia akan terbangun…saat kau sudah tak bernyawa."

Seorang pemuda menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada pintu tempat Jongdae masuk sebelumnya saat ia membalik badannya. Jongdae menajamkan penglihatannya untuk mengenali sosok yang menundukkan wajahnya dan terhalang oleh pencahayaan yang minim.

"Aku tak akan bermain-main kali ini Kim Jongdae." Sorot tajam itu menantang tatapan elang Jongdae ketika dua pasang mata itu beradu. Penuh dengan bara ambisi membunuh dan menguasai.

Pemuda itu melangkah maju. Di bawah tempaan lampu tentu saja memudahkan Jongdae untuk mengingat wajah itu dengan jelas. Pemuda yang sama ketika menyerang ia dan Baekhyun tempo hari –John.

Diam-diam Jongdae menyiapkan diri saat pemuda itu melempar senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Kuharap kau cukup menikmati hidupmu selama ini…." Melirik pada tubuh tak bergerak Lee Joon di belakang Jongdae sebelum beralih pada tujuannya.

"….Chen?"

Jongdae terkesiap sejenak saat namanya disebut. Bola matanya dengan siaga mengikuti tiap gerak pemuda itu ketika perlahan dia bergerak ke sisi tubuhnya.

"Semua yang tersisa harus kami musnahkan." Jongdae memutar tubuhnya saat pemuda itu beralih ke sisi belakangnya. "Sebelum Minho menyusun sebuah serangan balik yang akan menghancurkan semua rencana kami." Ujarnya lagi seolah ia tahu beberapa pertanyaan yang berputar di otak Jongdae.

Jongdae diam. Menunggu hal apa yang akan dikatakan oleh John. Menjaga dirinya setenang mungkin untuk menyembunyikan kegelisahan yang merasukinya.

"Seharusnya mudah saja bagiku untuk melenyapkanmu." Jongdae memasang kuda-kudanya, tetap siaga. "Tapi ternyata kau punya sesuatu yang tak bisa aku remehkan."

Jongdae melompat menghindari sebuah serangan yang begitu cepat menuju dirinya. Ledakan itu menciptakan sebuah lubang kehitaman dan retakan pada lantai. Dan Jongdae tak lagi menemukan sosok John dimanapun.

"Jongdae!" sebuah seruan mengalihkan fokusnya. Seorang pemuda lain berdiri tepat di sampingnya. Dan Jongdae mengenalinya. Teman sebangkunya, Jung Daehyun.

Daehyun hanya terdiam saat Jongdae menyuarakan beberapa pertanyaan. Tak ada sapaan seperti biasanya. Hanya diam yang dilakukannya.

Jongdae baru menyadari bahwa tempat itu tak hanya ada dirinya, Daehyun dan Lee Joon yang terbaring tak sadarkan diri. Ada puluhan orang yang lain tanpa Jongdae tahu sejak kapan mereka berada disana.

Bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang dikenalnya. Tiba-tiba kedua tangan Daehyun merapat pada leher Jongdae. Mencekiknya begitu erat hingga ia kesulitan untuk meraup udara.

Lehernya terasa panas, seolah ada kobaran api yang menerobos hingga ke paru-parunya. Kedua tangan Jongdae berusaha menyingkirkan tangan Daehyun tapi Jongdae merasa ia memegang bara api. Saat beberapa orang lain mendekat, Jongdae memantapkan diri dan menyerang Daehyun dengan kilatan yang mencuat dari ujung jarinya.

Daehyun lenyap menjadi asap yang membumbung ke langit malam. Leher Jongdae memerah dan terasa perih. Ia terus menyarangkan serangannya dan satu per satu mereka lenyap ditelan kegelapan.

Namun, detik kemudian Jongdae sadar bahwa sebanyak ia melenyapkan mereka maka sebanyak itu pula akan hadir orang-orang yang lain. Bahkan beberapa berhasil membuat guratan luka pada lengannya.

Jongdae mulai terengah, tenaganya perlahan terkikis dan ia harus terus bertahan. Satu tarikan nafas panjang dan Jongdae membuat petir besar yang tersebar ke segala arah hingga salah satunya mencuat dan bersambut dengan gelegar yang meloloskan garis putih yang membelah langit.

Menyisakan dirinya yang berusaha mengatur deru nafasnya. Kelegaannya terkikis cepat karena tak satu pun sosok yang kembali muncul justru John hadir kembali di depan matanya.

"Akan kubuat permainan ini menjadi lebih menarik."

Belum sempat Jongdae mencerna maksud perkataannya, ia merasa ada angin panas yang menembus tubuhnya. Jongdae limbung membentur lantai, menggeliat dan mengerang keras seperti ada ribuan jarum yang menghujam dari ujung rambut hingga kakinya.

Penglihatannya mulai buram. Tenggorokannya kering hingga tak satu pun kata yang bisa ia utarakan. Tubuhnya gemetar hebat seiring rasa sakit yang semakin merajai. Kepalanya seperti dihantam sebuah pemukul yang kasat mata.

Detak jantungnya melemah. Lima detik selanjutnya terasa begitu menyiksa bagi Jongdae sebelum matanya tertutup rapat. Tak ada lagi gerakan dari tubuhnya yang tergolek.

Lee Joon membuka matanya. Menatap sekitarnya dengan wajah heran. Ia memicingkan mata saat mendapati terbaring Jongdae tak jauh darinya.

Mengesampingkan bahwa selama ini ia tidak pernah bersikap baik pada Jongdae, ia tetap tidak akan meninggalkan pemuda itu. Lee Joon terkejut saat menyentuh tubuh Jongdae yang mulai dingin.

Darah mengalir dari mulut Jongdae membuat Lee Joon semakin panik.

Lee Joon meraba pergelangan tangan Jongdae. Ia mengerang frustasi satelah beberapa menit terlewat tanpa berhasil merasakan detak jantung Jongdae.

Lee Joon berhambur mencari bantuan atau apapun yang bisa membawa Jongdae keluar dari sana. Dan seorang paman berbaik hati menawarkan bantuan dengan mobil tuanya yang kebetulan lewat.

"Hei! Berhenti! Apa yang kau lakukan pada Jongdae." Teriaknya ketika mendapati seorang pemuda membawa Jongdae dengan sebuah pisau panjang yang siap menembus leher Jongdae.

"Tidak usah ikut campur." Balas sosok itu dengan suara tegas dan seraknya.

Lidah api berkobar ke arah Lee Joon. Ia berlari dan berlindung di balik dinding. Menit-menit berlalu dan ia membeku karena Jongdae tak lagi disana. Hanya bekas kehitaman dan abu yang ia dapati di tempat Jongdae berada sebelumnya.

Lee Joon jatuh bersimpuh. Menatap sendu tempat itu dengan sebelah tangannya menggenggam abu leburan tubuh Jongdae.

"Jongdae…"

T.B.C

**…..**