Chapter 17
Perfect
Siang itu, Ernest berjalan menyusuri koridor panjang Purgatory Hall, sebelah tangannya mengepit tumpukan dokumen, dia menghentikan langkahnya di depan pintu ganda berpelitur hitam mengkilap, Ernestpun membuka pintu itu, di balik pintu itu adalah ruangan milik Samsara, tuannya, penguasa Purgatory Hall, ruangan kerja Samsara mempunyai langit-langit yang tinggi dengan lampu terang benderang. Di belakang meja kerja Samsara ada kaca transparan yang tembus langsung ke area empat pagoda Purgatory Hall. Samsara memasangnya setelah kejadian pencurian di Manava Pagoda, tidak hanya memasang kaca itu, Samsara juga meningkatkan keamanan Purgatory Hall menjadi 10 kali lipat dari normalnya. Di sisi kiri ruangan itu berjejer lemari-lemari dokumen dan di sisi kanan ruangan ada tiga pintu geser, ruangan-ruangan itu adalah kamar pribadi Samsara, kamar mandi dan ruang khusus yang hanya Samsara yang boleh memasukinya, bahkan Ernest tak pernah memasuki ruangan itu, gosipnya ruangan itu adalah ruangan dimana Samsara membuat wadah untuk jiwa reinkarnasi. Namun, kebenarannya hanya Samsara yang mengetahuinya.
Seperti hari sebelumnya Ernest menemukan Samsara dibalik tumpukan dokumen di meja kerjanya yang ada di tengah ruangan berbentuk persegi panjang itu, dia sedang serius membaca dokumen berbalut map berwarna merah sambil memainkan pena kesayangannya. Kacamata ovalnya yang berbingkai perak bertengger di hidungnya.
"Tuan" tegur Ernest.
"Mmmm…." balas Samsara tak melepas pandangannya dari dokumen yang sedang dibacanya.
"Ada tamu untuk anda tuan" lapor Ernest
"Tamu?" ulang Samsara masih membaca dokumen, kali ini dia mencoret-coret dokumen ditangannya itu, "Siapa?" tanyanya.
"Yang mulia Hades" jawab Ernest.
Samsara melirik Ernest terdiam sejenak, "suruh dia masuk" katanya, dia menutup dokumen yang dibacanya dan melemparkannya ke meja bersama dengan penanya.
"Baik tuan" lalu Ernest keluar ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan lelaki memakai kemeja hitam, ia mengikat separuh rambut hitamnya yang sekarang sudah mulai panjang.
"Kenapa jadi susah sekali untuk bertemu denganmu Samsara!" keluh Hades dia langsung mengenyakkan pantatnya di sofa empuk di depan meja kerja Samsara.
"Kau bahkan memberlakukan prosedur yang sama untukku, menyebalkan sekali" gerutu Hades.
"Bagiku semua yang ada di dunia ini sama saja, seharusnya kau sudah tahu bagaimana aku Hades" balas Samsara.
"Oh, baiklah aku paham"
"Bagus" Samsara bangun dari kursi kerjanya dan mendekati Hades mengenyakkan tubuhnya ke sofa di seberang Hades duduk, "lalu apa keperluanmu?" tanya Samsara.
"Tugas rutin" jawab Hades dia meraih tas kulitnya, membukanya dan mengluarkan setumpuk dokumen dalam map berwarna hitam, lalu melemparkannya ke meja kecil di depan sofa.
Samsara memandang onggokan dokumen di depannya lalu pandangannya beralih ke Hades, "tumben sekali, bisanya kau hanya mengutus salah satu dari tiga hakim neraka atau Pandora atau specter kesayanganmu Kagaho"
"Aku sedang bosan dan ingin jalan-jalan" Hades beralasan
"Aku tidak percaya" ujar Samsara menyipitkan matanya
Hades tertawa, bangun dari duduknya, dia berjalan menuju kaca yang menembus area pagoda, memerhatikan keempat pagoda itu.
"Jadi benarkah wadah nyonya besar hilang?" tanya Hades tanpa melepas pandangannya kearah Manava Pagoda yang kini sudah kembali seperti semula.
"Jadi itu yang ingin kau tanyakan sampai kau jauh-jauh datang ke Purgatory Hall?" kata Samsara dia sudah berdiri di sebelah Hades.
Hades mengembangkan senyumnya. Samsara menanggapinya dengan senyum kecut. Wajahnya terlihat kesal.
"Wadah itu adalah ciptaanku yang paling sempurna" ucap lelaki berkacamata itu.
"Sempurna?" ulang Hades
"Ya, tubuh dengan kekuatan psikometri dan psikokinesis yang besar, ketajaman indera yang melebihi manusia biasa, tubuh itu memang kudesain untuk menampung kekuatan nyonya besar yang luar biasa itu"
"Lalu apakah kau sudah menemukan wadah itu?"
"Ya aku sudah menemukannya"
"Kenapa kau tidak segera…"
"Tidak bisa" potong Samsara, "Wadah itu sudah ternoda, jatuh kejalan yang hitam karena dimanfaatkan iblis, jiwa itu juga" Samsara mengepalkan tangannya jelas terlihat sangat kesal.
"Apakah jiwa itu membawa bola besi?" tanya Hades, Samsara tak menjawab jelas wajahnya melukiskan kemarahan, melihat itu Hades tahu kalau jawaban dari pertanyaannya adalah 'iya'.
"Bagaimana mungkin kau menandai jiwa yang membawa bola besi itu, wajar saja jiwa itu tidak sampai ketempatku, dan wajar saja…."
"Waktu aku menandainya, bola besi itu belum ada! Aku baru pertama kali melihat jiwa yang begitu bersih dan murni, berkilauan saat aku menandainya!" sela Samsara keras
"Lalu apa kau sudah memeriksa arsipnya? Dimana kau temukan dia?" Tanya Hades
"Kau percaya jika kuberitahu dimana aku menemukannya?"
"Katakan saja"
"Sanctuary"
Hades terdiam, dia tak kaget mendengarnya. Ekspresi biasa Hades membuat Samsara heran.
"Sepertinya kau tidak kaget?"
Hades tertawa pelan "Apakah jiwa yang kau tandai itu adalah jiwa seorang gadis bernama Lecca?"
"Kau mengetahuinya?"
"Jiwa miliknya itulah yang menggodaku untuk memeliharanya di taman kesayanganku Samsara, birthstone yang sangat berkilau, permata yang jarang sekali muncul bahkan dalam ribuan tahun lamanya"
Kali ini Samsara terdiam, tak memungkiri perkataan Dewa orang mati disampingnya.
"Jiwa yang sempurna dengan wadah yang sempurna dia akan menjadi reinkarnasi yang sempurna" kata Samsara
"Tetapi bagaimanapun juga dia adalah manusia yang tidak sempurna Samsara" Mata Hades memandang empat pagoda yang ada di depannya. Manava yang mewakili manusia, Planta yang mewakili tumbuhan, Prani yang mewakili hewan dan Adrasya yang mewakili siluman.
"Jadi, apakah kau tahu dimana takdirnya akan berakhir Samsara?"
Samsara menoleh, memandang Hades "Sudah pasti di neraka milikmu" jawabnya.
Chapter 18
Impossible
Langit di ufuk barat sudah berganti warna dari oranye menjadi ungu tua, bintang dan bulan sudah muncul, menebar cahaya yang menerangi langit gelap. Sanctuary memang muram seperti yang sudah Lecca kenal, kini dia sedang berjalan menyusuri koridor di istana yang lima tahun ia datangi dengan modal kenekatannya dan di istana ini dia bertemu dengan Saga dan istana ini tidak berubah sama sekali, suram, gelap, dingin, kini Lecca melewati aula besar istana itu, masih jelas dalam ingatannya, Saga duduk di kursi besar yang ada di aula itu, sambil membaca buku dengan raut wajah serius, meski hanya tujuh hari dia ada disini, dia bisa melihat semua tentang Saga, termasuk kesedihannya, kesendiriannya, keterikatannya, dan betapa dirinya ingin sekali hidup seperti layaknya manusia biasa. Lecca menjentikkan jarinya seketika itu kandelar besar yang menggantung di tengah aula itu menyala, cahayanya yang temaram menyinari seluruh aula itu, Lecca melanjutkan langkahnya, dia berjalan ke samping istana, dan berhenti pada sebuah taman yang indah dengan hamparan rumput seperti permadani hijau yang lembut pohon sakura yang besar itu masih ada dan selalu mengugurkan kelopak bunganya, taman itu indah tapi entah kenapa bagi Lecca hanya kesedihan yang ada di taman ini.
"Kau disini toh" tegur Adder, dia mendekati Lecca dan berdiri di sampingnya.
"Ya..." sahut Lecca pelan
Adder mengerling Lecca, yang masih menatapi taman yang ada di depannya, dengan pandangan sedih.
"Ekspresimu jelas tidak pas sekali untuk mengagumi taman seindah ini" kata Adder
Lecca menoleh memandang Adder, ia tersenyum "Begitu?" katanya
"Ya jelas sekali" balas Adder
"Ayo, kita harus pergi ke kuil Athena" Lecca membalikkan badannya
"Apa tidak sebaiknya kau mempertimbangkan baik-baik perkataan Aiolia" kata Adder, Lecca menghentikan langkahnya.
"Dia akan mengetahuinya nanti, pada waktunya Adder"
"Dia tidak bisa menunggu selama yang kau inginkan Lecca"
"Aku tahu, tapi untuk saat ini tidak" tegas Lecca
Adder memandang Lecca terdiam.
"Apa keinginan terbesarmu Lecca?" tanya Adder
"Kau sudah tahu Adder"
"Jawab aku"
"Aku ingin berada di sisinya"
"Tidak bukan itu"
"Lalu menurutmu apa?"
"Kesedihan itu adalah jawabannya, kesedihan itulah yang mengikatmu Lecca, karena airmata dan kesedihan itu kau kembali kesini, karena kesedihan itu Astarte mengincarmu dan menjadikanmu seperti ini, apa kau mau menyimpan semuanya dan membiarkan kesedihan itu terus mengikat dirimu Lecca!" ujar Adder
"Lalu apa yang harus kulakukan Adder!" teriak Lecca
"Katakan padanya Lecca, ceritakan semuanya, sehingga dia mengerti dan melepaskanmu dari ikatan ini" balas Adder
Lecca mengerutkan keningnya, dirinya masih tidak mau menceritakan semua ini, pada Saga, pikirnya apa Saga benar akan melepaskan kesedihannya itu, penyesalan, dengan Lecca bercerita, bukankah itu akan membuat Saga semakin merasa bersalah karena membuat Lecca menjadi incaran Astarte pada akhirnya dia dijadikan ghost, pilihan Lecca saat ini adalah menyimpan cerita itu rapat-rapat.
"Pembicaraan ini selesai sampai sini Adder, kita harus bergegas" Lecca berbalik lagi dan meninggalkan adder
Adder menghela nafas, dan mengikuti Lecca.
Gumaman yang mendengung di aula kuil Athena seketika berhenti ketika Lecca datang bersama Adder, Shura yang sedang mengobrol bersama Milo dan Aiolia langsung melempar pandangan judes pada Lecca. Aphrodite yang duduk sambil memangkukan kakinya melihat Lecca dan Adder dengan pandangan mencemooh, Aiolos yang bersandar di salah satu pilar mengalihkan pandangannya ke Lecca, Mu dan Aldebaran juga menghentikan percakapan mereka, begitu juga dengan Athena dan Shion serta Dohko, semua berhenti bicara dan mengalihkan pandangan mereka pada Lecca dan Adder. Lecca tidak peduli dengan semua mata yang melihatnya, dia hanya mencari laki-laki berambut bitu langit itu, matanya mencarinya dengan seksama, ternyata dia duduk persis di sebelah Aphrodite, dia menyandarkan tubuhnya, terlihat lesu matanya memandang lurus kedepan, tetapi Lecca tahu dia tidak memandang apa-apa, Saga seperti boneka yang kehilangan kendali, dan tergeletak terlupakan. Bahkan Saga tidak mengetahui ketika Lecca datang, atau memang dia sudah mengacuhkan Lecca sebagai tanda protesnya, tetapi Lecca salah saat dia memandangnya Saga bereaksi, menoleh pandangan mereka bertubrukan, namun saat itu juga Lecca membuang mukanya, dia tak ingin bertatapan dengan Saga tidak, cintanya membuatnya tidak bisa melindungi Saga dengan sempurna, dia harus mengkesampingkan segala hal tentang perasaannya supaya dia bisa mengalahkan pada ghost dan demon yang datang siapapun itu.
Lecca mendekati Aiolia dan Milo yang sedang bersama Shura, Adder mengenyakkan dirinya di kursi yang kosong, dan memangkukan kakinya, memperhatikan sekelilingnya, begitu Lecca mendekat Shura langsung mendesis.
"Tuan, sayang sekali wajahmu yang sempurna itu jadi rusak kalau kau mengereyit seperti itu" kata Lecca begitu melihat ekspresi Shura, perkataan Lecca membuat Milo dan Aiolia terkekeh.
"Dia benar Shura" tambah Milo, membuat Shura mendelik padanya.
"Jangan sampai kau kutampar dengan excalibur!" maki Shura, mendengar itu Aiolia makin terkikik., kali ini Shura mendelik kearah Aiolia lalu berpindah ke Lecca, gadis itu memandang Shura dan tersenyum. Entah kenapa ada yang aneh dalam diri Shura dadanya terasa hangat, melihat senyuman Lecca, dia jadi tidak bisa marah dengan gadis itu, tetapi tetap saja dia tidak memercayainya, tetapi apa ini yang berdesir di dadanya, dia bisa merasakan wajahnya panas.
"Shura kenapa wajahmu memerah seperti itu?" tanya Milo
"Ap..apa! Jangan bercanda!" serunya, dia langsung berbalik meninggalkan Milo dan Aiolia yang kembali terkikik.
"Kalian ini bisa-bisanya kalian tertawa seperti itu disaat seperti ini" kata Aiolos yang ikutan nimbrung, dia memandang Lecca.
"Kau sudah tidak apa-apa lecca?" tanyanya
"Ya sedikit lebih baik" jawabnya
"Syukurlah" balas Aiolos
"Aiolos, yang mana dari orang-orang ini saint Libra?" tanya Lecca
"Itu" Aiolos menunjuk pada laki-laki dengan dagu belah, berambut ikal sebahu. Yang berdiri bersama dengan Athena dan Shion
Lecca menjulurkan lehernya tinggi-tinggi melewati bahu Aiolia, supaya dia jelas melihat Dohko, dan menyimpan wajah itu dalam ingatannya.
"Kenapa kau menannyakan dia?" tanya Aiolos
"Hanya.."
"Bertanya saja" sela Aiolia, sebelum Lecca meneruskan, membuat Lecca melirik Aiolia
"Jangan memaksanya lebih jauh untuk menjelaskan kenapa kakak dia tidak akan menjelaskannya" tambah Aiolia
"Apa ini ada hubungannya dengan ghost atau demon yang akan datang?" tebak Aiolos
"Ternyata kau lebih pandai daripada Aiolia" kata Lecca, mendengar itu Aiolia mendelik pada Lecca dan Milo pun terkikik.
"Mungkin dia..." kata-kata Lecca terputus wajahnya menjadi tegang, dia berbalik dan melebarkan tangannya menamengi Aiolia, Aiolos dan Milo, dia melempar pandangan ke arah Adder, ternyata Adder pun juga sudah berdiri dari duduknya, dan bersiaga.
"Mendekatlah ke Athena, Milo, Aiolia, Aiolos" kata Lecca, dia menoleh pada Athena, Dewi perang itu maju menyeruak diantara para gold saint yang merapat di tengah aula.
"Mereka datang, semuanya tetap dekat denganku" perintah Athena, Dohko dan Shion maju di belakang Athena
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga kuil Athena, sosok itupun muncul, wanita berambut panjang bermata sayu, serta laki-laki bertubuh tinggi besar.
"Ti...tidak mungkin!" seru Dohko dan Shion bersamaan begitu melihat siapa yang datang
"Tidak mungkin anda!" ujar Dohko tak percaya, seluruh tubuhnya gemetar hebat.
