Sehun masih tidak bisa melupakan apa yang terjadi dua hari yang lalu.

Pemuda ini terus disesaki pertanyaan yang hanya bisa disimpannya sendiri. Pertanyaan untuk Luhan, tentu saja. Sehun merasa apa yang disembunyikan oleh Luhan adalah sesuatu fatal yang selama ini perempuan tersebut batasi. Seperti membuat lingkaran merah yang tidak ingin siapapun masuk melewati lingkaran tersebut.

Sehun mengusap wajahnya kasar. Banyak masalah yang timbul dan membuatnya serasa ditimpa beban berton-ton. Pagi tadi, dia mendengar bahwa pernikahan Zitao dan Yifan telah disepakati tanggal pelaksanaannya.

Ia mendesah berat. Bukannya ia harusnya bisa mengikhlaskan? Zitao sudah memiliki kebahagiaan yang Sehun rasa pantas. Ia sudah membiarkan dirinya terlunta-lunta kesakitan hanya demi kebahagiaan Zitao. Seharusnya ia juga ikut senang mendengar kabar tersebut.

Ya, seharusnya.

Tetapi yang dirasakannya adalah hal semacam menelan duri ada pada kue yang dimakannya. Terasa tertusuk –sulit untuk dijelaskan oleh kata jika sudah kelewat menelannya.

Pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok Luhan yang terlihat cantik seperti biasanya. Map merah pada genggaman itu menandakan bahwa Luhan ada di tempatnya hanya sebatas pekerjaan saja.

"Mana yang harus kuperiksa?" Tanya Sehun begitu Luhan sudah menyodorkan map merah itu dihadapannya. Luhan menjelskan singkat bagian mana yang Sehun harus koreksi.

Luhan tahu ada yang tidak beres dari atasan berwajah es-nya ini. Kemarin, atasannya bertingkah seperti remaja yang memasuki frase jatuh cinta. Sekarang terlihat seperti kehilangan harapan hidup. Apa yang terjadi sebenarnya.

"Eumm.. Sehun?"

"Ya?" kelereng mata Sehun masih fokus pada deretan kata tercetak di kertas.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Wajahmu terlihat kusut dan seperti belum dicuci sama sekali." entah itu sebuah perhatian sekaligus ejekan, Sehun menghargai tindakan Luhan.

FYI, jika ada yang mengganggu pikiran Sehun, pemuda ini tidak bisa menyembunyikannya sekalipun dia terkenal minim ekspresi.

Sehun menetralkan ekspresinya menjadi sedatar mungkin. Menutup cover map merah tersebut lalu menyerahkannya kembali pada Luhan.

Maniknya yang coklat terang beradu dengan milik Luhan yang bewarna coklat gelap.

"Buat ulang. Tolong tambahi keterangan latar belakang proposal ini." jelas Sehun daripada menjawab pertanyaan Luhan.

"Oh? Oke." Luhan segera mengambil kembali map yang dihempas pelan ke atas meja.

Sebelum Luhan berbalik untuk kembali ke mejanya, Luhan sempat-sempatnya berujar pada Sehun, "Aku tahu kau minim ekspresi, tapi kau tidak bisa menyembunyikannya dariku." lalu perempuan itu berbalik untuk keluar dari ruangan Sehun.

Setelah Luhan menghilang, Sehun kembali mengacak rambutnya kesal.

Luhan memang susah untuk dibohongi. Lagipula… perempuan seperti Luhan terlalu baik untuk perasaan Sehun yang seperti perahu terombang-ambing di laut yang selalu didatangi badai.

Radio yang sedari tadi Sehun nyalakan memutarkan lagu Frente yang Sehun hapal liriknya di luar kepala.

.

I'm not sure what this could mean. I don't think you're what you seem.
I do admit to myself. That if I hurt someone else.
Then I'll never see just what we're meant to be.

[Frente – Bizzare Love Triangle]


"Sassy Lady and City Cool Man."

Xi Luhan | Oh Sehun EXO-K | other cast

Romance | Friendship | Drama

Lenght: Chaptered | Rated: T

WARNING! : GS, drama-adict, menye-menye.

Disclaimer: semua cast yang kalian tahu dari dunia K-pop bukanlah milikku (berdoa saja, semoga Sehun milikku #slapped), mereka sepenuhnya milik Tuhan YME dan keluarga mereka masing-masing. Aku hanya yang memiliki plot cerita ini atas nama ©Hwang0203 dan kuharap kalian bisa membuat cerita khayalan kalian sendiri daripada harus meniru orang lain ._.

[1]A/N : Maaf menunggu sangat lama untuk kambeknya fanfic ini. Aku disesaki banyak tekanan di real-life. Maafkan aku baru memposting sekarang.

.

Chapter 8 : Bizzare In Yours

.


Luhan hanya mengangguk saat Minseok memberikan petuah yang masuk ke telinga kiri dan kelaur ke telinga kanan. Ia hanya menyeruput Americano-nya. Lagipula suara keramaian kantin sedikit meredakan suara Minseok.

"Aku hanya ingin Jiaheng menjenguk Yue. Bagaimana pun, Jiaheng adalah ayah biologisnya yang punya ikatan erat." Luhan secara tidak langsung membela Yifan di depan Minseok.

"Ya ampun! Tidakkah dia cukup membuatmu terluka, melahirkan tanpa suami; apakah dia pantas disebut jantan? Aku yakin, mungkin diam-diam dia mengoleksi boneka super imut dan penyuka warna pink, hiyy.." di akhir kata, Minseok merinding membayangkan jika itu kenyataan.

"Hentikan, Seokkie! Kau terlalu liar berfantasi."

"Huh, aku tidak tahu kemanakan otakmu tentang ingatan mengenai Jiaheng." kesal Minseok.

"Aku…" Luhan memotong kalimatnya. Matanya menerawang, hatinya ikut merasa. Minseok hanya bisa pasrah jika Luhan sudah terlalu larut dengan kata-katanya. Ia tahu, sahabat sejatinya ini terlalu melankolis.

"… aku sudah merasa bahwa aku adalah ibu yang buruk bagi Yue. Aku hanya melihat wajahnya beberapa menit menit lalu aku koma ringan. Aku tidak tahu apapun sampai kau datang dan menangis memberitahuku bahwa Yue sudah tidak ada."

Minseok masih ingat persis kejadian itu. Seumur hidupnya hal yang disesali Minseok adalah membiarkan Luhan melahirkan tanpa pendamping siapapun. Saat itu Minseok sibuk dengan tugas kuliah yang mengharuskannya pergi ke luar kota untuk terjun langsung ke tempat penelitian kasus makalahnya. Sedang Yixing saat itu terpaksa menemani ibu mertuanya ke luar negeri.

Minseok mendapat telepon dari tetangga Luhan bahwa Luhan melahirkan dan saat itu juga Minseok pulang ke Seoul. Jarak kota Yangyang dan Seoul cukup memakan waktu hampir enam jam perjalanan.

Minseok datang menengok bayi Luhan di inkubator, sayangnya, suster yang bejaga menyuruhnya mendatangi dokter yang menangani kelahiran Luhan setelah Minseok mengaku bahwa ia kerabat Luhan.

Yue saat itu adalah bayi yang sangat lemah bahkan saat pasca Luhan selesai bersalin. Dokter mengatakan bahwa Yue harus berada di inkubator selang beberapa hari untuk mengetahui perkembangan jantungnya. Komplikasi jantung yang lemah membuat Yue tidak bisa bertahan lama. Terlalu lemah dan beresiko untuk melakukan operasi pada baru yang baru lahir. Sedangkan Luhan mengalami koma ringan diakibatkan terlalu mengeksplorasikan tenaganya untuk melahirkan sehingga. Dokter menenangkan Minseok kalau koma yang dialami Luhan bukan hal berat, dia hanya seperti tertidur dalam jangka waktu beberapa hari.

Sayangnya Yue hanya bisa bertahan selama dua hari saja.

Berita buruk. Bahkan Luhan kembali menjadi Luhan si mayat hidup seperti saat Yifan memutuskan menjadi pewaris seperti keinginan ayahnya.

"Aku ibu yang buruk. Bahkan belum sempat mengecup wajahnya, bahkan belum sempat memeluknya dan memberikannya ASI. Aku tidak ingin terlihat lebih jahat lagi untuk tidak membiarkannya melihat ayahnya. Yue diatas sana pasti marah padaku." tetesan liquid itu berjatuhan seiring isakan kecil yang keluar.

Minseok menjadi diam seribu bahasa. Menjadi serba salah juga. Cara yang ia tahu saat itu adalah menggenggam tangan Luhan erat; cara ampuh membuat sahabat sejatinya ini tenang.

Yifan hampir satu jam berdiri seperti orang bodoh di pintu masuk Namsan Tower. Suhu musim gugur di Seoul hampir mencapai belasan derajat celcius dan Yifan merutuki dirinya yang tidak mengenakan jaket tebal dan hangat.

Lelaki tinggi ini dapat melihat sosok mungil Luhan berjalan ke arahnya dari kejauhan. Yifan mengulum senyum kecil. Luhan masih tidak berubah meski hampir sepuluh tahun berpisah. Tinggi Luhan masih terasa pas untuk dipeluknya. Wajah Luhan masih sama kekanakan sepeti dulu, suaranya masih sehalus dulu.

"Menunggu lama?" Tanya Luhan saat perempuan itu sudah ada di depan Yifan.

"Kira-kira hampir satu jam." jawaban singkat Yifan. Luhan tidak banyak bicara, dia hanya membawa Yifan pergi dengan bus dan perempuan itu juga membawa sebuket bunga Lilly putih.

"Untuk apa membawa bunga?" Tanya Yifan.

"Diamlah." kata Luhan dan Yifan langsung membungkam mulutnya saat itu juga. Mereka dalam hening ketika bus membawa mereka keluar dari kota Seoul. Sebenarnya Yifan ingin sekali bertanya, tetapi ia urung mengingat sikap Luhan yang anti terhadapnya. Jadi, ia hanya melihat ruas jalanan Seoul yang padat kednaraan.

"Ini," Luhan menyodorkan sebuah buku ukuran yang lumayan besar dan cukup tipis. Yifan mengerutkan aslinya bingung, memandang Luhan dan juga buku merah itu secara bergantian. Detik berikutnya ia hiraukan kebingungan, tangan besar Yifan menarik buku merah itu dari Luhan.

"Perkembangan Yue selama ini. Kau melewatkan banyak hal." desah Luhan memberi tahu. Meski seperti bisikan yang hampir hilang, Yifan masih mendengar suara Luhan. Ia tidak terlalu memerhatikan perempuan yang duduk disampingnya. Fokusnya hanya ada pada buku merah yang diberikan Luhan.

(note: sorry disturbing. Please listen 'Claude Debussy – Memories' when you read this scene. Thank you^^)

Halaman pertama, ia disuguhkan judul yang membuat hati Yifan teriris.

'Perkembangan Xi Yue.'

Yifan membuka halaman berikutnya. Hanya ada foto USG. Meski samar, Yifan masih bisa melihat tangan yang amat mungil itu terangkat, wajah yang polos tanpa dosa itu menenangkan. Serta kaki yang menekuk seolah melindungi dirinya sendiri. Yifan mengusap foto itu. Tanpa sadar matanya nanar dan hampir meneteskan air mata.

'Foto USG Yue-ku saat dia berumur 18 minggu. Dokter bilang, dia punya tangan yang mungil dan wajah yang cantik. Yue, Mama tidak sabar bertemu denganmu.'

Halaman berikutnya tidak jauh berbeda. Hanya saja ada dua foto, satu foto Luhan yang saat itu hamil besar bersama Yixing dan juga foto USG yang kini terlihat jelas.

'Joonmyeon yang mengambil fotoku saat pasangan muda Joon dan Xing mampir ke apartemenku. Foto USG saat Yue berumur 23 minggu. Dokter bilang dia perempuan. Firasat seorang ibu benar, tidak salah aku menamai bayi perempuanku dengan nama Yue; bulanku yang cantik selalu mengikuti Bumi.'

Yifan menteskan air matanya meskipun suara isakan teredam oleh deru kendaraan di luar sana. Matanya terasa nanar.

Lelaki tinggi ini membalikkan halaman berikutnya. Hanya ada tiga foto Luhan –baik itu sendiri atau berpose bersama Minseok dan Yixing.

'Aku pindah apartemen, Yixing dan Minseok membantuku. Aku pindah tidak tahan lagi mereka –tetanggaku– mencaci Yue yang tidak berdosa –mengatakan Yue-ku adalah sesuatu yang salah. Tidak salah. Memang aku tidak menginginkan semuanya, tetapi Yue adalah hartaku paling berharga, titipan Tuhan yang paling berharga diantara semuanya.'

Yifan menyumpahi dirinya sendiri. Dimana dia saat Luhan membutuhkan pertolongan? Dimana dia sebagai pria yang bisa menjaga Luhan dan darah dagingnya sendiri. Dimana dia? Halaman itu sedikit basah oleh tetesan air mata Yifan sendiri.

Halaman selanjutnya ada dua foto yang tertempel. Luhan bersama Minseok yang menempelkan daun telinganya di perut buncit Luhan dan foto USG yang menunjukkan perkembangan Yue yang tumbuh menjadi bayi besar.

'Yue menendang untuk perrtama kali. Minseok beruntung bisa mendengarnya. Yue, senang bertemu dengan bibi Minseok? Di hasil foto USG, keadaan Yue sedikit lemah. Ini karena aku terkena morning sick lagi dan nutrisi belum cukup konsumsi. Yue, maafkan Mama. Tapi tendanganmu cukup kuat lho. Apa kau ingin jadi atlit sepak bola seperti Mama atau Jujitsu seperti Bibi Minseok? Hehehe…'

Kali ini Yifan mendapati foto USG. Sepertinya, ini foto terakhir Yue dalam kandungan Luhan.

'Menjelang dua minggu lagi Yue akan lahir. Dokter memberitahuku bahwa mungkin Yue akan lahir dengan kelemahan mengingat kondisi tubuhku juga kurang fit. Yue, Mama berharap kau baik-baik saja. Yue akan lahir tanggal 24 Agustus dan bisa saja meleset beberapa hari dari tanggal yang diperkirakan. Yue, Mama berharap kau lahir sehat. Mama akan berjuang!'

Yifan menangis. Tidak peduli Luhan di sampingnya diam-diam juga ikut menangis tanpa bersuara. Mata mereka sembap oleh air mata. Paru-paru Yifan serasa sesak oleh udara hingga rasanya menyakitkan. Hatinya teriris melihat dan mengetahui darah dagingnya begitu lemah.

Lelaki ini merasa dirinya tidak berguna. Ayah yang buruk –sangat. Lelaki yang buruk juga untuk Luhan. Membiarkan Luhan sendirian saat dia menghadapi semuanya.

Terakhir adalah foto bayi dalam inkubator. Tertempel banyak sekali selang kecil disana-sini pada ubuh bayi mungil tersebut. Itu yang makin membuat hati Yifan teriris ketika membaca tulisan tangan Luhan dibawah foto itu.

'Minseok mengambil foto ini saat aku tiga hari belum sadar dari koma ringan. Yue mengalami kelainan pada jantungnya dan itu berakibat fatal saat aku melahirkannya. Dia meninggal dua hari setelah aku melahirkannya. Di hari beriktunya aku baru bangun dari koma ringan dan memaksakan diriku menemani pembakaran abu Yue. Aku bahkan belum sempat memeluknya, aku belum sempat memberinya ASI, aku belum sempat mengucapkan 'Hai, Sayangku, Yue' dan bayiku telah kembali pada Tuhan.'

Yifan tahu Luhan sangat terpukul saat itu juga. Tulisan tangan perempuan itu kacau, jejak tinta yang meluber menandakan bahwa Luhan menulisnya sambil menangis.

"Yue.." lirih Yifan disela-sela tangisnya.

.

Mereka turun dari bus ketika sampai di bawah lembah perbukitan. Yifan masih setia mengikuti jejak Luhan yang membawanya ke suatu tempat. Hanya bukit yang luas dengan rumputnya yang hijau serta satu pohon besar yang menjadi kokoh di tengah-tengah bukit.

Luhan mendekati pohon yang kokoh dan meletakkan bunga Lilly putih tersebut di bawah pohon. Yifan melihat aneh apa yang Luhan lakukan. Mata sembap Yifan masih mengikuti gerak-gerik Luhan.

"Jiaheng.." panggil Luhan, "aku menebarkan abu Yue disini. Kuharap kau masih ingat tempat ini."

Yifan masih ingat tempat ini. Beberapa hari setelah kelulusan SMU, Yifan memutuskan mengajak Luhan beserta Minseok dan Yixing (tentu saja bersama kekasih Yixing yang Yifan lupa siapa namanya) piknik di bukit ini –tepatnya di bawah pohon ini. Di minggu berikutnya,mereka mengadakan piknik hanya berdua saja. Itu sudah lama sekali rasanya.

"Ya, piknik yang menyenangkan." ujar Yifan mendekati pohon kokoh tersebut.

"Aku terpaksa untuk meminta penduduk sini tidak menebang pohon ini. Sebagian abu Yue aku taburkan disini." Yifan tertohok. Lagkah kakinya mundur beberapa langkah menjauhi pohon besar ini. matanya membulat sempurna. Nafasnya tercekat.

Yue…?

"Yue," Luhan masih tidak melihat ke arah Yifan. Perempuan ini mulai bermonolog.

"Mama datang bersama Baba-mu. Kau merindukannya? Dia ada disini sekarang, mungkin kau melihatnya dari atassana." Luhan meneteskan liquidnya. Segera ia hapus jejak liquid dari pipinya. Mencoba terlihat tegar di depan Yifan.

"Mungkin kauingin bicara dengan Baba? Baiklah, Mama akan menunggu disini." Luhan mundur beberapa langkah menyamai posisi Yifan. "Majulah beberapa langkah. Kau harus memberi ucapan sapa pada Yue." Yifan tahu suara Luhan bergetar menahan tangis.

Yifan maju tiga langkah. Matnya masih menelusuri pohon yang masih kokoh ini lalu beranjak ke tanah akar pohon itu.

"Yue-er, Baba datang. Maaf baru melihatmu setelah kau menungguku untuk waktu yang lama." Yifan terduduk. Menyamankan posisinya saat ini. "Maaf Baba telah bersikap jahat padamu. Membiarkanmu dan Mama mengalami hal buruk yang seharusnya tidak kalian rasakan."

Pertahanan Yifan runtuh. Pikirannya kalut dan hatinya serasa diremas kuat-kuat.

"Maafkan Baba, Yue. Baba adalah ayah yang buruk 'kan? Yue ingin apapun akan Baba kabulkan, jika Yue memaafkan Baba."

Luhan juga sedang berjongkok dan telapak tangannya menutup mulut rapat-rapat, menahan isakan lolos dari bibirnya.

"Baba merasa menjadi pria paling jahat bagi kalian. Tega membiarkan kalian berdua tersiksa. Setelah Baba melewati beberapa waktu, rasanya ingin sekali memelukmu, menjadi sandaran Yue jika Mama memarahimu. Ingin sekali, sayangnya Baba tidak bisa… iri sekali melihat seoraang ayah yang bercengkrama dengan anaknya. Baba selalu mengingat Yue,berdoa untuk Yue setiap malam. Apa Yue tahu Baba juga mencintai Yue meski Baba tidak bersama kalian?"

"Hanya satu permintaan Baba; maafkan Baba Yue," Yifan menangis saat itu juga. Luhan di belakang sana juga terisak hebat.

.

.

Zitao memandang kesal pada ponselnya. Sudah puluhan kali ia mencoba memanggil Yifan, dan sudah puluhan juga ia mengirim pesan singkat ke Yifan. Tetapi dari pagi hingga menjelang tengah malam begini, lelaki itu belum juga menampakkan batang hidungnya sama sekali. Bahkan ketika Zitao mendatangi apartemen Yifan, ia masih belum menemukan tanda kehidupan apapun

Suara pintu apartemen terbuka, Zitao yang sedari tadi ada di dapur bergegas menuju pintu depan. Matanya memang menangkap sosok tegap Yifan, tetapi dalam keadaan kacau. Ada apa dengan tunangannya ini?

Wajah kusut, rambut serta pakaiannya acak-acakan. zitao bahkan mencium bau alkohol menyengat dari Yifan ketika lelaki itu melewatinya.

"Ada apa denganmu?" Tanya Zitao saat Yifan sudah duduk di atas sofa. Benar-benar kacau –dan Zitao bersumpah melihat mata Yifan membengkak seperti sudah menangis habis-habisan.

"Aku lelah. Bisa bicara besok saja, Zitao?" lalu Yifan masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dri dalam sehingga Zitao tidak dapat masuk.

Aneh. Tidak biasanya Yifan menjadai sekacau ini. Ada apa?

Sedangkan Yifan di dalam kamarnya masih disesaki rasa bersalah yang luar biasa. Setelah menyambangi Yue, Luhan mampir ke rumah Minseok, mengabaikan Yifan yang ingin mengantarkannya pulang. Yifan memilih mampir ke kedai bar dan meminum berapapun botol. Yifan snagat kuat dari pengaruh alcohol, jadi dia tidak gampang mabuk meskipun sudah meminum dua botol bourbon.

Zitao kembali membreskan dapur Yifan lalu segera pergi dari apartemen Yifan setelah memanggil supir untuk menjemputnya.

Zitao harus mencari tahu apa yang salah dengan Yifan akhir-akhir ini.


Luhan saat itu berumur dua puluh satu saat mengandung Yue. Dan melahirkan Yue saat usianya sudah genap dua puluh dua.

Masih ingat di benak Luhan saat Yifan lebih memilih ayahnya daripada Luhan. Banyak hal yang terjadi beberapa bulan sebelum Luhan tahu mengandung Yue. Beasiswa Luhan yang dicabut, Luhan yang dipecat dari pekerjaannya, bahkan Luhan hampir mengalami kecelakaan.

Semua itu penyebabnya hanya satu; ayah Yifan.

Yifan memang akhirnya bertemu ayahnya dan menginginkan Yifan menggantikannya menjadi pewaris –dengan syarat meninggalkan Luhan dan menikah dengan gadis pilihan ayahnya.

Yifan menolak, tentu saja. Tetapi ayahnya tidak gentar. Bahkan sampai harus menyingkirkan nyawa Luhan. Rencana ayah Yifan berhasil, anaknya memilih meninggalkan Luhan yang berbadan dua dan menuruti perintah ayahnya.

Tidak ada harapan bagi Luhan.

Tidak ada sama sekali.

Minseok, Yixing dan Joonmyeon membantunya untuk keluar dari jalan hitam yang Luhan lalui. Meksipun perempuan itu akhirnya bisa bangkit karena keberadaan Yue, tuhan memberi cobaan lain pada Luhan. Mengambil nyawa Yue dan membuat perempuan itu seperti terkena penyakit jiwa.

"Luhan? Kau melamun?" Minseok datang menuju beranda yang saat ini Luhan sambangi. Perempuan berpipi bakpao itu membawakan dua gelas; satu coklat panas dan satu lagi Americano untuk Luhan.

"Aku melewatkan banyak hal." ujar Luhan lalu menyesap Americano-nya.

"Apa Yifan datang menemui Yue?"

"Ya."

"Apa kau baik-baik saja?" Luhan mengeratkan pegangannya pada gelasnya saat ini. Mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Mata Luhan terasa kering untuk menangis, tetapi hatinya mengeluh ingin mengeluarkan tangisnya untuk sekarang.

"Aku… sekarat. Aku sedang tidak baik-baik saja." aku Luhan dan memeluk erat Minseok setelah meletakkan gelasnya pada meja kecil.

Minseok membalas pelukannya lebih erat. Luhan menenggelamkan wajahnya pada bahu Minseok. Dia butuh sandaran yang kuat dan saat ini Minseok-lah yang selalu menjadi sandarannya –selain Yixing. Dan masih ada satu orang lagi yang Luhan msih ragukan.

Mata Luhan mengantuk, tubuhnya letih setelah dipaksa menghadapi hal hebat –pertemuan ayah biologis dengan putrinya. Ia putuskan untuk ke kamar tamu bersama Minseok yang menemaninya.

Ketika akan menutup matanya, entah kenapa Luhan membayangkan sosok berdiri Sehun di depannya. Dengan raut wajah khawatir dan juga menatapnya nanar.

Luhan tidak ingin ambil pusing. Matanya tertutup saat itu juga dan Minseok bersiap menutupi tubuhnya dengan selimut hangat.

.

.

Sehun mencari-cari berkas yang dibutuhkannya saat ini. Sepertinya Sehun harus memikirkan saran Jongin untuk memiliki asisten pribadi. Terkadang menjengkelkan sekali harus menghandle semua sendirian tanpa ada yang membantunya.

Lelaki berkulit pucat ini menemukan map berkasnya diantara rak buku yang besarnya sama seperti rak buku di perpustakaan kota. Saat menarik map dari tempatnya, sebuah album ikut tertarik dan jatuh tepat di depan kaki Sehun.

Sehun tidak bodoh album apa yang terjatuh. Album semasa remaja-nya bersama Jongin dan Zitao. Ada banyak sekali foto mereka disana dan juga jangan lupakan berkeping-keping CD RAM yang merekam moment mereka.

Ada satu foto, saat itu mereka merayakan pesta kejutan ulang tahun untuk Jongin di ulang tahun keenam belas pemuda berkulit tan tersebut. Di foto mereka terlihat hangat satu sama lain. Zitao yang tersenyum lebar ke arah kamera, Jongin yang wajahnya penuh coretan krim dan dirinya yang tersenyum tipis melihat Zitao.

Foto lainnya saat mereka melakukan darmawisata ke pulau Nami. Foto itu diambil secara candid oleh Jongin. Waktu itu Sehun menyuapkan udon buatan ibunya ke arah Zitao.

Dan dua foto berikutnya dalah foto candid lainnya yang diambil Sehun –ketika Zitao tertawa keras setelah permianan roller coaster di malam mereka merayakan malam Natal bertiga dan satu lagi foto saat Zitao belepotan eskrim tanpa melihat ke arah kamera.

"Sehun, ini tidak bisa. Bagaimana pun kita teman 'bukan?" Zitao hampir menangis ketika mengatakan kalimat itu di malam pertemuan keluarga mereka. Ya, Sehun ingat kedua pihak keluarga mereka ingin menjodohkan mereka.

"Tidakkah kau mempercayaiku sebagai sosok laki-laki dan bukan sahabat? Aku mencintaimu, Zitao." butuh berhari-hari supaya Zitao percaya pada perasaan Sehun dan menyetujui perjodohan bisnis –yang juga dibumbui perasaan satu pihak.

Mereka baik-baik saja selama setahun. Terkadang mereka berperan sebagai sepasang kekasih (jika berdua saja) atau bertingkah seperti biasa layaknya teman (saat bersama Jongin, tentu).

Ya, semuanya baik-baik saja sebelum Sehun mendengar kabar bahwa nilai saham perusahaan keluarga mereka menurun cukup signifikatif karena ada dua perusahaan kecil yang tadinya berinvestasi mendadak keluar sebagai anggota.

Disusul berita bahwa dua perusahaan keluarga terbesar di Asia –Huang dan Oh– bergabung dengan perusahaan China lainnya yang memiliki sektor paling berpengaruh dan juga memiliki nilai saham tinggi dibanding perusahaan Oh.

Dikejutkan lagi oleh pengubahan perjodohan. Perusahaan Wu yang terbesar dan memiliki putra pewaris tertua diantara Zitao dan Sehun yang seumur. Zitao lebih memilih Wu Yifan ketimbang Oh Sehun.

"Maaf, aku mencoba mencintaimu, tapi… maafkan aku. Kau tidak lebih dari sahabat yang baik dan adik yang baik bagiku."

Kalimat yang terlontar di musim dingin juga membuat perasaan Sehun seperti sedia kala –beku dan dingin. Bahkan di umurnya yang baru menginjak delapan belas tahun, Sehun berani mencicip alkohol dan sering keluar-masuk bar tanpa sepengetahuan orangtuanya. Hanya Jongin yang membantu Sehun kembali seperti semula.

Zitao melanjutkan studi-nya ke Harvard dan akhirnya kembali ke Qingdao. Membuat Sehun dan Jongin sedikit bernafas lega; setidaknya Sehun tidak perlu waktu lama untuk membenah diri.

Sehun menutup album bersampul merah tersebut. Pikirannya ia kembalikan pada pekerjaan meski ada satu bingkai foto yang membuatnya sedikit goyah.

– Foto yang diambil ketika Sehun dan Zitao masih berstatus saling memiliki.


Yifan terbangun saat waktu menunjukkan angka delapan pagi. Masih sempat untuk segera berbenah dan membersihkan dirinya.

Hari ini adalah pertemuan penting karena menentukan apakah Yifan pantas menggantikan para tiga petinggi tiga perusahaan yang tergabung saat Yifan menikahi Zitao nantinya.

Pertemuan diadakan pukul sembilan lewat lima belas menit dan Yifan melihat angka digital delapan lewat tiga puluh lima. Yifan menyambar sebuah dasi dan buru-buru menambil kunci mobil. Biar saja urusan dasi, toh, nanti dia bisa minta tolong Zitao atau sekertarisnya.

Baru saja Yifan menutup pintu kamarnya, keadaan meja makan sudah rapi oleh piring penuh roti bakar dan segelas susu yang masih hangat. Oh, ada juga sup yang Yifan rasa gunanya untuk penghilang rasa mabuk.

'Aku tahu Gege pasti akan kesiangan. Setidaknya bagian kuah harus kau minum dan juga susu. Itu akan menteralkan alkohol. Sampai jumpa di kantor nanti.'

Isi notes yang ditinggalkan Zitao membaut Yifan trenyuh.

Bagaimana bisa gadis ini begitu mencintainya, padahal Yifan belum pasti juga akan membalas perasaan gadis itu?

Demi Neptunus, Yifan dan Zitao akan menikah kuang dari dua bulan lagi. Untuk apa kedekatan dan juga rasa perhatian seperti mencinta yang ditunjukkan Yifan pada Zitao?

Hanyalah sebuah ilusi yang dapat Yifan tampilkan. Secara nyata, perasaannya masih diliputi rasa bersalah pada Luhan dan Yue.

Yifan menurut apa kata Zitao seperti ada pada notes. Lalu beranjak pergi meninggalkan apartemennya yang berantakan.

.

.

"Kalian dengar? Presdir Wu Yi Wei akan berhenti dan digantikan oleh putranya sendiri." pekik Baro yang saat itu suasana ruang team dua divisi perencanaan sama seperti ibu-ibu bergosip di pasar pagi.

"Ya, yang kudengar dari karyawati, anaknya adalah tampan dan seumuran Luhan Noona dan Minseok Noona." ujar Yongguk. Gayanya sudah seperti seorang ilmuwan pemecah misteri.

"Menurut gossip lainnya, dia sudah punya tuangan putri dari Presdir perusahaan Huang. Apa kalian tahu jika tiga perusahaan keluarga terbesar di Asia akan bergabung menjadi satu? Wu-Huang-Oh!" heboh Gongchan.

"Wow, berita yang hebat!" decak Jonghyun.

Dan Minseok hanya memutar kedua kelereng matanya menanggapi tiga pria yang sama seperti wanita penggoisp. Detik selanjutnya, dahi Minseok menggekrut. Wu-Huang-Oh? Nama itu seperti tidak asing bagi telinga Minseok. Daripada memikirkan hal seperti itu, Minseok melanjutkan acara chatting-nya dengan Jongdae.

Luhan baru saja kembali dari toilet dan sedikit heran mendapati karyawan pria bergosip. Luhan mencoba mencari tahu dari Minseok dan perempuan bakpao itu hanya mengangkat bahunya singkat dengan cuek.

"Kurasa… kita tertukar."

Minseok menghela nafas. "Pemikiranmu ada benarnya juga."

Luhan berkali-kali melongokkan kepalanya ke arah kantor mungil Sehun. Mencoba mencari bayangan pemuda tersebut, tapi nihil.

"Apa Sehun sudah datang?"

"Belum."

Baru saja kedua perempuan ini berbincang, objek perbincangan mereka muncul di depan mereka. Agak heran juga dengan style Sehun yang tidak biasanya. Pemuda itu akan berpakian kemeja santai tanpa jas dan juga rambut yang dibiarkan acak-acakan tetapi masih berkesan keren.

Tidak seperti saat ini; sepatu pantofel yang mode untuk ukuran pria tua, kemeja yang ditutupi jas hitam mengkilap dan juga rambut klimis yang dibelah tengah. jangan lupakan semuanya terkancing dengan sempurna.

Hanya tinggal menambahkan kacamata berbingkai bulat sudah menjadi alwakan tersendiri bagi Luhan.

"Noona-deul, bisa memasangkan dasi untukku?" tanya Sehun pada Minseok dan Luhan. Niat awal Sehun meminta Minseok tetapi tidak enak hati juga pada Luhan.

"Sini," Luhan maju untuk mengikat dasi Sehun.

"Kau memilih dasi dengan warna norak." omel Luhan.

"Aku buru-buru."

"Rambutmu terlihat aneh."

"Aku tahu dan berhenti bicara."

Mereka diam. Luhan sibuk dengan dasi dan Sehun yang memerhatikan Luhan memasang dasinya.

Minseok dan lainnya yang melihat adegan ini, diam-diam mengulum senyum. Fantasi Minseok mengatakan mereka terlihat seperti pengantin baru –melupakan fakta bahwa Luhan lebih tua tujuh tahun dari Sehun.

"Luhan Noona,"

"Ya?"

"Aku butuh asisten yang mendampingiku saat rapat nanti. Bisakah kau yang menjai asitennya?"

gerakan Luhan terhenti lalu mncongak melihat wajah Sehun. Lalu menunduk kembali untuk ikatan terakhir pada dasi Sehun. "Tidak." jawab Luhan.

"Kenapa?"

"Karena aku tiak ingin berdiri berjam-jam hanya untuk mendengar orang-orang mengoceh."

"Segelas Americano?"

Luhan menggeleng. Tetapi Sehun tidak gencar.

"Ciuman dariku?"

Luhan memukul keras lengan Sehun. "KAU! Mesum sekali pikiranmu!"

Sehun masih tidak kehilangan akal untuk membujuk Luhan.

"Americano untuk satu minggu, stok Chocopie, Ramen, dan juga Pocky untuk seminggu juga–bagaimana?" tawaran menggoda dari Sehun.

"AKU MAU!"

.

.

Luhan merutuki kembali keputusannya mengikuti Sehun rapat. Bersama para asiten yang lain, Luhan meringis pada lututnya yang pegal karena hampir satu jam dia berdiri sedangkan Oh Sehun masih tenang duduk bersantai.

Sialan, desis Luhan.

Sedikit mengherankan, Sehun terlihat akrab sekali dengan presdir Wu Yi Wei dan juga, Sehun memiliki kursi deret kedua yang jabatannya juga sebagai petinggi perusahaan.

Padahal Sehun hanya memegang jabatan sebagai Manajer di team divisi, kenapa pemuda itu mendapatkan kursi level tinggi?

Pintu sebelah barat terbuka dan seluruh perhatian orang-orang tertuju pada pintu barat. Mata Luhan membulat besar dan rahangnya hampir lepas melihat sosok yang berdiri disana.

Wu Yifan dan Huang Zitao!

Matanya terus mengikuti pergerakan kedua orang itu menuju podium bersama Presdir Wu Yi Wei yang terlihat sumringah. Sehun juga ikut berdiri menuju podium bersama Presdir Wu Yi Wei.

Wu… tunggu dulu!

Wu Yifan, Huang Zitao dan Oh Sehun?!

Luhan menggeleng lemah, kakinya mundur selangkah. Jangan katakan kalau…

"Perhatian!" suara Presdir Wu Yi Wei menggema. "Aku perkenalkan putraku sekalian bersama tunangannya dan juga putra dari perusahaan Oh."

Luhan kembali menggeleng. Tangannya berpegangan pada tembok di belakangnya. Kuku jarinya hampir memutih pucat.

Yifan mendongak dan kelereng mata mereka bertemu. Siratan kekagetan muncul di sorot keduanya. Luhan melirik Sehun yang masih belum peka dengan atmosfir aneh antara Luhan dan Yifan. Sedang Zitao juga bersikap sama seperti Sehun.

"Wu Yifan putra tunggalku akan menjadi pewaris berikutnya menggantikanku. Huang Zitao putri dari perusahaan Huang yang akan menjadi calon istri anakku. Dan Oh Sehun dari perusahaan Oh yang akan menjabat sebagai Wakil Presdir. Bersatunya Perusahaan Wu-Huang-Oh akan segera dimulai!" dengan bangga Wu Yi Wei memperkenalkan tiga anak muda sebagai penerus.

Semua orang disana bersorak; kecuali Yifan dan Sehun. Tanpa disadari, kedua lelaki ini menatap sendu ke arah Luhan.

Luhan tidak bisa mempercayai semua ini. Dia berlaik menuju pintu selatan. Kelaur dari ruang rapat yang besar tanpa menimbulkan perhatian.

Sehun dan Yifan melihat semua pergerakan Luhan.

Yang mereka pikirkan hanya satu; segera keluar dan menemukan Luhan.

.

Every time I think of you I get a shot right through
Into a bolt of blue
It's no problem of mine, but it's the problem I find.
Living the life that I can't leave behind.
There's no sense in telling me.
The wisdom of a fool won't set you free.
But that's the way that it goes and it's nobody knows.
And every day my confussion grows.

[Frente – Bizzare Love Triangle]

.

.

|| Bersambung ||

.


[2]A/N: Saya minta maaf sebesar-besarnya kalau udah ada yang nunggu ini lama banget. Bahkan dari beberapa jauh hari ada reader yang nanya kapan publish dan aku bilang kira-kira pertengahan Maret. Dan sayangnya baru post di akhir Maret soalnya jadwal USEK yang dadakan dipercepat.

Oke, silahkan bash, silahkan misuh(?) ke saya karena emang saya udah kurang ajar banget minta hiatus dan menggantungkan cerita ini dalam jangka waktu lama. Guys, ada masalah di real-life yang penuh tekanan dan membuat tekanan menjadi ringan itu nggak mudah. Apalagi urusannya keluarga. Oke maaf ini curhat.

4000k+ words, agak panjang dari biasanya yang aku buat –selain chapter tujuh. Dan maaf sekali lagi kalau ceritanya makin ke sini malah makin mellow. Yang kemaren penasaran sama Yue, udah terkuak kan gimana perjuangan Luhan ke Yue. Sorry for typos, gurls, edit sekali langsung publish.

Aku sempat nulis fic lain dan menggantungkan fics SLaCCM ini. Sempet nggak ada feel buat niat ngelanjutin karena butuh pertapa dulu untuk beberapa next chap sampe kelar. Dan… feels gonna comes if you miss something.

Chapter selanjutnya aku nggak maksa kalian buat nunggu. Terserah mau baca lagi atau nggak. Nulis ini sekedar hobi dan pelarian semata, tapi aku juga punya tanggung jawab menyelesaikan ceritanya sesuai rencana awal aku buat fic ini.

Special Thanks berat buat Lolo~ dengan itu aku tahu kalau ada yang nungguin cerita dan mengantisipasi cerita ini. Thanks buat rekomen kamu, Lo~ itu yang bikin aku kangen nulis.

And big thanks for reviewers di chap sebelumnya:

Shin jemun21 | BeibiEXOl | Oh SeRa Land | han sera | ramyoon | meimei | jdcchan | shnyeoli27 | Name0ohsehunn | kyun | hhuunn | sungkyurry | ohluhannie | qie kaisoo 2 | rikha-chan | niasw3ty | MeriskaLu | chenma | hun12han20selu | khalidasalsa | Re-Panda68 | yuiharuno47 | HUNsayHAN | Kim YeHyun | kimyori95 | Oh Juna93 | hanhyewon357 | luhannieka

Yang fav/follow, maaf gak kesebut. Yang penting big thanks to you all. Ada yang gak kesebut atau juga salah penulisan? Maaf ya, kalau ada bilang aja, ntar aku langsung edit.

Review yang blom log-in, maaf gak bisa bales disni, A/N-nya udah kepanjangan.

See u in next chapter, XOXO! *lalu hilang disambar kentut Chen

[P.S: SM kamvret ya; mau kambek malah bikin teka-teki selevel Shinichi Kudo dan Sherlock]