Hika akhirnya kembali bawa chapter 9 setelah sekian lama gak update QwQ horee(?) kali ini ga ada acara bales review, karena isi review nya adalah jawaban kuis tempo hari *trollface* ehm... sebenernya udah ada yang bener, tapi sayang ga pake chapter ._. kuis masih dibuka~


Cerita sebelumnya: Miku telah kembali ke dunia nyata. Kini, hanya tersisa Rin, Kiyoteru, Rei, dan Kaito di dunia Len. Bagaimana mereka akan menghabiskan hari-hari mereka disana tanpa Miku?


Numbers

A cross over fanfiction by hikari-lenlen

Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton

Number Days (c) Pacthesis


Normal P.O.V

Seperti biasa, Len sedang mengumpulkan teman-teman (sementara) nya itu. Mata biru-jernihnya menyelidiki seluruh isi ruangan bioskop itu tempat mereka berkumpul. Namun...

"Mana Miku?" tanyanya heran.

"Miku sih pulang.." jawab Rin.

"Heh?" sergah Rei heran. "Anak itu pulang?"

"Untuk memastikan Miku sudah benar-benar pulang atau belum, keluarkan hp kalian! Kita lihat angkanya." komando Kiyoteru.

Rin, Kiyoteru, dan Rei serta Kaito pun mengeluarkan hp masing-masing, lalu membandingkan angka-angka yang tertera pada layar hp mereka.

Kagami Rin: 73

Hiyama Kiyoteru: 10

Kagene Rei: 10

Shion Kaito: 7

"Hmm, kalau dijumlah hasilnya memang 100... itu berarti Miku sudah benar-benar pulang." Kiyoteru berpendapat. "Tapi kenapa angka Kaito bisa serendah itu?"

Yang disinggung hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa...

"Galau ya ditinggal Miku?" tanya Rei dengan nada 'menggoda'. Pertanyaannya memang terdengar agak 'kasar', tetapi maksud sebenarnya adalah menghibur, barangkali dengan berkata seperti itu Kaito merasa lebih baik dan angkanya bisa naik... walaupun dengan begitu angka Rei akan berkurang. Tapi biarlah angkanya berkurang, karena Rei ingin cepat-cepat kembali ke dunia nyata.

Kaito tersenyum, namun itu sama sekali tidak merubah angkanya yang sudah 'kritis' itu.

"Sudahlah, daripada mikirin angka, aku mengumpulkan kalian disini untuk berenang tahu! Ayo pergi!" kata Len mencoba memeriahkan suasana dan hal itu berhasil mengembalikan senyum cerah di wajah teman-teman barunya itu.


Di kolam renang...

Rin sudah siap dengan baju renang one piece nya yang berwarna oranye. Begitupun dengan Len, bahkan ia-lah yang pertama kali meluncur ke kolam renang dengan mengenakan celana renang berwarna kuning. Lain halnya dengan Kaito, ia tidak mengenakan baju renang, melainkah hanya berjemur dengan kancing kemeja-nya yang masih terbuka kancingnyamasih dengan syal tentunya. Sedangkan Kiyoteru baru saja keluar dari ruang ganti, dengan memakai celana renang berwarna merah. Tapi, Rei masih mengenakan jaket kesayangannya, menikmati pemandangan disana (?).

"Hei, kau tidak berenang?" tanya Kiyoteru.

"Aku tidak bawa baju renang." sahut Rei malas.

"Tidak bawa baju renang atau tidak bisa berenang?" goda Kiyoteru.

"Tentu saja tidak bawa baju renang."

Kiyoteru diam di tempat. Lalu, ia mengambil hp miliknya dan Rei, dan meletakkannya ke tas ransel Kiyoteru... oh tidak Kiyoteru mencuri hp Rei.

Tetapi, tentu saja ada alasan tertentu 'kan?

Setelah itu...

BRUUSSHH

Kiyoteru langsung mendorong Rei ke dalam kolam renang, tidak mempedulikan fakta bahwa Rei Kagene masih mengenakan kaus dan jaket.

.

.

.

.

.

.

Rei bengong.

.

.

.

Satu detik, dua detik pun berlalu...

.

.

.

Akhirnya Rei sadar apa yang barusan Kiyoteru perbuat padanya, dan...

"MAMIIIH TOLONG SAYAAA! DEMI AYAM KENTAKI FRAID CIKEN SINI KAU KIYOTERU! NANTANG YA?! ADUH MAMI! BABEH!"

(note: Kentaki fraid ciken = itu yang restoran fast food ayam ._.)

Saudara-saudara, ternyata Rei memang tidak bisa berenang! Lihat saja, dia sudah klepek-klepek kayak cacing kepanasaan! (?)

Padahal airnya dingin loh.

Oke, lupakan itu.

Orang-orang yang melihat Rei kelabakan di dalam kolam renang sambil teriak-teriak gak jelas cuma bisa sweatdrop. Len yang baik hati dan suka menabung mau nolongin, tapi saat dia sudah mendekat ke Rei, matanya kena cipratan air, jadi sekarang dia malah ikut teriak-teriak gak jelas.

"AAAH MATA SAYAAA! RIN-CHAN TOLONG AKUUU!" teriaknya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya. Cupu ah.

Rin yang (tadinya) berniat menolong langsung membatalkan niatnya saat itu juga. Daripada nasibnya kayak Len.

Kaito, entah dia masih terlalu galau atau apa, tapi yang jelas ia sama sekali tidak menyadari kalau ada dua orang kesurupan (?) di depan dia.

Kiyoteru hanya geleng-geleng kepala, kemudian ia ikut nyebur, berantem sama Rei di dalam kolam renang. Yah, meski dia gak ikut teriak-teriak sih.

Rin pun kebingungan, mungkin dia mikir gini dalam hati, 'Teman-temanku sudah gila! Haruskah aku membawa mereka pada dukun?'


30 detik kemudian...

Kiyoteru dan Rei masih berantem gak jelas. Kaito masih galau. Rin masih bingung. Tapi Len sudah kembali waras, setelah matanya sembuh berkat Cashy si robot ATM gak jelas yang sempat terlupakan selama beberapa chapter ini. Yep, tadi Cashy datang mengantarkan obat mata Instu (sensor) untuk Len. Wah, robot yang baik.

Rin bingung. Mau ngapain dia? Ikut berjemur sama Kaito? Gak mungkin. Ngeliat muka Kaito lesu gitu jadi ga napsu si Rin-nya.

Mau ikut berantem sama Kiyoteru dan Rei? Ogah.

Satu-satunya cara tinggal...

Main sama Len.

Akhirnya Rin menyerah. Ia mengampiri Len.

"Len, boleh gak aku—"

"Mau main?! Boleh dong Rin-chan!" sahut Len antusias dengan mata berkilau (?)

Ternyata Len bisa membaca pikiran.


Tak disangka, ternyata main sama Len asyik juga. Begitu isi pikiran Rin saat itu. Mereka main perosotan, ciprat-cipratan, juga guling-gulingan di dalem kolam (?). Bahkan, Len sempat menggendong Rin mengelilingi kolam renangdengan piggyback style. Len senang, Rin pun senang.

Rin memutuskan untuk berhenti main dan duduk di tepi kolam, sedangkan Len masih di dalam kolam, menatap Rin.

"Rin-chan, mau kugendong lagi nggak?" tanya Len sambil tertawa kecil.

Rin tersenyum. "Nggak dulu deh. Aku sudah capek."

Len terlihat berpikir sebentar, lalu ia bertanya, "Kalau aku menghilang... Rin-chan bakal rindu aku nggak?"

"Hah?"

"Maksudku kalau nantinya angka Rin sudah 0, Rin akan kembali ke dunia nyata seperti Miku. Kalau itu terjadi, kita tidak akan bertemu lagi bukan?"

Rin terdiam.

"A-ah! Bukannya aku tidak mau Rin kembali ke dunia nyata—" lanjut Len dengan nada bersalah.

"Iya. Aku akan rindu Len kok."

Pupil mata Len melebar.

"K-kenapa?"

"Habisnya kalau kau gak ada lagi, suasana sepi dong, gak ada yang berisik kayak kamu." kata Rin sambil memalingkan wajahnya.

"Rin!"

...

Lalu mereka pun tertawa.


Acara berenang telah selesai, diakhiri dengan baterai mereka yang sudah mencapai 10% secara bersamaan. Maka mereka pun berebut memakai charger untuk memulihkan tenaga mereka—kecuali Len tentunya yang masih cengar-cengir gak jelas.

Rin—yang mendapat giliran pertama men-charge kini telah melepas hp nya dari charger miliknya dan berjalan menghampiri Len.

"Len... mau jalan bareng? Tidak ada yang bisa kuajak jalan, mereka semua sedang men-charge hp.."

"Mau dong!"

Rin dan Len pun menuju ke depan roller coaster, tempat paling strategis untuk menikmati bintang-bintang yang berkilauan di langit.

"Rin, beritahu aku segalanya tentangmu, aku ingin mengenalmu lebih dekat." kata Len, tidak melepaskan tatapan matanya pada bintang-bintang itu.

"Oke... namaku Rin Kagami."

"Hee? Nama Rin ada dua!"

"Bukan! 'Rin' itu nama kecil, 'Kagami' itu marga!"

Len masih bengong. "Marga itu apa?

"Ummm... marga yang sama menandakan kalau orang-orang itu satu keluarga. Contohnya namaku Kagami Rin, sedangkan nama Rei adalah Kagami Rei. Itu artinya aku dan Rei satu keluarga!"

Len mingkem. Maklumlah, dia nggak tahu dunia luar itu kayak apa... "L-lanjutkan..." kata Len.

"Tanggal lahirku 27 Desember, golongan darahku O..." jelas Rin, Len mencatatnya di sebuah notes.

"Aku punya anjing, namanya Kuro. Tapi dia sedang sakit sekarang."

"Aku sekolah di Voca Gakuen..."

Dan Rin pun melanjutkan penjelasannya selama beberapa menit...

.

"Oke." kata Len. "Sekarang beritahu aku tentang apa yang kau sukai. Kau suka permen?"

"Tidak."

"Kau suka boneka?"

"Tidak."

"Kau suka gelang?"

"Tidak... kenapa kau menanyaiku semua ini?" tanya Rin heran.

"Karena... aku ingin menjadi hal yang paling disukai Rin..."

DEG


Rin P.O.V

"Karena... aku ingin menjadi hal yang paling disukai Rin..."

DEG

Jantungku bergedup kencang. Ada apa ini? Kenapa wajahku serasa memanas seperti ini?

"E-eh... iya..." jawabku terbata-bata.

"Boleh 'kan?" tanya Len sambil tersenyum lebar.

DEG

Flashback

"Miki! Miki!" Panggilku riang pada sahabatku yang berambut merah ceri itu. "Kamu pacaran sama Piko dari kelas A?"

"E-eh?" kulihat wajah Miki memerah. "Iya..."

"Huh, apa asyiknya sih pacaran?"

"Kamu akan rasakan sendiri kalau sudah mulai menyukai lawan jenis... Rasanya seperti kobaran api di dada!" kata Miki sambil mengacungkan jempolnya.

End of flashback.

Ya... 'kobaran api di dada' inilah yang kurasakan saat ini.

Apa ini artinya aku suka sama Len?

.

To be continued.


Chapter 9 selesai! Oh iya kuis masih dibuka lho! Yang sudah jawab gak boleh ralat ya ^^

Review, please?