.
Kai berdiri diam di depan pintu kamar salah seorang pasien Appanya. Ia bisa melihat dengan jelas di dalamnya—karena pintu tersebut kaca sehingga tembus pandang—kalau sang Appa sedang mengontrol kondisi pasiennya tersebut.
Sejak menjejaki tingkat 3 SMP, Kai memang menjadi semakin sering di suruh ke rumah sakit baik oleh Eomma maupun Appanya. Sikap mereka sangat terlihat jelas kalau mereka memang sengaja ingin menjuruskan Kai pada bidang yang sama seperti mereka.
Kedua orangtua Kai memang tidak pernah melarang Kai untuk melakukan segala hal yang disukai namja itu, baik itu fotografi ataupun dance—hobi Kai yang lainnya—namun mereka tidak akan pernah setuju jika dua hal itu dijadikan masa depan bagi anaknya. Mereka ingin Kai menjadi seperti mereka yaitu Dokter.
Kim Jongwoon, Appa Kai adalah seorang dokter spesialis jantung yang sangat hebat. Keahlian dan keakuratannya dalam menyembuhkan pasien sudah di kenal oleh seluruh asia. Rendah hati dan penuh kasih sayang adalah sikap Kim Jongwoon yang membuat semua pasiennya merasa nyaman di rawat oleh dirinya.
Kim Ryeowook, Eomma Kai adalah Dokter spesialis anak yang terkenal dengan kelembutan dan sikap penyayangnya. Kai harus mengakui hal yang satu itu kalau Eommanya adalah Eomma terbaik sepanjang masa. Bahkan walaupun wanita itu sangat galak padanya kalau sedang marah, tapi jika kemarahan itu sudah berlalu, wanita itu pasti akan kembali baik dan membuatkan makanan kesukaan Kai. Semua hal yang membuat Kai senang pasti akan dilakukannya. Wajar bukan kalau Kai sangat menyayangi Eommanya.
Karena hal itulah, meski dengan perasaan terpaksa dan berat hati, Kai tetap saja meng-iyakan suruhan Eomma dan Appanya untuk ke rumah sakit. Ia tetap akan belajar dengan sungguh-sungguh tentang kedokteran agar kedua orangtuanya tak merasa kecewa. Toh, ia tetap bisa memotret dan Dance kapanpun ia mau.
Kai tersenyum ketika melihat Appanya keluar dari kamar pasien tadi.
"Pasti Eommamu yang menyuruhmu kesini kan. Apa kau sudah lama datang?" tanya Jongwoon sambil tersenyum hangat pada putranya.
"Ani, Appa. Aku baru saja datang." Jawab Kai.
Kedua Appa-anak itupun terus mengobrol tentang banyak hal sambil berjalan menuju ke ruang kerja Kim Jongwoon.
.
Sesampainya mereka di ruang kerja Kim Jongwoon, mereka pun segera masuk. Jongwoon sendiri berjalan menuju ke kulkas mini dalam ruangannya dan mengambil sebuah kaleng soda. Lalu ia beralih pada mesin kopi yang ada di meja samping kulkasnya dan mulai meracik minuman berkefein favoritenya. Setidaknya ini yang ia perlukan sembari mengobrol dengan putra kebanggaannya.
Kai pun mendudukkan dirinya di kursi kerja sang Appa dan iseng-iseng melirik setiap map file yang ada di atas meja. Ia pun mengambil satu map file dan membukanya. Bola mata Kai membulat saat melihat profile seorang pasien di halaman pertama file tersebut. Ternyata map yang di ambilnya ini merupakan keterangan pasien-pasien penyakit jantung yang di tangani Appanya.
Byun Baekhyun
Begitulah nama itu tertera manis di kertas file tersebut. Apa ia tidak salah membaca? Ejaan hangul itu jelas-jelas Byun-Baek-Hyun 변백현. Seingat Kai, nilai sastranya tidak pernah jatuh sampai di bawah 90, istilah lainnya ialah nyaris sempurna. Jadi sekarang bukan kemampuan membacanyalah yang perlu diragukan melainkan apakah benar itu adalah Byun Baekhyun yang dikenalnya? Gadis yang belakangannya ini selalu merengek minta di ajari memotret padanya.
Kai pun membuka halaman berikutnya dan bola matanya yang sudah membulat itu semakin membola dengan sempurnanya. Foto 3x4 yang terpasang disana ternyata orang yang sama. Di tambah lagi, di halaman itu tertulis keterangan penyakit Baekhyun.
"Appa, apa Byun Baekhyun itu pasienmu?" sebuah pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibir tebal Kai. sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak usah di tanyakan lagi.
Jongwoon yang baru saja meraih gelas kopinya pun berbalik dan sedikit memiringkan kepalanya.
"Tentu saja. map yang kau pegang itu adalah data pasien-pasien Appa yang datang untuk check up minggu ini. ada apa? kau kenal dengan gadis itu?"
"Ne. Aku kenal dengannya."
Dalam pikirannya kini timbul berjuta pertanyaan di kepala Kai. dan juga mulai muncul secerca rasa iba dan tak tega. Ternyata dibalik sifat cerewet dan cerianya, gadis itu memiliki beban yang menyedihkan. Dan lagi, pantas saja waktu itu Baekhyun sangat marah ketika Kai menebak tentang penyakit gadis itu.
'Sepertinya dia sengaja merahasiakan hal ini.' batin Kai dengan kepala tertunduk.
.
.
30 days with Them
Cast : Baekhyun, all exo member and other cast
Pairing : Chanbaek/Baekyeol(Always!) slight KaiBaek, KaiSoo slight SuDo, Sulay, Hunhan slight KrisHan, KrisTao, ChenMin and other pair
Rated : T for Teen
Genre : Romance, Friendship, a little bit of hurt/comfort
Summary : Baekhyun, seorang gadis bertubuh mungil yang menjadi anak baru di SunShine High School. Dengan jubah hitamnya, ia mengaku kalau ia berasal dari dunia fantasi dan bisa melakukan sihir. Sihir seperti apa yang bisa dilakukannya? Dan apa anak-anak lainnya akan percaya?
All Cast Belong to God and Their Family but This Story Belong to Me.
Warning : Uke as Girl, GENDERSWITCH, OOC and SO MANY TYPOSSSSS. If you don't like, so don't Read
Jangan terlalu yakin dengan Summarynya karena bisa saja isi ceritanya melenceng dari itu. Hehehehe J
.
.
Chapter 8 : Beat of Love
Baekhyun melipat kedua tangannya di atas meja dengan imut sambil menatap keluar jendela. Di depannya terdapat Kyungsoo yang sedang membaca novel dengan seriusnya. Suasana kelas sangat ramai karena tinggal 5 menit lagi menuju bel masuk berbunyi. Jadi jelaslah semua penghuni kelas sudah lengkap semua.
Ceklek
Seorang Oh Sehun pun masuk ke dalam kelas yang ramai tersebut. Beberapa gadis yang menyukainya pun tampak menahan napas dan ada yang memekik tertahan. Baiklah, Sehun memang cukup populer di sekolah ini.
"Baekhyun Noona..." Panggil Sehun antusias dan langsung mendekati meja Baekhyun. Gadis Byun berwajah innocent tersebut pun hanya sedikit memiringkan kepalanya dengan kedua alis yang bertaut. Mimpi apa dia semalam, sampai-sampai seorang Oh Sehun memanggilnya 'Noona'? bahkan pertemuan terakhir mereka sangatlah buruk, membuat Baekhyun enggan untuk menyapa namja berwatak dingin tersebut.
"Untukmu." Sehun meletakkan dua buah permen lollipop berbentuk love dan lingkaran di atas meja Baekhyun langsung memasang senyum bersahabat. "Sebagai tanda terimakasih dan permintaan maafku. Mulai hari ini aku akan memberikanmu permen setiap hari sampai genap 100 karena berkatmu aku bisa dekat dengan gadis yang kusuka. Jeongmal kamsahamnida Baekhyun Noona."
Baekhyun melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Sehun. Apalagi sikap namja itu padanya benar-benar berubah 180 derajat.
Setelah selesai dengan urusannya, Sehun pun langsung berbalik dan melangkah pergi keluar dari kelas Baekhyun. Hal ini lantas menyisahkan berbagai macam tatapan yang di lemparkan pada Baekhyun. Kalau dari para anak perempuan, jelaslah tatapan iri dan kagum. Namun ada sebuah tatapan tajam yang terasa paling mematikan. Sayangnya Baekhyun tidak menyadari yang satu itu.
"Aku ingat. Mungkin hubungannya dengan Luhan Eonnie sukses sehingga ia berterima kasih padaku." Ujar Baekhyun pada Kyungsoo yang sejak tadi hanya menatapnya seolah meminta penjelasan. "Tenang saja. Kau tahu pasti hatiku untuk siapa." Tambah Baekhyun sambil memasang cengirannya.
Dengan senangnya Baekhyun menaruh dua buah permen yang tadi di berikan Sehun padanya ke dalam tas ransel miliknya.
.
.
Dddrrtttt...
Lay menekan icon merah pada layar touchscreen androidnya dengan kasar bahkan tanpa melirik layarnya. Ia pun melipat kedua kakinya lalu membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Tepat pukul 9.00. seharusnya kini Lay berada di dalam kelasnya sambil mendengarkan penjelasan dari Kim Seonsaengnim tentang organ-organ dalam tubuh manusia. Baiklah, kini Lay sedang membolos jam pelajaran. Ia lebih memilih duduk di atap sekolah seperti ini.
Entah sudah keberapa kalinya ponsel Lay bergetar tanda kalau ada panggilan. Kemungkinan siapa si pemanggil ada dua atau bahkan memang keduanya. Pertama ialah Xiumin sebagai sahabat baik dan mengkhawatirkan teman gadisnya itu. Kedua ialah Suho yang jelas masih merasa bersalah sekaligus tidak mengerti karena belakangan ini Lay kerap kali menghindarinya. Ingatlah kalau posisi Suho tidaklah tahu apapun.
"Ternyata meski sudah kelas tiga, membolos pelajaran tetap hal yang paling diminati ya."
Sebuah suara langsung membuat Lay mengangkat wajahnya. Gadis berkebangsaan China tersebut pun langsung bisa melihat seorang yeoja cantik yang kini berdiri tak jauh di depannya.
"Luhannie..." Gumam Lay tanpa sadar.
"Annyeong." Sapa Luhan sambil tersenyum manis. "Hhah... bolehkah aku menemanimu disini? Aku sedang tidak mood belajar sekarang."
Lay secara sadar langsung menggelengkan kepalanya pelan.
"Ternyata Xi Luhan yang perfect bisa juga tidak mood belajar? Kupikir hanya ketika kelas 1 saja kau seperti itu." Ujar Lay sambil tersenyum tipis.
"Lay-ah, bisakah kau tidak bersikap sinis begitu? Kau tahu kalau aku merindukanmu. Ani! Aku merindukan kalian. Kau dan Xiumin." Ujar Luhan.
"Rindu? Kita bahkan masih bertemu setiap hari kan."
"Itu berbeda Lay-ah."
"Baiklah terserah padamu. Aku mengantuk jadi jangan menggangguku." Ujar Lay tegas lalu kembali membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Persis sebelum Luhan datang.
Luhan memandang sedih mantan sahabatnya tersebut.
Akhirnya dengan sedikit jarak, Luhan pun mendudukkan dirinya. Sesekali ia melirik ke arah Lay, berharap kalau Lay akan berubah pikiran dan mau mengobrol dengannya.
Beberapa menit telah berlalu dan Lay hanya diam saja. sepertinya gadis itu sudah terlelap.
Entahlah tapi disaat seperti ini, Luhan seperti ingin melakukan nostalgia ketika mereka masih di tingkat satu dulu. Diam-diam kabur ke atap sekolah lalu berbaring menatap langit sambil bercanda tawa riang. Mereka bertiga—Lay, Xiumin dan dirinya sendiri—menjadikan atap sekolah ini sebagai basecamp yang paling enak di jadikan tempat membolos.
Dan lagi dulu di saat mereka tengah asyik berbincang, orang pertama yang akan terlelap adalah Lay. Luhan benar-benar merindukan saat-saat itu.
"Lay-ah, aku tahu kini kau sedang ada masalah. Namun, karena sekarang kita sudah seperti orang asing, kurasa aku tidak punya hak lagi untuk berkata apa-apa." Ucap Luhan dengan nada lirih. Ia berpikir kalau Lay memang sudah tertidur.
"aku sangat ingin kita kembali seperti dulu lagi, Lay-ah. aku, kau dan Xiumin. Bisakah?" lirihan Luhan terdengar nyaris seperti memohon.
Luhan melirik ponselnya dan melihat ada satu pesan baru disana.
From : Sehun
Kau dimana Noona?
Luhan tersenyum kecil membaca pesan tersebut.
To : Sehun
Aku di atap, Hunnie-ah. Kenapa mencariku?
Ah! Luhan baru ingat kalau sekarang adalah jam pelajaran olaraga di kelas Sehun. Akhirnya, Luhan pun beranjak berdiri dan berniat turun ke bawah. Kemungkinan besar, Sehun ada di lapangan sekarang. Lebih baik ia menemui Sehun.
Setidaknya kalau seadainya ketahuan guru, Luhan memiliki alasan kalau ia habis dari toilet—karena memang sebelum keluar kelas tadi, Luhan hanya pamit ke toilet.
Luhan pun melirik Lay sebentar.
"Aku pergi duluan Lay-ah." ucap Luhan, meskipun ia yakin kalau Lay tidaklah sadar.
Gadis cantik itupun melangkah menuruni tangga menuju ke bawah.
"Kembali seperti dulu?" Batin Lay yang ternyata tidak tidur sama sekali.
"Kembali seperti dulu?" Kali ini ialah Xiumin yang ternyata sejak beberapa menit yang lalu berdiri di balik pintu pembatas antara atap dengan tangga menuju lantai bawah. Ia memandang punggung kecil Luhan yang perlahan menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi oleh pandangannya. Lalu Xiumin beralih melihat ke arah Lay yang masih tetap pada posisinya. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya berjalan mendekati Lay.
.
.
Baekhyun mengutak-atik kameranya seorang diri. Kini gadis berparas imut itu tengah duduk di kursi yang terletak di depan ruang kepala sekolah. Menunggu sahabat baiknya yang tadi di panggil ke ruangan tersebut. Karena bingung ingin melakukan apa, akhirnya Baekhyun menjadikan kameranya sebagai objek untuk menyibukkan diri.
Beberapa kali Baekhyun mengarahkan kameranya ke arah dirinya sendiri. Bisa dibilang Baekhyun sedang melakukan selca. Ternyata diam-diam, gadis bermarga Byun ini sangat narsis.
Setelah melihat hasil potretnya, Baekhyun tersenyum kecil lalu menghapusnya karena ia merasa kurang puas. Setelah itu, Baekhyun kembali melakukan hal yang sama seperti tadi. berkali-kali terus seperti itu, sampai sebuah tangan muncul meraih kamera kesayangan Baekhyun tersebut.
Baekhyun menengadahkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya, berniat ingin protes. Namun kata-kata yang awalnya ingin ia tumpahkan, terhenti begitu saja di ujung lidah. Ekspresi kesalnya pun langsung digantikan dengan senyum secerah matahari.
"Yeollie..." Rengek Baekhyun dengan nada manja.
Chanyeol yang melihat itupun hanya bisa menggeleng lalu mulai menekan-nekan tombol pada kamera digital milik Baekhyun tersebut.
"Ternyata kau narsis juga ya." Cibir Chanyeol sambil menggeser terus dan yang dapat dilihatnya hanyalah foto-foto terbaru Baekhyun.
"Biarkan saja. wajahku imut, jadi bukan masalahkan." Kata Baekhyun dengan percaya dirinya. Chanyeol hanya bisa terkekeh geli lalu beralih mencubit gemas pipi Baekhyun.
"Hahaha... begini baru wajahmu imut." Kekeh Chanyeol setelah melepas cubitan kejamnya. Terlihat bercak kemerahan di pipi Baekhyun. Gadis itupun hanya bisa mengerucutkan bibir mungilnya sambil mengusap-usap pipinya.
"Jahat. Neomu Appoyo." Ringis Baekhyun.
Chanyeol yang melihatnya pun jadi merasa tidak enak karena sepertinya dia memang sudah kelewatan.
"Benarkah sangat sakit?" Tanya Chanyeol dengan sedikit menunduk. Mendekatkan wajahnya untuk melihat pipi Baekhyun. Namja tampan itupun juga ikut mengelus pipi Baekhyun.
Bukannya hilang, pipi Baekhyun justru semakin memerah. Oke, lebih tepatnya ialah merona. Mungkin kalau dalam anime, pipi Baekhyun sudah semerah tomat dengan effect love-love di antara Chanyeol dan Baekhyun.
"Sudah lebih baik sekarang." Ucap Baekhyun cepat sambil menyingkirkan tangan Chanyeol. Gadis itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena malu. Chanyeol yang melihat itupun mengernyit tak mengerti.
"Kau kenapa lagi sekarang?" Tanyanya heran.
"Aku malu, Yeollie."
"Hhah... dasar."
Karena kini hubungannya dengan Baekhyun bisa dikatakan sangat dekat, Chanyeol bahkan sampai lupa kalau Baekhyun lah yang terlebih dahulu 'tergila-gila' padanya. Ckckck... mungkin hal ini karena Chanyeol merasakan posisinya yang berbalik.*You-Know-What-I-Mean*
"Sudahlah, Kajja kita ke kantin. aku lapar." Ajak Chanyeol.
"Nde? Tapi aku sedang menunggu Kyung-ie." Ucap Baekhyun dengan wajah ragu. Ini pertama kalinya Chanyeol mengajak ke kantin bersama, tidak mungkin kan kalau ia tolak. Hei... kesempatan seperti ini tidak mungkin datang dua kali kan. kecuali kalau memang hubungannya dengan Chanyeol dapat terus baik seperti saat ini.
"Yasudah. Aku pergi ya." Chanyeol menyodorkan kamera Baekhyun ke pemiliknya dan langsung di sambut dengan gugup.
Baekhyun terdiam memandang Chanyeol yang mulai melangkah pergi. Menatap punggung itu bergantian dengan pintu ruang kepala sekolah di sampingnya. Baekhyun terlihat berpikir keras, bahkan sampai Chanyeol sudah mendekati perempatan koridor.
"Yeollie aku ikut." Seru Baekhyun dan akhirnya memilih menyusul Chanyeol.
Chanyeol menghentikan langkahnya dan menunggu Baekhyun yang sedang berlari kecil ke arahnya.
Hemmm... kalau melihat seperti ini, mungkin sudah jelas jawabannya jika saja Baekhyun diberikan pertanyaan 'lebih memilih sahabat atau cinta?'. Tentu saja cinta. Hihi...
.
.
Kyungsoo menatap gugup seorang wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Tidak, Kyungsoo bukan gugup karena wanita itu melainkan karena seorang namja tan yang duduk tepat di sampingnya.
Sesekali Kyungsoo melihat ke arah sebelah kirinya untuk mencuri pandang ke arah namja itu. terlihat sekali kalau namja tersebut hanya duduk dengan tenang sambil menatap serius wanita paruh baya yang merupakan kepala sekolah mereka.
Namja itu adalah Kim Jongin alias Kai.
"Jadi bagaimana? Kalian mau kan ikut kompetisi matematika tersebut. Setelah kulihat daftar nilai-nilai kalian selama di sekolah ini, kalian berdualah yang menempati posisi pertama. IQ kalian pun cukup tinggi dan sudah banyak prestasi-prestasi yang kalian dapatkan. Saya rasa kompetisi matematika kali ini bukan hal baru lagi bagi kalian. Apalagi kau Kyungsoo-ah, kau mengikuti olimpiade fisika 2 bulan yang lalu kan?"
Kyungsoo sedikit tersentak ketika mendengarkan namanya disebutkan dan perkataan Min Sajangnim yang seolah di tujukan padanya.
"Ah, ne sajangnim." Jawab Kyungsoo dengan sedikit tergagap.
"Jadi ?"
"Baiklah, saya mau." Sahut Kai cepat.
"Saya juga." Ucap Kyungsoo cepat. dalam hati ia sedikit merutuki sikapnya yang terasa sangat memalukan.
"Baguslah. Kalau begitu, proposal pendaftaran akan kuberikan besok pagi. Saya harap kalian bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin, ne? Olimpiade akan dilangsungkan 2 minggu lagi. Saya percaya pada kemampuan kalian." Wanita itupun berdiri dan disusul oleh Kyungsoo dan Kai.
"Kamsahamnida sajangnim." Ucap Kai dan Kyungsoo bersamaan sebelum melangkah keluar dari ruangan guru mereka.
Kai terus saja berjalan ketika ia telah keluar dari ruang kepala sekolah. Ia tampak tidak mempedulikan Kyungsoo yang mengekor di belakangnya. Bukan maksud Kyungsoo untuk mengikuti Kai. Sungguh.
Kyungsoo hanya merasa heran karena tak mendapati Baekhyun ketika ia keluar dari ruang kepala sekolah dan ia pikir mungkin Baekhyun sudah pergi lebih dulu ke kantin. Jadi Kyungsoo berniat menyusulnya dan kebetulan saja, tujuan Kyungsoo sama dengan arah jalan Kai—meski belum tentu Kai juga mau ke kantin.
"Kau—" Kyungsoo tersentak ketika Kai tiba-tiba berbalik dan menatap ke arahnya. Sepertinya namja itu salah paham dan mengira Kyungsoo mengikutinya.
"Ani! Aku ingin ke kantin bukan mengikutimu." Ucap Kyungsoo refleks.
Kai mengerutkan keningnya heran karena tak mengerti dengan maksud ucapan Kyungsoo, padahal ia kan belum selesai bicara.
"Aku hanya mau bilang, hari sabtu nanti aku ke rumahmu ya. Kupikir aku perlu banyak belajar denganmu." Ujar Kai kalem sambil tersenyum kecil. "Tidak apa kan? apa kedua orangtuamu ada dirumah?"
Tanpa berpikir dua kali, Kyungsoo langsung mengangguk cepat untuk mengiyakan permintaan Kai. "Kadang kalau hari sabtu Eomma dan Appaku ada di rumah. Tapi mereka tidak pernah melarang siapapun temanku untuk datang kok."
"Baguslah. Oh ya, Kau..." Lidah Kai mendadak kelu dan ia ragu ingin melanjutkan kata-katanya atau tidak.
"Wae?" tanya Kyungsoo heran.
"Ani. Pokoknya hari sabtu nanti ya. Aku akan menghubungimu lagi nanti untuk tanya alamat rumahmu. Sampai jumpa." Setelah itu Kai pun berbalik dan berjalan cepat menjauhi Kyungsoo.
Kyungsoo hanya tetap berdiam diri di tempatnya sambil menatap punggung Kai yang menghilang di belokan koridor.
Dalam hati Kyungsoo merasa benar-benar senang. Ingin sekali rasanya ia melompat dan berteriak untuk menyuarakan isi hatinya. Namun itu benar-benar Out Of Character-nya kan. itu bukan gaya Kyungsoo.
.
.
Xiumin mengutak-atik layar ponsel touch screennya dengan wajah sebal. Bisa di lihat kalau gadis berpipi bakpau ini tidak sedang benar-benar fokus pada benda pintar miliknya.
Sesekali mata sipit Xiumin melirik ke arah sebuah meja yang tepat berada di tengah kantin. dimana ada seorang pria yang sangat Xiumin kenali sedang asyik bercanda tawa dengan kawan-kawannya.
Xiumin menggerutu sebal ketika ia melihat namja itu terlihat tak menyadari keberadaan dirinya. Padahal namja itu mengaku-ngaku—ehm—menyukainya—ehm.
Di tambah lagi, namja itu duduk di apit dua orang gadis. Mungkin Xiumin tidak akan terlalu sebal kalau posisi itu biasa saja. namun tangan namja itu yang melingkar di pundak salah seorang gadis yang berambut pendek yang membuat Xiumin semakin panas.
Namja itu adalah Kim Jongdae alias Chen yang sedang berkumpul dengan teman-teman klub basketnya. Di sana juga ada Chanyeol dan Baekhyun—yang setidaknya masih Xiumin kenali. Xiumin juga tahu siapa gadis yang sedang di rangkul Chen yaitu Amber. Gadis tomboy yang satu kelas juga dengan namja berwajah kotak itu. gadis lain yang ada di sisi Chen adalah Baekhyun. namun bisa dilihat kalau Chen tidak berbuat aneh-aneh ataupun menempelkan dirinya pada gadis mungil itu. mungkin karena Baekhyun seperti anak kecil jadi Chen tidak terlalu tertarik.
Tanpa sadar Xiumin meremas ponselnya lalu menaruhnya kasar di atas meja.
"Kau kenapa?" Lay yang duduk di hadapan Xiumin, menatap aneh sahabatnya itu.
"Ani. Aku tidak kenapa-napa." Balas Xiumin cepat sambil meraih gelas jusnya.
"Jinjja? Aku tak percaya." Ucap Lay acuh lalu kembali memakan makanannya.
Dalam hati, Xiumin kembali memaki dan merutuki Chen. Ia merasa namja itu berkhianat. Apalagi dari hari ke hari, namja itu semakin jarang menghampirinya di ruang klub dan sangat sering terlihat bersama Amber.
Rasanya Xiumin ingin mencurahkan isi hatinya pada Lay, namun ia masih ingat kalau Lay juga punya masalah tentang hati yang bahkan terasa lebih berat darinya. Uuhhh... semua jadi terasa rumit.
"Lay-ah, akhirnya aku bisa menemukanmu." Xiumin tersadar dari dunianya lalu langsung menoleh. Bisa ia lihat, ada seorang namja yang sedang berada di samping Lay.
"Ada urusan apa?" tanya Lay ketus.
"Kau kenapa sih? sepertinya hari ini kau menghindariku terus. Memangnya aku salah apa padamu?" tanya Suho—namja tersebut.
"Tidak ada. Kau tak salah apapun." Balas Lay tanpa mengurangi kadar keketusan dalam suaranya.
"Lalu kenapa kau menghindariku?"
Baru saja Lay ingin menjawab, namun matanya menangkap siluet seorang gadis yang baru saja memasuki kantin. Lay memberengut sebal karena moodnya benar-benar rusak ketika harus melihat gadis bermata bulat itu lagi.
"aku tak menghindarimu. Jadi berhentilah menggangguku. Aku tak mau gadismu kecewa ketika melihatmu di sampingku"—'seperti aku yang kecewa melihatmu dengannya.' Lanjut Lay dalam hati.
Suho menatap Lay tidak mengerti. Ya... ia tidak mengerti sama sekali maksud Lay. 'gadisnya'? Siapa? Sepertinya Suho tidak pernah merasa memiliki seorang gadis. Suho bahkan tidak pernah merasa dekat dengan gadis manapun kecuali—dengan...
Omona! Apa yang Lay maksud adalah ...
Bola mata Suho membulat. Ia menatap tak percaya Lay. bagaimana bisa Lay mengira Kyungsoo 'gadisnya'.
"Kau jangan salah paham. Kyungsoo itu—"
"Xiumin-ah, aku ingin ke toilet." Lay beranjak berdiri dan berlari pergi keluar dari kantin.
Xiumin membalikkan tubuhnya untuk melihat kepergian Lay. Ia lalu kembali ke posisi awalnya dan menatap Suho tajam.
"Namja bodoh. Tidak peka." Maki Xiumin pelan. Lalu segera berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Suho. Menyusul kepergian Lay.
Suho mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar bingung dan tak mengerti. Sebenarnya ia salah apa sampai Lay menghindarinya dan Xiumin mengatainya 'bodoh'.
"Aishhh... sebenarnya dia itu kenapa?" Keluh Suho sambil menundukkan kepalanya.
.
.
Baekhyun mendongakkan kepalanya untuk menatap langit yang mendung. Ia menghelakan nafasnya berat sambil sedikit menghentakkan kakinya.
"Kenapa harus mendung?" keluh Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Bahkan rintik hujan perlahan sudah mulai turun dan alhasil pastilah suhu udara akan menurun. Uuhhh... Baekhyun benci hujan. Ia benci hujan karena dirinya tidak pernah kuat dengan suhu rendah.
Hal yang paling mengesalkan lagi adalah Baekhyun tidak membawa jaket ataupun sweater. Tentu saja ia tidak ada persiapan apapun karena tadi pagi cuaca sangatlah cerah dan tak ada tanda-tanda akan turun hujan.
Plukk...
Sebuah sweater berbahan wol di letakkan tepat di atas kepalanya. Baekhyun langsung mendongak untuk melihat siapa pelaku yang melakukan itu.
Bisa Baekhyun liat seorang namja berkulit tan dengan tas kamera di pundak kirinya.
"Kai..." Panggil Baekhyun pelan.
"Kau pakai saja. aku yakin tubuhmu yang lemah itu tidak akan kuat dengan suhu dingin." Ujar Kai acuh sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Gomawo." Ucap Baekhyun tulus sambil tersenyum manis.
"Ehm..." Kai sedikit berdehem ketika melihat wajah Baekhyun. Wajah gadis itu terlihat sangat cantik. membuat Kai gugup saja. "Ya ya ya... bukan hal besar. Jadi kau jangan terlalu melebih-lebihkan. Lagipula kau kan pasien Appaku."
Tukk... Kai memukul keningnya sendiri ketika menyadari kalau bibir tebalnya kelepasan bicara. Harusnya kan ia merahasiakan hal ini saja, mengingat Baekhyun tempo hari juga terlihat merahasiakan penyakitnya. Bagaimana reaksinya ya jika ia tahu kalau Kai sudah mengetahui rahasianya? Batin Kai bertanya-tanya.
"Kau putra Yesung Uisa-nim?" tanya Baekhyun tak percaya.
"Nde." Balas Kai sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa dia yang mengatakannya padamu?"
"Ani. Appaku tak pernah menceritakan siapa pasiennya kalau aku tak bertanya. Tidak sengaja kemarin aku menemukan file data dirimu sebagai pasien Appaku."
"ahh... jadi begitu. ternyata hal seperti ini memang sangat sulit di rahasiakan ya." Baekhyun menundukkan kepalanya sedih.
"Kau tenang saja. Aku janji tak akan mengatakannya pada siapapun."
"Jinjja?"
"Ne. Tetapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kau harus mengatakan apa alasanmu merahasiakannya." Kata Kai sambil menatap Baekhyun tepat di manik matanya.
"Kau ingin tahu? kupikir kau bukan tipikal orang yang peduli pada orang lain." kata Baekhyun sambil sedikit tersenyum.
"memang tidak peduli. Err... aku hanya sedikit penasaran."
"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu."
"Mengatakan apa?"
Baekhyun sedikit tersentak dan langsung menoleh. Ia bisa melihat Chanyeol yang tengah menatap dirinya dan Kai.
"Bukan apa-apa. hehe... aku hanya ingin menyuruh Baekhyun mengatakan siapa... eummhh" Kai terlihat bingung melanjutkan kata-katanya.
"Idol star favoriteku. Kai sangat penasaran dan memaksaku untuk mengatakannya." Ucap Baekhyun cepat. Ia pun langsung menolehkan kepalanya menatap Kai. "Jadi begini Kai, aku adalah seorang Sone. Aku adalah fans nomor 1 SNSD. Begitu." kata Baekhyun pada Kai.
Chanyeol menatap kedua orang itu aneh. Rasanya gerak-gerik mereka terlihat mencurigakan dan terlihat sedang menutupi sesuatu.
Tapi pada akhirnya Chanyeol memilih untuk acuh dan tak peduli. Namja itu pun menaruh telapak tangannya di atas kepala Baekhyun dan mengelus kepala gadis itu.
"Kajja, kita pulang." Ajak Chanyeol sambil membuka payung yang sejak tadi di bawanya.
"Nde. Kajja." Baekhyun memeluk lengan Chanyeol erat dan semakin mendekatkan dirinya pada Chanyeol. "Bye Kai. kita mengobrol lagi besok ne? Sampai jumpa."
"Aku duluan, Kai."
"Ne Hyung."
Kai memandang Chanyeol dan Baekhyun yang sudah berjalan kearah gerbang sekolah dengan satu payung berdua.
Kai terlihat panas karena dengan berat hati ia harus mengakui kalau kedua orang itu tampak serasi ketika bersama. bagaimana ceritanya, kedua orang itu kini menjadi dekat? Bukankah sebelumnya Chanyeol menghindari Baekhyun?
'ah sudahlah. Itu tidak penting. yang penting sekarang adalah sebenarnya apa alasan Baekhyun menyembunyikan penyakitnya dari orang-orang? Apa ia merasa malu? Tapi untuk apa. menurutku kekurangan bukanlah hal yang memalukan karena setiap orang pasti memiliki kekurangannya masing-masing.'
Kai mengendikkan bahunya acuh lalu memilih untuk kembali ke dalam sekolah. mungkin hari ini ia ingin menghabiskan waktunya di dance room. Sudah cukup lama ia tidak menggerakkan tubuhnya.
.
.
Kris menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan yang akan membawanya pulang ke rumah. Ia menoleh untuk melihat seorang gadis bermata panda yang duduk tepat di sampingnya. Gadis itu terlihat hanya memandang kosong keluar jendela.
Namun tiba-tiba Kris menghentikan laju mobilnya. Tao yang tidak siap pun membuat tubuhnya nyaris terjatuh ke depan.
"Kau kenapa, Ge ?" tanya Tao heran.
Kris sendiri kini tengah menatap Tao intens dan perlahan mendekatkan dirinya ke arah gadis panda itu.
"Ge, kau mau apa?" Tao memundurkan tubuhnya untuk menjauhkan dirinya dari Kris.
"Gege..." Tao mulai panik dan kian lama punggungnya telah menempel pada kaca mobil.
"Ge.."
Ceklek...
Tukk..
"Gadis bodoh. Kau mau kalau kita kecelakaan lalu kau mati karena tak memasang sabuk pengaman dengan benar." Omel Kris setelah memasangkan sabuk pengaman Tao, lalu sempat-sempatnya tadi ia menyentil kening gadis itu.
"Mianhae..." Tao menundukkan wajahnya yang terasa memanas. Ia menyentuh keningnya yang sebenarnya tak sakit. Ada bekas tangan Kris disana, entah mengapa membuat dada Tao berdebar dengan keras.
Kris pun kembali melajukan mobilnya. Kini ia tampak fokus dengan jalan yang ada di depannya tanpa melirik ke arah Tao lagi. mereka pun melewatkan beberapa menit itu dengan keadaan sunyi dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Di tengah jalan ketika sedang melewati halte bus, Kris dapat menangkap siluet seorang gadis yang tengah duduk di halte bus. Terlihat sekali kalau gadis itu sedang menunggu hujan reda. Rasanya ingin sekali Kris menghampiri gadis itu.
Hingga akhirnya untuk kedua kalinya Kris menghentikan laju mobilnya sedikit jauh dari halte tersebut—tepatnya setelah tikungan. Ia pun menoleh ke arah Tao yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Errr... bisakah kau turun disini?" tanya Kris ragu-ragu.
"Mwo?" Tao membulatkan matanya tak percaya.
"Aku baru ingat kalau barangku ada yang tertinggal di sekolah. kurasa lebih baik kau turun saja karena kurasa akan memakan banyak waktu. Kulihat kau lelah dan ingin pulang kan. aku akan menunggumu sampai taksi datang." Ujar Kris lalu beralih membuka dashboard mobilnya. Mengeluarkan sebuah payung dari dalam sana. ia menyerahkan payung tersebut pada Tao.
"Tak apakan?" tanya Kris sambil menatap Tao.
"Ah. baiklah. Aku tak apa-apa kok, Ge."
Akhirnya Tao menerima payung yang Kris ulurkan padanya lalu mulai keluar dari mobil Kris.
"Ge, kau langsung pergi saja. tidak usah menungguku. Aku tidak apa-apa." ucap Tao dari luar.
"Sungguh? Kau yakin?"
"Ne. Kau duluan saja. sebentar lagi juga pasti taksi datang kok."
"Oh. Baiklah."
Kris pun sedikit memundurkan mobilnya lalu memutar untuk berbalik arah. Ia melambai pada Tao yang juga tengah tersenyum padanya.
Sesungguhnya Kris sekarang merasa jahat karena sudah menurunkan gadis itu di tengah jalan dan di saat hujan pula. Apalagi Kris berbohong pada Tao tadi. Tapi sungguh, Kris bingung dan ia juga tidak punya pilihan. Hal ini karena Kris lebih mengikuti kata hatinya.
Ia belum bisa move on. Hatinya masih tertaut pada satu gadis yang sama.
.
Kris menghentikan mobilnya tepat di depan halte yang tadi di lewatinya. Ia menurunkan kaca mobilnya lalu mulai memanggil nama seorang gadis yang sepertinya sudah sejak tadi ada di halte tersebut.
"Luhannie..." panggil Kris. Luhan yang tadi sepertinya tengah melamun pun langsung mengarahkan tatapannya ke arah mobil Kris. Gadis itupun berjalan mendekati mobil Kris.
"Kau Kris? Ada apa?" tanya Luhan.
"Kau sedang apa?" tanya Kris basa-basi.
"Menunggu hujan. Mau apalagi." Balas Luhan dengan nada sedikit sebal. Hari ini Luhan harus pulang sendiri karena Sehun harus mengikuti remedial sepulang sekolah. Sehun pun sudah menyuruh agar lebih baik Luhan pulang duluan dan tidak usah menunggunya.
"Ayo kuantar pulang. Kalau hujan begini, akan susah mencari kendaraan." Ujar Kris dengan sedikit dusta. Padahal sebenarnya itu hanya akal-akalan Kris agar Luhan mau ikut dengannya.
"Jinjja?" Luhan sedikit ragu awalnya, namun memang ada benarnya. Ia sudah duduk disini 10 menit dan belum ada satu bus pun yang lewat. Taksi pun tak terlihat sama sekali. Jelas hal ini pasti karena hujan.
"Yasudah."
Akhirnya Luhan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Kris lalu mulai memasang sabuk pengamannya.
"Baiklah, saatnya mengantar tuan putri Luhan."
Kris mulai kembali melajukan mobilnya.
"Apa sih Kris. Jangan bicara sembarangan deh." Dengus Luhan kesal sambil memukul lengan Kris.
Kris sendiri hanya terkekeh geli melihat wajah kesal Luhan yang tetap terlihat cantik baginya.
Sedangkan dari sudut pandang lain
Tao belum mendapatkan taksi dan ia masih berdiri di pinggir jalan. Sesekali rintik hujan turun mengenai sepatu kets putihnya.
Lalu mobil Kris pun lewat di depannya.
Hal paling menyakitkan bagi Tao adalah ketika melihat Luhan duduk di tempatnya tadi. Luhan terlihat tengah bicara pada Kris dengan manjanya—itu dimata Tao.
"Jahat." Rutuk Tao. Tanpa sadar airmatanya jatuh akibat rasa sakit di dadanya.
Kalau memang Kris ingin mengantar Luhan, kenapa ia harus berbohong pada Tao? Kenapa namja itu selalu saja melukai perasaan Tao? Mengapa mencintai Kris terasa sangat menyakitkan—bagi Tao—?
Dan lagi, untuk apa sikap manis Kris padanya dua hari ini kalau pada akhirnya Kris pasti kembali membuat hatinya terluka.
"Kau memang menyedihkan Tao. Ya... menyedihkan."
Tao membuang asal payung pemberian Kris dan membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya hingga basah kuyub.
"Menyedihkan."
.
.
"Dingin?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang tengah duduk di sampingnya.
Kini mereka berada dalam bus yang akhirnya tiba juga setelah sekian lama mereka menunggu. Kalau sedang hujan begini, pasti kendaraan umum sulit di dapatkan.
Baekhyun terlihat menggigil kedinginan meskipun tubuhnya sudah dibalut sweater yang diberikan Kai tadi. gadis itu menangkupkan kedua telapak tangannya lalu menggosoknya untuk mengurangi rasa dingin itu.
Chanyeol yang sadar kalau Baekhyun benar-benar kedinginan pun berinisiatif untuk melepas jaket tebal yang tengah di gunakannya. Ia memakaikan jaket itu pada tubuh mungil Baekhyun lalu namja itu sendiri mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun.
Ia meraih kedua telapak tangan Baekhyun lalu menggosok-gosokkannya dengan tangannya yang hangat. Beberapa kali Chanyeol juga menghembuskan nafasnya pada tangan Baekhyun sebagai usaha untuk menghangatkan tangan gadis itu yang bahkan terasa sedingin es.
"Gomawo Yeollie. Sekarang aku sudah lebih baik." Ucap Baekhyun sambil tersenyum.
Chanyeol sendiri hanya menggeleng tak habis pikir. "kalau kau memang kedinginan, harusnya kau bilang padaku. Jangan hanya diam saja. membuat aku khawatir saja."
Chanyeol ingat dengan betul kalau Baekhyun sangat sering pingsan maka bisa dikatakan kalau fisik gadis ini lemah. Apalagi mengingat betapa protektifnya Appa Baekhyun menjaga gadis itu.
Jadi kemungkinan Baekhyun yang tidak tahan dingin, itu bisa saja kan.
"Masih dingin?" tanya Chanyeol.
"Sedikit." Jawab Baekhyun. akhirnya Chanyeol pun berinisiatif untuk membawa Baekhyun dalam pelukannya. Menempelkan wajah gadis itu pada dadanya agar merasa lebih hangat.
Dalam pelukan Chanyeol, Baekhyun menutup kedua pipinya yang terasa menghangat. Sungguh bukan hanya tubuhnya yang terasa hangat tapi pipinya juga. Tak lupa juga hatinya yang terasa hangat.
"Gomawo Yeollie. Ternyata kau memang benar-benar baik." Ucap Baekhyun.
Sedangkan Chanyeol hanya membalasnya dengan gumaman sambil menatap keluar jendela.
"Aku menyayangimu, Yeollie." Ucap Baekhyun lagi.
'aku juga.' Balas Chanyeol namun hanya sebatas suara hatinya. Ternyata namja itu masih terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaannya.
.
.
To Be Continued
Words : 4.986
Published : 30/03/2014
Maaf karna aku ingkar janji dan ngaret banget updatenya. Awalnya aku udah mau update dari 2 minggu lalu tapi karena aku sakit sampai seminggu lebih dan ga boleh main laptop, alhasil hal itu batal terlaksana. Padahal aku lagi libur T.T
Setelah masuk sekolah, aku udah di kejar lagi ama ulangan lalu di susul ama UTS. Dan karena lagi sempat, sekarang aku curi-curi waktu buat update.
Maaf kalau ceritanya tambah bikin kecewa padahal kalian udah capek nunggu. Tapi mulai dari chapter ini, konflik mulai serius. Dan hubungan masing-masing couple pun mulai aku tunjukkin. Maaf ya kalau ceritanya ribet dan ga jelas banget.
Oke deh, tanpa banyak omong. Jangan lupa review after read ne? Kamsahamnida.
