[Baru sekarang update ya. Maaf ya T_T
Disclaimer: Hetalia bukan punya saya]
Sore itu adalah sore yang indah bagi seseorang yang sedang berdiri di pinggir danau seperti Livio. Seusai kuliah di hari itu, dia langsung berjalan ke danau dengan tas yang sudah berisikan alat-alat lukis. Setelah mendapatkan view yang tepat, dia duduk dan mengeluarkan isi tasnya. Dia bukan seseorang yang pandai melukis, tetapi kesukaan untuk melukis didapat dari temannya. Karena tugas dan praktikum, dia sudah lama tidak melakukan kegiatan tersebut. Lagipula, keadaan di asrama saat itu sedang tidak kondusif baginya. Dia tahu sekali apa yang sedang terjadi di asrama sekarang. Musyawarah terbuka, semua orang membicarakannya. Dia terlalu penat untuk bertahan di tempat itu.
Tidak sering didapati orang berada di sekitar danau pada sore hari. Livio benar-benar sendiri di situ. Terdengar bunyi burung saling berkicau dan monyet saling bersahutan, walaupun begitu ketika melihat permukaan danau yang tenang, semua bunyi-bunyian itu tidak terdengar seperti sebuah kebisingan. Kampusnya terletak di antara hutan yang masih lestari, salah satu hal yang Livio syukuri. Dia tersenyum, kemudian mulai melukis.
(**********)
Suasana di kompleks asrama berbeda 180 derajat dibandingkan suasana di danau.
"Kenapa aku harus bersamamu di sini?" Lovino dengan kesal bertanya kepada rekannya untuk sore itu.
"Karena aku fotografer yang handal!" Alfred menjawab dengan penuh percaya diri. Kamera tergantung di lehernya.
Lovino memutar bola matanya. Buat apa fotografer untuk meliput sebuah diskusi? Pimpinan redaksi seharusnya berpikir dua kali sebelum menunjuk. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, Lovino tidak terlalu keberatan dengan kehadiran Alfred.
Dia memutar lehernya, menatap sekeliling ruangan. Ruangan tersebut sudah hampir penuh. Kubu GDA , Asrama, dan DPM sudah hadir. Ke mana kubu BEM dan BEM angkatan? Lovino tak harus bertanya lagi, serombongan orang yang memakai jaket "Badan Eksekutif Mahasiswa" masuk. Dia tersenyum, sang bintang tamu berada di tengah-tengah mereka. Bintang tamu tersebut tak lain adalah Arthur Kirkland.
Lovino kini melihat peserta yang hadir satu persatu. Mereka telah duduk sesuai dengan bagian yang disediakan.
Pasukan Arthur terdiri dari teman-teman seorganisasinya, yakni Roderich, Elizabetha, Ratna, dan Oz. Hadir juga perwakilan dari BEM seperti Ian. Kumpulan BEM ini duduk di bagian barat dari ruangan. Kubu GDA dan DPM duduk berlawanan dari mereka. Terlihat Ludwig dan Antonio. Di antara dua kubu tersebut adalah pihak asrama sebagai pihak penengah dan pengatur jalannya musyawarah alias moderator. Selain mereka semua, terdapat perwakilan dari UKM-UKM. Gilbert juga hadir. Mereka disediakan tempat yang tersebar di sebelah dua kubu tersebut dan di depan meja moderator. Lovino dengan Alfred duduk di sebuah sudut yang strategis yang mereka mudah untuk menangkap pendapat semua pihak.
Lovino mencengkeram kertas catatan dan ponsel yang berada di satu tangan, tak sabar agar semuanya dimulai.
(*********)
Musyawarah segera dimulai setelah GDA memberikan komplain bahwa pihak BEM datang terlambat. Alfred cepat sekali meninggalkan tempatnya di sebelah Lovino dan mulai meliput. Lovino sendiri menyalakan voice recorder dari ponselnya. Walaupun sudah dipermudah dengan ponsel, Lovino tetap mencatat apa saja yang ia dengar.
Moderator adalah seorang Arab yang berperawakan tegas. Musyawarah berjalan dengan tertib. Masing-masing pihak dapat menahan pendapatnya dan menyampaikan dengan tepat. Penyampaian pendapat juga didengar dengan baik. Arthur dan Antonio tidak beradu mulut, Gilbert tidak main cerocos, Ian tidak mengirimkan tatapan mematikannya, dan hal-hal lain yang orang yang mengenal mereka mengira akan terjadi. Sepuluh menit berlalu, ketertiban musyawarah harus terganggu dengan suara-suara provokasi dari luar. Jendela ruangan yang tidak ditutup membuat mereka yang tidak diundang mudah melihat jalannya musyawarah. Tidak seperti di awal, jumlah mereka juga bertambah. Lovino menggelengkan kepalanya, siapapun yang mengira "musyawarah terbuka" adalah berhak mengikuti musyawarah padahal tidak diundang adalah orang yang bodoh.
Selama beberapa menit pihak asrama termasuk moderator harus mendiamkan orang-orang ini terlebih dahulu sebelum melanjutkan musyawarah.
Musyawarah berlanjut. Kemudian sampailah di topik yang "sensitif", kedua kubu sama-sama memanas, ditambah seruan-seruan provokatif di luar. Lovino mengira, hanya dalam beberapa menit atau detik, semua "ketertiban" ini akan hancur.
Benar saja, Antonio keluar dari tempat duduknya, berdiri di tengah ruangan.
"Apakah kau bisa menjamin keselamatan teman-temanmu ketika mereka pulang terlalu larut? Tidak bukan? Karena itu bukan tugasmu. Kalau mereka kenapa-kenapa, pihak kamilah yang dimintai tanggung jawab!" suara Antonio lantang, mengalahkan suara moderator yang menyuruhnya untuk duduk. Sementara teman-teman dari GDA membiarkan Antonio karena mereka juga kesal.
Arthur, tepatnya orang yang disanggah pendapatnya, mengepalkan telapak tangannya. Siapapun dapat melihat bahwa dia bergetar, terlihat seperti singa dalam kandang yang ingin menerjang. Tidak pernah ada yang melihatnya begini. Arthur selalu dapat mengunci emosinya dengan baik. Akan tetapi, tidak saat ini.
"Kalau kau menyanggah bahwa itu adalah urusan GDA dan lepas tangan dengan apapun yang terjadi, aku akan mematahkan lehermu,"
Itulah yang menjadi pemicunya. Tak perlu beberapa detik kemudian, Arthur sudah meninggalkan kursinya. Tangan-tangan di sekitar tak sempat untuk menghentikan Arthur. Kini mereka berdua, Arthur dan Antonio sedang mencengkeram kerah satu-sama lain.
Lovino tersenyum senang, peristiwa ini tidak luput dari goresan penanya. Dia asyik menulis sementara orang-orang sibuk melerai hampir-menjadi-perkelahian kedua orang tersebut. Tak jauh dari mereka adalah Alfred, dengan cepatnya menekan tombol di kameranya. Seperti Lovino, tak ada yang luput dari jepretan kameranya.
Bentrok antara Antonio dengan Arthur bukannya membuat kedua pihak untuk sadar dan menjaga kepiawaian, mereka malah terbawa dan walau tidak bentrok fisik, mereka beradu mulut. Ditambah dengan pihak UKM yang mengikuti mahasiswa-mahasiswa di luar dengan menjadi provokator. Perlu duapuluh menit untuk moderator dan rekan-rekan sesama pihak asrama untuk mendinginkan semua pihak.
Lovino kembali memberikan perhatiannya kepada sekelilingnya. Bersiap mencatat apapun yang terjadi setelah ini.
Tidak seperti yang ia harapkan, musyawarah selanjutnya berjalan dengan lancar. Tidak ada banyak sanggahan. Pendapat dan ide-ide baru mengalir begitu saja dari masing-masing pihak. Tampaknya masing-masing pihak sudah terlalu lelah (dan lapar), bentrokan tadi sudah menguras energi sampai limabelas menit, kesepakatan tercapai.
Lovino menekan pulpennya, menutup catatannya. Tugasnya selesai.
(***********)
"Arthur, kerja bagus tadi,"
Di kantin, waktu makan malam, suasana masih dengan eforia kesepakatan musyawarah, Lovino menemui Arthur.
"Benarkah? Kau catat semuanya bukan?" Arthur tersenyum menantang.
"Sampai ke detail-detailnya," Lovino menyambutnya dengan senyuman yang sama.
"Ohh iya, kau melihat Livio? Aku tidak melihatnya di kamar tadi!"
"Kenapa? Kau merasa bersalah karena tidak mengacuhkannya akhir-akhir ini?" Lovino bertanya dengan nada yang menyudutkan.
"Tidak. Jadi dia di mana?" Arthur bertanya dengan serius.
"Aku tidak melihatnya sejak pulang dari kuliah. Tanyakan yang lain saja," Lovino mengangkat bahu kemudian meninggalkan Arthur karena temannya, Alfred sudah memanggilnya dengan panggilan-panggilan bodoh dari meja di ujung ruangan.
Arthur tidak beranjak, matanya terfokus pada sesuatu, pikirannya memikirkan hal yang lain.
"Arthur!"
Seseorang membuyarkan pikirannya. Orang itu berdiri tak jauh di sebelahnya.
"Selamat ya! Walaupun jam malam tidak dihapus, tetapi kau telah melakukan yang terbaik!" orang tersebut, Aiko tersenyum dengan manisnya.
"Terimakasih," Arthur menjawab secara otomatis. Pikirannya masih melayang pada suatu hal.
"Apakah kau melihat Antonio?"
Pertanyaan itu lantas benar-benar menghilangkan sesuatu yang dipikirkan Arthur. "Apa?"
"Aku sudah mencari-carinya dari tadi. Kusamperi Ludwig, dia juga tidak tahu. Bagaimana dengan kau?"
"Mana aku tahu,"
Kalau saja Arthur tidak terlalu sibuk untuk memancing pikirannya tadi, dia dapat melihat alis menyilang dari wajah manis Aiko walaupun hanya beberapa detik.
"Sampai kapan sih kalian akan terus bertengkar?"
Aiko mengatakannya dengan pelan, tapi cukup untuk tertangkap di telinga Arthur, sebelum ia berjalan meninggalkannya.
Seperti sebuah impuls, Arthur akhirnya mendapatkan sesuatu. Menaruh jaket BEM-nya di sandaran kursi, dia meninggalkan kantin.
(**********)
[mulai sekarang chapternya akan agak pendek-pendek supaya cepet updatenya]
