Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

Kyungsoo merasa bahwa sepertinya dia baru saja menjual jiwanya kepada iblis, dan dia tidak bisa mengabaikannya. Selama hidupnya dia tidak pernah merasa begitu diinginkan, begitu diidamkan. Jongin membawanya kedalam kobaran api itu, dan dia dengan senang hati masuk lebih dalam lagi.

Udara di sekitar mereka terasa lembab dengan serangkaian aroma elekrik. Dengan keringat, baik lama dan baru, membaur dengan aroma jasmine dari samponya, dan ada sesuatu dalam diri Jongin mengingatkannya akan laut dan matahari.

Jongin membenamkan wajahnya di leher Kyungsoo. Kyungsoo tidak pernah menyadari, banyak hal indah yang bisa dilakukan dengan leher seseorang. Mencium, menghisap, menggigit, menjilat. Setiap tindakan bahkan terasa lebih menggairahkan dari pada sebelumnya dan itu semua membuat dirinya sedikit demi sedikit kehilangan kewarasannya.

Pria itu bergerak seolah dia sudah dilatih sepanjang hidupnya untuk melakukan hal ini,bukan menjadi tidak pernah mengalami sesuatu yang sedekat ini dengan mantan suaminya. Jongin mengajarkannya secara logis tentang gerakan dasar yang harus di pertimbangkannya, dan yang Kyungsoo lakukan hanyalah melingkarkan lengannya di bahu Jongin, membenamkan jemarinya kedalam punggung kuat Jongin, dan berusaha bertahan.

Dengan satu tangan Jongin meraih paha Kyungsoo dan menyandarkannya di pinggulnya saat ia melakukan sebuah dorongan magis yang lainnya. posisi yang baru ini membuka tubuh Kyungsoo lebih lebar lagi, membuat tangan kuat Jongin memungkinkan untuk menimbulkan gesekan kenikmatan di pusat Kyungsoo. Tiba-tiba Kyungsoo berharap pakaian mereka akan terbakar dengan tiba-tiba, terlalu banyak penghalang diantara mereka.

"Aku benar-benar ingin berada di dalam dirimu," desahnya di rahang Kyungsoo. "Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku sekeras ini,"

"Tapi itu hal yang baik, bukan?"

Jongin mundur sedikit untuk melihat kebawah, tepat kearah Kyungsoo ketika dia menjawab. Dan betapa beruntung dirinya, karena itu juga memberinya ruang untuk menelusuri, mencubit dan menyiksa puting Kyungsoo yang menegang dengan tangannya yang bebas, menimbulkan desahan oh , Tuhan dan disertai beberapa erangan lainnya. "Baik dan buruk. Baik karena itu berarti aku benar-benar terangsang karenamu. Buruk karena itu berarti aku akan mempermalukan diriku sendiri karena tidak bisa bertahan lebih dari beberapa menit lagi,"

"Benarkah?" Kyungsoo mencoba mengingat kisah bercintanya yang berlangsung lebih dari beberapa menit, dan itu sia-sia. Dia masih mengasumsikan bahwa hal itu adalah sebuah norma, tetapi Kyungsoo tidak mengatakan hal itu pada Jongin. Kyungsoo mencoba terlihat acuh tak acuh ketika kembali bertanya. "Jadi, berapa lama rata-rata waktumu?"

Jongin tertawa ketika dia mengangkat tubuh Kyungsoo dengan kakinya melingkari pinggangnya, kemudian menekannya ke dinding. Mata Kyungsoo hampir sejajar dengan milik Jongin saat ini, hingga membuatnya mustahil untuk tidak terpaku menatap iris berwarna coklat-lumut itu. "Kurasa itu setara dengan pertanyaan pria kepada wanita tentang berat badannya. Tapi itu tidak masalah, karena ku rasa, dengan sedikit latihan kita akan mampu melampaui rata-rata itu begitu saja."

Itu tidak sepenuhnya menjelaskan apa pun pada Kyungsoo, tetapi itu terdengar seperti cukup menjanjikan. Hanya saja Jongin tidak membiarkan Kyungsoo untuk mencernanya lebih dari sedetik sebelum akhirnya dia menciumnya dalam sebuah ciuman yang panas. Lidahnya menggali di antara kedua bibir Kyungsoo dan memijatnya.

Jongin terasa seperti mint chocolate Andes, seperti rasa pasta gigi dan protein shake, tetapi membuat Kyungsoo ingin menghisapnya lebih dalam lagi hingga dia meleleh di dalam mulutnya.

Jongin menekan pinggul Kyungsoo ke dinding, hingga tangannya dengan bebas menjelajahi tubuhnya. Ketika dia kembali mencium Kyungsoo, jemarinya menelusuri lipatan pantat dan turun untuk membelai bagian tubuh Kyungsoo yang membengkak, sementara tangan yang lainnya bergerak ke bawah bajun dan menyingkap sebagian bra yang wanita itu kenakan untuk mendapatkan akses ke payudara Kyungsoo yang kencang.

Pikiran Kyungsoo terasa seperti terbungkus kapas, tidak bisa memikirkan hal yang paling sederhana sekalipun. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah tetap fokus terhadap setiap dorongan yang ada, setiap sentuhan, dan menunggu saat akhirnya Jongin membenamkan dirinya ke tubuh Kyungsoo. Pikiran itu membuat organ intimnya menegang, tapi tidak ada yang bisa dia genggam. Tubuhnya masih kosong, hingga kini terasa pedih, membuatnya merengek karena kebutuhan dan meremas pinggang Jongin frustasi.

"Aku tahu baby. Aku tahu apa yang kau butuhkan. Bagaimana kalau kita pergi ke kamarmu dan aku bisa memuaskanmu?"

Itu seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan untuk pertama kalinya. Tapi tampak tidak seperti pertanyaan. Dan memang tidak perlu ada pertanyaan seperti itu. Di dalam pikirannya tidak ada wanita yang akan mengatakan tidak.

Tetapi ketika Jongin membawanya masuk ke dalam kamar, mereka mendengar pintu depan di banting dan Jongin langsung membeku.

"Kyungsoo? dimana kau?"

Mata Kyungsoo melebar, "Macaroni Matinee!" gumamnya dengan tangan yang menutupi mulutnya.

Apa? Tanya Jongin tanpa suara. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan. Apartemen itu tidak terlalu besar, dan Luhan tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya dalam posisi yang paling rentan. Kyungsoo menempatkan bobot tubuhnya di kakinya, memaksa Jongin untuk menurunkannya, tetapi kakinya begitu lembek bagaikan pasta yang sedang di masak hingga akhirnya Kyungsoo menahan tubuhnya pada kursi di belakangnya.

Sementara Kyungsoo berusaha untuk membetulkan bra dan tank topnya yang dipakainya, Kyungsoo memanggil sahabatnya. "Aku di ruang latihan Lu! Bisakah kau mengambilkan sebotol air dari dalam kulkas?" seharusnya itu memberikan mereka waktu ekstra. Ketika akhirnya Kyungsoo yakin jika pakaiannya sudah rapih, Kyungsoo menghela napas lega.

Lalu Kyungsoo memandang Jongin,dan Kyungsoo merasa bahwa dirinya sedikit mendapat serangan panik.

Bahkan apakah Jongin mengenakan pakaian dalam? Celana pendeknya mengkerucut ke depan, tampak seperti puncak tenda pertunjukan sirkus Barnum & Bailey. Kyungsoo menyambar kemeja yang tergeletak di kakinya dan melemparkannya pada Jongin sambil berbisik. "Cepat pakai!"

Ketika yang Jongin lakukan hanyalah menaikan sebelah alisnya, Kyungsoo dengan cepat melirik kearah selangkangan Jongin. Setelah ikut melirik kebawah dan mungkin menyadari sesuatu matanya tidak bisa melihat lantai di antara kedua kakinya, Jongin langsung memakai pakaiannya tepat ketika Luhan muncul di sudut ruangan.

"Aku tahu aku datang sedikit lebih awal, tapi whoa." Luhan membeku di ambang pintu dengan sebotol air di sebelah tangannya dan sebuah Diet Mountain Dew di tangannya yang lain, yang di ambilnya dari tempat persediaan khusus milik Kyungsoo untuk menyembunyikannya dari temannya yang kecanduan. "Siapa dia?" sebelum Kyungsoo memiliki kesempatan untuk memperkenalkannya, Luhan sudah bergerak maju, menyerahkan botol air kepada Kyungsoo bahkan tanpa melihat kearahnya dan mengulurkan tangannya kepada Jongim. "Hi, aku Xi Luhan dan kau?"

Jongin membalas jabatan tangan wanita itu dengan sebuah senyuman mematikannya. "Kim Jongin."

"Senang bertemu denganmu, Jongin. Kau harus memaafkanku karena begitu terkejut, tapi aku tidak tau jika Kyungsoo sudah memiliki teman."

Kyungsoo membuka botol airnya dan meminum hampir seluruhnya dalam satu tegukan. Ia menyayangi Luhan seperti saudaranya sendiri, dan tidak pernah merasa cemburu ketika temannya merebut semua perhatian di manapun mereka berada. Sampai saat ini. Tidak diragukan lagi, Jongin pasti sedang menelanjangi Luhan di dalam pikiraannya saat ini. Wanita itu benar-benar cantik, dari rambut keriting gantungnya hingga kaki jenjangnya dan leher indahnya, Luhan memiliki tubuh seorang model. Kyungsoo tidak pernah menganggap dirinya buruk dengan cara apapun, tetapi dia cukup dewasa untuk merasa nyaman dengan sosoknya yang 'biasa-biasa' saja. Semua tentang dirinya semacam masuk dalam kategori… well… biasa.

Saat berada di Fritz Kyungsoo pernah melihat pria yang tidak terhitung jumlahnya menunggu kata-kata yang di ucapkan Luhan dan meneteskan air liur mereka ketika wanita itu menggerakan pinggulnya. Saat itu Kyungsoo dan Luhan sedang menonton acara spektakuler di malam liga panah di sana dan Luhan tidak pernah mempedulikan semua itu. Kyungsoo tidak terlalu yakin apakah wanita itu memang tidak menyadarinya atau memang ia adalah wanita yang rendah hati. Tetapi Kyungsoo meragukan Luhan tidak menyadari kelebihan yang di milikinya apalagi dia memiliki reputasi sebagai seorang pengacara yang cerdas di daerah itu. Bahkan untuk bisa mengencani Luhan, pria itu harus melewati seluruh tes. Yaitu harus bisa diterima secara sosial untuk menjual mobil bekas pada public jika mereka bisa melewati batasan kecil dari Luhan. Dan Kyungsoo pikir, sampai sekarang tidak ada pria yang masih hidup mampu melewati segala tes dari Luhan.

"Dia pasienku, Lu."

"Ah," ujar Luhan sambil mengedipkan matanya dan tersenyum, "Maka dalam kasus ini aku bisa mengerti mengapa kau ingin membawa pekerjaan ini ke rumahmu."

Jongin tertawa dengan cara yang terlalu manis dan dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, merenggangkan pakaian di atas bahu dan bisepnya. "Sebenarnya aku sudah mengenal Kyungsoo hampir seumur hidupku, aku adalah sahabat baik kakaknya."

"Oh kau dari Dun Valley! Itu bagus; aku tidak pernah bertemu dengan orang lain dari daerah itu sebelum Kyungsoo, dan kami satu kamar ketika mahasiswa baru. Aku harap kau mau menceritakan beberapa kisah memalukan untukku. Gadis ini memiliki portopolio tentang kehidupanku, dan aku tidak memiliki apapun tentangnya. Ini benar-benar tidak adil."

"Maaf Lu, tapi aku sudah mengatakan padamu, tidak ada apapun di dalam kehidupanku. Aku hanya gadis yang membosankan sebelum masuk kuliah dan sampai saat ini."

"Dan aku juga sudah mengatakan sebelumnya kepadamu, kau sama sekali tidak membosankan. Kau adalah penyeimbang kegilaanku, itulah mengapa kita sangat cocok ketika bersama-sama. Kita saling melengkapi." Luhan mengeluarkan sodanya dan menyentuhkannya pada botol air Kyungsoo, dan meminumnya sesudah mengatakan "salut" bersamaan.

Luhan berjalan beberapa langkah untuk duduk di samping Kyungsoo di kursi panjang. "Jadi kau sudah selesai dengan sesi mu? Kau harus segera bersiap-siap jika kau masih ingin membuat Matinee Macaroni kita."

"Oh, um…" Sial, tenggorokannya kering. Bagaimana mungkin rasa gugup itu bisa membuat tenggorokannya menjadi sekering itu? ini seperti reaksi psikologi yang konyol. Kyungso terdiam ketika meneguk airnya lagi.

"Apa itu Macaroni Matinee? Terdengar seperti makan siang khusus untuk para senior."

Luhan tertawa kencang ketika Kyungsoo hampir saja memuncratkan air dari mulutnya kemudian tergagap sebelum akhirnya bisa menelan air itu dengan lancar. Untungnya Luhan langsung menjawab pertanyaan Jongin, hingga Kyungsoo bisa meneruskan batuknya dengan tenang. "Ini adalah kencan bulanan kami. Sabtu pertama setiap bulan kami akan pergi nonton film, makan siang di Macaroni Grill dan memasukan diri kami sendiri ke dalam jurang serangan jantung karena porsi karbohidrat yang berlebihan."

"Lu, aku tidak bisa pergi untuk sementara waktu."

"Apa?" entah bagaimana Luhan berhasil membuat mata hijau cantiknya membesar dua kali lipat dari ukurannya yang semula. Setiap kali Luhan menginginkan sesuatu, dia memiliki pandangan seperti kucing dalam Boot di kisah Shrek ketika kucing itu menggunakan pussy face nya yang menyedihkan. "Tapi aku mendapatkan minggu yang sangat buruk di pengadilan dan aku membutuhkan waktu untuk para gadis, dimana kita tidak melakukan apapun kecuali hal-hal yang mengerikan, mengomentari wanita-wanita lain dan keluar bersama pria-pria yang mengenakan celana jeans ketat."

"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Jongin begitu saja ..." Kyungsoo melihat kearah Jongin dengan pandangan yang mengatakan, Maafkan aku karena apa yang kusarankan, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. "Kecuali, kau mau ikut bersama kami?"

Jongin tertawa dan mengibaskan tangannya sebagai tanda keberatan. "Tidak apa-apa, Kyung. Walaupun aku akan senang mengomentari dan menilai orang lain, tapi aku harus pergi. Sayangnya, aku tidak bisa menerima kelebihan karbohidrat saat ini. Dan ngomong-ngomong, aku harus pergi berbelanja. Apa ada hal khusus yang menurutmu harus kubeli sekarang?"

"Tidak, yang kau beli minggu lalu cukup baik. Ini akan menjadi sangat sulit untuk kembali membiasakan makan malam dengan microwave menyedihkanku lagi setelah kau pergi nanti. Siapa yang tahu jika makanan sehat itu bisa terasa sangat lezat?"

"Whoa! Aku butuh rehat sekarang."

"Ini bukan ruang sidang, Luhan."

"Apa kau tinggal di sini?"

Kyungsoo menjawab dengan cepat untuk meminimalisir kerusakan yang ada. "Hanya untuk beberapa bulan hingga dia sembuh dari lukanya. Aku sudah mengambil waktu liburanku untuk bekerja bersamanya dalam program pemulihan dan pelatihan yang ketat."

"Wow Kyung, itu benar-benar sesuatu yang lain. Aku tak tahu harus berkata apa."

Tidak, kau sama sekali tidak, tapi kau sedang menahan lidahmu meskipun hanya sementara- dan aku mencintaimu untuk itu. "Well, aku akan pergi mandi kalau begitu."

"Ya, cepatlah. Kau tahu bagaimana aku benci jika mendapatkan tempat duduk yang kurang strategis di teater." Luhan berdiri dan berjalan melewati ruangan sambil menambahkan. "Aku akan menunggu di ruang tamu dan membaca majalah kedokteran edisi terbaru yang membosankan, berharap menemukan gluteus maksimum pria, lengkap dengan gambar."

Begitu Kyungsoo dan Jongin mendengar suara duduk Luhan di sofa dan meletakan kaleng sodanya di atas meja, mereka saling berpandangan dan tertawa lega.

"Dia ingin bepergian."

Kyungsoo berdiri, dan menggerakan kakinya. "Kau tidak mengerti."

"Dia sangat protektif kepadamu. Dia benar-benar tidak suka ketika kau mengatakan bahwa kau adalah gadis yang membosankan." Jongin melangkah mendekatinya, sorotan matanya yang nakal menghilang. "Begitu pula denganku,"

"Tapi itu adalah kebenarannya. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang liar atau gila , atau yang di larang Tuhan, sesuatu yang illegal." Dia mengangkat bahunya dan mengambil tali dari celana barunya. "Aku adalah wanita yang mengikuti aturan."

Selangkah lagi. Sekarang Jongin sudah begitu dekat hingga Kyungsoo bisa merasakan nafasnya di kulitnya. Kyungsoo melirik ke arah pintu. Bagaimana jika Luhan memutuskan untuk datang lagi? Sentuhan jari di dagunya mengembalikan fokusnya lagi pada sosok Jongin. "Satu-satunya saat aku mengikuti peraturan adalah ketika aku berada di dalam ring." Katanya dengan suara rendah.

"Mentalitas itu bisa membawamu ke dalam banyak masalah."

"Kebetulan aku memang menyukai masalah." Seringai miringnya terlihat begitu jahat. Dan menggiurkan. Yang tampak tidak mungkin disebut sebuah senyuman, namun dia memang tersenyum. Kyungsoo ingin menjilatnya dari satu sisi ke sisi yang lain. "Bersiap-siaplah dan nikmati waktu untuk para gadis mu. Aku akan menyelesaikan peregangan dan latihanku setelah pulang dari toko. Kemudian ..." Jongin menundukan pandangannya pada bibir Kyungsoo, dan menelusuri bibirnya dengan ibu jemarinya. "...kita akan menyelesaikan hal lain yang sudah kita mulai."

"Kau masih ingin?" Kyungsoo nyaris menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkadang dia bersumpah untuk menjaga monolog internalnya yang rusak.

Jongin menyipitkan matanya. "Apa kau tidak?"

Sial. Apakah Jongin bertanya karena berharap Kyungsoo juga masih menginginkan hal itu atau karena dia berharap Kyungsoo tidak menginginkannya, memberinya kesempatan untuk mundur dengan kesan baik? Dan mengapa Kyungsoo selalu bersikeras untuk memikirkan hal ini secara berlebihan? Karena kepalamu terus memikirkan hal ini.

"Ya?" sebelah alisnya melengkung naik, menantang Kyungsoo untuk menegaskan jawabannya. "Ya. Maksudku ya." Kyungsoo mendesah putus asa dan berharap untuk keseribu kalinya agar Luhan tetap dalam ketenangannya. "Aku pikir mungkin kau hanya terhanyut dalam suasana panas saat itu, tapi sekarang, setelah kau memiliki waktu untuk berpikir, mungkin kau mengubah keputusanmu untuk terlibat dalam hal ini."

Ketika alis Jongin mengkerut, dengan cepat Kyungsoo menambahkan. "Tidak terlibat, terlibat. Maksudku, ini hanya sementara waktu dan hanya untuk tujuan instruksional."

Jongin bergerak dengan sangat cepat, hingga Kyungsoo tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan maksudnya hingga dia menemukan dirinya sendiri tenggelam dalam panasnya bibir pria itu, lidahnya menekan dan membujuk. Tubuh Kyungsoo di tekan ketubuhnya dengan satu tangannya di belakang punggung wanita itu, dan tangannya yang lain astaga Tuhan, tangannya yang lain terselip di antara pahanya, jemarinya menekan diantara lipatan-lipatannya dan ibu jarinya menekan klitorisnya. Celananya terasa semakin mengetat karena gesekan itu, dan perasaan takut tertangkap basah hingga tidak bisa meneruskan hal ini lebih jauh lagi membuat semuanya semakin terasa menarik.

Itu adalah langkah panas dan beresiko, tapi Jongin tidak merasa ragu untuk melakukannya hingga tuntas, hanya seperti apa yang dia lakukan di dalam pertarungannnya.

Hal yang paling di sukai Kyungsoo adalah gaya pria itu ketika di dalam ring.

Getaran di dalam perutnya semakin dalam, ketegangan itu semakin menyebar. Ketika sensasinya datang, Kyungsoo menekan jari-jarinya kepada tricep pria itu untuk mengantisipasi gelombang yang akan segera datang. Jongin melepaskan ciumannya, membuat Kyungsoo merengek protes, dan ketika jari-jarinya ikut mengentikan sentuhan ajaib itu, pinggulnya secara otomatis mengikuti mereka, memohon untuk sentuhan lebih ketika dia mundur.

"Apa itu bisa menghentikan keprihatinanmu tentang keputusanku untuk mempertimbangkan kembali?" Kyungsoo mengangguk. "Baik. Kalau begitu kita akan melanjutkannya lagi nanti."

Jari-jari Kyungsoo langsung meraihnya ketika Dia merasa Jongin akan menarik diri. "Please Jongin. Aku sangat dekat," bisiknya. Sudah lama Kyungsoo tidak pernah mendapatkan klimaksnya, dan Kyungsoo bertanya-tanya apakah dia masih ingat bagaimana rasanya. Kyungsoo selalu mengurus hal-hal nya sendiri, namun setelah berbulan-bulan sibuk di kantor dan jatuh ke tempat tidur dengan kelelahan teramat sangat di malam hari, Kyungsoo mulai kehilangan kekuatan untuk memikirkan hal itu. mungkin Kyungsoo bisa di kategorikan sebagai aseksual sekarang. Pada usia matang, dua puluh enam dan seperempat.

"Aku tahu, tapi aku tidak ingin memberikannya sekarang. dan ini tidak ada hubungannya dengan keberadaan Luhan di ruang sebelah, karena percayalah, jika aku mau, aku akan menekan tubuhmu ke dinding dan tidak peduli jika ia akan menonton kita sambil memakan popcorn seperti menonton salah satu film romantic kalian."

"Lalu mengapa?" ya Tuhan, apa Dia benar-benar merengek?

Jongin memegang salah satu sisi wajah wanita itu ketika berbicara, tatapan matanya yang intens sama sekali tidak membantu untuk menenangkannya. "Karena ketika aku membuatmu datang untuk pertama kalinya, aku tidak ingin kau menahannya. Aku ingin mendengar setiap desahan nafasmu." Jongin mencium pelipis wanita itu. "Setiap erangan." Ciuman lain di pipinya. "Dan aku tidak akan puas sampai kau meneriakkan namaku."

Kyungsoo mengerang frustasi, tapi ciuman Jongin menelan setiap suara dari mulutnya. Setelah beberapa kata yang memabukan, Jongin menjauh dan menyeringai nakal. "Jika itu membuatmu merasa lebih baik, ada pelajaran dalam kejadian ini."

"Aku sangat membenci pelajaran ini." ucap Kyungsoo sambil menghela nafas berat.

"Pelajaran nomor tiga: selalu meninggalkan mereka ketika mereka menginginkan lebih." Jongin terkekeh benar-benar memiliki keberanian untuk menertawakan Kyungsoo dan menggigit bibir wanita itu, lalu kembali di belainya dengan ujung lidahnya. "Bersenang-senanglah."

Kyungsoo menatap kepergian Jongin dengan pandangan tidak percaya kemudian Kyungsoo mendengarkan ucapan selamat tinggal Jongin pada Luhan di ruang tamu, sebelum dirinya pergi ke kamar mandi. Yep, Kyungsoo benar-benar membenci pelajaran ini.

.

.

.

.

.

T.B.C