TITLE : I Live In You

Rate : T

Disclaimer: as always this char belong to square enix and Disney

Chapter 8: Hope

Sora kembali ke rumah setelah 3 hari di rawat, Roxas menatap Sora yang memasuki ruang tengah, ia menghela nafas kecil tak tau harus bicara apa pada saudara kembarnya, jadi Roxas tersenyum kecil pada Sora saat Sora berjalan mendekat padanya.

"Hei Roxas, maaf yah harus nunggu aku buat makan malam" kata Sora tersenyum, riang. Riang? Roxas tau saat ini pasti Sora tengah menhan rasa sakit di tubuhnya.

"Nggak apa apa" kata Roxas, singkat. Sesaat Sora terlihat hampir jatuh Roxas mengawasi ketat kakaknya takut tiba-tiba Sora ambruk. Keluarga itu menuju ruang makan, memakan makan malam mereka dalam diam. Hanya Sora yang bicara pada semuanya, ditanggapi tenang oleh keluarganya. Sedang Aerith hanya bisa menatap Sora dengan wajah sedih.

"Terima kasih makan malamnya..." kata Sora meletakan sendoknya di meja.

"Sudah kenyang Sora?" tanya Cloud. Sora menganguk, menjawab pertanyaan ayahnya. "Aku istirahat di kamar boleh?" tanya Sora, meminta ijin.

"Tentu Sora...selamat malam, sayang" kata Aerith lembut, sambil mencium kening Sora sayang.

"Hei Sora…" panggil Roxas, saat Sora berdiri untuk meninggalkan meja makan.

Sora berbalik menatap Roxas, "Ada apa?" Tanya Sora

"mmm…"

"Ya?"

"Rrr…boleh aku tidur di kamarmu?" Tanya Roxas malu-malu. Roxas membuang muka ke arah lain. Ia benar-benar tak percaya kalau ia bisa meminta hal ini pada Sora.

"Boleh! Tentu boleh" kata Sora bersemangat. Senyum terkembang lebar dari bibir mungilnya. Malam itu Roxas dan Sora tidur berdampingan, mereka berdua tidur terlentang menatap langit langit kamar.

"Sora" panggil Roxas

"engg…"

"kamu…"

"kamu nggak apa apa kan?" Tanya Roxas.

"nggak apa apa kok...kenapa?" Sora bertanya balik.

Roxas terdiam, ia memalingkan wajahnya ke arah Sora menatap Sora lekat-lekat, wajah pucat Sora tertimpa cahaya lampu kamar.

"Roxas waktu nganter aku ke rumah sakit, dokter bilang apa?" tanya Sora penasaran bercampur khawatir.

"err.. nggak ada" jawab Roxas, berbohong. Ia ingat pesan Cloud padanya, untuk tidak memberi tau Sora bahwa ia sudah tau perihal penyakit Sora. Roxas memejamkan matanya berpura-pura tertidur.

"Rox..." Sora memalingkan wajahnya menatapa Roxas yang kini tertidur, perlahan Sora mendekatkan tubuhnya ke arah Roxas bersandar pada pundak kakaknya

"aku mau lebih lama ada bersama kamu Rox..." bisik Sora. Roxas yang jelas mendengar bisikan Sora hanya diam, tapi tubuhnya bereaksi berbeda, ia mendekatkan diri pada Sora, mencoba merasakan kehangatan yang selama ini ia sangkal namun amat ia rindukan.

#####

Sekolah telah usai, Roxas melihat ke arah Sora yang sibuk menelepon.

"Roxas ayoo" ajak Sora

"emm..aku nggak pulang Sora, Axel bilang dia mau datang" kata Roxas, berbohong.

Sora mengangguk, Roxas mengamati Sora yang masuk ke mobilnya. Saat mobil Sora hilang di tikungan, Roxas berjalan menuju rumah sakit. Roxas melihat ada dokter. Sora melintas, Ia menghadang jalan dokter itu.

"Kamu…" kata dokter itu bingung melihat wajah Roxas.

"Dokter saya bukan Sora. Saya saudara kembarnya Roxas" kata Roxas

"Oh ada apa?"

Roxas bertanya perihal penyakit Sora.

"Maaf Roxas tapi sekarang aku sudah tidak menangani Sora, tapi kamu bisa tanya pada dokter Zack, dia ada disana" dokter itu menunjuk satu ruangan. Roxas membungkuk berterima kasih. Ia berlari menuju ruangan yang ditunjuk, di pintu ruangan itu tergantung papan nama.

"Zack, SPESIALIS LEUKIMIA"

Roxas mengetuk pintu itu pelan, "Masuk" kata suara dari dalam

"Permisi" Roxas member salam. Zack kaget melihat Roxas.

"Kamu?"

"Saya Roxas, adik Sora"

"Oh, silahkan duduk" Zack tersenyum.

Roxas menarik kursi di hadapannya, duduk menghadapi Zack. Roxas bertanya soal penyakit Sora pada Zack. Zack menjelaskan sedetil-detil tentang penyakit Sora. Kenyataan yang membuat dada Roxas sakit bukan main.

"Apa Sora bisa di selamatkan?" Roxas tergagap, hatinya berdoa sekenanya mengharap jawaban yang terbaik keluar dari mulut Zack.

"Sebetulnya bisa" jawab Zack.

"APA? CARANYA?" tanya Roxas

"Donor Sum-sum" jawab Zack. "Sora bisa diselamatkan dengan donor sum-sum tapi orang tuanya tak bisa mendonorkan"

"Kenapa? Lalu siapa yang bisa" Roxas mencecar Zack

"Kamu…"

"Saya?"

"Ya kamu, asal diperiksa" kata Zack. Roxas duduk terdiam di kursinya. "Bisa tolong diperiksa?" Roxas meminta pada Zack tanpa berpikir dua kali.

#####

Roxas membawa hasil testnya pulang kerumah. Kepalanya penuh pertanyaan, kenapa orang tuanya tak menolong Sora? Kenapa dan kenapa.

"Maya mana Sora?" tanya Roxas kasar

"di..di..kamarnya" Maya berkata takut-takut

Roxas menghambur ke kamar orang tuanya, membuka pintunya dengan kasar.

"Oka sama Otou sama!" cecar Roxas. Cloud dan Aerith menatap Roxas bingung. "Kenapa kalian tidak menolong Sora?" tanya Roxas keras. Roxas benar-benar bingung hingga tak bisa mengkontrol emosinya lagi.

"Apa maksudmu?" Cloud bertanya pada Roxas. Aerith terdiam.

"Kalian sudah jelas jelas tau Sora bisa diselamatkan dengan donor Sum-sum. Tapi kenapa kalian tidak menolong Sora?" teriak Roxas lagi.

"Karena keinginan Sora.." kata Aerith pelan.

Roxas menundukan wajahnya, melihat Aertih yang kini tertunduk, jelas sekali di mata Roxas, kini ibunya mati-matian menahan air matanya yang hamper jatuh. "Keinginan Sora?" Roxas memperjelas, seakan tak mempercayai pendengarannya.

"Iya, ini keinginan Sora. Dia nggak mau kamu tau kalau dia sakit. Dia nggak mau kamu berkorban lagi untuk dia" kata Cloud, mendekat pada Roxas mencoba menjelaskan semuanya.

"Tapi…"

"Roxas, waktu Sora bisa panjang bisa juga pendek, selama ini harapan dia hanya satu, punya keluarga yang utuh" kata Cloud menahan air mata. "Roxas, Otou san mohon kabulkan permintaan Sora yang terakhir" Cloud memohon pada Roxas. Roxas menatap kedua orang tuanya. Roxas menatap Aerith, air mata mulai membasahi pipi Aerith.

"Baiklah..." kata Roxas

Roxas berjalan gontai ke kamar Sora, perasaanya campur aduk, rasa bersalah, rasa sedih, kecewa, teaduk-aduk di dadanya. Rasanya kini ia hanya bisa menylahakan takdir, yang memilih mereka berdua untuk dipisahkan, tak hanya 16 tahun, bahkan mungkin akan terpisah selamanya. Perlahan Roxas membuka pintu kamarnya, kamar itu gelap tapi ia bisa melihat bayangan Sora yang tidur bergelung di ranjangnya.

"Sora…" bisik Roxas, dibelainya rambut mahoni Sora, seakan kenyataan pahit yang ia hadapi kini menyapu semua kebenciannya pada Sora. Kini hanya satu yang ia bisa harapkan, pemuda ini bisa terus hidup dan ada di sini, di hadapannya.

"engg…Roxas kamu udah pulang?" kata Sora mengantuk, mata birunya menatap Roxas yang kini berada di sisinya.

"Iya, sudah kamu tidur lagi…aku juga mau tidur" kata Roxas tersenyum hangat, sekali lagi jemari Roxas menyapu rambut mahoni Sora. Sora tersenyum merasakan kehangatan dari Roxas yang biasa dingin. Ia menarik selimutnya lebih tinggi lagi.

"Selamat tidur Roxas…" gumam Sora memejamkan matanya.

"Selamat tidur Sora.."

#####

Sora dan Roxas menikmati sarapan pagi mereka seperti biasa, tapi ada yang berbeda. Suasana pagi itu lebih hangat dari biasanya.

"Sora, makan yang banyak yah nak" kata Aerit mengambil cereal untuk Sora.

"Arigatou Oka san" Sora tersenyum

"Roxas ini" Aerith menawarkan cereal yang sama pada Roxas

"Iya" Roxas tersenyum kecil mengambilnya. Sora kaget tapi kemudian tersenyum. "Oka san!" Sora memeluk ibunya.

"Sora…"

Roxas dan Cloud menatap Aerith dan Sora. Entah apa yang harus dikata dan dirasa mereka, sedih kah? Atau senang?

"Otou san" kata Sora

"Ya?"

"Boleh kita foto keluarga?" Sora meminta.

"Foto keluarga?"

"Iya, sejak kedatangan Roxas, kita belum foto. Aku mau kita punya foto keluarga yang utuh" Sora menatap Cloud, lalu Aerith dan berakhir di Roxas

"Hmm…boleh" kata Cloud, menatap Aerith.

"Roxas?" tanya Sora ragu

Cloud dan Aerith menatap Roxas. Cloud memandang Roxas setengah memohon. "Ok " Roxas mengangguk, setuju. Sora tersenyum lebar. Roxas tersenyum memandang wajah Sora. Roxas berpikir, betapa serupanya Sora dengannya. Mata Sora, hidung, mulutnya tak ada satupun yang berbeda dengan dirinya, tapi mengapa mereka harus terlahir dengan keadaan yang berbeda, tubuh Roxas yang begitu kuat sedangkan Sora lemah.

"Roxas?" tanya Sora membuyarkan lamunan Roxas.

"Ada yang aneh di wajahku?" kata Sora lagi. Ia mengusap-usapkan tangannya

"Nggak ada, yuk" Roxas bangkit dari kursinya.

#####

Sora mengenakan jas hitamnya, ia merapikan dasi birunya di depan cermin. Roxas masuk ke dalam kamar Sora. Sora memperhatikan saudaranya yang berdiri dengan pakaian yang sama dengannya. Jas hitam dan dasi biru.

"Keren, kau selalu keren" Sora tersenyum mengacungkan jempolnya.

"Kau juga" Roxas tersenyum kecil

Mereka turun ke ruang tengah. Para kru foto mempersiapkan lampu dan kamera. Roxas menatap kedua orang tuanya, Cloud mengenakan setelan jas hitam dengan dasi biru serupa dengan Sora dan Roxas, dan Aerith, ia tampil begitu luar biasa, pikir Sora dan Roxas. Rambut mahoninya digelung tinggi dan gaun putihnya tergerai hingga lantai. Aerith tersenyum pada kedua putranya.

"Oka san luar biasa cantik" kata Sora mendekati Aerith

"Ini gaun lama, nggak nyangka juga masih muat" Aerith tersenyum pada Sora. Sora beralih ke Cloud meninggalkan Roxas dan Aerith berhadap-hadapan

"err... cantik" kata Roxas kaku. Aerith tersenyum kecil pada Roxas, membalas pujian Roxas padanya, detik itu perang dingin antara keduanya seakan mencair.

"mmm yang blonde kamu di belakang nyonya, ya, tukar" kameraman menata gaya. Cloud dan Aerith duduk di bangku, sedangkan Roxas dan Sora berdiri di belakang mereka

"Ya, senyum" kameraman memberikan aba-aba.

KLIK….

"hmm…tunggu, hei blonde senyum donk, o yah pegang pundak mama nya yah" kamera man berteriak pada Roxas. Roxas menaruh tangannya di pundak Aerith dengan ragu-ragu.

"Ok begitu, senyum"

KLIK…

Foto itu terpajang di ruang tengah Cloud, Aerith, Sora dan Roxas, akhirnya satu keluarga itu utuh kembali. Setiap Sora melihat foto itu ia tersenyum lebar. Harapannya terbesar terkabul.

"Kini aku bisa pergi dengan tenang…"

#####

Matahari bersinar terik, di Destiny Island. Kota itu telah memasuki muim panasnya dan liburan sekolah pun telah tiba, Sora bersemangat sekali menyambutnya liburan kali ini. Kenapa? Karena liburan kali ini berbeda baginya, ia punya satu keluarga utuh dan Cloud telah setuju, mereka berlibur ke luar kota.

"Sora..jangan sampai lupa obatnya" pesan Aerith, Sora mengangguk patuh, ia memasukan tablet demi tablet ke kotak obat khusus.

"Aku bawa ini" kata Roxas mengangkut koper Sora. Roxas meletakkannya di bagasi mobil.

"Roxas" Cloud menepuk pudak Roxas

"Ya?"

"Terima kasih, kamu sudah mau mengabulkan permintaan Sora" kata Cloud. " Kalau itu caranya membahagiakan dia, apapun aku lakukan tou-sama.." jawab Roxas, matanya menatap Sora yang kini berjalan kea rah mobil sambil menggandeng Aerith, wajah Sora terlihat amat bahagia, bahkan ia tak terlihat sakit sama sekali.

"Ayo…" kata Sora, riang.

Mobil keluarga Strife melaju sedang, mobil itu melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok menuju Heart Valey.

"Roxas tidur aja..semalaman kamu nggak tidur kan?" kata Sora. Roxas menimbang usul Sora, ia memejamkan matanya karena memang ia mengantuk sekali. Aerith yang duduk di kursi depan mendendangkan nada lembut mengikuti alunan music yang ia dengar melalui iPod nya. Roxas memejamkan matanya, ini pertama kalinya ia merasa tenang dan nyaman berkali-kali kepala Roxas terguncang, Sora menarik Roxas lembut dan meletakkan kepala Roxas di pundaknya dan memiringkan kepalanya. Sora pun tersenyum dan tertidur.

#####

"Wuaahh! Lembahnya bagus sekali" kata Sora riang, Roxas mengikutinya dari belakang, Roxas melihat hamparan padang yang luas, konon tempat ini adalah tempat dimana orang menemukan hatinya, karena itu nama tempat itu adalah Heart Valley.

"Roxas sini." panggil Sora. Roxas berlari ke arah Sora.

"Liat ada daun 4 helai. Katanya kalau kita menemukan daun 4 helai keinginan kita bisa terkabul" kata Sora menunjukkan daun yang berhelai .

"Cih, Sora kamu kayak anak perempuan, percaya beginian.." kata Roxas mengejek Sora

"Biarin" kata Sora tak acuh. Ia masih mentap daun yang ia temukan.

"Sora memang apa keinginanmu?" tanay Roxas

"Ada deh, tapi aku sudah dapet kok" kata Sora. Roxas menatap Sora bingung, "Apa?"

"Kamu, Otou san, Oka san" jawab Sora. Roxas tersenyum tulus. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Sora. "Syukurlah…" kata Roxas.

"Roxas demi senyum itu aku rela korbankan semuanya" Sora membatin "Kamu tersenyum!" kata Sora menunjuk Roxas yang kini tersenyum padanya.

"Memang aneh?" kata Roxas malu

"Ga kok, tapi Roxas banyak-banyaklah tersenyum" kata Sora. Roxas memalingkan wajahnya malu, tapi senyuman tak bisa hilang dari bibirnya. Sora Roxas menunjuk-nunjuk pipinya, mengolok Roxas yang tersenyum padanya, Sora tertawa renyah.

Saat malam menyelimuti Heart Valley. Keluarga Strife menikmati makan malam bersama di halaman villa. Cloud dan Roxas menyiapkan BBQ sedang Aerith dan Sora menyiapkan piring. Sesekali Sora bercanda pada Roxas, tetap mengolok Roxas yang kini wajahnya memerah karena malu.

"Tapi Roxas memang tampan kalau dia senyum iya kan ka-san?" Tanya Sora pada Aerith. Aerith menatap Roxas dan tersenyum kecil, "Iya tentu saja.." jawab Aerith. Mendengar jawaban Aerith, wajah Roxas makin memerah karena malu, ia hanya berbalik menjauhi Aerith dan Sora, mendekati Cloud yang sibuk dengan panggangannya.

"hei ayo makan, sudah siap semua…" kata Cloud. Sora menggandeng Aerith menuju meja makan. Kini mereka duduk berhadap-hadapan, melihat hasil masakan ayah mereka. "Itadakimasu!" kata ke empatnya bersamaan. Hari itu daun berhelai 4 mengabulkan satu lagi permintaan Sora.

TBC

A.N :

akhirnya apdet lagi maaf lewat sehari yah...

makasi banget yang udah setia nunggu cerita ini...masi mau review...aku terharu bgt liad review kalian...

sakali lagi saya ucapkan byk terima kasi buat my lovely friend yang mau ngetikin ini fic...

dan *toreng toreng* next apdet adalah last apdet buat cerita ini...karena ceritanya memang sudah berakhir..semoga ceritanya berakhir dengan senyuman puas dari reader ku...

hahahhahahahhahahahah

dan pastinya setelah itu aku akan publish SequeLnya

peek untuk SequeLnya genrenya Romance...dengan juduL Sunshine...

itu sajah...

happy read...dan jgn lupa Review yah