We Love You, hyung..
..
Kim Tae Hyung-BTS
Byun Baek Hyun-EXO
Park Chan Yeol-EXO
and other cast
(nama bisa berubah sebagaimana alur cerita)
.
.
BTS-EXO
.
Chanyeol membuka mata dari istirahatnya ketika ia tidak merasakan ada seseorang di sampingnya. Dia bangun dan duduk di atas ranjang menelusuri seluruh ruang kamar seolah mencari sesuatu. Kemudian pandangan matanya berhenti saat tertuju pada sebuah tempat tidur kecil. Dan disana bayi kecilnya masih tertidur pulas dan tenang. Chanyeol sempat bangkit dan menghampiri putranya yang paling kecil yang tampak begitu damai tanpa terbebani oleh apapun. Melihat wajahnya yang tenang tentu menimbulkan perasaan bahagia yang tak dapat di jelaskan dengan ribuan kata.
Di kecupnya pipi gembil itu berkali-kali dengan gerakan hati-hati agar Jiwon tidak terbangun. Setelah puas menghujani bayi kecilnya dengan kecupan, ia memilih bangkit dan keluar dari kamar.
Kamar anak-anaknya yang menjadi tujuan pertama setelah keluar dari kamarnya. Ia membuka pintu dan kedua putranya masih terlelap dalam mimpinya. Hanya melihat dari depan pintu sampai akhirnya Chanyeol menutup pintu kamar anak-anaknya dan pergi beralih ke tempat yang lain.
Sampai di ruang keluarga, Chanyeol mendengar suara bising dari arah dapur. Tanpa berpikir panjang pria itu langsung beranjak menuju tempat suara bising itu terdengar.
Dan ternyata benar, di pagi hari yang masih gelap dan matahari masih belum siap untuk muncul, seorang wanita sedang sibuk dengan kegiatan rutinnya di pagi hari. Tapi bukan kah ini terlalu pagi?
Chanyeol melangkahkan kakinya menuju dapur dan berhenti dekat dengan meja makan, melihat wanita yang adalah istrinya begitu sibuk mengolah masakan. Saking sibuknya wanita itu tidak menyadari keberadaan suaminya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Chanyeol mengerutkan dahinya ketika melihat situasi dapur yang sedikit kacau. Peralatan makan di letakkan sembarangan bahkan ada yang terjatuh dan di biarkan tergeletak di atas lantai. Cipratan kaldu dan tumpahan air juga menghiasi meja makan mereka.
Kemudian Chanyeol melihat kondisi istrinya saat itu. Rambut panjangnya di gulung asal. Beberapa helai bahkan tidak ikut terikat. Wajahnya masih tampak pucat, bahkan kantung matanya semakin terlihat dan sedikit menghitam.
Ketika Baekhyun berbalik dengan setumpuk mangkuk di tangannya, tiba-tiba saja tubuh kecilnya menabrak ujung meja sehingga mangkuk-mangkuk di tangannya berjatuhan, padahal jaraknya sudah cukup jauh dan jalannya juga tidak ada yang menghalangi. Chanyeol yang melihat langung menghampiri dan merangkul pinggang Baekhyun untuk membantunya berdiri ketika Baekhyun terduduk di atas lantai dengan wajahnya yang meringis dan tangannya memegang tubuhnya menahan sakit pada bagian pinggulnya.
Tangannya berusaha mengambil mangkuk-mangkuk yang bergeletak tapi tubuh Chanyeol menghalanginya.
"Chanyeol, menjauhlah sebentar, aku akan terlambat membuat sarapan" suara lemasnya muncul dari wajahnya yang pucat.
Tapi Chanyeol tidak mendengar, ia justru menarik tubuh Baekhyun membuatnya menjauh dari mangkuk-mangkuk yang tergeletak berantakan di atas lantai.
"Chanyeol, sebentar lagi anak-anak harus berangkat sekolah.." Baekhyun mencoba protes. Tapi genggaman tangan besar Chanyeol sangat erat sehingga membuatnya sulit untuk bergerak.
"Sekarang masih jam setengah 5 pagi, jangan paksakan dirimu, Baekhyun!" Chanyeol berusaha menahan Baekhyun yang tidak terus memberontak.
Suara Chanyeol yang sedikit mengeras dan cukup tegas itu berhasil membuat Baekhyun tersentak lalu terdiam dan menatap sorot mata yang tajam milik suaminya dengan tatapan kosong.
Chanyeol menatap wajah itu, memfokuskan pada kedua manik hitam milik istrinya cukup lama. Melihat bagaimana istrinya begitu kacau, terbebani, ketakutan, dan begitu beratnya masalah yang di pendamnya hari ini. Sampai akhirnya Chanyeol memeluk tubuh istrinya erat sehingga Baekhyun tidak sempat menolaknya.
"aku tahu semua masalahnya" bisik Chanyeol pelan, tepat di telinga kanan Baekhyun. "ku mohon tenang lah... jangan membuat dirimu memikulnya sendiri, jangan paksakan dirimu seakan kau bisa menyelesaikannya sendiri. Jangan sampai membuat dirimu seperti ini, Baekhyun... Kita bukan anak-anak"
Suara Chanyeol terdengar parau di telinga Baekhyun sampai membuat Baekhyun terdiam. Wanita itu tidak begerak sama sekali di pelukan suaminya. Mata sayunya menatap lantai dapur dengan tatapan kosong.
Chanyeol masih memeluknya, memeluknya cukup erat dan mendekapnya, merasakan aroma bayi yang selalu menempel pada tubuh istrinya. Sampai ia merasakan atas pundaknya basah dan juga merasakan bahu Baekhyun bergetar. Baekhyun menangis.
Bahkan semakin Chanyeol mempererat pelukannya, tangisan Baekhyun semakin jelas seolah beban yang ia rasakan di paksakan untuk keluar.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Baekhyun hanya terus menangis mengeluarkan semua emosinya dan Chanyeol hanya diam, membiarkan tubuhnya menjadi sandaran untuk istrinya. Lagipula sudah cukup lama Chanyeol tidak melihat Baekhyun menangis di depannya. Terlebih menangis dengan suara cukup keras.
Sampai hampir setengah jam barulah Baekhyun mulai meredakan tangisnya. Hanya isakan kecil yang terdengar. Merasa cukup tenang barulah Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap istrinya.
"sudah merasa lega?" tanya Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk pelan. "sekarang istirahat lah, biar aku yang memasak"
"tta_"
"hari ini aku ambil cuti. Kau harus banyak istirahat. Soal Taehyung biar aku yang mengurusnya" kata Chanyeol sambil tersenyum.
Baekhyun tidak menyahut, ia sibuk mengusap kedua pipinya yang basah setelah cukup lama menangis. Sampai tiba-tiba Chanyeol mengangkat tubuhnya, membopongnya sampai menuju sofa di ruang keluarga.
Chanyeol mendudukan Baekhyun di atas sofa kemudian membaringkannya setelah ia menaruh bantal kecil sebagai sandaran untuk kepala Baekhyun. Lalu Chanyeol mengusap wajah dan dahi Baekhyun. Rasa hangat timbul ketika telapak tangannya sedang berada di atas dahi Baekhyun. Ia mengusapnya lembut secara berulang-ulang, sampai akhirnya Chanyeol memberikan beberapa kecupan seperti di dahi, kelopak mata, pipi, hidung hingga bibir dan tangannya kemudian menggenggam tangan Baekhyun erat, dan tatapan mereka saling beradu pandang.
Namun sorot mata tajam itu perlahan berubah sendu, membuat Baekhyun sedikit mengerutkan dahinya.
"Baekhyun, dengarkan aku" pintanya dengan suara pelan. "aku tahu, aku bukan ayah kandungnya. Bahkan, aku juga merasa kalau dia juga segan untuk menganggapku, sebagai ayahnya, tapi..." Chanyeol menurunkan pandangan mata, seakan menghindari tatapan serius yang saat ini sedang diberikan oleh istrinya.
Karena saat ini ia ingin mengatakan sesuatu, mengatakan yang selama ini sudah membuatnya merasa mengganjal dan membuat hari-harinya merasa tidak nyaman. "bisakah kau mau menganggapku sebagai ayahnya, supaya kau mau menceritakan masalah yang sedang dia hadapi sekarang seperti saat kau menceritakan Jesper yang malu ketika pertama kali masuk sekolah, saat Jackson sakit parah dan Jiwon yang sulit sekali untuk tenang dan sering menangis?"
Dalam keadaan pikiran yang masih kacau membuat Baekhyun menatap suaminya dengan ekspresi polos. Wanita itu sedikit lambat untuk mencerna perkataan jika dalam kondisi banyak pikiran.
Chanyeol menarik nafas pelan, matanya masih melihat ke bawah seperti sedang mencari kata-kata yang ingin di ucapkan. Sampai ia menggenggam tangan Baekhyun lebih erat.
"aku tahu dia adalah darah dagingmu dengan Daehyun, aku memang tidak bisa menggantikannya, aku memang tidak bisa menggantikan posisinya sebagai ayahnya, tapi...disini aku sekarang, yang selalu berada di sampingmu, yang hampir 10 tahun berusaha untuk membahagiakanmu, membahagiakan anak-anak kita, dan juga berusaha untuk membahagiakannya. Dan aku juga berusaha tidak menganggapnya sebagai anak tiri. Dia berada disini, dia hidup bersamaku, maka dia adalah putraku..."
Akhirnya Baekhyun tersadar dan mengerti apa yang sedang di bicarakan Chanyeol. Wanita itu segera menggelengkan kepalanya, membantah apa yang di katakana suaminya barusan "Chanyeol, aku tidak bermaksud menganggapmu hanya sebagai ayah ti-"
"tapi kau melakukannya!" sorot mata itu menatapnya tajam seakan membuat Baekhyun merasa terintimidasi. Bahkan tatapan itu membuat Baekhyun segan untuk bergerak walaupun hanya untuk memejamkan mata.
Tapi kemudian tatapan yang tadi begitu menyeramkan bagi Baekhyun itu berubah sendu. Chanyeol mengendorkan genggaman tangannya lalu menariknya hingga kemudian mencium punggung tangan dan jemari ramping istrinya penuh kelembutan. Cukup lama seakan menganggap hari ini sebagai hari perpisahan mereka.
Baekhyun menatap sikap Chanyeol yang tampak berbeda dari biasanya. Pria yang selalu terlihat kuat dan berwibawa kini di hadapannya justru tampak lemah dan rapuh. Baekhyun sempat tidak yakin, tapi inilah kenyataannya bahwa tidak selamanya pria yang kita lihat selalu tampak kuat dan tangguh di depan kita.
"aku...aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik, dan...aku tahu aku gagal. Seharusnya aku tidak heran kalau kalian belum sepenuhnya mempercayaiku, aku terlalu egois. Maafkan aku..." Chanyeol semakin menundukkan kepalanya dan menempelkan tangan Baekhyun yang ia genggam ke arah dahinya seakan bahwa dia adalah orang yang paling berdosa dan memohon pengampunan.
Baekhyun masih terdiam menyaksikan itu semua. Melihat bagaimana suaminya menunduk bahkan dia tahu kalau Chanyeol sedang menahan tangis.
Baekhyun yang saat itu masih berbaring di atas sofa panjang berusaha mengubah posisinya untuk menghadap ke samping, menghadap ke arah Chanyeol yang rela duduk di atas lantai sambil memegang erat kedua tangannya.
Kemudian Baekhyun menarik pelan tangannya yang di pegang begitu erat oleh Chanyeol. Menjauhkan penghalang yang menutupi wajah Chanyeol yang tampak sendu juga terdapat garis wajah yang menunjukkan bahwa dia begitu tertekan.
Sampai kemudian Baekhyun memilih untuk bangkit dan duduk di atas sofa dengan hati-hati. Masih dalam menghadap dan memandang wajah suaminya, kedua tangannya pun mencoba mengusap lembut pelan pipi Chanyeol untuk menghapus jejak air mata yang Baekhyun sendiri tidak menyadari kapan suaminya ini menangis.
"kau tidak salah, sayang. Aku yang terlalu egois. Aku selalu berusaha seakan aku bisa melakukannya sendiri, ternyata aku salah..." Baekhyun menarik nafas lebih dalam dan berusaha untuk tersenyum.
"Dan soal Taehyung" Baekhyun mengambil jeda sebentar untuk menarik nafas "aku benar-benar tidak bermaksud... menganggapmu hanya sebagai ayah tirinya, jadi aku tidak menceritakan masalahnya padamu aku hanya... tidak ingin membuatmu menanggung beban..karena ulahku, dan kau...kau adalah ayah yang hebat, kau tidak gagal, sayang. Kau sudah membuat kami bahagia. Tapi...aku justru...a-aku, aku justru membuat.." ucapan itu tertahan karena tiba-tiba Baekhyun merasakan sesak di dadanya sehingga membuat tubuhnya kembali bergetar. Sampai-sampai dia tidak sadar untuk menggigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan tangis.
"Baekhyun" sela Chanyeol sambil mengusap tangan Baekhyun yang masih memegang kedua pipinya "aku menikahimu karena selain aku mencintaimu, aku bersedia untuk melindungimu dan aku bersedia melakukan segalanya dan bertanggung jawab dengan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang ayah. Aku tidak merasa kalau kalian membebaniku, aku malah menyesal karena aku terlalu fokus dengan pekerjaanku dan tidak bisa memperhatikan kalian walau hanya beberapa menit. " ujarnya kemudian Chanyeol berusaha bangkit dan duduk di sebelah Baekhyun "jadi..sekarang bisakah kita harus berbagi, saling bercerita jika terjadi sesuatu,bekerjasama, hilangkan keegoisan kita masing-masing?"
Baekhyun tanpa menunggu lama langsung mengangguk setuju. Sehingga membuat Chanyeol tersenyum menatapnya, karena ia merasa seperti bukan sedang berhadapan dengan wanita beranak empat atau istrinya sendiri. Dan kemudian Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan kembali memeluknya erat sesekali ia mencium pundak dan belakang telinga Baekhyun bergantian.
"aku mencintaimu"
.
.
we love you hyung
.
.
Seorang gadis berpakaian seragam sekolah berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit.
Langkahnya sedikit tertatih karena salah satu kakinya harus di perban dan menggunakan angkle splint untuk melindunginya. Dalam kondisi tersebut dia harus membawa sebuah kotak besar dan tas map di masing-masing tangannya. Selain itu juga dia membawa tas punggung yang ukurannya lebih besar daripada lebar punggungnya.
Namun gadis itu tidak sedikit pun terlihat kelelahan atau bahkan mengeluh, gadis itu terus berupaya berjalan menelusuri luasnya rumah sakit swasta milik keluarga di bawah pengawasan ayah angkatnya yang juga berprofesi sebagai seorang dokter spesialis.
Begitu ia belok di pertigaan lorong, 10 meter jarak dari tempatnya ada dua orang dokter yang sedang berdiri di depan pintu salah satu ruang inap.
Gadis itu tersenyum menyapa salah satu dokter, namun dokter yang lain, yang belum ia sapa sudah beranjak dari tempatnya dan lebih memilih untuk pergi.
Senyum dari bibir kecilnya sempat memudar sebentar, hingga akhirnya dia kembali berjalan mendekati dokter itu.
"kau sudah pulang" sapa dokter itu.
Gadis itu mengangguk, kemudian matanya melirik ke pintu yang berada di sebelahnya. "apa dia sudah bangun?"
"dia sudah sadar sejak 5 jam yang lalu" jawab dokter itu. "tapi meski kondisinya mulai membaik, dia masih tidak mau berbicara, menyahut juga tidak. bahkan makan siangnya tidak ia makan"
Dokter itu memperhatikan barang bawaan yang di bawa oleh siswi di hadapannya. Di bandingkan disebut dengan peralatan sekolah, dokter itu lebih menduga kalau siswi di depannya ini seperti hendak pulang ke kampung halaman.
"ayah, apa aku boleh melihatnya lagi? Hanya sebentar"
Dokter itu kembali terfokus, dia menoleh ke arah pintu di sebelahnya, lalu beralih menatap si gadis dan kemudian dokter itu mengangguk.
"masuk lah, mungkin kau bisa mengajaknya mengobrol. tapi simpan dulu barang-barangmu. Ayah takut kakimu semakin parah kalau kau membawa barang sebanyak itu" ujarnya menegur.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk menurut perintah dokter yang adalah ayahnya.
Sebelum dia akan masuk ke dalam, ayahnya lebih dulu berpamintan untuk kembali ke ruangannya. Gadis itu membuka pintu kamar inap dengan hati-hati. Hatinya seakan terus mengingatkan kalau orang yang ada di dalam ruangan ini sudah sadar, dan peringatan itu membuat jantungnya berdebar semakin cepat.
Seolah terus bertanya, bagaimana kondisinya? apakah baik-baik saja? Dia dalam suasana hati yang baik, kan? Bagaimana kalau dia marah? Tapi ayah tidak melarangku. Berarti anak laki-laki itu aman dan jinak bukan?
Begitu sudah berada dalam ruangan dan kembali menutup pintu, tubuhnya hampir kehilangan kendali karena barang bawaannya yang cukup berat dan banyak jika saja dia tidak segera menyeimbangkan tubuhnya dengan barang-barang di kedua tangannya. Gadis itu mulai ingkar janji pada ayahnya, padahal dia sudah berjanji belum lewat lima menit yang lalu.
Ruang inap ini sepi karena hanya ada satu yang di rawat. Sebelumnya ada pasien lain yang menggunakan ruangan ini tapi dia sudah kembali ke rumahnya dua hari yang lalu.
Gadis itu membuka tirai masih dengan gerakan pelan, dan begitu ia memunculkan kepalanya diantara tirai, ternyata anak yang di rawat sedang tidur. Gadis itu menghembuskan nafas lega. Lalu dalam sekejap keberaniannya timbul, dia berjalan mendekat dan menyimpan beberapa barangnya di atas nakas dan melepaskan tas besarnya ke kursi yang tersedia.
Dia merenggangkan tangannya dan memutar bahunya ke kanan dan ke kiri sebentar karena terlalu pegal membawa barang-barang sekolah. Lalu ia beralih ke arah lain untuk meraih tas mapnya dan mengeluarkan beberapa buku dengan ukuran kertas yang lebar dan beberapa pensil dari dalam tasnya.
"siapa kau?" terdengar suara berat di dalam ruangan sepi yang cukup kedap suara.
Gadis itu mengangkat wajahya dan melirik ke sekitar tirai di hadapannya. Tidak ada siapa-siapa. Kemudian akhirnya dia berbalik badan dengan tumpukan buku bergambar di antara kedua tangannya, lalu mendapati sepasang mata elang menatap ke arahnya.
"Aaaaaastaga!"
'BRUK!'
Gadis itu berteriak kaget dan mundur beberapa langkah tanpa melihat sekitar sehingga tubuh kecilnya menabrak kursi dibelakangnya sehingga ia terjungkal dan akhirnya dalam sekejap dia sudah terduduk di atas lantai.
"kau tidak apa-apa? Maaf membuatmu terkejut" anak laki-laki itu panik ketika sosok di depannya tanpa di duga jatuh sendiri.
Dalam posisi duduk ia mencoba mengulurkan tangan berniat untuk membantu gadis di depannya bangun. Tapi dengan keadaan tangan yang sedang di infus membuatnya sulit bergerak dengan leluasa dan akhirnya gadis itu sudah lebih dulu bangkit dengan kekuatannya sendiri dan uluran tangan anak laki-laki itu berakhir sia-sia.
Gadis itu menepuk-nepuk rok belakangnya dan merapihkan setelan seragam sekolahnya. Hingga akhirnya dia berani menatap anak laki-laki yang sudah dalam posisi duduk.
"maaf, aku masuk tidak bilang-bilang" gadis itu berucap pelan dan sedikit menunduk. Kemudian dia kembali berjongkok untuk memungut buku-bukunya yang ikut berjatuhan.
Anak laki-laki itu tidak menyahut. Hanya melihat pergerakan sosok anak yang baru pertama kali ia lihat. Sampai kemudian gadis itu berdiri dan menyimpan buku-bukunya di atas nakas di sebelah ranjang nya.
"bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya gadis itu berusaha menghilangkan rasa canggung akibat kejadian konyol yang baru saja ia lakukan di depan orang yang baru ia kenal.
"lumayan. Dan maaf, apa yang sedang kau kau bisa ada disini?" anak laki-laki itu balik bertanya.
Gadis itu mengernyitkan dahinya menatapnya sosok di depannya heran. Tapi kemudian ia mengerti dan tersenyum. Tapi seketika gadis itu membungkuk ke arahnya dan membuat anak laki-laki itu menatapnya terkejut.
"Aku minta maaf!" seru gadis itu bersamaan dengan gerak tubuhnya untuk membungkuk.
"minta maaf karena apa?"
Gadis itu menaikan alisnya heran lalu kembali menegakkan tubuhnya "kau tidak tahu?". Anak laki-laki itu menggeleng. "aku...aku.. waktu itu...aku tidak sengaja, mendorongmu di stasiun, dan...membuatmu pingsan" sambungnya dengan gugup dan sedikit takut. "Kau...ingat, kan?"
Anak laki-laki itu terdiam sambil menatap kain selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, ia berusaha mengingat kembali kejadian sebelumnya, sebelum ia berada di tempat asing seperti ini.
"oh iya, ngomong-ngomong kita boleh berkenalan kan? siapa namamu?" gadis itu mengulurkan tangannya, senyum manis di bibirnya belum memudar.
Anak laki-laki itu melihat uluran tangan itu beberapa saat, sampai kemudian akhirnya ia membalas jabatan tangan itu.
Tentu saja gadis itu langsung tersenyum lebih lebar, karena anak laki-laki ini meresponnya dengan cukup baik. Tidak seperti yang di katakan oleh ayahnya.
"namaku Kim Jungkook,15 tahun"
"Taehyung, 16..tidak, 17 tahun" balasnya.
"Taehyung saja?" tanya gadis itu lagi, dan anak itu hanya membalas dengan mengangguk pelan.
"hmmm...senang berkenalan" jabatan tangan itu terlepas. Lalu dia melirik ke tempat sebuah lemari kecil tempat barang-barangnya tadi di simpan. Jungkook teringat dengan sesuatu disana.
"kau sudah makan?"
Taehyung menggeleng.
"kenapa? Apa tidak ada yang membawakanmu makanan?"
Sekilas senyum dari bibir Taehyung muncul. Senyum pahit lebih tepatnya. "kau orang pertama yang baru menengokku selain dokter dan perawat disini"
Ada perasaan tidak enak hati ketika mendengar jawaban dari Taehyung, namun ada perasaan senang juga ketika mendengar bahwa dia orang pertama yang menjenguknya.
Lalu Jungkook segera mengambil salah satu kotak yang terbungkus kain di atas nakas. Kemudian meletakannya di ranjang dekat dengan Taehyung duduk. Ia membuka tutupnya dan memperlihatkan karya bekal unik yang ia buat di rumah tadi sebelum menuju ke rumah sakit.
"cobalah" Jungkook yang sudah memegang sumpit, mencapit satu potong telur dadar gulung dan mengarahkannya ke mulut Taehyung.
Taehyung sempat ragu menatap makanan itu. Bukan karena takut makanan yang di berikan itu beracun. Tapi sejujurnya, selama hidupnya dia belum pernah di suapi oleh perempuan selain ibunya. Dan itu terakhir ketika Taehyung masih kecil.
Jungkook yang melihat tidak ada respon dari Taehyung masih mencoba berusaha untuk menyuapi Taehyung. Bukan bermaksud mencari kesempatan apalagi mencari muka, tapi Jungkook melihat kondisi Taehyung begitu pucat, dengan bekas luka yang menjadi memar di sudut bibirnya dan goresan luka di bagian pipi hampir mendekati telinga.
Sebenarnya Jungkook ingin bertanya lebih banyak tentang Taehyung, siapa dia, dimana dia tinggal, dan apa yang sudah terjadi padanya sampai pertama kali Jungkook bertemu sudah melihat Taehyung memiliki banyak luka memar.
Tapi melihat kondisi Taehyung saat ini dan juga mendengar keterangan dari ayahnya yang seorang dokter harus membuat Jungkook menutupi rasa ke ingin tahuannya.
Jungkook masih mencoba meminta dan memohon kepada Taehyung untuk makan. Hingga akhirnya Taehyung mau membuka mulutnya dan memakan potongan telur dadar gulung itu.
Jungkook bernafas lega, bibirnya terukir sebuah senyuman. Kemudian dia mengambil lagi potongan daging dan menyuapinya lagi. Dan sekarang mulut Taehyung sudah di penuhi makanan.
"kau bisa makan sendiri kan? Habiskan lah" Jungkook menyimpan kotak bekalnya di atas paha Taehyung.
Melihat Taehyung yang sudah mau mengisi perutnya, Jungkook memilih mengambil salah satu buku dan duduk di atas kursi.
Sambil membuka buku dan membuat sedikit coretan di atas kertas, sesekali Jungkook memperhatikan wajah Taehyung yang sedang melahap bekal makanannya dari samping. Bahkan tak jarang senyum dari bibirnya itu muncul melihat sosok pemuda yang ada di hadapannya.
Hingga akhirnya Jungkook memfokuskan perhatiannya pada bukunya.
"kau sedang menggambar sesuatu?" sambil mengunyah makanan, Taehyung yang merasa penasaran dengan orang asing di dekatnya mencoba memperhatikan apa yang sedang di lakukan.
Jungkook mengangguk, namun perhatiannya masih tertuju pada goresan pensil di atas pangkuannya.
Taehyung menoleh dan melihat keadaan sekitar, pandangannya berhenti pada beberapa buku dengan ukuran yang sama tergeletak di atas nakas di sebelahnya. Tangan kirinya mencoba meraih salah satu buku dan membuka tiap lembarnya.
Ketika lembaran itu di buka, matanya terbuka lebar dan menatap takjub. Hampir saja ia membuka mulut lebar-lebar, menganga menatap kagum goresan yang terdapat pada lembaran kertas itu jika dia tidak teringat dengan makanan yang sedang di kunyahnya.
Taehyung terus membuka lembaran buku gambar itu, menatap dan memperhatikan tiap goresannya. Kemudian sesekali ia melirik anak perempuan yang sedang duduk dan serius membuat sebuah gambar.
Bibirnya tertarik dan membuat sebuah senyuman. Dalam hati, Taehyung memuji sosok Jungkook. Baru pertama kali dia bertemu dengan seseorang yang langsung membuatnya kagum.
Menurutnya, Jungkook anak yang baik, dia juga memiliki wajah yang sangat imut, matanya yang bulat dan bibir tipis yang merah membuat kesan seperti boneka itu semakin jelas. Di tambah dengan keahlian menggambar dan melukisnya yang bisa di katakan hampir sempurna menurutnya.
Tiba-tiba Taehyung teringat dengan sesuatu yang membuat ekspresi wajahnya berubah. Sesekali ia melirik jungkook dan buku gambarnya bergantian. Apakah Jungkook mau membantunya?
Taehyung menyimpan sumpit itu di pinggir kotak bekal, lalu menyingkirkan sebentar. Kemudian berdalih memegang buku gambar yang cukup tebal.
"Ehm!" Taehyung berdeham, mencoba menarik atensi Jungkook dari buku gambarnya.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Taehyung "kenapa?"
"gambar mu sangat bagus" puji Taehyung sambil tersenyum.
"sungguh? Terimakasih" Jungkook balas tersenyum, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"apa ini pekerjaan sampinganmu? Eeee... maksudku, kau membuat gambar-gambar ini lalu mengirim ke redaksi majalah?" tanya Taehyung lagi, karena melihat sikap Jungkook yang begitu serius menggambar membuat Taehyung berpikir kalau Jungkook sedang di kejar waktu deadline.
Tapi Jungkook menggeleng "tidak, aku hanya suka menggambar saja"
Taehyung hanya mengangguk mengerti.
"sebenarnya, aku mau menunjukkan gambar ini dan memamerkan lukisan atau gambar-gambarku ke semua orang, tapi orang sekitarku lebih mengharapkanku menjadi seorang dokter. Jadi aku hanya bisa membuatnya seperti ini" lanjutnya menjelaskan.
Taehyung mengangguk sekali lagi, matanya masih belum lepas dari lembaran-lembaran kertas yang sudah di penuhi oleh goresan pensil biasa dan juga yang berwarna.
Setelah puas memandangi beberapa hasil seni rupa milik Jungkook, Taehyung menutup buku gambar itu dan menyimpannya kembali ke tempat semula. Kemudian kembali memperhatikan gambar yang sedang di buat Jungkook dari jarak kurang lebih dua meter.
"Eeee Jungkook, kau bisa menggambar kartun atau anime?"
Jungkook menghentikan aktifitasnya dan terdiam sejenak kemudian kembali menggambar "bisa"
"melukis?"
"ya"
"kalau melukis sesuatu yang di bayangkan orang lain, bisa?"
"emmm, tergantung. Kenapa?" tanyanya masih fokus pada sketsa lukisan yang baru di buat dengan pensil.
"aku mau-"
'Krekk'
Ucapan Taehyung terhenti ketika mendengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Orang itu adalah wanita yang juga seorang dokter, karena Taehyung melihat dari jas yang di kenakan ketika sosoknya muncul dari balik tirai.
Ketika dokter itu muncul, tiba-tiba saja Jungkook dengan sigap merapihkan dan menutup buku-bukunya lalu berdiri tegap seolah sedang menyambut sekaligus menghormati dokter yang datang itu.
"selamat sore," dokter wanita itu menyapanya dengan senyum ramah di bibirnya. Kaki jenjangnya melangkah mendekati Taehyung yang masih dalam posisi duduk. Dokter itu tidak masuk sendirian, salah satu perawat datang menyusul mengikutinya.
Taehyung hanya menyahut dengan tersenyum kecil.
"bagaimana kondisimu sekarang? Sudah lebih baik? Dan apa kau sudah makan siang?"
"dia sudah mau makan" sahut Jungkook tiba-tiba dan suaranya itu membuat Taehyung juga dokter menoleh ke arah Jungkook secara bersamaan.
Namun dokter itu langsung segera mengalihkan pandangannya lagi lalu kemudian melihat kotak bekal yang berada di samping Taehyung. Pasti milik anak perempuan itu, pikir sang dokter.
Dokter itu terdiam, hingga kembali tersenyum begitu menatap Taehyung.
"syukurlah kau sekarang sudah mau makan, tapi...seharusnya kau hanya boleh memakan makanan yang di sediakan oleh rumah sakit, ya seharusnya semua orang yang menjenguk pasien sudah tahu peraturan rumah sakit ini" tegur dokter itu, meski suaranya pelan dan ramah namun terdengar seperti ada sedikit penekanan serta sindirian.
Taehyung sesekali mendapati dokter perempuan itu melirik menatap dingin ke arah Jungkook yang memilih menundukkan kepalanya.
"siapa namamu, nak?"
Taehyung kembali ke kesadarannya dan mencoba duduk lebih tegap.
"namaku, Taehyung"
Kemudian terlihat perawat yang berdiri di belakang dokter itu sedang mencatat sesuatu.
"nama margamu?" tanya dokter itu lagi, perawat yang berada di belakangnya juga ikut menatapnya menunggu jawaban dari Taehyung.
Taehyung diam beberapa saat, menatap lurus tirai yang bergerak karena udara dari AC yang menyala.
Berpikir tentang apa nama marganya. Apakah ia harus menyebut nama ayah kandungnya? Atau nama marga yang di pakainya sekarang? Mengingat kembali kejadian yang terjadi kepadanya selama ini bahkan sampai membayangi di setiap mimpinya. Haruskah ia memakai lagi nama keluarganya yang sudah mengasingkannya?
"Pp-Park" jawab Taehyung ragu.
Sebenarnya Taehyung ingin menyebut marga dari nama ayahnya kandungnya, tapi mengingat cerita dari bibi Kim serta kejadian terakhir kali saat berpisah dengan ayahnya membuatnya semakin ragu.
Dan jika seandainya ayah tirinya juga memang keberatan jika marganya di gunakan, Taehyung tidak keberatan jika ia tidak memiliki nama marga. Ya setidaknya dia tidak ingin merepotkan dokter disini, selain itu lagi pula hari ini kedua ayahnya tidak ada yang tahu.
Perawat itu kembali menulis, dan dokter itu melihat ke arah cairan infus dan perban di tangan Taehyung yang menutupi jarum infus. Lalu kembali menatapnya dan tersenyum.
"baiklah, aku senang kondisimu sekarang sudah mulai membaik. Semoga kau lekas sembuh, ya?" dokter itu menepuk pelan bahu Taehyung sebelum akhirnya dia dan perawat yang bersamanya beranjak dari ruang inap.
Setelah dokter itu pergi, Taehyung kembali melihat Jungkook yang sudah kembali dengan pekerjaannya. Tapi kali ini di mata Taehyung, Jungkook terlihat lebih murung dari sebelum dokter itu datang. Mungkin ucapan dokter tadi sedikit menyinggung perasaan Jungkook. Pikir Taehyung.
"hey, jangan pikirkan ucapan dokter tadi. Aku tidak keberatan, aku justru berterimakasih padamu karena sudah memaksaku untuk makan" ucapnya mencoba menghibur.
Sekilas Jungkook mencoba tersenyum dan tertawa kecil.
"bagaimana kau tahu kalau aku memikirkan ucapan dokter tadi?"
"wajahmu yang memberitahu"
"Sok tahu"
Alis Taehyung menyatu karena tidak percaya kalau jawabannya salah. Padahal jika di lihat kenyataannya memang begitu.
Akhirnya Jungkook tertawa dan berdiri lalu berjalan mendekati "sudah lupakan. Tadi kau mau memintaku untuk apa?"
Hampir saja Taehyung melupakan permintaannya. Matanya mencoba terpejam dan mengingat kembali.
"Ahhh, apa kau bisa membuat sketsa? Seperti lukisan?" tanya nya.
"seperti kau yang membayangkan, aku yang menggambarnya, begitu?" Jungkook balik bertanya untuk memastikan, dan Taehyung langsung mengangguk cepat. "apa yang ingin aku gambarkan?"
"kau bisa lukis wajahku?" Taehyung menunjuk wajahnya. Terdengar tawa kecil lagi dari Jungkook.
"baiklah, itu mudah"
"tapi dalam bentuk perempuan"
Seketika pergerakan tangan Jungkook yang siap untuk membuat gambar terhenti dan kembali menatap Taehyung tak mengerti.
"maksudmu?"
"lukis aku, tapi dalam sosok wanita" Taehyung mengulang kalimatnya lagi.
Walau Jungkook masih belum paham mengapa Taehyung meminta hal yang seperti itu dan ingin menanyakan untuk mendapat puluhan alasan lain agar dapat membuatnya mengerti, gadis itu akhirnya menurut.
Jungkook mengawali dengan mengusap kertasnya dan membuat sedikit pola kecil. Lalu menatap wajah Taehyung untuk memperhatikan segi bentuk wajah laki-laki itu dengan lebih jelas.
"ah tunggu, jangan persis sepertiku"
Jungkook kembali terdiam dan menatap Taehyung tidak mengerti "lalu?"
Taehyung memejamkan matanya seolah sedang membayangkan sesuatu "buat dia dengan tatapan mata yang polos dan jernih, bentuk wajah yang lebih kecil tapi dengan pipi yang sedikit berisi, lalu bentuk hidungnya lebih kecil dari ku, lalu buat dia tersenyum dari bibir merahnya yang tipis, tersenyum seolah dia sedang bahagia, dan..."
Jungkook yang memerhatikan itu ikut bertanya "dan?"
"buat aku juga yang sedang memeluknya" ucapnya dengan suara pelan "memeluknya...dengan senyum...yang, bahagia"
Taehyung tersenyum tipis membayangkan gambar tersebut. Gambar dimana dia dan orang yang dia sayangi dapat tersenyum dan tertawa bersama. Walau dia tahu bahwa hal tersebut mungkin sudah tidak akan mungkin terjadi dalam hidupnya nanti. Dan karena itu, ia ingin meminta bantuan Jungkook agar bisa melihat impiannya walau hanya dalam bentuk gambar.
"apa dia kekasihmu?" tanya Jungkook penasaran.
Taehyung menggeleng pelan "lebih dari kekasih, dia...cinta pertama, di hidupku"
.
.
we love you hyung..
.
.
Jika tidak di ingatkan kembali oleh bosnya mengenai pemindahan tempat kerja dalam beberapa hari kedepan, Chanyeol tidak akan rela menghabiskan waktu istirahat dengan merapihkan beberapa barang-barang yang muat untuk di masukkan ke dalam kardus. Padahal masih ada masalah yang harus ia selesaikan.
Tapi perusahaan tentu tidak akan peduli tentang masalah pribadi yang menyangkut karyawannya. Dan Chanyeol harus memaklumi hal itu.
Kardus-kardus itu sudah tertumpuk rapih. Sebagian barang sudah di masukkan ke dalam kardus dan di simpan rapih di pinggir ruangan agar tidak menganggu aktifitas ketiga putranya yang sedang tumbuh.
Setelah semua kardus sudah di simpan dan di tata rapih, Chanyeol segera menuju ke kamar tidurnya.
Sampai di depan kamar ternyata pintu kamar tidak tertutup. Chanyeol mendorong pelan pintu itu dan disana terlihat Baekhyun masih terjaga, duduk di atas karpet berbulu danmenyender pinggiran temat tidur dengan santai nya sambil menggendong Jiwon yang juga masih ingin menemani ibunya yang sedang membereskan pakaian yang akan di masukkan ke dalam koper.
Sepertinya kehadiran Chanyeol yang masuk ke dalam kamar tidak di ketahui Baekhyun karena Baekhyun begitu seriusnya melihat album dan lembaran foto sambil menunjukkan nya kepada Jiwon.
"ini hyung mu ketika bayi, dan sepertinya Jiwon juga hampir mirip dengan Taehyung hyung" ucap Baekhyun sambil menunjuk ke salah satu gambar bayi yang sedang duduk sambil tersenyum kepada Jiwon.
Jiwon juga melihatnya, bayi itu juga seolah tidak ingin kalah dengan ibunya untuk menyentuh gambar dengan jari-jari mungil yang di tunjuk ibunya.
"ya, dia sangat lucu sepertimu dulu. Ibu sangat sulit waktu ingin pulang ke rumah karena banyak ibu-ibu yang ingin menggendongnya, walau pun hyungmu sudah menangis, mereka tetap ingin menggendongnya" Baekhyun merapatkan tubuh Jiwon dalam pangkuannya. Sambil mengenang masa lampau, sesekali membuatnya mecium kepala Jiwon tanpa sadar.
"kau merindukannya, hmm? Ya, ibu juga merindukan nya. Ibu ingin sekali memeluknya" ucap Baekhyun pelan dan terdengar parau.
Jemarinya bergerak pelan pada salah satu gambar seolah dia sedang mengusap lembut pipi bayinya penuh kasih sayang.
"Baekhyun" suara panggilan itu mengalihkan perhatian Baekhyun dari gambar-gambar ketiga putranya semasa bayi.
Baekhyun menatapi suaminya sudah duduk di pinggiran ranjang, menatapnya sambil tersenyum lembut.
"belum tidur?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng pelan lalu menutup album-album foto yang ia lihat dan menumpuknya dengan rapih.
Chanyeol bangkit dan mendekati Baekhyun lalu mengambil alih Jiwon dari pangkuan istrinya.
"ayo tidur" ajak Chanyeol sambil menuntun tangan Baekhyun menuju tempat tidur.
Baekhyun sudah menaiki tempat tidur, dan Chanyeol langsung memberikan Jiwon ke gendongan ibunya ketika kedua tangan kecil itu menjulur kepada Baekhyun.
Jiwon menepuk-nepukan tangannya pelan ke arah dada Baekhyun hingga membuat Baekhyun tersenyum geli.
"dimana kau belajar meminta sesuatu tanpa menangis?" Baekhyun mencium kedua pipi berisi Jiwon begitu gemas. Karena biasanya Jiwon jika ingin tidur atau meminta makanannya selalu di awali dengan tangisan.
Kemudian Chanyeol menyusul menaiki tempat tidur dari arah lain. Lalu pria itu mendekati putranya yang posisinya berada di tengah di antara mereka.
"Jiwon ingin segera tumbuh dewasa dan menyusul ayah" gumam Chanyeol tak ingin kalah langsung mencium pipi Jiwon. Dan tangan Jiwon langsung menggenggam jari telunjuk ayahnya ketika ayahnya mencoba menggodanya saat ia sedang menyusu.
"Chanyeol" panggil Baekhyun, suaminya hanya meliriknya karena lebih asik untuk menggoda putranya "apa nanti kita bisa menemukan Taehyung sebelum kita pindah ke ibu kota?" tanya Baekhyun sedikit cemas.
Chanyeol yang memahami suasana pikiran Baekhyun itu kemudian membenarkan posisi berbaring nya namun tangannya masih di pegang oleh Jiwon.
"aku akan besusaha mencarinya, aku dan Daehyun sudah menyebarkan informasi ke beberapa tempat umum, kau jangan khawatir, oke?"
Baekhyun hanya tersenyum simpul, karena ia sendiri belum merasa yakin kalau putranya dapat dengan segera di temukan. Karena sejujurnya Taehyung benar-benar sudah mengejutkannya. Dia tidak hanya pergi atau berada di satu kota, bahkan di usianya yang masih cukup muda sudah berani keluar kota tanpa bertanya-tanya informasi kepada orang yang lebih dewasa.
Tiba-tiba terasa sebuah kecupan hangat mendarat pada keningnya. Baekhyun menatap suaminya yang menatap dan tersenyum lembut kepadanya.
"tidurlah" titah Chanyeol.
Baekhyun kemudian membenarkan posisi berbaringnya sambil mengusap kepala Jiwon. Sedangkan Chanyeol menatap kedua orang tersayang nya secara bergantian. Namun genggaman tangan mungil dari Jiwon mengalihkan perhatiannya karena bayi itu mengengam jarinya cukup erat bahkan tidak mau melepaskan walau Chanyeol berusaha ingin melepaskannya.
.
..
.
Keesokannya sebelum mengemasi seluruh barang dan menetapkan untuk pindah rumah ke ibu kota, Chanyeol menyempatkan diri dengan membawa kedua putranya menuju salah satu klinik rumah sakit untuk mendapat obat kekebalan tubuh karena musim dingin sedang berada pada suhu puncaknya.
Sedangkan Baekhyun dan Jiwon tidak dapat ikut serta, selain Baekhyun masih harus menyelesaikan tugasnya di rumah dan suhu yang dingin membuat Baekhyun sedikit khawatir jika membawa Jiwon pergi keluar rumah.
"bagaimana kabar putra anda sekarang? Sudah ada kabar terbaru?" kabar hilangnya Taehyung juga tidak luput dari telinga dokter di klinik yang sudah menjadi langganan keluarga Park Chanyeol sejak Jesper masih bayi.
"Polisi memberi tahu kalau beberapa orang melihatnya di kendaraan umum, tapi tidak disebutkan dimana posisinya. Jadi kami belum dapat info pasti" jawab Chanyeol seadanya.
Setelah kedua putranya selesai mendapat suntikan obat kekebalan tubuh, pria tinggi itu memasang kembali baju hangat kepada kedua anaknya sebelum beranjak dari klinik.
"aku berdoa semoga dia cepat di temukan" ucap dokter Yixing itu tersenyum dan penuh harap. Chanyeol mengangguk mengamini.
Kemudian terdengar suara pintu klinik terbuka, seorang wanita dengan pakaian hangat tebal namun modis masuk ke dalam sambil mengusap kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan rajutan.
Dokter Yixing itu tersenyum menyambut kedatangan perempuan itu.
"aku pikir kau tidak jadi pergi"
"cuaca di luar sangat dingin, salju juga terus turun. Di tambah banyaknya pasien yang datang berobat" sahut perempuan itu.
Lalu dia berjalan masuk ke dalam, menyimpan tasnya sebelum dia membungkuk menyapa Chanyeol yang masih harus mengurus salah satu putranya.
"ya, sudah jadi resiko kita sebagai dokter. Apa oppa mu masih banyak jadwal di ibu kota?"
Perempuan itu mengangguk dan membuang nafas, terlihat banyak asap yang keluar dari mulutnya. Lalu dia melirik salah seorang anak laki-laki menatapnya dan tersenyum padanya.
"selain itu juga ada seorang anak laki-laki tersesat dan pingsan, kondisinya belum terlalu pulih jadi aku harus mengurusnya beberapa hari di rumah sakit" ujar dokter perempuan itu kemudian mengusap rambut anak laki-laki yang adalah Jesper.
Pergerakan tangan Chanyeol sempat terhenti ketika mendengar kalimat seorang anak laki-laki yang tersesat. Tapi mengetahui bahwa perempuan itu adalah dokter dari Seoul membuat Chanyeol menggeleng kepalanya membantah. Tidak mungkin Taehyung bisa sampai sejauh itu.
"anak tersesat? Kau sudah melaporkannya ke polisi?"
"belum. Kondisinya masih belum pulih total. kami menemukan dia dengan banyak luka memar di tubuhnya"
"seharusnya kau melaporkannya ke polisi, siapa tahu anak itu ada masalah, atau mungkin saat ini dia sedang di cari keluarganya" tegur dokter Yixing mengingat masalah yang sedang di alami Chanyeol juga hampir sama. "ngomong-ngomong siapa namanya?"
"kalau aku tidak lupa, Park Taehyung"
.
.
.
Next?
tbc dulu ya...
mohon maaaaaaaf banget buat semua karena aku ingkar janji kalau bakal di selesaikan secepat mungkin, ternyata ngaret T.T. jadi beberapa bulan yang lalu sebelumnya aku harus nyelesaiin skripsi, terus terakhir udate itu aku mau sidang jadi gak sempet buat mikir lanjut cerita, selain itu juga bingung harus cari alur kaya gimana, takutnya banyak yang kurang suka. selain itu ya ada beberapa faktor lah, tapi alhamdulillah sekarang semua tugas kuliah selesai, udah wisuda juga, tinggal nyari kerja lagi. ya semoga aja cepet dapet kerjaan dan di beri kesempatan dan umur panjang buat bisa lanjutin ceritanya (ya kalo masih pada penasaran, hehe)
oke sampai disini dulu, tunggu chapter selanjutnya. salam.
