Kenangan Kesembilan
Gejala Awal
Pagi itu aku bekerja dengan tak keruan. Setelah Severus pergi tadi malam –dini hari—aku tidak bisa tidur lagi. Maka lihatlah penampilanku. Lingkaran hitam di sekeliling mataku. Mata itu sendiri kuyu. Menguap berkali-kali. Penampilanku jadi teu pararuguh (maaf, ini bukan karena ada turunan Sunda dalam darahku. Sama sekali tidak. Tanya saja pada pengarangnya. Er, mungkin pengarangna yang orang Sunda ya?).
Berkali-kali aku ke kamar kecil untuk membasuh wajahku. Lumayan, setelah itu agak segar. Tetapi tidak lama kemudian sudah layu lagi.
Wilbur menangkap gelagat aneh ini, "Kau kenapa?" tanyanya menyelidik.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur," sahutku setengah menutupi.
"Kalau begitu, kau kerja setengah hari saja. Pulang dan tidur saja, besok kamu pasti sudah segar lagi."
Aku berterima kasih padanya, dan pergi untuk beres-beres sedikit agar Wilbur nanti tidak terlalu repot melayani pelanggan sendiri. Tapi pada saat beres-beres itu aku terpaksa berhenti sejenak.
"Anna, kenapa?" Wilbur melihatku dan khawatir.
"Aku tidak jelas melihat," sahutku. "Pandanganku kabur." Aku memejamkan mata sejenak. Kubuka mataku, agak lumayan sekarang. Tapi tidak sejelas seperti saat normal.
"Aku pulang sekarang saja, Wilbur. Aku istirahat di rumah saja," kilahku.
Wilbur mengangguk. "Kalau kau masih belum sehat, besok jangan masuk dulu. Lusa saja. Kau kelihatannya akan sakit, mungkin flu. Istirahat, minum yang banyak, makan buah. Ini ada ramuan Merica Meletup, pakailah. Nggak akan dimasukkan ke dalam rekening, kok."
Aku tertawa kecil. "Terima kasih, ya Wilbur. Kau baik sekali." Aku memeluknya. Dia bahkan lebih perhatian padaku daripada Kakek atau Dad.
Wilbur bahkan akan menutup tokonya sejenak agar ia bisa mengantarku pulang. Tapi kutolak. Aku masih bisa berjalan pulang kok, walaupun pelan-pelan.
Sesampainya di rumah aku langsung tidur. Entah sampai jam berapa, yang kutahu saat aku bangun, suasana sudah gelap.
Aku terpaksa bangun. Badanku seperti remuk. Dan penglihatanku tidak membaik. Atau karena hari sudah gelap? Kunyalakan lampu, dan aku mengedip-ngedip. Hm, agak lumayan.
Dengan badan yang tidak enak, aku terpaksa memasak air, merebus ramuan, dan membuat bubur. Beginilah, kalau seorang penyihir kan gampang, tinggal mengayunkan tongkat. Tapi kalau Squib sepertiku, terpaksa memasak seperti biasa.
Aku memasukkan air ke dalam termos. Aww! Air panas terpercik ke tanganku! Aku memasukkan jari ke dalam mulut agar tidak terlalu terasa panas. Biasanya aku bisa memasukkan air panas ke dalam termos dengan mudah. Entah, mungkin keadaanku sedang begini, tanganku terasa lumpuh dan penglihatanku agak berkurang.
Entah berapa jam kemudian baru aku sadar, aku tertidur di sofa! Oh, tidak! Aku kan sednag menunggu bubur masak dan ramuan mendidih! Langsung aku terduduk, dan … tapi tidak ada bau hangus…?
Aku duduk sejenak mengumpulkan kesadaranku. Dan aku melihat, ada sebuah piala berisi ramuan masih panas berkepul tersimpan dengan manis di atas meja.
Siapa yang mengangkat ramuan itu dan memasukkan ke piala?
"Aku datang ke toko, dan Wilbur bilang kau sakit," suara itu mendekati. Severus!
Severus membawa semangkuk bubur, meniupinya, dan duduk di depanku. "Aku suapi ya?" Dan tanpa menunggu respon dariku, ia mulai menyendok bubur.
Aku terpaksa menurut. Dia membantuku duduk dengan menambah bantal di punggungku. Lalu membetulkan selimutku. Dan aku tidak ingat kalau tadi aku pakai selimut, pasti dia menyelimutiku.
Sehabis mangkuk bubur, aku harus menghabiskan ramuan yang ada di piala di meja. Aku menurut. Sebelum meminumnya, aku mengendusnya. Baunya bukan Merica Meletup.
"Ramuan yang dimasak tadi sudah hampir gosong," katanya tanpa kutanya. Aku tersenyum malu, malu ketahuan ketiduran. Tapi dia meneruskan dengan serius, "Aku lihat sepertinya bukan flu. Aku tidak tahu penyakit apa. Tapi aku buatkan ramuan yang lain. Kata Wilbur pandanganmu kabur, dan gerakanmu agak kaku. Mungkin demam chikungunya, atau yang lain, tapi belum terdeteksi."
Aku tak menjawab. Kuhabiskan cairan pahit itu. Aku tak berani minta minum, takut nanti akan mengurangi khasiatnya.
"Pahit?" tanyanya. Aku mengangguk. "Bilang dong, kan sesudahnya boleh minum agar tak terasa," katanya tersenyum mengangsurkan segelas air putih. Lagi-lagi aku tersipu-sipu.
"Sudah, tidurlah lagi. Aku akan menungguimu."
Aku mengangguk dan menurut, naik ke kamar lalu meringkuk seperti kucing. Dia menyelimutiku, lalu mengecup keningku.
Aku sakit, dan seorang Death Eaters menungguiku.
TBC
