Selamat berjumpa lagi dengan Fi, minna-san! Chapter 9 datang, dan sesuai judul chapternya, ini adalah akhir dari zona abu-abu di hati Naruto. FYI, di chapter lalu ada sedikit scene yang sengaja nggak Fi tampilkan. Ada yang bisa menemukan? Salah satu jawabannya ada di sini. ^^

Balasan review chapter sebelumnya:

Honoki shipper: Galaunya sampai chapter ini, kok. Hhehe. ^^ Amiin, mudah-mudahan di sini ada yang sweet juga. Kalau masih kurang, chapter depan, ya. :) Terima kasih RnR dan semangatnya! Mind to RnR again? ^^

Andry: Hmm... Sebenarnya chapter ini lebih fokus ke perasaan Naruto dulu. Tapi chapter depan Fi banyakin Naruhina-nya deh. :) Kalau porsi Kibahina memang sudah akan berkurang. :) Okay ini lanjutannya, terima kasih RnR dan semangatnya! Mind to RnR again? ^^

Kaoru Mouri: Sip, ini lanjutannya, semoga nggak mengecewakan, ya. :) Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^

Guest: Syukurlaah! Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^

Soputan: Okay ini sudah lanjut... Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^

Owie93: Wah terima kasih banyak! Nggak apa-apa kok, Fi senang sekali Owie-san mau mampir. ^^ Hmm... Fi juga bingung dengan Sasuke, tapi karena dia nggak terlibat di alur cerita ini, anggap saja dia lagi di luar Konoha, ya. :) Terima kasih RnR dan semangatnya! Mind to RnR again? ^^

May: Okay, ini lanjutannya, semoga nggak mengecewakan... :) Waduh kependekan, ya? Maaf ya, Fi susah memperpanjang chapter tanpa mengubah alur... Huaa X( Mungkin chapter klimaks nanti bisa Fi buat lebih panjang. :) Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^

Para reviewer yang login silakan cek inbox, ya. ^^

Chapter ini berpusat pada Naruto yang berjibaku dengan perasaannya sendiri, jadi maaf kalau scene Naruhinanya kurang, ya. Porsi Naruhina akan Fi tambahkan di chapter depan. :)

Now on with the story, happy reading, minna-san, hope you like it! ^^


.

~Hinata no Tame no Aijou~

ヒナタのための愛情

A Naruto Fanfic by FiDhysta

Rated: T

Genre: Drama, Hurt/Comfort, Romance

Pairing: Naruhina, Kibahina, Narusaku

Warning: Newbie, OOC, Typo(s), Canon

Disclaimer: I don't own Naruto. Kishimoto Masashi does.

.

If you don't like, just click the 'back' button, okay? ^^

.

Summary: Penolakan Naruto berdampak berat bagi hati Hinata. Meskipun diliputi rasa ragu, Hinata mencoba untuk menghargai keputusan tersebut, kemudian membuka hatinya untuk orang lain—orang yang tanpa disadarinya selalu ada kapanpun tanpa ia minta. Hinata dan yang lainnya pun harus belajar untuk memahami apa yang sebenarnya hati mereka inginkan, sebelum kesempatan itu terlewat dan menyisakan sebuah penyesalan. "Kau tahu, manusia adalah makhluk yang egois."

.

Chapter 9

Realization

.

Angin dingin akhir musim gugur terasa membelai pipiku yang dihiasi oleh tiga garis halus di setiap sisinya. Tanda ini sudah kudapatkan dari lahir, terkadang bahkan aku sendiri heran jika melihat tanda ini dari pantulan wajahku di cermin. Aku baru tahu kalau tanda lahir bisa sesimetris ini. Tapi aku tak membenci garis yang menjadi ciri khas di pipiku, sebab beberapa orang bilang bahwa aku justru terlihat lebih manis dengan tanda yang menyerupai kumis rubah ini.

Sudah hampir setengah jam aku menikmati tiupan angin yang lembut. Mulai merasa bosan, aku mengubah posisi duduk agar lebih nyaman dengan melipat kakiku di atas bangku.

Seharusnya dia akan datang sebentar lagi...

Baru saja aku hampir tertidur tatkala suara seseorang yang sudah kukenal baik menyapa telingaku, membuatku segera mendarat dari usaha lepas landas ke negeri mimpi.

"Omatase, Naruto."

Aku menurunkan lengan yang menutupi wajahku agar dapat menatap gadis berambut merah jambu yang tengah berjalan kemari. Gadis itu tersenyum, langkahnya yang awalnya cepat melambat ketika semakin mendekati bangku tempatku duduk. Aku segera menggeser tubuhku sebagai isyarat tanpa suara untuk mempersilakannya duduk di sebelahku.

"Jadi? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyanya setelah hening beberapa saat. Mungkin dia menyadari aku belum juga bersuara sejak kedatangannya dan tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera membuka topik.

Ditanya to-the-point seperti itu, akhirnya aku membuka mulutku. "Sakura-chan... Ada yang ingin kuceritakan padamu," ucapku tanpa basa-basi. Sejak awal aku memang segera ingin menumpahkan semuanya pada sahabatku ini.

Dan tampaknya gadis itu sudah mengerti maksudku dari saat aku menahannya sebelum dia beranjak ke gedung Hokage tadi. Hal itu tampak dari bagaimana dia sekarang mengarahkan perhatiannya penuh padaku tanpa banyak bertanya.

Aku menghela nafas sebelum memulai. "Kurasa aku tak bisa berlama-lama bersama dengan Hinata," suaraku pelan, tapi cukup untuk membuat Sakura-chan menoleh heran.

"Apa maksudmu? Apa ada yang terjadi di antara kalian sehingga kalian bertengkar?" tanyanya terburu-buru.

"Tidak. Sejujurnya, kami sudah mulai kembali dekat sekarang," jawabku tanpa mengubah nada bicaraku.

"Kalau begitu kenapa—"

"Karena itulah aku tidak bisa," potongku cepat. Kutopangkan kedua siku di atas lutut, dan membawa kepalan tanganku di depan dagu. "Perasaan aneh ini kian terasa dengan sikapnya yang normal seperti itu."

Tak mendengar respon dari Sakura-chan, aku kembali melanjutkan, "Kalau berada di dekatnya, aku merasa aneh... Aku tak bisa berhenti memikirkannya dan jantungku berdetak cepat. Kalau di dekatnya emosiku seakan tak terkontrol, aku terkadang berbuat manis atau bahkan ingin marah-marah tak jelas padanya," alisku bertaut dalam, "Tapi...kalau dia tak berada di sisiku, aku merasa ada yang hilang dan kerap kali aku kesal karena dia justru berada di sisi Kiba."

Dari sudut mataku, aku melihat Sakura-chan yang mulutnya mulai menganga. Namun aku mengabaikannya dan memilih untuk melanjutkan ceritaku sebelum niatku pudar.

"Awalnya kupikir itu hanya reaksi penyesuaian yang muncul karena aku selama ini sudah terbiasa dengan Hinata yang selalu melihatku—dan hal itu akan menghilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu," ujarku pelan. "Tapi...saat aku merawat Hinata yang demam di hutan waktu itu..." kalimatku menggantung, aku menelan ludah yang terasa begitu menyangkut di pangkal kerongkongan.

"Ada apa saat merawat Hinata?" tanya Sakura-chan tak sabar. Tampak sekali gadis itu sangat penasaran dan heran sekarang.

Ingatanku pun kembali memutar ulang malam itu, ketika aku berdua bersama Hinata di dalam pondok kecil di tengah hutan, ditemani guyuran hujan yang tak kunjung berhenti sepanjang malam.

.

Aku memperhatikan tiap sudut wajah Hinata yang terlelap. Mulai dari pipinya yang dihiasi warna merah, bulu matanya yang lentik menghiasi kedua matanya yang tertutup, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dagunya yang kecil.

Apa Hinata memang secantik ini?

Tidak, Hinata memang dari dulu seperti ini. Aku saja yang bias akan rupanya karena terbiasa melihat Sakura-chan. Selama ini Sakura-chan selalu terlihat cantik di mataku. Tapi Hinata... Hinata cantik. Dia baik dan ramah. Dia lemah lembut. Dia kuat dan beberapa kali menolongku.

Dan dia...memiliki Kiba di sisinya.

Hatiku kembali serasa diremas. Aku sadar bahwa kini sudah ada pria lain yang bersamanya.

Aku merapikan helaian halus rambut yang menutupi dahi gadis itu, mataku menatapnya nanar.

"Hinata..."

Jemariku seakan memiliki otak sendiri yang membawanya menyusuri pipi kemerahan gadis itu. Sapuan kulitnya terasa begitu halus di ujung jariku, membuatku dapat mendengar dentuman keras dari dalam rongga dadaku.

Suhu tubuhnya mulai turun sekarang—terima kasih pada obat racikanku—sehingga dia kini terlihat seperti tertidur lelap, raut kesakitannya sudah sirna.

Wajah tidurnya sangat manis...

Dengan kedua mata yang masih tak lepas dari wajahnya, aku merasa pangkal leherku sedikit pegal. Sebentar—sejak kapan aku membungkuk seperti ini? Menghiraukan bisikan di dalam kepalaku, aku menutup mataku dan malah semakin merendahkan kepala, menyentuhkan bibirku di atas permukaan bibir tipisnya.

Percikan bagaikan listrik yang kurasakan seakan menggelitik sudut hatiku, dan aku menyukainya. Jemariku yang tadi hanya menyusuri pipi Hinata, kini bergerak menangkupnya penuh. Aku merasakan pikiranku berkabut, hanya ada Hinata yang tersisa di dalamnya.

Jadi begini rasanya sungguhan mencium seorang gadis... Bibir Hinata sangat lembut, hangat, dan memabukkan. Apa ini juga yang dirasakan Kiba saat menciumnya...?

Kalimat terakhir yang muncul di otakku sontak menyadarkanku akan tindakan yang tengah kulakukan. Mataku terbuka lebar-lebar, dan secepat kilat aku melepaskan diri dari Hinata. Aku mengusapkan punggung tangan kanan ke bibirku, mencoba menghilangkan rasa menggelitik yang masih tertinggal di sana.

Mataku tertuju pada Hinata yang masih tak menunjukkan tanda-tanda adanya pergerakan selain dadanya yang naik turun menarik dan membuang nafas. Dalam hati aku bersyukur dia tak terbangun karena ciumanku.

Kurasakan wajahku memanas dan jantungku berdentum keras. Perlahan, aku mundur dan menyandarkan punggungku di dinding kayu, menarik salah satu lututku untuk ditekuk sehingga lenganku bisa tertopang di atasnya. Sebelah tanganku terangkat untuk mengusap rambut kuningku dengan kalut.

"Gawat...sebenarnya apa yang terjadi padaku?"

.

Sakura-chan melongo dengan mata membulat lebar ketika aku selesai dengan ceritaku, sementara aku sendiri hanya mengalihkan pandangan ke arah lain dengan malu. Tangan kananku menutupi mulut dan sebagian pipiku, berharap itu cukup menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah memerah.

"Jadi, Naruto, kamu mencium Hinata? Maksudku—kamu BENAR-BENAR mencium Hinata?!"

"Tak usah menyebutkannya berkali-kali, Sakura-chan. Itu memalukan," gumamku teredam di balik telapak tanganku. "Lagipula aku melakukannya tanpa sadar. Mungkin hanya terbawa suasana."

Gadis di sebelahku lalu mengubah ekspresi kagetnya menjadi sumringah. "Kalaupun kamu hanya terbawa suasana, tak mungkin juga sejak awal kamu memikirkan dia tanpa henti, 'kan?"

Aku terdiam memikirkan pertanyaan itu. Apa yang dikatakannya memang ada benarnya. "Aku saja tak mengerti kenapa bisa seperti itu," kataku akhirnya.

Sakura-chan tersenyum lembut padaku. "Sudah jelas, bukan? Kamu mulai jatuh cinta padanya, Naruto."

Aku bagai tersambar petir di siang bolong dan menatap gadis itu seolah-olah di lehernya tumbuh dua kepala. Melihat reaksiku yang terkejut, dia menggelengkan kepalanya sekilas.

"Kalau dari semua yang kamu ceritakan, kelihatan sekali kamu seperti seseorang yang sedang jatuh cinta."

Ekspresiku masih belum berubah dan menatapnya dengan kedua mata terbuka lebar. "Tapi...aku? Jatuh cinta pada Hinata yang sudah kutolak?" tanyaku ragu-ragu—yang mungkin sebenarnya kutujukan untuk diriku sendiri.

Sakura-chan beralih memandangi pepohonan di seberang jalan. "Kau tahu, Naruto, manusia adalah makhluk yang egois. Kadang kau tak menyadari pentingnya sesuatu, sampai akhirnya sesuatu itu menghilang dari sisimu atau diambil oleh orang lain. Barulah kau melihat betapa berharganya dia setelah berada bersama orang lain," tuturnya tenang, lalu menoleh padaku dengan lirikan meremehkan, "Dan jangan lupakan untuk ukuran manusia yang egois, kau adalah yang paling tidak peka."

Biasanya aku akan membela diri jika dikatai seperti itu, namun sekarang aku hanya bisa tercengang dan harus susah payah mengumpulkan kata-kata untuk membalasnya.

"Tapi...aku tiap kali berusaha bersugesti agar berhenti memikirkan dia, walaupun akhirnya perasaan aneh itu datang lagi hanya karena sedikit pengingat mengenai dia—"

"Kau tak bisa memperlakukan hatimu seperti kau mengedipkan matamu, Naruto," sela Sakura-chan cepat. "Kau bisa menutup matamu terhadap hal yang tak ingin kau lihat, tapi kau tak bisa menutup hatimu terhadap rasa yang tak ingin kau rasakan."

Kata-kata itu menggetarkan dadaku, aku tahu apa yang dikatakan Sakura-chan memang benar. Namun masih ada satu sisi dalam diriku yang tetap ingin menyangkalnya.

"Ta-tapi...aku tak mungkin memiliki perasaan seperti itu pada Hinata. Aku 'kan menyukai—" tenggorokanku tercekat. Entah kenapa lidahku terasa kelu dan ada sesuatu yang menahan untuk mengucapkan kelanjutan kalimat itu. "A-aku..."

Memperhatikan aku yang tengah berkecamuk dengan batinku sendiri, Sakura-chan tersenyum maklum.

"Kau lihat? Bahkan sekarang kau sulit untuk mengatakan bahwa kau menyukaiku," ucapnya membaca pikiranku. "Kurasa kau terobsesi padaku, Naruto. Kau terlalu terpaku pada satu titik sehingga menyangkal perasaan baru yang aku yakin, sebenarnya juga kau sadari tengah tumbuh dan berkembang di sudut hatimu."

Kalimat Sakura-chan sukses mengunci mulutku dan menghentikan keinginanku untuk kembali meracau. Aku menggigit bibir, merasakan sesuatu di dalam hatiku membuncah setelah kusadari keberadaannya.

Sahabatku tertawa kecil lalu bangkit dari duduknya. "Tenanglah, dan tanyakan pada hatimu. Kau akan tahu siapa yang sesungguhnya kau inginkan. Dan kali ini, apapun yang kau dapatkan sebagai jawaban kegundahanmu, jangan pernah menyangkalnya," dia menepuk bahuku sebelum berjalan menjauh, melemparkan lambaian dan senyum yang seolah mengatakan 'Semangat, ya!' padaku.

Sepeninggal Sakura-chan, aku termenung masih di bangku yang sama. Setiap kalimat yang dia ucapkan padaku kuputar ulang, dan kurenungkan setiap potongan katanya.

Aku memejamkan mata sejenak, kemudian merogoh saku celanaku. Mengambil benda yang tersimpan di dalamnya, mengangkatnya hingga ke atas wajahku, lalu menatapnya di bawah sinar matahari. Warnanya yang ungu transparan membuat mataku harus memicing silau karena pancaran sinar matahari yang masih lolos menuju mataku.

Angin musim gugur berhembus lembut, menggoyangkan rumbai tali merah yang menjuntai dari benda itu, menghasilkan dentingan suara tinggi dan merdu yang berbisik di telingaku.

"Aku...mencintai Hinata...?"

.

.

.

Semua pikiran tadi membuat otakku penat, dan kurasa berlatih sendirian akan cukup baik untuk sedikit penyegaran. Tubuhku memang tidak dirancang untuk berlama-lama diam, sih, salahkan juga staminaku yang cepat kembali terisi sehingga terlalu lama tak menggerakkan tubuh membuatku gatal ingin olah badan.

Aku melangkah menuju arena latihan dalam kecepatan standar. Tapi karena semua pikiran yang menjejali otakku selama ini tak bisa kusingkirkan begitu saja, kepalaku tertunduk dengan fokus entah terarah ke mana. Syukurlah aku sudah hafal jalan ke arena latihan di luar kepala, sehingga kakiku dapat bergerak sendiri membawaku ke sana.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Naruto?"

Awalnya aku ingin mengabaikan sapaan basa-basi itu dan melanjutkan berjalan. Namun rupanya orang itu belum menyerah dengan usahanya memperoleh perhatianku.

"Tak seharusnya kau mengabaikan sapaan temanmu yang merasa cemas padamu. Kenapa? Karena itu akan menyakiti perasaan teman yang menyapamu."

Kalimat itu seperti déjà vu dan sukses menghentikan gerakan kedua kakiku. Dengan malas aku melirik ke kiri, dan kulihat Shino tengah bersandar di bawah pohon rindang, bayangannya semakin menyembunyikan wajahnya yang sudah terhalang oleh tudung jaket. Aku mengernyitkan dahi.

Kalau aku tak tahu siapa dia, aku pasti sudah mengira dia adalah seorang teroris.

Seberapapun aku sedang tak ingin berbasa-basi, aku lebih benci dengan Shino yang ngambek. Dari pengalamanku selama ini, Shino bisa ngambek lama sekali dan akan terus menyinggung masalahnya pada kesempatan lain jika kembali bertemu dengannya.

Menghela nafas, dengan enggan aku mendekat dan ikut bersandar di sebelah pemuda misterius itu.

Tak apalah meladeninya sebentar, daripada tambah bikin masalah.

"Apa kau sedang memikirkan Hinata?" tanyanya spontan yang sontak membuatku berjengit. Orang ini gila, dari meniru penampilan teroris, sekarang dia berbicara seperti cenayang? Apa dia bisa membaca pikiranku?

"Kulihat kau jadi sering memikirkan Hinata semanjak Kiba bersamanya. Kenapa? Karena aku ingat bagaimana kau kesal sendiri di malam itu, saat seharusnya kau jaga malam menggantikan Kiba," lanjut Shino sebelum aku sempat menyela.

Lagi-lagi nama itu yang harus kudengar. Rasa kesal kembali muncul ke permukaan, aku memang tak pernah suka dua nama itu berada dalam satu kalimat.

Tampaknya Shino memperhatikan ekspresiku dari balik kacamata hitamnya. Pasalnya, dia kembali bertanya—atau membaca pikiranku—lagi.

"Apa kau sudah menyadari makna keberadaan Hinata di sisimu?" kini dia mengalihkan pandangannya ke langit, "Kurasa kau harus berterima kasih pada Kiba untuk ini."

Kalimatnya yang terakhir membuatku menoleh cepat dan menatapnya tajam. "Apa maksudmu? Untuk apa juga aku berterima kasih kepadanya?" Setelah dia mengambil Hinata dari sisiku? Dia bercanda?

Shino kembali memutar kepalanya menghadapku. Kulihat alisnya bertaut. "Kenapa? Karena kalau Kiba tak pernah mengatakan perasaannya pada Hinata, kau tak akan pernah menyadari perasaanmu seperti sekarang ini."

Mataku terbelalak menyadari kebenaran dalam ucapannya. Dia memang benar, aku mulai merasakan keanehan ini sejak kudengar mereka bersama. Dan perasaan ini berangsur-angsur semakin kentara seiring dengan semakin lama kusaksikan kebersamaan mereka.

"Kau tahu, Hinata adalah gadis yang baik, Naruto. Dia menghargai semua orang, termasuk Kiba yang tulus mencintainya," satu jarum tertancap di hatiku. "Dan Hinata menyadari itu. Makanya kini dia tengah berusaha membuka hatinya, menjadi kekasih yang sesungguhnya bagi Kiba. Kenapa aku tahu? Karena aku selalu memperhatikan teman-temanku."

Dari sebuah jarum, kini sebuah pasak besar seakan sudah menghujam hatiku yang membuatku meringis atas rasa perih yang dihasilkannya. Entah Shino menyadari atau tidak, kepalan tanganku sudah bergetar serta rahangku mengatup kuat-kuat—namun dia tak berniat untuk berhenti.

"Dia tak ingin mengecewakan Kiba yang selalu ada untuknya—"

Cukup sudah.

"Tak butuh semua penjabaranmu juga, 'kan?!" bentakku memotong kalimatnya. Aku sedikit terengah, menghadap Shino yang rautnya tak terbaca dengan gejolak emosi memenuhi sorotan tajam mata biruku.

"Tanpa racauanmu itu, aku sendiri sudah bisa melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri!"

Tanpa menunggu balasan dari pencinta serangga itu, aku segera memutar badan dan pergi dari situ. Sudah cukup yang kudengar tentang mereka. Sudah cukup yang kuketahui tentang mereka. Aku tak butuh informasi ekstra mengenai bagaimana Hinata bersungguh-sungguh dalam hubungannya kali ini.

Sambil berusaha menenangkan detak jantungku yang berpacu tak normal, aku menyusuri jalan yang agak berbatu, menendang asal bongkahan kerikil yang menghalangi jalanku. Mati-matian aku menggigit bibir untuk mencegah mulutku mengeluarkan berbagai macam umpatan kesal.

Kurasa ini adalah hari kesialanku, mulai dari niatku yang ingin curhat pada Sakura-chan malah berbuah kenyataan yang tak ingin kupercaya, lalu bertemu si sialan Shino dengan segala ceramahnya yang semakin menyudutkanku.

Langkahku terhenti tatkala melewati bangunan yang baru kukunjungi pagi tadi. Bangunan berisi puluhan tangan ahli dan terlatih yang menjadi tujuan bagi siapapun yang terluka atau tak sehat. Namun bukan ingatanku di sini pagi tadi yang menghentikan langkahku, melainkan sosok pemuda yang tengah berjalan santai keluar dari rumah sakit itu.

Rupanya kesialanku masih terus berlanjut, toh.

Untuk sesaat aku terpaku tanpa ekspresi melihatnya berjalan, lalu dia menyadari keberadaanku dan langsung mengangkat tangan kanannya seraya nyengir lebar.

"Yo, Naruto!"

Suara menyebalkan itu melunturkan ekspresi datarku, membuat mataku kembali memicing penuh emosi. Segera aku membuang muka, menggertakkan gigi kuat-kuat lalu beranjak dari sana. Kuabaikan Kiba yang menatapku heran, aku hanya mempercepat langkahku menuju tujuan awal.

Pasti Kiba baru selesai menjenguk Hinata. Memangnya ada apa dengan itu? Wajar karena dia mencemaskan Hinata. Raut wajah Kiba tadi seolah ingin berterima kasih padaku kalau saja tadi aku tidak langsung pergi dari sana. Apa yang salah? Kau sudah menyelamatkan kekasih tercintanya, sudah seharusnya dia menunjukkan rasa terima kasihnya padamu.

Gertakan gigiku terasa ngilu karena tenaga berlebih. Aku merasa bodoh karena berdebat dengan pikiranku sendiri.

Ah, aku bahkan lupa kalau aku memang bodoh...

Aku sudah sampai di arena latihan. Hamparan hijau rumput luas menyapa pandanganku, angin bertiup semilir dan seharusnya sudah bisa menenangkan siapapun yang tengah dilanda kegelisahan. Tapi bagiku ini belum cukup menenangkan hatiku.

Tanganku membentuk segel yang menjadi ciri khasku. "Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"

Puluhan kopian diriku muncul mengepung tubuh asliku. Kutatap sekilas mereka semua, tak ada yang berbeda sedikitpun dari fiturku yang asli. Kurasa mereka cukup sebagai lawanku dalam latihan kali ini.

"Ayo, maju!" aku memasang kuda-kuda sebagai tanda aku sudah siap bertarung.

Alih-alih menghadapi mereka satu per satu, semuanya maju bersamaan menyerangku. Aku melawan serangan klonku itu dengan beringas. Aku butuh melampiaskan segala kekesalan yang menumpuk sejak tadi. Aku butuh mengeluarkan gejolak menyesakkan di dadaku ini lewat bertarung.

.

"A-ano... Naruto-kun, ini..."

"Hmm? Apa ini?"

"Itu obat oles, Naruto. Terima saja."

.

Ingatan ketika babak penyisihan ujian chuunin itu tiba-tiba muncul setelah aku menendang satu kagebunshin-ku hingga lenyap. Ingatan ini kuketahui berasal dari kagebunshin yang kembali pada tubuh asliku saat dia menghilang. Apa klonku juga tengah memikirkan orang yang sama?

.

"S-setiap kali kau gagal, kau akan k-kembali bangkit...itulah yang me-merupakan kekuatanmu yang sebenarnya. Ku-kupikir Naruto-kun sungguh adalah orang yang kuat..."

.

Aku memukul klonku yang menyerang dari arah kiri hingga terjatuh dan lenyap. Pertanyaan bodoh. Sudah pasti mereka memikirkan hal yang sama, mereka itu adalah kau sendiri, bodoh!

.

"Karena kau adalah jinchuuriki yang mereka incar, aku menempatkan Hinata yang memiliki byakugan, serta Bull yang bersuara lantang dalam timmu."

"WORF!"

"Mo-mohon kerja samanya, N-Naruto-kun..."

"Oke!"

.

Satu lagi kagebunshin lenyap dengan tendangan berputarku. Jumlah mereka cukup berkurang, tapi tetap saja sisanya masih banyak untuk bisa mengeroyok diriku. Aku menerjang mereka disertai dengan teriakan keras.

.

"Kau telah mengubahku. Senyummu telah menyelamatkanku. Karena itulah aku tak takut mati untuk menolongmu. Karena aku...mencintai Naruto-kun."

.

Aku melenyapkan dua kagebunshin sekaligus dengan seranganku yang membabi buta. Potongan ingatan terakhir yang bergabung dengan otakku membuat dadaku sedikit berdenyit. Aku tak boleh berhenti. Mereka masih terus menyerangku.

.

"Aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu. Tapi, kita...akan terus seperti ini, 'kan?"

"..."

"Hinata...maaf, kau mengerti, 'kan?"

"Iya...aku mengerti. Terima kasih, Naruto-kun."

.

Bantingan keras pada salah satu klonku kuarahkan ke gerombolan klonku yang lain, melenyapkan beberapa sekaligus. Aku menggigit bibir menahan rasa perih di dadaku. Senyum Hinata saat itu...harusnya aku tahu bagaimana sakitnya dia mendengar kata-kata penolakan itu. Harusnya aku tak pernah mengucapkan kata-kata itu.

.

"M-maafkan aku karena sudah menghindarimu. A-aku tak berniat membuat Naruto-kun merasa tak nyaman..."

"..."

"A-aku akan melindungi Naruto-kun. Bukan hanya karena Naruto-kun adalah delegasi Konoha dalam misi ini, tapi juga karena Naruto-kun a-adalah temanku yang berharga. Aku berjanji."

.

"Kau bisa menutup matamu terhadap hal yang tak ingin kau lihat, tapi kau tak bisa menutup hatimu terhadap rasa yang tak ingin kau rasakan."

.

"Kau tahu, Hinata adalah gadis yang baik, Naruto. Dia menghargai semua orang, termasuk Kiba yang tulus mencintainya. Makanya kini dia tengah berusaha membuka hatinya, menjadi kekasih yang sesungguhnya bagi Kiba."

.

"RASENGAN!"

Jurus pamungkasku melenyapkan semua kagebunshin yang tersisa, melenyapkan mereka semua dalam kepulan asap. Aku terengah sendirian di tengah padang rumput yang kini mendadak sunyi. Serpihan-serpihan ingatan yang berkumpul bersamaan dengan lenyapnya jurusku bergabung menjadi satu putaran video yang seolah masih segar di benakku.

Kepalaku berat. Ternyata bukannya menyegarkan pikiran, berlatih dengan kagebunshin justru menambah beban dan terasa menyesakkan.

Aku jatuh terduduk dengan kedua tangan menahan berat tubuhku di tanah. Kupandangi tetes-tetes keringat bercucuran yang jatuh satu per satu membasahi helaian hijau rerumputan. Sambil mengatur nafasku yang memburu dan detak jantungku yang tak terkontrol, aku memejamkan mata merutuki kebodohanku selama ini.

Penyesalan selalu datang terakhir. Aku benci mengakuinya, namun kali ini itulah yang terjadi padaku. Aku baru menyadari posisi Hinata di hatiku ketika dia telah memutuskan untuk membalas perasaan pria lain.

"Kh..."

Gigiku bergemeretuk. Kedua tanganku yang juga mulai bergetar bergerak, jemariku mencengkram rumput tak berdosa di bawahnya. Meremasnya seolah itu adalah rambutku sendiri yang ingin kucabut sampai ke akar-akarnya.

"Si-sial..." kutemukan suaraku lemah. "Sial..." aku berhasil mengumpulkan tenaga untuk menegaskan suaraku.

"SIAAAAL!"

.

.

.

TBC

.

Glossary:

Omatase= maaf membuatmu menunggu

.

.

A/N: Yaaah, dan akhirnya setelah berbagai pukulan dan dorongan dari sana-sini, Naruto menyadari isi hatinya. Tapi bagaimana selanjutnya dia harus menangani perasaannya sendiri? Itu pertanyaan baru. Hhaha. ^^

Silakan meninggalkan komentar lewat review, Fi dengan senang hati menerimanya. ^^

Flame tidak akan Fi anggap, karena Fi percaya selalu ada cara yang lebih baik daripada menggunakan kata-kata kasar dan makian tak berdasar.

Mata raishuu! ^^

Arigatou gozaimashita—FiDhysta, 2014