Blank Screen
Pada suatu malam di akhir minggu pertama bulan Desember, Isogai memberinya tumpangan lagi untuk pulang. Namun kali ini pria itu seakan sangat-sangat memaksa, meski Kirara menolak, tetap saja ia berakhir di dalam audi hitam itu.
Meski begitu, hanya radio mobil yang mengisi perjalanan mereka. Keduanya sedang bersiap akan pembicaraan yang pasti akan datang, karena Isogai sendiri sepertinya tidak akan membiarkan Kirara pergi tanpa bicara.
"Jadi…yah," Isogai mengecilkan volume radio mobil. "Hazama-san…kau jadi ke Belanda Minggu ini?"
Kirara tersenyum padanya. "Iya. Kau mau oleh-oleh?"
Isogai memandanginya serius, seakan berusaha membacanya. Namun Kirara bergeming menunggu. Kekeras kepalaan Kirara ternyata menang. Isogai akhirnya tersenyum menyerah.
"Tidak…aku—" Isogai terdiam sejenak dan melihat seekor kucing hitam berdiri di trotoar memandangi mereka. Kirara mengikuti arah pandangan Isogai.
"Ah, kucing itu…" Kirara berkata. "Dia terus mendatangi jendelaku. Tapi apartemenku melarang hewan peliharaan…Isogai-san, apa kau tertarik memeliharanya? Kudengar kau suka hewan."
Isogai memandangi kucing bermata hijau tersebut.
"Entahlah, Hazama-san. Sepertinya kucing itu memandangimu terus. Aku rasa kau sudah dipilih olehnya."
"Memangnya kucing itu apa? Tongkat sihir? Tongkat memilih majikannya."
"Hazama-san, bisakah kau serius sebentar?"
Mobil itu hening karena Isogai benar-benar mematikan mesinnya. Kirara tetap tidak memandangnya, namun ekspresinya sudah tidak tertawa palsu.
"Aku tahu kau menganggap aku perhatian seperti ini pada semua rekan-rekan kerjaku. Tapi kau yang paling berbeda. Waktu kau pertama menunjukkan naskah novelmu…kau berbeda dengan yang sekarang ini."
Kirara diam saja. Antara ia mendengarkan atau tidak, Isogai tidak tahu. Dan ini membuatnya sedikit kesal, namun ia meneruskan dengan sabar.
"Waktu itu kau serius, kau akan menerbitkan novel itu, sukses, menjadi kaya, dan keluar dari perusahaan ini, menjadi penulis full time. Dan waktu itu aku sangat kagum; aku yakin kau pasti bisa melakukan apa saja. Waktu itu matamu bercahaya, warnanya burgundy, cantik sekali…"
"Astaga, Isogai-san, perhatianmu mengesankan sekali—"
"Hazama-san…" Isogai memotong candaan hampa itu dengan segera. "Kau juga memang bukan orang yang sosialis di antara rekan-rekanku, tapi kau sangat rajin, sekarang juga rajin, namun saat ini berbeda. Kau lebih palsu dari yang dulu. Sekarang kau lebih sering tersenyum agar tidak perlu berbicara serius dengan siapapun. Dulu kau jarang berekspresi, namun itu karena kau hanya benar-benar tersenyum saat bahagia."
Kirara akhirnya menatap Isogai dengan sangat, sangat sebal. Ia tahu apa yang akan Isogai katakan, tapi ia tidak ingin mendengar hal-hal seperti ini. Ia tidak tahu apa yang diinginkan Isogai dari mengatakan semua ini.
"Terima kasih atas tumpangannya." Ujarnya, dan melepas sabuk.
Isogai segera mengunci pintu mobil.
Kirara membeku, lalu melirik dingin padanya.
"Aku tidak menginginkan perhatian ini, Isogai-san. Bisakah aku pulang? Aku harus siap-siap ke Belanda. Kau masih mau menghalangiku dari liburanku?"
Isogai menggeretakkan gigi, namun ia benar-benar habis kata. Kirara membuka paksa kunci pintu mobilnya dan melangkah keluar, mengucapkan selamat malam, dan berjalan pergi.
Kucing hitam itu mengikutinya, namun kemudian memanjat pagar apartemen untuk menyusul ke apartemen Kirara.
Isogai pun termenung dan dengan kesal mengacak-acak rambutnya. Ia belum siap bicara. Ia hilang kata.
