"KOMET and MAID"


.

.

.

Gak jadi Hiatus tapi updatenya lama XP

.

.

.


BALASAN REVIEW :D


KK LOVERS : Iya iya tanggung jawab hehehe :D

KK LOVERS 2 : Kagak hiatus tapi akan lama updatenya :D gpp kan?

Kit-chan : Thanks :D

Dci : Anoo.. Rika siapa ya ? Bebek belum makai karakter lain selain di KK O.O?

athena athiya : Iya Makasih reviewnya :D tapi maaf kagak update kilat XP

devi Yolanda : Ah iya masama. Review kalian pasti aku balas kok :D Hehehe ini udah lanjut :D

nuri : Iya udah next kok :D Salam kenal :D

Kujo suzuka : Masalah nerima gak nerima baca aja sampai ketemu jawabannya XP

Ikina : Ohh iya hehehe.. udah lanjut :D Salam kenal ya :D


MAKASIH REVIEWNYA :D


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 9"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"LOVE"


.

.

.


"angin berhembus menerpa kau yang berdiam diri
itu sangat menyenangkan hingga kunyanyikan sedikit lagu"


Angin malam berhembus mengantarkan kebahagiaan. Membawa angan-angan yang akan terus berkembang. Bulan bersinar begitu terangnya.

Kazune melepas pelukkanku, ia bangkit dari duduknya. Ia menatap mataku lekat-lekat. Tak lama kemudian saat kedua mata mereka saling bertemu Kazune tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus.

"Ke-Kenapa Kazune?" Tanyaku heran.

"Kenapa tiba-tiba memintaku menjadi pacarmu? Kau aneh Karin hehehe.."

"Mouuu ,… itu karena identitasku terbongkar jadi aku membutuhkan seseorang untuk melindungiku." Jawabku jujur. Aku memanyungkan bibirnya ke depan.

"Kau bilang identitasmu terbongkar. Kenapa kau membongkarnya padahal akukan kalah?" Tanya Kazune heran.

"Karena aku merasa penampilan band kalian lebih baik daripada bandku." Jawabku. Beberapa menit berlalu dan salah satu dari kami tak ada yang berbicara lagi.

"Ayo pulang." Ajaknya. Aku ingin tau masa lalunya. Setelah dia menyanyi seperti itu aku merasa penasaran dengan masa lalunya. Fikirku.

Kami berdua berjalan beriringan. Ia masih terdiam. Seperti ada yang menganggu fikirannya. Dia tak menatapku lagi sejak dia mengajakku pulang. "Aku membawa sepeda, mau aku antar pulang?" tawarnya. "Aku ingin pulang ke apartemenmu." Jawabku tegas.

"Hee.." Dia yang merasa terkejut dengan jawabanku mengalihkan pandangannya. "Aku mau jadi Maid-mu." Aku menundukkan kepalaku tak berani menatap mata Kazune.

"Heemm… kau cukup aneh. Kalau begini jadinya, berarti pertarungan kita di atas panggung tak berarti. Kau bahkan melakukan hal yang aku minta padamu saat aku menang, tapi walaupun aku kalau kau masih melakukannya. Jangan-jangan kau beneran menyukaiku." Kazune mengangkat sebelah alisnya.

"Huh kalau tak mau ya sudah." Aku alihkan pandanganku darinya. Wajahku bener-benar terlihat manja saat ku dengar analisisnya yang tepat sasaran. "Baiklah. 2 Minggu. Kau akan menjadi Maid-ku selama 2 minggu." Kazune tersenyum ke arahku, senyumnya benar-benar membuat wajahku memerah.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Aku berdiri di depan gerbang sekolah Sakura Gaoka High School. Sudah 10 menit aku menunggu tapi Kazune belum terlihat juga. "Miyon." Panggilku lirih. Aku lihat Miyon sedang berbicara dengan seorang cowok. "Cowok itukan temannya Kazune." Seruku.

Aku bersembunyi di balik gerbang, ku lihat sesekali Miyon dan cowok itu tertawa. Tak lama setelah mereka tertawa Miyon terlihat sangat sedih. Cowok itu merubahkan tubuhnya pada Miyon.

"Mereka berpelukan!" Teriakku. "Upss." Aku langsung membekap mulutku dengan kedua tanganku. "Karena mereka berduakan pacaran." Kazune berbisik tepat di telingaku. "Ehh…" Sontak ku tatap mata cowok yang kini berdiri di belakangku.

Kedua tangannya memegangi sepeda goes. "Ka-kazune sejak kapan kau di situ dan apa maksudmu mereka pacaran?" Tanyaku beruntun.

"Huufftt… itu bukan urusanku. Aku mau pulang." Kazune menaiki sepedanya dan menatapku. "Huhh.." dengan tampang kesal aku berdiri di belakang Kazune. Ragu-ragu aku meletakkan kedua tanganku di bahu Kazune yang sedikit berotot.

"Pegangan yang kuat." Perintahnya. Aku hanya menurutinya tanpa mengatakan apapun. Wajahku semakin memerah saat kami melewati jalanan kota yang ramai. Kazune mengayun sepedanya dengan gagah.

Aku merasakan panas dari suhu badan Kazune menjalar di kedua tanganku. Rambut Kazune yang terbang tertiup angin malam membuatku dapat mencium aroma shampo mint yang Kazune pakai.

"Apa kau makan batu?" Pertanyaan Kazune berhasil menyadarkaku dari imajinasi tentangnya. "Moouu.. enak aja." Jawabku kesal. "Kau berat tahu." Walau mengatakan hal kejam seperti itu Kazune malah tertawa.

"Hahahaha.." Aku yang sedari tadi di belakangnya ikut tertawa. Walau Bulan selalu menyinari, walau Bintang selalu mengihasi, tapi malam ini tawa Kazune-lah yang menghiasi malamku. Aku ikut tertawa bersamanya. Perjalanan panjang menuju apartemen Kazune terasa menyenangkan.

15 menit perjalanan dari sekolah ke apartemen Kazune. Jam di tanganku menunjukkan pukul 11.00 PM. Kazune memarkir sepedanya sedangkan aku berdiri mengikutinya di belakang. Aku merasa ada seseorang yang menatapku.

Ku balikkan badanku dan mencari sosok itu. "Karin ayo masuk." Kazune meraih tanganku. "Jeprett…" Cahaya kamera DSLR mengenai wajah kami berdua. "Jangan-jangan dia wartawan." Seruku.

"Sial." Kazune melepaskan tanganku segera berlari ke arah wartawan. Dengan sigap wartawan itu menaiki sepeda motornya dan berlalu meninggalkan kami.

"Menyebalkan." Teriak Kazune kesal. Aku melangkahkan Kakiku ke arah Kazune. "Ayo masuk." Aku tersenyum ke arahnya. Kazune memimpin jalan dan aku mengikutinya di belakang.

Kami hanya diam membisu saat menju ke tempat tinggal Kazune. Walau aku sudah pernah ke sini sebelumnya tetap saja ada perasaan aneh yang aku rasakan. Tak lama setelah kami menaiki lift kami berdua sampai di lantai 27.

Kazune membuka pintu apartemennya. Sesaat setelah pintu terbuka Kazune masuk begitu juga denganku. Wajah sedih kini meliputi Kazune. Mungkin ia masih kesal dengan wartawan tadi. Fikirku.

"Sudah jangan terlalu di fikirkan." Aku tersenyum. Kazune menatapku, kemudian dia juga tersenyum tapi kini senyuman yang menyeringai. "Buatkan aku makanan. Aku lapar tahu." Perintahnya mengintimidasi. "Hei aku berusaha menghiburmu kenapa kau malah seenaknya." Bentaku sewot.

"Setelah kau menginjakkan kakimu di apartemenku kau adalah Maid pribadiku." Kata-kata tegas Kazune berhasil membuat wajahku memerah padam. Marah bercampur malu.

"Baiklah tuan." Dengan nada malas aku berjalan meninggalkannya. Aku memasuki dapur dan aku buka pintu kulkas, tapi yang aku temukan hanyalah mie instan.

"Hanya ada mie instan apa kau mau?" teriakku. Tak terdengar jawaban. Merasa heran dengan apa yang ia lakukan kulangkahkan kakiku meninggalkan dapur, tapi sebelumnya aku sudah memanaskan 2 mie instan.

"Kazune." Panggilku, tapi masih tak ada jawaban. Kakiku terus melangkah hingga aku sampai di depan kamar Kazune. Pintunya sedikit terbuka. Aku mencoba mengintip apa yang dia lakukan tapi yang aku lihat hanyalah meja belajar.

Karena penasaranku putuskan untuk membuka pintu penghalang. Ragu-ragu ku arahkan tanganku meraih gagang pintu. Jantungku sepertinya akan berhenti saat Kazune melihatku melakukan hal konyol ini. Sedikit demi sedikit aku mendorong pintu itu masuk ke dalam.

"Sedang apa Karin?" Suara orang yang paling tak inigin aku dengar tiba-tiba mengiang di telingaku. Dengan gerakan patah-patah ku arahkan kepalaku kebelakang. "Ka-kazune, ti-tidak a-a-aku tak melakukan apapun." Jawabku gagap.

Kazune berdiri di belakangku dengan mengunakan topi hitam yang menutupi sebagian rambutnya. Celana jins selutut dan T-shirt hitam ia kenakan, senada dengan warna kulitnya dan sifatnya.

"Ke-kenapa kau tak menjawab panggilanku?" Tanyaku masih gugup. "Maaf aku habis mandi." Jawabnya santai. Kazune berjalan melewatiku dan duduk di ranjangnya. Aku berdiri di depan pintu, hanya melihat dan mengamati.

"Masakanmu sudah selesai?"

"Emm.. hanya ada mie instan."

"Bisa kau bawa kemari."

Aku hanya mengangguk kemudian menuju dapur. Ku ambil mie instan yang sudah siap makan. Sesampainya di kamar Kazune ku sodorkan salah satu mie di tanganku kepada Kazune.

"Arigatou." Kazune tersenyum. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. "Selamat makan, Karin." Ia menyerupu mie buatanku. Aku pun juga memakan mie itu dengan lahapanya.

"Kulihat apartemen ini hanya punya 1 ranjang, aku tidur di mana nanti?" aku melihat sekeliling ruangan apartemen yang cukup lengkap. "Heemm… entah. Mau tidur denganku?" ajaknya. Kazune menyeringai.

"Jangan bercanda." Aku membentak Kazune dengan kasar. "Heemm.. kau nanti tidur di ranjangku, aku akan tidur di ruang tamu." Perkataannya berhasil menenangkanku.

Setelah acara makan mie bersama, Kazune beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Entah kenapa tiba-tiba tanganku bergerak dan meraih tangan Kazune. "Kenapa?" tanyanya heran.

"Untuk mala mini saja, tak apa kalau kita tidur bersama. Tapi jangan menyentuhku." Aku mengeluarkan aura membunuh. Kazune bergidik ngeri, ia mengangguk tanda mengerti.

Semua lampu di apartemen Kazune telah padam. Kazune tertidur pulas di sampingku. Sebagai pembatas aku menaruh guling di antara kami.

Aku menatap wajah damai Kazune yang sedang tidur. "Maaf telah menciummu saat kau mengantarku pulang." Gumamku. Ku tutp kedua mataku. Mencoba meyusul Kazune ke alam mimpi.

"Cupp…" kurasakan seketika ada sebuah benda lembut menempel di pipiku cukup lama. Tapi kurasa itu hanya ilusi.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Bagaimana nasip Karin kalau foto-foto yang di ambil wartawan itu menyebar? Apakah Kazune akan melindunginya?

Lalu, apakah yang akan terjadi dengan Karin dan Kazune selama 2 minggu Karin menjadi Maid Kazune?


.

.

.


SEE YOU NEXT CHAPTER :D

Makasih buat yang udah baca dan mereview :D


By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.