COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 9
I am no a hero
I am not an angel
Man who's trying to love her
-"In her eyes", Josh Groban-
.
.
Rasa ajaib itu membuatku menemukanmu di antara beribu bayangan.
Aroma ramen yang baru dihidangkan langsung menyergap indra penciuman Donghae dan Yesung. Mereka sedang berada di kedai ramen dengan gaya old style—sangat sederhana. Meja-meja kayu berjejer lengkap dengan bangku plastik. Semua meja hampir penuh sehingga terasa sangat riuh.
Yesung tidak memberi komentar apa-apa tentang rumah makan ini karena hari ini Donghae melunasi janjinya untuk mentraktir saat mendapatkan gaji pertamanya. Sahabatnya itu memesan dua mangkuk ramen dan minuman yang siap disantap dihadapannya.
"Sebaiknya, Hae, daripada kau mentraktirku, lebih baik kau simpan uang makanku untuk anakmu. Lumayan kan?" ujar Yesung.
"Janji tetap janji, Yesung-ah, ingat itu!" Donghae mengaduk ramennya.
Yesung mengangkat bahu. "Oh ya, tadi aku lihat surat dari Jung Corp di mejamu." Ia mulai menyuap ramennya.
"Ya, aku sudah baca."
"Kau pernah melamar disana?" tanya Yesung.
"Beberapa bulan lalu."
"Dan surat tadi?" Yesung bingung dengan sikap sahabatnya.
"Aku diterima." Donghae terdengar tidak begitu tertarik. Ia mengunyah ramennya seraya melemparkan pandangannya ke meja lain, lalu kembali menatap sahabatnya sekilas. "Tapi, aku menolaknya."
"Apa? Kau gila, Hae!" Yesung meneguk minumnya karena hampir tersedak, berusaha mengatur napas, dan kembali bicara. "Kau menolak Jung Corp? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Hae. Seharusnya kau bersyukur, kan? Kau bisa memperbaiki hidup, bisa mendapatkan apa yang kau inginkan."
Donghae menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, Yesung-ah. Tapi, saat aku menikmati hidupku di sini, aku mulai berpikir untuk tidak mengejar sesuatu yang tidak aku butuhkan, karena kalau aku sudah berada di dalamnya, aku akan sulit keluar."
"Kau lucu, Hae." Yesung menelan makanannya, kemudian tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Hyukjae?" Ia asal menebak.
Donghae menelan makanannya susah payah. Tiba-tiba, bayangan lelaki manis itu melintas dalam benaknya dan sebuah perasaan yanng sempat hadir ketika berkedekatan dengannya muncul. Donghae berusaha mengalihkan pikirannya. "Bukan." jawabnya tenang. "Karena diriku sendiri. Karena hidupku. Karena Haru." Ia menatap sahabatnya. "Kalau kau pernah merasakan kehilangan, kau pasti tahu, Yesung-ah, sesuatu yang hilang sulit untuk kita miliki lagi."
Sebelah alis Yesung naik mendengar penuturan itu. Ada nada yang tidak biasa disana. "Hae, boleh aku tahu, selama lima tahun kau pernah memikirkan Hyukjae?" Yesung bertanya ragu-ragu.
Donghae menghela napas panjang dan mengusap keningnya yang dipenuhi keringat karena pedas. "Kadang-kadang."
"Pernah berpikir kalau kau masih mencintai dia?" Yesung memikirkan yang lebih sederhana. "Maksudku, kau masih tertarik?"
Donghae menghindari tatapannya. Ia meneguk minumannya dan mengangkat bahu. "Bagaimanapu, kami pernah hidup bersama."
Yesung mengangguk-angguk. Ia menyudahi makannya dan meneguk minumnya. Sejenak ikut terdiam, mengikuti suasana yang diciptakan Donghae.
"Aku suka berpikir saja, bagaimana cara terbaik untuk sebuah permohonan maaf." Donghae menyuap makanannya yang terakhir.
Yesung tersenyum simpul. Ia menepuk bahu laki-laki itu. "Kita punya banyak kesempatan, Hae. Tapi, dari kesempatan-kesempatan itu, hanya ada satu kesempatan emas, yang mungkin jarang kita dapatkan."
"Satu dan sekali seumur hidup. Aku sendiri tidak tahu kapan datangnya."
.
.
.
Akhirnya selesai juga! Hyukjae menghembuskan napas lega setelah berhasil menumpuk mainan anak-anak ke dalam satu kardus. Hampir dua jam ia melakukannya dan pinggangnya seakan-akan remuk. Sejenak ia berdiri, menghimpun kekuatan sebelum membawa kardus itu ke ruang guru. Diseka peluh yang membasahi keningnya, lalu menarik, menahan dan menghembuskan napas. Dilakukannya berulang kali.
Setelah merasa energinya cukup, Hyukjae membawa kardus itu dengan langkah pelan keluar dari pintu kelas. Namun, ketika dibatas lantai, tubuhnya goyah dan mainan-mainan jatuh. Hyukjae mendengus kesal. Ia meletakkan kardus di lantai dan memunguti mainan-mainan itu.
Hyukjae menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Tangannya meraih satu-satu mainan dengan sedikit gemetar. Hampir kehabisan tenaga. Kepalanya terasa pening dan tubuhnya lemas. Ia menghentikan kegiatannya sejenak untuk meredakan kunang-kunang di matanya. Dilihatnya sekeliling sudah sepi. Sungmin pamit lebih dulu karena anaknya sakit. Dan penjaga sekolah entah berada dimana. Hyukjae mulai merasa putus asa.
Suara langkah kaki membuat Hyukjae mengangkat wajah. Dilihatnya Donghae melangkah kearah kelas, lalu berhenti tidak jauh darinya. Donghae tidak mengatakan apa-apa, sementara matanya melihat mainan di lantai. Lelaki itu segera berjongkok, meraih benda-benda itu dan memasukkannya ke kardus.
Hyukjae memperhatikan wajah Donghae. Ia tidak mengerti mengapa darahnya tiba-tiba mengalir deras. Lelaki itu masih membisu dan tidak mengangkat wajahnya. Hyukjae mengalihkan pandangan pada mainan-mainan, berusaha keras mengendalikan dirinya dan menyembunyikan detak jantungnya. Dengan sisa tenaga, ia ikut memasukkan mainan ke kardus. Otaknya ditugaskan untuk tidak menghiraukan aroma apa pun yang tertiup dari laki-laki itu. Tetapi, sesekali, matanya mencuri pandang ke wajah yang menunduk itu. Aura karismatik memancar.
Setelah semua mainan berada di dalam kardus, Donghae membawakan kardus itu ke ruang guru. Hyukjae berjalan di sisinya. Kenapa terasa begitu nyaman? Kenapa ia tidak lagi merasa terusik? Tapi, tidak. Hyukjae menolak semua itu dalam hati. Ini hanya perasaan yang sekejap muncul karena ia begitu lelah dan ia tidak mampu berpikir. Hyukjae mengikuti langkah laki-laki itu memasuki ruang guru dengan ekspresi setenang mungkin.
Kardus itu diletakkan Donghae dimejanya. Laki-laki itu menghembuskan napas, membuang lelahnya. Hyukjae memberikan air mineral gelas pada Donghae tanpa berkata-kata. Donghae mengulas senyum tipis dan singkat. Sial! Hyukjae kesal pada reaksi tubuhnya menghadapi senyum itu. Ingin rasanya ia menyuruh laki-laki itu segera keluar dari ruang guru karena semakin lama kehadirannya membuat pengap dan sulit bernapas.
"Terima kasih," Ucap Hyukjae datar.
"Ada yang bisa saya bantu lagi?" Donghae meneguk minumannya. Suaranya seperti tidak mengandung emosi apa pun.
Hyukjae menggelang. Tubuhnya semakin kaku. Darahnya mengalir semakin cepat. Benar-benar tidak biasa. Ia suka menatap sosok yang berdiri didekatnya. Tuhan, apa yang sedang terjadi dengannya? Hyukjae menarik napas dalam-dalam sebelum bertanya. "Ada keperluan apa Anda kembali ke sekolah?"
"Tempat minum Haru ketinggalan. Boleh saya ke kelas mengambilnya?"
"Silakan." Hyukjae menganggukkan kepala dan memaksakan senyumnya. Ia bisa bernapas lega melihat Donghae keluar ruang guru. Matanya mengikuti punggung itu menjauh. Mengapa hanya menatapnya saja mampu membuat jantungnya berdetak cepat? Apa diam-diam ia mulai terlena pada Donghae? Tidak! Ia tidak akan membuat dirinya masuk (lagi) kedalam perangkap laki-laki itu. Tidak akan pernah!
.
.
.
Udara sejak pagi tidak begitu cerah. Langit dipayungi awan hitam, bersembunyi di balik daun-daun yang bergoyang ditiup angin. Hari menuju senja, angin terasa semakin dingin. Bebarapa kali sempat terasa derunya, meniup debu dan menerbangkan daun-daun kering. Hyukjae mengusap lengannya mengusir dingin seraya melangkah ke belakang sekolah. Senyumnya mengembang melihat gadis kecil berikat dua sedang menyentuh ikan-ikan dikolam. Saat ikan-ikan bergerak menyipratkan air, anak itu tertawa.
Selama seminggu ini, baru hari ini Hyukjae bisa berada begitu dekat dengan Haru tanpa kehadiran Donghae. Kali terakhir ia bertemu Donghae, saat lelaki itu membantunya membawakan mainan. Hari-hari lainnya, ia tidak pernah datang lagi. Ada yang berbeda saja rasanya, tidak tahu dimana. Seperti kebiasan yang tiba-tiba saja berubah. Tapi, kenapa? Bukankah memang keadaan seperti ini yang ia inginkan?
Hyukjae berjongkok disamping Haru. "Haru sedang apa?"
"Main sama ikan-ikan." Haru mengalihkan pandangannya. Tangannya terus berusaha menggapai makhluk licin itu.
"Haru suka ikan?" Hyukjae menikmati keriangan wajah mungil itu.
Haru mentap Sonsengnimnya dan mengangguk. Rambutnya bergerak mengiringi gerakan kepalanya. "Iya, Sonsengnim. Dulu Appa punya ikan kecil-kecil, tapi terus ikan-ikannya mati. Soalnya, Appa pulang malam terus, ikannya tidak dikasih makan."
"Appa suka pulang malam?" Sebenarnya, Hyukjae tidak aneh dengan hal itu. Kesibukan Donghae dikantor membuat lelaki itu sulit membagi waktu. Dalam sehari, bisa ada beberapa kali rapat, belum lagi jika harus rapat di luar kota. Mengingat hal itu membuat Hyukjae bertanya-tanya, siapa seseorang lain yang sekarang behubungan dengan Donghae setelah Sohyun? Ia tahu banar, sifat buruk tentunya tidak mudah diubah.
"Sekarang tidak, Sonsengnim." Geral mulut Haru menambah kelucuannya. "Appa, kan, setiap hari mengajak Haru ke tempat Yesung Ahjussi, terus Haru menunggu Appa kerja." Anak itu kembali tertawa saat ikan menyipratkannya air.
Yesung? Kening Hyukjae mengerut. Sejak kapan cafe Yesung berubah menjadi penitipan anak? Setahunya, kantor cabang tempat Donghae bekerja tidak berada didekat jalan Busan. Atau Donghae sengaja menitipkan Haru pada Yesung dan menjemputnya saat pulang? Kenapa tidak mencari jasa pembantu saja? Hyukjae semakin tidak mengerti alur pikiran lelaki itu.
Kemudian, Hyukjae mendengus kesal. Kenapa ia begitu peduli? Kenapa begitu ingin tahu? Ia tidak perlu mengurusi kehidupan Donghae. Tidak perlu mencari tahu. Namun, bagaimana pun caranya ia tidak peduli, ia tidak bisa mendustai hatinya yang gusar.
Terdengar suara langkah terhenti di belakang mereka. Hyukjae dan Haru sama-sama menoleh. Donghae berdiri disana dengan penampilan cukup berantakan. Lengan kemejanya digulung asal-aslan, kusut, rambutnya yang biasa tersisir rapi, tampak tak beraturan. Haru langsung berlari ke pelukan lelaki itu.
Hyukjae dan Donghae sama-sama terdiam. Wajah keduanya memperlihatkan ketenangan sekaligus kegusaran yang sama. Hyukjae menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu padanya tentang apa saja. Tetapi, sampai beberapa saat berlalu, Donghae masih tidak melontarkan apa pun, hanya berkata pelan pada Haru dan anak itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Terima kasih sudah menjaga Haru." Hanya itu yang terucap bibir Donghae sebelum melangkah pergi.
Deru angin cukup kencang terdengar di sekitar yang senyap. Hyukjae menatap Donghae yang terus mengecil hingga menghilang dibalik bangunan. Donghae mengerti hidupnya tidak ingin diganggu, tidak ingin ditanyai sesuatu dari masa lalu mereka. Namun, kali ini, perasaannya bukan lega, melainkan kecewa.
.
.
.
Sekian lama aku bagai terperangkap dalam jeruji, kini aku terpaku melihatmu melemparkan kunci dan menunggu di depan pintu.
Matahari mencapai titik kulminasinya. Begitu terik. Panasnya terasa hingga di bawah kulit. Embusan angin terasa kering. Tidak ada sisa kesejukan di udara. Jalan tanah terasa berat untuk dilewati.
Jika saja tidak sedang dikejar-kejar waktu sampai di rumah, Hyukjae akan menikmati perjalanan seperti saat ini. Namun nyatanya, ia benar-benar tidak tenang, ditambah dengan bayangan-bayangan yang terjadi pada dirinya hari ini.
Rak di kelas ada yang rusak, baru bisa diperbaiki usai pelajaran. Seorang orangtua murid berpidato panjang menceritakan kegembiraannya karena anaknya sudah bisa membaca lancar. Tidak ada yang membantunya mengambil kumpulan dokumen diatas lemari besar sehingga ia harus menggunakan tangga yang sudah goyang dan terjatuh. Kakinya begitu nyeri karena terkilir. Dan sekarang, ban sepedanya bocor. Benar-benar membuatnya lelah.
Hyukjae hampir berteriak frustasi. Dengan susah payah, ia menuntun sepedanya sambil menggigit bibir menahan nyeri. Langkahnya tertatih mencari tempat teduh. Begitu melihat sebuah pohon besar, ia segera bersandar dibatangnya. Perlahan-lahan, dihelanya napas, mencoba mengurangi sesaknya, lalu diusapnya peluh di dahi seraya menahan nyeri yang semakin terasa. Rumah bibi Jang masih sangat jauh. Ia tidak akan sanggup bertahan sejauh itu.
Hyukjae menghimpun tenaga untuk menegakkan tubuhnya. Sekelilingnya sepi, tidak ada yang bisa dimintai tolong. Kepalanya terasa pening oleh panas yang menyengat. Seluruh otot-ototnya lemas.
"Hyukjae!"
Mata lelaki manis itu melebar mendengar suara yang sangat dikenalnya. Donghae! Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan sedikit tergesa. Wajahnya terlihat cemas. Hyukjae memandanginya tak percaya. Sejak Donghae datang lagi dalam hidupnya, ia tidak pernah merasakan lega dan senang sekaligus seperti ini.
"Lee Sonsengnim, tidak apa-apa?" tanya Donghae panik.
"Kaki saya sakit...," gumam Hyukjae lirih.
"Masih bisa jalan?"
Hyukjae berusaha menggerakkan kakinya, tetapi rasa sakit langsung menyerangnya. Ia berpegangan pada pundak Donghae sambil menggigit bibir. Lelaki itu segera menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sebelum sempat berkata-kata, Hyukjae terkejut merasakan lengan kokoh lelaki itu melingkari pinggangnya dan mengangkat tubuhnya.
Darah Hyukjae berdesir mendapati dirinya merasa nyaman dan terlindungi berada dalam rengkuhan Donghae. Kepalanya bersandar di dada bidang itu, mendengar degup jantungnya sendiri. Tubuh Donghae memberinya kehangatan. Rasa hangat yang begitu dikenalnya.
Lewat sudut matanya, Hyukjae melirik wajah Donghae, yang tampak cemas. Tidak ada gurat lelah meski peluh mulai menuruni pelipisnya. Lelaki ini yang dulu sangat dicintainya. Lelaki ini dulu tempat ia menitipkan angannya. Lelaki yang meninggalkannya. Lelaki yang menghancurkan mimpi-mimpinya. Juga lelaki yang sekarang membuatnya tak mengerti perasaannya sendiri. Hyukjae gelisah oleh keinginannya berlama-lama dalam kenyamanan ini.
Donghae membuka pintu depan mobilnya, lalu membantu Hyukjae masuk dan duduk. "Jangan banyak bergerak dulu."
"Sepeda saya?"
"Saya ikat dibagasi. Tunggu sebentar."
Hyukjae mengangguk. Perasaannya semakin sulit dimengerti. Bentuk perhatiannya sangat berbeda dari sikap Donghae di ujung rumah tangga mereka. Benarkah yang dikatakan Sungmin, perjalanan waktu bisa mengubah Donghae?
Saat duduk dibelakang kemudi, Donghae mengatur napasnya. Setelah sedikit tenang, ia baru mulai bicara. "Maaf lama. Tadi aku ke minimarket diujung jalan dulu." Diulurkannya air mineral botol. "Minumlah."
Minimarket di ujung jalan? Hyukjae terhenyak. Lelaki itu berjalan sejauh itu dipanas terik seperti ini hanya untuk membelikan air mineral untuknya? Hyukjae menunduk, menyembunyikan resahnya. "Terima kasih." Ia meneguk teh manisnya. Cairan itu memberikan energi baru untuknya.
"Sudah lebih baik?" tanya Donghae, masih dengan anda cemas.
"Ya." Senyum tipis Donghae mengembang. "Terima kasih banyak."
Donghae membalas senyumnya.
Senyum dilekuk bibir seimbang itu membuat Hyukjae tertegun. Tanpa pernah diduganya, hatinya bergetar hingga nyaris tak mampu mengalihkan pandangannya. Mata pekat itu seakan-akan menjelajah ke segala sudut hatinya. Dengan susah payah, Hyukjae menoleh, meredakan getar di dadanya. "Mana Haru?" Hyukje melihat kursi belakang yang kosong.
"Dia ada di rumah. Tadi saya antar dia pulang dulu, baru beli perlengkapan cat. Kebetulan, anak tetangga main dirumah." Donghae menunjuk bungkusan berisi kaleng cat dan kuas di bawah kursi belakang.
Hyukjae mengangguk-angguk saja. Kepalanya disandarkan di jok, merasa tubuhnya lebih ringan. Sesekali ia melihat lelaki yang berkonsentrasi menyetir itu, tidak tahu bagaimana mengutarakan rasa terima kasihnya. Hatinya jauh lebih lega dengan keadaan seperti ini.
.
.
.
Bibi Seo, pembantu rumah tangga di rumah Bibi Jang, segera membantu Hyukae begitu melihatnya turun dari mobil Donghae dengan dirangkul. Ia kebetulan baru akan menutup pintu pagar setelah Bibi Jang pergi dengan taksi langganannya. Tangannya segera merangkul Hyukjae memasuki halaman rumah, sementara Donghae menurunkan sepeda.
Mata Donghae menatap punggung lelaki manis yang tertatih itu. Perasaannya masih cemas. Ia tidak tahu pikiran macam apa yang membawanya bertemu Hyukjae tengah mengerang sakit di jalan. Apakah itu satu kesempatan yang dikatakan Yesung? Ataukah takdir yang menuntutnya untuk menyelamatkan lelaki manis yang pernah mengisi hidupnya itu?
Setelah meletakan sepeda di halaman, Donghae melangkah masuk kerumah. Aroma sejuk menguar dari rumput-rumput dan pepohonan hijau. Begitu di depan pintu ruang tengah dilihatnya Hyukjae menyelonjorkan kakinya. Bibirnya merintih pelan menahan sakit.
Bibi Seo datang membawa tatakan cangkir berisi minyak dan balsam, lalu duduk di depan Hyukjae. Tetapi sebelum tangan pembantu yang sudah berumur itu bergerak, Donghae mengambil tatakan cangkir dari tangannya.
"Biar saya saja, Bibi Seo." Donghae tersenyum. Ia menggantikan Bibi Seo duduk di depan lelaki manis itu.
Mata Hyukjae sesaat mengikuti langkah Bibi Seo ke belakang lalu beralih pada Donghae di dekatnya. Ia merasakan jantungnya berdegup cepat ketika Donghae meraih kakinya. Waktu seakan berhenti untuknya. Ia menatap wajah laki-laki yang memperhatikan bengkak kakinya. Diakuinya, Donghae cukup ahli dalam meluruskan urat seperti ini.
Donghae mengambil minyak dan menatap Hyukjae. "Tahan, ya."
Hyukjae mengerang ketika tangan Donghae meluruskan urat di kakinya yang terjepit. Tekanan pada urat itu cukup dalam membuat sakitnya begitu menusuk hingga sekujur tubuhnya bergetar. Ia merasakan saraf-saraf tubuhnya memberi respons dan tulang-tulangnya saling tekan. Donghae mengulangi tekanan itu beberapa kali. Hyukjae memejamkan mata, berusaha menahan desakan nyeri.
"Masih berdenyut?" tanya Donghae dengan mimik khawatir.
"Sudah tidak." Bibir Hyukjae mengulas senyum tipis.
Donghae memijat kaki Hyukjae perlahan. Hyukjae terus memandangi laki-laki itu. Kemejanya kusut. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi tampak jatuh di sekitar wajahnya. Garis rahang yang tidak begitu tegas. Kulitnya yang kelihatan sedikit lebih gelap. Entah bagaimana, rasa sakitnya tidak terasa. Ia merasa nyaman dan aman. Selama beberapa saat, keheningan tercipta diantara mereka.
Saat Donghae mengangkat wajah, matanya bertemu dengan mata Hyukjae. Gerakan tangannya semakin pelan hingga terhenti. Suasan hening membuat tubuh mereka jadi kaku. Donghae menatap lurus sepasang mata bulat itu. Dengan kulit cerah dan rambut yang terlihat sangat lembut, sinar kecantikan Hyukjae memancar. Sorot matanya lebih ramah, tampak menyenangkan. Donghae mendenguk ludah. Ia merasakan gemuruh dalam dadanya. Lama-lama dalam keadaan ini bisa membuatnya hilang kendali.
"Tuan Donghae ingin minum apa?
Pertanyaan Bibi Seo membuat keduanya saling mengalihkan pandangan. Ada semburat kemerahan di wajah Hyukjae. Donghae merutuki dirinya dan menjaga sikapnya agar terlihat tenang.
"Kopi saja, Bibi Seo." ujar Donghae dengan suara setenang mungkin. Melihat pembantu itu pergi ke dapur, ia mengembalikan tatapannya pada Hyukjae. "Sudah enakan?" Hyukjae mengangguk kecil. Dari matanya, terlihat ada sesuatu yang ingin diungkapkannya, namun berusaha disembunyikannya.
Donghae beranjak dari depan Hyukjae ke kursi disampingnya. Ia menjilat bibirnya, gugup. Matanya mengelilingi isi ruang depan rumah itu, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya.
"Kau sudah makan, Hae? Kalau belum, Bibi Seo akan menyiapkan untukmu." ujar Hyukjae.
"Aku sudah makan, Hyuk." Donghae seperti ingin lelaki manis itu menggulang pertanyaannya. Ia tidak ingin salah dengar sapaan 'mu' tadi. Donghae mengembangkan senyumnya ragu-ragu. Hangat mendengar perhatian itu.
Kemudian Bibi Seo datang membawa kopi. "Ini, Tuan." Diletakkannya cangkir itu diatas meja, lalu duduk di depan Hyukjae, melanjutkan pijatan Donghae.
Donghae merasa lebih tenang melihat wajah Hyukjae lebih segar dibandingkan beberapa jam lalu. Diseruput kopinya perlahan, "Terima kasih, Bibi Seo." Ia mengangkat cangkirnya di depan Bibi Seo.
"Iya, Tuan."
Donghae kembali menatap Hyukjae. "Kau ingin aku antarkan ke dokter, Hyuk?"
Hyukjae menggeleng. "Terima kasih, Hae. Aku sudah merepotkanmu." Ia berkata lembut sambil memperhatikan penampilan Donghae yang berantakan. "Hae, kau sebaiknya istirahat. Lagipula kasihan Haru dirumah."
Donghae menghela napas dan mengangguk. "Oke. Kalau begitu aku pulang dulu."
"Sekali lagi. Terima kasih, ya."
Donghae tersenyum dan melangkah pergi. Batinnya meringis. Hatinya seperti mencair. Ia masih ingat bagaimana perpisahan mereka. Matanya dan Hyukjae menyala oleh amarah, namun kali ini ia seperti berada di dalam ketenangan telaga mata bulat itu. Sangat damai.
Ketika sampai di depan pintu mobilnya, ia tercentung. Donghae mulai tak percaya dirinya bisa bersikap normal jika berada di dekat Hyukjae. Ia menghela napas pelan, lalu masuk kembali ke mobil. Donghae memukul stir, resah. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi dirinya sendiri. Mungkin lebih baik ia menyingkir dulu, menjernihkan pikirannya.
.
.
.
Hyukjae tertegun. Mengapa ia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu? Mengapa ia terhanyut dalam labirin pekat mata itu? Mengapa jantungnya berdebar? Mengapa ia begitu menikmati saat-saat bersama Donghae? Mengapa?
Apakah ia masih memiliki perasaan pada lelaki itu? Tapi, tidak. Perasaannya sudah terhapus lima tahun lalu. Jika begitu, apa yang membuatnya uring-uringan begini? Hyukjae menatap kakinya yang mengilat oleh minyak. Terasa kulit Donghae yang hangat dang kering. Membuatnya merasa dekat. Lalu, lagi-lagi Hyukjae mendesah. Ia semakin resah. Kemana kebenciannya, amarahnya, rasa sakitnya? Hyukjae semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Hyukjae membaringkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit. Masih terasa tangan kokoh itu memijat kakinya. Masih terbayang lengannya yang kokoh dan sorot matanya yang membius.
"Chagi." Bibi Jang membuka pintu kamar perlahan, lalu duduk di tepi tempat tidur. "Bagaimana kakimu? Sudah enakan?" Perempuan paruh baya itu melihat kaki keponakannya.
"Sudah, Bibi." Hyukjae tersenyum.
"Syukurlah, Bibi khawatir dengar kau jatuh tadi." Bibi Jang menepuk punggung tangan Hyukjae. "Kata Bibi Seo, tadi ada lelaki yang mengantarmu. Siapa dia chagi? Pacarmu?"
"Bukan, Bibi." Hyukjae memandang perempuan yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. Wajahnya semakin dipenuhi kerutan. Ia menjilat bibir dengan ragu-ragu berkata, "Donghae."
Kening Bibi Jang mengerut. "Donghae..., mantan suamimu?"
"Iya, Bibi." Jantung Hyukjae berdebar kencang.
Bibi Jang menghela napas dan menggeleng. "Aneh-aneh saja. Dia kan sudah menikah dengan perempuan lain kan?"
"Istrinya meninggal, Bibi."
"Memangnya kau sendiri masih punya perasaan sama dia?"
Hyukjae terkejut mendengar pernyataan yang tiba-tiba dari bibi-nya itu. Itu seperti pertanyaan yang disuarakan batinnya. Ia lekas menetralkan suaranya. "Kenapa Bibi bertanya begitu? Kami sudah berpisah. Sudah punya kehidupan masing-masing. Kalau begitu, apa mungkin masih menyimpan perasaan?"
"Siapa bilang tidak mungkin? Pasti mungkin. Pamanmu sudah meninggal tapi Bibi masih mencintainya. Apalagi, kau, chagi, mantan suamimu masih hidup." Bibi Jang menatap lekat keponakannya. "Dia sedang mempir ke Busan?"
"Dia tinggal disini, Bibi."
"Kalian sering bertemu?"
Hyukjae tidak tahu harus berkata apa, hanya mengangguk saja.
"Jadi, benar. Kau masih punya perasaan sama dia kan?"
Hyukjae tidak bisa segera menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam. Debaran kencang tiba-tiba menyerbu dadanya. Namun, segera dialihkan dengan mengambil gelas di meja samping tempat tidur dan meneguknya. Apa benar seperti yang dikatakan Bibi? Apa perasaan itu masih ada, tapi tak pernah diakui keberadaannya?
"Chagi..." Bibi Jang menatap lembut. "Sebelum kau menikah. Eomma-mu cerita ke Bibi kalau dia sudah bicara dengan Donghae. Eomma-mu bertanya, serius apa tidak denganmu. Katanya serius. Eomma-mu juga bilang, kalau cuma suka sesaat, ya jangan. Tapi, Donghae tetap mau denganmu. Eomma-mu dan Bibi heran, dia itu sukses, tampan, pasti banyak perempuan mau sama dia. Ya benar saja kan? Dia punya simpanan lain." Bibi Jang mengusap lengan keponakannya. "Tapi, jodoh memang urusan Tuhan. Bibi Cuma ingin kau tidak terburu-buru mengambil keputusan. Bibi ingin kau bahagia, ingin yang terbaik buatmu."
Hyukjae menggigit bibir. Rona merah wajahnya pias. Bibirnya bergetar menahan gejolak dadanya. Hatinya bimbang. Dan begitu pintu kamar ditutup oleh Bibi Jang, ruangan jadi terasa mengecil. Hyukjae lekas menggeleng. Perasaannya bukan cinta. Bukan. Ini hanya sebuah simpati saja karena lelaki itu menolongnya. Tidak lebih dari itu.
Hyukjae kembali membaringkan tubuhnya menatap jendela. Hujan kembali turun diiringi angin menderu-deru. Butir-butir air tampak dikaca jendela. Ia masih tidak mengerti. Tidak dapat berpikir. Tidak dapat menghentikan perasaan yang hadir. Dan kini, ada perasaan takut meremang. Hyukjae menghela napas panjang berharap malam bisa segera menghentikan semua ini.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
