Chapt 9

Samuel dan Jihoon tidak henti-hentinya menebarkan senyuman. Keduanya terlihat sangat bahagia. Wajah mereka terus berseri-seri.

CHU…

Samuel yang gemas melihat Jihoon yang terus tersenyum langsung mendaratkan ciuman di pipi merah Jihoon. Lelaki manis itu sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh 'kekasih' barunya. Jihoon segera menutup wajahnya yang sudah merah merona.

"Mengapa kau menciumku?" Ucap Jihoon masih dengan kedua telapak tangan yang menutup wajahnya. Samuel terkekeh melihatnya.

"Apakah aku harus meminta izin dulu untuk mencium pacarku sendiri?" Kekeh Samuel.

"Jangan menciumku seperti tadi." Ujar Jihoon.

"Kau juga pernah menciumku kan?" Celetuk Samuel. Jihoon melepaskan kedua telapak tangannya.

"Tidak. Kapan aku melakukannya?" Protes Jihoon.

"Benarkah?" Goda Samuel. Jihoon mengerutkan keningnya.

"Kau tidak ingat kejadian di bus?" Tanya Samuel dengan senyum miringnya. Jihoon semakin mengerutkan dahinya.

"Saat kau bilang kau akan kerja kelompok di rumah temanmu yang searah dengan rumahku?" Ucapan Samuel itu membuat Jihoon segera membulatkan matanya dengan sempurna.

"Yak! Itu sebuah ketidaksengajaan." Ucap Jihoon dengan wajah merahnya.

"Tetap saja kau menciumku saat aku sedang memejamkan mata." Ucap Samuel sambil merangkul Jihoon.

"Tunggu sebentar." Ujar Jihoon menghentikan langkahnya. Samuel ikut menghentikan langkahnya juga.

"Jadi, saat itu kau tidak tidur?" Ujar Jihoon dengan mata yang membulat sempurna.

"Aku tidak bilang jika aku tidur, aku bilang aku memejamkan mata, tapi aku masih bisa melihatmu sedikit." Jawab Samuel.

"Yak!" Teriak Jihoon malu.

"Kau beruntung bisa mendapatkan bibirku." Ujar Samuel.

"Mesum." Ucap Jihoon sambil berjalan duluan karena malu.

"Bukankah kau senang? Sampai wajahmu merona?" Goda Samuel sambil merangkulnya.

"Tidak." Jawab Jihoon ketus. Samuel kembali mengecup pipi Jihoon sekilas.

"Berhenti melakukan hal-hal secara spontan seperti itu." Dengus Jihoon. Entah sudah ke berapa kalinya wajah Jihoon merona untuk hari ini.

"Seperti ini?" Samuel kembali mengecup pipi Jihoon.

"Yak!" Jihoon mengejar Samuel yang sudah berlari kencang di depannya. Samuel hanya tertawa melihat kekasihnya.

"Hati-hati di jalan hyung milikku." Ucap Samuel sambil tersenyum genit kepada Jihoon. Lelaki manis itu mencibirnya.

"Kau juga." Balas Jihoon singkat.

"Hanya itu saja?" Ujar Samuel.

"Lalu?" Tanya Jihoon. Samuel mengangkat bahunya. Jihoon menghampirinya, dan sedetik kemudian lelaki manis itu mengecup pipi Samuel sekilas. Jihoon segera membalikkan badannya setelah mencium Samuel. Sedangkan lelaki berparas asing itu tertawa senang.

"Mengapa aku membalikkan badanmu?" Samuel mencoba untuk menatap wajah Jihoon, tetapi lelaki manis itu tidak mau berbalik.

"Kau malu?" Goda Samuel yang muncul di depan Jihoon. Lelaki bermarga 'Park' itu segera memalingkan wajahnya. Jihoon benar-benar merasa malu.

"Hei… Itu hal yang wajar dilakukan sepasang kekasih." Kekeh Samuel.

"Bus sudah datang." Ujar Jihoon mengalihkan pembicaraan. Samuel tertawa mendengarnya.

"Hati-hati." Samuel melambaikan tangannya ke Jihoon.

.

.

"Berhasil?" Tanya Mingyu. Samuel menatap Mingyu lalu menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.

"Jihoon menerimamu?" Tanya Mingyu lagi.

"Dia menerimaku hyung." Ujar Samuel senang. Mingyu terlihat senang juga mendengarnya.

"Aku sudah tahu jika makananku sangat lezat." Ucap Mingyu.

"Yak! Aku yang membuat makanannya." Dengus Samuel.

"Siapa yang mengajarimu?" Ujar Mingyu dengan wajah (tampan) yang menyebalkan.

"Tetap saja aku yang membuatnya." Protes Samuel tak mau kalah.

"Jika aku tidak mengajarkanmu, Jihoon tidak akan menerimamu." Ujar Mingyu.

"Terserah kau saja. Hyung, ternyata Jihoon hyung sudah menyukaiku duluan." Ucap Samuel.

"Aku sudah tahu." Timpal Mingyu. Samuel mengerutkan dahinya.

"Kau saja yang tidak peka." Celetuk Mingyu. Samuel hanya menatap kakanya itu.

"Siapapun yang melihat cara Jihoon menatapmu akan tahu, bodoh." Dengus Mingyu kesal.

"Mengapa aku tidak menyadarinya?" Ujar Samuel.

"Karena kau bodoh." Celetukan Mingyu itu mendapatkan hadiah lemparan handuk dari Samuel.

"Jaga dia baik-baik." Nasihat Mingyu.

"Kau terdenar seperti ayahnya." Celetuk Samuel.

"Anak ini." Dengus Mingyu.

"Jihoon sangat polos." Ucap Mingyu lagi.

"Aku akan menjaganya, aku mencintainya." Ujar Samuel.

"Wow… Adikku sudah besar." Ucap Mingyu sambil memukul bahu Samuel pelan.

"Tentu saja." Ujar Samuel.

"Pertahankan dia." Ujar Mingyu lalu pergi ke kamarnya.

.

.

Lelaki berparas asing itu terlihat berdiri dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Tidak biasanya Samuel berangkat lebih pagi dari biasanya. Senyuman Samuel semakin mengembang ketika melihat seseorang yang sedang berjalan dari arah halte. Samuel membalikkan badannya. Lelaki yang ia tunggu berjalan mendahuluinya tanpa mengetahui keberadaannya. Samuel mengikutinya dari belakang lalu dengan jahilnya menutup mata pria manis itu.

"Ini siapa?" Ujar lelaki manis itu sambil meraba-raba tangan Samuel. Lelaki berparas asing itu tidak bersuara, ia hanya menahan tawanya.

"Samuel?" Setelah menyebutkan namanya, Samuel segera melepaskan tangannya, lalu merangkul lelaki manis itu.

"Aku tahu itu kau." Cibir lelaki manis itu. Samuel tersenyum lebar.

"Tega sekali kau meninggalkanku." Ujar Samuel.

"Kau saja baru datang." Cibir Jihoon.

"Aku sudah menunggumu sepuluh menit yang lalu di depan gerbang, untung saja aku menolak orang-orang yang mengajakku masuk duluan. Kau memiliki banyak saingan di sekolah ini." Ucap Samuel dengan percaya dirinya.

"Cih… Lalu mengapa kau menungguku jika banyak yang mengajakmu?" Ucap Jihoon.

"Karena tidak ada yang spesial dari mereka." Jawaban Samuel itu membuat wajah Jihoon merona. Samuel mencubit pipi Jihoon.

"Kau sangat menggemaskan Park Jihoon." Ucap Samuel sambil terus mencubiti pipi Jihoon.

"Jangan mencubit pipiku." Dengus Jihoon.

"Pipimu terlalu kenyal, jadi enak untuk dicubit." Ujar Samuel sambil tertawa. Jihoon hanya mencibirkan bibirnya saja.

"Hei kalian berdua." Teriak Daehwi dari belakang. Samuel dan Jihoon menoleh ke belakang. Terlihat Daehwi dan Jinyoung yang sedang berjalan ke arah mereka berdua. Jihoon tersenyum sambil melambaikan tangannya.

"Mengapa kita berempat selalu bertemu setiap pagi?" Tanya Jinyoung sambil terkekeh.

"Benar juga." Ucap Samuel. Kemudian mereka berempat tertawa.

"Ayo kita ke kelas bersama." Ujar Jinyoung sambil merangkul Jihoon dan Daehwi. Samuel yang melihatnya langsung menatapnya. Jihoon segera tersenyum canggung pada Samuel.

"Kau tidak boleh merangkul Jihoon hyungku." Ucap Samuel.

"Jihoon milikku." Ujar Jinyoung sambil merangkulnya lebih erat.

"Kau milik Lee Daehwi." Cibir Jihoon lalu melepaskan rangkulan Jinyoung.

"Aku tidak ingin dimiliki olehnya." Ujar Daehwi sambil melepaskan rangkulan Jinyoung.

"Yak! Lee Daehwi!" Dengus Jinyoung. Daehwi mencebikkan bibirnya. Samuel segera merangkul Jihoon dengan erat. Samuel mengakui dalam hatinya jika ia cemburu melihat Jinyoung merangkul Jihoon.

"Aku duluan." Ujar Samuel ketika sudah sampai di depan kelasnya. Jihoon, Daehwi dan Jinyoung melambaikan tangannya bersamaan.

Mereka bertiga menaiki tangga untuk sampai di kelasnya. Daehwi dan Jinyoung sibuk berdebat tentang apa saja yang dibicarakan. Sedangkan Jihoon memilih untuk tersenyum-senyum sendiri di depan ponselnya.

'Aku cemburu.' Jihoon tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh Samuel beberapa detik yang lalu.

'Aigoo… Kau bisa cemburu juga?' Jihoon membalasnya sambil terkekeh sendiri.

'Kau kekasihku.' Balasan Samuel itu membuat pipi Jihoon terasa panas.

"Jihoon-ah, kita duluan." Pamit Daehwi sambil melambaikan tangannya.

"Ah… Annyeong…" Balas Jihoon lalu kembali pada ponselnya.

'Mengapa kau sangat lama membalasnya?' Jihoon terus tersenyum melihat pesan Samuel.

'Tadi Baejin dan Daehwi pamit dulu ke kelas.' Balas Jihoon.

'Apakah kelas kalian berdekatan?' Tanya Samuel.

'Kelas kita bersebelahan.' Jawab Jihoon.

'Aku akan sering main ke kelasmu.' Jawaban Samuel itu sukses membuat Jihoon tertawa kecil membalasnya.

'Bel sudah berbunyi, aku masuk kelas dulu. Belajar yang benar!' Balas Jihoon.

'Seharusnya aku yang bilang seperti itu.' Balasan Samuel membuat Jihoon sebal. Jihoon tidak semalas itu. Menurutnya.

.

.

"Ayo kita ke kantin!" Ajak Seonho semangat.

"Kajja." Balas Samuel tak kalah semangat.

"Jihoon hyung." Panggil Euiwoong saat melihat Jihoon turun dari tangga. Lelaki manis itu melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Samuel berjalan dengan cepat dan segera merangkulnya.

"Samuel sangat bersemangat hari ini." Ujar Seonho dan dibalas anggukkan setuju oleh Euiwoong.

Saat sampai di kantin, Seonho segera duduk di sebelah Guanlin yang sudah biasa mem-booking tempat untuk mereka semua. Samuel duduk di sebelah Jihoon.

"Whassup guys." Sapa Daehwi ceria lalu duduk di sebelah Samuel. Jihoon melirik Daehwi yang memegang bahu Samuel sambil tersenyum. Samuel membalas senyumannya.

"Boleh aku bergabung?" Tanya seseorang yang baru saja datang dengan senyuman yang membuatnya semakin tampan.

"Tentu saja." Semua orang disitu tersenyum geli melihat wajah Euiwoong yang sudah merah padam.

"Yak Joo Haknyeon kau harus mentraktir kita semua." Ucap Jihoon.

"Euiwoong sudah memberitahu kalian?" Tanya Haknyeon.

"Aku belum memberi tahu mereka." Bantah Euiwoong.

"Mianhae." Ujar Seonho dan Samuel sambil tersenyum kaku.

"Yak!" Bentak Euiwoong.

"Tidak apa-apa, lagipula mengapa harus disembunyikan?" Ucap Haknyeon.

"Kalian berempat kapan?" Tanya Haknyeon lagi kepada siapa lagi kalau bukan keempat lelaki yang sekarang terlihat canggung.

"Dia kekasihku." Ujar Samuel sambil merangkul Jihoon dengan santainya.

"Berhentilah bersikap seperti itu Kim Samuel. Jihoon akan jatuh cinta padamu nanti." Ucap Hyungseob.

"Dia memang sudah menyukaiku." Kekeh Samuel

"Yak!" Cibir Jihoon sambil memukul tangan Samuel.

"Kalian berdua kapan?" Tanya Euiwoong kepada Jinyoung dan Daehwi.

"Sudah sejak lama." Jawab Jinyoung sambil merangkul bahu Daehwi.

"Tidak akan benar bertanya kepada mereka berdua." Ucap Woojin.

"Mereka memang menyebalkan." Dengus Euiwoong. Saat makanan datang, mereka segera makan dengan lahap karena lelah berfikir.

"Hyung aku ingin mencoba makananmu." Ucap Samuel. Jihoon yang masih mengunyah segera mencapit makanannya dengan sumpit lalu segera menyuapkannya kepada Samuel.

"Makananmu enak." Ucap Samuel, Jihoon menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah makanan di mulutnya habis, Jihoon segera membuka mulutnya. Samuel melihatnya sambil menahan tawa.

"Mwo?" Tanya Samuel sambil menahan tawa.

"Yak!" Dengus Jihoon kesal. Samuel tertawa melihat Jihoon yang kesal.

"Katakan 'Suapi aku Samuel oppa' , maka aku akan memberimu." Kekeh Samuel. Jihoon mendelikkan matanya, lalu dia mencoba untuk mengambil makanan Samuel.

"Tidak. Katakan yang tadi aku bilang dulu." Samuel memaksanya sambil tertawa.

"Kau tidak boleh seperti itu kepada hyung." Ucap Jihoon sambil menggelengkan kepalanya. Samuel menjauhkan makanannya dari Jihoon, lalu menyimpan pipinya di tangan sambil tersenyum.

"Ayo katakan." Ujar Samuel lembut. Jihoon segera menyentil kening Samuel dan membuat lelaki berparas asing itu meringis kesakitan.

"Berikan makananmu." Ucap Jihoon galak.

"Kau seperti preman sekarang." Dengus Samuel. Jihoon memelototi Samuel. Bukannya terlihat menyeramkan, justru Jihoon terlihat semakin imut. Samuel segera mencubit kedua pipi Jihoon.

"Yak!" Dengus Jihoon sambil memukul tangan Samuel.

"Baiklah Park Jihoonie." Ucap Samuel lalu segera menyuapi Jihoon. Mata Jihoon terbuka setelah mencicipi makanan Samuel.

"Ini juga enak." Ucap Jihoon.

"Kita terlihat seperti pemeran figuran." Celetuk Woojin.

"Aku menyesal makan disini." Ujar Haknyeon.

"Seharusnya aku tidak menyisakan tempat untuk mereka berdua." Tambah Guanlin.

"Kalian iri? Ckckck." Ucap Samuel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Untuk apa kita iri? Kita sudah mempunyai 'pasangan' masing-masing." Timpal Hyungseob sambil menekankan kata 'pasangan'.

"Aku juga sudah memilikinya." Ucap Samuel sambil merangkul Jihoon.

"Status kami sudah sangat jelas." Tambah Seonho.

"Kalian makan saja." Ujar Jinyoung.

"Mengapa kau marah?" Goda Woojin.

"Tidak. Aku tidak marah." Sangkal Jinyoung.

"Kau terlihat kesal." Ucap Haknyeon.

"Daehwi-ya, cobalah peka kepada Baejin." Ujar Guanlin.

"Mengapa aku?" Ujar Daehwi pura-pura tidak tahu.

"Lee Daehwi memang jahat." Celetuk Euiwoong.

"Dia tidak peka." Tambah Seonho.

"Dia memang jahat." Kekeh Jinyoung yang dalam hatinya meringis.

"Seperti itu serius." Ujar Woojin.

"Bukan sebuah candaan." Tambah Haknyeon.

"Kalian sangat berisik." Dengus Daehwi.

.

.

Sepulang sekolah, Samuel menunggu Jihoon yang belum keluar dari kelasnya. Jihoon memintanya untuk mengantar berjalan-jalan ke mall karena orang tuanya sedang berada di luar kota. Samuel dengan senang hati mengantar kekasih manisnya itu.

Setelah lima menit menunggu, Samuel melihat lelaki manis yang ia tunggu berlari kecil ke arahnya dengan senyuman manis khas Park Jihoon.

"Maafkan aku membuatmu menunggu lama." Ujar Jihoon.

"Menunggumu berjam-jam juga aku sanggup." Ujar Samuel yang terdengar menggelikan untuk Jihoon.

"Ayo kita berangkat." Ucap Jihoon semangat. Samuel merangkul Jihoon sambil berjalan. Mereka berdua menunggu bus di halte sambil becanda ria. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mereka menaiki bus.

"Aku lapar." Ucap Samuel.

"Aku juga." Balas Jihoon.

"Kita makan dulu, baru kita bersenang-senang." Ujar Samuel.

"Call." Balas Jihoon setuju. Kedua sejoli itu tampak sangat bahagia. Mereka tidak henti-hentinya becanda dan membicarakan semua hal yang terjadi di sekolah selama seharian, dan menceritakan apapun sesuka hati mereka.

"Sudah sampai?" Tanya Jihoon.

"Sudah Jihoonie." Balas Samuel sambil mengulurkan tangannya. Jihoon melihat tangan Samuel, kemudian melihat wajahnya. Samuel hanya tersenyum sambil mengisyaratkan agar kekasihnya itu menerima uluran tangannya. Jihoon terlihat malu-malu, tetapi ia tetap menerimanya.

"Kau mau makan apa?" Tanya Jihoon.

"Aku ikut denganmu saja." Jawab Samuel.

"Kau saja yang menentukan." Balas Jihoon.

"Aku makan dimana saja." Ujar Samuel.

"Terus saja seperti ini." Ucap Jihoon.

"Makanya segera tentukan." Timpal Samuel.

"Disana saja." Jihoon menujuk sebuah restoran yang cukup dipenuhi orang-orang. Mereka segera memasukinya.

Setelah selesai makan, mereka segera pergi untuk berjalan-jalan. Samuel dan Jihoon pergi ke toko baju untuk melihat-lihat.

"Bukankah ini bagus?" Tanya Jihoon sambil memperlihatkan baju warna kuning terang.

"Aku silau melihatnya." Jawaban Samuel itu dihadiahi death glare dari kekasihnya itu.

"Aku becanda." Ujar Samuel sambil tersenyum lebar.

"Kau terlihat manis memakai baju warna apapun." Tambahnya dan membuat Jihoon tersipu malu. Lelaki manis itu segera mencoba bajunya dan benar saja, Jihoon memang terlihat manis memakai baju warna apapun. Saat ia memakai baju warna kuning itu, ia terlihat lebih fresh dan ceria.

"Kau suka?" Tanya Samuel. Jihoon menganggukkan kepalanya.

"Ambil saja." Ucap Samuel, lalu mengeluarkan dompetnya.

"Tidak… Tidak… Aku akan membayarnya sendiri." Ucap Jihoon cepat. Samuel melihat ke arah Jihoon.

"Maksudmu? Aku akan membeli baju juga, makanya aku melihat isi dompetku." Jawaban Samuel itu sukses membuat Jihoon malu dan kesal secara bersamaan. Samuel tertawa geli melihat Jihoon yang segera mauk lagi untuk berganti baju seragam.

Setelah Samuel selesai memilih baju, mereka berdua segera pergi ke kasir untuk membayarnya. Wanita di belakang kasir itu memberi tahu berapa jumlah yang harus dibayar, kemudian Samuel mengeluarkan dompetnya dan membayarkan kedua baju yang mereka beli. Jihoon terlihat mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali.

"Cepat, banyak orang yang mengantri." Samuel menarik tangan Jihoon.

.

.

"Lee Daehwi! Cepatlah." Ucap Jinyoung yang sudah menunggunya di depan kelas.

"Berisik sekali." Balas Daehwi sambil berjalan buru-buru.

"Ayo." Ucap Daehwi sambil menarik tangan Jinyoung.

"Kau mau membeli apa?" Tanya Jinyoung.

"Jangan banyak bertanya." Dengus Daehwi. Lelaki imut itu terus menggenggam tangan sahabat tampannya itu. Jinyoung hanya terdiam sambil sesekali melihat tangannya yang dipegang Daehwi.

Mereka berdua menunggu di depan halte sambil mengobrol banyak hal. Seperti biasa, Daehwi selalu banyak berbicara dan Jinyoung menjadi pihak yang mendengarkan.

"Kau mendengarkanku?" Tanya Daehwi.

"Kau fikir telingaku sudah tidak berfungsi?" Dengus Jinyoung. Daehwi hanya tersenyum lebar mendengarnya. Jinyoung yang melihatnya segera mencubit pipi Daehwi gemas.

"Sakit." Ringis Daehwi sambil mengerucutkan bibirnya. Jinyoung hanya tertawa sambil mengelus pipi Daehwi. Lelaki beraura gelap itu menatap Daehwi sekilas, ia tidak mau membuat Daehwi merasa tidak nyaman karena perasaannya.

"Kau lapar?" Tanya Daehwi. Jinyoung menganggukkan kepalanya.

"Ayo kita makan." Ajak Daehwi. Lelaki imut itu kembali menarik tangan Jinyoung. Tiba-tiba Daehwi berhenti di sebuah toko.

"Kau mau es krim itu?" Tanya Jinyoung. Daehwi menganggukkan kepalanya lucu.

"Ambil saja." Ucap Jinyoung. Daehwi tersenyum lebar lalu mengambilnya.

"Bayar sendiri." Celetuk Jinyoung.

"Yak!" Umpat Daehwi. Jinyoung segera merebut es ditangan Daehwi lalu membayarnya.

"Gomawo." Ucap Daehwi sambil tersenyum senang.

"Kau mau?" Tawar Daehwi. Jinyoung membuka mulutnya. Daehwi segera memberikannya, tetapi lelaki imut itu memang dasarnya jahil, Daehwi mendorong es krimnya sehingga mengenai hidung Jinyoung. Lelaki beraura gelap itu menatap Daehwi datar.

"Mwo?" Ucap Daehwi sambil menjilati es krimnya.

"Ini untukmu." Jinyoung membalas perlakuan Daehwi. Ia membuat hidung Daehwi terkena es krimnya.

"Yak!" Teriak Daehwi.

"Mwo?" Jinyoung mengikuti ucapan dan gerakan Daehwi sebelumnya. Jinyoung kemudian tertawa melihat Daehwi yang kesal. Lelaki deep dark itu segera membersihkan hidung lelaki yang ia sayangi itu.

"Sudah selesai." Ujar Jinyoung.

"Hidungku lengket." Cibir Jinyoung.

"Lalu?" Tanya Jinyoung.

"Gara-gara kau." Daehwi mengerucutkan bibirnya.

"Lalu?" Ujar Jinyoung lagi.

"Menyebalkan." Dengus Daehwi.

"Kau mau aku menjilat hidungmu juga?" Ucap Jinyoung dengan senyum miringnya. Daehwi terlihat salah tingkah, lalu segera pergi mendahului Jinyoung. Lelaki berwajah kecil itu hanya terkekeh melihat Daehwi.

.

.

Jinyoung terus mengikti kemana langkah kaki Daehwi. Lelaki imut itu sebenarnya tidak memiliki tujuan. Ia hanya ingin berjalan-jalan saja. Daehwi sudah melihat banyak toko, tetapi tidak membeli barang satupun.

"Aku lapar." Ucap Jinyoung. Daehwi menghentikan langkahnya dan melihat kepada Jinyoung.

"Aku juga." Balasnya.

"Ayo makan." Jinyoung menarik tangan Daehwi untuk mencari makanan.

.

.

Selesai makan, Jinyoung dan Daehwi segera pulang. Mereka sedang menunggu di halte sambil berteduh karena hujan yang turun dengan tiba-tiba tanpa pertanda. Jinyoung menggerakkan kepalanya untuk mengeringkan rambutnya. Daehwi membantu Jinyoung. Lelaki imut itu tampak serius dengan pekerjaannya sehingga tidak menyadari jika sang pemilik rambut sedang menatapnya dengan lekat.

"Rambutmu sebentar lagi kering." Ucap Daehwi.

Tatapan Jinyoung mengunci mata Daehwi. Lelaki imut itu tidak bisa tidak menatap lelaki yang sudah menjadi sahabat kecilnya itu. Keduanya tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"Kau tahu? Seberapa berat aku menahan perasaan ini?" Pertanyaan Jinyoung itu tidak membuat Daehwi mengalihkan pandangannya. Daehwi tetap menatap Jinyoung.

"Tidak bisakah kau menerimaku?" Tanya Jinyoung lagi. Kali ini Daehwi memalingkan wajahnya.

"Tidak bisakah kau mencobanya?" Ujar Jinyoung. Daehwi tetap terdiam menatap ke sembarang arah.

"Bus sudah datang." Ucap Daehwi mengalihkan pembicaraan.

"Lee Daehwi! Bisakah kau tidak mengabaikanku?" Ucap Jinyoung.

"Kau ini kenapa? Ayo masuk." Ujar Daehwi.

"Aku mencintaimu." Ucap Jinyoung akhirnya. Daehwi menatap Jinyoung beberapa detik.

"Aku duluan." Ujar Daehwi lalu memasuki bus, kemudian bus itu segera berjalan. Daehwi sama sekali tidak melirik Jinyoung yang sedang menatapnya di luar sana.

Jinyoung menatap bus yang sudah jauh dari tempatnya itu. Lelaki tampan itu menatap kosong ke depan. Hatinya serasa kosong. Ia menatap langit yang sedang menumpahkan jutaan bulir air. Pemandangan itu sedang mewakili hati Jinyoung sekarang.

TBC

Lama banget ya update nya. Huhuuu… Maaf ya, tiap hari ada tugas, jadi gak sempet bikin ff nya.

Tapi makasih juga buat yang udah nunggu ff ini, walaupun lama nunggunya, maafin ya;(((

Doain ya semoga tugasnya cepet kelar, terus doain juga author semoga masuk ukm yang author mau hehe…

Oiya maaf juga kalo chapter ini sedikit banget yaa

Keep RnR yaaa readernim /tebar kisseu/