"Na-natsu.. apa kau sedang bercanda?" aliran darah Lucy kembali cepat. Ia kembali berhadapan dengan Natsu yang menodongkan pistol kearah kepalanya

Foto yang tergeletak, sebuah foto gadis dengan surai pirang dan wajah yang cantik

"maaf Luce. Aku diberi tugas untuk membunuhmu" kata Natsu dengan mata obsidiannya yang menatap tajam

Lucy Heartfillia

~.~

Balasan review:

Fic of Delusion: hehehe.. keren kan kalo gitu :v thanks for review.. ini dia chap 9, semoga suka

Aoi Shiki: Mungkin aja doong XD … waah.. anda bisa menebak pikiran saya.. XD thanks for review Aoi-san, ini dia chap 9

Blink: ini gaan udah lanjut…

Puja: hahaha.. yaa mau gimana lagi kan Natsu disuruh bunuh :p

Mihawk607: yaa kita lihat aja di ceritanya, ini chap 9.. semoga suka XD

Nafikaze: haha, gapapa Nafikaze-san.. waaah, arigatou XD ini chap 9, semoga suka.. thanks for review

Yaa ini dia chap 9.. semoga menikmati~

.

.

Queue de Fée

© Fairy Tail milik Hiro Mashima. Saya hanya meminjam beberapa Karakternya.

Warning: OoC, AU, Typo(s), Newbie Author

~ Goyukkuri ~

| Chapter 9 – Perasaan Aneh |

~Dibaca sampai akhir review yaa~

Saat ini Lucy tersudut oleh Natsu. Tangan kanan Natsu menodongkan pistol kearah Lucy sedangkan tangan satunya focus mengemudi

"hm? Ada apa Luce? kenapa kau begitu takut?" tanya Natsu

"Natsu… apa kau bercanda?" Lucy berharap ini hanya candaan saja. Namun hal itu sirna saat melihat mata Natsu yang begitu serius

"aku benar-benar mendapat tugas untuk membunuhmu" kata Natsu dingin, "gomen ne" kata Natsu dengan senyuman yang terpaksa,

*DOR

Suara tembakan memecahkan keheningan malam

"haah.. sepertinya aku harus mengganti mobilku dulu" kata Natsu dan segera mempercepat mobilnya menuju apartemennya

.

.

Sebuah mobil merah dengan kap terbuka membelah jalan Tokyo yang nampak sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 00.50 pagi. Dalam mobil itu geraian rambut sakura bergerak seirama dengan angin yang menerpa. Mobil tersebut berhenti tepat didepan sebuah kafe, ya.. Queue de Fée. Pemilik surai sakura itu berjalan kedalam kafe yang sudah gelap itu. Pintu terbuka bersamaan dengan suara lonceng dan langkah kaki Natsu memasuki kafe.

*SREK *CKLEK

Sebuah bayangan mengunci lengan Natsu kebelakang dan sebilah pisau menempel dileher Natsu membuat Natsu tak dapat berkutik. Tak hanya itu, sebuah pistol juga diarahkan kekepalanya oleh bayangan lain, bukan satu pistol, tapi 2 pistol dengan arah yang berbeda. Kali ini Natsu dikepung oleh 3 bayangan itu

"kau sudah membunuhnya? Natsu?" tanya bayangan lagi yang duduk diatas meja bar. Suara yang taka sing bagi Natsu

"apa-apaan ini kakek?" kata Natsu melirik kearah tiga bayangan yang seperti akan membunuhnya

"jawab saja pertanyaan kakek Natsu" kata suara bayangan yang mengunci dan menempelkan pisau ke Natsu

"lepaskan aku Gray" kata Natsu melirik kearah orang yang menguncinya, "kau juga, Mira, Lisa, turunkan senjatamu" kata Natsu dengan nada yang menyeramkan. Namun perkataan itu tidak akan mampu mengintimidasi temannya yang juga sesama pembunuh

"jawab aku Natsu" kata orang yang duduk dimeja bar itu, Mackarov

"ah. Aku sudah membunuhnya" kata Natsu dengan tatapan tajam kepada kakek itu. Suasana hening sesaat. Lalu Mackarov memberi isyarat untuk membiarkan Natsu lepas

"cih" Natsu mendecak kesal, "sial kau Gray, mau bertarung ha!" kata Natsu tak terima ia dipojokkan oleh rivalnya itu

"boleh juga!" kata Gray

"hentikan kalian berdua!" perintah Mackarov yang langsung berhasil menghentikan pertumpahan darah di kafe miliknya. Pasalnya Gray sudah siap dengan kedelapan pisau miliknya dan Natsu sudah siap dengan pistol dan pisaunya. Keadaan menjadi canggung, mereka semua tahu bahwa Natsu menyukai Lucy, tapi ia diharuskan untuk membunuhnya

.

.

Keesokan harinya Natsu tak bekerja, ia terdiam diapartemennya. Sang adik memandangi sang kakak yang memasang wajah tak mengenakkan dipagi hari

"onii-chan.. kau tidak pergi kerja?" kata Wendy yang terlihat sudah rapi dengan seragamnya. Pertanyaan Wendy hanya dianggap angin lalu oleh Natsu. Wendy merasa tak terima dengan sikap kakaknya. Ia menangkap Happy lalu melemparkan kearah kakaknya. Langsung saja sang kakak terkejut dan menerima beberapa cakaran dari Happy dimukanya

"Wendy apa yang kau lakukan?" kata kakaknya sebal

"itu karena onii-chan tidak mendengarkanku. Jangan pasang-muk-ka…" perkataan Wendy tertahan melihat aura hitam yang keluar dari sekujur badan Natsu

"Wen-dy-Mar-vel" kata Natsu penuh dengan penekanan tiap kata

" hi` "keringan dingin mengucur dikening Wendy, "ittekimasu! . " Wendy langsung berlari keluar apartemen dan berangkat kesekolah. Natsu tersenyum melihat kelakuan Wendy dan berjalan keluar apartemennya. Ia melihat kearah bawah. Dilantai dasar ia melihat Wendy berjalan dengan Romeo

Wendy mengetahui kakaknya melihat ia dari depan pintu apartemennya

"onii-chan~!" Wendy berteriak kearah kakaknya, membuat beberapa orang disekitarnya melihat kearahnya, "jangan pasang muka seperti itu. Nanti Lucy-nee-chan akan membencimu!"

"!" tak ayal perkataan itu membuat Natsu terkejut, "Hati-hati dijalan Wendy!" balas Natsu juga dengan berteriak, tak lupa dengan imbuhan grinsnya yang membuat orang sekitar melting(?), "dan kau Romeo, aku titipkan Wendy kepadamu!"

"mou~ onii-chan!~" balas Wendy dengan wajah sebal namun merona merah dan langsung berjalan tak mempedulikan kakaknya

"hahaha.. kakakmu orang yang baik" kata Romeo dengan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Wendy diam tak menjawab, ia merasakan panas dikepalanya, "tentu saja aku akan menjagamu. Ne, Wendy-chan" perkataan Romeo berhasil membuat Wendy semakin salah tingkah. Wendy menggembungkan kedua pipinya dan mempercepat langkahnya, "hahaha.. tunggu aku Wendy-chan" kata Romeo yang berusaha mengimbangi langkah Wendy

Natsu melihat adiknya semakin menghilang. Ia menghela napas panjang,

"sa.. apa yang harus kulakukan sekarang" kata Natsu pelan dan beranjak menuju kedalam apartemennya kembali

.

.

Kediaman keluarga Heartfillia nampak rebut. Sang tuan rumah nampak kebingungan mencari putrinya yang tak pulang tadi malam

"Loke, bagaimana? Kau sudah menemukan Lucy?" tanya Layla dengan wajah yang bingung

"mohon maaf Nyonya, kami belum menemukan dimana Lucy berada" kata Loke sambil membungkukkan badannya

"bagaimana ini? Dia belum pulang sejak kemarin. Bagaimana bila ia diculik? Bagaimana-"

"Nyonya, mohon tenanglah. Kami akan segera menemukan dimana Lucy" kata Loke

"Nyonya, ada telepon dari Tuan Jude" kata Virgo dengan menyerahkan sebuah telefon rumah

"sayang! Lucy tidak pulang kerumah. Ia tidak pulang sejak kemarin" langsung deretan kata terucap dari bibir Layla. Tiba-tiba ia terdiam, ia mendengarkan perkataan Jude dengan serius. Tiba-tiba tubuh Layla melemas, "ti-tidak mungkin" kata Layla pelan. Melihat ekspresi sang Nyonya membuat Loke semakin resah

.

.

Sementara itu, dikamarnya, Natsu terbaring dikasur miliknya. Lengan kanannya menutupi pandangannya

"apa yang kulakukan.." kata Natsu menghela napas. Ia menutup kedua matanya, membayangkan gadis yang sudah hinggap dihatinya, "Luce" kata itu keluar begitu saja dari mulut Natsu. Mata Natsu tiba-tiba terbuka merasakan sesuatu menyentuh perutnya, "Happy? Ada apa? Kau lapar ya?" kata Natsu yang melihat Happy memukul-mukul(?) perutnya, "aku juga lapar, akan aku buatkan makanan" kata Natsu

Natsu pun beranjak menuju dapur. Ia melihat kedalam kulkasnya, ia menemukan daging ayam, ikan, telur dan beberapa rempah, "hhmmmm" Natsu berpikir apa yang akan ia masak, "karaage saja" kata Natsu dan mengambil ayam, telur dan beberapa rempah lain. Dan Natsu pun mulai memasak ditemani oleh Happy yang terdiam dan menggerak-gerakkan ekornya

.

"Jadi" kata Natsu. Dimeja sudah tersedia semangkuk Nasi dan sepiring penuh karaage, "ini untukmu Happy" kata Natsu memberikan 3 potong karaage kepada Happy dimangkuk bertuliskan Happy. Happy hanya mengendus makanan itu tanpa memakannya ataupun menjilatnya sekalipun. "apwa kau twidak mauw Happwy" kata Natsu dengan mulut penuh makanan. Ia mengunyahnya dan menelannya, "sepertinya kau lebih suka ikan ya" kata Natsu dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil ikan. Lalu ia letakkan dimangkuk Happy, yang segera dilahap oleh Happy. Natsu tersenyum dan memakan kembali makanannya ditemani oleh kucing kesayangannya.

.

.

Kafe Queue de Fée nampak mulai sepi karena jam sarapan sudah lewat. Pria bersurai hitam spike menhela napas panjang dibalik meja bar

"kenapa kau masih bekerja Gray?" tanya Lisanna yang berjalan mendekatinya

"si kepala api itu bolos kerja. Mentang-mentang sudah punya banyak uang dia seenaknya bolos kerja. Sialan!" keluh Gray

"bukannya uangmu juga banyak? Kenapa kau juga tidak bolos?" kata Lisanna

"kau ingin badanku tercecer dilantai ya" kata Gray dengan menunjuk Mira yang melayani pelanggan

"aah.. hehe.. kau sedang apes Gray" kata Lisanna lalu berjalan menuju dapur

'jika aku tidak mematuhi perkataan dari kakek, Erza, ataupun Mira, bisa-bisa nyawaku langsung hilang' gumam Gray, 'sial kau Natsu!' kesal Gray dalam hati. 'ternyata Natsu tega juga untuk membunuh Lucy' pikir Gray, 'tapi… dengan apa yang ia alami dimasa lalu tidak aneh jika ia membunuh orang yang ia sayang' lanjutnya

"Gray, kau dipanggil kakek" kata Lisanna dari dapur

'hm?', "Mira, aku dipanggil kakek, kuserahkan sisanya padamu" kata Gray, dalam hatinya ini adalah kesempatan untuk kabur. Gray pun berjalan menuju ruangan dimana managernya itu berada. Pintu terbuka dan menampakkan seorang kakek duduk dimeja. Itu memang kebiasaannya, jika ia duduk dikursi maka ia tidak akan terlihat

"ada apa kek?" tanya Gray

"bunuh dia" kata Mackarov sambil menyerahkan sebuah foto. Gray menatap foto itu, sebuah foto gadis berambut hitam panjang dengan pita putih dikepalanya menyibak poninya. Dan sebuah tanya didahinya

'orang india?' pikir Gray setelah melihat tanda didahinya, "siapa dia?" tanya Gray yang masih memandangi gadis berkulit putih dalam foto itu

"namanya Seilah. Dia mampu membuat seseorang untuk membunuh orang lain. Ia sangat pintar mengancam korbannya, dan dia juga seorang informan yang sangat berbahaya" jelas Mackarov. Gray hanya mengangguk mendengar hal itu, "ajak Natsu untuk membunuhnya" lanjutnya yang langsung membuat Gray kaget

"ha? Untuk apa aku mengajak kepala api itu?" protes Gray, "aku bisa mengalahkannya sendiri. Apalagi dia seorang gadis" imbuh Gray

"dia bukan gadis biasa. Dia sangat pintar berkelahi jarak dekat. Dan juga, dia adalah mantan agen CIA, jadi kau tidak akan mampu melawannya sendiri" kata Mackarov, "setidaknya kau bisa membuat Natsu berjaga dari kejauhan bila kau terdesak" lanjutnya

"kalau kau merasa aku tidak kuat, kenapa kau tidak suruh Mira saja. Aku tidak ingin bekerjasama dengan si kepala api itu" Gray kembali protes dan meletakkan foto itu dimeja

"tidak bisa, Mira tidak bisa mengalahkannya. Mira sudah pernah beradu dengannya dulu, namun hasilnya seri. Dan pastinya Seilah sekarang mengetahui kelemahan Mira. Itu akan berbahaya" kata Mackarov. Gray diam dan memikirkan konsekuensinya, pasalnya ia sangat anti bekerja sama dengan Natsu karena ia adalah rivalnya

"baiklah, akan aku kerjakan" kata Gray

"akan aku kirimkan detailnya melalui emailmu" kata Mackarov. Gray pun berjalan meninggalkan ruangan

.

.

Disebuah Gedung, seorang pria duduk dibalik mejanya

"Sting-san, anda ada rapat dengan client jam 1 siang ini" kata sekretaris perempuannya

"Yukino, berhenti memanggilku dengan sebutan –san. Kau kan pacarku" kata Sting

"tapi aku harus professional dalam bekerja Sting-sa- maksudku Sting" kata Yukino

"haah.. terserah lah. Jadi sebelum jam 1 aku luang? Bagaimana kalau kita makan siang berdua?" tanya Sting dengan grins yang membuat Yukino merona. Yukino hanya mengangguk pelan. Pintu terbuka, seorang pria berambut hitam panjang memasuki ruangan Sting

"maaf menganggu kalian" kata pria itu

"kau datang disaat yang tidak tepat Rogue" kata Sting

"ada apa Rogue?" kata Yukino

"Sting, aku mendapat info katanya Seilah akan kemari" kata Rogue

"hn.. katanya dia akan benegosiasi dengan kita" kata Sting

"apa yang akan kita negosiasikan?" tanya Rogue

"sepertinya mereka akan mengajak kita mengambil sesuatu yang seharusnya mereka genggam beberapa tahun lalu" kata Sting

"sesuatu?" tanya Rogue

"hn, sebuah alat yang sebenarnya tidak berdampak besar, tapi alat yang cukup mengerikan untuk mengintrogasi" kata Sting, "serum-tidak, virus yang diciptakan oleh keluarga Marvell" lanjutnya

"Marvell? Maksudmu mereka yang terbunuh beberapa tahun lalu? Tapi bukankah virus itu tidak ditemukan" kata Yukino

"memang, virus itu disembunyikan oleh Marvell. Dan yang mengetahui letaknya adalah anaknya, Wendy Marvell" Sting berdiri dan berjalan menuju jendela, memandang keramaian diluar gedung

"apakah dia tidak terbunuh saat itu?" tanya Rogue

"tidak, katanya kelompok Seilah hanya menemukan Marvell dan istrinya tewas. Dan yang membunuh mereka bukanlah orang mereka" jawab Yukino, "tapi dimana sekarang anak itu berada Sting?"

"dia ada bersama Natsu Dragneel, aku dapat info itu dari gadis pirang" kata Sting yang membuat Yukino dan Rogue membulatkan matanya. Mereka tahu bahwa Dragneel adalah musuh besar bos mereka, Sting Eucliffle, "Rogue, pergi temui Seilah dan bawa dia kemari" kata Sting, "dia akan menunggumu dipelabuhan jam 12 malam ini

"hai" jawab Rogue tegas dan segera meninggalkan ruangan

"sepertinya aku harus menghubungi gadis pirang itu. Dia belum memberiku informasi lengkap tentang Natsu. kurasa akan aku panggil saja dia kesini" kata Sting dengan seringai yang sama menyeramkan dengan milik Natsu

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 malam. Natsu, Wendy dan Happy berkumpul diruang makan

"mou, kenapa kau memasak karaage sebanyak ini" kata Wendy shock melihat 3 piring penuh karaage

"hahaha.. maaf, aku melamun memasak dan akhirnya jadi 3 piring" kata Natsu dengan wajah innocent, "akau akan mengundang Luc-" perkataan Natsu terpotong saat ingin mengatakannya, tiba-tiba matanya menjadi sayu. Wendy sadar akan kelakuan aneh kakaknya sejak tadi pagi

"baiklah akan aku makan satu piring" kata Wendy, "satu piring onii-chan habiskan dan satu piring lagi akan aku berikan kepada tetangga" lanjutnya. Natsu tersenyum dan mulai makan

"ne onii-chan, apa kau bertengkar dengan Lucy-nee-chan?" kata Wendy langsung membuat kakaknya tersedak

"apa yang kau bicarakan, aku tidak bertengkar" kata Natsu

"lalu kenapa kau tidak undang saja Lucy-nee-chan kemari?" sekali lagi pertanyaan Wendy membuat Natsu harus berfikir

"dia sedang ada kesibukan. Jadi aku tidak dapat mengajaknya kemari" kata Natsu menghindar, tapi Wendy tahu kalau sang kakak sedang berbohong.

"Natsu~! buka pintunya" suara seseorang memanggil Natsu.

"hm? Sebentar Wendy" kata Natsu dan beranjak menuju pintu depan. Ia membukanya dan mendapati Gray berdiri diambang pintu, "Gray, ada apa? Ah! Tepat sekali, aku baru saja memasak karaage terlalu banyak, bantu aku menghabiskannya" kata Natsu yang langsung menarik Gray

Dan disinilah sekarang Gray, duduk dengan Natsu, Wendy, dan kucing dibawahnya. Sebuah tumpukan karaage sepiring penuh berada dihadapannya

"ohisashiburi Gray-san" kata Wendy sopan

"ah, ohisashiburi Wendy-chan" kata Gray, "kau bertambah besar ya sejak aku terakhir kemari" kata Gray

"tapi itunya tidak tumbuh sama sekali" kata Natsu sekenanya. Wendy merasa seperti sebuah anak panah yang menancap didadanya namun panah itu terpental karena tertahan dadanya yang rata (Wendy: T_T author-san)

"hahaha.. santai saja Wendy, itu juga akan tumbuh saat kau SMP atau SMA" kata Gray menghibur

"benarkah?" mata Wendy berbinar

"a-aahh~" kata Gray mengiyakan, "oh ya Natsu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" kata Gray serius. Melihat pandangan Gray serius, Natsu menyuruh adiknya yang sudah menghabiskan makanannya untuk pergi ke Romeo yang tinggal diapartemen yang sama. Wendy pun menurut dan akhirnya hanya tinggal Gray dan Natsu (Happy: "ada aku loh")

"ada apa?" tanya Natsu

Gray mulai menceritakan maksudnya datang kemari. Awalnya Natsu tak setuju seperti Gray. Tapi mendengar ini suruhan dari Erza (Gray bohong) Natsu langsung menurut. Natsu mempersiapkan peralatannya, sebuah Barret M82 dimasukkan kedalam tas pancing yang biasa ia bawa jika ingin 'lembur'

"tunggu sebentar, aku akan bilang kepada Wendy untuk menginap dirumah Romeo" kata Natsu. Mereka berdua pun keluar dari apartemen Natsu. Gray menunggu dihalaman parkir mobilnya.

'hhm? Mobil Natsu yang satunya kemana ya?' pikir Gray. Ia memandangi halaman parkir namun hanya melihat mobil merah Natsu.

"maaf lama. Ayo berangkat" kata Natsu

"kemana mobilmu yang satunya?" tanya Gray sebelum menyalakan mesin mobilnya

"aku membuangnya" kata Natsu ringan

'orang kaya~' batin Gray, "kenapa kau buang? Bukankah itu favoritmu?" kata Gray sembari menyalakan mobilnya

"tempat duduknya kotor, dan kacanya pecah. Aku malas mencucinya, jadi aku buang" kata Natsu

"maksudmu kotor? Dari Lucy?" tanya Gray. Natsu hanya diam, Gray mengerti bahwa Natsu tak ingin membahasnya. Dalam hatinya Gray sungguh takut dengan Natsu, karena Natsu tak akan segan-segan untuk membunuh, walaupun itu orang yang ia saying.

Mobil mereka pun melesat menuju bandara international Narita, Tokyo

7.00 p.m.

.

Mobil Gray melaju sangat kencang, walaupun sesekali terhalang oleh macet. Perjalanan dari apartemen Natsu menuju Narita menghabiskan waktu 1 jam 20 menit. Mereka tiba di Narita pukul 8.20 p.m. Mereka memarkirkan mobil mereka.

"apa dia akan keluar dari sini?" tanya Natsu tetap didalam mobil.

"kata kakek begitu" jawab Gray yang sibuk melihat layar smartphonenya.

"lagipula kakek tahu dari siapa sih. Jika kita membunuh disini kita akan dirugikan. Situasinya ramai" kata Natsu yang melihat sekeliling dari dalam mobil.

"kau benar. Apa benar tempatnya disini" kata Gray, "jika benar berarti kita harus mengikutinya lebih dahulu" lanjutnya.

"haah.. tunggu saja apa kata kakek" Natsu menghela napasnya panjang, 'jika aku diharuskan menembaknya secara langsung akan sulit. Aku masih belum menemukan gedung yang pas. Apa lagi jika kita harus mengikutinya lebih dahulu, itu akan memakan waktu lama' pikir Natsu.

'apa benar disini?' batin Gray. Ia merasakan jika infonya salah.

Sudah hampir satu jam mereka menunggu dan memelototi tiap orang yang keluar bandara, tapi tidak ada yang seperti Seilah. Jika mata mereka kelewatan maka Mackarov akan segera memberitahu karena Queue de Fée menyadap kamera cctv Narita Airport. Saat Gray focus dengan tiap orang yang keluar dari bandara tiba-tiba HP nya bergetar. Ia langsung menyabet HP nya dan melihat isi email yang baru masuk.

'ada pendaratan darurat di Haneda Airport. Itu pesawat yang seharusnya ditumpangi Seilah. Dan baru saja Warren memberi tahuku bahwa Seilah terlihat didalam bandara dan sudah keluar dengan taksi. Warren meretas seluruh kamera di area Haneda dan sepertinya ia akan menuju pelabuhan didaerah Manazuru. Cepat kesana!' isi pesan tersebut panjang.

"sial! Natsu, rencana berubah, kita harus segera ke Manazuru" kata Gray yang langsung mengencangkan sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya

"Manazuru? Kira-kira perjalanannya 150 menit dari sini" Natsu melihat jam tangannya, 9.11 p.m. "sial! Kita akan terlambat Gray"

"santai saja, aku akan mencoba mesin baruku ini" kata Gray dengan seringai penuh arti

"Gray, kumohon jangan kencang-kencang. Setidaknya jangan lebih kencang dari rollercoaster" kata Natsu memohon

"maaf Natsu. Ini situasi genting" Gray langsung menancap mobil dan melesat menuju pelabuhan didaerah Manazuru

.

.

Mobil Gray masih terus melaju kencang. Gray melirik jam tangan milik Natsu yang sudah pucat pasih

'jam 11, semoga dia masih disana' kata Gray. (Author: "Dia gak tahu kalo batas waktunya sampai jam 12 malam")

Gray terus melajukan mobilnya. Ia mulai dapat melihat bangunan tinggi menjulang.

"itu dia" kata Gray dan semakin mempercepat laju mobilnya

Bunyi rem mobil berdecit memecah keheningan. Gray segera memakirkan mobilnya dirumah seseorang entah siapa dan segera keluar

"Natsu, aku akan kearah kargo-kargo itu" kata Gray ingin mengambil langkah namun berhenti melihat temannya yang terlihat pucat pasih nan kering itu

"baiklah, aku akan menembak dari menara itu" kata Natsu lemas dan menunjuk sebuah bangunan menjulang tinggi yang disebut Natsu menara

'itu mercusuar bodoh' pikir Gray, "baiklah, yang penting jangan sampai menembakku" kata Gray dan segera lari

"Gray!" panggil Natsu yang membuat langkah Gray terhenti, "hati-hati pangkal hidungmu" kata Natsu dan segera berjalan kearah mercusuar. Gray yang tak mengerti maksudnya langsung mengendap diantara kargo untuk mencari Seilah.

Natsu sudah berada diatas mercusuar. Ia segera meletakkan benda seperti kaki, quick-detachable Bipod dan meletakkan sniper miliknya diatasnya membuat sniper itu dapat berdiri. Setelah itu Natsu tengkurap, membuka penutup lensa, mengatur lensa dan mencari Gray.

"ketemu, 1800 meter" kata Natsu pelan, lalu ia diam sesaat, memejamkan matanya beberapa saat, "yosh, angin juga dalam keadaan baik" kata Natsu lagi, "jadi.. segera temukan gadis itu Gray" kata Natsu dengan seringai yang menunjukkan taringnya

.

Gray mengendap diantara kargo untuk mencari Seilah. Tak lama mereka bertemu, dipinggir laut tepat. Seilah menghadap laut, rambutnya yang hitam pekat terurai oleh angin yang berhembus. Wajah putihnya seperti memantulkan cahaya bulan kembali. Pakaian Kimononya yang sedikit terbuka dibagian dada membuat belahan dadanya terlihat jelas.

"yo~ nona.. apa kau sendirian" kata Gray seperti om-om penggoda.

"hm? Seseorang. Kukira tidak akan ada orang disini" kata Seilah.

"aku kebetulan lewat dan melihat gadis sendiri berjalan kemari. Apa yang ingin kau lakukan nona. Atau bisa aku sebut Seilah saja?" kata Gray

"tentu saja, tuan Fullbuster" balasnya dengan wajah tanpa ekspresi

"itu ya targetnya, sepertinya akan mudah. Apa harus kutembak sekarang? Tapi sepertinya Gray ingin bersenang-senang" kata Natsu yang tangannya sudah siap menarik pelatuk snipernya. Saat ini posisinya membelakangi Gray sejauh 1900meter, jadi Natsu melihat punggung Gray dan wajah musuhnya itu. Seharusnya ini posisi yang merugikan karena jika lensa terpantul cahaya maka Seilah akan mengerti bila ada penembak jitu disitu

'dia tahu namaku. Jadi ini ya yang namanya informant' batin Gray, "jadi apa yang ingin kau lakukan disini?" kata Gray

"itu bukan urusanmu Fullbuster-san" jawab Seilah yang hendak melangkah pergi

*JLEB

Tapi langkahnya terhenti saat Gray melempar sebuah pisau kejalur jalannya Seilah. Pisau itu menancap tepat ditempat seilah akan melangkahkan kaki selanjutnya

"kau laki-laki yang tidak sopan tuan Fullbuster" kata Seilah

"maaf. Itulah aku" kata Gray dengan dua buah pisau ditangannya. Dibalik baju Gray ada beberapa pisau lagi

"sepertinya kau akan mati sekarang" kata Seilah dengan wajah yang tenang

"awas Gray!" kata Natsu, ia tak punya pilihan selain,

*DOR!

Sebuah tembakan meluncur kearah kaki Gray yang langsung membuat Gray kaget lantas langsung menoleh kebelakang

"ap-" belum sempat Gray menyelesaikan kalimatnya, Gray langsung menghindari tikaman sebuah pisau. Gray menunduk dan segera menghindari lagi pisau yang terus disayatkan kearahnya, 'sial!' batin Gray, saat sebuah pisau hampir mengenai tenggorokannya Gray melakukan backflip dan menendang pisau itu hingga melayang dan jatuh ketanah (aspal)

"wow.. teknik yang bagus Gray. Seperti yang diharapkan dari mantan anggota sirkus pembunuh" kata seorang pria yang sedari tadi menyudutkan Gray. Pria itu berjalan menuju Seilah, "apa anda baik-baik saja Seilah-san?" kata pria itu sopan

"kau sudah sampai Rogue" kata Seilah kepada pria yang memiliki warna rambut senada itu

"sebaiknya kita segera pergi dari sini. Ada penembak jitu yang cukup menyulitkan kita" kata Rogue

"hm? Tidak. Dia sudah berlaku tidak sopan kepadaku, jadi akan aku uji dia dan temannya itu" kata Seilah dengan senyuman

"tapi Seilah-san-" perkataan Rogue tak didengar. Seilah berlari kearah Gray. Gray langsung melemparkan pisau kearah seilah namun pisaunya ditepis menggunakan pistol ditangannya

"mati kau Fullbuster" kata Seilah menembaki dari jarak dekat. Jaraknya terlalu dekat hingga Gray dapat memegangi tangan Seilah dan membuat pistol melenceng. Gray menekuk pergelangan tangan Seilah hingga pistolnya terjatuh. Kesempatan ini tidak disia-siakan Gray dan segera melayangkan pisaunya

*SREK

Mata Gray terkejut, tak hanya Gray, Natsu yang melihat pergelutan itu dari scopenya kaget dengan keahlian wanita itu. Seilah mencengkram pundak Gray dan kakinya berada melayang tepat vertical dengan kepala mereka. Lalu Seilah segera mengayunkan badannya kebelakang Gray. Seilah mendarat dengan mulus. Sekarang mereka saling memunggungi, namun Gray hilang keseimbangan saat Seilah mengayun tadi membuat Gray sedikit terhuyung kebelakang membuat punggungnya menempel dengan punggung Seilah. Gray langsung membalikkan badannya dengan cepat dan mengayunkan pisaunya kearah kepala Sehila namun Sehila menunduk

"giliranku" kata Seilah. *Grep

Dia menahan tangan Gray dan melakukan hal seperti yang Gray lakukan hingga pisaunya terjatuh. Tak selesai disitu, Gray melawan dengan mengayunkan tangan yang satunya. Seila langsung menarik tangan Gray kearah punggung Gray membuat Gray meringis menahan ngilu ditangannya. Gray mencoba mengayunkan siku tangannya yang masih bebas kebelakang namun hal itu malah membuat Seilah menangkap lengannya yang satunya. Saat ini posisi Gray sama persis seperti saat dimana Gray mengunci Natsu di kafe

'sial! Aku kalah' batin Gray kesal

"skill yang hebat Seilah-san" puji Rogue dari jauh

"sekarang…" Seilah yang masih mengunci Gray menghadap Natsu yang jauh disana, "kita lihat, apakah temanmu berani menembak" kata Seilah. Gray merasa seperti sandera. Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia mencoba menendang kearah belakang tapi seilah membisikkan sesuatu ketelinga Gray, "Gray, kau tahu? Ayahmu, Silver Fullbuster adalah rekanku" perkataan itu sontak membuat Gray membulatkan matanya. Entah kenapa tapi perkataan itu manjur sekali membuat badan Gray kehilangan tenaga

'ayah? Tidak, aku melihatnya sudah dibunuh. Itu tidak mungkin' kata Gray dalam hati

"apa yang kau lakukan Gray? Menyingkir dari situ" kata Natsu yang membidik kepala Gray. Maksud Natsu adalah kepala Seilah tapi apa daya Seilah berlindung dibelakang Gray

"kurasa temanmu tidak berani menembak, berarti kau akan mati disini" kata Seilah dengan senyuman yang mengerikan

*KREK

"AAAAKKHHH!" Gray berteriak kesakitan saat tulang tangannya dipatahkan secara perlahan oleh Seilah

"nikmati setiap detiknya Gray" kata Seilah. Ia semakin menarik tangan Gray kebelakang hingga Gray meringis kesakitan

"Gray singkirkan kepalamu" kata Natsu sebal

Seilah melepaskan tangan kanan Gray yang sudah lemas, "tenang, tulangmu tidak patah, hanya dislokasi saja" kata Seilah. Tangan kanan Seilah merabah kedalam baju Gray dan mengambil sebilah pisau milik Gray. Ia arahkan pisau itu keleher Gray. Bagian lancip itu mengarah kearah leher kanan Gray

"aku tidak akan menggorokmu, tapi akan menancapkan ujung pisau ini secara perlahan hingga darah dan napasmu habis" kata Seilah. Gray berusaha tetap tenang, ia mengatur napasnya

"lakukan saja, sepersekian detik kau menusukku maka peluru itu akan masuk kedalam kepalamu" ancam Gray

"hahaha.. temanmu tidak akan berani menembak" kata Seilah meremehkan

'orang yang ia sayang saja ia bunuh, apa lagi orang sepertiku yang hanya rivalnya' kata Gray dalam hati. Gray mengangkat kepalanya menghadap Natsu, mulutnya bergerak mengucapkan kata tanpa suara kepada Natsu

Natsu melihat ucapan Gray dari scope snipernya. Natsu tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. Dia memejamkan matanya, menghirup nafas dalam lalu mengeluarkannya. Matanya berubah menjadi tajam, bahkan lebih tajam dari peluru di sniper miliknya, "angin yang bagus, jarak 1900meter, akurasi 99,9% -tidak, 100%tepat" kata Natsu pelan. Jarinnya langsung menarik pelatuk itu

*DOR

Gray memejamkan matanya sesaat. Besi panas itu meluncur berputar bergesekan dengan angin. Gray mengingat perkataan terakhir Natsu

'hati-hati pangkal hidungmu'

Gray langsung membuka matanya, ia sadar akan maksud dari perkataan Natsu. Dengan reflex Gray langsung memiringkan kepalanya kearah kiri dan langsung sebuah peluru panas menembus kepala Seilah dalam sepersekian detik saat Gray memiringkan kepalanya. Rogue membulatkan matanya saat melihat hal itu. Itu adalah hal yang paling ceroboh, jika tidak ada kepercayaan maka kepala Gray juga akan tertembus peluru itu.

Jeratan tangan Seila melemas membuat tengan kiri Gray berhasil lepas, Seilah tumbang dengan darah terus keluar dari kepalanya. Gray mengambil pisau yang berada ditangan Seilah dengan tangan kirinya

"sekarang, kau juga akan kubunuh" kata Gray dengan tatapan sedingin es

"maaf, tugasku hanya menjemput Seilah. Sampai jumpa" kata Rogue melemparkan sebuah bom asap. Asap menyembur membuat Gray tak mampu melihat dimana dia, ia melemparkan pisaunya kesembarang tempat namun tidak mengenai siapapun. Dari atas Natsu mencoba mencari dimana orang itu. Ia menemukan mobil yang melaju menjauhi pelabuhan

"jarak 2100 meter. Aku bisa menembaknya, tapi tugasku membunuh wanita itu" kata Natsu. ia tersenyum dan segera membereskan peralatannya dan kembali kemobil

.

Mobil Gray melaju normal dijalanan kembali ke Tokyo. Kali ini Natsu yang mengemudi karena tangan Gray terluka

"tadi kukira peluruku akan mengenai kepalamu Gray" kata Natsu lalu tertawa

"tidak mungkin aku terkena peluru lemahmu itu Natsu" balas Gray meremehkan

"hahaha.. tapi syukurlah kau selamat" kata Natsu, "kita ke rumah sakit mana?" tanya Natsu

"tidak usah, aku urut saja nanti juga sembuh, ini hanya keseleo" kata Gray

"a sou" kata Natsu dan lanjut mengemudi kerumah Gray

Selama perjalanan Gray termenung menatap kaca disampingnya. Ia memikirkan perkataan Seilah tadi

'Gray, kau tahu? Ayahmu, Silver Fullbuster adalah rekanku'

Gray tidak ingin mempercayai hal itu, tapi tetap saja perkataan itu terngiang dikepalanya.

.

.

Seminggu berlalu. Tangan Gray hampir sembuh. Dan sebuah berita anak dari keluarga Heartfillia menghilang. Hal itu pantas masuk berita karena Heartfillia mempunyai beberapa hotel yang cukup terkenal.

Disebuah gedung, Sting dan Yukino sedang bersantai istirahat.

"jadi dia benar-benar menghilang" kata Sting

"ada yang bilang dia sudah mati" kata Yukino

"padahal dia masih memiliki hutang informasi kepadaku" sesal Sting dengan menyeruput teh miliknya.

.

.

Natsu keluar dari mobil Gray, ya karena tangan Gray masih belum sembuh maka Natsu mengantar Gray kemanapun. Natsu mengambil cuti dari Queue de Fée untuk seminggu kedepan karena ia merasa lelah. Ia masuk kedalam apartemennya dan mendapati Wendy terbaring dikasurnya. Wendy sudah mulai liburan musim dingin, jadi dia selalu dirumah. Natsu ambruk tepat disebelah adiknya.

"onii-chan, kau tidak bekerja?" tanya Wendy.

"tidak, aku mengambil libur untuk seminggu" balas Natsu dengan malas. Ia menenggelamkan wajahnya dikasur miliknya.

"ne onii-chan, kenapa Lucy-nee-chan tidak pernah kesini?" tanya Wendy polos.

"a-ah.. dia sedang sibuk bekerja" balas Natsu sekenanya.

"tidak ada orang yang bekerja 24 jam onii-chan. kau sudah berbohong kepadaku" kata Wendy.

"a-a-aku tidak berbohong kok haha" kata Natsu tertawa garing.

'ketahuan sekali kalau kau berbohong -_- ' batin Wendy, "lalu, aku melihat berita bahwa anak dari keluarga Heartfillia menghilang, seingatku nama Lucy-nee-chan adalah Lucy Heartfillia. Jadi itu pasti dia. Apa benar Lucy-nee-chan menghilang?" tanya Wendy dengan nada sedih.

Natsu menghela nafas panjang, ia mengubah posisinya untuk duduk dikasur.

"apa kau ingin bertemu dengan Luce?" tanya Natsu dengan suara parau yang hanya dibalas anggukan oleh Wendy, "maaf Wendy, kita tidak akan bisa bertemu kembali dengan Luce" perkataan itu seperti petir bagi Wendy. Wajah Natsu juga terlihat murung sekali, ia melirik kearah Wendy.

"eh? Apa maksudmu onii-chan?" tanya Wendy dengan nada khawatir. Natsu hanya diam membisu, "ne.. nee… apa maksudmu?" lanjut Wendy dengan suara yang mulai terdengar parau.

Poni Natsu menutupi kedua matanya, "dia.. sudah meninggal" kata Natsu pelan.

"bohong! itu tidak mungkin!" teriak Wendy.

Bersambung

Yoo minna~ gimana kabarnya? Masih sehat kan? Yah jumpa lagi dengan Author. Ini dia Chap 9, gimana? Author kesulitan saat adegan berantem, jadi author tidak tahu apakah itu bagus atau jelek. Seperti biasa, judul tidak berhubungan dengan cerita, jadi abaikan judulnya. (Author: 'bingung ngasih judul' T_T )

Lucy nggak ada yaaa? Haha, siapa yang bilang kemaren Lucy ga tewas? :p hahaha.. disini ceritanya ga ada yang special, hanya cerita biasa dimana Gray dapat pekerjaan bareng Natsu dan Natsu nunjukkin skillnya #wee… dan disini kita tahu bahwa ada Seilah, maka akan ada anggota tartaros yang lain, termasuk si ayah Gray walaupun entah akan saya keluarkan atau tidak.. hahaha.. XD

Oh ya, untuk daerah yang saya ketik diatas, itu asli loh tapi saya tidak tahu apakah didaerah itu memiliki mercusuar, ini hanya fiksi :v

Ya sekian dari Kuro, semoga chap 9 menghibur anda readers :v tetep baca terus yaa, jangan lupa review

.

.

.

"bohong! itu tidak mungkin!" teriak Wendy. Natsu terdiam membisu tak mampu mengatakan apapun pada adiknya, "sudahlah onii-chan, aku tahu gelagatmu saat berbohong. Jadi antar aku ke Lucy-nee-chan" kata Wendy dengan nada memergoki orang yang berbohong

"eh? Ketahuan ya?" balas Natsu dengan cengiran. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Wendy sweetdrop melihat kakaknya yang ketahuan berbohong

~Bersambung…~

.

.

.

yaa benar-benar bersambung.. XD

oke see you next chap! XD jangan lupa review..

jaa ne~

~RnR~