"Ibu—"

"Ibu tidak mau tau, Jaehyun. Kau harus menggantikan ayahmu. Ini semua salahmu."

"Ya aku tau, tapi aku harus membawa Taeyong kesini terlibih dahulu."

"Tidak."

Jaehyun menggeram marah. Ia sudah mengakui jika ini salahnya, dan ia mau tidak mau harus menggantikan ayahnya untuk menjadi pemimpin dari packnya, Blackgold. Tapi ia harus membawa Taeyong ke istana. Karena Taeyong adalah matenya dan lelaki manis itu tengah mengandung anaknya.

"Tinggalkan Taeyong.

Karena ibu sudah menyiapkan calon yang pantas untuk menjadi pendampingmu."

.

.

Running 2 U

Pairing:

Jung Jaehyun x Lee Taeyong

And other members

Warning: Boys Love, Fantasy, Werewolf fiction, typo(s) everywhere, tidak sesuai EYD, OOC!

.

.

.

Taeyong telah menceritakan semuanya. Bagaimana bisa ia hidup dengan aman selama dihutan, siapa itu Jaehyun, adik-adik Jaehyun, termasuk perihal kehamilannya. Mereka semua –ibu Taeyong, Taeyeon, Doyoung, Yuta, dan Johnny masih tidak percaya. Bagaimana bisa di zaman serba modern seperti ini makhluk seperti itu masih ada?! Terlebih yang mereka semua tau, werewolf itu hanya ada di cerita fiksi, tidak ada di kehidupan nyata seperti ini!

Setelah sadar tadi, ibu Taeyong dengan panik mencari anaknya, takut hilang lagi. Taeyeon yang saat itu sudah tiba mengajak ibunya untuk menjenguk Taeyong. begitu juga dengan teman-teman lelaki manis itu. jadi pada saat mereka tengah berkumpul, entah keajaiban dari mana Taeyong langsung tersadar dan menangis tersedu-sedu dipelukan sang ibu.

"Jadi lelaki tadi yang bernama Jaehyun?" tanya ibu Taeyong dan diangguki anaknya itu. Dirinya ingat saat Taeyong pulang dan memeluknya ada seorang lelaki yang berdiri di belakang mereka. Dan lelaki itu yang terang-terangan berkata bahwa ia telah membunuh suaminya.

"Ya, dia Jaehyun. Seorang alpha. Ayah dari bayi yang berada ddalam perutku."

Ibu Taeyong pusing. Bahkan semua yang berada disana juga merasakan hal yang sama. ini masih terasa seperti mimpi untuk mereka.

"Sekarang dimana si keparat Jaehyun itu? Aku akan membunuhnya."

"Tidak noona!" Taeyong berteriak, panik. "Kau tidak akan bisa membunuhnya karena ia sangat kuat. Dia bukan manusia tetapi dia adalah binatang buas!"

"Kalau begitu kita harus memikirkan cara untuk memancing dia." Ucap Taeyeon sambil menatap kearah adiknya. "Katakan, apa kelemahan manusia serigala?"

Taeyong menggeleng lemah. Taeyeon mendelik, "kau tidak tau? Kau pasti tau, Taeyong! Ayo bilang padaku dan aku akan membuat rencana untuk membunuhnya."

"Aku bukannya tidak tau noona." Ada jeda sebentar sebelum Taeyong melanjutkan ucapannya, "tetapi kelemahan Jaehyun itu hanya satu...

... yaitu aku."

.

.

.

Running 2 U

Jaehyun melangkah memasuki istana diikuti oleh Jeno dan Mark dibelakangnya. Haechan tidak ikut, Jaehyun menyuruhnya tinggal dirumah takut-takut kalau Taeyong kembali kesana walau itu rasanya sangat mustahil.

Sesampainya didepan kamar ayah dan ibunya, para penjaga pintu itu langsung menyingkir dan membukakan pintu mempersilahkan Jaehyun masuk. Akhirnya ia masuk sendiri, Jeno dan Mark tidak ikut masuk karena memang tidak diperbolehkan.

Saat Jaehyun masuk, didalam kamar sudah banyak orang. Ada tabib yang sudah terbiasa mengobati keluarganya, ada juga paman Kang, tangan kanan ayahnya, ada kepala penasihat istana, dan ada ibunya tentu saja. Jaehyun bisa melihat ayahnya tengah tertidur diatas ranjang dengan tubuhnya yang masih terdapat banyak luka akibat ulahnya.

PLAK

Jaehyun mendapatkan tamparan dipipi kanannya saat ia menghampiri ayahnya. Ia menatap ibunya dengan pandangan datar sambil mengusap bekas tamparan itu.

"Puas kau, brengsek?"

Jaehyun diam ia mengalihkan pandangannya kearah tabib yang berdiri dihadapannya. "Bagaimana keadaan ayah?"

Tidak ada jawaban. Namun tiba-tiba suara ibunya terngiang dikepala, membuat dirinya merasa serba salah seketika.

"Ayahmu tidak bisa diselamatkan." Tidak ada tangis, hanya saja suara ibunya sedikit berbeda. Mungkin ia tengah menahan tangisnya. "Dan mulai detik ini kau yang akan menjadi pemimpin dan meneruskan ayahmu untuk memimpin pack kita."

Jaehyun terperangah. Diddalam benaknya tidak terpikirkan olehnya bahwa ia akan menjadi pemimpin pack secepat ini. Ia tidak bisa, setidaknya ia harus mendapatkan Taeyong terlebih dahulu sebelum ia menjadi pemimpin disini.

"Ibu—"

"Ibu tidak mau tau, Jaehyun. Kau harus menggantikan ayahmu. Ini semua salahmu."

"Ya aku tau, tapi aku harus membawa Taeyong kesini terlibih dahulu."

"Tidak."

Jaehyun menggeram marah. Ia sudah mengakui jika ini salahnya, dan ia mau tidak mau harus menggantikan ayahnya untuk menjadi pemimpin dari packnya, Blackgold. Tapi ia harus membawa Taeyong ke istana. Karena Taeyong adalah matenya dan lelaki manis itu tengah mengandung anaknya.

"Tinggalkan Taeyong.

Karena ibu sudah menyiapkan calon yang pantas untuk menjadi pendampingmu."

Jaehyun tertawa, memusatkan perhatiannya kepada sang ibu dan memandangnya dengan penuh kebencian. "Aku tidak akan mau bersanding dengan orang lain selain Taeyong." ia menyeringai melihat wajah tidak setuju dari ibunya. "Kau harus menyetujuinya, bu. Jika tidak aku akan keluar dari pack ini."

Ibunya melotot tidak percaya. Kenapa sisi buas Jaehyun semakin menjadi-jadi? Pikirnya. Ia terdiam sejenak sebelum membuka suaranya kembali. "Ibu akan memikirkannya terlebih dahulu."

"Kau tidak punya pilihan. Cukup beri aku jawaban 'ya' maka aku akan menggantikan ayah." Kata Jaehyun sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu. Membuat yang berada didalam kamar itu menggelengkan kepalanya.

..

"Bagaimana hyung?"

Jaehyun baru saja memasuki kamarnya. Disana Jeno dan Mark tengah menunggunya. "Nyawa ayah tidak bisa diselamatkan."

Jeno menghembuskan napasnya berat. Kemudian adiknya itu berjalan keluar kamar, mungkin ingin melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Jaehyun duduk disamping Mark dan mereka terdiam susaat.

Jaehyun sangat menyayangi ayah dan ibunya. Ia akan menjadi penurut jika diperintah oleh kedua orang tuanya. Namun entah kenapa saat ayahnya bilang akan menyakiti Taeyong, Jaehyun merasa sangat marah dan tidak bisa merasakan sayang untuk ayahnya. Begitu juga dengan ibunya. Ia langsung membenci ibunya ketika ibunya itu berkata bahwa ia harus meninggalkan Taeyong. Jaehyun mendengus. memangnya ia anak kecil yang masih harus menuruti kemauan mereka?

"Alpha?"

Yang dipanggil menoleh, tidak menjawab tetapi Mark tau arti pandangan sang alpha. "Kau ingin aku membantumu membawa Taeyong hyung kembali padamu?"

Jaehyun menggeleng, matenya itu pasti akan semakin membencinya jika dirinya membawa paksa Taeyong kesini. Kemarin-kemarin saja dia berani bunuh diri, bagaimana kalau matenya itu dipaksa dibawa kehadapannya?

"Biar aku saja yang membawanya, walaupun itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama."

"Tapi kau harus segera menjadi pemimpin pack ini, alpha."

"Aku tau, tapi aku akan tetap teguh dengan pendirianku. Aku akan menjadi pemimpin bagi Blackgold jika Taeyong sudah kembali kepelukanku lagi."

"Lalu siapa yang akan menjadi pemimpin untuk saat ini?"

Sang alpha mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak tau dan aku tidak peduli. Saat ini aku hanya akan memikirkan cara bagaimana agar Taeyong mau memaafkanku dan kembali ke sisiku lagi," setelah mengucapkan itu, Jaehyun keluar melalui jendela kamarnya yang terbuka. Meninggalkan Mark didalam kamarnya.

.

.

.

Running 2 U

Kandungan Taeyong kini sudah memasuki bulan kedua. Tadinya ia sempat ingin benar-benar membunuh anak yang ada didalam perutnya itu mengingat ayahnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Tetapi yang dikatakan oleh dokter membuat ia mengurungkan niatnya.

Flashback

Sahabat-sahabat Taeyong sudah pulang, begitu juga dengan ibunya. Ia memaksa ibunya untuk pulang karena ibunya harus banyak-banyak beristirahat. Akhirnya ibunya pulang dan diantar oleh Johnny. Tinggallah Taeyong dan kakaknya berdua dikamar ini.

Mereka berbincang sesekali, menanyai kabar satu sama lain. Tak lupa membahas soal Jaehyun lebih detail lagi karena Taeyeon yang memaksanya. Saat sedang asik bercerita, dokter yang menangani Taeyong datang dengan membawa sebuah amplop.

"Permisi Taeyong-ssi, Taeyeon-ssi. Saya ingin memberi hasil lab mengenai kandungan Taeyong-ssi." Ucap sang dokter sambil memberikan amplop itu kepada Taeyeon.

Kakak perempuan Taeyong membuka amplop itu, lalu membacanya. Ia mengerutkan dahinya kemudian menatap sang dokter. "Ini maksudnya apa, dok?"

"berdasarkan hasil penelitian kami, bayi yang berada didalam kandungan Taeyong-ssi memang sudah sepenuhnya memiliki nyawa sejak saat janin itu ada." Sang dokter menjeaskan sambil sesekali menatap kearah sepasang kakak-beradik itu. "namun yang masih belum terpecahkan, kami tidak tau kenapa janin Taeyong-ssi sudah memiliki nyawa diusia yang masih terlalu muda. Dan juga—"

"Apa aku bisa menggugurkan anak ini?" Taeyeon mendelik, sang dokter menghela napasnya berat.

"Itu yang tadi akan saya bahas, Taeyong-ssi. Janin anda mengambil semua nustrisi makanan yang masuk kedalam tubuh anda, bahkan janin anda menghisap darah anda jika anda sedang tidak mengkonsumsi makanan lebih dari 2 jam. Itulah mengapa anda sering merasakan sakit yang tidak biasa bahkan anda bisa sampai pingsan jika sakit di perut anda sudah sangat parah." Dokter itu mengambil napasnya sebelum melanjutkan, "dan anda tidak bisa menggugurkan kandungan anda. Resikonya terlalu besar karena janin anda berbeda dengan janin pada umumnya."

Taeyong yang mendengarnya lemas seketika. Setelah dokter itu pamit, tangisnya langsung pecah. Ia menangis, menjerit, meraung dan menyalahkan Jaehyun atas semua ini.

"Aku ingin mati saja noona! Biarkan aku mati!"

"Taeyong sadarlah! Ibu dan aku masih membutuhkanmu! Jangan bertindak bodoh. Kau masih memiliki aku, ibu dan sahabat-sahabtmu."

Butuh waktu satu jam untuk Taeyong meredakan tangisnya. Setelah puas menangis ia tertidur, berharap jika ini semua hanyalah mimpi buruknya.

Flashback off

"Akhhh."

Taeyong merasakan sakit pada perutnya. Ia melihat jam di dinding kamarnya. Jam 11 malam. Ia ingat tadi jam 10 ia sudah makan untuk yang kesekian kalinya. Setelah tau jika janinnya mengambil semua makanan yang ditelannya, Taeyong akan makan satu jam sekali. Ia tidak peduli, ia tidak ingin merasakan sakit pada perutnya. Namun kali ini sepertinya ia terlambat, karena terlalu asik melamun tadi.

Ia berdiri dari kasurnya, berjalan tertatih sambil memegangi perut ratanya. Saat hendak menggapai knop pintu, ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Membuat dirinya menjerit dan terjatuh.

"AKHHH." Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok, menangis sambil menggigit bibirnya. Ia tidak kuat untuk berdiri karena sumpah demi apapun ia merasakan jika perutnya seperti dihisap dari dalam.

"I-ibu... hiks." Kesadaran Taeyong tinggal setengah, ia tidak tau mungkinkah ia akan mati sekarang? Jika ia sepertinya itu adalah ide bagus.

Perlahan ia mulai menutup matanya, saat tubuhnya hampir jatuh menyentuh lantai, samar-samar ia bisa merasakan dekapan hangat seseorang. Itu dia, dia yang Taeyong benci, tetapi dia juga yang Taeyong butuhkan.

"Jae...hyun."

.

.

.

TBC

Hallo? Long time no see. I'm so sorry aku sempet down karena aku pikir udh gak ada yg minat sm cerita ini huhu. So how? Maafin kalo pendek. Karena sepertinya mulai chap ini smp end satu chap aku batesin c smp 1k+ aja

Makasih buat kalian yg selalu nagihin ff ini. Aku bakalan kelarin ini kok but gak janji bakal fast up ya karna aku pikir peminatnya sudah tidak banyak

Oke last, review please? See u in next chap!