Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, OOC (maybe), Typo (S), gaje, abal, dan sebagainya.
A/N : sebagai permintaan maaf atas keterlambatan kemarin, saya mengupdate fic ini dalam jarak berdekatan.
Selamat membaca.
Don't like don't read.
Enjoy.
A Star and A Bee.
Chapter 9.
Welcome Christmas Eve.
"Ungh," Soifon membuka kedua kelopak mata dan mengerjapkannya beberapa kali. Jari telunjuknya bergerak menyentuh pelipisnya, dan memijat sejenak. Kepalanya masih terasa sangat pusing.
Ia menggelindingkan bola mata abunya ke kiri dan ke kanan. "Tampaknya, aku sudah berada di rumah," ucapnya pelan. Ia mengangkat tubuhnya perlahan dan menatap benda bulat yang berisi lingkaran angka di dalamnya.
Jarum jam masih menunjukan pukul 03.00 dini hari. Soifon meringsut turun dari kasurnya, dan mengambil cangkir berisi cokelat yang sudah mulai dingin di atas mejanya. Gorden abunya bergerak pelan karena angin baru saja menyusup melalui celah kecil di bawah jendela.
Soifon menoleh dan membuka jendela. Tangannya masih menggenggam erat cangkir tadi. Matanya terpejam, mencoba memasukan udara dingin ke dalam dirinya. Dan mencoba mengingat apa yang terjadi padanya beberapa jam yang lalu.
"Ah!" tiba-tiba kelopak matanya terbuka, pipinya mulai bersemu. Rupanya ia sedang mengingat-ingat saat Ggio memeluk tubuhnya.
Deg deg deg deg.
Detak jantungnya berdengung di gendang telinganya. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada jantungnya hingga bisa begitu berdebar. Padahal ia hanya mengingat sebuah nama—Ggio.
Soifon menggerakan iris abunya saat mendengar sebuah suara dari arah taman di hadapannya. Perempuan itu menyipitkan matanya, dan menyingkirkan debaran jantungnya untuk sementara.
Sosok itu semakin mendekat, dan mulai terlihat. "Yo!" Soifon membelalakan matanya, hampir saja cangkir di tangannya terjatuh.
"Apa yang kau lakukan di sini?" sosok tadi meletakkan tangannya di daun telinga, menandakan ia tidak mendengar suara Soifon. Lalu, sosok itu tersenyum dan merogoh sakunya. Tepat sedetik kemudian, ponsel Soifon bergetar.
Dengan secepat kilat, Soifon menyambar ponselnya dan menerima panggilan. "Halo," ucapnya. Seseorang di seberang sana tertawa pelan. Soifon kembali berlari melihat keluar jendela, dan sosok itu masih berdiri di sana. Sosok itu masih tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Dan sosok itulah yang sedari tadi berputar di kepalanya—Ggio.
"Apa yang kau lakukan pagi buta begini?" Soifon mengulang pertanyaannya, lagi-lagi terdengar gelak tawa dari seberang sana. Ggio mendongakan kepalanya dan menatap Soifon. Wajah putih gadis itu sedikit memerah saat bertemu pandang dengan iris keemasan Ggio.
"Menjengukmu," jawabnya ringan. Satu kata itu berhasil membuat Soifon terdiam dan menundukkan kepalanya sejenak—untuk menyembunyikan semburat merah yang mulai mendominasi wajah putihnya. "Hei, hei, kenapa menundukan kepala? Kau tidak ingin berterima kasih padaku?"
Soifon tersadar dan mulai membuka bibirnya. "Terima kasih."
Ggio kembali tertawa kecil saat mendengar suara pelan dan gugup dari bibir mungil Soifon. Tiba-tiba suara tawa itu terhenti, Ggio teringat akan perkataan Tesla ketika mereka dalam perjalanan pulang di dalam bus.
"Soifon tidak menolak saat aku mengatakan aku pacarnya. Jadi, kau bisa menyimpulkannya sendiri, Ggio."
"Soifon," panggil Ggio pelan. Kepala gadis itu sedikit terangkat, justru pemuda itulah yang sedikit menundukan kepalanya sekarang. "Sejujurnya, aku datang kemari untuk bertanya padamu."
Alis Soifon sedikit terangkat.
"Apa? Tanyakan saja."
Ggio mengeratkan kepalan tangannya. Tampaknya, pemuda itu sedikit gugup untuk menanyakan hal ini.
"Apa kau menyukai, Tesla Lindocruz?" Ggio mengangkat kepalanya, dan menemukan gurat bingung di wajah Soifon. "Jika kau tidak ingin menjawab juga, tidak apa,"ucapnya kemudian. Soifon berjalan masuk ke kamarnya, lalu menutup jendelanya.
Ggio menghela nafasnya, dia pun berbalik dan bersiap melangkah pergi. Namun secercah harapan muncul untuknya tatkala suara Soifon kembali terdengar dispeaker ponselnya. "Tunggu di sana."
Ggio tersenyum dan kembali berbalik menatap kamar Soifon.
Ggio berjalan-jalan sejenak untuk menunggu tindakan gadis berkepang itu selanjutnya. Ggio sedikit menggosokkan kedua telapak tangannya pelan, berusaha menghasilkan panas dari gesekan keduanya.
Samar-samar suara langkah kaki tertangkap oleh indera pendengaran Ggio. Kepalanya berputar, dan menatap Soifon sedang berlari ke arahnya. "Hosh... hosh..." Soifon mengatur nafasnya sejenak, dan segera berdiri tegap menatap Ggio.
"APA YANG ADA DI KEPALAMU, BAKA!" bentak Soifon. Ggio terkejut mendengarnya. Soifon menarik nafasnya dalam, berbicara dengan sekuat tenaga ternyata membuat pasokan oksigen ke paru-parunya menipis. Ggio langsung menjejalkan tangannya ke dalam saku.
"Jadi, kau benar-benar menyukainya?" tanyanya lirih. Soifon mendesah dan segera mangambil syal kuning—milik Ggio—yang ada di genggaman tangannya. Dengan segera ia lilitkan kembali syal itu ke leher Ggio. Pemuda itu sedikit tersentak dengan apa yang Soifon lakukan.
Setelah selesai memasangkannya, Soifon mengangkat kepalanya dan menatap lurus iris keemasan itu. "Tidak, aku tidak menyukainya."
Ggio terdiam sesaat—mencerna ucapan Soifon, kata demi kata. Pemuda itu berusaha agar ia tidak salah mengartikan empat kata yang baru saja dia dengar. Setelah beberapa detik terdiam, sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum.
Tangan yang tersimpan di dalam saku, ia keluarkan untuk menggapai tangan Soifon yang masih menggenggam syal kuning di lehernya. "Baguslah," Ggio menggenggam lembut kedua tangan Soifon yang mulai membeku akibat suhu dingin.
Sekali lagi, pipi Soifon terasa panas dan jantungnya berdegup tak beraturan. Dalam hati sungguh ia berharap pemuda di hadapannya tidak dapat mendengar debar jantungnya. Tanpa Soifon sadari, ia juga membentuk sebuah senyuman setelah merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya.
"Arigatou, Ggio, untuk semuanya," bisiknya pelan. Ggio melepaskan tangan kanannya dan menarik kepala Soifon mendekat ke arahnya.
Cup.
Ggio memberi kecupan tepat di puncak rambut biru tua Soifon. "Aku pulang, Soifon," bisik Ggio. Dia pun melepaskan genggamannya dan segera berbalik pulang.
Soifon merasakannya, kehangatan yang menjalar di atas kepalanya. Dengan segera ia berlari ke dalam rumah—untuk menjaga kehangatan yang baru saja Ggio berikan padanya.
Soifon langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tangannya menyentuh dadanya, berusaha menenangkan jantung yang sepertinya akan meloncat keluar dari tempatnya. Rona merah pun tak dapat di sembunyikan lagi dari pipinya. Sebuah senyum tulus pun ikut menghiasi wajahnya.
"Ohayou, Soifon!" seru Orihime penuh semangat. Tidak seperti biasanya, gadis yang disapa oleh Orihime itu membalas sapaan tersebut.
"Ohayou." Orihime terkejut mendengarnya dan langsung saling pandang dengan Tatsuki—yang sudah sedari tadi berdiri di sebelahnya. Soifon membuka lokernya dan memasukan beberapa barang-barangnya.
"Hoam."
Soifon menoleh ke sumber suara dan tersenyum saat mendapati siapa yang sedang menguap itu. "Aku tidak tidur, hanya untuk bertandang ke rumah seseorang," sergahnya, sebelum Soifon melontarkan sebuah pertanyaan.
Buk.
Soifon memukul kepala Ggio pelan dengan buku di tangannya, Ggio hanya tertawa dan langsung menutup lokernya. Tiba-tiba sebuah benda licin meluncur turun dari tumpukan buku Soifon. Gadis itu membungkukan badannya dan memungut benda itu. Jemari lentiknya membuka benda—berupa kertas—yang telah dilipat dengan sangat rapi itu.
Temui aku di taman belakang segera.
Hitsugaya.
Soifon segera menutup lokernya dan berlari menuju taman belakang. Ia tak ingin lari lagi dari pemuda itu. Ia harus menemuinya, dan mengatakan semuanya. Ggio hanya menatap punggung Soifon dan setelah itu ponselnya bergetar. "Halo, Sunsun?" sapanya pada seseorang di seberang telepon.
Angin musim dingin langsung menyambutnya, saat gadis itu kembali berada di tempat terbuka. Soifon mengatur nafasnya sejenak.
"Maaf, mengganggumu."
Soifon langsung berjalan mendekati Hitsugaya yang berdiri di dekat pohon, di seberangnya.
"Aku memanggilmu, hanya ingin menanyakan kepastianmu." Soifon memejamkan mata sejenak, dan menatap iris turquoise Hitsugaya. Lalu, gadis itu tersenyum.
"Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu."
Hitsugaya sudah tahu, bahwa gadis di hadapannya tidak mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia hanya ingin melepaskan bebannya sejenak, membebaskan pikirannya dari bayangan gadis berkepang itu.
Hitsugaya memejamkan mata dan tersenyum, kepalanya ia telengkan sedikit dan kembali menatap Soifon. "Ggio, kah?" senyum itu memudar sejenak dari wajah Soifon dan tergantikan dengan rona merah di kedua pipinya.
"Te-terima kasih atas bantuanmu, Hitsugaya."
Setelah itu Soifon berbalik, dan segera berlalu. Hitsugaya melirik pohon yang berjarak agak jauh darinya. Dia pun mendesah berat.
"Kau sudah mendengarnya?"
Sosok gadis bercepol keluar dari balik pohon itu, dan menatap takut ke arah Hitsugaya.
Hitsugaya berdecak dan menatap Hinamori. "Tidak apa, aku tidak akan memarahimu," ucapnya. Hitsugaya pun segera berbalik dan bersiap melangkah.
"Matte! Walau, Shaolin-san menolakmu. Setidaknya... aku... aku masih di sini," ucap gadis itu ragu. Perkataan itu membuat Hitsugaya berhenti melangkah dan melirik gadis bercepol yang masih berdiri di belakangnya. Hitsugaya tersenyum tipis, lalu kembali melangkah.
"Sepulang sekolah, aku traktir kau makan ramen. Pastikan kau masih berada di sini saat aku menjemputmu," ucapnya, sebelum dirinya benar-benar menghilang di balik tembok. Senyum Hinamori langsung merekah. Berharap tidak ada salahnya, bukan?
Soifon berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Apache. "Hei, hei, lepaskan aku!" teriak Soifon sambil terus menarik tangannya. Apache tetap diam dan terus membawanya ke suatu tempat.
"Jadi, kau akan pergi?"
Sunsun berbalik dan menatap Ggio di hadapannya. Pemuda itu sedikit menundukan kepalanya. Sunsun tersenyum dan berjalan mendekati pemuda yang sangat ia sukai itu. Ia angkat kedua tangannya untuk menyentuh sepasang pipi Ggio. Tidak ada penolakan dari Ggio atas perlakuan mantan kekasihnya itu.
Sunsun mengangkat kepala Ggio, hingga mereka saling bertatapan. "Iya," jawabnya pelan, seperti berbisik. Ggio menyentuh pergelangan tangan Sunsun, bibirnya terbuka untuk menyeruakan ketidak setujuannya. Sunsun tertawa pelan, "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku kira kau senang jika aku pergi." Iris lavender itu mulai berkaca-kaca.
"Sunsun, aku—" perkataannya terhenti saat gadis berambut hijau itu memeluknya. Gadis itu memeluknya dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Ggio," bisiknya. Kristal bening dan sesuci salju itu jatuh dari pelupuk matanya dan mulai menyentuh seragam Ggio. Rasanya, kata maaf tidak cukup untuk menebus segala kesalahan atas semua perbuatannya kemarin.
Ggio tersenyum dan balas memeluk tubuh ramping gadis yang telah berada di pelukannya itu. "Aku mencintaimu, Ggio," bisiknya lagi. Ggio mengelus rambut panjang Sunsun.
"Iya, aku tahu itu," balasnya. Sunsun menatap Soifon yang semakin dekat ke arahnya. Dia pun melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata di wajahnya. Tapi, hal itu tidak membuatnya untuk melepaskan tangan Ggio. "Sampai jumpa, Sunsun."
"Pergilah."
Ggio berbalik, tapi tangannya masih digenggam dengan erat oleh Sunsun. Pemuda berkepang itu menarik tangannya perlahan, dan segera berlalu. Saat ia keluar dari taman itu, ia berpapasan dengan Soifon yang ditarik secara paksa oleh Apache. Soifon menatap bingung Ggio, dan pemuda itu hanya menanggapinya dengan senyum.
"Sunsun, dia di sini."
Apache langsung berbalik, dan meninggalkan dua perempuan itu. Sunsun berjalan mendekati Soifon dan mengulurkan tangannya. Soifon mengerutkan dahinya menatap uluran tangan itu, dan Sunsun tertawa pelan. "Tenang saja, aku tidak akan mengerjaimu."
Dengan ragu Soifon membalas uluran tangan Sunsun. Mereka saling bersalaman dan bertatapan.
"Maaf, atas ucapanku saat itu."
Soifon terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu?"
Sunsun kembali tertawa melihat reaksi kebingungan Soifon. "Dua jam lagi, aku akan meninggalkan Jepang, dan berangkat ke Paris," jelas Sunsun. Soifon terdiam sejenak, dan menatap iris lavender itu. Soifon mengerjapkan matanya beberapa kali.
Sunsun melepaskan jabatan tangannya dan berbalik memunggungi Soifon. "Aku hanya ingin mengucapkan sampai jumpa," Sunsun mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
Angin musim dingin kembali bertiup kencang saat Sunsun kembali berbalik, hingga membuat rambutnya berkibar pelan. "Selama aku pergi, jaga Ggio baik-baik, ya," Sunsun kembali tertawa dan menepuk bahu Soifon. Setelah itu dia berlalu meninggalkan gadis berkepang yang tampaknya masih membatu itu.
Saat sedikit lagi Sunsun mengeluarkan tubuhnya dari taman itu, Soifon berbalik dan membuka bibirnya, "Sunsun, sampai bertemu lagi!" teriak Soifon. Sunsun sedikit menundukan kepalanya dan kembali berjalan keluar.
"Baka."
Sunsun berjalan menuju lokernya dan membereskan barang-barangnya. Sekolah sudah mulai sepi karena para siswa telah belajar di kelas masing-masing. Sunsun mengangkat kotak yang berisi barang-barangnya dan membawanya menuju mobil yang sedang menunggunya.
"Butuh bantuan?" Sunsun menatap seorang perempuan berambut cokelat panjang dan bergelombang sedang berdiri di samping pintu keluar.
"Kau salah, Mila Rose. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukannya," sela Apache. Sunsun mendesah dan berjalan mendekati kedua sahabatnya itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Harusnya kalian berada di kelas!" omel Sunsun. Apache mulai berkacak pinggang, sementara Mila Rose langsung menyerobot barang bawaan Sunsun dengan kasar.
"Sudahlah, kami sedang berbaik hati hari ini," Mila Rose melangkah terlebih dahulu menuju mobil di depan sekolah, dan diikuti oleh Apache. Sedangkan Sunsun masih terdiam menatap punggung mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan?" Apache menoleh—menatap Sunsun yang masih mematung di tempatnya. Sunsun mendengus dan langsung berlari mengejar mereka. Mereka berjalan beriringan, dan sama-sama diam. Tidak ada yang mulai berbicara, karena semua yang ingin mereka katakan telah dibahas semalam suntuk di rumah Sunsun.
Langkah mereka bertiga terhenti saat berdiri di hadapan sebuah mobil hitam. "Terima kasih," Sunsun mengambil barang-barangnya, dan memberikannya kepada supir pribadinya. Sunsun mendesah menatap wajah tidak bersemangat kedua temannya. "Jangan memasang wajah seperti itu," ucapnya.
Sunsun mengulurkan tangannya. "Sampai jumpa, teman-teman."
Apache dan Mila Rose menyambut uluran tangan itu. Dalam hitungan detik mereka hanya saling pandang, seolah cukup hanya dengan komunikasi seperti itu.
"Ini bukan perpisahan, bukan?" Apache mulai bersuara. Sunsun dan Mila Rose tertawa mendengarnya, dan setelah itu mereka menarik tangan mereka masing-masing. Sunsun pun masuk ke dalam mobil dan mobil itu melaju menembus salju yang kembali turun.
Beberapa bulan kemudian.
3 hari sebelum hari Natal.
Tak terasa hari Natal tinggal tiga hari lagi. Para siswi yang ada di SMA Karakura mulai membicarakan tentang rencana hari Natal yang akan mereka lakukan. Pembicaraan itu lebih terfokus pada Crhistmas Eve yang disebut-sebut sebagai ajang romantis bila dilewatkan bersama orang terkasih.
Pembicaraan tentang itu pun sampai di dalam pembicaraan Soifon, Tatsuki dan Orihime. "Kalian akan pergi bersama siapa, di malam Natal nanti?" tanya Orihime, Tatsuki hanya menggelengkan kepalanya, sementara Soifon mengedikkan bahunya.
Tiba-tiba Tatsuki menatap Soifon. "Tapi, tampaknya 'dia' akan pergi bersama Ggio," godanya. Soifon langsung mengalihkan pandangannya dan menimbulkan gelak tawa dari kedua temannya. "Kau sendiri?"
Orihime tersenyum dan sudah menantikan saat di mana temannya bertanya tentang hal ini. "Aku... akan pergi bersama Ulquiorra!" teriaknya antusias, Tatsuki hanya mendesah malas, lalu kembali menatap Soifon yang masih tampak gugup atas ucapan Tatsuki tadi.
"Sudah kuduga," balas Tatsuki singkat. Orihime menarik kursi terdekat dan duduk di dekat meja Soifon, kemudian kembali tersenyum.
"Lalu, siapa yang sudah mengajakmu terlebih dahulu? Tesla atau Ggio?" Soifon langsung tersentak dan menatap kedua temannya yang tampak sangat penasaran dengan jawabannya.
"Hah? Err—belum ada yang mengajakku."
Orihime langsung mendesah, sementara Tatsuki langsung membaringkan kepalanya di atas meja. Soifon sendiri langsung menatap halaman sekolahnya.
"Ggio, malam Natal nanti pergi bersamaku, ya?" Ggio memandangi satu persatu wajah perempuan yang mengelilinginya. Dia hanya tersenyum dan menggeleng pelan. "Kamu sudah mengajak orang lain?" Ggio kembali tersenyum dan melirik Tesla yang tampak berdiri dari tempat duduknya.
"Mau ke mana Tesla?" tanya seseorang temannya. Tesla hanya melirik Ggio dan menyeringai.
"Ke kelas 2 IPA 2." Setelah itu dia langsung melesat keluar kelas menuju kelas yang tadi dia sebutkan yang tak lain adalah kelas Soifon.
Tanpa menghiraukan pembicaraan para fans-nya, Ggio mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan tombol yang ada di sana. Mengirim pesan untuk Soifon.
'Ayolah Soifon, balas,' Ggio memandangi ponselnya terus-menerus, menunggu balasan dari gadis berkepang yang ia maksud.
1 menit.
2 menit.
3 menit.
Ponsel Ggio masih belum menunjukan tanda bahwa ada sebuah pesan masuk. Maka dengan segera Ggio berdiri dari kursinya. "Maaf, aku pergi sebentar," Ggio berlari keluar kelasnya menuju kelas Soifon. Berharap Soifon menolak ajakan Tesla.
Srek.
Ggio menghentikan langkahnya untuk melangkah lebih jauh saat melihat Tesla sedang berdiri di hadapan Soifon—yang ia yakini pemuda itu pasti sedang mengajak Soifon untuk pergi bersama pada malam Natal.
'Akh... sial!' gerutunya dalam hati. Soifon diam dan berpikir sejenak. Tesla menggelindingkan bola matanya ke kiri saat menyadari kehadiran Ggio.
"Baiklah," jawab Soifon, senyum sinis langsung diberikan Tesla untuk Ggio. Pemuda berkepang itu langsung berbalik dan keluar dari kelas Soifon. Tesla kembali menatap iris abu Soifon.
"Jam 8 malam di stasiun, oke?" setelah itu, Tesla langsung berbalik keluar. Soifon melirik ponselnya yang sedari tadi bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Tapi, karena Tesla sudah lebih dulu menyapanya, maka pesan itu terpaksa ia tangguhkan.
"Ggio?" telinga Tatsuki dan Orihime bergerak lincah saat mendengar nama itu disebut, dengan segera mereka condongkan tubuhnya mendekati Soifon.
Malam Natal nanti aku jemput kau di rumahmu jam 7.
Aku tidak menerima penolakan!
Soifon langsung terbelalak, tangannya bergerak menutupi mulutnya, takut ia akan menjerit saat itu juga.
Shaolin Fon, tampaknya kau membuat keputusan yang salah.
Sementara itu di luar.
Sesuai dugaan Tesla, Ggio masih belum beranjak dari lingkungan kelas Soifon. Pemuda itu masih bersandar di dinding.
"Siapa yang tercepat, akan mendapatkan hatinya," ejek Tesla.
Ggio sedikit menggeram, dan Tesla pun berlalu. Tiba-tiba ponsel Ggio berdering. "Lily," bisiknya. Dengan segera Ggio membuka ponselnya dan menempelkan benda itu ke daun telinganya.
"Ggio!" refleks pemuda itu menjauhkan ponselnya sejenak. Gadis itu pasti akan memarahinya karena tidak menjemputnya belakangan ini. "KENAPA KAU TIDAK MENJEMPUTKU? KAU MEMBUAT KAKIKU PEGAL KARENA BERJALAN KAKI MENUJU RUMAHKU!" bentaknya.
Ggio kembali mendekatkan ponselnya ke daun telinganya. "Iya, maafkan aku. Aku lupa," jawabnya tanpa dosa. Sedetik setelah ia memahami apa yang ia katakan, ia merutuki dirinya sendiri.
"LUPA? GGIO VEGA, KAU KETERLALUAN SEKALI!" Ggio menggosok-gosok daun telinganya. "Untuk menebus kesalahannmu, aku tidak mau tahu. Pokoknya malam Natal kali ini, kau harus menemaniku!"
Ggio mendesah. "Kau berkata seolah-olah aku tidak bersamamu pada beberapa tahun terakhir."
Suara tawa terdengar dari seberang telepon Ggio.
"Baik, baik, aku jemput di rumahmu jam 7." Setelah itu Ggio langsung menutup ponselnya.
Malam Natal, 19.45
Lampu-lampu jalan telah dinyalakan. Pohon-pohon cemara terhiasi dengan ornamen-ornamen khas Natal yang menghiasi seluruh jalanan di Kota Karakura. Soifon berdiri di depan pintu masuk stasiun sambil menunggu Tesla.
Tak hentinya bola mata abu itu melirik arloji di tangan kirinya. Masih lima belas menit lagi sebelum waktu yang ditentukan. Soifon mendesah dan menatap orang-orang yang berlalu lalang bersama pasangannya.
Seperti malam yang lainnya, salju juga turun dari singgasannya pada malam Natal ini. Soifon sedikit menepuk kepalanya, untuk menurunkan gumpalan salju yang mungkin berada di sana.
Sesekali ia rapatkan mantelnya, uap nafasnya tak luput dari pandangan matanya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. "Maaf menunggu lama." Tesla berdiri di hadapan Soifon sambil menyunggingkan senyumnya.
"Akhirnya, kau datang juga," keluh Soifon. Tesla terkekeh pelan dan langsung menggenggam tangan Soifon dan mengajaknya masuk ke dalam stasiun kereta.
Hanya butuh empat puluh lima menit hingga mereka tiba di pusat kota. Suasana jauh lebih ramai saat mereka tiba di sana. Tesla menggiring Soifon menuju sebuah tempat di tengah kota.
Soifon terperangah saat mereka berhenti, ia angkat kepalanya lebih tinggi untuk melihat dengan sempurna pohon natal di hadapannya. "Cantik," puji Soifon. Tesla tersenyum melihat Soifon yang begitu kagum akan pohon natal itu.
"Ayo." Tesla kembali menggandeng tangan Soifon menuju sebuah bangku taman yang tampak sepi. Sebelum menuju tempat itu, mereka berdua membeli kopi untuk menghangatkan diri.
"Bagaimana?" tanya Tesla, saat mereka telah duduk di atas bangku taman itu. Soifon menghirup aroma kopi sejenak dan menatap Tesla.
"Indah, sangat indah."
Tesla tertawa renyah, lalu kembali memandang pohon Natal itu. Ia rentangkan tangannya dan memejamkan mata. Sayup-sayup ia mendengar nada rendah Soifon mengucapkan sesuatu. Lalu, ia lirik gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Ggio?" Soifon menoleh, kemudian mengerutkan dahinya. "Barusan, kau menyebut namanya, kan?" Soifon tergagap dan langsung menyesap kopinya. Tesla kembali tertawa dan menatap satu-satunya bintang yang tampak pada malam itu.
"Kenapa kau menerima tawaranku? Maksudku, Sunsun telah pergi, jadi tidak apa jika kau berkata pada mereka kau bukan kekasihku. Bukankah kau menyukai Ggio?" Soifon tersentak dan menatap Tesla lekat-lekat.
Lalu, Soifon ikut menatap langit di atasnya, dan berkata, "Karena, aku tidak yakin Ggio akan mengajakku. Lagipula, tampaknya ia hanya tertarik untuk menjahiliku."
Tiba-tiba gelas kertas yang digenggam Tesla terjatuh begitu saja. Soifon menoleh menatap Tesla. "Jadi, kau benar-benar menyukainya?"
Soifon mengangkat sudut bibirnya, dan membentuk lengkung senyum. "Wakaranai."
Tesla langsung bangkit berdiri, hingga menimbulkan tanda tanya dalam diri Soifon. "Ada apa?" Tesla sedikit mengepalkan tangannya. Hanya sekali lihat, ia tahu bahwa Soifon menyukai Ggio.
Harusnya ia tidak usah bertanya tentang hal seperti ini. Akan lebih baik jika dia tetap mendekati gadis itu tanpa perlu tahu siapa lelaki yang disukai oleh gadis itu.
"Aku, ingin membeli kopi sejenak, tunggulah di sini," ucapnya tanpa membalikan badannya. Setelah itu dia langsung berjalan menuju stand kopi di pinggir jalan.
"Pesan apa?" tanya penjual itu. Tesla melirik Soifon yang tampaknya tengah menatap pohon natal dengan serius. Setelah itu dia melirik penjual itu dan membungkukan badannya.
"Maaf, tidak jadi." Tesla langsung berlari secepat mungkin agar Soifon tidak melihatnya.
Soifon menatap stand kopi di seberang jalan. Tiba-tiba dahinya berkerut karena tidak menemukan Tesla di sana. Soifon mengedarkan pandangannya, mencari-cari di mana kira-kira Tesla berada.
Kepanikan mulai menjalar ke dalam otaknya, dengan segera ia minum kopinya—yang mulai dingin. "Mungkin dia membeli sesuatu yang lain, dia pasti kembali." Soifon mencoba berpikir positif.
"Ggio, jangan cepat-cepat!" bentak Lilynette di atas motor yang sedang melaju cepat itu. Ggio berdecak dan memelankan laju motornya.
"Ayolah, apalagi yang ingin kau lihat? Kau sudah seperti membeli satu toko, kau tahu?" bibir Lilynette berkedut dan kembali memukul punggung Ggio pelan.
"Aku tidak berbelanja lagi, kok. Kita minum kopi saja, oke? Aku haus, dan di sini sangat dingin. Sebentar saja," pinta Lilynette. Ggio kembali berdecak dan memutar balik motornya. "Di sana, di sana!" tunjuk Lilynette. Setelah itu, Ggio langsung memarkirkan motornya.
Lilynette berjalan riang menuju pintu masuk sebuah cafe. Bola mata Ggio membulat saat menyadari Tesla sedang duduk di salah satu meja di sana. "Tesla!" Ggio mendelik ke arah Lilynette, sementara gadis itu hanya tersenyum dan langsung menghampiri Tesla.
"Sendiri?" tanya Lilynette. Ggio hanya menatap keluar jendela sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku.
'Soifon pasti sedang di toilet, mana mungkin dia datang sen—'
"Iya, aku sendiri," jawab Tesla. Ggio langsung menatap tajam Tesla dan memukul meja kayu itu hingga beberapa benda di atasnya berloncatan. Lilynette sendiri hanya menatap kaget Ggio.
"Apa maksudmu? Dimana Soifon?" tanya Ggio penuh amarah. Tesla menyeringai—yang semakin membuat Ggio geram.
"Dia aku tinggalkan di pusat kota, di depan pohon natal," ucapnya. Seolah-olah dia memang sengaja melakukannya.
BUAGH!
Sebuah pukulan dari Ggio menghantam pipi mulus pemuda itu, hingga ia terjatuh dari kursi. Beberapa pelanggan sedikit berteriak melihat adegan tadi. Lilynette langsung menahan lengan Ggio yang sepertinya hendak memukul Tesla lagi.
"Ggio, hentikan!" bentak Lilynette. Tesla menyeka darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya.
"Aku sudah katakan padamu, jangan mempermainkannya!" bentak Ggio. Dengan sekuat tenaga Lilynette menahan Ggio agar tidak terlepas dari genggamannya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Memukulku saja, dan membiarkannya sendiri di tengah kota, hah?" balas Tesla yang sudah berdiri. Ggio melepaskan tangannya dari genggaman Lilynette, dan langsung berlari menuju tempat parkir.
"Jangan ke mana-mana, Soifon! Tunggulah di sana," gumam Ggio, sambil menyalakan motornya. Pemuda itu memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Soifon melirik arlojinya, sekarang waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Soifon mendesah, hingga detik ini pemuda bernama Tesla Lindocruz itu sama sekali belum menunjukan batang hidungnya.
Jalanan tampak semakin ramai karena sebentar lagi adalah hari Natal. Cuaca pun semakin dingin, padahal ia telah mengenakan mantel yang cukup tebal, tapi tetap saja hawa dingin menyentuh kulitnya.
Brum brum brum.
Suara deru motor itu semakin mendekati dirinya. Soifon mengangkat kepalanya. Sosok di atas motor itu belum menunjukan wajahnya—karena masih mengenakan helm.
Dan saat helm itu terbuka, Soifon langsung berdiri dari bangkunya. Sosok itu langsung berlari mendekati Soifon dan memeluk tubuh gadis di hadapannya. "Baguslah, kau masih di sini." Soifon sedikit terkejut dengan sikap sosok itu.
"G-Ggio," ucapnya gugup,dengan sekuat tenaga Soifon mendorong tubuh Ggio menjauh. Ggio menatap bingung tindakan Soifon, gadis berkepang itu menundukan kepalanya dan mengepalkan tangannya, samar-samar terlihat rona merah di kedua pipinya.
"Kenapa kau baru datang sekarang, Ggio BAKA?" bentak Soifon, Ggio memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan tersenyum tipis.
"Kau yang menerima ajakan Tesla, harusnya kau menerima tawaranku," ucap Ggio. Soifon langsung mengangkat kepalanya hingga sangat terlihat jelas rona merah di kedua pipinya. Soifon berjalan mendekati Ggio.
"Harusnya kau bertindak lebih cepat, harusnya kau juga datang menghampiriku seperti Tesla," Soifon berhenti di hadapan Ggio, gadis itu meletakan tangannya di atas dada Ggio. "Harusnya kau menelponku, bukan hanya memberi pesan singkat seperti itu!" bentaknya lagi.
Ggio terkejut mendengarnya, namun di sisi lain seulas lengkung tipis terbentuk lagi di wajahnya. Ggio mengelus rambut Soifon, sehingga membuat wajah gadis itu semakin memerah. Soifon mengangkat tangannya, bersiap memukul dada Ggio.
"Aku benci ka—" ucapannya terhenti saat tangannya di tahan oleh Ggio.
"Suka, kau menyukaiku, 'kan?" Soifon membulatkan bola mata abunya. Ggio hanya menyeringai melihat reaksi Soifon. Tak lama, Ggio langsung menarik Soifon ke dalam pelukannya kembali.
Senyumannya mengembang saat gadis itu tidak menolaknya sama sekali. Soifon semakin membenamkan kepalanya di dada Ggio—menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Tanpa diduga oleh Soifon, rupanya jantung Ggio juga berdebar keras seperti miliknya. Debaran jantung keduanya berdengung di telinga mereka masing-masing. Hal ini cukup membuat Soifon tenang.
Sayup-sayup dapat mereka dengar suara para pengunjung yang menghitung mundur menantikan hari Natal yang sudah di depan mata.
3.
Ggio melepaskan pelukannya, wajah Soifon tertunduk malu akibat rona merah di pipinya.
2.
Ggio menangkupkan tangannya di pipi Soifon, dan mengangkat wajah gadis itu, hingga mereka bertatapan.
1.
Ggio mendekati wajah putih Soifon, dan mengecup pipinya di bawah pohon natal raksasa di tengah kota, dan ditengah-tengah keramaian.
"Selamat hari Natal, Soifon," bisiknya. Setelah itu, Ggio kembali memeluk gadis itu. Dalam pelukannya, Soifon mengangguk dan mengembangkan senyumnya.
"Aku antar kau pulang," Tesla mulai berjalan keluar dari cafe itu. Lilynette mengambil langkah panjang untuk menyesuaikannya dengan Tesla.
"Hei, kau sejujurnya tidak ingin meninggalkannya, 'kan?" Tesla berhenti sejenak dan menelengkan kepalanya. Perlahan ia mengedikkan bahunya. "Lalu, kenapa kau meninggalkannya?" Lilynette menyentuh bahu Tesla dan memutar tubuhnya.
"Kau ingin aku bagaimana?" suaranya terdengar lirih. "Tetap di sampingnya? Sementara dia menyukai Ggio, bukan aku?" Lilynette melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya.
Sesak. Tiba-tiba gadis mungil itu merasa sesak ketika mendengar pernyataan lirih Tesla. Padahal, pemuda di hdapannya juga menyukai Soifon, bahkan ia rela membiarkan Ggio menjemputnya.
Bukankah, orang seperti itulah yang memiliki cinta? Orang seperti itulah yang patut dicinta? Tapi, kenapa? Kenapa orang sebaik Tesla harus merasakan perasaan menyakitkan seperti 'cinta tak terbalas'?
Tesla menghentikan langkahnya saat merasakan Lilynette belum beranjak dari tempatnya. Kepala gadis itu tertunduk, hingga menyembunyikan iris light pink-nya. Tesla menghela nafasnya saat melihat tetes air mata turun dari bola mata Lilynette.
Tesla langsung menghampiri Lilynette dan menepuk kepala gadis itu. "Kenapa kau menangis?" tanya Tesla pelan. Lilynette menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Karena aku mewakilimu, yang sepertinya ingin menangis," ucap Lilynette lirih. Tesla ingin memeluk tubuh gadis kecil di hadapannya ini. Tapi, akal sehat kembali mengambil alih. Tesla menggenggam tangan gadis itu dan menarik gadis itu untuk berjalan.
"Arigatou, Lily. Selamat Natal." Lilynette diam, dan menatap salju yang turun perlahan dari langit. Malam Natal kali ini terasa menyesakan baginya, dan juga bagi Tesla.
Sementara itu, di Paris.
Dua orang duduk berseberangan di sebuah meja. Dua orang itu saling pandang, tampaknya yang akan mereka bahas adalah hal yang sangat penting. Salah satu di antara mereka adalah pria mengenakan kacamata dan berjas putih dan yang satu lagi wanita mengenakan blazer.
Seseorang berjas putih itu membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Bagaimana?" tanya sosok yang satu lagi.
Sosok berjas putih itu menghela nafasnya. "Mrs. Sunsun harus segera di operasi. Lebih baik Anda segera menghubungi teman putri Anda untuk datang kemari," ucap sosok itu tegas.
Wanita ber-blazer itu menundukan wajahnya dan mendesah pelan.
To Be Continued.
A/N : Bagaimanakah? Ya ampun, fic ini akhirnya mencapai puncaknya. Tinggal dua chapter lagi fic ini akan segera completed, hahahaha. Lalu, bagaimanakah chap kali ini?
Thx bagi yang telah menyempatkan diri untuk membaca.
Spesial thx always to my beta reader aRaRaNcHa thank you so much cha ^^
Yang terakhir, review pliss
