"Hanya lebam biasa, tidak ada yang serius" dokter yang memeriksa punggung Jimin tadi, mendudukan diri kembali ke kursi kerjanya.

"Hanya?" Yoongi menatap sinis pada Dokter yang masih menuliskan sesuatu di kertas.

"Ya, hanya lebam biasa" Dokter itu mengangkat kepalanya dan menatap kebingungan kearah Yoongi yang berubah sinis padanya.

"Sudah ku bilang, tidak perlu ke dokter, kan?" Jimin merengut kesal disamping Yoongi.

"Sama-sama" ucap Yoongi sarkas. Bukannya seharusnya Yoongi mendapatkan ucapan terimakasih? Kenapa malah protes yang dia terima?

"Ma-maksudku… terimakasih" ucap Jimin tak enak hati.

.

.

.

DEVIL IN a BLACK COAT

.

.

.

Taehyung menatap pantulan wajahnya dikaca kamar mandi dengan tatapan kecewa. Dia kecewa dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya berakhir dengan tidur bersama Jungkook lagi. Saat subuh, Taehyung buru-buru keluar dari apartemen Jungkook saat Jungkook masih tidur. Entah apa yang merasukinya semalam sampai dia bisa berakhir diatas tempat tidur Jungkook.

"Ini menjijikan…" guman Taehyung pada pantulan wajahnya di kaca. Bathrobe yang membungkus tubuhnya diremasnya kuat-kuat.

"Tidak punya harga diri…" guman Taehyung lagi. Dia marah pada dirinya.

"Taetae, apa Taeyong bisa pergi sekolah hari ini?" ketukan di pintu kamar mandi menyadarkan Taehyung, buru-buru Taehyung membuka pintu dan mendapati ibunya sedang menggandeng tangan Taeyong yang bersiap akan mandi.

"Demamnya sudah turun?" Taehyung bertanya pada ibunya.

"Sudah, tadi malam juga tidak kambuh demamnya"

"Oh, ya sudah. Ibu, bisa antarkan Taeyong ke sekolah? Aku ingin istirahat" pinta Taehyung.

"Ne. jangan terlalu lelah bekerja, Tae. Kau pulang kerja saat matahari baru akan muncul, perhatikan juga kesehatanmu, jangan sampai kau juga ikut sakit" nasehat ibunya.

"Ne. terimakasih, bu" Taehyung mencium pipi ibunya sekilas.

"Keringkan rambutmu sebelum tidur" ucap ibunya sebelum membawa Taeyong masuk ke kamar mandi.

Setelah mengantarkan Taeyong dan ibunya kedepan pintu, Taehyung menutup kembali pintu apartemennya dan langsung menidurkan tubuhnya diatas kasur, tangannya bergerak meraba nakas disamping tempat tidurnya untuk mencari ponsel. Dia butuh menghubungi Seokjin untuk minta izin tidak masuk kerja hari ini.

.

.

.

"Kau diantar siapa?" Baekhyun menyambut Jimin yang baru saja muncul di lobi kantor, sama-sama sedang menunggu lift.

"Supir" Jimin berbohong.

"Sejak kapan kau jadi orang kaya mendadak?"

"Sialan" Jimin meninju main-main bahu Baekhyun.

"Bagaimana punggungmu? Masih sakit?"

"Sudah baik-baik saja, hanya nyeri saja kalau di pegang" ucap Jimin.

"Jim, aku penasaran dengan artis Jeon itu" mulai Baekhyun sedikit berbisik.

"Huh?"

"Dengar, aku tidak bermaksud untuk bergosip soal Taehyung-ssi, tapi, ada yang sedikit mengganjal di kepalaku, maksudku, coba pikirkan, bukannya Taehyung sii dan si Jeon itu seperti ada hubungan yang lebih dari sekedar kenalan?" Bisik Baekhyun, badannya bahkan sedikit merapat pada Jimin agar ucapannya tidak bisa didengar oleh karyawan yang juga sedang menunggu lift.

"Kau berpikir begitu?" Jimin berpura-pura tidak tahu.

"Iya, ini agak aneh. Si Jeon itu sepertinya cemburu padamu karena dekat dengan Taehyung-ssi. Ini sudah ku pikirkan semalam karena aku mengingat ulang kejadian di ruangan kita"

"Analisa macam apa itu?" Jimin mengernyit, berusaha sebisanya menyembunyikan fakta soal Taehyung dan Jungkook.

"Hehehe, kalau di pikir ulang, memang tidak masuk akal. Mana mungkin kan si Jeon itu punya perasaan dengan Taehyung-ssi. Maksudku, Taehyung-ssi itu orang yang sangat menarik, terlepas dari sikap galaknya, dia punya wajah yang sempurna. Tapi, jika dibandingkan dengan mantan-mantan pacar Jeon itu, jelas Taehyung-ssi kalah. Iya kan?"

"Itu kau sudah tau" Jimin setuju. Itu lebih baik.

Keduanya sudah sampai diruangan mereka, Kyungsoo terlihat sedang sibuk menerima telepon entah dari siapa.

"Kenapa?" Tanya Jimin kebingungan saat Kyungsoo baru saja selesai meutup teleponnya.

"Gawat" Kyungsoo menatap horror pada Jimin dan Baekhyun.

"A-apa yang gawat?" Baekhyun menatap was-was.

"Media kita sedang ramai dibicarakan. Ini soal artis Jeon Jungkook, dia… membuat skandal baru" ucap Kyungsoo takut-takut.

"Skandal apa?" Jimin menggeser Kyungsoo dan menatap kearah layar computer milik Kyungsoo yang sedang memunculkan headline besar hari ini dari salah satu berita online lain.

"Ba-bagaimana bisa?" Baekhyun menatap horror pada layar computer Kyungsoo.

"Ini benar-benar kacau. Banyak telepon yang masuk ke kantor kita mempertanyakan soal keaslian hubungan si Jeon dan si artis A itu" Kyungsoo menggaruk pipinya.

"Sebentar, ini Taehyung-ssi kan?" Baekhyun memperbesar foto yang tertera di layar computer.

Jimin menelan ludahnya susah payah.

"Si Jeon itu menginap di apartemennya bersama Taehyung-ssi, dan Taehyung-ssi terlihat keluar apartemennya menjelang pagi" Baekhyun menatap Jimin dan Kyungsoo bergantian.

"Mana, coba lihat" Kyungsoo menggeser tubuh Baekhyun. "Be-benar. Ini benar Taehyung-ssi. Ini bajunya yang semalam…" guman Kyungsoo tak percaya. Meskipun wajah Taehyung di blur, tapi postur tubuh dan pakaian Taehyung tidak bisa menutupi kenyataan.

"Jim?" Baekhyun melihat Jimin yang mematung.

"Jimin, kau dipanggil sajangnim ke ruangannya"

Jimin menelan ludanya gugup.

.

.

.

"Semingu ini Taehyung ku beri cuti" ucap Seokjin saat Jimin sudha duduk didepannya.

"Soal berita diluar sana?" Tanya Jimin khawatir.

"Aku tidak bisa meredamnya, Jim. Tapi syukurlah mereka mengaburkan wajah Taehyung. Tidak bisa kubayangkan kalau mereka memajang dengan jelas wajah Taehyung."

"Bagaimana dengan rumor yang kita buat itu, sajangnim?"

"Jangan pikirkan. Kita bisa memainkan drama baru dan membuat berita lain, tapi itu tidak penting sekarang" ucap Seokjin.

"Jinseok…"

"Namjoon?" Seokjin tersenyum lebar saat melihat Namjoon yang muncul di ruangannya.

"Aku khawatir, makanya aku kesini. Kau tidak apa? Berita online milikmu sedang ramai dibicarakan" ucap Namjoon sambil berjalan kearah Seokjin dan mengecup dahinya.

"Aku baik-baik saja" Seokjin tersenyum lembut dan menggenggam tangan Namjoon.

Jimin menatap bingung kesegala arah. Dia canggung berada diantara Seokjin dan Namjoon yang sedang bermesraan.

"Kau Park Jimin?" Namjoon menatap Jimin lekat, seperti sedang menghakimi.

"N-ne"

"Tidak seperti yang ku duga ternyata" Komentar Namjoon.

Jimin menatap bingung pada Namjoon.

"Kau benar baik-baik saja, kan?" Tanya Namjoon memastikan. Tangannya menarik dagu Seokjin agar menatap kearahnya.

"Aku baik-baik saja, Namjoon-ah. Kau tidak ke kantor?"

"Aku hanya memastikan keadaanmu saja. Ya sudah, aku pergi dulu." Namjoon menundukkan badannya dan mngecup bibir Seokjin tepat di depan Jimin, membuat Jimin kembali salah tingkah.

"Hati-hati" guman Seokjin pelan.

Saat Namjoon sudah berlalu, Jimin masih saja membuang pandangannya dari Seokjin. Ini pertama kali baginya melihat interaksi Seokjin dan Namjoon secara langsung. Rasanya sangat berbeda dari dugaannya. Namjoon yang sepertinya sangat kaku itu terlihat begitu lembut pada Seokjin.

"Maaf membuatmu tidak nyaman" Seokjin tertawa kecil melihat tingkah Jimin.

"Oh? Oh.. ya, sajangnim" ucap Jimin kacau.

"Kembali soal Taehyung. Aku ingin kau memantau keadaannya, aku khawatir dia kembali terguncang dan terpaksa pergi ke psikiater lagi" ungkap Seokjin.

"Aku paham, sajangnim."

"Jangan pikirkan soal reputasi media online kita, itu tidak penting. Hanya pastikan kalau Taehyung tidak tersentuh oleh wartawan manapun"

"Ba-bagaimana aku bisa melakukannya?" Tanya Jimin kebingungan.

"Kau punya Min Yoongi, kan?"

Jimin membeku. Memangnya apa yang bisa dilakukan namja pucat itu untuk membantu Taehyung lepas dari wartawan lain?.

.

.

.

"Lalu apa sekarang?" Hoseok menatap bingung pada Yoongi yang sedang duduk di kursi kerjanya.

"Kenapa kau mengaburkan wajahnya?" Yoongi mengernyit tidak suka.

"Kau tidak memenuhi janjimu untuk bertemu Eomma, hyung. Kau hanya memenuhi janji soal akan melobi Kim Namjoon untuk menjadi investor di perusahaanku, jadi aku hanya mengabulkan soal penyebaran berita soal Jungkook dan Taehyung" Hoseok memutar bola matanya.

"Aku tidak tidur di rumah semalam"

"itu yang mau kutanyakan, kemana kau semalam? Eomma menunggumu sampai pagi, tapi kau tidak pulang. Kantormu tutup jam tujuh malam, hyung."

"Menginap di rumah kucing kecil-ku"

"Kucing kecil…" Hoseok mengulang gaya bicara Yoongi dengan nada sinis.

"Ngomong-ngomong, kau tidak apa? Dari info yang Jooheon berikan padaku, kau adalah mantan pacar Kim Taehyung itu" Yoongi terkekeh, memperhatikan wajah adiknya itu yang sedang terlihat kesal.

"Itu sudah berlalu. Jadi, siapa kucing kecil yang kau maksud, hyung? Jalang baru lagi?"

"Kau tuli? Dia kucing kecil, bukan jalang"

"Ya terserah. Siapa dia? Kenapa dia bisa jadi lebih penting dari Eomma?"

"Ya! Dia memang lebih penting sekarang. Kalau Eomma kan bisa kutemui kapan saja. Lagian, aku masih malas bertemu Eomma, setiap bertemu hanya menyuruhku menikah. Nah, jadi, aku berencana untuk memberikan eomma menantu sekaligus cucu. Jenius, kan?" Yoongi menaikkan salah satu alisnya.

"Jenius telapak kakimu" Hoseok mendengus kesal. "Hyung, cobalah lebih serius. Kau terlalu sering bermain-main"

"Aku sedang serius" Yoongi mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. "Dengar, aku akan menemui Eomma secepatnya, tapi dengan syarat kau harus mempublikasikan Taehyung dan… anaknya. Penawaran yang cukup menarik kan?"

"Kapan kau akan bertemu Eomma? Setelah bertemu Eomma, aku akan langsung mempublikasikan wajah Taehyung, tapi tidak dengan Taeyong"

"Kenapa tidak?" Yoongi menegakkan tubuhnya.

"Aku tidak ingin anaknya terlibat. Demi Tuhan, dia Cuma anak kecil hyung"

"Astaga, kau benar. Kalau begitu, Taehyung saja dan publikasikan juga soal statusnya yang memiliki satu anak"

"Call. Dengan syarat kau harus mengirim fotomu bersama Eomma lebih dulu"

"Tidak masalah. Tapi aku sedang sibuk membuatkan Eomma cucu minggu-minggu ini. Mungkin nanti?"

"Hyung! Astaga, kepalaku" Hoseok memijat kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri.

"Bercanda"

"Apa susahnya hanya tinggal menemui Eomma saja? Hanya sebentar juga tidak apa, hyung." Hoseok menatap frustasi pada Yoongi.

"Sudahlah, Kau semakin cerewet saja. Lebih baik aku ke kantor. Oh, ya. sampaikan salamku pada Jungkook, aku bangga padanya" Yoongi tertawa dan berjalan keluar ruangan Hoseok.

.

.

.

"Kenapa kau masih disini?" Jimin mengernyit kearah Yoongi yang sedang menonton tv diruang tamu flatnya.

"Apa maksudmu? Aku disini karena lukaku belum sembuh. Jangan lupa soal tanggung jawabmu, Park Jimin" Yoongi menatap tajam pada Jimin.

"Lukanya sudah tidak berdarah, kan?"

"Mandi sana" usir Yoongi dan kembali sibuk menonton TV.

Jimin berjalan menghentak kearah kamar. Setelah selesai mandi, Jimin menatap Yoongi yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya, matanya menatap penasaran pada layar ponsel Yoongi dan sialnya Yoongi sadar.

"Mau lihat?" goda Yoongi.

"Siapa juga yang melihat ponselmu" ucap Jimin sambil berjalan kedapur.

"Ku dengar kantormu sedang ramai di bicarakan" ucap Yoongi.

"Tau dari mana?" Tanya Jimin.

"Ini sedang diberitakan" Yoongi menunjuk pada layar TV yang sedang menayangkan berita soal Jungkook.

Jimin buru-buru duduk disamping Yoongi dan menatap serius kearah TV.

"Mereka mengarang berita dengan begitu hebat." Jimin menggeleng tidak percaya.

"Bukannya memang Taehyung yang menggoda Jungkook sampai Jungkook nekat melanggar kontrak dengan kalian?" Pancing Yoongi. Sudah jelas dia otak dari kekacauan yang terjadi.

"Kontrak soal pemberitaan palsu dengan jalangmu?" Jimin mencibir, meskipun ada sedikit rasa kesal terselip disana. Katakanlah Jimin agak… cemburu, mungkin?. "Dan Taehyung itu tidak akan sudi berdekatan dengan Jungkook. Jungkook sendiri yang memaksa Taehyung untuk ikut dengannya, dia bahhkan mendorongku sampai membentur dinding dan punggungku memar"

"Dia mendorongmu?" Yoongi bertanya serius.

Jimin terdiam, dia sadar kalau dia sudah keceplosan. "Ma-maksudku…"

"Dia mendorongmu, Park Jimin?" Tanya Yoongi menuntut.

"Bukan begitu, dia… memangnya kenapa kalau dia mendorongku?" Jimin mengernyit heran pada Yoongi, kenapa juga Yoongi terlihat marah padahal Jimin yang di dorong.

"Anak laki-laki memang biasa berkelahi, kan?" ucap Jimin pelan saat Yoongi sudah menatap lurus padanya.

Jimin berubah gugup saat Yoongi tidak juga bicara. "aku ke kamar saja" Jimin buru-buru lari menuju kamarnya.

Yoongi berjalan mengikuti Jimin setelah Jimin menghilang dibalik pintu. Jimin terkejut saat suara pintu kembali terbuka, memunculkan Yoongi yang sedang mengunci pintu kamarnya.

Yoongi berjalan lurus hingga memerangkap Jimin yang sudah terduduk setengah tertidur di tempat tidurnya.

"A-apa?" Tanya Jimin takut.

"Jangan coba-coba menutupi apapun dariku, Park Jimin" guman Yoongi tepat didepan bibir Jimin. "Kau milikku, tidak satu orangpun yang bisa menyentuhmu. Paham?"

Tanpa sadar, Jimin mengangguk patuh.

"A-aku tidak apa. Jangan buat masalah. Ini masalah antara aku dan Jungkook, jangan ikut campur" ucap Jimin pelan dan perlahan menjauhkan wajahnya. Dadanya sudah berdebar keras karena Yoongi terlalu dekat dengannya.

"Sepertinya kau kurang paham dengan ucapanku." Yoongi tersenyum sinis. "Kau milikku, Park Jimin" tegasnya.

Jimin terdiam. Tiba-tiba ingatan soal ucapan Seokjin melintas di otaknya. Dia bisa meminta bantuan Yoongi untuk melindungi Taehyung, meskipun Jimin tidak paham hal apa yang bisa Yoongi lakukan untuk meredam berita diluaran sana dan membuat Taehyung tidak tersentuh wartawan.

"K-kau bilang aku milikmu, kan?" Tanya Jimin dan berusaha menatap kearah Yoongi yang sedang menatap lekat padanya.

"Ne"

"Kalau… kalau begitu, tolong bantu aku melindungi Taehyung…" cicit Jimin.

Jimin tersentak saat Yoongi mendorongnya ke tempat tidur dan menahan tangannya disamping kepala Jimin.

"Melindungi Taehyung?" Yoongi menyeringai. "Memangnya kau bisa memberiku imbalan apa? Memangnya aku harus melindungi Taehyung dari siapa?" Tanya Yoongi sinis. Matanya menyorot tajam pada Jimin yang memerah dibawahnya.

Jimin terdiam gugup. Aura dominan dan arogan Yoongi membuatnya kehilangan keberanian untuk bicara.

"Dengar Park Jimin, aku tidak suka diperintah. Aku lebih suka memerintah dan di turuti. Paham?" Yoongi mendekatkan wajahnya pada Jimin.

"Ta-tapi Taehyung…"

"Persetan dengannya. Aku tidak ada urusan dengannya. Bukannya bagus kalau akhirnya semua orang tau yang sebenarnya? Bangkai yang disimpan terlalu lama, akhirnya akan tercium juga, Park Jimin" ucap Yoongi sinis.

"Kalau begitu, tolong jangan ikut campur antara Jungkook dan Taehyung" ucap Jimin pelan.

Yoongi mendegus. Melepaskan tangannya yang menaham Jimin dan berdiri tegak disamping tempat tidur. "Memangnya aku ikut campur apa? Aku hanya berencana memberi Jungkook pelajaran karena sudah mendorongmu dan punggungmu memar"

"Itu juga bukan urusanmu!" Jimin mendudukn diri di tempat tidur.

"Semua yang berurusan denganmu, juga jadi urusanku" Yoongi menaikkan alisnya.

"Min Yooongiii!" Jimin menggeram kesal. "Dengar, urusan kita hanya sampai lukamu sembuh, setelah itu, kau tidak boleh lagi mengusikku dalam urusan apapun. Sekalipun soal Jungkook. Aku bisa membela diriku sendiri, aku bukan pria lemah yang butuh perlindungan dari siapapun."

"Ya, lalu?" ucap Yoongi sambil tersenyum remeh.

"Aku serius!"

"Ya, lalu?" ucapan Yoongi membuat Jimin merasa di permainkan.

"Sudahlah! Percuma bicara dengamu! Aku tidur saja" Jimin membalikkan tubuhnya dan tidur memunggungi Yoongi.

Jimin tersentak saat Yoongi membalik badannya dan sudah berada diatasnya, Yoongi memerangkap Jimin lagi diantara tangannya.

"Aku hanya tidak suka kau terluka" ucap Yoongi serius.

Jimin terdiam, dadanya berdebar.

"Tidak masalah, aku akan menurut untuk tidak mengusik Jungkook soal punggungmu. Tapi, lain kali jangan menutupi apapun dariku" Yoongi mendekatkan wajahnya kearah Jimin, mencium Jimin lembut dan dalam.

Jimin jelas terbuai dengan kata-kata yang Yoongi ucapkan, meskipun menampik, tapi Jimin bisa merasakan kalau Yoongi melindunginya. Tangan Jimin naik ke leher Yoongi, menarik tengkuk Yoongi untuk memperdalam ciuman mereka.

Jimin tersentak saat tangan Yoongi tanpa sengaja menyentuh punggungnya yang lebam, Jimin mendesis diantara ciuman mereka dan Yoongi melepaskan tautan bibirnya dan Jimin.

"Sakit…" jimin mengadu pelan.

"Maaf" ucap Yoongi. Jimin merasakan dadanya kembali berdebar hebat. Suara Yoongi yang terdengar semakin rendah dengan nafas yang mulai memberat membangkitkan sesuatu di dalam tubuh Jimin. Dia mulai gerah.

Jimin bingung saat Yoongi bangkit dari atas tubuhnya, matanya menatap Yoongi penuh Tanya dan kemudian berganti dengan wajah memerah padam, Yoongi berdiri hanya untuk melepas bajunya dan membuangnya sembarangan.

"Kau membuatku gerah" bisik Yoongi seduktif.

Jimin mengalihkan pandangannya kemana saja, asal jangan pada Yoongi. Tapi tangan Yoongi menarik paksa dagu Jimin untuk menatap tepat padanya.

"Ka-kau mau apa?" Tanya Jimin gugup.

"Sudah buka baju, masih saja di Tanya?"

"Punggungku masih sakit…" ucap Jimin pelan karena Yoongi sudah kembali mengurungnya.

"Aku akan pelan-pelan"

Jimin merona hebat.

.

.

.

"Jungkook, yang benar saja?" manager Jungkook berjalan mondar-mandir didepan Jungkook yang terduduk santai sambil menonton tanyangan TV di depannya

"Jungkook! Apa-apaan wajah bahagiamu itu?" geram managernya. "Kalau Hoseok sajangnim tau soal berita ini, kau bisa kena masalah!"

"Kau tidak lapar hyung?" Tanya Jungkook santai.

"Kau dengar aku bicara, tidak?"

"Aku dengar hyung. Sudahlah, sajangnim pasti sudah tau. Berita seperti ini tidak aka nada efeknya ke saham milik sajangnim. Buktinya dia baru saja mendapatkan investor baru." Ucap Jungkook tak peduli.

"Pikirkan reputasimu! Kau mau karirmu hancur?"

"Kalau boleh, aku ingin kembali dimana aku tidak berusaha menjadi artis"

"Mimpi saja sana!" managernya mendengus kesal. "berpikirlah realistis, Jungkook. Kau sudah susah payah membangun karirmu dan kau ingin menghancurkannya begitu saja?"

"Ya.. sudahlah. Tenangkan dirimu hyung, aku yang akan menghadapi kemarahan sajangnim nanti. Itu juga kalau dia marah" ucap Jungkook santai.

.

.

.

TBC