PRISON

DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY AZALEA RYUZAKI

PAIR: SASUHINA

RATED : M

WARNING: AU, OOC, ALUR CEPAT

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

I think… when it's all over,

It just comes back in flashes, you know?

It's like a kaleidoscope of memories.

It just all comes back, but he never does.

I guess… I just lost my balance.

I think that the worst part of it all wasn't losing him.

It was losing me.

(I knew you were in trouble by taylor swift)

.

.

.

Hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah sosok Shino yang berdiri diam tak jauh dari tempatku berbaring. Tubuhnya yang menjulang menghadap langsung ke kaca jendela, tampak sangat tekun memperhatikan sesuatu diluar sana. Mungkin sesuatu yang sangat menarik, karena temanku yang pendiam itu terlihat tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Walaupun kalau boleh jujur, aku tidak yakin akan ada sesuatu yang mampu menarik perhatiannya selain serangga.

Dan melihatnya seperti itu membuatku menyadari bahwa ia masih memakai baju yang sama seperti hari sebelumnya: jaket dengan leher tinggi dan kacamata hitam. Wajahnya sedikit pucat. Mungkin kurang tidur? Atau belum makan sesuatu yang layak?

Apa ia terus menunggu disini? Terus menungguiku?

Pertanyaan-pertanyaan itu menimbulkan rasa bersalah yang makin lama terasa makin mengganggu. Jadi sebelum pikiran-pikiran buruk kembali bermunculan, kuputuskan untuk menyapanya. Berharap sengatan rasa bersalah yang menyerangku sedikit berkurang.

"Shi…no."

Kami-sama, tenggorokanku sakit sekali. Dan suara yang ku keluarkan barusan rasanya tak lebih dari sebuah bisikan samar yang nyaris tak terdengar. Tapi tampaknya indra pendengaran Shino sangat peka. Ia langsung menoleh dan menghampiriku. Ekspresi wajahnya mungkin tidak terlihat jelas tapi dari gestur tubuhnya, aku tahu, dia senang.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Kepalaku pusing," keluhku dalam suara serak. Tenggorokanku Benar-benar sakit dan terasa kering. Bahkan untuk menelan ludah saja terasa begitu sulit. "Berapa lama aku tertidur?"

"Beberapa jam?" jawab Shino acuh, namun nada lembut yang terselip dalam suaranya masih bisa tertangkap telingaku. Dan dengan sikap lembut itu juga ia membantuku minum, membenarkan letak bantalku, sebelum akhirnya menarik sebuah kursi kecil dan duduk di dekat tempatku berbaring.

"Kau terus disini?"

"Ya," jawabnya seolah tanpa beban, membuatku harus kembali menelan rasa bersalah. Aku selalu merepotkan.

"Maaf."

"Untuk apa?" tanya Shino kali ini ia tampak sedikit terganggu. Namun sebelum ada salah satu diantara kami bisa melontarkan kalimat apapun yang ada di pikiran masing-masing, perhatian Shino teralih oleh getaran ponsel disaku celananya. Ia mendengus kesal sebelum kembali memusatkan perhatiannya padaku. "Kiba dalam perjalanan kemari, kau ingin sesuatu?"

"Tidak," jawabku cepat. Mendengar Kiba akan datang cukup membuatku merasa lega. Tapi memikirkan tentang makanan membuatku ngilu. Tenggorokanku masih terasa perih dan aku tidak yakin mereka sanggup menyelundupkan makanan ke dalam rumah sakit. Lagipula, rasanya perutku belum siap dijejali makanan. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia baik. Aku yang terluka lebih parah. ingat?" gumamnya ringan. Jarinya tampak sibuk mengetik balasan diponselnya. Meskipun aku tahu dia hanya bercanda, tapi sebagian dari diriku makin merasa tidak enak. "Maafkan aku."

"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi." Kata Shino sembari membenahi posisi duduknya menjadi lebih tegap. Dan tiba-tiba saja ia menjadi sosok pemimpin yang serius seperti biasa. Sosok yang lebih kukenal. "Aku terlalu senang melihatmu disini. Dan bukankah itu yang terpenting? Kau disini."

.

.

"Ya."

.

.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Kiba dengan napas terengah pada lelaki yang berdiri diam di depan pintu sebuah ruangan. Pakaiannya basah oleh keringat. Kakinya lemas dan sedikit gemetar karena terlalu dipaksa berlari. Yang lebih parah, matanya mulai berkunang-kunang!

Sialan! Ia benci harus berlari lewat tangga karena perawat rese menyebalkan yang ia temui di lobi melarangnya menggunakan lift HANYA karena ia bersikeras mengajak Akamaru ikut masuk. Dan sekarang ia HARUS melewati tangga untuk sampai kelantai 20 sementara Akamaru ditahan sementara di pos penjaga terdekat.

Rumah sakit macam apa ini?! Lift itu hak semua orang! Dan apa mereka tidak pernah dengar anjing itu sahabat manusia? Mereka jinak, ramah dan bersahabat. Jadi salah Akamaru apa sampai kena jegal?! APA?!

"Kau yakin tidak mau duduk?" tawar Shino dengan penuh perhatian. Dahinya mengernyit melihat kondisi mengenaskan sahabatnya. Rasanya jarak lift dengan ruangan tempat Hinata dirawat tidak terlalu jauh. Jadi kenapa dia bisa berkeringat begitu?

"Aku tidak apa-apa. Hanya harga diriku yang tersakiti. Bagaimana Hinata?"

"Dia baik. Bahkan terlalu baik," jawab Shino lelah. Jemarinya yang kurus dan pucat memijat keningnya dengan frustasi. "Hinata seperti tidak terguncang sedikitpun. Dan itu diluar prediksiku. Aku benci saat semua diluar prediksiku."

"Ya, aneh. Padahal aku sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk. Aku bahkan sudah membaca buku tentang trauma. Hanya untuk jaga-jaga." sahut Kiba cepat saat dilihatnya Shino tampak siap menyerang. "Tapi Hinata yang tenang benar-benar…tak terduga."

"Benar. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahunya," ucap Shino sembari mengeluarkan buku seukuran buku diary dari balik jaketnya dengan hati-hati.

"Secepat ini? Tapi kupikir kau akan menunggu sampai dia siap?" Kiba kembali memprotes. Baru kemarin ia mendengar Shino memutuskan menunggu. Sekarang lelaki itu ingin langsung menjatuhkan bom? Siapa sebenarnya yang plin-plan disini?!

"Sudah banyak hal yang menyimpang dari apa yang kuperkirakan sebelumnya. Jadi kenapa kita tidak sekalian ambil resiko? Spontanitas? Lagipula Hinata tidak selemah yang kita pikir selama ini." sahut Shino sambil menimang-nimang buku yang ada digenggamannya. "Dan kurasa dia memang sudah siap. Jauh lebih siap dari yang kau bayangkan."

.

.

.

Rumah sakit itu ternyata menyebalkan.

Kita terus dibiarkan berbaring tanpa melakukan apapun dikamar bernuansa putih membosankan. Bau obat yang menyengat dan piring besi yang digunakan sebagai peralatan makan meninggalkan rasa anyir pada makanan. Entah itu bubur, sup, bahkan potongan buah. Dan itu mulai membuat perutku tidak nyaman.

Memikirkannya saja sudah membuatku mual.

Televisi yang terpasang di rak tepat dihadapanku sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik. Padahal saat tinggal bersama Sasuke, aku lebih banyak menghabiskan waktu ku didepan televisi. Entah menonton siaran warta berita, drama, gosip selebritis atau demo masak. Setiap hari selalu ada acara yang ku tonton dan tidak pernah merasakan bosan seperti saat ini.

Majalah dan novel yang dibawa Shino tadi pagi juga tidak terlalu menggugah selera. Kepalaku masih pusing untuk dipaksa membaca.

Aku tidak pernah merasa sebosan ini, bahkan saat berada di tempat Sasuke.

Sasuke…

Apa dia baik-baik saja?

"Hinata."

Panggilan yang terdengar samar itu seketika membuyarkan lamunanku dan saat menoleh, Shino sudah berada didepanku.

Apa aku terlalu tenggelam dalam lamunan sampai tidak menyadari kehadirannya?

"Shino?"

"Kau melamun."

"Aku…hanya sedikit berpikir. Dimana Kiba?" tanyaku saat tersadar hanya Shino yang masuk ke ruangan ini.

"Dia menunggu diluar."

"Kenapa tidak disuruh masuk?"

"Karena dia tidak terlalu dibutuhkan dalam pembicaraan ini." Keningku mengernyit mendengar nada serius dan tidak menyenangkan dalam suara Shino barusan. Perasaanku langsung tidak enak. Firasat buruk. Shino hanya menggunakan nada serius ini saat ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Pembicaraan… apa?" tanyaku was-was dan sedikit panik saat Shino mengangsurkan sebuah kertas yang terlipat rapi padaku. Dengan perasaan yang penuh antisipasi aku membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya dengan perlahan. Dan kepalaku kembali pusing.

"Aku…positif… hamil?" tanyaku tak percaya. Apa ini lelucon? Yang benar saja! Aku tidak mungkin hamil. Seorang dokter terpercaya Sasuke selalu memastikan aku meminum pil yang diberikan dengan teratur. Dan walaupun tanpa ada dokter yang mengingatkan, aku sendiri selalu memastikan meminum pil pencegah kehamilan itu dengan rutin. Saking rutinnya sampai menjadi sebuah kebiasaan yang tidak pernah terlewatkan.

Jadi bagaimana mungkin aku bisa hamil dengan pencegahan seketat itu?

Kecuali…

Kami-sama…tentu saja. Aku pernah beberapa hari absen meminum pil. Pertama saat terserang flu disertai demam yang cukup parah di hari-hari awal aku tinggal di Suna . Cuaca panas dan ekstrim saerah Suna memang sempat membuat daya tahan tubuhku menurun drastis. Pil pencegah kehamilan yang seharusnya ku minum digantikan obat demam dan flu. Yang kedua beberapa hari lalu. sebelum Shino dan Kiba menjemputku aku juga sempat jatuh sakit. Dan aku belum menyentuh pil ku sama sekali sejak sembuh dari demam itu!

Kami-sama…kenapa aku bisa seceroboh itu?!

"Aku tidak yakin memberitahumu saat ini adalah keputusan yang tepat, tapi…kurasa itu satu-satunya hal yang paling tepat yang bisa kulakukan saat ini."

"Apa maksudmu?"

"Sasuke." Jawab Shino seakan menyebut nama pria itu mampu menjelaskan semuanya. "Kurasa dia juga tahu tentang kehamilanmu."

"Aku…tidak yakin. Maksudku, kita ada disini sekarang. Jauh dari jangkauannya. Ya, kan?"

"Aku takut tidak sesederhana itu," ucapnya lagi dengan suara berat. Dan Shino yang seperti ini selalu sukses membuatku gugup. "Sejak awal Sasuke tahu tentang rencana kita malam itu."

"Shino-kun… sudah tahu?" tanyaku untuk kesekian kalinya. Benar-benar penasaran. Terlebih lagi, aku suka saat Shino membagi isi pikirannya seperti saat ini. Ia jadi terkesan mudah didekati.

Shino menatapku penuh perhitungan. Tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menggeleng pelan. Terlihat sedikit kecewa.

"Tidak. Aku tidak tahu. Aku baru menyadarinya saat memasuki rumah itu."

"Bagaimana?"

"Rumahnya sepi."

"Sepi?"

Saat itu kilasan kejadian dikediaman Sasuke malam itu kembali terlintas dibenak ku. Benar. Rumah Sasuke mungkin menjadi salah satu rumah tersepi diseluruh kota. Tapi seingatku selalu ada beberapa penjaga yang berkeliling, baik saat siang maupun malam hari.

Tapi malam itu tak ada seorangpun penjaga yang kutemui. Awalnya kupikir, absennya para penjaga ini karena mereka sudah ditumbangkan oleh Shino dan Kiba. Mengingat penjaga yang bertugas dimalam hari hanya beberapa orang. Itupun setelah dikurangi beberapa karena Sasuke tidak nyaman dengan orang-orang asing yang berkeliaran dirumahnya.

Seharusnya aku langsung menyadari: Sasuke terlalu pintar untuk mau mengurangi penjagaannya. Dan setangguh apapun Shino dan Kiba, mereka tidak akan bisa mengelabui penjaga yang dipekerjakan Sasuke dengan mudah. Meskipun jumlah penjaga itu bisa dihitung dengan jari.

"Aku mengambil ini." Ucapan Shino itu cukup menyentakkanku yang tanpa sadar kembali tenggelam dalam melamun. Ia lalu mengulurkan sebuah buku usang berwarna hitam polos kehadapanku. Dan buku asing yang terlihat tua itu cukup membuatku mengernyitkan dahi.

"Apa ini?"

"Kuharap kau yang lebih tahu."

Dengan penasaran, aku mengambil dan mulai membuka buku tua itu. Menelusuri lembar demi lembar dengan perlahan dan hati-hati. Takut ada bagian yang sobek karena sikapku yang terkadang teledor. Tapi secermat apapun aku membuka dan meneliti tiap lembar demi lembar kertas yang ada didalamnya, tetap saja halaman itu… kosong.

Tidak ada tulisan, angka atau gambar.

Setiap lembarnya hanyalah berupa kertas kosong yang dibiarkan polos tanpa ada coretan apapun yang bisa dijadikan petunjuk.

Awalnya kupikir ini semacam buku diary yang berisi tulisan tentang rahasia atau aib terkelam dari pemiliknya. Sehingga saat pertama kali membuka buku itu, terselip rasa tidak enak hati yang kurasakan. Tapi dengan lembaran kertas yang dibiarkan kosong? Aku mulai berpikir ini hanyalah buku catatan yang tak sempat digunakan kemudian terlupakan

Dihalaman ke delapan aku menyerah dan menatap wajah Shino, yang masih berdiri diam sambil terus memperhatikanku, meminta sedikit pencerahan.

"Teruskan."

"Tapi…ini kosong!"

"Lakukan saja." Perintah Shino dengan nada datar yang membuatku kembali menghela napas pasrah. Aku tidak pernah bisa menolak saat Shino menggunakan nada datar seperti itu. Dengan sedikit kesal karena merasa dipermainkan, aku kembali membuka halaman demi halaman dari buku itu. Kali ini tidak sehati-hati seperti sebelumnya. Dan walaupun sudah berusaha bersabar, tapi melihat kertas polos, yang entah sudah lembar ke berapa, membuatku kembali kesal.

Barulah saat mencapai halaman tengah buku, aku terkejut. Diantara lembaran kertas polos itu terselip sebuah foto usang yang ditempel dengan apik. Dibawahnya terdapat sederet tulisan khas anak-anak, yang anehnya, ditulis dengan cukup rapi.

Tulisan yang sangat kukenal.

Dan sialnya, hanya dengan sebuah foto, pikiranku langsung kembali ke masa lalu. Masa dimana hanya ada tawa dan kegembiraan tanpa ada masalah sepele yang dibuat rumit.

Masa dimana semua ini berawal.

Tanpa diberi tahupun aku tahu siapa anak-anak yang ada di dalam foto itu. Dan bukan hanya tahu, aku sangat mengenal mereka.

"Aku menemukannya di bawah meja kerja si brengsek itu. Kupikir itu sesuatu yang penting karena letaknya yang cukup tersembunyi."

"Begitu," sahutku pelan. Pandanganku tak bisa lepas dari selembar kertas berwarna hitam putih itu. Dan pertanyaan-pertanyaan seperti: kenapa dia menyimpan benda ini terus terlontar dalam kepalaku.

"Apa itu juga sesuatu yang penting untukmu?" tanya Shino lagi, mulai memperlihatkan rasa penasarannya. Aku hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

Apa ini…sesuatu yang penting? Untukku?

.

.

"Berhenti menangis."

"Hiks..ma-maaf…hiks."

"Kubilang. berhenti. menangis!"

"Ba-baik..hiks."

"Dasar aneh, ibuku yang mati kenapa kau yang nelangsa?"

"A…aku menggantikanmu menangis."

"Cih, jangan banyak alasan. Apa pekerjaanmu sudah beres?"

"Pe-pekerjaan ya-yang mana?"

"Ck! Kau minta dihajar, ya?!"

.

.

"Kenapa bertanya begitu?" tanyaku sembari menatap Shino yang masih setia menunggu jawabanku.

Sesuatu yang penting.

Penting? Jangan bercanda. Untuk seorang gadis tanpa keluarga, tanpa marga dan dibuang saat masih bayi lalu dirawat oleh seorang pengasuh tua renta. Tidak ada hal lain yang lebih penting selain memberikan rasa pengabdian yang sama.

Jadi ini bukan sesuatu yang penting, kan?

"Kau ada didalamnya," sahut Shino ringan, menunjuk pada selembar foto yang berada dipangkuanku dengan dagunya. Membuatku merasa terpojok.

Bagaimana shino tahu ini aku? Rasanya diriku yang masih berukuran mini dengan yang sekarang sangat jauh berbeda. Bahkan sukar melihat kemiripan satu dengan yang lain.

"Ya," jawabku jujur. Lelah walaupun hanya mencoba sekedar mengelak. Shino terlalu sulit dialihkan. "Ini aku."

"Jadi…"

"Aku tidak tahu," bisikku pelan, pandanganku kembali terarah pada foto dua bocah yang saling berpegangan tangan ditengah taman bunga. Sekilas pemandangan itu terlihat sebagai sebuah adegan romantis yang sangat manis karena dilakukan oleh dua bocah lucu nan imut. Tapi aku lebih tahu, tidak ada sedikitpun keromantisan didalamnya. "Dia…mengerikan."

.

.

"Sudah kubilang…berhenti menangis!"

"Ta-tapi…aku sedih. Sasuke tidak sedih?"

"Dia ibuku, tentu saja aku sedih."

"Ta-tapi…"

"Semua yang ada di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya mati. Kau. Aku. Kita juga tidak akan lepas dari hal itu. Jadi berhenti merengek dan cuci piring sana!"

"Ba-baik."

.

.

Kini, aku hanya bissa tersenyum saat mengingat kejadian itu.

Jujur saja, untuk anak seumuranku, perkataan Sasuke yang terkesan bijak dan dewasa untuk anak seusianya sama sekali tidak ku mengerti. Maksudku, aku baru berusia 8 tahun saat itu. Kematian bagiku hanya satu hal: tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi rupanya bagi Sasuke kematian berarti: siklus alam yang wajar dan tidak bisa dihindari.

Otaknya benar-benar mengerikan.

"Aku sungguh tidak tahu Shino," bisikku pelan, namun aku yakin Shino masih bisa mendengarnya. "Sejak kecil dia selalu membuatku ketakutan."

"Tapi dia selalu ada untukku, meskipun dengan cara yang tidak ku inginkan." Lanjutku lagi dengan sedikit tidak yakin. Ya, benar. Sasuke memang selalu ada dimanapun dan kemanapun aku pergi.

Saat itu rasanya wajar, mengingat kami tinggal dirumah yang sama. Tapi lama kelamaan, kehadirannya justru terasa menyesakkan. Bukan terganggu atau risih, hanya saja kehadiran Sasuke yang terlalu dekat membuatku tidak tahu harus berbuat apa.

Dia terus memberikan perintah.

Selalu membentak.

Tidak pernah bosan mencari kesalahanku.

Dan dia selalu tahu dimana aku bersembunyi.

Keberadaannya yang seperti itu cukup membuatku tidak nyaman. Tapi mencari perlindungan pada keluarga Uchiha yang lain atau nenek Chiyo sama sekali bukan pilihan. Maksudku, mereka benar-benar tidak bisa diandalkan jika menyangkut Sasuke.

Dan aku harus bertahan dengan semua itu sampai suatu hari, aku mendengar percakapan Fugaku-san dan Itachi nii-san. Percakapan tentang masa depan Itachi.

Fugaku yang memiliki watak keras dan telah merencanakan masa depan putra sulungnya tampak tak suka saat keinginannya dibantah. Sementara Itachi yang merasa punya hak untuk menjalani hidupnya dengan bebas, tidak suka menjalani masa depan yang dipersiapkan orang lain untuknya.

Dan itu pertama kalinya kulihat mereka bertengkar sehebat itu.

Aku yang belum mengerti apapun terus berdiri diam dibalik pintu. Mendengarkan dengan khawatir. Dan semakin panik saat Itachi dengan lantang mengumumkan kepergiannya dari rumah.

Pergi dari kediaman Uchiha? Bukankah itu sama saja dengan tidak akan bertemu lagi? Sama dengan Mikoto-san. Walaupun tentu saja, ada beberapa hal yang membedakannya. Tapi bagiku yang saat itu selalu benci dengan perpisahan, kepergian Itachi akan sama menyedihkannya seperti kepergian Mikoto-san.

Aku tidak mau mengalaminya lagi.

.

.

"Jika baka aniki pergi dari rumah ini, atau Sai nii-san memutuskan minggat dari rumah. Aku akan pastikan untuk selalu pulang. Hanya untukmu."

"Karena itu, berjanjilah untuk tetap selalu ada disampingku dan aku tidak akan membiarkanmu kesepian lagi."

.

.

.

Aku kembali menatap foto yang sedikit kusam karena termakan usia itu. Jariku sedikit gemetar saat menelusuri kata-kata dalam tulisan yang cukup rapi dibawahnya.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?

Kenangan itu…Janji itu…

Kenapa aku bisa lupa?!

Kami-sama… Apa yang kulakukan?

Apa yang sudah kulakukan?

.

.

.

Selalu dan selamanya cinta.

Uchiha Sasuke.

.

.

.

to be continued

.

.

author notes: yeeeiiiii, akhirnya chapter ini update juga. #fiuuhhh ngelap keringat. errr…mungkin chapter kali ini agak sedikit membingungkan karena pergantian pov yang cukup cepat dan tidak adanya keterangan 'flashback' (aku tidak suka menempatkan keterangan itu, maaf). jadi untuk yang kebingungan, silahkan baca ulang #plakk XD

btw, next chapter will be the last. (akhirnyaaaaaa yeeeiiii udah bosen galau) jadi… sampai bertemu di chapter selanjutnya yaaa.

special thanks for:

, Aira uchiha, kirei-neko, Eigar alinafiah, livylaval, Yukori Kazaqi, keiko-buu89, Nivellia Neil, Sana Uchiga, BommiePark24, .7, Dewi Natalia, mayu masamune, Ahmad Hyuuga, IndgOnyx, azzahra, amu-b, fitri yani, Hinatauchiha69, ntnmilhw, Chan, n, Mint River, Indigonyx, katsumi, kaoru mouri, rini andriani, Diana Rizky, momo, pororo90, hana37, naina-chan, Guest, saras, Guest, kirigaya chika.

aku selalu senang membaca review dari kalian, arigatou ne. maaf tidak bisa membalas satu-satu, tapi review kalian selalu kubaca dan ku tunggu #jyaahh dan lea selalu suka happy ending. semoga kalian juga suka ^^

ps: kukira Indigonyx dan IndigOnyx itu orang yang sama, hehe. ternyata aku salah. maaf ya XD

goodnight: selalu senang diingatkan olehmu :D yah walopun lea lebih sering mengecewakan sih, tapi itulah yang dinamakan kekuasaan author, kan? wkwkwk, tapi lea akan berusaha update lebih cepet. semoga.

terimakasih sudah membaca dan selamat tahun baru minnaaaaaa!

#nelen trompet XD

ciamis, 31 desember 2013

10.30 wib