"Aahh... aahh... nnnnhhh..."
"Faster Oh... aahh... Shhh... Hun..." Jerit Luhan.
"Yeah baby... you are so hot, ssshhh..."
"Aaahhh... oohhh... aahh... aahh..."
Dan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Crot...!
.
.
.
.
.
.
.
Gregab!
.
Hosh... hosh... hosh...
Luhan terbangun dengan tubuh dan pakaian yang basah oleh keringat. Ia menyibak selimutnya, dan benar saja apa yang dimimpikannya membuat ranjangnya basah seperti baru saja mengompol.
Luhan sangat malu dengan apa yang baru saja ia mimpikan. Ia mimpi basah tengah melakukan hubungan intim dengan Sehun. Dimana dirinya berada dibawah sedangkan Sehun dengan perkasa menggagahinya diatas.
Baru pertama ini ia memimpikan, mimpi basah bersama oranglain. Biasanya ia bermimpi melakukan itu dengan Kris, namun tampaknya sosok Kris tergantikan oleh Sehun. Terbukti mimpi semalam, dimana tubuhnya digagahi oleh pria itu.
Muka Luhan langsung merah, karna malu. Malu karna membayangkan hal mesum bersama Sehun.
Segera ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah tubuhnya bersih, ia pun keluar memakai baju yang pantas untuk magang.
"Magang! Dan aku akan bertemu dengan Sehun. Tidak, Sehan lebih tepatnya. Tapi Sehan itu wanita dan aku tidak begitu tertarik dengan wanita, namun jika itu adalah Sehun.. aigoo... pipiku, pipiku... aigoo..." Luhan menepuk-nepuk pipinya yang memanas hanya karena membayangkan rupa Sehun.
EXO SHS.
Disekolah Luhan dan Sehan sama-sama menghindar. Luhan tidak ingin debaran jantungnya serta pipinya yang merah setiap kali bertemu dengan orang itu.
Dilain pihak, Song Joong Ki guru olahraga itu berusaha mendekatinya. Tampaknya pria ini sudah kecantol oleh pesonanya.
.
.
Gosip mengenai Song Joong Ki saem menyatakan perasaannya pada Luhan sampai ketelinga Sehun. Ia terkejut telah mencuri dengar pembicaraan kaum yeoja didalam kelasnya. Ia yang sedari tadi tengah asik membaca komik tak sengaja mendengar pembicaraan para yeoja dikelasnya yang membicarakan Luhan dengan Song Joong Ki guru olahraga yang ia akui jika Luhan mengagumi sosok guru itu.
"Katanya Song Joong Ki Saem menembak Luhan Saem." Ujar yeoja berambut ikal berwarna dark brown.
"Omo! Song Joong Ki Saem dengan Luhan Saem. Aku sih tidak percaya tapi jika melihat kedekatan mereka, kita bisa apa... aku rasa mereka cocok." Ujar yeoja yang duduk disebelah yeoja berambul ikal tadi.
"Hah, menyebalkan! Mengapa orang yang kita sukai rata-rata telah belog! Apakah tidak ada pria tampan yang straight untuk kita?" ujar yeoja berambut lurus yang tengah berdiri di samping yeoja berambut ikal sambil memasang wajah sedih.
"Hah... entahlah, zaman memang telah berubah." Ujar yeoja berambut ikal.
Sreg!
Sehan berdiri dari bangkunya. Perasaan marah, kesal dan muak tengah menggerogoti hatinya. Ia ingin marah pada Luhan, namun dirinya berkaca. Siapa dia? Dirinya bukan kekasih Luhan. Dirinya tidak berhak marah pada pria itu.
Luhan telah menjadi kekasih guru olahraga itu.
Itulah yang ada didalam benak Sehan. Sehan berjalan dengan penuh keangkuhan, raut wajah yang tampak menyeramkan, semakin menyeramkan seperti tokoh game angry bird berwarna merah.
Aura diktator yang terpancar dari tubuhnya membuat oranglain yang melihatnya enggan menyapa ataupun bersinggungan dengannya.
Ia tidak peduli, yang ia inginkan adalah meluapkan amarahnya dengan pergi ke tempat itu. Tempat yang dapat membuat hatinya tidak panas lagi.
Dengan langkah lebar-lebar Sehan berjalan di koridor sekolah. Iya, ia ingin membolos.
Luhan yang melihat Sehan berjalan dengan aura hitam menguar dari tubuhnya membuatnya bertanya-tanya. Ada apa dengan Sehun? Mengapa ia begitu? Batinnya.
Greb!
Luhan mengejar wanita yang adalah sosok lain dari Sehun.
Sehan tersentak, ia sempat berhenti. Ia pun menatap siapa orang yang berani menyentuh tangannya. Dan pelakunya adalah Luhan, orang yang membuat hatinya panas.
"Cih menyebalkan!" Batinnya.
"Lepaskan tanganku SAEM." Ujar Sehan dingin. Nada suaranya menggeram menahan marah.
"Kau mau kemana, bukankah ini belum waktunya pulang?" Tanya Luhan mencoba sabar menghadapi sosok Sehan tak lain adalah Sehun.
"Cih bukan urusanmu. Lepaskan tanganku." Ujar Sehan tidak mengurangi intonasi bernada rendah namun tajam.
"Ada apa denganmu? Mengapa moodmu tidak enak begini?" Tanya Luhan masih mencari-cari permasalahan Sehun dari matanya.
"Tanyakan saja pada dirimu Lu, dan aku harap kau bisa peka sedikit saja. Jujur aku kecewa padamu! Dan satu hal lagi, AKU MEMBENCIMU."
JDER!
Kata-kata Sehun bagai menampar dirinya. Kata benci yang diucapkan orang ini membuatnya sedih, dan sakit.
Mengapa?
Mengapa?
Mengapa Sehun membencinya? Salah apa dia padanya?
Dan Sehan dengan kasar menepis tangan Luhan, akhirnya genggaman tangan itu terlepas. Luhan seketika merasakan kekosongan dan rasa sakit yang teramat pedih.
Bagai ditaburi cuka dan garam kedalam dada.
Mata rusanya menatap punggung Sehan yang semakin lama semakin menghilang.
OoOo
Ring tinju dan karung sak yang tergantung itu Sehan pukul dengan kerasnya. Iya, Sehan saat ini tengah berada di tempat latihan tinju. Ia memukul karung sak, dengan pukulan yang keras.
Bahkan sang pelatih yang melihat pukulan keras Sehan merasa ngeri. Pasalnya Sehan seakan mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Jika itu adalah orang, pasti sangat sakit." Batin sang pelatih.
Bug!
Bug!
Bug!
Pukulan, tendangan, Sehan lontarkan. Ia kesal, marah, kecewa, bahkan patah hati.
Ia benci pada dirinya sendiri, pada takdir hidupnya. Yang harus dikutuk menjadi pria setengah wanita.
Menjijikan.
Bahkan syaratnya pun sangat sukar untuk ia lakukan, yaitu harus melakukan hubungan intim dengan cinta sejatinya. Jika ia tidak melakukannya sampai batas waktu bulan purnama, maka ia, selamanya akan menjadi seperti ini.
MENYEBALKAN! ARGH...!" Teriak Sehan sambil memukul-mukul karung tinju.
Sang pelatih yang melihat Sehan/Sehun merasa sangat kesal bahkan terpuruk merasa kasihan. Belum pernah ia melihat Sehun seterpuruk ini.
Sang pelatih tahu, jika Sehun dikutuk oleh pengemis sakti sehingga ia harus menjalani takdir yang merepotkan seperti ini.
OoOo
Luhan terus memikirkan ucapan Sehun.
"Tanyakan saja pada dirimu Lu, dan aku harap kau bisa peka sedikit saja. Jujur aku kecewa padamu! Dan satu hal lagi, AKU MEMBENCIMU."
Kata Peka, dan Membenci dirinya, membuatnya berpikir. Hati kecilnya mengatakan apakah Sehun menaruh perasaan padanya? Apakah jika tebakannya benar, bolehkah dirinya berharap?
Disaat ia tengah melamunkan Sehun, sosok guru olahraga itu muncul. Song Joong Ki membawakannya segelas kopi untuknya. Dan ia pun menerima dengan tersenyum seadanya.
"Kau tidak perlu mengatakannya cepat-cepat. Aku akan menunggumu Luhan Saem." Ujar pria ini.
Luhan tersenyum kecil, ia merasa jika inilah waktu yang tepat jika ia harus mengambil keputusan. Ia tidak ingin menggantungkan perasaan pria didepannya.
"Song Saem, tampaknya aku sudah tahu apa yang akan aku katakan padamu." Ujar Luhan menatap langsung ke manik mata onix sosok didepannya.
Song Joong Ki menelan ludahnya, sorot mata Luhan tegas, dan yakin. Pria ini akan memberikan jawabannya. Jujur saja, ia ingin Luhan menerimanya, tapi entah mengapa dirinya memiliki firasat jika jawaban Luhan adalah penolakan. Namun dia harus berpikir positif, segala keputusan ada ditangan Luhan. Jika misalnya, Luhan menolaknya ia akan menerimanya dengan lapang, tanpa menaruh dendam pada pria mungil pemilik mata rusa yang sangat menawan.
"Song Saem, aku, aku... maafkan aku Song Saem. Aku tidak bisa menerimamu. Sudah ada oranglain yang mengisi hatiku, maafkan aku. Tapi aku berdoa semoga Song saem mendapatkan pasangan yang baik, dan mau menerima Song Saem apa adanya." Jawab Luhan.
Song Joong Ki tersenyum, ternyata feeling-nya tepat sekali, dan bagaimanapun ia harus menghormati keputusan Luhan. Ia tidak bisa memaksa Luhan untuk mencintai dirinya.
OoOo
Luhan ternyata mencari keberadaan Sehun kepada kawan-kawannya. Awalnya semua kawan Sehun tak ada yang memberitahukannya, mereka tampak menyembunyikan keberadaan Sehun sekarang. Tapi Luhan tidak menyerah, ia harus meluruskan semuanya dengan Sehun jika ia tidak ingin kehilangan pria yang membuatnya seakan dihargai dan dikasihi dengan tulus.
Terkadang cinta butuh perjuangan.
Inilah yang saat ini Luhan lakukan. Bahkan perjuangannya dalam mencari keberadaan pria itu, tak seimbang jika dibandingkan dengan Sehun.
Sehun seperti air baginya. Disaat ia haus akan kasih sayang, pemuda itu datang memberikannya kasih sayang.
Sehun seperti hembusan angin semilir. Mampu memberikan rasa sejuk dan nyaman, sehingga membuatnya serasa terlindungi. Bahkan Sehun berkali-kali melindunginya, menjaganya agar ia selamat dan aman.
Luhan berlari mencari Sehun, berlari mengejar cintanya. Sehunlah yang mengajarkan arti kasih sayang, terlepas dari wajah stoic pemuda itu. Tapi satu yang ia ketahui dari pria itu adalah ketulusan.
"Sebenarnya ada hubungan apa Saem dengan Sehun?" Tanya Kyungsoo pada Luhan.
"Untuk saat ini kami hanya sebatas guru dan murid. Tidak, kami bersahabat." Balasnya.
Luhan teringat kala para Sahabat Sehun seakan mengintrogasi hubungannya dengan Sehun.
Dan ia mendapatkan fakta yang membuatnya semakin mengagumi sosok pemuda berwajah stoic itu, jika Sehun diam-diam mendirikan tempat penampungan kucing dan anjing yang terlantar tanpa pemiliknya.
"Sehunie, tunggu aku. Aku berjanji kali ini biarkan aku yang mengejarmu."
.
.
.
.
.
Sehun keluar dari tempat latihan tinju. Setelah memukul karung sak dengan keras tanpa henti perasaannya menjadi membaik, daripada sewaktu ia datang.
Ia keluar hanya memakai T-Shirt, dan celana jins pendek tak lupa topi Izro bertengger diatas kepalanya.
Ia seakan merasa lega, karena matahari telah tenggelam dan sekarang tergantikan oleh bulan. Ia teringat akan syarat itu. Matanya menatap bandul kalung yang saat ini berwarna hitam karena sosok Luhan tak ada didekatnya. Jika Luhan ada didekatnya maka bandulnya akan berwarna putih.
Sehun menghembuskan nafas lelah. Ia merasa semuanya telah selesai. Selamanya ia menjadi Sehun dan Sehan. Mau tidak mau ia harus melakoninya, menjadi dua wujud yang berbeda. Baru mau membuka pintu kemudi, sebuah suara terdengar memanggil namanya.
"SEHUN..."
Yang dipanggil menoleh ke asal suara. Disana, Sehun melihat sosok Luhan tengah berlari menuju kearahnya.
Dengan dramatis, bagai efek slow motion Luhan berlari kearahnya. sedangkan sosok Sehun terkejut, tak percaya Luhan mencarinya, bahkan mengejarnya sampai kesini.
"SEHUN..."
GREB!
Luhan menerjang tubuh Sehun, masuk kedalam pelukan pria itu. Sehun dengan senang hati menangkap Luhan.
"Sehun, mianhae... mianhae... aku memang bodoh, aku bodoh, tidak peka dengan perlakuanmu selama ini. Aku minta maaf. AKu mohon tarik kembali kata-katamu yang mengatakan kau membenciku, hiks! Aku tidak bisa jika harus jauh darimu, hiks! Aku tidak bisa karena aku sadar, aku menyukaimu." Ungkap Luhan masih memeluk Sehun.
Mata Sehun melebar. Ia benar-benar terkejut mendengar pengakuan Luhan yang membuatnya melambung. Bahkan bandul kalungnya kembali bercahaya.
"Lu-Luhan..." Panggil Sehun terbata. Ia sungguh terkejut, sampai suaranya tercekat.
"Ne..." Luhan merenggangkan pelukannya, ia menatap wajah Sehun, lalu kedua iris itu saling menatap intens. Sehun menyentuh dagu Luhan, ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia lihat, jika Luhan sangat cantik. Mata rusanya berkilat-kilat, seakan-akan terdapat mata air didalamnya. Ditambah bulu matanya juga lentik, menambah kecantikan diparas ayu Luhan.
Seperti terhipnotis kedalam pesona mata masing-masing, wajah mereka berdua semakin mendekat, deru nafas hangat dari keduanya menerpa wajah mereka. Tanpa diperintah keduanya memiringkan kepala mereka berlawanan, dan bibir keduanya bertemu.
Perasaan bagai tersengat listrik bervoltase rendah menyengat tubuh keduanya. Rasa merinding, dan bahagia menyebar keseluruh tubuh keduanya. Perut mereka seakan tergelitik, merasakan pertalian bibir mereka yang sangat manis.
Ciuman yang tadinya hanya lumatan-lumatan lembut, sekarang berubah menjadi menuntut. Bahkan kedua lidah mereka saling membelit. Tanpa mereka sadari, jika mereka saat ini tengah - ditempat umum. Seakan-akan dunia hanya milik berdua dan yang lainnya numpang lewat.
Sampai suara seseorang menyadarkan mereka.
"Ehem, ehem. Sebaiknya kalian berdua segeralah memesan hotel." Ujar sosok pria botak bertubuh kekar, yang tak lain adalah pelatih tinju Sehun.
Ciuman mereka terlepas. Luhan menunduk malu, sedangkan Sehun memasang wajah stoic. Sehun lalu menyuruh Luhan masuk kedalam mobilnya, kemudian tak lama ia pun juga masuk dan mobil melaju meninggalkan tempat itu.
Didalam mobil, Luhan masih menundukan wajahnya yang masih merah merona. Karena baru pertama kalinya ia berciuman. Dan orang pertama yang melakukannya adalah Oh Sehun.
Sehun yang tengah fokus menyetir, melirik Luhan melalui ekor matanya. Tingkah laku Luhan yang gugup sangat lucu.
"Lu, Saranghae." Ujar Sehun sambil menyetir.
"Eh!"
Luhan terkejut, mendengar ungkapan cinta Sehun, dan ia segera menoleh kearah Sehun cepat dan
CUP!
Kecupan singkat Luhan terima. Sehun mengecup bibir Luhan cepat bahkan pada saat dirinya tengah mengemudi.
"Hari ini moodku yang buruk berubah menjadi baik. Ngomong-ngomong bagaimana dengan guru olahraga itu." Tanya Sehun.
"Song Joong Ki, aku menolaknya. Kau sudah tahu alasanku kan. Jadi aku tidak akan mengatakan yang kedua kalinya." Ujar Luhan. Sedangkan Sehun, si pria ini malah memiliki ide ingin menggoda Luhan.
"Apa, tampaknya aku tadi tidak mendengarnya, memangnya kau berkata apa? Seingatku, kau hanya lari, lalu memelukku mengatakan kalimat yang tidak jelas sambil menangis, dan setelah itu tara berciuman." Goda Sehun.
Luhan jengkel setengah mati dengan pria disebelahnya ini. Percuma ia menangis dan berlari bahkan menyuruh supir taksi untuk cepat menuju lokasi tempat dimana Sehun berada, namun sikap si albino ini sangat menyebalkan.
Luhan mendelik kearah Sehun, dan ia pun berkata "Bedebah kau! Jika perlakuanmu begini, lebih baik aku terima saja ungkapan cinta Song Joong Ki atau pria yang tampaknya mengejar-ngejarku namanya Rain. Daripada pria yang tak jelas, yang saat ini berada disebelahku!" Sungut Luhan.
Sehun mendadak diam, dan tak mengatakan apapun. Namun wajahnya mendadak mendung.
"Jika kau sampai melakukan itu, aku akan menghukummu." Balas Sehun dingin.
"Makanya, kau jangan memulai." Ancam Luhan sambil melipat kedua tangannya. Sehun yang melihat tingkah menggemaskan Luhan yang sedang merajuk tersenyum. Ia begitu gemas pada sosok disebelahnya ini.
"Lu, bagaimana kalau kita hari ini kencan. Kita belum pernah berkencan kan?" Ajak Sehun dan Luhan mengangguk menyetujui usulan pria disebelahnya.
OoOo
Sehun mengajak Luhan kesungai Han. Tempat yang cukup romantis baginya. Dimana dimalam hari ini lampu-lampu taman menyala, bertaburan di sepanjang sisi jalan setapak taman ini.
Udara malam kian terasa dingin. Sehun yang memakai jamper hitam dan serta celana pendek membuat tubuhnya kedinginan. Sedangkan Luhan, pria ini memakai jaket tebal sampai ke lutut, sehingga tidak terasa dingin.
"Apa kau kedinginan Sehunna?" Tanya Luhan kepada Sehun.
"Ani, jika bersamamu aku tidak kedinginan." Balas Sehun menggombal. Bukannya merona Luhan malah memasang wajah datar.
"Wae, kau tidak percaya. Baiklah akan aku buktikan."
Greb!
Sehun dengan tiba-tiba memeluk tubuh Luhan. "Nah, dengan memeluk tubuhmu aku merasa hangat." Ucap Sehun sambil memeluk Luhan. Luhan yang mendengar ucapan gombal Sehun tersenyum. Ia pun membalas pelukan Sehun yang baginya sangat nyaman ini. Bahkan pelukan keduanya semakin lama semakin erat, seakan-akan satu sama lain tak ingin kehilangan dan menganggap semuanya adalah mimpi, dan jika satu sama lain melepaskan pelukannya, maka semuanya akan hilang.
"Lu, aku mohon bagaimanapun juga jangan pernah tinggalkan aku." Pinta Sehun masih memeluk Luhan. Luhan pun hanya mengangguk dan berkata " Iya Sehun, aku tidak akan meninggalkanmu."
Sehun melonggarkan pelukannya, menatap kedua manik mata Luhan yang seperti rusa itu. Ia mencari apakah Luhan serius padanya? Tidak ada kebohongankah? Dan jawabannya adalah tidak ada. Luhan benar-benar tulus padanya. Dan untuk kedua kalinya bibir keduanya bertemu, kali ini lebih dalam, lembut, dan agresif. Tanpa tahu jika ini masih ditempat umum. Mereka tidak peduli, tempat yang mereka lewati tergolong remang-remang. Bahkan jarang dilewati. Lidah keduanya saling membelit, saliva entah siapa telah menetes dari ciuman panjang mereka. Luhan butuh bernafas, ia memukul bahu Sehun. Sehun yang tahu kode dari Luhan menghentikan ciuman panas ini.
Setelah ciuman memabukan itu terlepas, Luhan mengais oksigen yang banyak untuk mengisi kembali paru-parunya dengan udara yang baru.
Sehun menyeka saliva dari bibir Luhan dengan ibu jarinya. Ia tangkup pipi Luhan yang merona merah, bahkan nafasnya memburu, dadanya kembang kempis mengais oksigen.
"Cantik." Batin Sehun.
Sungguh pria yang ada dihadapannya, bahkan saat ini telah menjadi kekasihnya sangat indah.
Luhan bahkan lebih cantik dari wanita pada umumnya.
Sehun mendekatkan tubuhnya ketubuh Luhan, dan ia juga membisikan sesuatu ketelinga pria itu.
"Lu, maukan kau menghilangkan kutukanku, malam ini."
.
.
.
.
Luhan bingung dengan perkataan Sehun, jika dirinya bisa menghilangkan kutukan yang ada di diri Sehun.
"Apa yang bisa aku lakukam untuk menghilangkan kutukanmu Sehunie? Tanya Luhan, bingung.
"Aku akan menceritakannya padamu nanti. Tapi terlebih dulu kau ikutlah denganku." Ajak Sehun. Sehun menarik tangan Luhan. Dan Luhan pun pasrah, ia lalu mengikuti kemana Sehun membawanya.
OoOo
Luhan tidak mengerti mengapa Sehun membawanya ke hotel yang baginya tergolong high, dan berbintang 5 ini.
"Me-mengapa kau membawa kesini Hunnie?" Tanya Luhan masih tidak mengerti.
"Malam ini, kau akan merubahku menjadi manja tulen Hannie." Bisik Sehun tepat ditelinga Luhan.
.
Kini keduanya tengah berada didalam kamar. Luhan masih bingung tapi ia tidak bodoh. Tidak mungkin kan jika, persyaratannya adalah melakukan itu.. maksdnya hubungan intim. Pikir Luhan.
"Se-Sehun camkaman!" Tegur Luhan kala Sehun mulai menciumnya kembali. Sehun menghentikan aksinya mencium bibir Luhan dan bertanya lewat mata "kenapa?"
"Sehun, kau tidak akan melakukan itu padaku kan?" Tanya Luhan memastikan. Sehun tidak langsung menjawab ia diam, berpikir. Berpikir, apakah ini saatnya Luhan tahu syarat agar ia bisa kembali menjadi sosok pria sejati.
"Iya, syaratnya memang seperti itu Lu. Aku harus melakukan hubungan itu, dengan cinta sejatiku. Dan cinta sejatiku adalah dirimu." Terang Sehun kemudian.
Mata Luhan membola, haruskah dirinya merasa senang, ataukah merasa takut saat ini?
"Ta-tapi Hun... ba-bagaimana k-kau tahu jika aku adalah cinta sejatimu?" Tanya Luhan terbata-bata.
"Kalung, kau lihat kalung ini?" Sehun mengeluarkan kalung dari balik bajunya untuk menunjukan pada Luhan. Luhan melihat kalung emas putih berbandul batu berwarna putih serta tampak bercahaya.
"Kau lihat, bandul kalungnya. Dari batunya berwarna putih dan tampak bercahaya. Kau tahu, orang pintar yang memberikan kalung ini padaku sebagai percarian cinta sejati. Kutukanku bisa lepas, apabila aku menemukan cinta sejatiku sebelum bulan purnama. Jika melebihi bulan purnama maka aku selamanya akan menjadi Sehun dan Sehan. Dua gender, dan itu sangat menjijikan serta memalukan. Jadi Lu, maukah kau menolongku, melepaskan kutukan ini dengan penyatuan kita berdua?" Pinta Sehun kepadanya.
Luhan merasa malu, dan juga gugup. Pasalnya ini pertama kalinya ia melakukannya. Ia takut kenapa-napa.
"Ta-tapi Hun.. i-ini baru pertama kali untukku..."
"Karna pertama kali inilah, syarat ini dilakukan. Dengan kesucian yang kita miliki, cinta kita akan lebih kuat. Percayalah Lu, aku tidak akan menyakitimu jika nanti terjadi apa-apa. Aku berjanji padamu. Aku juga akan setia padamu, karna aku yakin kau adalah cinta sejatiku."
Awalnya Luhan bingung, dan bimbang. Tapi, melihat sorot mata Sehun yang memperlihatkan kesungguhan yang besar dan rasa cinta yang tulus pada akhirnya ia menyanggupinya.
"Hms, Sehun. Milikilah aku, dan kau juga akan menjadi milikku." Balas Luhan sambil membelai wajah Sehun.
Sehun merasa bahagia, Luhan mau percaya padanya. Ia pun mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Luhan yang membuatnya kecanduan. Bibir plum Luhan sangat manis dan menggairahkan.
Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi ciuman yang menggairahkan. mereka saling menghisap bibir satu sama lain. Bagai saling memakan bibir satu sama lain jika diperhatikan. Bahkan kedua lidah saling menjilat, dan membelit, saliva pun menetes. Entah milik siapa. Tangan Sehun tidak hanya diam ditempat. Tangan itu juga diam-diam menggerayangi tubuh Luhan. Ia telusupkan tangannya kedalam baju Luhan. Ia pun juga membelai-belai punggung telanjang Luhan dibalik baju pria itu.
Luhan mengalungkan tangannya ke leher Sehun, bahkan ia meremas-remas surai rambut Sehun. Ia mabuk akan ciuman serta elusan tangan Sehun dipunggungnya. Tangan yang kekar tengah menggerayangi tubuhnya.
"Enggh..." Desah Luhan. Luhan pun meminta Sehun untuk melepaskan ciumannya karena pasokan oksigen didalam paru-parunya yang menipis.
Sehun tahu, Luhan butuh bernafas dan iapun melepaskan ciuman panas itu. Setelah ciuman itu terlepas, Luhan meraup udara sebanyak-banyaknya. Ternyata mulut Sehun beralih pada leher jenjang mulus Luhan.
Ia mengendus aroma yang menguar dari leher Luhan. Seperti aroma bayi, tanpa banyak bicara Sehun mencium, menjilat, bahkan menghisapnya cukup kuat sampai desahan terdengar dari mulut Luhan dan tanda kepemilikanmu tercetak disana.
Sehun tidak ingin cepat-cepat masuk keinti. Ia ingin memberikan Luhan suatu kenyamanan dan kenikmatan sebelum masuk keinti. Ia tak ingin menyakiti Luhan.
Ia pun menggiring Luhan keatas tempat tidur, ia baringkan tubuh Luhan keatas ranjang. Ia menindih tubuh kekasihnya yang tampak berantakan namun terLihat cantik dan indah dimatanya.
Ia tatap Luhan dibawahnya dengan pandangan memuja. Dan Luhan pun sama, ia terpesona pada sosok diatasnya. Sehun menyatukan kening mereka dan Luhan langsung melingkarkan tangannya ke leher Sehun.
"Saranghae Lu." Ungkap Sehun sambil mencium hidung mungil nan mancung milik prianya. Luhan tersenyum senang. Baru pertama kali ini ia merasakan rasa bahagia tiada tara. Dicintai oleh orang yang dicintai itu hal yang sangat membahagiakan.
'Nado saranghae Hunnie." Balas Luhan. Dan ciuman panjang nan menggairahkan kembali terjadi.
OoOo
Saat ini tubuh keduanya telah full naked.
"Aahhh... aahh... oohhh... engghhh..." Luhan mendesah karena saat ini Sehun memanjakan miliknya menggunakan mulutnya. Dengan mulutnya memasukan junior Luhan kedalam mulutnya. Luhan meracau, bahkan mendesah karena service yang pria itu dapatkan. Sampai pada saat Luhan merasa akan klimaks, Sehun menghentikan servicenya.
Luhan mengumpat kearah Sehun, karena klimaks-nya tertunda. Ia memohon pada Sehun untuk melanjutkan kembali. Tapi Sehun diam, menyeringai.
"Akkhhh..."
Luhan merintih karena satu jari Sehun masuk kedalam man hole-nya. Sehun tahu, Luhan belum terbiasa, akhirnya ia melakukan fore play lagi. Ia mengocok milik Luhan, dan menambah dua jarinya masuk kedalam hole Luhan. Luhan mendesah keenakan dan ia ingin klimaks tapi Sehun kembali menarik semua tangannya. Ia kembali mengumpat, marah pada Sehun kerena mempermaikannya.
'Sehunnie... please... sentuh aku... jebal..." Mohon Luhan tidak tahan.
Sehun menyeringai, ia pun berkata "Sesuai keinginanmu sayang." Dan...
JLEB!
"AKKKHHHH... appo... aaakkkhh..." Rintih Luhan sebab Sehun membobol lubang perawan-nya. Sehun merasa kasihan melihat Luhan kesakitan, tapi jika perlahan-lahan rasa sakitnya akan semakin sakit.
Demi meredam rasa sakit yang kekasihnya ini rasakan, Sehun mencium bibir Luhan tanpa melepas fokusnya dari selatan tubuh mereka.
Setelah junior Sehun telah sepenuhnya tertanam dihole Luhan, dan ia merasa mendingan. Ia menyuruh Sehun untuk bergerak.
Sehun memaju-mundurkan miliknya, mengocok miliknya yang bersarang dihole Luhan. Desah kenikmatan mereka keluarkan. Gelayar-gelayar kenikmatan mereka rasakan.
Luhan merasa jika dirinya lengkap. Lengkap karena Sehun mengisi kekosongan didalam hidupnya. Ia berharap jika Sehun akan selalu ada untuknya dan tak akan meninggalkannya.
Genjotan Sehun semakin dalam dan penuh, berkali-kali Luhan mendesah dan Sehun mendesis bagai ular yang merasakan kenikmatan pula.
Peluh yang mengucur dari keduanya tak mereka pedulikan. Rasa jijik karena keringat, dan saliva serta cairan cinta milik keduanya tidak mereka hiraukan. Untuk apa merasa jijik, jika cinta merubah pandangan jijik menjadi bahagia.
Berkali-kali Luhan merasakan Klimaks namun Sehun sekalipun belum. Luhan sudah tidak tahan, ia akan klimaks lagi.
"Aaahhh... aahh... enggghhhh... oohh.. ooh... Se-sehunaah... aku.. aku akan keluar... aaahh..." Desah Luhan.
"Aahh... aahh... bersama-sama Lu..."
Dan ledakan Sperma menyembur secara bersamaan. Dengan Sehun menyembur didalam Luhan dan milik Luhan mengenai paha dalam Sehun serta perut kekasihnya itu. Ajaibnya setelah itu, kalung bandul yang berwarna putih memancarkan terang yang sangat terang. Sinarnya membungkus tubuh Sehun. Dan setelah itu sinarnya menyebar keseluruh ruangan. Luhan sampai menutup matanya karena sinar yang terlalu terang tsb. setelah itu sinarnya menghilang.
Luhan yang melihat kejadian, yang ia alami ini -terkejut. Apakah kutukan Sehun telah hilang? Pikirnya.
"Sehunnie..." Panggil Luhan. Dan Sehun mentap wajah ayu Luhan. "Tadi itu, apakah kutukanmu telah hilang?" Tanya Luhan sambil menangkup pipi Sehun. Sehun menangkap tangan Luhan sambil tersenyum.
"Semoga saja. Semoga kutukanku telah hilang. Gomawo Luhanie, love you, love you." Sehun mengatakan itu sambil mencium telapak tangan Luhan. Luhan tersenyum, ia pun mengatakan hal yang sama jika dirinya sangat mencintai Sehun.
Dan malam hari ini mereka tidur diranjang yang sama, satu selimut yang sama, tak lupa saling berpelukan menghangatkan tubuh keduanya yang masih telanjang.
.
.
.
.
.
Pagi menjemput. Dua manusia adam masih bergelung di atas ranjang sambil berpelukan.
Luhanlah yang pertama terbangun. Dilihatnya sosok pria berambut blonde tengah memeluknya. "Tunggu pria, dan ini sudah pagi." Ujarnya.
Seakan- akan otaknya baru proses loading. Setelah proses loading selesai. Luhan tersadar, jika sosok yang tengah merengkuhnya adalah Sehun, bukan Sehan.
"Tunggu Sehun, Sehun! Bukan Sehan! Itu berarti kutukan itu telah menghilang." Dan Luhan merasa sangat bahagia. Sehun telah kembali menjadi sosok aslinya, pria tulen.
"SEHUN..."
Luhan mengeratkan tubuh telanjang mereka. Sehun terbangun mendengar teriakan Luhan.
"Kenapa Lu, mengapa kau pagi-pagi teriak seperti ini?" Tanya Sehun dengan suara parau dan muka bangun tidurnya yang dimata Luhan masih sangat tampan.
"Sehun, kau kembali menjadi sosok aslimu. Tidak ada lagi Sehan, melainkan hanya Oh Sehun." Terang Luhan senang.
Sehun melihat tubuhnya yang ternyata telanjang ini, dan apa yang dikatakan oleh Luhan benar. Jika kutukannya telah musnah. Ini semua karena Luhan, Luhanlah yang menyelamatkannya.
"Iya Lu, aku sudah kembali. Sehan sudah tidak ada. Aku adalah Oh Sehun, selamanya akan menjadi Oh Sehun." Ujar Sehun senang, seraya memeluk Luhan dengan erat.
"Hms, kau kini adalah Oh Sehun, bukan lagi Sehan. Ah, iya. Aku harus magang Hunna, jika tidak kepala sekolah Lee Sooman akan mengurangi nilaiku." Ujar Luhan. Luhan ingin bangun dari ranjang besar ini. Tapi sayang area selatan tubuhnya, lebih tepatnya bagian pantatnya terasa sakit.
Tampaknya, ia tidak bisa berjalan untuk saat ini.
"Apa kah sakit Lu.. maafkan aku Lu.." Sesal Sehun karena ia telah melukai Luhannya.
Luhan tersenyum menghadap kearah Sehun. "Tidak apa-apa. Rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya. Aku bahagia melihat kekasihku kembali normal." Terang Luhan, menghibur Sehun. Terlihat Sehun merasa bersalah dan menyesal. Tapi sekali lagi Luhan tekankan jika ia tidak menyesal melakukan kejadian semalam.
"Kau tenang saja, kepala sekolah itu tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kau adalah kekasihku, milikku, jadi aku bertanggungjawab penuh atasmu." Terang Sehun. "Hari ini kau jangan masuk dulu. Temani aku disini sayang. Jika perlu kita akan tidur seharian sambil berpelukan hangat seperti ini." Goda Sehun kepada Luhan.
Bukannya senang, Luhan malah mendelik. "Janji kau tidak akan tergoda untuk menyentuhku? Jika hanya berpelukan saja, aku mau. Tapi tidak melakukan itu. Lubangku masih sakit karena kau membobolnya semalam." Protes Luhan.
"Hehehe... janji sayang, aku tidak akan menyentuhmu. Tapi.. jika sebuah ciuman tidak masalah kan?" Pinta Sehun.
Luhan mengangkat bahunya tanda "terserah." Sehun tersenyum senang melihat kode yang Luhan berikan. Ia pun tanpa basa basi mencium Luhan. Hanya ciuman tidak lebih, karena Sehun tahu jika lubang Luhan masih ngilu akibat ia bobol semalam.
•
•
Ke-empat sahabat Sehun merasa aneh, pasalnya Sehun tidak masuk kesekolah karena ada kepentingan pribadi yang mendesak, sehingga pria albino itu tidak hadir, begitu pula dengan Luhan -guru magang yang 2 bulan ini magang di sekolah mereka.
"Ada yang aneh, Sehun dan Luhan saem tak masuk secara bersamaan. Dan alasan mereka tidak masuk karena ada kepentingan pribadi yang tidak bisa ditinggalkan." Ujar Baekhyun curiga.
"Menurut kalian apa ini tidak aneh?" Tanyanya kepada ketiga kawannya yang lain.
"Hah, sudahlah Baek. Mungkin ini hanya kebetulan semata. Sudah jangan dipikirkan." Elak Kai.
"Hah, kalian tidak asik. Chanie.. kau percaya padaku kan.." Rajuk Baekhyun kepada kekasihnya.
"Hms, kita lihat saja Baek. Jika Sehun masuk, kita dapat menanyakannya." Terang Chanyeol dan Baekhyun menghentak-hentakan kakinya kesal pasalnya sang kekasih tidak membelanya.
•
•
Tak terasa hari telah siang. Seharian ini mereka berdua - HunHan tertidur, yang disebabkan permainan panas yang mereka lakukan. Walaupun Sehun tidak lagi memasukan miliknya kedalam lubangnya - dikarenakan lubangnya masih lecet serta perih, maka permainan genjot - menggenjot digantikan dengan adegan memasukan penis ke dalam mulut.
Hisap, lumat dan jilat mereka peragakan. Bahkan posisi 69 adalah posisi andalan penuh kenikmatan sampai mereka kelelahan.
Malam pun tiba, Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit area selatan, bahkan roti sobek yang menjadi daya tarik perawan bahkan uke-uke terpampang jelas.
Sehun melihat rusa cantiknya masih tertidur dengan selimut tebal menutupi tubuh telanjang pemuda itu.
Sehun yakin jika Luhan sangat kelelahan melayaninya semalam dan hari ini. Setiap kali dirinya membayangkan kegiatan panas mereka. Bagian bawahnya akan menegang, segera ia menjauhkan pikiran mesumnya. Ia tak ingin menerjang Luhan lagi, bisa-bisa kekasihnya ini akan marah padanya karena hormonnya yang berlebihan.
Eeh..
Satu desahan khas bangun tidur keluar dari mulut sang kekasih. Luhan mengerjap-ngerjap imut matanya. Dilihatnya Sehun sang kekasih telah mandi. Rambut blonde Sehun sehabis keramas membuat pria itu tampak seksi dimatanya.
Ditambah abs, roti sobek pria itu membuatnya menelan ludah.
Gleg!
Luhan malu, ia sangat malu jika mengingat kejadian semalam dan hari ini. Setan apa yang merasukinya sampai mereka berani melakukan adegan yang dikhususkan untuk pasangan yang telah menikah.
Luhan malu, bahkan semburat pink tercetak jelas diwajahnya.
Sehun melirik kekasihnya yang tampak malu-malu kucing ini, sungguh lucu. Ia ingin memakan Luhan lagi namun ia tahan.
"Mandilah Lu, dan setelah itu ayo kita jalan-jalan keluar, mencari makan. Aku yakin perutmu sangat lapar. Dari kemarin kau belum makan kan?" Ujar Sehun. Dan si pria rusa hanya bisa nyengir kearah sang kekasih.
.
.
.
.
TBC.
Halo-halo... saya datang lagi, maafkan saya, saya telat update disini. Huff.. elap keringat. Gimana adegan diatas. Hot kagak, jika tidak mati seketika nelan sianida.
Oke tampaknya chap depan adalah chap terakhir. Soal The bibble of Voodoo. Belum ada ide buat nerusin itu cerita. Mau dibawa ke mana cerita itu eke juga tidak tahu. T^T.
Makasih buat yang review, follow, and favorit makasih banyak. #bungkuk-bungkuk.
Maaf juga, jika menemukan typo, bhs yang acak kadul, saya minta maaf. #bungkuk-bungkuk. Oke see you next chap and bye pyong! ^…
