Konnichiwa minna-san. Ohishashi buri desu ne!
Ricchan minta maaf karena updatean yang begitu molor. Jadi, Ricchan sengaja bikin chapter ini lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya. Juga beberapa scene SasuHina di akhir cerita. Prepare yourself, this gonna be a very long fiction! Hehehe. (ini minta tolong temen nerjemahin .)
WARN 3000 words
…
Mereka tak pernah menyangka Hinata membawa beban seberat itu. Politik desa akan mendesak Hinata. Bahkan dalam kasus terburuk, mungkin saja Hinata akan diperintahkan untuk bunuh diri demi menjaga keseimbangan dunia.
Mereka tak pernah menyangka Hinata menahan rasa sakit sehebat itu. Membayangkan bagaimana sakitnya tiap-tiap sel darah yang saling menghancurkan. Sel darah putih memangsa sel darah merah. Beberapa sel darah merah meledak dan gagal melakukan tugasnya. Kekurangan asupan oksigen, nutrisi, hal ini menjelaskan mengapa tubuh itu terlihat lebih kurus dan ringkih hari-hari belakanngan. Mereka mengutuk diri sendiri akan ketidaktahuan ini.
Mengapa Hinata tak memberitahu? Mengapa gadis itu tak percaya bahwa mereka tulus ingin melindungi senyum di wajah cantik itu?
"Kita kekurangan cadangan darah" ujar Sakura memecah sunyi di ruangan itu.
"Pakai darahku!" ujar Sasuke dan Gaara bersamaan.
"Apa golongan darah kalian?" tanya Tsunade.
"B" jawab Sasuke.
"Aku O" jawab Gaara.
"Golongan darah Hinata A. Shizune-san,tolong pasangkan selang itu pada Gaara. Cepat! Tidak boleh ada interval saat pemindahan darah, atau darahnya bisa teracuni unsur karbon di udara" ucap Sakura.
Gaara duduk di kursi yang disediakan Shizune. Tangannya mengepal keras. Apa pun akan dia berikan. Darahnya, apa pun, bahkan hidupnya!
Di sisi yang lain, Uchiha terakhir menggeram pelan. Dia harus menahan diri. Meski ada rasa tak suka akan darah Sabaku yang mengalir di tubuh Hinata, namun dia harus mengubur perasaan itu. Hinata harus selamat.
"Bertahanlah!" pinta Uchiha dan Sabaku dalam hati.
.
.
.
SEKAI NO FUIN
Naruto punya Masashi Kishimoto, tapi fic ini karya Ricchan
yang terinspirasi dari banyak sumber termasuk fic senpai yang lain
mohon maaf jika ada kesamaan dan kesalahan, fic ini hanya untuk kesenangan bersama
.
.
.
Chapter IX
"Bayangan yang Terlihat"
.
.
.
Hinata tak lagi merasakan sakit di tubuhnya. Justru ia merasa seolah bisa berlari dan melompat setinggi mungkin di ruangan hitam putih ini. Gadis Hyuuga itu tak ingat kapan ia tersadar, juga bagaimana ia bisa berada disini. Satu-satunya hal yang menjadi temannya hanya suara angin yang lembut.
"Apa kau senang disini?" tanya laki-laki yang beberapa hari belakangan senantiasa mengikutinya. Hinata bahkan sudah hafal kapan saja mood laki-laki itu membaik dan kapan ia harus diam dan menghindar.
"Bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Hinata. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang menjebak seperti itu.
"Panggil aku kakak, seperti dulu kau memanggilku, Sayang!" jawabnya seraya mendekat.
Hinata membiarkan laki-laki itu meraih rambut indigonya. Laki-laki itu menyandarkan kepala Hinata di pangkuannya.
"Aku ingin tahu namamu" ujar Hinata.
"Apa itu penting?"
"Aku tak mungkin memanggilmu kakak. Kau bukan kakakku."
Dahi laki-laki itu berkerut tak senang. Angin yang tadinya berhembus lembut tiba-tiba saja berhenti bertiup. Udara terasa lebih panas dan lebih menyesakkan. Hinata tahu dia salah bicara. Namun ia juga tak ingin berbohong dan mengikuti seluruh perkataan laki-laki itu.
Sebagai seorang Hyuuga, dia punya harga diri. Sebagai seorang ninja, dia punya kehormatan.
"Kau bukan kakakku" ulang Hinata.
Laki-laki itu berteriak marah. Suaranya menimbulkan dentuman yang memekakkan. Hinata memegangi telinganya, berharap hal itu dapat meredam suara maha dahsyat itu.
"Panggil aku kakak! Panggil aku kakak! Panggil aku kakak! Panggil aku kakak! Panggil aku kakak! Panggil aku kakak! Panggil aku kakak!" teriaknya berulang-ulang. Dia terlihat seperti anak kecil manja yang mengamuk karena permintaannya tak terpenuhi.
Hinata memegang tangan laki-laki itu. Emosi itu redam. Matanya mencoba menemukan sesuatu di mata Hinata, entah apa.
"Aku ingin tahu namamu" ulang Hinata sekali lagi.
Laki-laki itu mengambil nafas dalam.
"Namaku Yami"
...
Suara yang sangat keras membangunkan Hinata. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit yang putih bersih, lalu ayahnya yang kini tengah memegangi tangannya.
"Kau sadar, Nak?" ujar Hiashi. Raut wajahnya sontak berubah. Meski masih mengandung cemas, binar matanya kini sedikit menampakkan rasa lega.
Hinata merasa tubuhnya begitu ringan. Ia bahkan ingin mencoba melompat jika saja ia tidak ingat jika kini ia sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Sebelah tangannya dipasangi infus, yang satunya lagi belum juga dilepas oleh sang ayah.
Ia ingat ia pingsan setelah pemakaman Neji, namun ia tidak tahu siapa yang membawanya ke sini. Mungkin saja ayahnya. Atau salah satu bunke Hyuuga yang diperintahkan ayahnya untuk selalu mengikutinya.
"Aku haus, Ayah"
Hiashi membantu Hinata duduk, ia mengambilkan air dan meminumkannya pada sang putri dengan begitu hati-hati. Bagi seorang ayah, selamanya putri kecilnya akan tetap menjadi putri kecilnya. Ia sudah mendengar tentang segel dunia dari sang Hokage. Meskipun begitu, putrinya tetap putrinya. Apa pun yang dia alami, dia rasakan, Hiashi akan menerima dengan penerimaan yang utuh.
"Kenapa kau tidak cerita pada Ayah?" tanya Hiashi sesaat setelah Hinata kembali berbaring. Dia memaksa.
Pendar mata Hinata melihatkan penyesalan. Hiashi paham bahwa putrinya dari dulu memang tak pernah memberitahu kesulitan dan masalah yang dihadapinya. Mungkin karena ia terlalu keras dalam mendidik sehingga putrinya sendiri enggan berbagi cerita padanya.
"Semuanya baik-baik saja, Ayah. Karena itu aku berniat memberitahumu saat semua selesai" jawab Hinata.
Kepanya bersandar pada pundak tegap ayahnya yang tak lagi muda. Hyuuga sulung itu teringat akan bertahun-tahun yang lalu saat ia dengan mudahnya memeluk ayahnya. Ayahnya selalu menggendongnya di bahu. Hinata akan dengan senang hati melebarkan tangannya, menggapai bunga sakura yang mekar di pekarangan Hyuuga. Ibunya yang waktu itu tengah mengandung Hanabi hanya akan tersenyum dari beranda. Ibunya memang sudah melemah bahkan sejak awal-awal bulan kehamilan. Hinata ingat. Tiap detailnya. Seingat-ingatnya.
"Aku senang jadi putri kecil Ayah" bisik Hinata.
Hiashi tak lagi bersuara. Dia begitu takut tangisnya bakal disadari si sulung.
.
.
.
"Terimakasih telah datang menjenguk"
Sakura, Ino, dan Tenten datang ke rumah sakit di senja hari ketiga Hinata dirawat. Hinata sudah mencoba meyakinkan Tsunade bahwa ia bahkan sudah bisa melompat, namun Hokage kelima itu tetap bersikeras untuk membuat Hinata tetap berada di atas ranjang untuk seminggu kedepan. Dalam beberapa hari ini, sudah banyak sahabat-sahabatnya yang berkunjung. Kiba dan Shino yang langsung datang malam hari saat ia sadar. Keesokan paginya Hanabi datang membawa begitu banyak makanan. Disusul Shikamaru, Chouji, Konohamaru, Kurenai-sensei, Kakashi-sensei, Naruto, Gaara, dan Sasuke.
Ah! Hinata lupa.
Juga seorang lagi yang selalu berada di sisinya. Yami.
Tidak ada seorang pun yang menyadari kehadiran lelaki itu. Dia dengan tenangnya berkeliaran di sekitar rumah sakit, mengupas apel di sudut ruangan, bahkan menggotong Hinata ke kamar mandi saat tak ada perawat.
Hinata sudah pernah meminta Sasuke melihatnya dengan Rinnegan dan Sharingan, namun Uchiha terakhir itu justru mengira Hinata memintanya melihat kondisi tubuhnya. Tidak ada yang salah dengan kinerja faal tubuh HInata, kata Sasuke waktu itu. Hinata mendesah kecewa. Ia tidak berani bilang pada Sasuke tentang Yami.
"Apa yang kau pikirkan, Hinata? Kau memikirkan Gaara? Atau Sasuke?" goda Ino.
Di tangan si pirang sudah ada buah tomat yang baru ia iriskan. Hinata menerima suapan Ino dengan wajah bersemu. Dia tidak sedang memikirkan Gaara, apalagi Sasuke.
"Ada apa denganku?" tanya Gaara, bertepatan dengan suara pintu yang terbuka.
Tiga kunoichi konoha itu seraya berdiri dan memberi hormat. Gaara masuk bersama Temari, setelah memberi kode, tiga kunoichi itu kembali duduk dan melanjutkan aktivitas mereka yang tadi.
Sore ini Sakura bertugas memeriksa tanda vital Hinata. Mengecek denyut nadinya, pernafasannya, dan yang terpenting, tekanan darahnya. Tsunade sudah wanti-wanti. Tidak ada jaminan segel dunia itu tidak akan menghancurkan lagi sel darah Hinata. Penggantian darah waktu itu hanya tindakan sementara. Sama sekali tidak menyembuhkan akar permasalahannya.
Ino dan Tenten sudah meninggalkan ruangan sejak tadi. Sakura mengutuk temannya yang pergi begitu saja saat Kazekage Gaara datang. Gaara yang sama sekali tak berujar sepatah kata pun dari tadi benar-benar membuat Sakura sadar diri untuk segera pergi. Jika saja pemeriksaan ini tak memakan waktu terlalu lama, ia pasti akan ikut pergi bersama Ino dan Tenten tadi.
"Apa Hinata baik-baik saja?" tanya Gaara.
"Baik. Setidaknya untuk sekarang. Empat hari lagi, Tsunade-sama akan melakukan pengecekan terakir dan memutuskan langkah pengobatan yang akan dilakukan" jawab Sakura.
Tepat setelah pemeriksaan selesai, ia pamit undur diri. Tiga orang tersisa di ruangan itu. Setidaknya, begitu yang terlihat di mata Sakura. Sedangkan Hinata, menatap cemas pada Yami yang sedari tadi melirik tidak suka pada Gaara.
"Tak kusangka semua akan menjadi rumit seperti ini!"
"Apa maksudmu, Gaara?"
"Para kage telah memutuskan untuk menempatkanmu di tempat yang dijaga ketat oleh sekutu shinobi. Mereka takut segel dunia jatuh ke tangan akatsuki. Apalagi melihat kondisimu, dikhawatirkan kekuatan itu bisa lepas kendali" kali ini Temari yang menjelaskan.
"Bagiku, itu tidak terihat sebagai perlindungan. Mereka bahkan menyiapkan shinobi khusus yang bertugas membunuhmu jika suatu hal terjadi." lanjut Gaara.
Sedikit banyaknya Hinata sudah bisa menebak. Para kage pasti akan melakukan apa saja supaya kekuatan ini tidak lepas kendali, terlebih jatuh ke tangan yang salah. Kehilangan satu kunoichi lemah tentu tak akan berpengaruh apa pun.
"Apa mereka membuatmu sedih?" tanya Yami. Tangannya berada si depan leher sang kazekage, siap mencekik kapan saja.
"Jangan!" teriak Hinata panik. Dia mengenal Yami sebagai sosok yang tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Kau juga tak ingin kan?" Tanya Gaara. Dia pasti salah sangka. Hinata barusan tak bicara kepadanya.
"A-Ano. Maksudku… Jangan! Jangan mengkhawatirkan diriku. Aku akan baik-baik saja!"
Sabaku bersaudara itu mencoba meyakinkan sulung Hyuuga, namun gadis itu tetap pada pendiriannya.
Jika memang itu yang terbaik, yang bakal membuat tidak ada seorang pun terluka, ia akan melakukannya.
Hinata tersenyum. Yami menurunkan tangannya, melihat Hinata dengan wajah penuh tanda tanya.
.
.
.
Pagi-pagi sekali, akhirnya Hinata bisa menyelinap keluar kamar. Ia benar-benar sudah bosan dengan bau antiseptic dan makanan yang serba hambar. Hinata tidak berniat pergi jauh. Bisa jadi masalah jika orang-orang berpikiran ia hilang dan diculik akatsuki. Gadis itu hanya ingin pergi ke taman. Bahkan untuk menghindari kesalahpahaman macam itu, Hinata sengaja meninggalkan catatan kecil di atas Kasur.
Ia tak akan lama. Ia hanya ingin membeli beberapa tusuk dango hangat, benang wol, dan rajutan. Sebentar lagi akan masuk musim dingin. Lagipula ia benar-benar tidak mengerjakan apa pun di rumah sakit.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Yami terlihat sangat bersemangat.
Hinata tertawa geli. Ia teringat akan Hanabi yang dulu juga terlihat sama lucunya saat diajak melihat kembang api untuk pertama kalinya. Bedanya, Hinata bisa ikut membantu Hanabi memilih kimono dan memasangkan hiasan rambut. Yami, sejak pertama kali Hinata melihatnya, selalu mengenakan pakaian serba hitam. Celananya dari bahan kulit dan mengecil di bagian bawah kaki. Kaus hitamnya tak kuasa menyembunyikan lekuk tubuh dari seorang pria yang terbentuk akibat rajin berolahraga. Hinata pikir, syal merah akan sangat cocok untuk Yami yang berpakaian serba hitam. Ah benar! Dia akan membeli benang wol merah saja.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Yami sekali lagi.
Hinata tersentak. Ia terlalu larut dalam pikirannya sehingga lupa menjawab pertanyaan itu.
"Kita akan ke taman, lalu dalam perjalanan pulang kita akan singgah ke toko benang" jawab Hinata.
Jalanan masih lengang. Hanya satu atau dua shinobi yang pulang atau akan berangkat misi yang Hinata temui. Beberapa dari mereka yang mengenal Hinata menyapa sekilas.
"Kau tampak senang" ujar Yami.
Mereka kini duduk di kursi taman yang agak basah terkena embun. Udara pagi yang menyegarkan jauh lebih menyenangkan daripada kamar rumah sakit. Hinata menebar remah kue yang sengaja dibawanya. Burung-burung merpati berdatangan menyerbu.
"Adik-adikku selalu senang memberi makan burung. Dulu, adikku bahkan diam-diam mengambil sedikit dari persediaan beras kami untuk memberi makan burung. Padahal beras untuk makan sehari-hari saja tidak pernah cukup. Kalian memang terlalu baik"
"Aku bukan adikmu, Yami. Tapi kuakui, dia pemuda yang baik."
Yami tersenyum. Ini senyuman pertamanya yang Hinata lihat.
Hinata mulai bertanya dalam hati. Apa benar dua bersaudara itu saling membenci? Apa pertarungan antara kekuatan pencipta dan pemusnah bersaudara itu benar melahirkan peperangan? Senyuman Yami tidak dusta, Hinata tahu itu. Tidak akan pernah ada seorang yang membenci bakal tersenyum setulus itu.
"Dengan siapa kau bicara? Dan sejak kapan kau sudah boleh keluar rumah sakit?"
Hinata menoleh. Agak jauh darinya, Uchiha Sasuke berdiri dengan kantong belanjaan dan kerut di dahinya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Hinata.
Dahi Sasuke tambah berkerut.
.
.
.
Hinata belum pernah berkunjung ke kompleks Uchiha, apalagi memasuki kediaman milik Uchiha terakhir. Semenjak tragedi yang menewaskan hampir seluruh anggota klan Uchiha, kompleks itu resmi ditutup. Seingat Hinata, Sasuke tinggal di sebuah apartemen yang disewakan Sandaime. Kompleks Uchiha itu dibiarkan kosong hingga perang terakhir.
"Aku tak tahu kau begitu keras kepala!" komentar Sasuke.
Sejak tadi ia panik melihat Hinata bergerak lincah ketiap sudut dapurnya. Memotong wortel, merebus air, mengambil dan mencuci piring, meracik bumbu, dan merapikan meja makan. Ini mungkin terdengar paranoid. Tapi Hyuuga sulung itu bahkan belum mendapat izin resmi keluar dari rumah sakit! Tidak lucu jika saat gadis itu tumbang, dan Tsunade bertanya kenapa, maka Sasuke harus menjawab karena gadis itu memasak di dapurnya dengan apron ungu muda.
Ah, sial! Siapa yang mengajarinya terdengar mesum seperti itu. Berteman dengan Naruto mungkin? Atau memang seluruh lelaki dewasa punya semacam fetish akan gadis berapron yang memasak di dapurnya.
"Kau harus tahu bahwa setiap wanita memang keras kepala" balas Hinata tertawa kecil.
"Duduklah! Biar aku yang memasak!" pinta Sasuke.
Hinata menggembungkan pipinya. Usahanya memelas terlihat membuahkan hasil. Sasuke tampak canggung dan sesekali menggaruk belakang lehernya. Gadis itu tertawa dalam hati. Tidak sesusah itu untuk membuat Sasuke mengabulkan keinginannya.
"Kau suka kare yang pedas atau asin?" tanya Hinata sambil mengaduk kare yang baru setengah masak.
"Aku suka kare dengan banyak tomat" jawab Sasuke.
Pemuda itu telah menyerah untuk meminta Hinata berhenti memasak. Gadis itu keras kepala di hal-hal yang aneh. Andai saja ia cukup keras kepala untuk melindungi dirinya sendiri, Sasuke pasti tak akan serepot ini mengkhawatirkan hal-hal kecil.
Tunggu? Khawatir? Sasuke ingin menertawakan dirinya sendiri. Dia tidak pernah khawatir pada apa pun, bahkan nyawanya sendiri. Mengapa kini ia bahkan meributkan hal-hal kecil yang sama sekali tak mengancam nyawa. Tak ada gadis yang mati karena memasak kan? Kecuali karena teriris pisau dan infeksi, kompor meledak, keracunan bumbu, atau hal-hal lain yang Sasuke tidak tahu.
"Hinata, kau tidak mengiris jarimu kan?"
"Kau pikir sejak kapan aku mulai memegang pisau Sasuke-kun? Aku bahkan bisa menggunakan pedang kalau kau ingin tahu"
Hening sebentar.
"Hinata, kau tidak lupa mematikan kompornya kan?"
"Sudah, Sasuke-kun"
Hening sebentar.
"Hinata, kau tidak mual kan?"
"Kenapa aku harus mual? Apa kare buatanku tidak enak di lidahmu?"
Sasuke menggeleng. Mereka melanjutkan makan.
"Hinata kau tidak…?"
"Aku tidak apa-apa Sasuke-kun!" potong Hinata.
Raut kesal jelas terlihat di wajahnya. Gadis itu tidak tahu apa yang dirisaukan Uchiha terakhir itu sejak tadi. Pertanyaannya benar-benar membuat Hinata merasa seperti anak kecil yang belum bisa melakukan apa pun tanpa pengawasan.
"Aku hanya bertanya. Kenapa kau jadi kesal begitu?"
"Aku tidak kesal!"
"Kau jelas-jelas terlihat kesal!"
"Tidak!"
"Jangan berteriak, Hinata!"
BRUAK!
"Ah, maaf! Apa aku mengganggu kalian? Aku akan segera pergi. Hehehe!"
Sasuke dan Hinata menoleh. Di sana berdiri Konohamaru dengan tawa yang canggung.
Tch! Biang gosip satu itu tak boleh lepas atau Sasuke akan kehilangan kepalanya di tiang gantung milik Hyuuga. Hiashi adalah orang yang terlalu kolot untuk tidak berfikiran macam-macam saat melihat anak gadisnya memakai apron –maksudku memasak di dapur Uchiha berdua.
"Jangan berani melangkah atau kakimu patah, Bocah!" ancam Sasuke.
Konohamaru menelan ludah. Ia bertekad harus selamat dan menceritakan semua yang ia lihat pada Naruto no niichan. Tentang mual, berteriak, atau semacamnya. Dengan versinya sendiri, tentu saja.
.
.
.
TBC
Tunggu dulu! Masih ada OMAKE SasuHina di bawah
NB. Omake tidak ada hubungannya dengan alur dan jalan cerita fic Sekai no Fuin. Setting di berbagai tempat dan kondisi.
WHEN HE TEACHES YOU HIS WAY
Hukum Newton. Hinata tak ingat bunyi persisnya, tapi dia ingat bahwa aksi sama dengan reaksi, hanya saja dengan arah gerak yang berlawanan. Hinata memang tidak begitu pintar tentang hal-hal berbau fisika dan perhitungan. Apalagi jika dia dihadapkan pada situasi dimana dia sama sekali tidak bisa berfikir.
Wajah Sasuke tepat berada di depan wajahnya. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Hinata khawatir degub jantungnya yang menggila itu terdengar oleh Sasuke.
"Aksi = -Reaksi. Kau paham maksudnya?" tanya Sasuke sama sekali tidak berniat melepas kontak mata Antara mereka.
Kalau saja Kakashi-sensei tidak meminta Sasuke mengajari Hinata karena hasil ujiannya yang selalu di bawah rata-rata. Hinata pasti tak akan terjebak dalam kondisi seperti ini.
Hinata mencoba mundur satu langkah, namun jarak mereka tereliminasi oleh Sasuke yang ikut melangkah maju. Selalu begitu. Mundur, maju, mundur, maju. Hingga akhirnya punggung Hinata menabrak dinding.
"Apa kau sudah paham, HInata?" tanya Sasuke lagi.
Hinata sama sekali tidak mengerti. Baik tentang pelajaran menyebalkan itu, atau pun tentang Sasuke yang tiba-tiba saja terlihat seperti ingin menggodanya.
Sasuke tertawa saat Hinata memejamkan mata, entah karena ketakutan atau apa. Baginya melihat gadis imut itu kebingungan adalah hiburan tersendiri.
"Bodoh! Aksi = -Reaksi. Saat aku maju (melakukan aksi), kau sontak mundur (melakukan reaksi). Meski jika dilihat dari sudut mata angin, kita bergerak pada arah yang sama, sejatinya kita bergerak berbeda, saling bertolak belakang. Aku maju, dan kau mundur. Karena itu selalu ada tanda negatif di salah satunya."
Hinata merutuki tawa Sasuke yang terlihat menawan. Sasuke menertawakannya, dan ia justu merasa tak keberatan. Sasuke menerangkan pelajaran jauh lebih mudah dipahami dibanding Kakashi-sensei.
"Kau ingin kuajari satu pengecualian?" tanya Sasuke. Hinata mengangguk polos. Dia penasaran.
Tangan pemuda itu merayap menuju tengkuk belakang sang gadis. Satu kecupan mendapat di bibir sang gadis. Aksi yang begitu cepat.
"Lihat! Kau bahkan tidak bereaksi"
Hinata mematung. Suara tawa Sasuke terdengar seperti gumaman.
Ah! Hinata pasti tak akan pernah lupa pelajaran tentang Hukum Newton ini.
.
.
.
Terimakasih yang udah mau baca, yang udah mau nungguin meskipun fic ini updatenya mengalahkan kelemotan kartu internet paling lemot di tempat dengan jeringan terlemot. (tolong abaikan perumpamaan gaje tadi).
Ricchan seneng banget ada yang baca, yang review, yang fav, follow fic ini dan Ricchan. Ricchan emang author yang dikit-dikit perlu disemangatin. Maklum. Wanita kurang perhatian dan cinta. Ceileh~
Sebenarnya Ricchan udah nulis dari kemaren-kemaren, tapi karena keteledoran Ricchan, Ricchan sampe lupa password akun Ricchan sendiri. Maafkeun! Ini syukur udah ketemu catatan rahasia Ricchan yang berhasil mengingatkan Ricchan akan password akun Ricchan sendiri. Hehehe.
Fic ini juga di upload di wattpad, meskipun baru di publish sebagian. Ricchan ga tau apa mau ngelanjutin publish di dua-duanya atau nanti bakal nge hapus salah satu. Oh iy,, cek juga tulisan RIcchan di wattpad ya, akunnya "chochohug". Disana Ricchan manggil diri Ricchan "Chocho". Wkwkwk. Labil emang.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya!
