NOIR (Daejae ver.)

.

Chapter 9


Note : ff ini aku remake dari mv B.A.P Skydive sesuai alur yang aku buat.


Burung burung kecil yang hinggap di tiang listrik berkicau menyanyikan lagu pagi, menemani matahari yang mulai menyinari bumi.

Youngjae mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Dia meregangkan badannya, hampir saja dia terjatuh ke lantai. Lupa jika dia tidur di sofa ruang tamu nya.

Setelah matanya sudah benar benar terbuka lebar dan semua kesadarannya telah berkumpul, dia beranjak dari sana menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya.

Dengan mengenakan bathrob dia masuk ke dalam kamarnya bermaksud untuk mengambil ganti.

Youngjae tanpa sadar tersenyum saat mendapati Daehyun yang sudah membuka matanya.

"sejak kapan kau bangun ?." tanya Youngjae.

"baru saja." Jawab Daehyun pelan khas orang baru bangun tidur.

"apa kepalamu pusing ?."

"sedikit."

Youngjae segera memeriksa keadaan Daehyun. Detak jantung dan tekananan darahnya normal, dia juga tidak demam.

"kau pusing karena efek dari obat bius. Tapi semua baik baik saja. aku akan menggantinya dengan infus."

Youngjae mengganti kantung darahnya dengan infus. Setelah itu mengambil baju dari dalam lemari, sesuai niat awalnya kemudian keluar meninggalkan Daehyun.

Tak lama dia kembali masuk, sudah menggunakan pakaian yang dia ambil tadi dengan satu baskom air hangat juga handuk.

Youngjae duduk pada pinggiran tempat tidur dan menaruh baskomnya di nakas.

"kau tidak boleh mandi sampai lukanya sembuh."

Youngjae memasukan handuknya ke dalam air hangat kemudian memerasnya dan mengusapnya pelan pada tubuh Daehyun.

"Daehyun."

Daehyun diam saat Youngjae memanggilnya, sedari tadi dia hanya memperhatikan Youngjae.

"aku minta maaf karena sudah berkata kasar tentang kekasihmu."

Youngjae berbicara tanpa menatap Daehyun.

"tidak apa apa."

"apa kau sudah menemukannya ?."

"sudah."

"sukurlah. Kau ingin aku menelponnya dan mengakatakan jika kau baik baik saja ?."

"tidak perlu."

"kenapa ?."

"dia mati."

Youngjae berhenti dari kegiatannya dan menatap Daehyun.

"ye ?."

"pelakunya membunuhnya karena aku gagal melakukan apa yang dia suruh."

"lalu, bagaimana dengan pelakunya ?."

Youngjae kembali memasukan handuknya ke dalam baskom kemudian memerasnya.

"jika tebakanku benar, dia juga mati. Orang yang kau bunuh."

DEG

Youngjae menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang mengusap lengan Daehyun. Kemudian tanpa menatap Daehyun dia kembali pada kegiatannya.

.

Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar saat Youngjae memotong wortel menjadi bagian yang kecil. Dia sedang menyiapkan bubur untuk Daehyun juga untuk sarapan paginya.

Youngjae berhenti saat bel rumahnya berbunyi, dia bergegas keluar untuk membuka gerbang.

Jaebum berada di depan rumahnya dengan beberapa paper bag di tangannya.

"bagaimana keadaannya ?." tanya Jaebum saat Youngjae sudah membukakan gerbangnya.

"dia sudah sadar."

Youngjae menengok mobil yang di bawa Jaebum. Itu bukan mobilnya. Semalam kan Jaebum membawa mobilnya.

Dia menyusul Jaebum yang sudah masuk ke dalam rumahnya duluan.

"dimana mobilku ?."

"aku membawanya ke car wash. Mobilmu bau darah."

Youngjae mengangguk.

"ini pesananmu." Jaebum memberikan beberapa paper bag yang dia bawa.

"aku ingin pinjam bajumu. Kenapa kau malah membawa baju baru ?."

Youngjae melihat salah satu paper bag yang berisi baju berlabel.

"aku tidak sudi bajuku di pakai kriminal."

"haish." Youngjae memukul lengan Jaebum pelan sebelum dia kembali ke dapur. Jaebum ikut menyusul Youngjae dan duduk di meja makan.

"apa kau sudah sarapan ? aku sengaja membuat untuk tiga orang. Jika kau ingin sarapan disini."

"boleh. Aku memang belum sarapan karena menggedor departemen store pagi pagi tadi."

"itu salahmu." Youngjae mencibir.

"Ah, boleh aku melihat Daehyun ?." tanya Jaebum.

Sambil memotong daun bawang lelaki manis itu mengangguk dan Jaebum segera masuk ke dalam kamar Youngjae.

Ini adalah kali pertama Daehyun dan Jaebum bertemu pandang. Tapi, tatapan ketidak sukaan mendominasi mereka. Membuat kamar Youngjae yang terasa nyaman terselimuti atmosfer panas.

"aku kira kau tidak akan bisa bertahan." Ujar Jaebum.

Daehyun tak menanggapinya, dia menatap arah lain. Menganggap seakan Jaebum tak ada.

Tiba-tiba Jaebum memegang kening Daehyun. Membuatnya tersentak dan segera menyentak tangan Jaebum.

"apa yang kau lakukan !." sinis Daehyun.

"aku ingin memeriksa keadaanmu." Jawab Jaebum santai.

"Youngjae sudah melakukannya !."

"aku juga orang yang ikut berperan dalam menyelamatkan hidupmu, jadi aku harus tahu sendiri." Jaebum mengeluarkan sebuah termometer dari sakunya. "kalau begitu gigit ini."

Daehyun hanya meliriknya. "kau saja yang menggigitnya."

CKLEK

Pintu kamar yang terbuka mengintrupsi mereka. Youngjae masuk dengan membawa satu mangkuk bubur dan satu gelas air putih di atas nampan.

"aku sudah menyiapkan sarapanmu di meja makan." Kata Youngjae pada Jaebum sambil meletakan nampannya ke atas nakas.

"ya ! kenapa dia sangat sensitif, seperti gadis remaja. Apa efek dari lukanya ?." ujar Jaebum sambil menunjuk Daehyun.

Youngjae mengerutkan kening, tak mengerti apa yang di bicarakan Jaebum. Sementara Daehyun, jika ini adalah komik pasti sudah muncul garis empat siku di dahinya.

"kau ingin mati !." desis Daehyun.

"ada apa dengan kalian berdua ?." heran Youngjae. Dia menatap Jaebum dan Daehyun bergantian.

"bangun saja tidak bisa. Bagaimana bisa kau mengatakan itu." Jaebum kembali berucap.

Daehyun memaksa hendak bangun tapi Youngjae segera menahan tubuhnya. Daehyun benar-benar ingin menghajar laki-laki ini sekarang.

"kau jangan banyak bergerak." Ucap Youngjae kemudian menoleh pada Jaebum. "kau harus segera memakan sarapanmu sebelum dingin."

Dia memaksa Jaebum keluar dari kamarnya. Merasa situasinya memanas meski dia tak mengerti apa yang sudah terjadi di antara mereka.

"sebenarnya kenapa kalian berdua." Gumamnya sendiri setelah Jaebum keluar.

Dia membantu Daehyun duduk dan bersandar pada tempat tidur, kemudian mulai menyuapinya.

"bagaimana bisa kau berkencan dengan laki-laki sepertinya." Ujar Daehyun tak suka.

"aku ? berkencan dengan siapa ?."

"laki-laki tadi."

"Jaebum. Dia sahabatku kita sudah berteman lama."

"aku mendengarnya di rumah sakit jika kalian akan menikah."

Youngjae meletakan kembali sendok yang di pegangnya ke dalam mangkuk.

"aku tidak tahu gosipnya sudah sejauh itu."

"jadi kau benar, tidak berkencan dengannya." Daehyun memastikan sekali lagi.

"tidak." Youngjae kembali menyuapkan buburnya. Laki-laki tampan itu tersenyum samar.

Hingga kini buburnya telah tersisa setengah. Daehyun sudah tak mau memakannya lagi.

"aku akan mengambil obatmu dulu." Ucap Youngjae. Dia keluar membawa mangkuknya.

Di lihatnya Jaebum berada di depan wastafel sedang mencuci piring bekas sarapannya.

"taruh saja disitu. Aku akan mencucinya." Intrupsi Youngjae.

"tidak apa. Sebentar lagi selesai." jawab Jaebum.

"kau membawa obatnya kan ?."

Jaebum mematikan kran airnya kemudian mengambil kantung pastik putih dari dalam tas ranselnya yang dia letakan di atas meja makan. Dia memberikannya pada Youngjae.

"terima kasih." Ucap Youngjae.

"harusnya aku membiarkannya mati. kenapa hari ini aku harus repot bangun pagi. Membeli baju untuknya kemudian ke rumah sakit untuk mengambil obatnya." Jaebum bergumam.

Youngjae memandang laki-laki di depannya itu. "sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kau dan Daehyun ?."

"tidak ada. Hanya merasa aku tidak menyukainya. Dia benar-benar tak bisa berterima kasih. Harusnya semalam aku membiarkannya."

Youngjae tertawa mendengar unek-unek Jaebum.

"di awal, Daehyun memang menyebalkan. Tapi, sebenarnya dia tidak seperti itu." Kata Youngjae. Dia membuka semua obatnya dan mengambil satu butir masing masing. Kemudian ia letakan pada piring kecil.

"kenapa kau jadi membelanya ?."

"tidak Jaebum. Tapi memang seperti itu."

"terserahmu saja. aku akan berangkat ke rumah sakit. Terima kasih untuk sarapannya." Jaebum berpamitan.

Youngjae tersenyum samar, mengingat bagaimana saat dia pertama kali bertemu dengan Daehyun. Laki-laki itu memang menyebalkan.

.

.

Langit yang begitu terang telah berganti menjadi malam. Matahari telah di gantikan dengan bulan. Hawa dingin malam hari mulai menusuk.

Youngjae menutup jendela kamarnya setelah dia membantu Daehyun membetulkan posisi tidurnya.

"Youngjae." Daehyun memanggil. Laki-laki manis itu menoleh.

"boleh aku meminjam ponselmu."

Youngjae kembali menghampiri Daehyun sambil merogoh saku celananya kemudian memberikan ponselnya pada Daehyun.

"Ah, iya." Youngjae teringat sesuatu. Dia membuka laci nakas di sampingnya mengambil sebuah ponsel bewarna hitam. "ini ponselmu. tapi sepertinya batrenya habis. Aku akan mengisinya."

"tidak usah." Daehyun mencegah.

"kenapa ?."

"aku tidak mau orang yang tidak aku inginkan mengetahui jika aku disini."

"begitukah ? OK." Youngjae menyimpan kembali ponsel Daehyun ke dalam laci.

"Youngjae-ah." Daehyun memanggilnya lagi, kali ini dengan nada yang begitu lembut. Dia juga menatap Youngjae tak kalah lembut.

"kenapa lagi ?."

"apa kau sebenarnya malaikat yang di kirim untuk ku ?."

Youngjae tersenyum, dia duduk di pinggiran tempat tidur. Mencoba lebih dekat dengan Daehyun.

"apa setelah sekarat membuatmu menjadi cheesy ?."

"tidak. Aku bersungguh-sungguh. Di saat seperti aku akan mati kau selalu ada untuk menolongku."

Youngjae terdiam, mereka saling bertatapan.

"lebih baik tutup mulutmu. Kata-kata seperti itu tidak cocok untukmu." Youngjae tersenyum. "selamat malam."

.

.

Daejae

.

.

Youngjae mengerjapkan matanya, suara bel rumahnya membuat dia terbangun. Laki-laki manis itu menengok jam dinding kemudian menggerutu sebal. siapa yang bertamu sepagi ini.

Dengan berat hati dia beranjak dari sofa nyamannya. Si manis menyipitkan mata begitu medapati seorang laki-laki dengan pakaian rapi berdiri di depan gerbang rumahnya. Dia memperhatikannya dari atas sampai bawah.

"siapa ?." tanya Youngjae. Dia merasa tak mengenal laki-laki berambut pirang ini.

Laki-laki itu membungkuk padanya. "aku Johnny. Daehyun hyung, berada disini ?."

"Daehyun ? oh-" Youngjae tampak bingung. Kenapa tiba-tiba ada yang mencarinya ?. bagaimana jika orang ini membahayakan Daehyun.

"aku harus segera bertemu dengan Daehyun hyung." Johnny memaksa hendak masuk ke dalam rumah Youngjae.

"ya ! apa yang kau lakukan." Youngjae merentangkan kedua tangannya menghalangi agar dia tak masuk.

"tunggu disini." Youngjae kembali menutup dan mengunci gerbangnya kemudian berlari masuk.

Daehyun sudah bangun begitu dia membuka pintu kamar dan menghampirinya.

"seseorang mencarimu." Kata Youngjae.

"Johnny ?."

"kalian seperti sudah membuat janji."

"boleh aku bertemu dengannya ?." Daehyun meminta ijin.

"siapa dia ?."

Daehyun berpikir sejenak. Bagaimana mengatakannya pada Youngjae.

"orang kepercayaanku ?. Atau semacam itu. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri."

"Begitukah." Youngjae terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan Daehyun, sebelum keluar.

Tak lama dia kembali masuk dengan Johnny.

"hyung, kau baik-baik saja." Kata Johnny. Daehyun mengangguk.

"saat aku datang kesana-" Johnny tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Dia menoleh canggung pada Youngjae.

Youngjae mengerti itu, mereka membutuhkan privasi. Dengan alasan harus segera membuat sarapan dia keluar, menutup pintunya. Meninggalkan mereka berdua.

"kenapa ?." tanya Daehyun pelan.

"saat aku datang kesana semua sudah mati dan aku tidak menemukan hyung. Jadi aku segera membersihkan tempat itu."

Daehyun mengangkat sebelah alisnya. Membersihkan ?.

"aku meledakannya untuk menghapus jejak. Apa hyung tidak melihat berita. Itu menjadi trending topik dimana-mana." Johnny memperjelas kalimatnya dengan nada sebal. Kenapa Daehyun tak mengerti, sudah berapa lama dia berada di dunia gelap ini.

"aku ingin kau mencari sesuatu untukku." Kata Daehyun.

"apa ?."

"cari tahu tentang Jongup. Kenapa dia menculik dan membunuhnya dan kenapa saat itu dia juga ingin membunuhku."

"Jongup ? jadi dia pelakunya."

"itu adalah dugaanku. Memastikannya adalah tugasmu."

.

.

Youngjae mematikan kompornya setelah bubur yang dia buat matang. Sedari tadi dia terus mencuri pandang pada pintu kamarnya. Kenapa lama sekali, apa yang mereka bicarakan.

Dia menjadi cemas, membuat lelaki manis itu mondar mandir di depan kamarnya.

Dia tersentak saat pintu di depannya terbuka. Johnny tersenyum lalu berpamitan padanya.

"hyung, terima kasih." Kata Johnny. Youngjae mengantarnya sampai depan pintu.

Saat sampai di halaman rumahnya, laki-laki berambut merah marun itu berpapasan dengan Jaebum.

Jaebum memperhatikannya, sampai Johnny hilang dari pandangannya.

"siapa dia ?." tanyanya pada Youngjae yang masih berdiri di depan pintu.

"adiknya Daehyun." Youngjae menjawabnya tak yakin.

"aku datang untuk sarapan."

"aku belum membuat sarapan."

Jaebum tersenyum sumringah sambil menunjukan sebuah bungkusan kain yang di bawanya.

"ibuku membuatkan sarapan."

Youngjae ikut tersenyum sumringah sebelum mereka masuk ke dalam rumah.

.

.

Daejae

.

.

Hari sudah berjalan beberapa minggu. Keadaan Daehyun semakin hari semakin membaik. Sore hari di akhir musim panas terasa begitu hangat, membuat laki-laki tampan itu betah duduk di halaman belakang rumah Youngjae.

Dia terdiam, matanya menatap lurus ke depan mengabaikan ponsel Youngjae yang berada di genggamannya sedari tadi berdering menandakan jika ada telpon masuk.

Daehyun hanya tak habis pikir dengan temannya. Dia tega melakukan ini semua hanya karena ingin menguasai segalanya. melalui dirinya, dia ingin menghancurkan timnya sendiri. Bahkan, seseorang yang tak mengetahui apapun harus meregang nyawanya. Misi terakhir timnya waktu itu juga hasil konspirasi temannya untuk membunuh mereka semua.

Dalam lingkaran dunia gelapnya memang tak seharusnya dia menaruh kepercayaan pada seseorang. Tapi, dengan begitu bodoh dia melakukan itu.

"Youngjae-ah."

Suara Jaebum mengintrupsi lamunannya, seketika dia memutar bola matanya malas. Sahabat Youngjae itu segera menghampirinya.

"pantas saja. Itu ponsel Youngjae kenapa ada padamu." Ujar Jaebum sambil menunjuk ponsel Youngjae yang berada di genggaman Daehyun.

"dimana Youngjae ?." tanya Jaebum.

"minimarket." Jawab Daehyun singkat.

Sesaat mereka saling diam, sebelum Jaebum duduk di sebelah Daehyun dan membuka sauaranya.

"apa kau menyukai Youngjae ?."

Daehyun menoleh. "kenapa ?."

"jawab saja iya tau tidak."

"kau cemburu ?." Daehyun meledek.

"sebagai sahabatnya aku hanya peduli. Jangan mempermainkannya. Kau tahu dia mencintaimu."

Daehyun tahu itu. Dia juga memiliki perasaan yang sama walau dia belum mengungkapkannya pada lelaki manis itu.

"memangnya selama kau mengenal Youngjae. Tak sekalipun kau menyukainya ?." tanya Daehyun.

Jaebum terlihat berpikir. "aku belum pernah menyukainya lebih dari seorang sahabat."

Daehyun tertawa. "kau bodoh. Menyia-nyiakan orang semanis Youngjae."

"apa maksudmu ?."

"kalian disini ternyata."

Youngjae tiba-tiba datang mengintrupsi mereka. Laki-laki manis itu tersenyum.

"kalian tidak bertengkar ?."

Dua laki-laki di depannya saling berpandangan kemudian menggeser duduk mereka.

Youngjae kembali tersenyum. "ingin minum teh ?."

.

"Jaebum, bagaimana kasus pembunuhan di basement." Tanya Youngjae sambil meletakan secangkir teh di hadapan Jaebum dan Daehyun. Kemudian duduk di depan mereka berdua.

"aku meminta polisi menutup kasusnya. Lagi pula mereka tidak mendapat apapun. Pelakunya benar-benar profesional." Jaebum melirik Daehyun yang tengah meminum tehnya.

Youngjae hanya mengangguk. Mereka saling diam, menikmati tehnya. Jaebum menatap Youngjae dan Daehyun bergantian.

"selama kalian tinggal berdua. Dia tidak berbuat macam-macam padamu kan ?."

Youngjae sudah membuka mulutnya hendak menjawab tapi Daehyun menyelanya cepat.

"berbuat macam-macam apa maksudmu ?"

Jaebum tak menjawab karena dia tengah meminum tehnya.

"memperkosanya ?." tebak Daehyun asal.

Jaebum dan Youngjae kompak tersedak teh mereka. Daehyun menoleh pada Youngjae.

"kenapa kau terkejut ?. Apa selama ini kau berpikiran seperti itu ?." Kata Daehyun.

Youngjae yang tengah terbatuk mengibas-ngibaskan tangannya sebagai jawaban 'tidak'.

"wah, tunggu saja setelah ini. Mungkin sebentar lagi akan menjadi kenyataan." Sambung Daehyun.

"jika kau berani melakukan itu akan ku pastikan kau membusuk di penjara." Sahut Jaebum.

"kau hanya bisa berkata." Daehyun mencibir.

Jaebum yang tersulut emosi, bangun dari tempat duduknya dan mencengkeram kerah kaos Daehyun.

Youngjae ikut berdiri untuk memisahkan mereka.

"aku baru saja senang kalian tidak bertengkar. Kenapa kalian malah bertengkar lagi."

"Youngjae-ah sakit." Daehyun meringis. Dia memegangi perutnya yang sebenarnya baik-baik saja.

"kau tidak apa." Youngjae mulai panik dan mendekat pada Daehyun.

"sepertinya lukanya terbuka lagi." Kata Daehyun.

Jaebum memandangnya tak percaya.

"ya ! aku tidak memegang bagian itu kenapa- wah." dia benar-benar tak bisa percaya ini. Laki-laki ini juga pandai beracting ternyata.

Dengan raut kesakitan Daehyun setengah melirik Jaebum. Mengejeknya.

.

.

Daejae

.

.

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Youngjae masuk ke dalam kamarnya dengan membawa keranjang baju yang baru saja di lipatnya.

Daehyun duduk di pinggiran tempat tidur hanya memperhatikan Youngjae yang memasukan baju-bajunya ke dalam lemari.

"Youngjae-ah." Panggilnya kemudian. Youngjae yang sudah selesai menghampiri Daehyun dan duduk di sebelahnya.

Daehyun menunjukan sebuah amplop hitam. Youngjae masih mengingat amplop yang ia simpan di lemari bajunya itu.

"aku menemukannya saat mengambil baju ganti tadi." Kata Daehyun. "maaf sudah membuatmu dalam bahaya." Lanjutnya.

"tapi, kau sudah menyelematkanku waktu itu." Ucap Youngjae. Daehyun tersenyum.

"kau selalu datang saat aku membutuhkanmu. Dan aku datang saat kau membutuhkanku. Bukankah kita saling membutuhkan" Dia menatap Youngjae lekat. "jangan tinggalkan aku Youngjae-ah."

Youngjae diam membalas tatapan Daehyun kemudian menunduk. Dia tidak tahu, haruskah dia tetap bersama Daehyun. Ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya.

"ngomong-ngomong Jaebum tidak datang hari ini." Daehyun tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

"apa kau mulai merindukannya ?."

"tidak." Daehyun menggeleng. "apa kau pernah menyukai Jaebum ?."

"aku menyukainya karena dia adalah sahabat terdekatku."

"maksudku, menyukai lebih dari seorang sahabat."

Youngjae menggeleng. "kenapa kau menanyakan itu. Kau cemburu ?."

"iya aku cemburu. Saat melihatmu dekat dengannya aku cemburu."

Jawaban Daehyun sukses membuat Youngjae bersemu merah dan tersenyum.

"kenapa kau tersenyum ?. Kau senang aku cemburu."

Youngjae berdecih. "tidur sana. Ini sudah malam." Dia beranjak dari tempatnya.

"mulai malam ini tidur saja disini." Kata Daehyun. Dia mencegah agar Youngjae tak keluar.

"lalu kau ?."

"aku juga tidur disini. Tempat tidurmu cukup untuk dua orang."

"ah, tidak usah. Aku akan tidur di luar." Tolak Youngjae.

"kenapa ? kau takut ? aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin ditemanimu." Daehyun memohon.

"kau janji tidak akan berbuat macam-macam. Aku jadi terpikir perkataanmu beberapa hari lalu."

"itu hanya bercanda. Mana mungkin aku melakukan itu. Tapi, jika kau mau tidak apa."

Youngjae memukul keras lengan Daehyun.

"dalam mimpimu."

.

.

Youngjae bergerak gelisah dalam tidurnya, keringat mulai membasahai tubuhnya. Dia membuka matanya tiba-tiba menatap nyalang langit-langit kamarnya. Mimpi itu lagi.

Dia bangun, menoleh pada Daehyun yang sedang tertidur pulas. Dengan pelan dia beranjak dari tempatnya menuju dapur untuk mengambil minum. Kemudian, duduk di meja makan. menumpuh wajahnya dengan tangan dan mulai menangis.

Sejak hari itu, setiap malam dia akan tebangun. Perasaan bersalah karena membunuh seseorang terus menghantuinya hingga terbawa mimpi. Dia hanya memendamnya sendiri, tak pernah menceritakannya pada siapapun.

.

.

Daejae

.

.

TBC


sebenernya mau up chapter ini hari sabtu kemarin. tapi ffn error gak bisa submit story T.T baru bisa tadi sore #edisicurhat

terima kasih buat yang sudah RnR dan yang sudah sempetin baca. kemungkinan chapter depan udah end. udah selesai di ketik tinggal ngedit aja hehehe :)