Naruto belongs to Masahi Kishimoto
Warning : AU, highly OOC, typos, sho-ai detected, informal style
Pair : GaaHina, SasoSaku, SasuNaruSasu
Happy reading minna~~
.
.
.
Akasuna no Sasori memerhatikan tingkah polah putra semata wayangnya. Menebak-nebak sarapan makanan macam apa yang sudah ditelan Gaara. Tumben-tumbenan pemuda itu mau masuk gudang, mengambil sepeda tuanya yang sudah berkarat, lalu mengotak-atiknya dengan peralatan seadanya. Apa jangan-jangan Sakura iseng menambahkan hasil eksperimennya sebagai pengganti vetsin ke dalam mangkuk sup anaknya?
Hush, tidak mungkin.
Inner Sasori membantah kemungkinan paling absurd yang baru saja menghampiri. Gaara anak mereka satu-satunya, limited edition, tidak diproduksi lagi. Satu-satunya alasan paling masuk akal adalah Gaara ingin membuat sesuatu dari sepeda ini. Buktinya ada sekotak perkakas berisi mur, baut, dan kunci-kunci yang dibiarkan tergeletak di sisi kiri.
Tapi benda macam apa yang mau dibuat? Bioskop sepeda seperti yang ada di iklan Wis Kuwat?
"Ehm ... ehm...," Sasori berdeham, berusaha menampilkan citra bapak-bapak penuh wibawa, "sepedanya mau kamu apakan, sih?"
Detik itu pula Sasori mati-matian menahan tawa ketika Gaara menoleh sehingga ia melihat bagaimana rupa anaknya. Tentu saja ia tidak mau Gaara marah hanya karena ia tertawa melihat wajah mulus anaknya kini dinodai cairan oli bercampur debu-debu di gudang tua. Remaja tujuh belas tahun itu menggaruk pipinya sekilas sebelum menjawab pertanyaan papanya.
"Benerin sepeda, Pa. Masih bisa dipakai. Aku hanya ingin mengganti beberapa onderdil dan mengecat ulangnya saja," jawab Gaara.
Sasori bengong.
Anaknya kesambet jin mana sampai-sampai tertarik merekondisi sepeda begitu? Apa ada kegiatan festival sekolah yang mengadakan kompetisi recycle agar membuat barang-barang lama menjadi seperti baru. Kalaupun iya, biasanya Gaara takkan pernah tertarik untuk mengikuti kompetisi semacam itu.
"Naik sepeda berdua, membonceng gadis yang kausuka. Merasakan semilir angin yang mendukung suasana. Sesekali kalian bercanda tawa. Tangannya melingkari erat pinggangmu, antara takut terjatuh dan karena ingin berbagi hangatnya cinta."
Sakura berdiri di depan gerbang, masih dengan jas putihnya. Ibu-ibu berjiwa muda itu melipat tangan di depan dada, menanti reaksi anaknya setelah ia mendeklamasikan sajak yang—menurutnya—cetar membahana. Sakura bisa melihat ada jeda sejenak ketika Gaara mendengar sajaknya sebelum akhirnya berpura-pura meneruskan ucapannya.
"Maksudnya?" Sasori menaikkan alisnya.
"Sepeda itu mau dipakai Gaara untuk membonceng Hinata."
Terima kasih Sasori. Karena ketidakpekaanmu, Sakura memperjelas segala-galanya tentang hal yang ingin Gaara kunci rapat-rapat dalam hati. Lagi pula, kenapa mamanya tidak bisa diajak kompromi, sih?
Walaupun begitu, Gaara masih bisa berlega hati. Mamanya tidak bicara apa-apa pada Hinata tentang rekondisi sepeda ini. Terbukti dari reaksi Hinata keesokan paginya ketika Gaara menjemputnya dengan sepeda BMX yang telah dimodifikasi. Multifungsi, bisa untuk membonceng Hinata sekaligus bisa dipakai atraksi.
"Ayo, naik," tawar Gaara.
Sepeda Gaara memang tidak memiliki tempat duduk untuk pemboncengnya. Tapi ada dua potong besi kokoh yang bisa digunakan sebagai pijakan kaki Hinata. Memang tidak wow sih, tapi lumayan ketimbang harus berjalan kaki sampai SMA Konoha. Yang lebih penting lagi, Hinata bisa membonceng Gaara.
"Kemarin kamu bilang ingin naik sepeda. Biar tidak ketinggalan seperti saat aku memakai skateboard," ucap Gaara.
"Eh? Kamu dengar ucapanku?" Hinata terkejut, tidak menyangka gumaman tak jelasnya ternyata didengar Gaara.
"Ya dengarlah. Aku kan tidak tuli," jawab Gaara.
"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud menyuruhmu untuk...,"
"Sudah, naik saja. Kalau tidak mau, aku tinggal saja. Mungkin di depan sana ada gadis seseksi Lucy Heartfilia," potong Gaara setengah mengancam.
"Baik," Hinata buru-buru naik, menginjakkan kakinya pada pelat besi dan berpegangan pada pundak Gaara. Untung saja Gaara tidak melihat bagaimana ekspresinya. Kalau tidak, mungkin ia sudah menggodanya gara-gara wajahnya yang sekarang merona.
"Sepertinya kamu benar-benar tidak rela kalau aku membonceng gadis lain," Gaara mengayuh sepedanya.
"Ti-tidak juga. A-aku ... kan tidak seru kalau aku berangkat sendiri," kilah Hinata.
"Oh, jadi kamu kesepian kalau aku tidak ada," balas Gaara seenaknya.
Gaara bisa merasakan tangan gadis itu mencengkeram erat bahunya. Ia juga berani bertaruh, gadis itu pasti sedang merona. Ah, menyesal Gaara tidak memasang kaca spion di sepedanya. Kalau ada kan lumayan ia bisa mengintip dan memergoki ekspresi malu-malu si gadis Uchiha.
"Aku senang kamu bawa sepeda. Karena itu berarti, kamu tidak akan menyelinap keluar sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung," kata Hinata.
"Hn..."
"Gaara ... kamu benar-benar membeli sepeda ini karena mendengar ocehan tidak jelasku kemarin?" tanya Hinata ragu-ragu.
"Ini sepeda Papa," jawab Gaara.
"Oh," komentar Hinata, "tapi sampai kamu bela-belain begini."
Detik demi detik berlalu, Gaara tak kunjung bereaksi. Hinata menggigit bibirnya cemas, takut Gaara tersinggung dan merasa usahanya tak dihargai. Oh, sungguh Hinata ingin menarik kata-katanya kembali. Mestinya ia tak perlu lancang menanyakan alasan yang mungkin saja pribadi. 'Hinata bodoh. Hinata dan mulut besarnya yang bodoh' gadis itu memaki-maki dirinya dalam hati.
Di saat seperti ini, Hinata tak bisa melihat ekspresi Gaara. Gadis itu semakin canggung, takut membayangkan Gaara akan menurunkannya tiba-tiba. Masih mending kalau cuma begitu, bagaimana kalau sampai Gaara melihatnya sebagai gadis tak tahu diuntung yang hanya bisa membuatnya repot saja.
"Gaara...," bicaralah.
"Turun," pinta Gaara setelah menghentikan laju sepedanya.
Setengah takut-takut Hinata turun dari boncengannya. Ia mencoba menatap Gaara, mencari tahu emosi macam apa yang tergambar di sana. Tapi menebak isi hati Gaara memang sama sulitnya seperti menebak isi buah manggis yang bagian bawahnya sudah tiada.
"Ga-Gaara ... jangan marah ... padaku." Hinata menahan lengan kiri sahabatnya yang tengah menuntun sepeda.
"Marah kenapa? Masuk kelas dulu sana. Aku kan harus menyimpan sepeda dulu," ucap Gaara.
"Eh?"
Bola mata Hinata menyapu sekilas pemandangan yang ada di sekitar. Ini areal sekolah, pantas saja ia merasa familiar. Astaga ... dari tadi memikirkan Gaara yang mungkin saja marah padanya membuatnya tak sadar. Ngomong-ngomong, Gaara belum juga bereaksi atas ucapannya, apakah dia sengaja menghindar atau memang benar-benar tak mendengar?
Entahlah, mungkin lebih baik Hinata memang tak perlu mempertanyakan lagi masalah itu.
.
.
.
Hinata memeluk bento-nya, menimbang-nimbang apakah ia akan menyusul Gaara ke atap sekolah atau tidak. Begitu mendengar suara dering bel pertanda jam pelajaran berakhir, pemuda itu tak membuang waktu untuk bergerak. Atap sekolah adalah tujuan pastinya mengingat di tempat itulah Gaara bebas bermain game tanpa seorang pun yang membundak. Yah, paling-paling hanya Hinata yang sesekali datang menawari bekalnya dan jelas saja itu sulit ditolak.
Hanya saja kali ini Hinata ragu-ragu. Takut ia akan mengganggu. Toh, biasanya Gaara juga membawa beberapa permen loli di dalam saku. Kalaupun lapar, biasanya ia akan menelepon Hinata, minta dibawakan sesuatu.
"Sendirian?" sapa Neji.
"Ah, iya ... Senpai," Hinata terlihat kikuk, sedikit malu kepergok sedang melamun.
"Biasanya Gaara selalu menemanimu," komentar Neji sembari duduk di sisi Hinata, "bolos sekolah lagi?"
"Err ... kupikir dia sedang ada di suatu tempat. Berkencan dengan konsol game-nya dan tidak ingin diganggu," kata Hinata.
Neji tertawa kecil, "Owh ... jadi rumor itu benar. Akasuna no Gaara memang seorang otaku."
"Y-ya, kira-kira begitulah," jawab Hinata. Meremas tepian roknya. Sedikit grogi dengan keramahtamahan yang ditujukkan pemuda Hyuuga.
"Kamu takut padaku?" tebak Neji, "Maaf, sepertinya aku salah mengambil kesimpulan. Kamu terlihat akrab bahkan dengan anak seperti Gaara. Kupikir kamu juga mudah akrab dengan anak laki-laki."
"Bukan begitu. Aku ... aku ... a-ku selalu merasa gugup di dekat anak laki-laki. Gaara adalah pengecualian. Kami tumbuh bersama-sama. Mungkin karena itu aku tidak merasa takut padanya," jelas Hinata, "maafkan aku, Senpai."
"Aku jadi semakin iri padanya," gumam Neji.
Hinata semakin gugup, tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghapuskan situasi yang mendadak sunyi. Lagi pula kenapa Neji tidak mengajaknya bicara soal urusan Komite Kedisiplinan, sih? Gadis itu membuka bento-nya, menyodorkannya ke arah Neji.
"Ma-mau mencoba bekalku?"
Rona wajah Neji mendadak berseri-seri. Tanpa ragu, ia menganggukkan kepala sebelum mengambil sebuah onigiri. Ia menggigitnya, mengunyahnya, kemudian menelannya sampai tak tersisa lagi. Dan terakhir, pemuda itu menjilat bibirnya—seolah tak ingin ada rasa yang tersisa—membuatnya terlihat err ... seksi.
"Ada yang salah dengan cara makanku?" Neji mengerjapkan matanya, heran melihat reaksi Hinata.
"O-onigiri itu ... kelihatannya enak," jawab Hinata setengah panik.
Neji tersenyum, "Oh, ya. Aku lupa bilang. Onigiri-nya memang sangat enak. Aku jadi lupa mau bilang begitu. Boleh aku minta lagi?"
"Silakan," Hinata menyodorkan bekalnya untuk dinikmati Neji. Gadis itu menunduk, memandangi rerumputan yang tumbuh di bawah bangku yang mereka duduki. Ia tak mengerti, kenapa ada orang yang menikmati onigiri dengan cara yang sedemikian seksi. Berbeda dengan Gaara yang biasa cepat-cepat menghabiskan makanan karena ingin segera melanjutkan game-nya kembali.
Atau mungkin ... ini memang pertama kalinya ia memerhatikan cara makan seseorang?
Ponselnya bergetar, membuat Hinata refleks membukanya untuk mencari tahu siapa yang mengirim pesan. Pengirimnya Gaara, persis seperti dugaan. Mungkin ia merasa kelaparan dan meminta Hinata membawakan sesuatu yang bisa ia makan. Sejurus kemudian wajahnya merah padam, isi pesan Gaara terlalu jauh dari apa yang ia bayangkan.
Wow, pakaian dalam yang menarik
Membuatku ingin memakanmu saja
Refleks Hinata menggerakkan bola matanya untuk memeriksanya sendiri. Ia terkesiap, langsung teringat karena udaranya sedikit panas, ia melepaskan jas almamaternya semenjak jam kedua tadi. Normalnya pakaian dalamnya takkan terlihat bila ia tak berkeringat dan berada di bawah sinar matahari. Masalahnya sekarang...
Gaara mesum!
Pakaian dalamku tidak mungkin terlihat.
Gaara pasti sengaja mengamatinya dengan detail sampai bisa melihatnya.
Beberapa saat kemudian pemuda itu membalas pesannya.
Kalau begitu, kenapa Senpai di sebelahmu sampai blushing begitu?
Dia melihatnya sejak tadi.
Dia tak bilang padamu agar bisa melihatnya lebih lama lagi.
Debaran jantung Hinata semakin kencang. Ia memberanikan diri menoleh ke arah Neji-senpai, memastikan apa rona wajah pemuda itu sekarang. Raut wajah ganteng itu merona merah, dengan ekspresi yang sedikit tegang. Sepertinya Gaara memang tak berbohong soal bajunya yang bisa diterawang.
"Hinata, dapat e-mail dari siapa?" tanya Neji.
"Temanku," Hinata mencoba bersikap normal. Menimbang-nimbang untuk meminta tolong pada Gaara untuk mengambilkan jas almamaternya di kelas.
Ke koridor sebentar.
Kubawakan jas almamatermu.
Hinata menarik napas lega. Ia bersyukur Gaara memiliki inisiatif untuk menolongnya. Otaknya memutar cepat alasan macam apa yang akan dikatakannya pada pemuda Hyuuga. Apalagi, kelihatannya pemuda itu benar-benar sedang menikmati bekalnya.
"A-anou, Senpai. Temanku mencariku. Aku akan ke sana sebentar. Tapi aku akan segera kembali kok," kata Hinata buru-buru mempercepat langkah kaki sebelum Neji sempat bertanya.
Bola mata ungu lembutnya memindai areal sekitar koridor yang disebut Gaara. Tidak ada pemuda Akasuna. Hanya ada siswa-siswa lain yang kebetulan lewat di sana. Baru saja ia mau melangkah lebih jauh, ada tangan kekar yang tiba-tiba melingkari pinggangnya. Hinata bisa merasakan punggungnya menabrak dada orang yang ada di belakangnya. Melirik ke belakang, ia bisa melihat pelakunya memiliki helaian rambut semerah bata.
"Detak jantungmu berisik sekali. Kamu pasti mau berteriak 'Kyaa~ Gaara-kun memelukku'." Suara seduktif yang terdengar di telinganya jelas-jelas milik sahabatnya.
"A-aku tidak ingin berteriak konyol seperti itu kok," kilah Hinata, "mana jas almamaterku?"
Tangan Gaara yang lain menyodorkan jas almamater berwarna abu-abu pucat. Gadis itu tak membuang waktu untuk mengambilnya, kemudian memakainya cepat-cepat. Sahabatnya hanya memerhatikan, mengamati dengan tatapan matanya yang entah kenapa begitu memikat.
"Kamu lihat apa? Apa aku terlihat aneh?" tanya Hinata sedikit panik.
"Tidak lihat apa-apa. Lorong ini sempit. Normalnya memang aku akan melihat ke arahmu yang berdiri persis dalam jarak pandangku," gumam Gaara.
Hinata menundukkan kepala, tak berani beradu pandang dengan Gaara. Pipinya terasa memanas, membuatnya semakin tak mau Gaara melihatnya. Ia tak sanggup mendengar kata-kata menggoda yang entah dipelajarinya dari mana.
"Atau kamu marah karena aku kurang memerhatikanmu?" Nada suara Gaara terdengar melunak, "kamu ingin aku selalu melihatmu, selalu memerhatikanmu. Bodohnya aku yang tak menyadari itu."
Entah sudah seberisik apa debar jantung Hinata saat ini. Terlebih ketika Gaara juga ikut-ikutan menunduk, membuat kening mereka bertemu dalam ekuilibrium afeksi. Belum lagi sapuan napas hangat Gaara yang menggelitiki pipi. Ugh, Hinata bisa merasakan lututnya seolah melemas, nyaris seperti jelly.
Apakah Gaara memang sudah tahu? Apa akhirnya ia menyadari, ada emosi lain yang sekarang membebat hati Hinata tiap kali mereka bertemu? Dan siapkah pemuda ini membalas perasaan yang dimilikinya sejak beberapa tahun lalu?
"Hinata..."
"Katakan Gaara ... katakan kau menyukaiku," batin Hinata, mencoba bersabar menunggu kelanjutan ucapan Gaara.
"Hinata ... aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi...," ucap Gaara.
"Ka-katakan saja. A-aku si-siap mendengarnya kok. La-lagi pula sepertinya aku juga ... aku juga...," Hinata terbata-bata. Ia bahkan memainkan kedua telunjuk di depan dada demi mengurangi rasa gugupnya.
"Aku lapar."
Hah?
Suara backsound mendadak dangdut dari perut Gaara membuat Hinata tersadar dari keterkejutannya. Lapar? Gaara menggodanya habis-habisan hanya karena kelaparan semata? Kami-sama ... bagaimana mungkin Hinata tidak gemas melihatnya.
"Eh? Kamu mengharapkan aku mengatakan hal lain?" Gaara berpura-pura bersikap polos. Jauh dalam hati, pemuda ini coretmenikmaticoret SANGAT menikmati ekspresi malu bercampur marah ditambah kesal yang muncul di wajah Hinata sekarang.
"Hhah ... kamu kan bisa bilang lapar dengan cara yang lebih normal," Hinata sedikit menggerutu, "berharap saja deh Neji-senpai belum menghabiskan bekalku."
"Hinata?" Baru saja mereka mau melangkahkan kaki menuju taman, Neji sudah menyusulnya. Ia mengernyitkan alis begitu melihat Gaara dan Hinata. "Oh, jadi teman yang kamu maksud adalah Gaara."
Gaara tak menanggapi ucapan Neji. Ia hanya melipat tangan di depan dada, menanti apa yang akan terjadi. Matanya dengan cepat beraversi, melirik bento yang ada di tangan si senpai.
"Bekalnya Hinata tidak kauhabiskan, kan?" tanya Gaara dengan pandangan supersinisnya.
"Aku baru mau minta maaf. Bekalnya enak sekali. Tanpa sadar aku justru menghabiskannya," kata Neji, "jadi sepertinya aku harus bertanggung jawab. Aku...,"
"Baiklah. Kita ke kantin, Hinata," Gaara memberi isyarat agar Hinata mengiyakan ajakannya.
Gadis itu menganggukkan kepala, menerima bento yang telah kosong dari tangan senpai-nya. Ia membungkukkan badan sekilas sebagai pengganti kata pamit sebelum akhirnya menyusul langkah Gaara. Lagi-lagi, baru beberapa langkah ia berjalan, Neji sudah menahan tangannya. Mau tak mau Gaara juga ikut berhenti, menoleh dengan tatapan yang kurang lebih bermakna lepasin-(calon)cewek-gue-Hyuuga.
"Dengarkan dulu," Neji menatap lembut ke arah Hinata—yang berarti mengerikan di mata Gaara, "kubilang aku akan bertanggung jawab. Aku akan mentraktirmu."
Gaara melebarkan bola matanya, memberikan death glare yang biasanya sanggup bikin meriang. Tapi boro-boro takut, Neji malah berdiri tegak, memberikan tatapan tajam yang menjadi deklarasi perang. Masing-masing tangan mereka mengepal erat, siap melayang.
Hinata sudah mulai tak enak melihat atmosfer horor yang menyelimuti. Dari hari ke hari, semakin terlihat dua pemuda ini semakin membenci. Ia ingin pergi bersama Gaara, tapi tak enak bila terang-terangan menolak kebaikan Neji.
"Kita bisa pergi bertiga kan?" Hinata memberanikan diri bersuara.
"Tapi aku tidak akan mentraktirnya," sahut Neji cepat.
"Aku tidak minta kautraktir, Bishounen," tukas Gaara sengit.
Alis Neji berkedut begitu mendengar kata terakhir yang disebutkan Gaara. Menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan diri agar tak meladeni ocehan Si Akasuna. Yang penting adalah Hinata, sebodo amat dengan bocah yang hobi mencari gara-gara.
"Ya?" Hinata memastikan sekali lagi.
Dan mau tak mau kedua pemuda itu terpaksa menganggukkan kepala.
.
.
.
"Habis ini kalian pelajaran apa?" tanya Neji sembari menunggui Hinata menikmati makanannya.
"Kimia," jawab Hinata.
"Oh, Orochimaru-sensei," komentar Neji konklusif.
Gaara mendecih kesal berkali-kali secara tersembunyi. Di tangannya ada sebuah konsol game yang menjadi pusat atensi. Jadi, jika ia mendecih, orang-orang akan mengiranya sebagai ekspresi kesal karena game itu tak bisa ia menangi.
Hal yang terjadi sebenarnya adalah Gaara menggunakan game itu sebagai alasan agar tak perlu menyimak pembicaraan Neji dan Hinata. Kalau Neji lebih merapat pada Hinata, ia bisa mendecih seolah sedang marah pada konsol game-nya. Itu sebabnya tak heran jika beberapa kali Gaara dan Neji beradu death glare yang tak diketahui oleh gadis Uchiha.
"Orochi-sensei suka sekali menyuruh muridnya ke depan kelas, mempresentasikan materi-materi yang bahkan baru akan kita pelajari," komentar Neji.
"Ah, iya. Minggu lalu aku yang mendapat giliran itu. Teori asam basa. Deg-degan, tapi untungnya aku pernah belajar dasar-dasarnya dengan Gaara," Hinata menoleh sekilas ke arah sahabatnya. Berharap pemuda itu menoleh atau sekadar menganggukkan kepala.
"Oh, ya? Setidaknya kamu punya pegangan dan tidak sampai blank di depan kelas," komentar Neji, "giliranku waktu itu tentang unsur. Orochimaru-sensei memintaku menyebutkan unsur-unsur yang ada secara berurutan sesuai dengan nomor atomnya."
"Semuanya?" Hinata membulatkan matanya, sedikit terkejut.
"Ya tidak," Neji terkekeh pelan, "tidak sampai separuhnya. Sisanya aku tidak begitu ingat dengan urutannya. Tapi bagusnya aku tahu ada istilah yang tepat untuk menyebut seorang gadis. Terutama yang sepertimu."
"Perumpamaan seorang gadis dalam kimia? Misalnya seperti apa?" tanya Hinata ingin tahu. Ia belum pernah mendengarnya. Biasanya seorang gadis identik dengan bunga-bunga. Kalaupun menyangkut tentang pelajaran juga tidak akan terlampau jauh dari pelajaran sastra.
"Hinata, aku berani bertaruh kalau tubuhmu tersusun atas unsur kalsium, nitrogen, titanium, dan kalium," kata Neji.
Hinata ingin menyergah ucapan itu, ia tahu unsur-unsur yang mendominasi tubuh manusia bukanlah unsur-unsur tadi. Tapi sepertinya Neji memang ingin Hinata penasaran dan menunggu eksplanasi. Pemuda itu bahkan sengaja menatap intens ke arah Hinata seolah menunggu gadis itu bereaksi.
"Kenapa ... harus begitu?" tanya Hinata ragu-ragu.
Neji tersenyum, "Tahu lambang unsur kalsium, kan?"
"Ca," jawab Hinata cepat.
Gaara berhenti memencet-mencet konsol game, matanya melirik sangar. Tampaknya ia bisa menebak maksud Neji tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Yang dilirik hanya tersenyum—lebih tepat disebut menyeringai—seolah bendera kemenangan telah berkibar.
"Kalau begitu, urutkan saja lambang-lambang dari unsur yang kusebutkan tadi secara berurutan," kata Neji, "kamu bisa bantu menebaknya, Akasuna-san."
Empat sudut siku-siku bermunculan di pelipis Gaara.
Hinata menoleh ke arah Gaara, "Ca, N, kalium kan K. Eh, lambang titanium itu apa, Gaara-kun?"
Gaara mendengus kesal, tapi tetap menjawab pertanyaan Hinata, "Ti."
"Oh, Ti. Kalau begitu diurutkan menjadi Ca-N-Ti-K," kata Hinata.
"Cantik, "ulang Neji, "makanya aku berpikir kalau unsur-unsur pembentuk dirimu adalah kalsium, nitrogen, titanium, dan kalium. Karena kamu...,"
Brakk!
"Maaf, tanganku licin," celetuk Gaara sembari memungut konsol game yang beberapa detik lalu meluncur bebas dari tangannya. Ia mengusap-usap benda itu, berharap tak ada impact berarti yang diterima 'nyawa keduanya'.
"Kurasa kamu harus lebih berhati-hati, Gaara," komentar Neji, "kecuali kamu sengaja karena terpesona melihat Hinata merona."
Disebut begitu, rona di wajah Hinata semakin menebal. Dadanya langsung berdegup kencang, berharap ucapan Neji bukanlah tanpa kausal. Apalagi setelah mendengar tudingan Neji yang semakin frontal.
"Atau ... haruskah aku mengatakan, kamu cemburu?"
"Katakan 'iya', Gaara-kun!" harap Hinata dalam hati.
"Itukah yang kaurasakan? Aku merasa tersanjung, Hyuuga-senpai. Kau sampai menganggapku tembok besar yang menghalangi usahamu. Kasihan sekali," tukas Gaara dengan tenang.
"Tinggi sekali rasa percaya dirimu, Tuan Panda," komentar Neji.
Gaara mendelik, kemudian mencibir, "Tuan Bishounen."
Hinata pura-pura tak mendengar psy-war mereka. Ia lebih memilih cepat-cepat menghabiskan makanannya, kemudian mengucapkan terima kasih pada Neji, lalu pergi meninggalkan mereka. Bukan berarti ia tak peduli Gaara dan Neji bertengkar karenanya. Ia hanya tak mau wajahnya semakin memanas lagi dan lagi akibat mendengar ucapan posesif Gaara. Hinata senang, sekaligus juga merasa khawatir kalau-kalau Gaara hanya ingin menggodanya.
"Uhuk! Uhuk!"
Neji yang bangkunya lebih dekat dengan Hinata langsung tanggap, ia membantu Hinata merangkum gelasnya. Tangannya mengusap-usap punggung gadis itu agar batuk akibat tersedaknya reda. Berbalut rasa khawatir ia berkata, "Pelan-pelan saja, Hinata."
"Ma-ma ... uhuk ... maaf," sesal Hinata.
"Mau tambah minum lagi?" tawar Neji.
"Ini," Gaara menyodorkan gelasnya, "kamu boleh mengambil minumanku. Jangan berbuat konyol seperti itu lagi. Makan cepat-cepat tidak cocok untukmu."
"Terima kasih," ucap Hinata.
"Kembali kasih," balas Gaara sembari mengerling penuh makna.
Hinata bisa merasakan pipinya memanas lagi. Ia mencoba untuk tak terlihat konyol di depan sahabat yang diam-diam ia sukai. Merasa kerongkongannya telah lega, ia memilih untuk undur diri.
"Terima kasih untuk traktirannya, Senpai. Maaf, kurasa aku harus segera pergi. Hari ini adalah piketku. Iya, kan, Gaara?" Hinata menoleh ke arah Gaara, berharap pemuda itu mau bekerja sama.
"Kamu memang piket setiap hari, kok," komentar Gaara.
"Aku masih ingin mengobrol denganmu, sih. Tapi tidak apa-apa. Akan kukirim lewat e-mail saja," kata Neji.
"Baiklah. Permisi, Senpai...,"
Neji menganggukkan kepala. Matanya tetap mengikuti langkah-langkah Hinata. Sejurus kemudian, ia keheranan melihat Gaara belum juga beranjak pergi dari kursinya. Padahal neji sempat mengira panda satu ini akan terus membuntuti Hinata.
"Kukira kau mau mengikutinya, Stalking Panda," komentar Neji.
"Paling-paling dia akan mencari Yamanaka, lalu menggelar sesi curhat dadakan di toilet wanita," ujar Gaara, "dan aku tidak mau pakai wig hanya untuk masuk toilet wanita."
"Sepertinya kamu benar-benar hafal schedule-nya," gumam Neji, "benar-benar stalker sejati."
"Aku bahkan lebih hafal ekspresi-ekspresi menariknya yang tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain, termasuk kamu," kata Gaara sembari memasang seringai.
"Aku tidak peduli dengan itu. Bahkan jika ternyata Hinata menyukaimu, aku tidak akan menyerah," kata Neji, "jadi berhati-hatilah."
"Tsk. Terima kasih untuk perhatianmu," Gaara menggerakkan bola matanya dari men-death glare Neji kemudian fokus pada layar konsol game-nya.
Sementara yang dilirik juga tak kalah dalam memberikan pandangan sinis. Neji tahu Si Panda Merah itu siap membuatnya terjerungkis. Tetapi bagaimanapun perasaannya pada Hinata juga tak bisa ditepis.
Memang bukan hal yang mudah, tapi Neji takkan menyerah.
.
.
TBC
.
.
Thank's to : Anne Garbo, kirei- neko, Noal.Hoshino, Merai Alixya Kudo, Freyja Lawliet, chiaki arishima, Sabaku No'Ruki-Chan, Ayuzawa Shia *itu istilah sering nemu kok di website2 humor gitu. Soal Usui sama Edgar, kan saya taunya dari dirimu^^*, minatsuki heartnet *nggak lupa kok, itu setting-nya emang di rumah. Mereka lagi ngerjain pe-er bareng LoL. Kalo Hinata yang manggil Mas Ai, kira2 bakal gimana, ya? #plakk*, nurul.wn, Deer Panda, NaruNarurin, Arum Junnie *salam kenal Arum-chan. Iya, chapter 1 Gaara memang masih kecil, tapi umurnya bertambah seiring berjalannya chapter kok.*, siapa aja boleh *mungkin ada baiknya sebelum membaca Anda tidak mengabaikan warningnya atau minimal membaca summary-nya. Saya sudah meletakkan insert SasuNaruSasu baik pada summary maupun pada warning.*, xx *hayo, coba tebak ^^v*, Yurayuki, Thi3x Noir,dan OraRi HinaRa.
Seperti biasa, yang login balasnya via PM ^^
Sebetulnya inti dari chapter ini sendiri kurang begitu saya dapatkan. Saya baru mengetik 2 phase ketika menyadari jumlah words-nya sudah 2300. Antara terlalu terlena sampai tidak menjaga batas words atau karena terbiasa membuat fiksi2 yang panjang per phase-nya lebih dari 1000 words. Karena itu, saya buat chapter ini hanya 3 phase saja. Humornya jelas berkurang. Padahal rencananya saya mau masukin bagian Sasu godain Sasori di phase keempat, tapi ya sudahlah. Buat chapter depan saja, ya ^^v
Saya kira saya tidak perlu menjawab GaaHina saling suka atau tidak. Semoga deskripsi saya cukup menjelaskan semuanya ^^
Daripada saya bicara terlalu banyak, lebih baik saya mengucapkan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya. Lebih bersyukur lagi kalau ada yang mau menyisihkan sebagian review-nya di kotak review saya ^^
Molto Grazie
