OPERA's Notebook.

Para Boneka.

Kagamine Lily.

46 tahun. Cinta bersih, perfeksionis, mudah dimakan emosi, pemalas. Walau secara tertulis wanita tua ini adalah pengurus dari Vila Boneka, dia selalu menyuruh pelayan melakukan segala hal, padahal dia sendiri nyaris tak pernah turun tangan.

Pada usia 29 tahun, ia menikah dengan Kagamine Ren yang lebih tua enam tahun darinya, dan rela menjadi istri kedua demi masuk ke dalam keluarga Kagamine.

Setelah menikah, ia sepertinya mulai berlatih mengendalikan emosinya demi merawat Kagamine Kagahiko yang semakin menua.

Dia bukan tipe wanita yang mudah untuk dikendalikan.

Kagamine Len.

18 tahun. Pintar, narsis, dan terlalu menganggap tinggi dirinya sendiri. IQ lebih dari 140—ia idak mau memberikan angka pasti. Punya kebiasaan menganggap orang lain bodoh. Selalu bangga pada kemampuannya untuk mengarang kata.

Anak tunggal dari istri kedua Kagamine Ren, Lily.

Sangat menyukai kopi. Apalagi kopi hitam tanpa gula dan susu. Setelah lulus SMA, yang ia lakukan hanyalah membaca buku dan menonton televisi.

... dan berpacaran diam-diam dengan seorang pelayan.

Mungkin kalau menggunakan hubungannya sebagai bahan ancaman, aku mengendalikan anak ini sebagai bidak di permainan nanti. Walau aku lebih mengharapkannya sebagai lawan.

Kagamine Leon.

44 tahun. Kekanak-kanakan, humoris, entah disengaja atau tidak. Bekerja sebagai koki di restoran yang ia dirikan sendiri setelah pergi dari rumah utama keluarga Kagamine.

Sangat suka menggunakan bahasa Inggris secara mendadak, walau logat bicaranya sangat kacau. Ia juga sangat suka menggunakan kata 'bersua'.

Mungkin karena sikapnya yang sedikit agak aneh untuk ukuran orang dewasa inilah, yang membuatnya sampai sekarang masih terus melajang.

Apa orang ini bisa dikendalikan dengan uang, ya?

Kagamine Lenka.

42 tahun. Mudah iri, egois, manja. Kurang disukai oleh Kagahiko karena sikapnya yang terlalu bergantung pada kekayaan orangtua.

Setelah menikah dan meninggalkan rumah utama di usia 24 tahun, Kagahiko begitu senang sampai-sampai ia memberikan modal cukup besar agar ia bisa hidup sendiri.

Dan sepertinya Lenka juga cukup bodoh, sehingga tidak menyadari bahwa uang yang Kagahiko berikan memiliki arti, "Ambil ini dan jangan kembali lagi!".

Sepertinya sekarang ia bekerja sebagai aktris teater lokal. Kagahiko sendiri tak tahu detailnya, jadi aku juga tak bisa bicara banyak tentang ini.

Kandidat utama untuk dikendalikan, karena dari cerita Kagahiko, ia terlihat seperti tipe orang yang mau melakukan segalanya demi beberapa puluh juta.

Dengan uang yang diberikan Kagahiko, aku...

Kagamine Rinto.

43 tahun. Tenang, dewasa, dan mampu berpikir dengan kepala dingin. Entah apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada wanita menyebalkan semacam Lenka.

Satu tahun sebelum pernikahannya dengan Lenka, ia menerima mobil VW bekas Kagahiko.

Ia sepertinya mengira itu adalah tanda bahwa ia diterima di keluarga Kagamine, walau sebenarnya adalah berkat Lenka yang tak henti-hentinya memaksa ingin memberikan hadiah yang luar biasa pada ulangtahun sang kekasih.

Bekerja sebagai kepala direktur di perusahaan kecil yang ia bangun dari modal pemberian Kagahiko, juga pemasukan tambahan istrinya yang bekerja sebagai aktris.

Kalau aku mengendalikan Lenka, mau tak mau aku harus mengendalikan orang ini juga.

Kagamine Rin.

17 tahun. Cerdas, sok dewasa, dan bermuka dua. IQ 154. Tipe gadis yang mengikuti tren agar tidak dianggap aneh, walau sebenarnya memiliki ketertarikan agak berlebih pada komik detektif tertentu. Tidak pernah punya pacar karena larangan Lenka.

Selalu menahan diri agar tidak mendapat nilai tinggi di sekolah. Padahal kalau dia serius, bukan hal yang mustahil untuk masuk ke peringkat besar nasional. Semuanya demi pergaulan. Baginya, hubungan sosial lebih penting ketimbang prestasi.

Saat kecil, ia cukup disukai oleh Kagahiko karena mewarisi sel abu-abu yang diwarisinya dari sang kakek. Karena itu kamarnya penuh dengan boneka manis pemberian beliau, yang akhirnya ia berikan kepada teman sekolahnya yang meminta.

Kagahiko di luar dugaan tahu banyak tentang Rin... apa mungkin ia selalu menanyai Lenka mengenai cucunya itu tiap kali mereka berhubungan?

Shirafuji Tonio.

52 tahun. Pandai, dewasa, dan terkadang suka bersikap sok akrab dengan orang yang baru ia temui. Mungkin akibat perbedaan kultur dari setengah darahnya?

Dokter pribadi Kagahiko yang sudah mengurus beliau sejak beberapa tahun belakangan. Kagahiko sampai memanggilnya sahabat dan mempercayainya untuk menjaga dan 'membacakan' surat wasiat Kagahiko.

Dengan ancaman nyawa atau uang suap, kira-kira, mana yang lebih mudah untuk membuatnya patuh?

Atau mungkin, aku bisa—

Rokumiya Yuuma.

25 tahun. Patuh dan setia pada keluarga Kagamine. Sepertinya ia punya hutang nyawa pada Kagahiko, sehingga ia mengabdi sepenuhnya pada keluarga Kagamine. Aku tidak akan heran bila ia bunuh diri karena disuruh.

Diajari cara bermain piano oleh Kagahiko. Dipercaya untuk memainkan piano kala jamuan makan saat Kagahiko masih hidup.

Kalau aku meminta Kagahiko menyuruh anak ini menuruti segala perintahku, aku yakin ia akan melakukannya dengan senang hati.

Hatsune Miku.

16 tahun. Pemalu, kurang percaya diri, dan agak lamban. Bekerja di keluarga Kagamine sejak enam bulan yang lalu, dan berpacaran dengan tuannya sendiri sekitar dua bulan yang lalu.

Tak meneruskan ke SMA. Entah di mana dan apa yang ia lakukan di waktu antara lulus SMP dan bekerja di Vila Boneka.

Kagahiko cukup menganggap tinggi anak ini. Walau agak lamban, ia bekerja dengan kualitas yang hampir sama dengan Yuuma yang sudah bekerja bertahun-tahun.

Hubungannya dengan Len bisa jadi bahan ancaman yang sangat berguna.

Kesembilan orang inilah, 'karakter' yang akan tampil di permainan misteri yang aku buat. Mereka semua akan mati, kecuali Len dan Rin yang aku pilih sebagai 'pemain' yang pantas bertarung denganku.

Kagahiko... akan kupersembahkan padamu.

Hukuman terbesar, untuk mereka, para keturunan serakah yang tak pantas menerima apa yang kau tinggalkan.

November, 2012.
OPERA.


— (viii) —


Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Permainan yang panjang ini akhirnya selesai.
Oh, para penonton yang aku sayangi,
—kebenaran macam apa yang kau yakini?

Catatan tambahan:

SBM Episode 08 ini tersedia dalam bentuk coretvisualcoret slide novel yang mana dilengkapi dengan fitur tambahan semacam BGM dan gambar latar, yang mana bisa kamu download melalui blog elpijizero dot wordpress dot com atau facebook saya yang bisa kalian lihat di profil akun FFn ini.

Saat Boneka Menari

EPISODE 08
12 Desember 2012, 18.00 – 18.30
— Truth of The Marionettist —


(Rin) —


Jam enam sore.

Jumlah manusia yang masih hidup di vila terkutuk ini—dua orang.

Aku, Kagamine Rin, dan sepupu laki-laki yang berusia satu tahun lebih tua―Kagamine Len.

Bersama dengan suara rintik hujan yang terus mengguyur dari kemarin, bersama dengan suara petir yang terus menyambar bagai musik pengiring, bersama dengan kilatan cahaya yang menembus tirai jendela.

Len menghirup kopi terakhir yang ia buat.

"—ayo kita mulai."

Itu adalah kalimat pertama yang muncul, sesaat setelah pemuda pirang itu meletakkan cangkir kopi hangatnya di atas tatakan.

Di dekat tatakan cangkir, di atas meja yang ditutupi oleh taplak berornamen indah nan rumit, tergeletak dua dari tiga benda yang merupakan petunjuk utama yang disediakan oleh sang pelaku utama—OPERA.

Catur yang tak terselesaikan.

Kartu yang tak terpisahkan.

"Pengadilan terakhir... untuk menentukan siapa pelakunya."

Sungguh aneh.

Aku adalah aku, dan aku sendiri tahu bahwa aku bukan pelakunya. Aku sama sekali tidak mengerti alasan Len melakukan akting tak berguna, bersikap seolah ia adalah detektif dari cerita misteri yang dibuat oleh OPERA ini.

Tersangkanya hanya ada dua, dan aku bukanlah pelaku.

Sebuah pilihan super mudah yang bahkan bisa dijawab oleh anak lima tahun, sebuah pertanyaan dua pilihan di mana kau sudah tahu mana yang salah. Pertanyaan konyol yang tak berarti.

Meski begitu, Len tetap bersikap seolah ini adalah permainan, pengadilan kebenaran. Tanpa saksi, tanpa juri, tanpa pengacara. Hanya hakim dan tersangka, di mana kami tidak tahu siapa tersangkanya.

... tidak, bukan. Bukan begitu. Len mungkin ingin membuat agar permainan ini terlihat seperti yang aku katakan tadi, namun sebenarnya apa yang kami lakukan ini adalah hal yang sama sekali berbeda.

Karena tersangka dari pengadilan konyol ini, orang yang bersembunyi di balik boneka OPERA—tidak lain dan tidak bukan, adalah ia yang duduk di sofa seberang, ia yang memulai permainan tak berguna ini. Kagamine Len.

"Kita mulai dari kasus pertama—matinya, bukan terbunuhnya Kagamine Lenka... ibuku," aku berkata pelan, menatap pria di seberang dengan tajam, "Tersangka utama dari kasus ini adalah pelayan pribadimu, Hatsune Miku. Atau harus aku katakan—Miku, atas perintahmu."

"... tidak ada racun yang terdapat di dalam kopi. Bukankah aku sudah membuktikan hal itu dengan meminumnya?"

"Biar aku katakan informasi yang menarik untukmu, Len," aku menyentuh dahiku, menunjuk otak yang ada di dalamnya, "Sebenarnya, kepalaku ini punya ingatan sekuat rekaman."

Itu bohong, tentu saja.

Aku mungkin bisa menghapal kata-kata dengan cepat, namun menghapal gambar yang hanya aku lihat untuk beberapa saat adalah hal yang mustahil untukku.

Karena itu, meski aku mampu menghapal puisi OPERA hanya dalam sekali dengar, aku tidak bisa mengingat apa yang janggal dari knife set di dapur. Karena otakku bukan diberkahi oleh memori fotografi—hanya otak spesial yang bisa menghapal kata-kata.

Mungkin, inilah yang mereka sebut dengan penebusan—sebuah kekurangan yang muncul untuk mengimbangi kelebihan.

"Lalu?"

Len bertanya dengan tenang. Ia bagai tak terpengaruh akan kenyataan palsu yang aku paparkan barusan. Sosoknya yang kacau tadi siang karena kematian ibunya terlihat seperti ilusi yang jauh sekarang.

Dasar psikopat. Dengan sikapmu yang seperti itu, bagaimana mungkin aku tidak menuduhmu sebagai OPERA?

"Kemarin, sesaat sebelum kematian Mama, ada satu adegan yang sangat aku curigai...," aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kembali dialog yang terlintas kemarin, "Saat Miku menawarkan diri memutarkan kaset video warisan, dan kau menolaknya."

"..."

Aku bisa melihat alis Len yang berdelik, terangkat sedikit akibat kalimat yang aku lontarkan. Sepertinya dugaanku mengarah ke tempat yang benar.

"Kalau tidak salah, setelah kau menolak tawaran Miku, kau menyuruhnya untuk 'mengisi kembali teh yang kosong atau semacamnya', 'kan?"

"Benar... apa yang salah dengan itu?"

"Lalu, setelah itu, kau, membawa kaset rekaman warisan Kakek, berjalan menuju pemutar video yang berada agak jauh di belakangmu. Inilah kunci dari trik 'racun yang hilang' itu."

Aku berkata dengan lantang,

"—sebagai orang yang membawa kaset warisan, sudah pasti, pada saat itu, perhatian seluruh orang tertuju padamu. Di saat inilah, Miku yang sudah kau perintahkan untuk 'mengisi kembali teh yang kosong', memasukkan racun ke dalam cangkir teh Mama."

Len terdiam sebentar, sebelum menjawab dengan santai,

"Mari anggap bahwa kau sudah menemukan waktu racun masuk ke dalam teh, tapi kemudian, bagaimana caranya racun tersebut bisa hilang dari teh yang aku minum?"

Dengan sedikit senyum canggung, aku melanjutkan teori yang sudah aku susun dengan matang,

"Gampang. Miku tinggal menunggu Mama yang meminum teh untuk menenangkan diri menaruh kembali cangkirnya, dan menukarnya dengan cangkir di sebelah—misal, cangkir Papa, sebelum racun tersebut bereaksi pada tubuh Mama. Yang kau minum bukanlah teh Mama yang beracun!"

"Aku benar-benar meminum teh milik Bibi Lenka."

"... apa?"

"Seperti kataku tadi, aku benar-benar meminum teh sisa milik Bibi Lenka. Miku tidak pernah menukar cangkir, dan perintah yang aku berikan hanyalah kebaikan hati seorang tuan rumah, bukan kode untuk memulai rencana."

Apa-apaan... gaya bicaranya itu...?!

Dia berbicara seolah-olah semua yang ia katakan barusan benar-benar merupakan kebenaran yang sesungguhnya.

Tidak. Tunggu dulu. Aku tahu kalau tatapan orang yang sedang berbohong akan sedikit bergetar dan mencoba menjauhi saling pandang, namun, tatapan Len—

ia menatap lurus dan tajam padaku, dan dengan jelas mengatakan bahwa semua yang ia katakan barusan, adalah kebenaran.

"K-kau bohong! Kenapa aku harus percaya pada kata-kata pembunuh berantai sepertimu?!"

Meski begitu, aku tetap menuduhnya.

Benar. Orang ini adalah OPERA. Ia adalah seorang psikopat, pembunuh berantai. Berbohong dengan tatapan tanpa keraguan seperti itu seharusnya bukan hal yang sulit untuknya.

"Aku tidak berbohong. Dan aku tahu, kau juga tahu, bahwa aku tidak berbohong. Kau bisa melihatnya, bukan? Kau tahu bagaimana cara mendeteksi kebohongan, bukan, Rin? Atau harus aku jelaskan padamu?"

"Kalau begitu, kemungkinan lainnya—"

"—sudah cukup, Rin."

Tatapan Len dalam sekejap langsung bertambah tajam.

"Hentikan permainan bodohmu ini. Kau tidak bisa menipuku lagi. Berhentilah lari dari kenyataan. Mengakulah―kau adalah OPERA yang sebenarnya."

"Bukannya kau sendiri yang memulai permainan konyol ini, Len?! Bukannya kau yang ingin melarikan diri dari kenyataan, dengan menuduhku sebagai OPERA?!"

"... sejauh mana kau mau ingin menipu dirimu sendiri, Rin?"

"KATAKAN ITU PADA DIRIMU SENDIRI, KEPARAT!"


(opera) —


OPERA's Notebook.
Bab 2: Aku dan Kagahiko.

Ini terjadi sekitar dua bulan aku datang ke Vila Boneka.

Sekitar satu tahun, sejak aku pertama kali berjumpa dengan Kagahiko, tak lama setelah lulus dari sekolah menengah pertama.

Kagahiko... menyatakan cintanya padaku.

Ini aneh. Benar-benar aneh.

Memang benar, aku hanyalah anak angkat dari putranya, jadi walau pun tak terhubung oleh darah, mau bagaimana pun juga, aku adalah cucunya. Kagahiko adalah kakekku.

"Aku sadar akan hal itu, ***. Tapi meski begitu, aku tetap mencintaimu."

Kau tahu apa yang lebih aneh lagi?

Aku menerimanya.

Benar... aku, seorang gadis muda yang bahkan baru satu tahun lulus sekolah menengah pertama, menerima pernyataan cinta dari Kagamine Kagahiko yang usianya lebih dari setengah abad di atasku.

Makanya aku katakan—ini aneh. Benar-benar aneh.

Tadinya aku pikir Kagahiko melihat sosok Nenek di dalam diriku, namun ia sendiri berkata tidak begitu. Ia benar-benar mencintaiku seutuhnya, sebagai diriku sendiri.

Bukan pada sosokku yang (mungkin saja) mirip dengan istrinya yang bahkan tak pernah aku lihat wajahnya.

Bukan pada sosok sempurna yang bisa memainkan piano dan biola dengan lihai.

Bukan pada sosok gadis yang yang fasih akan berbahasa Inggris, padahal ia sendiri tak pernah berniat mempelajarinya.

Kagamine Kagahiko, jatuh cinta pada diriku yang membuat boneka bersamanya. Pada jari-jariku yang mengukir bentuk pada kayu dengan begitu indahnya, pada diriku―yang katanya―bisa membuatnya menceritakan segalanya.

Aku juga... merasakan hal yang sama.

Maksudku, selama 15 tahun hidupku, yang aku rasakan hanyalah kesedihan.

Orangtua yang memaksaku menjadi sempurna. Teman sekolah yang bahkan tak bisa aku panggil sebagai teman. Kalimat hipnotis yang harus aku dengar tiap malam.

Aku yang tak pernah merasakan cinta, tiba-tiba disirami oleh kasih sayang yang tak aku duga, dari sosok yang tak aku harapkan.

Dan kemudian, sosok itu, Kagahiko, menyatakan cintanya padaku.

Bukan seperti kakek pada cucunya, juga bukan seperti ayah pada anaknya. Namun cinta murni seperti seorang lelaki pada perempuan, seperti seorang suami pada istri.

Aku sendiri juga awalnya ragu.

Namun aku berpikir.

Kalau aku menolaknya, apa aku akan kehilangan rasa sayang yang selama ini ia berikan padaku?

Kalau aku menolaknya, apakah hubungan kami akan tetap sama seperti sebelumnya?

Karena ketakutan semacam itulah, hanya dalam hitungan detik, bagai cinta yang akhirnya terbalaskan—aku langsung menerimanya.

Senyum bahagia di wajah keriput Kagahiko tak akan aku lupakan sampai sekarang.

malam indah yang kami habiskan bersama, malam indah di mana ia menjadikanku seorang wanita... mungkin, sampai sekarang, adalah hal yang tak akan pernah bisa aku lupakan.

Juli, 2012.
OPERA.


(Len) —


"Kalau begitu, sekarang giliranku, 'kan?"

Aku bertanya dengan suara pelan dan getir, dengan pandangan yang mengabur oleh kesedihan yang bagai bertumpuk di atas kelopak mata.

Mataku yang sedari tadi terpusat pada genangan serbuk kopi di dasar cangkir sembari mendengar tiap tuduhan gila Rin dengan saksama, mulai terangkat, balas menatap wajahnya.

"Giliranku, untuk... menjelaskan teoriku. Teori 'Rin dan keluarga'... adalah OPERA yang sebenarnya."

Kenapa kami harus melakukan hal bodoh semacam ini?

Sampai detik ini pun, aku masih terus bertanya pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan sederhana yang bahkan tak sanggup aku lontarkan kepada gadis yang menjawab dengan congkak itu.

"Coba saja kalau bisa—entah teori macam apa yang kau buat, itu tidak akan merubah kenyataan kalau kau adalah OPERA yang sebenarnya, Len."

Ibu dan kekasihku mati karena OPERA. Kedua orangtuanya mati karena OPERA. Paman Leon, dan bahkan Yuuma—aku pikir tadinya, dengan segala yang terjadi, kami akan saling mengerti.

Lalu kenapa...

"Bibi Lenka berpura-pura mati keracunan."

... semua harus jadi seperti ini?

"... hah?"

"Tidak ada trik atau pun racun di sana. Bibi Lenka hanya... berpura-pura mati keracunan, untuk menghilang dari panggung permainan."

Aku berkata dengan nada yang aku buat setenang mungkin, mencoba sebaik-baiknya agar Rin tak mampu menangkap sorot sedih mau pun keraguan yang harusnya tampak di irisku.

"Jangan bercanda, Len!" Rin berteriak kencang. Ia berdiri, menghantam meja bundar dengan kepalan tangan kanannya. "Untuk apa ibuku melakukan hal bodoh semacam itu?! Lalu bagaimana dengan kesaksian Pak Shirafuji?!"

"Kesaksian beliau, sulit mengatakannya, tapi tidak bisa dipercaya. Maksudku, hanya ia satu-satunya yang pernah mencium bau almond di mulut Bibi Lenka. Apalagi dengan 'surat' yang katanya kau temukan itu... ada kemungkinan Pak Shirafuji adalah rekan OPERA dari awal."

"Kh... tapi... untuk apa ibuku sampai mau melakukan hal konyol seperti itu?"

"Hal itu berkaitan dengan kasus selanjutnya. Bibi Lenka yang berpura-pura mati dan dipindahkan ke kamar, adalah orang yang meledakkan bom di mobil kalian. Yang kemungkinan besar, sudah ia persiapkan dari rumah."

"Makanya kubilang, untuk apa ibuku melakukan hal semacam itu?!"

Tiga unsur utama dalam cerita misteri; whodunnit, howdunnit, whydunnit.

—sudah menjadi tugas detektif untuk menjawab dua pertanyaan pertama. Pertanyaan terakhir sama sekali tidak penting, karena biasanya, di akhir cerita, pelaku akan mengakui motifnya sendiri.

Karena itu, daripada menjawab pertanyaan Rin, aku hanya terus menjelaskan teori-teori yang telah aku pikir dengan masak-masak. Mencoba untuk mendesaknya ke ujung jurang kebenaran.

"Kau tahu, Rin? Miku, semalam... berada di kamarku."

"... apa maksudmu?"

"Semalam sebelum pembunuhan, Miku benar-benar ada di kamarku. Aku yang mengajaknya untuk tidur bersama. Baik kunci rantai mau pun kunci pintu sudah benar-benar terkunci dengan baik, meski begitu... Miku menghilang, dan sudah berada dalam kondisi seperti sekarang di ruang makan. Padahal kamarku masih dalam keadaan terkunci."

Ayo, Rin.

Baca mataku.

Kau bisa melihatnya, bukan? Bahwa aku sama sekali tidak berbohong.

"Itu..."

Rin mengerutkan dahinya, menunjukkan reaksi yang dengan jelas menyatakan ketidaksiapannya menghadapi misteri baru yang baru saja ia ketahui sekarang.

Kau tidak bisa. Kau tidak akan bisa menjawabnya, Rin. Karena satu-satunya jawaban yang ada, hanyalah satu—

"Ibumu memanggil Miku keluar, lalu membunuhnya, atau mungkin menyerahkannya ke rekan kejahatannya. Ia kemudian masuk ke kamarku, menguncinya dari dalam, dan bersembunyi hingga pagi. Dan ketika aku membuka pintunya sendiri, ia kabur, dan bersembunyi di tempat lain."

"—dengan begitu, kunci kamarku bisa tetap berada dalam kondisi tertutup. Dan dengan begitu pula, misteri hilangnya ibumu dari kamar bisa dijelaskan dengan mudah—ibumu keluar dari kamarnya, membunuh Miku dan Yuuma."

Sebuah senyum tampak terlihat di bibir gadis pirang itu, walau baik mata mau pun keringat dingin yang mengalir di dahiya sama sekali tidak berkata demikian.

Apa ia menemukan celah kecil yang sengaja aku buat?

"—kalau begitu, Len! Jelaskan padaku, kenapa pada saat aku membuka pintu kamar itu di pagi hari, pintu itu berada pada posisi terkunci?!"

Kena.

"Memang benar kunci untuk membuka pintu kamar Bibi Lenka berada di tanganmu. Tapi apa kau lupa, ada berapa kunci induk di rumah ini?"

"Ah... tunggu dulu, mustah—"

"Benar. Selain kunci Yuuma, masih ada kunci induk yang dipegang oleh Miku. Dengan sedikit mengubah teoriku barusan dan anggapan bahwa ibumu dan Pak Shirafuji-atau bahkan kau sendiri-ikut serta dalam rencana ini, semuanya bisa dijelaskan dengan mudah."

Aku menarik napas, dan-

"Pertama, si rekan, antara kau atau Pak Shirafuji, mengetuk pintu kamarku. Miku yang setengah tidur dan tidak sadar kalau ia berada di kamarku lalu akan membukakan pintu. Si rekan ini kemudian membuat pingsan Miku dengan suatu cara."

"Ia kemudian menggunakan kunci induk Miku untuk membuka dan menutup kembali kamar Bibi Lenka. Di sini, Bibi Lenka, yang sudah 'lenyap' dari panggung permainan, bisa bersembunyi di kamarku dan menguncinya dari dalam dengan mudah-misteri bagaimana Miku menghilang dari kamarku pun terjawab sudah."

"T-tapi, untuk apa ibuku melakukan hal sebodoh itu?! Kenapa ia mau melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri?! Kalau memang benar ia ingin menjadikan kamarmu ruang tertutup, kenapa tidak sekalian saja ia membunuhmu?!"

Rin berteriak lantang, "Teorimu penuh lubang, Len! Apa kau serius ingin mengatakan semua lelucon barusan sebagai kebenaran?! Setidaknya, jelaskan padaku, kenapa ibuku mau repot-repot melakukannya!"

Seperti yang aku katakan sebelumnya, Rin.

Aku tidak peduli dengan whydunnit. Tugasku sebagai detektif, selain sebagai sepupu yang kau seret dalam permainan saling tuduh ini hanyalah satu; menjelaskan semua yang terjadi di vila ini, dengan kau dan keluargamu sebagai tersangka utama.

"T-tunggu dulu! Aku masih punya bantahan yang lain! Kau bilang ibuku mengunci dirinya ke kamar setelah menyerahkan Miku ke orang lain, 'kan?! Siapa?! Siapa orang itu?!"

Apa otakmu sudah tumpul sehingga kau tidak bisa memikirkan hal semudah itu?

"Sudah jelas, Pak Shirafuji. Atau mungkin—kau sendiri, OPERA."

Ekspresi syok di wajah Rin terlihat sangat menyedihkan. Aku juga, dari lubuk hatiku yang terdalam, juga merasa tidak enak padanya yang harus menderita atas permainan yang ia mulai sendiri.

Benar.

Permainan ini akan kuahiri.

Permainan konyol yang kau gunakan untuk membuang dosamu, permainan konyol yang kau mulai untuk menjadikan aku sebagai OPERA ini—akan aku ahiri, dengan membongkar semuanya.


(opera) —


Kematian Kagahiko datang dengan begitu tiba-tiba.

Bulan kelima aku bekerja di Vila Boneka, bulan ketiga sejak aku memulai hubungan terlarang dengan Kagahiko, satu bulan sejak aku menerima cinta kedua atas dasar kasihan.

Kagamine Kagahiko, meninggal karena serangan jantung.

Tidak ada alasan khusus. Dokter bilang, ini mungkin memang cuma sudah saatnya saja untuk beliau, mengingat umurnya yang memang sudah lumayan uzur.

Aku hanya bisa menangis dalam diam.

Di depan semuanya, aku hanya bisa menunjukkan tangis seorang pelayan yang kehilangan tuan yang sangat ia hormati. Namun di belakang, entah seberapa lama aku menangis hanya untuk memanggil namanya.

...

Begitu aku sadari, aku ternyata sudah benar-benar jatuh cinta pada sosok kakek tua itu. Bukan atas dasar paksaan, bukan atas dasar kasihan. Benar-benar... cinta yang sesungguhnya.

Namun, sebagai kekasih gelap tanpa gelar sepertiku, apa yang bisa aku lakukan? Meminta bagian warisan?

... jangan bercanda.

Kalau begitu, semuanya akan terjadi sesuai dengan skenario 'orangtua'-ku yang berada nun jauh di sana—agar aku menjadi pewaris baru, orang yang menyusun kembali keluarga ini dari awal.

Aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu.

Aku hanya ingin tersenyum. Aku hanya ingin tertawa. Aku hanya ingin menikmati setiap kebahagiaan kecil yang aku rasakan ketika membuat boneka bersama dengan Kagahiko.

Aku tidak peduli pada warisan.

Aku hanya ingin... ia kembali padaku.

Walau aku tahu itu tidak mungkin.

...

Apa yang terjadi selanjutnya, satu bulan sebelum permainan maut ini dimulai, adalah masa di mana alasan-alasan untukku menghancurkan keluarga ini dimulai.

Masa-masa yang paling tak mau aku ingat.

"Serangan jantung? Aku curiga seseorang telah menulis nama kakek di buku catatan tertentu..."

Aku tahu kau menyadari keterpurukanku, aku juga tahu kalau kau mencoba untuk memberikan sedikit hiburan. Walau aku juga tahu bahwa kau sama sekali tidak memiliki sedikitpun rasa sayang sebagai seorang cucu pada Kagahiko.

Meski begitu, bukankah harusnya sudah jelas, Kagamine Len? Kematian seseorang bukan sesuatu yang bisa kau jadikan candaan seperti itu.

Seandainya kau tahu berapa kali aku mengutukmu malam itu, kau pasti sedang meringkuk ketakutan sekarang.

"Kau akan menjadi pewaris selanjutnya, Len. Kaulah yang akan menerima segala harta dan martabat keluarga ini, dan meneruskan apa yang Tuan Besar tinggalkan."

Aku tidak mengerti. Bukankah kau adalah wanita yang selalu mengingatkan anak bodohmu itu untuk hormat pada Kagahiko? Lalu kenapa... Kenapa kau, dengan berani sekali, mengatakan hal itu dengan senyum yang sedikit terangkat seperti itu, Nyonya?

Di mana sosok wanita yang aku hormati, sosok yang aku yakini mampu memahami Kagahiko walau sedikit saja? Apa benar-benar hanya aku orang yang memahaminya...?

... Kagahiko... Aku...

"Aku akan senang kalau nanti bisa menerima sedikit bagian."

Pak Shirafuji, apa itu kalimat yang pantas diucapkan oleh seorang dokter? Apa itu kalimat yang pantas diucapkan oleh pria yang telah dipanggil Kagahiko sebagai 'sahabat'?

Kagahiko memandang tinggi dirimu, brengsek. Ia menganggap kau sebagai satu-satunya orang yang mengerti dirinya selama beberapa tahun kau merawatnya.

Namun apa-apaan kalimat yang kau ucapkan itu?!

"Aku akan segera ke sana untuk membahas pembagian harta."

Kenapa kau, putri bungsunya yang sudah enam tahun tidak berjumpa dengan Kagahiko, mengatakan kalimat tanpa hati seperti itu, hanya seminggu setelah kematiannya?

Kau yang bahkan tak datang ke pemakamannya, kau yang bahkan tak akan menelepon Kagahiko kecuali ia terlebih dahulu yang menghubungimu-

-hei, Kagahiko. Aku mencoba mengerti, mengingat kau sendiri yang bilang Lenka adalah putrimu yang paling tak berguna.

Tapi... apa-apaan ini semua? Kenapa dunia melakukan ini pada dirimu?

Hei, Kagahiko.

Kagahiko... Seandainya kau masih hidup, apa yang akan kau katakan?

"Tuan Besar telah memerintahkan saya untuk menuruti semua perintah Anda."

"... termasuk membuang nyawamu?"

"Bila hal itu diperlukan."

"..."

Kejadian lain yang tidak kalah pentingnya, adalah hari di mana aku menemukan kaset berisi kopian video wasiat Kagahiko. Video wasiat... yang lebih pantas aku sebut sebagai undangan permainan.

"Selamat pagi, siang, malam, kapanpun kalian menyaksikan video ini. Salam sejahtera kepada putra-putri serta kedua cucu membanggakanku yang turut hadir."

Kagahiko telah menyiapkan semuanya.

Sebuah permainan kecil dengan kematiannya sebagai umpan. Ia bahkan menggunakan nama boneka yang kami buat bersama, OPERA, sebagai nama dari 'pelaku'.

... dia sampai repot-repot membuat rekaman suara palsu yang misterius. Padahal kalau ia meminta, aku juga akan membantu membuatnya dengan senang hati...

Di bagian depan buku catatan Kagahiko yang hanya aku gunakan setengah belakangnya ini, aku menemukannya. Detil dari permainan ini, sebuah permainan yang ia ingin aku jalankan.

Ia tak pernah mengatakannya, namun aku tahu.

Di sini tertulis, ia akan meminta para orang dewasa untuk berpura-pura menjadi tersangka dan korban, dan ingin menjadikan kedua cucunya yang sama-sama cerdas itu sebagai detektif.

Lucunya, ia ingin aku menjadi pelaku utamanya-pelaku yang bersembunyi di balik nama OPERA. Dasar Kagahiko. Apa cuma aku yang bisa ia percaya?

Terselip di buku catatan itu, amplop tebal yang berisi... Uang. Sepuluh, dua puluh-seratus juta.

"Berikan beberapa lembar pada putra-putriku bila ada dari mereka yang tak mau ikut berperan. Terserah padamu mau kau apakan sisanya, ***."

-adalah apa yang tertulis di atas kertas yang menyertai amplop tebal berisi uang yang entah apakah seumur hidup bisa datang kesempatan lain aku memegangnya.

Ia ingin ini menjadi permainan terakhir, hadiah terakhir, dari seorang kakek yang tak disayang oleh cucunya. Hadiah perpisahan, untuk kedua cucunya yang sama-sama mewarisi sel jenius dari dirinya.

... Maafkan aku, Kagahiko. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membuat ini hanya menjadi sekadar permainan biasa, seperti yang kau inginkan.

Aku...


(Rin) —


"Kalau kau tidak puas dengan teoriku, sekarang, coba jelaskan. Bagaimana Miku menghilang dari kamarku, bagaimana Ibumu menghilang dari kamarnya, bagaimana Miku dan Yuuma terbunuh. Jelaskan semuanya—dengan caramu sendiri."

Aku tidak bisa apa-apa.

Semuanya—semua perisai teori yang aku yakini selama ini, ditembus satu-persatu oleh pedang kebenaran Len. Pedang kebenaran yang menebas semua teoriku menjadi tidak ada bandingannya.

Aku mengakuinya.

Tidak, aku bukan mengakui bahwa aku adalah OPERA. Aku mengakui bahwa—

—kebenaran palsu yang Len ciptakan untuk menjadikanku OPERA yang sebenarnya, adalah sebuah kebenaran yang valid, sebuah kebenaran yang efektif, dan sebanding dengan kenyataan yang sebenarnya.

Aku tidak mungkin salah.

Maksudku... Mama pura-pura keracunan, lalu membunuh Papa? Omong kosong macam apa itu? Mana mungkin Mama melakukan hal bodoh semacam itu!

Aku menarik napas panjang.

Punggungku yang tegang bersandar pada sandaran sofa, mencoba menyamankan diri, mendinginkan kepala. Aku membuang muka dari Len, sembari memikirkan teori baru.

Miku benar-benar ada di kamar Len semalam, dan baik kunci rantai mau pun kunci pintu, berada dalam posisi terkunci.

Pada saat pagi hari di mana Miku menghilang, kunci rantai juga masih terpasang.

Memang ada kemungkinan Len bohong, tapi matanya yang tenang tanpa getaran dan tanpa keraguan itu menyatakan dengan jelas bahwa itu semua tidak mungkin.

Len tidak berbohong. Setidaknya untuk sekarang.

"..."

Secercah senyum sedikit timbul di bibirku.

Benar... Len tidak berbohong. Tapi bukan berarti dia mengatakan semua kebenaran.

Dengan kata lain—bisa saja kejujuran yang Len katakan hanyalah sebagian dari apa yang benar-benar terjadi. Sebuah kejujuran yang tidak sempurna.

Ia berbohong, tanpa berbohong.

"Bagaimana cara pelaku mengunci pintu kamar dari dalam setelah mengeluarkan Miku? Jawabannya sudah jelas, bukan, Len? Kalau kau adalah OPERA, kau tinggal mengunci sendiri pintu kamar dari dalam."

"..."

"Atau kemungkinan paling besar—bukan tidak mungkin kau membunuh Miku dan Yuuma, lalu kembali ke kamar dan mengunci pintu seperti tidak terjadi apa-apa."

"Lalu bagaimana dengan ibumu? Bagaimana aku memindahkan mayat ibumu dari kamar yang terkunci rapat?"

Bulir keringat dingin terlihat di dahi mulus Len. Alisnya sedikit berkedut, dengan mata yang agak menyipit—ia jelas-jelas ragu akan pertanyaan yang ia tanyakan barusan.

Karena ia sendiri pasti sudah tahu jawaban yang akan aku berikan.

"—itu juga sama gampangnya," aku berkata, dengan sedikit nada congkak sebagai usaha mendominasi jalur permainan ini, "Kalau kau menggunakan kunci induk punya Miku, hal itu sangat mungkin dilakukan."

"..."

Ia terdiam untuk beberapa saat.

Bagus. Sangat bagus, Len. Kau tidak bisa membalasnya, bukan? Karena jawaban barusan benar-benar valid, sebuah jawaban yang tidak melanggar fakta-fakta yang ada.

Karena itu, sebaiknya kau segera menyerah—

"Mari anggap aku benar-benar membunuh Miku dan Yuuma."

"Tidak perlu pengandaian lagi, pembunuh. Kau benar-benar membunuh mereka, 'kan? Len?"

"—bagaimana caranya aku menciptakan ruang tertutup di ruang makan?"

"..."

Bagaimana aku bisa lupa akan hal itu?!

Selain bagaimana caranya ibuku dan Miku bisa menghilang dari kamar yang terkunci, bukankah ada satu ruang tertutup lain yang terhubung dengan tiga rangkai ruang tertutup ini?!

Ruang makan.

Lokasi kejadian utama, di mana kami menemukan sosok Miku dan Yuuma yang bersimbah darah. Boneka yang mati dalam kegelapan, dengan pintu dan jendela yang benar-benar terkunci, dan semua kunci yang bisa membukanya berada di dalam.

Misteri terbesar, tersulit, dan paling rumit untuk dipecahkan.

Maksudku, jika ini benar-benar pembunuhan, bagaimana caranya pelaku bisa keluar dari ruangan yang terkunci total dari dalam seperti itu?! Satu-satunya jawaban hanyalah pelaku bersembunyi di dalam hingga ruang tertutup di bongkar!

... benar. Jika aku berpikir dari sudut pandang 'pembunuhnya masih hidup', maka kejahatan ini menjadi hal yang mustahil.

Tapi bagaimana, bagaimana kalau... pembunuhnya—dua korban yang ada di dalam, Yuuma dan Miku, salah satu dari mereka adalah rekan dari OPERA yang bunuh diri setelah melakukan pembunuhan?

Dan dalam konteks ini, jawaban yang mungkin adalah—

"... aku ralat sedikit kata-kataku sebelumnya. Kau tidak membunuh Yuuma dan Miku. Kau menyuruh Miku membunuh Yuuma, membuat ruang tertutup, lalu membunuh dirinya sendiri."

Tapi hal itu—

"—invalid. Saat mayat ditemukan, Miku berada dalam posisi seperti disalib dengan pisau yang tertancap di dadanya. Ia tidak akan berada dalam posisi seperti itu kalau ia bunuh diri."

"Kalau begitu—"

"Yuuma juga tidak mungkin melakukan bunuh diri. Kau lihat sendiri pisau yang tertancap di kepalanya, 'kan? Apa ada manusia yang bisa melakukan hal itu, kemudian menyalib dirinya sendiri di dinding?"

"Tapi... tapi, kalau baik Miku dan Yuuma yang ada di dalam ruangan bukan pembunuhnya, lalu bagaimana pelaku bisa membunuh mereka dan keluar dari ruangan yang terkunci dari dalam itu?!"

Len juga pasti tidak bisa menjawabnya.

Tidak mungkin ia bisa menjawabnya.

Tidak... aku... salah.

Ia bisa. Len bisa melakukannya.

Kasus ini adalah kasus yang tidak bisa dipecahkan dengan teori 'Len = OPERA' milikku, namun dapat dipecahkan dengan sedikit paksaan melalui teori 'Rin = OPERA, dengan keluarganya sebagai rekan' milik Len.

Semoga ia tidak menyadarinya.

Aku mohon... semoga ia tidak menyadari hal ini.

Karena bila ia mengutarakan kemungkinan ini, jangankan argumen untuk membantahnya, aku juga sama sekali tidak bisa memberikan 'kemungkinan alternatif' yang bisa menggantikan kebenaran Len.

Namun—

"Ayahmu, Kagamine Rinto, sebenarnya tidak terbunuh di dalam ledakan."

Sebuah jawaban penuh paksaan.

Sebuah jawaban konyol yang dibuat di atas keputusasaan, jawaban konyol yang dapat dengan mudah ditepis, namun menjadi satu-satunya jawaban untuk membongkar misteri yang ini.

Benar...

Len bisa menjawabnya.

Dengan mengorbankan satu kebenarannya, 'Rinto terbunuh dalam ledakan', dan membuatnya akan dipaksa menjelaskan 'bagaimana caranya Rinto selamat', Len mengeluarkan jawaban ini.

Jawaban yang tak masuk akal.

"Mayat Paman Rinto menghilang karena sama seperti Bibi Lenka, ia juga berpura-pura mati. Dan sama seperti Bibi Lenka yang menciptakan ruang tertutup dan bersembunyi di kamarku—Paman Rinto bersembunyi di dalam ruang makan."

"... konyol."

Sungguh, jawaban yang konyol.

"Mana mungkin Papa bisa selamat setelah terbakar parah seperti itu—"

"—lalu, apa kau bisa memikirkan jawaban lain? Selain jawaban konyolmu tentang Yuuma atau Miku melakukan bunuh diri, yang jelas-jelas bertentangan dengan fakta yang ada?"

Wajah tenang Len kini terlihat begitu mengerikan, hingga membuatku sendiri merinding.

"Setidaknya, jawabanku ini... sama sekali tidak melanggar fakta. Karena kita sekarang, sama sekali tidak bisa memastikan apakah Paman Rinto benar-benar sudah mati, atau telah bersembunyi di tempat lain sekarang."

"..."

Sial... Aku... sama sekali tidak bisa membalasnya.

Aku benar-benar tidak bisa memberikan jawaban alternatif yang lebih masuk akal, selain jawaban Len barusan, dalam kejadian kali ini. Mau tak mau, aku hanya bisa mengakui kalimat Len sebagai hal yang mungkin terjadi.

"..."

"Sekarang... ke misteri selanjutnya. Kematian Pak Shirafuji dan... ibuku."


Bersambung


Catatan Penulis:

Halo, Elpiji di sini.

Yah, episode ini tegang dan ngebosenin banget, yah. Dari awal sampe akhir isinya cuma Len dan Rin yang debat sambil duduk di sofa, dan nyaris penuh dengan infodump jawaban mereka.

Dan sama kek SBB, debatnya kelewat panjang hingga harus dipisah jadi dua bagian. Sisanya tunggu aja chapter berikutnya... yang juga kayaknya, bakal sekaligus merupakan 'ending' dari fanfik ini.

Endingnya bakal bagaimana? Apakah bakal kayak SBB yang nyelekit? Atau justru ending bahagia (entah untuk pembunuh atau detektif)? Atau malah super twist tak terduga?

Nantikan episode selanjutnya.

Jadi kira-kira, siapa yang benar?

Len atau Rin? Apakah Len yang terlihat mendominasi dengan teorinya adalah detektif yang asli? Atau secara tak terduga, Rin yang benar? Atau justru entar muncul jawaban ketiga yang sama sekali beda? Ini juga hal yang harus kamu tunggu di episode berikutnya.

Tapi, yah, kalian juga harusnya sudah bisa liat, sih. Dari plesbeknya juga udah ketahuan jelas siapa si 'anak' ini, 'kan? Tolong jangan marah soal implikasi nganu-nganu dengan kakek tua itu, plz.

Eh? Masih belom tahu OPERA itu siapa? Lihat episode selanjutnya.

Btw, kalau tertarik, silakan main versi slide novelnya juga, ya. Soalnya itu alasan utama yang bikin episode kali ini jadi lumayan lama apdetnya (selain karena emang males).

Yah, kayaknya sampe sini aja.
Sampai jumpa di episode berikutnya.