.
.
.
HINJITE
Romance, Action with SasuSaku Pairing
Naruto©Masashi Kishimoto
E©Nurama Nurmala
Ready to Reserved
.
.
.
Penggalan cerita sebelumnya…
Klan Haruno adalah salah satu klan terbesar dalam jamannya yang dikepelai dan dipimpin oleh Jiraiya. Jiraiya dikaruniai seorang puteri yang kemudian dinamai Sakura. Sakura yang memiliki keterampilan melebihi orang lain akhirnya dilatih secara diam-diam oleh Kurenai Hanshi, salah satu ahli pedang Klan Haruno. Setiap malam Sakura selalu menyisir semenanjung Fukushima untuk membersihkan kota dari kejahatan dan dari tirani yang semena-mena sebagai Beru to Samurai.
Pada suatu malam, ketika sebuah titah untuk membunuh Tondou Neji muncul dari Kurenai-Hanshi, misinya digagalkan oleh seorang Samurai yang memiliki keahlian lebih hebat darinya. Setelah mendapatkan luka serius akibat pertarungannya tadi malam, ia dikejutkan oleh sosok pemuda yang telah melukainya tengah berjalan di lingkungan rumahnya.
Sasuke. Begitu mereka menyebut Rounin itu. Ia dibawa oleh Kakashi Hatake untukn menjadi samurai klan Haruno. Lebih tepatnya Samurai pendamping Sakura.
Ino yang tertarik pada Sasuke mempersering intensitasnya berkunjung ke kediaman Haruno. Suatu hari ia memberi kabar bahwa para aktris Kabuki jenis Jidaimono tengah melakukan pertunjukan keliling dan kali ini adalah giliran semenanjung Fukushima.
Karena sebuah insiden, bukannya Sakura dan Sasuke menjadi penonton pertunjukan itu, mereka malah tampil menjadi tokoh utama drama kabuki kali ini. Dan tak dinyana… akting dan pertunjukan mereka… jauh melampaui ekspektasi. Mereka berhasil membungkam penonton dengan aksi mereka!
Di lain sisi, klan Haruno mulai melakukan seleksi untuk menjadi peserta di Akademi Samurai Kerajaan. Sasuke, Naruto, dan Sakura lah yang terpilih.
Di tengah perjalanan menuju kerajaan, Sakura bertemu dengan peramal aneh bernama Yugao yang mempertemukannya dengan lelaki berjubah awan merah. Lelaki itu memberi peringatan kepada Sakura untuk tidak pernah jatuh cinta pada Sasuke.
HINJITE
In 8th Chapter
Malam itu angin berembus tidak sebagaimana mestinya. Sakura yang merasakan kejanggalan embusan angina itu, tapi… entahlah. Itu mungkin karena perasaannya yang sedang tidak menentu. Kepalanya… terkulai lemas di pelipir salah satu jendela penginapan.
Ada sesuatu yang tak beres….
Jelas ia menyadarinya. Targetnya kali ini, pria berjubah awan merah itu—ya, pria itu memendam sebuah rahasia yang sangat dalam. Perasaan takut, kalut, bingung dan penasaran berbaur dan membentuk gumulan pertanyaan retorik di kepalanya.
Kedua tungkai indah itu menyeloroh tak peduli di atas tatami. Ujungnya bergerak-gerak pelan, sementara pikiran sang empunya berlayar entah kemana. Tiba-tiba, seraut wajah tirus, apatis muncul dalam benaknya. Ia kembali teringat akan peringatan yang diberikan lelaki berjubah awan merah itu.
"Jangan pernah jatuh cinta pada Sasuke."
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Sandingan kata tanya mengapa ikut menggelotori pemikirannya. Ia begitu bingung, memangnya bahaya apa yang akan terjadi jika dia jatuh cinta pada Sasuke? Apa dunia akan lenyap? Apa Fuji-yama akan memuntahkan lahar-laharnya?
Sakura terkekeh dalam diam.
Kemungkinan terparah yang dapat dipikirkan Sakura adalah jati diri Sasuke yang sebenarnya berasal dari sebuah klan yang menjadi musuh klan Haruno. Klan Haruno harus berhati-hati karena Sasuke adalah samurai hebat yang mustahil untuk dikalahkan.
Sakura bersidekap dengan lutut yang tertekuk ke arah awan yang berarak maju.
"Dan akan lebih parah jika aku dan dia saling jatuh cinta," Sakura menghela napas panjang. Ya, itulah skenario terburuk hidupnya yang melesat dalam pikirannya.
Tok!
Tok!
Tok!
Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu geser kamar Sakura. Sakura menolehkan kepalanya ke arah pintu diiringi gerakan tergesa. "Hai!"
Sreeetttt!
Dengan sekali tarik pintu geser itu meluncur mengikuti sibakan tangan Sakura.
Manik hijau itu berkilat kaget. Bibirnya bergetar sementara tubuhnya tergugu syok.
Seseorang yang berdiri di depannya memandang Sakura lalu mengedipkan tatapannya berkali-kali. "A-ada apa?" Sakura yang tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi dengannya membuang pandangan pada dipan yang bertelekan lapisan kayu teranyar.
Namun tanpa diduga Sakura sebelumnya, sosok itu, yang tinggi tegap dan pelit kata-kata itu menyibakan pintu kamar Sakura dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang masih bebas memegang pinggang Sakura dan dengan tubuhnya mendorong mundur Sakura kembali ke ruangannya.
"A-apa yang—"
SRET!
Secepat kilat pintu kamar Sakura kembali menutup oleh tarikan tangan lelaki itu.
Dia… hanya menatap Sakura dengan sejuta makna.
BRUK!
Aling-aling kesadaran yang terenggut itu telah kembali, Sakura dengan sekali hempas mendorong tubuh jangkung lelaki itu agar menjauh darinya. "Apa-apaan kau, Sasuke?" Dengan bertelekan kegugupan yang mudah-mudahan tidak meradiasikan keadaan di sekitarnya, Sakura sekali lagi melemparkan pandangan ke arah objek tak bernyawa yang ada dalam ranah pandangannya.
Sreettt…
Sasuke bergerak perlahan, sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura, tangan kirinya menahan tubuh Sakura yang berusaha menjauh sementara tangan kanannya dengan kuat menarik jatuh Yukata Sakura.
Manik Onyx itu tiba-tiba berpendar cepat.
Napas Sasuke berubah drastis sementara tenggorokannya tercekat.
"Kau…" manik Onyx itu menyalang cepat, balik menatap Emerald yang bergerak kebingungan. "Kau sudah bertemu dengan dia?"
Sakura yang sadar bahwa ada hal krusial yang tengah terjadi berusaha mati-matian mengontrol tinjunya agar tak melayang ke wajah Sasuke. Dalam sekejap dia memandang Sasuke dengan tatapan menyulut pertarungan. "Memangnya siapa yang sudah kutemui?"
"Hh…" Sasuke yang terlihat gusar perlahan mengendorkan cengkramannya pada Sakura dan melepaskan Yukata yang membalut tubuh Sakura ke atas alas tatami. "Kakakku, Itachi."
DEG!
Semuanya masuk akal sekarang!
Kenapa pria itu mengenal Sasuke, kenapa pria itu mirip seperti Sasuke, dan kenapa pria itu melarang Sakura jatuh cinta pada Sasuke, semuanya masuk akal sekarang!
Sakura terkesiap.
Tapi… kenapa pria itu bilang kalau dia akan membunuh Sasuke? Apa di dalam keluarga mereka telah terjadi pertikaian antar saudara?
Helaian tipis yukata putih yang membalut tubuh Sakura terlihat transparan ketika ditembus sinar rembulan. Tapi Sakura belum sadar akan hal itu. Pundak bersih dan putihnya masih tersibak kain putih. Pundak halus bertanda merah itu masih terkespos oleh mata telanjang siapapun yang melihat.
Saat Sakura masih memikirkan korelasi hubungan buruk antar saudara itu, pandangan Sasuke kembali tertuju padanya. Kali ini… pandangan Sasuke melembut. Penuh dengan tekanan, penuh dengan kepedihan. Tapi ketika Sakura menoleh dan pandangan mereka sekali lagi bertemu, nyawa dalam Onyx itu langsung disembunyikan dalam kebasnya kehidupan. Tatapan itu meredup… untuk digantikan dengan tatapan tak berperasaan, seperti biasa.
"Kita tidak akan pernah jatuh cinta," ikrar tiba-tiba Sasuke membuat Sakura hampir terlonjak dari tempatnya. "Aku mengundurkan diri dari klanmu," tubuh itu berbalik seratus delapan puluh derajat menuju pintu masuk ruangan itu. Ayunan langkahnya mengganti suasana sepi tempat itu dengan derap langkah penuh tekanan.
A-apa? Apa? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang mereka ketahui sedangkan tidak kuketahui? Ada apa ini?!
Hasrat keingintahuan Sakura yang besar tidak bisa dibendung lagi. Dengan cepat ia menarik lengan yukata Sasuke hingga lelaki itu berbalik dan memandangnya sekali lagi.
"Hal buruk apa yang akan terjadi kalau kita jatuh cinta?" Pertanyaan bodoh itu spontan meluncur begitu saja dari bibir ranum Sakura. Pertanyaan bodoh itu sukses membuat Sasuke diam, bungkam, dan memandang Sakura dengan berbagai macam pertanyaan yang memenuhi benaknya.
"Kehancuran dimana-mana," jawaban ambigu Sasuke membuat Sakura menyipitkan matanya.
Kehancuran macam apa? Apa itu akan berdampak pada klanku?
Tunggu, apa katanya? Jika kita jatuh cinta? Aku? Jatuh cinta padanya?
"Kau pikir… aku akan jatuh cinta padamu?" Pertanyaan rancu Sakura membuat Sasuke berkedip tak percaya.
"Ya."
"Kenapa kau bisa begitu yakin?" Sakura mengerling terintimidasi. Apa yang membuat lelaki ini begitu percaya diri? Wajahnya? Wajah tak berekspresi seperti itu sama sekali bukan tipenya. Lalu keterampilannya bermain pedang? Cih! Jikalau bisa Sakura ingin melarikan diri sejauh mungkin darinya.
Sakura terkekeh melecehkan.
Namun bukan Sasuke jika ia berbicara terlebih dahulu sebelum bertindak.
Perlahan, Sasuke menggerakkan tangan kanannya. Tangan itu berayun mendekati tangan Sakura, lalu meraih tangan itu lembut. Perlahan, jemari Sasuke bergerak lalu mulai menjelajah petakan kecil telapak tangan Sakura. Hangatnya tangan Sasuke menjalar pasti. Kedua telapak tangan itu saling bertemu, saling tertangkup, lalu dengan perlahan tangan Sasuke merangkul tangan kecil Sakura dan menggenggamnya erat. Erat. Seolah dunia tidak akan pernah bisa memindahkan mereka.
Mau tak mau… Sakura akhirnya menyadari hakikat perbedaan dimensi tangan seorang lelaki dan perempuan. Hakikat perbedaan kekuatan mereka, dan hakikat kedudukan mereka.
Tatapan Sakura kini terpaku pada jemarinya yang bertelut dengan jemari Sasuke. Begitu menyatu. Ini… adalah yang pertama untuknya.
"Karena itu adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan dan akan terjadi."
DEG!
Sakura memandang Sasuke lekat-lekat, berusaha mencari kejujuran dan keterusterangan di wajahnya yang minim akan ekspresi. Ia terbius. Wajah rupawan itu tak seharusnya ia pandang sedekat ini.
"Pertemuan kita di bawah rembulan, harusnya bisa membuatmu jera dan membuatmu membenciku jika kita bertemu lagi, sikapku yang tidak bersahabat seharusnya membuat kita tetap berada sesuai jalur, anatara samurai dan daimyo-nya. Harusnya… seperti itu…."
PLUK!
Benturan lembut itu menghentak rasionalitas yang tengah dipertahankan mati-matian oleh Sakura. Tapi… kejadian ini….
Sasuke, merebahkan kepalanya pada bahu Sakura yang sebelumnya telah dikecup oleh Itachi. Bahu itu... menjadi saksi kutukan Itachi.
Tapi bukan itu yang menyapu pelataran pemikiran Sakura saat ini. Apa dia tak salah dengar? Pertemuan di bawah rembulan? Ketika Sasuke menghajarnya habis-habisan, apakah Sasuke sudah tahu jati diri Sakura yang sebenarnya? Ketika Sasuke setuju untuk mengabdi pada klan Haruno, apakah Sasuke juga tahu jati diri Sakura yang sebenarnya?
Beru To Samurai, Sakura Haruno, lalu sekarang Sakuragi. Apakah Sasuke tahu bahwa ketiga orang itu adalah orang yang sama?
"Hh…" napas Sasuke yang menerpa kulit telanjang Sakura sukses membuatnya merinding sekaligus berdegup begitu kencang.
"Tapi kita tidak akan pernah jatuh cinta. Kau setuju?"
"Eh?" Pertanyaan retorik dari Sasuke berhasil mengalihkan pandangan kalut Sakura jadi beralih pada dirinya yang masih bersandar pada Sakura. Perlahan… dengan pasti, ketika kepalanya masih bersandar pada pundak Sakura, tangan kiri Sasuke menyentuh pipi Sakura lembut. Ketika tangan itu bersentuhan dengan pipi yang terasa semakin lama semakin memanas, kepalanya Sasuke tiba-tiba bergerak dan menjauh dari pundak Sakura. Bukannya menjauhi wajah yang tersaput gugup itu, Sasuke malah dengan pasti berarak maju mendekati wajah Sakura.
Untuk beberapa detik, Sakura nyaris tak bisa bernapas. Pikiran Sakura melayang entah kemana. Arah pandangnya kini hanya dipenuhi wajah Sasuke yang masih bergerak maju mendekatinya.
"Jangan jatuh cinta padaku," bisik Sasuke pelan, penuh buaian.
Ketika bibir lembut milik Sasuke mengecap bibir Sakura untuk yang pertama kalinya, Sakura masih enggan untuk bernapas. Ketika kehangatan bibir Sasuke menularkan kehangatan lain kepada bibir Sakura, pandangannya masih disaputi sosok Sasuke. Ketika tangan kiri Sasuke semakin merengkuh tubuh Sakura semakin dalam dan mempertemukan kedua kecap itu dalam sentuhan penuh kelembutan, barulah kesadaran Sakura berhasil kembali dalam renggutan.
Tapi… Sakura tidak berbuat apa-apa. Tangannya kebas, tak kuasa untuk mendorong jauh Sasuke. Lidahnya kelu, tertutupi bibir Sasuke yang masih betah bersentuhan dengannya. Andai ini hanya mimpi… andai ini hanya mimpi.
To be Continued….
