Laki-laki bertubuh tegap itu berjalan di tengah hutan. Ia dituntun oleh cahaya obor yang ia genggam. Menapak jalan yang menanjak menuju sebuah gua. Tangannya yang lain membawa buah dan air. Mata abu-abunya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Karena sekarang ia tahu, semuanya akan menjadi lebih baik. Ia hanya berharap orang yang menunggunya tidak ketakutan atau malah menyuruhnya pergi. Ia tahu benar ia dan orang itu memiliki hubungan yang bisa dibilang tidak baik.

Sementara itu seorang anak laki-laki mulai menggerakkan jarinya dengan perlahan. Sarafnya mulai bekerja. Dan matanya berkedip. Ia menatap dengan pandangan setengah terbuka ke arah api yang bergoyang. Ia merasakan badannya sedikit susah digerakkan. Meski begitu ia memaksakan diri untuk duduk dan bersandar. Ia memeluk erat dirinya sendiri. Angin malam berhembus ke dalam gua. Anak itu bersyukur hujan badai berhenti.

Matanya terbuka penuh sekarang. Dia merasakan seseorang mendatangi gua tempatnya berlindung. Kini ia menjadi waspada. Siapa tahu itu seorang penculik atau pemburu bayaran.

Matanya berubah menjadi lebih gelap. Dan amarahnya kembali memuncak saat sosok yang masuk ternyata orang terakhir yang ingin ia temui meskipun dunia akan berakhir sekalipun. Ryuu melipat tangannya dan menatap tajam api di hadapannya. Pasti api itu juga 'dia' yang membuatnya.

Sementara itu Sasuke yang sadar bahwa Ryuu terbangun kembali memakai 'topeng'nya. Anak laki-laki di hadapannya duduk dan diam ditempatnya. Pandangan anak itu teralihkan sejenak dan kembali menatap tajam api unggun.

"Kenapa?" adalah kata pertama yang menggema dalam gua itu.

Mata gelap Sasuke melirik saat dia duduk di seberang Ryuu.

"Apa kau mau mengambilku dari Kaa-san? Kenapa kau baru saja muncul?"

Sang Uchiha menghela nafas. Ia tidak bisa menyalahkan amarah anak ini. Lagipula sebenarnya merekalah 'korban' dari perbuatannya di masa lalu.

"Ada banyak hal yang tidak kau ketahui."

Ryuu tidak suka jika dia selalu diperlakukan seperti ini. Seperti anak kecil yang memang seharusnya tidak tahu apa-apa. Tapi...

Sasuke menatap Ryuu sejenak. Ia meletakkan buah yang baru saja ia dapat. "Makan itu dan tidur. Aku akan pergi sebentar."

Ryuu mendengus keras dan menekuk kakinya. Ia melipat tangannya juga meletakkan dagunya di lutut. Pandangannya tetap teralihkan dari pria yang lebih tua. Dan Sasuke hanya bisa memijit keningnya. Sepertinya memang akan lebih sulit daripada berbicara dengan Hikari.


A/N: hmmm, okeh. Nami bner2 kasih atas smw dkungannya. XDD This is the ninth chappie! Mungkin dalam satu ato dua chapter KIZUNA akan mncapai pda tujuan akhir. So beware! :3

Hanya dalam pikiranku, aku membisikkan namamu sendirian. Cinta yang egois tak akan bisa sampai padamu, ya 'kan? Menginginkanmu, aku memainkan sebuah piano. Suaranya diluapi oleh rasa sakit. Suara yang tetap hidup itulah yang akan sampai padamu.(SPiCa – Hatsune Miku)


KIZUNA – chapter IX – Life is a canvas, colored it

Ran menatap air terjun yang mengalir deras dari kejauhan. Butiran air kecil membentuk pelangi karena pantulan cahaya matahari. Ia mengamati sejenak sebelum memindai daerah sekitarnya. Ia turun ke lantai hutan dan melompat lebih rendah lagi. Tatapan datar dari mata hijaunya beralih dari kanan dan kiri. Jubah putih gading yang ia kenakan masih belum kering sepenuhnya. Saat ia tiba di tepi sungai air terjun itu, ia membungkukkan badannya dan mengambil sedikit air. Ia membasuh mukanya dan segera berdiri kembali.

Ia berpikir sejenak seraya menempatkan jarinya di dagu. Kemudian ia kembali melompat ke atas. Ia nyaris tergelincir jatuh saat melihat bayangan hitam dan putih di antara batu-batu terjal. Mata kirinya menyipit. Ia melepaskan pegangannya dan mengikuti bayangan itu. Bayangan itu yang jelas merupakan manusia masuk ke dalam sebuah gua.

"Hmm, begitu."

Wanita berambut gelap itu segera pergi menjauh dan berlari dengan kecepatan penuh. Sebisa mungkin menghindari dahan-dahan besar hutan. Kekuatannya ia fokuskan untuk mencari Hokage Konoha. Ia merasakan keberadaan Tsunade semakin dekat. Ia pun semakin cepat melompat dan mendarat dengan tangkas di tanah.

Sang Hokage menoleh, "Kenapa?"

Ran hanya menyeringai. Kemudian Tsunade melebarkan matanya, "Sudah ditemukan?"

"Mm," Ran menangguk, "ikuti aku."

Dengan sepatah kata itu keduanya menghilang di antara pepohonan lebat.

Sementara itu beberapa kilometer dari mereka Naruto mengusap keringat dari dahinya. Ia bersandar pada pohon dan membiarkan detak jantungnya lebih tenang. Ia sudah cukup jauh mencari. Tapi belum juga menemukan tanda-tanda dari Ryuu. Mungkin ia harus mencari di sepanjang sungai. Ia juga sudah membuat beberapa Bunshin untuk membantunya. Dan mereka semua mencapai batasnya sebelum kembali karena Naruto menggunakan Chakra-nya sendiri. Ia tahu ia harus beristirahat untuk mengembalikan Chakra-nya.

Tapi, ia tidak bisa. Dalam hatinya, ia tidak bisa hanya duduk diam. Ia harus... harus mencari.

"Oi, bocah, berikan tubuhmu sedikit istirahat. Setidaknya duduklah untuk beberapa lama."

Naruto menghela nafas berat mendengar Kyuubi mencoba berbicara kepadanya.

"Tidak bisa, Bola Bulu. Aku harus mencari Ryuu."

"Tch, keras kepala. Aku hanya memperingatkanmu. Lebih baik kau menuruti kata-kataku."

Naruto memejamkan mata dan berkonsentrasi memblokir Kyuubi dari pikirannya. Ia membuka kembali matanya dan menghembuskan nafas. Ia kembali berdiri. Ia bisa merasakan setiap otot tubuhnya ngilu dan hanya ingin relaksasi. Ia tidak pedulikan itu dan kembali melompat pada salah satu dahan besar.

I am Snow White line break. I died because of my own step mother jealousy.

Tsunade dan Ran tiba di sebuah mulut gua. Hokage kelima itu menatap wanita di sebelahnya, "Ini tempatnya?"

Ran mengangguk.

Keduanya berjalan dengan waspada. Mereka bisa melihat api unggun tak jauh dari situ. Saat Ran berjalan lebih dekat ia bisa melihat sosok kecil meringkuk di hadapan api yang sudah mengecil itu.

"Ryuu?"

Sosok itu menengadah dan sebuah senyuman mengembang di wajahnya, "Ran!"

Wanita berambut gelap itu segera mendekat dan memeluk Ryuu. Dan anak kecil itu memeluknya dengan erat. Ran bisa merasakan kulit anak itu lebih pucat dari biasanya. Dan tubuhnya masih terasa dingin. Jika dibiarkan begini, Ryuu bisa sakit.

"Ryuu, kita harus pergi dari sini. Tubuhmu dingin sekali."

Anak itu menyembunyikan wajahnya di leher Ran dan mengangguk. Ran menggendong Ryuu dan berdiri, "Kita pergi."

Tsunade mengangguk, "Apa kita boleh membawanya ke Konoha? Bagaimana dengan Naruto?"

Ryuu mendengar percakapan itu dan memilih untuk diam. 'Ke Konoha?' pikirnya. Bukankah itu tempat Kaa-san-nya berasal. Mungkin, jika kesana ia tak akan bisa bertemu dengan Kaa-san lagi. Karena ia tahu betapa Kaa-san tidak ingin pergi ke tempat itu. Tapi, sebagian dari dirinya sangat ingin tahu mengapa tempat bernama 'Konoha' ini dijauhi oleh Kaa-san. Apakah tempat ini sangat buruk?

Ryuu terlalu sibuk dalam pikirannya dan tidak merasa bahwa Ran dan Tsunade berhenti bicara. Ia mengedipkan mata dan melihat dari bahu Ran. Sosok 'ayah'nya berdiri di mulut gua. Wajahnya membuat suatu ekspresi yang Ryuu tidak ketahui.

Ran yang sadar bahwa Ryuu masih terbangun segera memukul ringan di bagian belakang lehernya. Anak itu kehilangan kesadaran dan bersandar lunglai di punggung Ran. Sekarang mereka bisa berbicara tanpa di dengar oleh Ryuu.

"Kalian akan membawanya kemana?" ujar Sasuke.

Tsunade menatap datar pria itu, "Konoha."

Sasuke mengerutkan dahinya, "Kenapa Konoha? Naruto tak akan senang jika ia tahu—"

"Sasuke Uchiha, dengarkan aku. Jika Ryuu tidak di bawa ke Konoha, Naruto tak akan pernah mau kembali! Apa kau mau itu terjadi? Dia adalah calon Hokage berikutnya, aku harus—"

Sasuke tanpa sadar mengaktifkan Sharingan-nya, "Jadi kau ingin dia kembali karena hal itu? Hokage atau bukan, persetan dengan itu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan Naruto harus menjadi Hokage berikutnya! Dan kau!"

Ran hanya mengedipkan mata saat Sasuke menunjuk ke arahnya, "Aku?"

"Bukankah kau yang bilang hanyaNaruto yang bisa memutuskan apakah dia bersedia atau tidak pergi ke Konoha?"

Wanita itu hanya menghela nafas. Ia memijat keningnya. Ia sangat tidak suka mendengarkan orang berteriak, "Begini, Uchiha. Aku memang dengan jelas mengatakan itu. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan dia terus-menerus lari dari masalah. Dia harus menghadapinya, menghadapimu. Sudah terlalu lama dia kehilangan sifat 'emas'nya.

"Mungkin kau tidak tahu atau terlalu bodoh untuk menyadarinya. Tapi, dia masih mengingatmu selama tahun-tahun si kembar ini dibesarkan. Naruto terkadang akan terbangun dan menatap bulan. Mungkin dia tidak tahu terkadang aku melihatnya. Dan ketika aku memutuskan untuk membawamu ke desa, aku tidak tahu ternyata kau sudah bersama Haruno itu."

Sasuke menyipitkan matanya, "Mereka memaksaku."

Tsunade terdiam mendengar itu dan Ran hanya melirik ke arah Hokage Konoha, "Ya, aku tahu. Para dewan tua bangka itu..."

Kemudian Ran melanjutkan, "Aku hanya ingin melihat Naruto bahagia."

Pria Uchiha itu menatap Ran, "Kenapa?"

Ran tersenyum dan menjawab, "Karena itu adalah suatu hal yang memang harus aku lakukan. Jadi, aku ingin kau juga kembali ke Konoha."

Tsunade menatap Sasuke, "Aku dan Ran akan pergi sekarang. Kau pergilah memberi tahu Kakashi, Kiba, dan Sakura. Beri tahu mereka untuk segera kembali. Dan sebagai hukuman berteriak dengan tidak sopan, kau harus mengerjakan laporan misi kali ini sendiri, Uchiha."

Sasuke mendengus keras mendengar itu.

Pembicaraan itu selesai dan ketiganya segera keluar dari gua. Mereka menyebrangi sungai dengan mudah, termasuk Ran. Meski ia bukan ninja tapi wanita itu tahu bagaimana menggunakan kekuatannya untuk bisa berjalan di air. Ia juga menggunakan kekuatannya untuk memanjat dinding sungai yang curam seperti Tsunade dan Sasuke. Ia terlalu fokus dengan keadaan Ryuu dan menggunakan kekuatannya. Sehingga tak menyadari bahwa Sasuke berhenti melangkah saat mereka tiba di lantai hutan.

Ran menaikkan alisnya, "Ada apa—"

Sayangnya ia tak menyelesaikan pertanyaan itu. Ran melihat ke arah yang sama dengan Sasuke. Dan ia mengerti apa yang membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya. Di hadapan mereka Naruto berdiri dengan tatapan lega. Tapi, raut wajahnya mulai berubah. Dan Ran tahu sepertinya keadaan ini tak akan berjalan lancar seperti yang ia duga. Wanita itu hanya bisa menelan ludah. Sementara itu Naruto berjalan perlahan, mendekati mereka. Dan tatapannya berubah menjadi berkilat.

"Akan kalian bawa kemana Ryuu?"

Ran mengernyit mendengar suara dingin itu. Benar-benar tidak bagus.

"Naruto, Ryuu kedinginan dan harus dibawa kerumah sakit*," Tsunade angkat bicara.

Mata biru itu seperti samudra yang mengamuk. Pandangan Naruto bertemu dengan Tsunade, "Kami memiliki penyembuh yang hebat di desa. Aku tidak butuh rumah sakit."

Sasuke memijit keningnya, "Jalan terdekat dari sini adalah Konoha, Dobe. Daripada berdebat lebih baik kita membawa Ryuu secepatnya. Dia sudah terlalu lama berjalan di tengah badai tadi malam. Sesuatu yang buruk mungkin terjadi dalam tubuhnya. Dan dia butuh diperiksa."

"..." Naruto terdiam mendengar respon Sasuke.

Ia tahu keadaan Ryuu memang tidak baik. Tapi, ia tidak ingin kembali ke desa itu. Terlalu banyak kenangan di sana. Baik atau buruk. Dan lagi, ia tahu dewan Konoha tak akan senang jika mereka tahu si Jinchuuriki Kyuubi kembali ke desa mereka. Bukannya ia sangat takut dengan dewan itu. Tapi, mereka bisa saja melakukan berbagai cara untuk mengusirnya lagi. Dan dia tidak ingin Ryuu mengalami nasib seperti dirinya hanya karena ia adalah anak Naruto.

Laki-laki berambut kuning cerah itu terlalu sibuk dengan pikirannya. Terlalu banyak yang ia pikirkan. Sementara tubuhnya sudah tak ingin lagi bergerak. Pandangannya mulai kabur seraya tangannya naik ke kepala dan memijit keningnya. Matanya berkedip dan terasa sangat berat.

Sasuke mengerutkan dahinya ketika Naruto terdiam dan memijit keningnya. Ia tahu Uzumaki di hadapannya juga mencari Ryuu semalaman. Dari bajunya yang masih basah menandakan Naruto tidak beristirahat dengan cukup. Atau mungkin ia malah berlari dalam badai dan tidak berteduh. Mata gelapnya melebar saat Naruto terlihat lemah dan jatuh. Tsunade bergerak maju untuk membantu. Namun Sasuke lebih cepat.

Uchiha itu menangkap Naruto sebelum tubuhnya menimpa tanah. Laki-laki bermata biru itu kehilangan kesadaran. Mungkin karena kelelahan. Matanya tertutup dan tubuhnya terlihat lemah. Sasuke mengangkatnya dengan kedua lengannya*. Ran yang melihat itu hanya tersenyum tipis.

"Kalau dia sampai ingat kau menggendongnya seperti itu, kau pasti akan ditendang dengan keras," ujar Ran sambil menyeringai.

Sasuke menatap Ran datar. Ia tidak menghiraukan kata-kata itu dan menoleh ke arah Hokage. "Bagaimana dengan Kakashi dan yang lainnya? Aku tidak bisa membiarkan Naruto dan pergi memberi tahu mereka untuk kembali."

Ran merasa kedutan di kepalanya muncul dan dia memotong Sasuke. "Aku akan memberi tahu mereka." Dalam hati Ran mengomel, 'Tidak menghiarukanku, dasar bocah.'

"Kau bawa saja dia. Kalian pergilah dulu. Aku akan menyusul dengan ninja Konoha," ujarnya sambil mengalihkan Ryuu.

Tsunade mengangguk dan melompat ke dahan terdekat. Sasuke mengikutinya di belakang. Segera setelah kedua ninja itu tak lagi terlihat, Ran berlari kembali ke desa dengan kecepatan penuh. Dengan sigap ia melompati akar-akar besar dan semak. Mata kirinya fokus ke depan dan kakinya semakin memacu untuk lebih cepat lagi.

Nafasnya memburu dan ia melompat ke dahan besar. Ran menghela nafas panjang saat kediaman Aozora mulai terlihat. Rumah besar itu memang dekat dari hutan. Dan wanita berambut gelap ini baru saja memotong jalan untuk mendapat rute terdekat. Ia tidak takut tersesat. Karena memang sudah sejak lama ia mengenal dan hidup dari hutan ini. Sejenak ia kembali mengingat masa lalunya yang buram. Tanpa sadar langkahnya melambat saat ia meraih penutup mata kanannya.

Ran memejamkan matanya dan membukanya kembali. 'Ini bukan saatnya mengingat masa lalu, ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan,' pikirnya. Ia kembali menaikkan kecepatannya dan melesat menuju Rumah Besar.

Ran mendarat di atap rumah itu. Ia turun dan segera mencari salah satu dari ninja Konoha. Ia melewati lorong-lorong rumah hingga ia melihat sosok berkepala abu-abu berdiri di hadapannya. Orang itu masih memegang buku berwarna jingga yang-entah-apa-isinya. Ran berjalan mendekat. Ia tahu ninja itu sudah menunggunya. Lagipula ninja selalu memiliki cara untuk mendapatkan informasi.

"Jadi?" ujar Kakashi.

Ran menghela nafas, "Kalian harus cepat kembali."

"Ara—"

"Jangan tanya," potong Ran, "lakukan saja perintah Hokage. Lagipula dia pemimpin kalian 'kan?"

Kakashi masih memasang senyumnya, "Apa kau tidak mau memberi tahu apa yang baru saja terjadi?"

Wanita itu memutarkan bola matanya, "Tidak. Tidak akan. Pulang dan lihatlah sendiri. Atau tanya saja pada Uchiha itu."

Kakashi mengangguk dan beranjak pergi sebelum Ran mengatakan sesuatu. "Dan jauhkan orang bernama Haruno itu dari Naruto."

"Hmm?"

Ran menatap Kakashi, "Jika tidak dia akan menerima balasannya dariku."

Kakashi mengernyit. Beberapa detik yang baru saja berlalu ia berani bersumpah mata kiri yang tadinya berwarna hijau itu berubah berwarna kuning dan pupilnya menyempit. Kakashi hanya mengangguk kembali dan pergi. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Atau mungkin tidak. Tapi, lebih baik ia jauhkan Sakura dari Naruto. Karena Kakashi tahu Chakra wanita bernama Ran itu tidak sama dengan manusia. Jonin itu berjalan mencari Kiba dan Sakura. Mereka harus segera bersiap untuk kembali ke Konoha.

I am the Time line break. I always move forward, never backward.

Sementara itu, Tsunade sudah memerintahkan Shizune untuk menyiapkan ruangan khusus untuk Naruto dan Ryuu. Karena ia masih tidak ingin siapapun tahu. Cukup Sasuke saja...

"Aku juga tahu, Hokage-sama," ujar sebuah suara.

Tsunade merasa pening di kepalanya semakin menjadi. Entah bagaimana, Shikamaru selalu mempunyai caranya sendiri untuk mengetahui hal yang harusya orang lain tidak tahu. Sebenarnya tidak heran, mengingat Shikamaru adalah yang si jenius dalam angkatan Naruto. Meskipun terlihat malas dan selalu menyebut tugas dengan 'merepotkan' tapi Shikamaru bisa membuat orang berdecak kagum.

Okeh, satu lagi orang yang mengetahui tentang keberadaan Naruto. Tunggu, Kakashi pasti juga akan mengetahuinya. Tsunade mengerang dalam hatinya. Dan Kiba... Tidak, pikiran Kiba terlalu sederhana. Ninja itu tak mungkin mengetahui keberadaan Naruto dengan cepat. Berbeda dengan Sakura... Tsunade tidak tahu harus bagaimana dengan muridnya itu. Sejauh yang dia ingat Sakura adalah murid yang baik. Ia juga sahabat Naruto setelah Sasuke pergi. Tapi, ia juga merasa ada perubahan pada Sakura setelah kepulangan Sasuke.

"Jadi, dia dimana, Hokage-sama?" ujar Shikamaru..

Tsunade membuyarkan pikirannya dan mengeringkan tenggorokannya, "Dia sedang dalam perawatan. Dia pergi terlalu lama dalam badai."

"Kenapa?" tanya Shikamaru.

Tsunade menghela nafas, "Pertanyaan itu tak bisa aku jawab sekarang. Dan jika kau menemukan tempat dimana aku menyembunyikan Naruto, jangan tanyakan pertanyaan itu. Setidaknya, tidak sekarang."

Shikamaru memutar otaknya. Ia tahu, meski Naruto mirip dengan Kiba, tapi pemuda ceria itu tidak cukup bodoh untuk berlari dalam badai tanpa alasan yang kuat. Contoh alasan kuat adalah mengejar Sasuke. Tapi, Nara muda itu hafal benar tidak mungkin Naruto mengejar Sasuke. Ia bahkan meninggalkan Konoha mungkin untuk menghindari Uchiha Terakhir itu. Sampai sekarang ia masih tidak paham dengan alasan Naruto meninggalkan desa yang ia cintai.

Tapi, apapun alasan itu, ia tahu itu adalah suatu hal yang sangat besar. Dan Naruto tidak ingin siapapun tahu sebelum ia sendiri yang bercerita.

Shikamaru hanya mengangguk dan menghilang dalam kepulan asap. Ninja berkepala nanas itu menempatkan jarinya di bawah dagu. Cepat atau lambat berita tentang keberadaan Naruto di Konoha akan tersebar. Dan itu juga akan memancing kehebohan. Pertama dewan Konoha. Mungkin mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Naruto pergi dan tidak pernah kembali. Kedua, Gaara. Gara-gara kedekatan dirinya dengan Temari, Kazekage termuda itu sering datang juga ke Konoha. Dan setiap datang hal pertama yang ia bahas pasti Naruto.

Shikamaru tahu bahwa Naruto dan Gaara sangat dekat. Mungkin bukan kedekatan yang lebih dari teman. Karena ia tahu Naruto memiliki perasaan tertentu pada satu orang dan itu bukan Gaara. Mungkin lebih mirip seperti saudara. Karena keduanya adalah Jinchuuriki. Orang yang dibenci karena apa yang ada dalam tubuh mereka.

Shikamaru hanya berharap Naruto tidak terluka. Baik fisik atau mental. Karena siapapun yang melukainya pasti akan mencicipi pasir mematikan sang Kazekage. Mungkin, dalam hal ini Sasuke akan merasakannya.

"Merepotkan," ujarnya.

Mungkin Sasuke masih bisa bertahan. Tapi ia tidak tahu jika dewan Konoha bisa merasakannya. Karena dengan keberadaan Gaara sebagai Kazekage, ia bisa saja memutus hubungan kedua desa. Suatu hal yang pasti akan membuat para tetua bawel itu bertekuk lutut. Tapi, jika itu terjadi, hal itu tidak baik juga untuk Konoha.

Dan Sakura...

Shikamaru mengerutkan dahinya. Wanita itu berubah sejak Sasuke kembali. Pemuda Nara itu pernah berpikir bahwa Sakura sudah menyerah dengan Sasuke. Bahkan ia sempat menduga Haruno menyukai Naruto. Karena ia sempat melihat tatapan tidak suka Sakura ketika Hinata berada dekat dengan Naruto. Tapi, setelah dewan Konoha memutuskan untuk mengadakan pertunangan itu demi kelanjutan klan Uchiha, Sakura berubah. Ia bahkan tak lagi dekat dengan Ino seperti dulu.

Mata hitamnya memandang ke arah langit sebelum kembali ke jalan. Ia mengedipkan matanya saat sosok familiar berjalan dengan arah yang berlawanan.

"Iruka-sensei?" panggil Shikamaru.

Laki-laki itu menoleh, "Ah, Shikamaru."

Shikamaru tersenyum saat mantan gurunya menyapanya. Setidaknya ia terlihat lebih baik—sekarang. "Baru saja dari akademi, Sensei? Seperti biasanya?"

Iruka tersenyum, "Yah, seperti biasa. Aku juga baru saja dari Teuchi. Sudah cukup lama aku tidak makan ramen buatannya."

Senyum Shikamaru memudar tapi, cepat-cepat ia ganti dengan senyum palsu. Setelah bertahun-tahun sejak Naruto menghilang Iruka-Sensei masih tetap berusaha untuk menghilangkan kesedihannya. Semua orang tahu bagaimana Iruka sangat menyayangi pemuda itu. Karena dia sudah menganggap Naruto sebagai anaknya sendiri. Ingin sekali rasanya Shikamaru bertanya dimana Naruto berada. Bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang yang selama ini sudah merawatnya. Ia yakin, Iruka-Sensei akan sangat senang mengetahui itu. Tapi—

"Shikamaru?" panggil Sensei-nya.

Ninja Bayangan itu membuyarkan angan-angannya, "Ya?"

"Hari mulai sore dan—"

"Ah, silakan Sensei," Shikamaru memotongnya saat ia mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

Iruka tersenyum kembali dan melangkah pergi.

Shikamaru tidak suka dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi. Iruka hanya ingin melihat Naruto. Dan Shikamaru tahu Naruto berada dalam desa ini. Tapi, Tsunade sendiri tidak mau memberi tahunya. Dan dia menghela nafas saat menyadari satu hal. Tsunade tidak datang sendiri. Karena ia melihat Sasuke keluar dari rumahnya pagi ini. Ia tahu Sasuke sedang melakukan misi dengan Kakashi. Tapi, melihat Sasuke datang ke Menara Hokage tanpa tim menandakan ada sesuatu yang terjadi. Dan saat ia mengikutinya barulah ia tahu apa yang terjadi.

Bertanya pada Uchiha yang satu itu sebenarnya opsi terakhir. Sekalipun Shikamaru tidak bisa mengetahui keberadaan Naruto tapi ia memiliki cara untuk membuat Uchiha yang arogan itu membiarkan Iruka mengetahuinya.

I am author line break. Damn! I wanna have scanner of my own!

Jauh dari Konoha Ran memperhatikan ninja Konoha yang sudah bersiap untuk pergi. Ketiganya tampak memiliki wajah serius. Bahkan Kiba. Meskipun Kakashi memasang wajah datar, tapi Ran bisa merasakan bahwa ia sedang berpikir. Sebenarnya itu karena ninja berambut abu-abu itu tidak membaca novel sakti miliknya. Dan Ran hanya berharap apapun yang ada dalam pikiran wanita berambut pink itu tidak ada hubungannya dengan Naruto. Mengingat itu, ia menggenggam pedangnya dengan lebih erat.

"Jadi, berangkat?" sebuah suara memecahkan keheningan.

Mata hijau Ran melirik. Ia melihat Ageha menggandeng tangan Hikari. Dan wanita berambut gelap itu mengangguk, "Ya. Kita berangkat."

"Tunggu. Kita tidak bisa berjalan seperti saat kita berangkat," ujar Kiba.

Ran menyipitkan matanya, "Kenapa?"

"Aku ingin segera tahu apa yang terjadi dengan Naruto dan anak itu. Kita bisa berlari—"

"Oh, kau punya ide? Bagaimana dengan Hikari dan Aozora-sama*?" cetus Ran.

"Ada," kali ini Kakashi angkat bicara.

Kali ini Kakashi kembali membuat wajah bermata u terbalik. Dan dia melanjutkan, "Hikari bisa naik ke punggung Akamaru. Tidak masalah 'kan, Kiba? Akamaru?"

Kiba mengangguk dan Akamaru menyalak senang.

"Dan menurutku tidak masalah kalau aku atau Sakura menggendong Ageha-sama?" usul Jonin itu.

Mendengar itu yang bersangkutan memprotes, "Tidak mau."

Ran melirik ke sebelahnya, "Huh?"

"Aku cuma mau menaiki punggungnya," ujar Ageha sambil memegang lengan baju Penjaganya.

Wanita berambut gelap itu menyipitkan matanya, "Kita sedang dalam keadaan yang tidak bagus. Dan kau mau aku memberimu piggy back*?"

Mata berwarna jingga yang tadinya cerah menjadi lebih gelap. Tak ada yang memperhatikan gerakan Ageha. Dia menggenggam lengan baju Ran dan memberikan tarikan kuat. Dengan satu kali gerakan membuat sang Penjaga yang tidak waspada itu mencium tanah. Kiba hanya bisa menganga melihat itu. Sementara Kakashi mengedipkan matanya... Satu kali, dua kali... Wow(?)

"Damn!" satu-satunya kata yang keluar dari mulut Ran seraya ia kembali berdiri.

Kiba yang melihat itu menatap Sakura, "Aku berani bertaruh anak itu bisa menyaingimu, Sakura."

Sakura hanya menatap tajam pemuda itu sebagai balasan.

Ran memberikan tatapan menyeramkan dan—err ingin membunuh(?) kepada Ageha yang melipat tangannya. Ageha menjulurkan lidahnya. Ran yang masih dengan mood tidak bersahabat akhirnya berlutut dengan punggung menghadap ke arah Ageha. "Jangan salahkan aku kalau kau jatuh," omelnya.

Wajah Ageha berseri-seri mendengar itu, "Yey!"

"Dan kau menyebut dirimu bukan anak kecil," Ran mengomel lagi.

"Ahem, baiklah semuanya sudah diputuskan kita lebih baik cepat berangkat," sela Kakashi.

Semuanya mengagguk dan mulai melompat ke salah satu dahan pohon. Bergantian mereka berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Kiba melirik ke arah Hikari yang menggenggam leher Akamaru dengan erat. Ia terlihat senang dan ragu-ragu disaat yang bersamaan. Well, tidak setiap hari dia menaiki anjing ninja yang besar seperti Akamaru. Pemuda itu merasa bangga dengan partner-nya. Akamaru bukanlah anjing biasa bagi Kiba. Anjing putih besar itu sudah menjadi teman, sahabat, atau partner dalam hal apapun. Bahkan terkadang mereka mandi bersama.

Kemudian matanya beralih ke arah Ran. Ia tidak menyangka wanita itu bisa menandingi kecepatan mereka, para ninja. Dari jaraknya dengan Ran saja, sepertinya Ran bisa mendahului kapan saja. Akhirnya dia ingat sesuatu.

"Oi, Ran," panggilnya.

"Apa?"

Kiba memasang muka serius, "Kalau kau bisa ber'lari' secepat ini kenapa tidak dilakukan sejak awal kita mengantar Aozora-san pulang?"

Alis berwarna gelap terangkat, "Memangnya kenapa? Aku punya alasan untuk tidak menunjukkan kemampuanku. Aku tidak suka memperlihatkan kekuatan."

Kiba membentuk mulutnya seperti huruf 'o' mendengar itu. Kemudian dia kembali bertanya, "Satu hal lagi. Aozora-san sepertinya sangat kuat ya? Kau dibuatnya mencium tanah tadi."

Kiba menyeringai setelah menyelesaikan kalimatnya. Ran menatap tajam ke arah pemuda itu. Sebelum ia sempat menjawab, Ageha memotongnya, "Tentu saja aku sangat kuat."

Kiba tertawa kecil mendengar itu, "Kau bisa mengalahkan Ran?"

"Ahmm—"

"Dia tidak bisa. Dan tidak akan pernah," kali ini Ran memotong.

Ageha mengerucutkan bibirnya. Kiba mengangkat alisnya, "Kenapa?"

"Tidak semua murid bisa mengalahkan gurunya. Tidakkah kau setuju?" Ran menyeringai.

Kiba mengedipkan matanya, "K-kau gurunya?"

"Well, duh. Aku juga guru dari si kembar itu. Lagipula kalau tuan putri satu ini tidak mempelajari ilmu untuk membela dirinya, aku tak akan berada disini."

"Memangnya kenapa?"

Ran mengerutkan dahinya, "Kau bertanya terlalu banyak."

Kiba hanya bisa mengedipkan matanya, lagi, saat Ran melompat lebih jauh.

I am Draco line break. Author said I'm no 'Uke material'. She like it if I topped the Potty.

Di suatu sudut di dalam Menara Hokage, ruangan serba putih sedang menyembunyikan sesuatu. Atau lebih tepatnya seseorang. Mm, tidak, dua orang. Masing-masing dari mereka tertidur di atas tempat tidur. Mereka dipisahkan oleh sebuah tirai berwarna biru. Matahari yang bersinar cerah masuk ke dalam ruangan itu. Membuat sepasang mata bergerak perlahan dan terbuka. Sepasang mata berwarna biru cerah itu berusaha menghilangkan kantuk yang masih menempel pada dirinya.

Dia duduk dengan pelan, berusaha sebisa mungkin tidak membuat banyak gerakan. Karena punggungnya, entah kenapa, terasa sedikit sakit. Dia akan memijit keningnya sebelum menyadari ada sesuatu yang menahan tangannya. Naruto melihat Sasuke.

Sosok berambut gelap dengan trademark seperti ekor bebek di bagian belakangnya itu menggenggam tangan kanannya. Sang Uchiha masih menutup matanya dan tidak sadar bahwa yang ditunggunya sudah terbangun. Wajah yang terlihat aristokratik itu terlihat damai. Setidaknya tidak ada senyum masam di sana. Naruto tersenyum sejenak sebelum ia menyadari apa yang baru saja dia pikirkan.

Pemuda itu menarik tangannya perlahan. Ia tidak ingin berkonfrontasi dengan Sasuke sekarang. Tidak setelah apa yang terjadi beberapa jam lalu. Pikirannya terpotong saat ia mendengar pintu di geser.

"Shizune-nee-chan?"

Wanita berambut gelap dan pendek itu tersenyum hangat, "Senang bisa bertemu lagi denganmu, Naruto."

Pemuda itu menundukkan kepalanya, "Maaf."

"Kenapa?"

"Aku sudah menghilang beberapa tahun ini. Aku—"

Shizune meletakkan tangannya di kepala berambut cerah itu, "Kau pasti memiliki alasan yang kuat. Seperti anak yang manis itu contohnya."

Mendengar itu Naruto menatap Shizune saat ia ingat dengan Ryuu, "Di-dimana—"

Shizune tersenyum, "Tenang saja, dia ada di balik tirai itu. Tertidur. Dia tidak sepertimu, Naruto. Anak itu membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi lebih baik daripada dirimu."

Narut menghela nafas lega, Shizune melanjutkan, "Aku kemari ingin mengetahui perkembanganmu."

Asisten Hokage itu berjalan dan berdiri di sebelah kiri tempat tidur. Ia mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dan Naruto memperlihatkan lengannya. Sesekali Shizune melihat ke arah Naruto dan Sasuke dengan bergantian.

"Shizune-nee-chan, kenapa Sa—maksudku dia di sini?"

Shizune tahu siapa yang dimaksukan itu, "Kenapa? Kau punya masalah dengan Uchiha?"

"Aku tidak suka dia di sini," ujarnya lirih.

Shizune menghela nafas," Mungkin kalian memang memiliki masalah. Tapi apapun itu, jika kalian tidak berbicara satu sama lain, masalah itu tidak akan pernah terselesaikan. Semua masalah hanya memiliki satu kendala, yaitu berbicara. Jika kalian mau mendengarkan ketika yang lain menjelaskan aku yakin pendapatmu akan berubah, Naruto."

Naruto terdiam mendengar itu. Selama ini dia memang tidak membiarkan Sasuke berbicara. Karena dia tidak ingin tahu yang sebenarnya.

Tangan wanita itu kembali mengelus kepalanya, "Uchiha itu orang yang baik. Meskipun terkadang caranya berbicara atau bersikap membuat orang ingin memukulnya. Dia juga yang mengantarmu kesini."

Naruto bertemu pandang dengan Shizune. Tatapan mata birunya seolah tak percaya saat Shizune melanjutkan, "Aku membayangkan kalian seperti pangeran yang baru saja menyelamatkan putrinya~"

Kali ini Shizune tertawa kecil. Wanita itu memang terkejut saat melihat Sasuke membawa Naruto di lengannya. Dan Naruto tidak sadarkan diri. Tapi, melihat keduanya membangkitkan memori lamanya ketika ia membaca cerita tentang seorang pangeran yang menyelamatkan seorang putri.

Sedangkan Naruto hanya bisa menganga mendengar kata-kata Shizune. Ia menatap sosok yang masih tertidur. Sasuke duduk disebuah kursi dan meletakkan kepala dan lengannya di tepi tempat tidur Naruto. Sebelum Naruto melayangkan kepalan tangannya Shizune menggenggam lengannya, "Jangan bangunkan dia. Dia duduk di situ semalaman dan tidak pulang. Dia ingin memastikan sendiri bahwa tidak ada yang tahu keberadaanmu."

Naruto mengerutkan dahinya, "Kenapa?"

"Karena tidak semua orang senang dengan kepulanganmu, Naruto."

Pemuda itu mengerti apa maksudnya. Mungkin teman-temannya dan Iruka sensei akan bahagia. Tapi, tidak semua orang menyukainya. Naruto mengangguk pelan. Shizune tersenyum dan membereskan peralatannya. Dia berjalan keluar dari ruangan itu sebelum dia menoleh kembali ke arah Naruto, "Ah, Naruto?"

Pemuda itu menoleh. Shizune melanjutkan, "Berterima kasihlah pada Uchiha-kun."

Naruto masih menatap pintu geser itu. Berterima kasih katanya. Pfft, untuk apa. Untuk membawanya seperti seorang putri—Naruto bisa merasakan wajahnya menghangat. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Pikiran bodoh! Bodoh! Bodoh!

Tunggu dulu, itu 'kan julukan Sas—julukan yang biasa orang 'ini' gunakan. Entah harus marah atau mengasihani dirinya sendiri. Tapi Naruto baru saja menyebut dirinya bodoh seperti yang biasa Sasuke lakukan saat mereka masih genin. Mata birunya kembali melihat sosok yang sedang terlelap di sampingnya. Orang ini juga yang merahasiakan keberadaannya pada siapapun. Jika Sasuke memiliki rencana dan melakukannya sendiri, rencana itu jarang gagal. Naruto menggigit bibirnya. 'Dasar Teme bodoh! Kau membuat benang kusut dalam pikiranku bertambah,' pikirnya.

Naruto menghempaskan dirinya kembali ke tempat tidur. Entah kenapa ia merasa lelah setelah apa yang baru saja Shizune katakan. Mungkin tidur akan membuatnya lebih baik. Mata biru itu terpejam dan sang mimpi mengulurkan tangannya. Naruto membiarkan dirinya di tarik dalam buaian mimpi indah.

Tak ada yang sadar bahwa Sasuke mendengarkan dengan sabar. Suara nafas yang teratur meyakinkannya bahwa Naruto sudah tertidur. Ia membuka matanya dan memandang sosok ramping itu terlelap. Dada yang naik turun dan nafas yang ringan. Cahaya matahari sepertinya sudah membutakan mata Sasuke. Segila apapun kata-kata yang melayang dalam pikirannya, hanya satu yang pasti. Ia ingin berada dekat dengan orang ini.

Tangan pucatnya terjulur dan menyentuh rambut kuning cerah. Ia membelai rambut yang sedikit lebih panjang dari yang ia ingat. Matanya memperhatikan perubahan Naruto. Pemuda itu tersenyum tipis saat menyadari Naruto menyandarkan kepalanya lebih dekat dengan tangannya. Setidaknya dalam bawah sadarnya, Naruto tidak membencinya.


Random facts:

*) umm, Nami ragu nih, kalo didunia 'Naruto' tuh namanya emang 'rumah sakit' apa bukan. Kok rasa-rasanya ga cocok.

*) Naru digendong a la bridal style. *smirk*

*) well, Ran manggil Ageha sbagai Aozora-sama didpan publik. Tpi, 'terpaksa' manggil dgn Ageha wktu cm sndiri. Anggap saja alasan pribadi.

*) Tau artinya piggy back 'kan? Tu gendong di punggung.

Review answer

Q: kenapa Naru ga pake mode sage?

A: Begini, kalian yg udah liat movie KIZUNA pasti nyadar Orochi blum mati. Kalo dy belom mati berarti setting waktunya jauh sebelum Naruto dikirim ke si kakek katak itu utk blajar mode sage. Bahkan disitu Jiraiya masih hidup. Kalo dikomik Naruto dikirim stlah kematian Jiraiya, y 'kan? Jadi dy ga pake mode sage karena disini dy ga pernah dpt kesempatan untuk mempelajari itu.

Q: jarak desa ma Konoha dket banget ya?

A: sbnernya si, lumayan juga. Kalo jalan biasa bisa ampe 3-2 hari. Tapi, kalo ninja kecepatan penuh, ya sehari ato bahkan kurang juga udah nyampe dari desa ke Konoha.

Q: apa ada antagonis lain slain si pinky?

A: ada kok. Banyak malah... Contohnya adalh si dewan Konoha. Kalian bkal lihat btapa mereka memojokkan sasu nanti. Mungkin di chapter berikutnya...

To Kitsune-chan: *smirk* so, do you really like Ran and Ageha now? And I like your 'reward' from the last chapter. Will I get another 'reward'? *smirk wider* I hope, I will.

Ehem, ehem. Baiklah karena semua sudah terjawab, langsung saja. Tamu kali ini adalah...

Tenten: Aku!

Me: mm, okeh. Sebenarnya semua orang yg muncul dlm sesi ini adalah orang2 yg perannya sedikit ato bahkan tidak ada dialognya.

Tenten: apa? ... *pundung*

Me: ahh, sudahlah, setidaknya author masih ingat padamu. Cepat lakukan tugasmu T.T

Tenten: author jahat! Reviewnya jangan bagus2! Karena authornya jahat! X