Heartbeat
EXO Fiction
Characters: Chanyeol, Jongin (Kai), Jongdae, Luhan, Kim Minseok (Xiumin), Kris and others
Pairing: ChanKai, KrisKai
Warning: BL, Typo
Rated: T-M
Boomiee92
Hai ini chapter sembilan selamat membaca, maaf atas segala kesalahan terutama typo. Saya ngebut update sebelum puas. Happy reading all….
Previous
"Hentikan keras kepalamu itu!" Teriak SeokJin. "Melindungi Kris dengan cara salah berarti kau sudah mendukung setiap tindakan kriminal Kris, Luhan."
Luhan mendesis pelan sambil memijit batang hidungnya. "Aku belum bisa memikirkannya SeokJin."
"Pikirkan dengan cepat Luhan." Ucap SeokJin sebelum memutar tubuhnya dan melangkah berniat pergi.
"Kapan rencanamu kau jalankan?"
"Rahasia."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Untuk masalah Kris aku belum bisa mempercayaimu Luhan, maaf."
"Baiklah—aku mengerti dan SeokJin kau tidak menyentuh rekening yang aku berikan padamu."
"Suap saja penegak hukum yang lain Luhan bukan aku. Aku tidak ingin ikut campur dengan bisnismu, karena ayah kita bersahabat. Itu saja."
"Terserahlah. Kau akan menemui Chanyeol sekarang?"
"Tidak, aku akan menyelesaikan beberapa urusanku yang tertunda. Sampai jumpa Luhan."
"Sampai jumpa SeokJin. Tolong jangan menyakiti Kris." SeokJin hanya mengangguk kemudian melangkah cepat keluar dari rumah mewah Luhan.
BAB SEMBILAN
Hujan tengah malam menurunkan suhu udara dengan cepat, tak sampai titik beku tentu saja sebab sekarang musim panas tengah berlangsung. Pada waktu ini, Chanyeol mulai bermimpi. Bermimpi tentang Jongin. Jongin yang meninggalkan dirinya dalam sebuah lorong panjang gelap. Merasa tidak akan bisa terlelap kembali, Chanyeol putuskan untuk turun dari tempat tidurnya yang nyaman. Melangkah pelan menghampiri pintu kamar, lampu remang-remang menambah kesan kesunyian di dalam tempat tinggalnya. Mengecek ponsel pintarnya di atas nakas, Chanyeol mendapati satu pesan Line baru dari SeokJin. Hanya pesan singkat namun mampu membuat jantung Chanyeol berpacu cepat.
SeokJin
Pembebasan Jongin akan aku lakukan secepatnya.
"Kim SeokJin!" Chanyeol berteriak cukup kencang, suaranya menggema ke setiap sudut ruangan. Ia langsung membalas pesan SeokJin menunggu dengan cemas namun SeokJin tak juga membaca pesannya. Chanyeol mencoba menghubungi SeokJin hasilnya nihil. "Hah!" Mendengus kasar Chanyeol lantas menyambar kunci motor dan dompetnya dia juga menarik jaket pada gantungan baju dengan serampangan.
"Tuan!" Salah seorang pengawal Chanyeol memanggil, namun panggilan itu Chanyeol abaikan. Ia berlari menuju garasi mengambil motor sport berwarna hitam miliknya, memakai helm dengan tergesa dan secepat itulah Chanyeol melesat meninggalkan kediamannya.
Pukul dua pagi, jalanan tak sepenuhnya sepi namun tak juga padat. Membuat motor Chanyeol melaju dengan mulus dengan kecepatan maksimal yang berani Chanyeol capai. Setangah jam waktu yang dibutuhkan menuju pinggiran Seoul ke kawasan perumahan sederhana yang nyaman dan aman. Kompleks tempat tinggal para Polisi dan Tentara. Siapa penjahat yang berani masuk ke kandang macan?!
Chanyeol menurunkan kecepatan motornya melintasi jalanan mulus yang membelah lokasi perumahan. Menghentikan motornya di depan sebuah rumah berukuran sedang berpagar rendah dengan mawar rambat melilit bagian bawah pagar. Chanyeol turun mendorong pagar tak terkunci membiarkan motornya di depan pagar, lingkungan yang terjamin keamanannya Chanyeol tak perlu cemas. Berlari-lari kecil melintasi halaman rumah yang tak luas dan tanpa tumbuhan lain kecuali semak mawar. Melompati tiga undakan sekaligus dan berdiri di beranda menatap pintu masuk berwarna cokelat alami tanpa cat. Mengabaikan sopan santun Chanyeol menekan bel dengan brutal.
TRIIIINGGG! TRIIINGGGG! TRIINGGGG!
SeokJin sebenarnya sudah berdiri di depan pintu namun dia hanya diam sengaja menguji kesabaran Chanyeol. Tangan kanannya dengan malas bergerak memutar anak kunci dilanjutkan menarik lepas slot kunci.
BRAK!
Pintu terbanting ke dalam, SeokJin mengambil keputusan tepat dengan mundur beberapa langkah, jika itu tak dilakukan dahi dan hidung SeokJin pasti sudah menjadi korban. "Selamat datang Chanyeol."
"Kau!" Pekik Chanyeol menarik kuat leher kaos putih longgar yang SeokJin kenakan lantas mendorong SeokJin dengan keras ke belakang. SeokJin nyaris terjungkal namun tidak mengatakan apa-apa, juga tidak memberikan ekspresi apapun. "Apa yang kau inginkan SeokJin?!"
"Aku sudah menduga kau akan datang. Seseorang yang tidak pernah bisa menahan diri, tergesa-gesa. Sikap pemberani itu baik namun tanpa perhitungan itu namanya gegabah." SeokJin mengabaikan kemarahan Chanyeol. "Duduklah Chanyeol." SeokJin berujar tenang sambil menurunkan tangan Chanyeol dari leher kaosnya.
"Aku tidak butuh basa-basimu!"
Tatapan lembut SeokJin seketika berubah. "Katakan apa yang kau inginkan sekarang."
"Jangan membahayakan nyawa Jongin."
SeokJin tersenyum miring. "Aku sudah memperhitungkan semuanya, Chanyeol ini bukan operasi penyelamatan pertamaku. Aku akan melakukannya secara rahasia dengan tim yang aku percayai." SeokJin menatap Chanyeol. "Ini bukan penyelamatan resmi, pihak kepolisian tak mengetahui semua ini. Dan Kris bukanlah orang biasa. Pilihan ada ditanganmu kau ingin Jongin dibebaskan dengan cara apa?"
"Dengan cara yang terbaik."
"Perundingan? Pendekatan? Negosiasi?"
Chanyeol menarik napas dalam-dalam mencerna setiap pertanyaan SeokJin sementara otaknya mencoba untuk memberikan jawaban yang terbaik. "Ya, jika itu yang terbaik."
"Baiklah Negosiasi, akan aku lakukan negosiasi namun jika itu tak berjalan dengan baik bagaimana?"
"Lakukan caramu asalkan kau bisa menjamin keselamatan Jongin."
"Keselamatan sandera adalah prioritas utama."
Dalam jarak yang begitu dekat, Chanyeol meneliti wajah SeokJin bibir penuh dan hidung mancung. "Kenapa kau memutuskan untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat? Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku untuk berhati-hati dalam masalah ini?" Chanyeol bertanya tanpa melepaskan tatapannya pada wajah SeokJin.
"Jika semakin lama kau akan kehilangan Jongin. Stockhlom Syndrome." SeokJin menjeda kalimatnya menatap kedua mata bulat Chanyeol dan mau tak mau sedikit bernostalgia dengan masa lalu. "Dimana korban penculikan akan menaruh simpati pada si penculik dan berbalik membelanya. Apa kau ingin itu terjadi?" Chanyeol menggeleng pelan.
SeokJin memutuskan untuk memalingkan wajahnya dan melangkah mundur. "Aku jamin keselamatan Jongin. Kau bisa pulang dan tidur."
"Aku akan tidur dengan nyenyak setelah Jongin kembali."
"Kau tidak memiliki pilihan lain kecuali menunggu. Sekarang pulanglah." Chanyeol mengangguk pelan menatap SeokJin untuk beberapa saat.
"Maaf atas sikap kasarku tadi."
"Hmmm." SeokJin hanya menggumam malas.
Chanyeol memutar tubuhnya dan melangkah pergi namun saat dia hendak menuruni undakan SeokJin menarik lengan kirinya dari belakang dan memeluk punggungnya. Chanyeol terperanjat. Dia bisa merasakan hembusan napas hangat SeokJin pada tengkuknya. "Mobil hitam di sana." Chanyeol melihat sedan yang SeokJin maksud terparkir di seberang jalan. "Mata-mata Kris, berbalik cium aku. Masukkan motormu dan terpaksa kau menginap malam ini."
"Seok…,"
"Kau ingin Jongin selamat?" Chanyeol mengangguk pelan. "Kau ingin semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan aku pastikan kau sendiri tidak ingin terluka bukan?"
"Ya, SeokJin."
"Lakukan perintahku."
Chanyeol memutar tubuhnya lantas mengecup bibir penuh SeokJin. Ia hanya ingin mengelabuhi mata-mata Kris bukannya terpesona dengan SeokJin. Bukannya melumat bibir SeokJin dan tergoda untuk menyentuh SeokJin lebih intim. Kedua tangan Chanyeol berada pada pinggang SeokJin menarik laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu untuk semakin merapat. Chanyeol menelengkan kepalanya ke kanan, memperdalam ciumannya. Menggoda bibir bawah SeokJin untuk memberinya izin masuk.
Cinta tidak pernah ada di dalam daftar keinginan seorang Kim SeokJin namun siapa yang bisa menolak sentuhan serta pesona seorang Park Chanyeol. Dengan mudah Chanyeol mendorong tubuh SeokJin yang lebih kecil dari tubuhnya ke dalam rumah. Kaki kanannya mendorong pintu rumah SeokJin dengan serampangan. Tangan kanan Chanyeol memijit pelan pinggang kiri SeokJin sementara tangan kirinya bergerak dengan gelisah menyusuri tulang punggung SeokJin.
Godaan itu begitu berbahaya, SeokJin menggerakkan kedua tangannya pada bahu Chanyeol mendorong tubuh Chanyeol menjauh menatap kedua mata Chanyeol yang dipenuhi napsu. "Chanyeol, Jongin." Ucap SeokJin. Chanyeol menatap kedua mata SeokJin lekat, kemudian melangkah mundur dan tatapan penuh napsu itu menghilang digantikan kebingungan.
"SeokJin—aku…, maaf." Ucap Chanyeol.
SeokJin hanya tersenyum tipis. "Duduklah aku ambilkan air putih dingin untukmu dan biarkan aku yang memasukan motormu ke halaman rumahku. Kurasa kau tidak akan bisa pulang jika mata-mata Kris masih berkeliaran di sekitar rumahku."
"Apa itu tidak apa-apa? Bagaimana jika Kris mencurigai hubungan kita?"
"Biarkan dia curiga jika kau pulang maka mata-mata itu akan bilang pada Kris jika kita membicarakan sesuatu, jika kau menginap. Dia pasti akan mengatakan pada Kris jika kita memiliki hubungan khusus."
"Kau cerdas."
"Tidak." SeokJin menggeleng pelan. "Ini pekerjaanku." Ucap SeokJin kemudian melangkah menuju dapur. "Air putih dingin." Tegas laki-laki berbahu lebar itu.
"Terimakasih." Gumam Chanyeol, ia lantas mendudukan dirinya pada sofa panjang berwarna oranye cerah. Warna yang membuatnya sakit mata, untuk orang yang begitu menyukai kerapian dan kebersihan. Selera SeokJin benar-benar buruk. Seluruh perabotan di dalam rumah yang ia tinggali sudah cukup sebagai bukti.
Chanyeol menyandarkan kepalanya lantas memejamkan kelopak matanya. Tak lama ia mendengar suara langkah kaki mendekat kemudian disusul suara kecil yang tercipta dari benturan keramik dan kayu. Kedua kelopak mata Chanyeol terbuka. Ia tersenyum sambil menatap SeokJin.
"Minumlah."
"Terimakasih."
SeokJin mengangguk pelan. "Aku masukkan motormu."
"Ya." Chanyeol hanya mengangguk singkat, ia menoleh menatap punggung SeokJin yang berjalan menuju pintu rumah. Memijit pelan batang hidungnya, Chanyeol memanggil kembali apa yang baru saja ia lakukan bersama SeokJin beberapa detik yang lalu. Bagaimana ia bisa tergoda dengan pesona SeokJin kembali ketika dirinya yakin jika Jongin adalah orang pertama yang akan ia pilih.
Menegakkan tubuhnya meraih gelas berisi air putih dingin kemudian sedikit meminum isinya. "Tanganku basah gara-gara uap air." Gerutu SeokJin, Chanyeol tak menjawab. SeokJin lantas mendudukan dirinya di kursi lain membuat keduanya berhadapan. "Kau memikirkan ciuman kita? Kau merasa bingung dengan perasaanmu?"
"SeokJin!" Chanyeol tersentak.
SeokJin tertawa pelan. "Jangan bimbang Chanyeol kau hanya frustasi dan terbawa suasana, itu saja. Wajar menurutku. Sofa atau kamar tamu?"
"Entahlah." Ucap Chanyeol sambil mengendikkan bahunya.
"Aku harus tidur besok ada urusan penting, kau tahu letak kamar tamuku jika ingin tidur di sofa ambil bantal dan selimutnya."
"Ya." Singkat Chanyeol.
"Selamat malam." SeokJin berdiri dari duduknya dan tak sengaja melihat jam dinding. "Hmm…, maaf salah. Selamat pagi. Pukul dua." SeokJin tersenyum sebelum melangkah, pergi dari hadapan Chanyeol.
Chanyeol tidak tahu apa yang membuat kedua kakinya bergerak melangkah menaiki undakan tangga. Kamar SeokJin tidak pernah dikunci, kebiasaan SeokJin dan siapa yang berani menyelinap dan menyakiti SeokJin jika dia memegang sabuk hitam, seorang kepala polisi merangkap detektif. Hanya orang bodoh dan sedikit nekat yang berani menyelinap masuk ke dalam kamar SeokJin. Dan Chanyeol mungkin menjadi orang bodoh dan nekat hari ini.
Pintu kamar SeokJin terdorong ke dalam. SeokJin langsung terjaga dan menyalakan lampur kamarnya. Chanyeol terperanjat. "Apa yang kau inginkan?" Mengabaikan pertanyaan SeokJin, Chanyeol melangkah masuk menutup pintu kamar SeokJin mendekati ranjang tempat tidur. "Chanyeol, aku bertanya padamu apa yang kau inginkan?"
Chanyeol tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, dia hanya tahu lembut dan hangatnya bibir penuh SeokJin. Menuntut penyerahan, lidah Chanyeol bergerak cepat, menyelinap, ke dalam mulut SeokJin. Ingin mengelak namun SeokJin tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Kedua tangan Chanyeol bergerak liar mengusap punggung SeokJin memijat pelan pinggang SeokJin. Bergerak ke depan mengusap dada SeokJin dengan gerakan menggoda.
Suara di dalam otak Chanyeol meneriakan nama Jongin dengan keras namun Chanyeol seolah lumpuh. Ia tidak bisa mengelak dengan rasa hangat dan rasa manis bibir SeokJin, ia menyukai sensasi bagaimana tubuhnya seolah melayang dan kepalanya benar-benar kosong kecuali untuk satu hal. Mencapai kenikmatan. Tangan kiri Chanyeol bergerak dengan berbahaya ke arah bawah menggoda privasi SeokJin. Meremas pelan dan SeokJin mendekatkan tubuhnya pada Chanyeol menyambut rasa panas yang menjalari seluruh tubuhnya.
"Chan—yeol…," desah SeokJin dan desahan itu adalah senjata mematikan terakhir untuk akal sehat keduanya, akal sehat Chanyeol dan SeokJin.
Dengan serampangan kedua tangan Chanyeol mulai membuka satu persatu kancing kemeja SeoKjin melepaskan semua penghalang di antara dirinya dan SeokJin. Chanyeol mencium hidung, dahi, kedua kelopak mata, dagu, dan terakhir bibir SeokJin melumatnya perlahan mendorong tubuh SeokJin. Membuatnya terbaring terlentang di bawah tubuhnya tanpa daya. Tangan kanan Chanyeol bergerak pelan mengusap tulang selangka SeokJin sementara bibirnya tak pernah puas untuk melumat bibir penuh SeokJin.
"Chanyeol kita tidak bisa…," sepotong akal sehat SeokJin mencoba memanggil.
"SeokJin aku mohon." Dan kalimat terakhir Chanyeol membungkam semuanya. Chanyeol hilang kendali dan dia merasakan tubuh SeokJin bergetar di bawahnya suhu tubuh naik dengan cepat. "Seok ahhh…," desah Chanyeol.
Ketika mereka bersatu Chanyeol melakukannya dengan cepat, menyelinap, melesak masuk. Dan bergerak dengan tempo berantakan. Napas keduanya beradu dengan cepat, Chanyeol menunduk untuk melumat bibir penuh SeokJin kasar. Menyapa ke dalam mulut SeokJin bergulat dengan lidah basah SeokJin.
"Ennngggghh…," desah SeokJin kedua tangannya mencengkeram kedua bahu Chanyeol erat, meremasnya, menancapkan kuku-kuku pendeknya pada permukaan kulit Chanyeol.
Pendingin udara mengeluarkan dengung halus menjadi tambahan musik untuk desahan Chanyeol dan SeokJin. "SeokJin." Geram Chanyeol. kenikmatan itu sudah dekat dan pada detik terakhir Chanyeol menarik pinggang SeokJin kasar mendekatkan tubuh berkeringat itu dengan tubuhnya. Lumatan kasar diberikan kedua tangan Chanyeol meremas tulang panggul SeokJin. "Jin." Nama panggilan itu Chanyeol ucapkan disela pelepasannya. Nama akrab yang dulu selalu dia gunakan untuk memanggil SeokJin, cinta pertamanya.
Basah, dan lengket. Dengan sisa tenaga Chanyeol menarik diri dari tubuh SeokJin kemudian berbaring di sisi kanan SeokJin memeluk punggung SeokJin. Memilih untuk membungkam teriakkan di dalam otaknya dan menyambut mimpi. Mimpi yang mungkin tidak indah. "Maaf," Chanyeol berbisik pelan sementara SeokJin sudah lebih dulu terlelap tak mendengar apapun.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat memaksa Chanyeol untuk bangun dan menghadapi semua kenyataan. SeokJin sudah menghilang dari tempat tidur Chanyeol melompat turun dari atas tempat tidur, memunguti semua pakaiannya yang berserakan. Mencapai pintu kamar mandi membuka dan menutup pintu itu dengan kasar. Membersihkan dirinya dengan cepat kemudian pergi.
"SeokJin."
"Aku harus bekerja Chanyeol, aku janji akan memberikan laporan perkembangan penyelamatan Jongin padamu. Jangan cemas." SeokJin tersenyum. Melemparkan botol air mineral kepada Chanyeol. Chanyeol menangkap botol berukuran sedang itu dengan sigap. "Aku tidak membuat sarapan, aku bukan kekasihmu." Canda SeokJin.
"SeokJin aku—kita—apa yang terjadi…," Chanyeol benar-benar bingung untuk merangkai kata menjadi kalimat yang tepat.
"Hanya bersenang-senang jangan membebani otakmu. Kau punya banyak beban pekerjaan. Ayo, aku harus mengunci pintu rumahku." Chanyeol tak beranjak dari tempatnya berdiri menatap SeokJin lekat. "Ada apa?"
"Aku masih menginginkan Jongin."
"Aku tahu, lalu apa yang membuatmu bimbang."
"Kita tidur bersama SeokJin, astaga! Apa kau menganggap hal itu sangat sederhana?!"
SeokJin tertawa pelan. "Ya itu sangat sederhana. Ayolah Chanyeol seperti kau tidak pernah tidur dengan orang lain saja. Dan kau bertingkah seolah kita tidak pernah tidur bersama."
"Aku berusaha berubah demi Jongin."
"Kau yang mendatangi kamarku jangan mengungkit hal ini, selesai. Sejak kapan kau menjadi seseorang dengan pikiran rumit, itu bukan dirimu." SeokJin menyandang ransel cokelatnya mengenakan kacamata hitam kemudian mengisyaratkan Chanyeol untuk berjalan mengikutinya.
.
.
.
Kening Jongin berkerut dalam dia sedang berjalan-jalan di dalam rumah besar tempat tinggal Kris. Yang sudah hampir seminggu ini menjadi tempat tinggalnya. Ia penasaran dengan sebuah pintu bercat biru pudar yang terlihat berbeda dari pintu-pintu lain di rumah ini. Kesan mewah dan elegan benar-benar terhapus dari daun pintu yang menarik perhatian Jongin. Setelah ia mengetahui pintu itu tak terkunci dan setelah mengetahui ruangan seperti apa di balik pintu itu, Jongin terperanjat.
"Hmmm….," gumam Jongin sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada banyak kanvas lukisan yang dipajang di dinding, sebagian lagi dibiarkan bersandar pada dinding. Dinding ruangan juga dibiarkan tanpa lapisan semen menampilkan susunan bata merah telanjang. Yang membuat Jongin heran adalah lukisan itu terlihat—unik.
Kanvas putih yang di letakan pada penyangga di tengah ruangan menarik perhatian Jongin. Ia tidak ahli melukis hanya bisa melukis atau sedikit menggambar tidak ahli namun tidak terlalu buruk juga. Jongin menarik kursi kayu bercat hitam kemudian duduk di sana, menatap kanvas putih di hadapannya sambil memikirkan apa yang akan ia goreskan di atas kanvas. Tak berapa lama sebuah senyuman manis menghiasi wajah Jongin, tangan kanannya mulai menuang cat-cat minyak ke dalam palet.
Kris berdiri di depan kamar Jongin. "Kemana Jongin?"
"Berada di ruang pribadi Anda, Tuan. Anda sendiri yang mengatakan jika Jongin bisa berada dimanapun di rumah ini." Sang pengawal menundukkan kepala ketika menjelaskan keberadaan Jongin.
"Haahh…," hembusan napas kasar Kris terdengar. "Ada laporan terbaru?"
"Menurut Victor, sepertinya Tuan Park Chanyeol sudah melupakan Jongin. Semalam Tuan Chanyeol melewatkan malam dengan Kim SeokJin."
"Sepertinya menarik." Kris menggumam pelan sembari tersenyum. "Aku akan menemui Jongin. Tolak semua tamu yang ingin menemuiku sampai aku mengatakan sesuatu."
"Iya Tuan."
Kris lantas melangkah meninggalkan pengawalnya dan bergegas menemui Jongin. Ruang pribadinya tempat semua lukisan penghilang stress ia simpan. Mendorong pintu biru, Kris berdiri diambang pintu tanpa niatan untuk melangkah masuk, mengamati punggung Jongin yang terlihat sibuk dan tanpa sadar ia tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang selama ini hanya ia tampakan di hadapan Kyungsoo.
"Kau menggambar sesuatu."
"Ah!" Jongin tersentak ia menjatuhkan kuas dan berdiri dengan cepat hingga mendorong bangku kayu yang ia duduki ke belakang. Suara kursi jatuh berdebum menggema di seluruh ruangan.
Kris melangkah mendekat ke tempat Jongin berdiri tubuh Jongin menegang ia takut Kris akan bertindak kasar padanya. "Jongin." Suara rendah Kris nyaris membuat tubuh Jongin gemetar karena takut. "Kau melukis?" Tubuh Jongin benar-benar kaku ia tak mampu bergerak dan memutar tubuhnya untuk sekedar menjawab pertanyaan Kris. Memperhatikan goresan lukisan Jongin membuat Kris tersenyum. "Kau menggambar taman kediamanku?"
"Ya—ya." Pada akhirnya Jongin menjawab meski suaranya bergetar dan terbata.
"Aku menyukai lukisanmu."
"Terimakasih."
Jongin tersentak ketika Kris memeluknya dari belakang melingkari perut datarnya. "Kau semakin kurus, apa kau merindukan rumahmu?" Kris menunggu namun Jongin tak juga menjawab. "Jongin, apa kau merindukan rumahmu? Aku butuh jawabanmu."
"Tentu saja aku merindukan rumahku. Aku tidak hilang ingatan." Jongin mendengar tawa pelan Kris serta hembusan napas hangat Kris yang menyapu tengkuknya.
"Kenapa kau terdengar sangat takut, aku akan membawamu ke rumahmu sekarang juga. Bagaimana?"
Melupakan ketakutannya Jongin memutar tubuhnya menatap Kris lekat. "Kau tidak bercanda Kris?"
"Tentu saja tidak. Aku selalu serius dengan ucapanku."
"Terimakasih Kris."
"Kembalilah ke kamarmu dan ganti pakaianmu, ada noda cat minyak di kemejamu." Jongin menunduk meneliti kemeja biru muda yang ia kenakan, ada noda merah dan hitam di sana juga cipratan warna lain. Namun, menurut Jongin noda itu justru terlihat unik.
"Kurasa tidak masalah tetap memakai kemeja ini."
"Aku setuju denganmu tapi bau cat minyaknya lumayan menyengat."
"Hmmmm…," Jongin bergumam mempertimbangkan. "Baiklah aku akan mengganti pakaianku."
Kris tersenyum lantas mengecup pelan dahi Jongin. "Aku akan menunggumu di depan pintu."
"Ya."
Langkah kaki Kris terhenti memutar tubuhnya menatap Jongin lekat. "Ada sedikit kabar buruk untukmu. Chanyeol menghabiskan malam bersama SeokJin."
"SeokJin…," Jongin mengulang nama asing yang membuat mulutnya terasa sangat buruk. "Siapa SeokJin?"
"Cinta pertama Chanyeol."
Jongin terperanjat. "Menghabiskan malam bersama? Seperti apa?" Jongin tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk, bisa saja Chanyeol hanya minum bersama dan bertemu dengan teman lama tak lebih.
"Berdua, di rumah SeokJin, dua orang dewasa." Kris mengangkat alis kanannya. "Menurutmu akan terjadi apa?" Kris tak menunggu reaksi Jongin, memutar tubuhnya ia melangkah keluar.
Jongin melangkah mundur tanpa sadar, ia membutuhkan tempat untuk bersandar. Kakinya terasa lemas. Dia percaya dengan Chanyeol dan dia sudah menyerahkan semuanya pada Chanyeol namun di sisi lain keraguan mulai muncul. Apakah Chanyeol mengkhianatinya? Dan kenapa Kris mengetahui semua itu? Seharusnya Jongin mempertanyakan darimana Kris mendapatkan berita itu namun pikirannya terlalu berkabut tentang pengkhianatan Chanyeol padanya.
Punggung Jongin menabrak dinding di belakangnya dan saat itu ia biarkan kedua kakinya menyerah. Jatuh terduduk. Kedua matanya terasa panas dengan cepat. "Chanyeol hyung…," memanggil nama yang terkasih dengan suara bergetar bercampur keraguan menyelinap cepat di dalam hatinya.
TBC
Halo ketemu lagi ternyata sebelum hari raya sudah bertemu hehehehe. Terimakasih untuk semua pembaca terimakasih reviewnya Nanda382, Oh Kins, kaiukeforlyf, cute, Lelakimkaaaaaa, Guest, ulfah cuittybeams, Ovieee, vivikim406, YooKey1314, andiasli99, Kamong Jjong, KaiNieris, ohkim9488, Kim Jongin Kai, jongiebottom, jjong86, hunexohan, vicli9ht, geash. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Sekali lagi terimakasih banyak.
