Disclaimer : Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lain nya.
Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini
Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian
Chapter 9 : Karin
"Kau kenapa, pig?" Haruno Sakura baru saja memasuki ruang kerjanya yang ia bagi bersama Ino, gadis itu berjalan mendekati Kunoichi cantik yang sedang tersenyum-senyum sejak kedatangannya tadi pagi. ia memicingkan matanya curiga pada Ino yang tetap saja tak menanggapi pertanyaan Sakura.
Sakura menghela nafas panjang, mengambil tempat duduk tepat di hadapan Ino "Piggg!" pekiknya. Ino berteriak tak kalah keras karena keterkejutannya "Foreheaaadddddd!"
"Kau ini seperti orang gila saja! dari tadi aku memanggilmu tapi kau tak meresponku!" dengus Sakura kesal.
"Maafkan aku, hanya saja aku benar-benar bahagia!" Ino terkikik geli. Kembali memasukkan cookies cokelat ke dalam mulut mungilnya. Oh~ Ya Kami-sama … usia kandungannya baru saja menginjak 4 bulan tapi nafsu makannya benar-benar tidak mampu terkontrol, bagaimana bulan-bulan berikutnya? Apakah hamil membuat seseorang menjadi "mesin pemakan" seperti itu? Sakura bergidik ngeri, membayangkan bahwa dirinyalah yang berada di posisi Ino.
"Kenapa kau melihatiku seperti itu? Aku tau apa yang tengah kau pikirkan sekarang, jidat lebar!" Ino lagi-lagi terkikik geli "Tunggu sampai kepala nanas itu menghamilimu!" Ino tersenyum, mengedipkan satu matanya.
Apa-apaan kau Pig?
Rona kemerahan timbul pada kedua pipi Sakura, gadis itu benar-benar tidak mampu menyembunyikan rasa malu akibat perkataan Ino.
"Katakan padaku, apa yang tidak ku ketahui! Sejak kapan kalian berhubungan dekat? Huh?"
Selidik Ino. wanita itu kemudian merapikan beberapa kertas, tinta dan beberapa file lainnya yang berserakan pada meja kerjanya.
"Apa?"
"Kau mulai menyembunyikan sesuatu dariku, jidat? Kalian itu sahabatku bukan? kau memacari rekan setimku! Jadi kau harus memberitauku sebelum semuanya mengetahui kabar kedekatan kalian?!" perintah Ino menggebu.
"Siapa yang mengharuskan?" ucap Sakura penuh kemenangan. Kunoichi nomer satu di Konoha itu melipat tangannya di dada, menyeringai penuh kemenangan.
"Aku yang mengharuskan!" sergah Ino. mendelik tajam, menggebrak meja. Ok kau mulai keterlaluan Yamanaka Ino.
"Ok! Ok! Kau menang pig! Aku tak mungkin membuatmu melahirkan sebelum waktunya!"
Ino menyeringai penuh kemenangan begitu Sakura menuruti kemauannya.
"Untung saja kau sedang hamil, pig! Jika tidak huh~"
"Jika tidak apa Saki~?" Ino melancarkan senyum jahilnya. Berdiri dari posisi duduknya berjalan mendekat pada Sakura. "Jadi?"
"Semua terjadi begitu saja, pig! Kau ingat saat Sasuke-kun di hajar habis-habisan oleh ayahmu, Shika-kun dan Chouji?"
Ino mengangguk, tunggu! Apa telinganya tidak salah mendengar? Shika-kun? hoh?! Sudah sejauh apa hubungan mereka hingga Sakura menggunakan sufiks "kun" untuk memanggil Shikamaru "Shika-kun?" tanya Ino, memperjelas apa yang baru saja ia dengar.
Blush lagi-lagi Sakura merona. "Berhenti bersikap seperti itu, forehead! Ekspresimu yang sepeti itu benar-benar menggelikan, Cepat jelaskan padaku!" perintah Ino. keturunan Yamanaka itu kini menarik kursi untuk ia duduk di samping Sakura.
"Euhm~ ya sejak saat itu kami sering menghabiskan waktu bersama, entah mengapa aku sangat nyaman melihatnya tertidur di sampingku saat itu?" gadis Haruno kembali melayangkan bayangannya pada saat mereka harus menjaga Sasuke beberapa bulan yang lalu. Ia tersenyum lembut mengingat saat itu dengan Shikamaru yang tertidur pulas di sampingnya.
"Hehhh?" pekik Ino terkejut. Sakura yang seperti itu bertemu dengan Shikamaru yang seperti itu, akan menjadi seperti apa?
"Turunkan volume suaramu, Ino-pig!" delik Sakura "Aneh? Lebih aneh hubunganmu dengan Sasuke-kun!" ejek Sakura pada Ino yang dihadiahi Ino dengan pukulan pada dahi lebar Sakura menggunakan berapa kertas file yang ia gunakan sebagai kipas.
"Apapun itu! aku turut berbahagia untuk kalian, forehead! Apa dia baik terhadapmu? Apa dia meluangkan waktu untukmu, oh~ bagaimana gaya berpacaran seorang Nara Shikamaru, forehead? Aku benar-benar penasaran dengan seorang pemalas seperti Shikamaru akan berbuat apa ketika harus berkencan dengan gadis berisik sepertimu!"
"Berisik? Apa kau lupa bahwa kau lebih berisik dariku, pig?" Sakura memasukkan cookies milik Ino ke dalam mulutnya santai "Shika-kun selalu meluangkan waktunya setiap akhir pekan untuk makan malam denganku, ia kekasih yang luar biasa dan . . ." Sakura menggantungkan perkataannya, membuat Ino menatapnya penuh selidik.
"Dan dia telah merebut keperawananmu!" jawab Ino asal. Wanita itu tertawa terbahak.
"Hufft~" sakura menghela nafas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Ha? Apa aku benar? Saki~?" kali ini Ino benar-benar terkejut. Padahal, tadi ia hanya menggoda Sakura saja. kalau memang benar itu berarti bahwa Shikamaru benar-benar tidak buta dengan hal-hal berbau dewasa seperti itu.
"Ahhh! Jangan membuatku malu Ino-pig!"
"Kapan itu terjadi? Kalian menggunakan pengaman, kan?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Dia sudah melamarku!"
"Eh?" apa-apaan ini, bagaimana ia tidak tau sama sekali mengenai hal sepenting ini? Batin Ino menjerit frustasi. Bagaimana bisa kedua sahabatnya menyembunyikan hal sebesar ini darinya? Ino mendengus kesal. Menyeruput jus tomatnya.
Sakura menunjukkan cincin yang melingkar pada jari manisnya, cincin emas bermatakan batu ruby "Kau yang pertama mengetahuinya, selain ayah dan ibu kami tentunya!" Sakura menyunggingkan senyum termanisnya, nampak raut kebahagiaan yang terpancar pada wajah manisnya.
"Sudah sejauh itu dan kalian tidak memberitauku?"
"Semuanya berjalan begitu saja, Ino-pig! Kami berpacaran 1 bulan dan dia melamarku! Ia tidak mau berlama-lama untuk menjalin hubungan, ia sudah mempunyai pekerjaan mapan sebagai orang kepercayaan Naruto, lalu apa lagi yang ia inginkan selain pendamping hidup?! Dan dirimu sendiri, Ino! Apa kau tidak mau menikah dengan Sasuke-kun? dia sudah benar-benar banyak berubah! Dan kini kau tengah hamil buah cinta kalian!"
Ino benar-benar bahagia dengan kabar ini. Kedua sahabatnya yang memutuskan untuk bersama dan akan mengikat janji sebagai suami dan istri itu membuatnya menginginkan hal yang sama, namun, ia masih terlalu takut untuk melangkahkan kakinya menuju jenjang pernikahan bersama Sasuke, ia belum benar-benar yakin, ia takut Sasuke akan pergi lagi, takut jika ayah dari bayinya itu akan meninggalkanya begitu saja ketika ia mulai benar-benar mencintainya, pun jika dipaksakan tidak akan pernah bagus, bukan?
Ino menghela nafas panjang "Tidak sekarang, Saki~! Mungkin kau dulu!" Ino tertawa hambar, berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.
"Bagaimana jika kita langsungkan pernikahan bersama?" usul Sakura pada sahabatnya sejak kecil itu. membenarkan posisi rambutnya yang terlihat sedikit berantakan akibat pukulan ringan Ino pada dahinya tadi.
"Jangan membicarakan tentang kehidupanku, forehead! Aku sedang menginterogasi dirimu, jidat lebar! Kapan kalian menikah?" Ino mengalihkan arah pembicaraan.
"Kami belum menentukan kapan, aku harap aku segera menyusulmu untuk hamil supaya anakku bisa berjodoh dengan anak Sasuke-kun!" Sakura tertawa jahil. Membuat Ino mendengus kesal mendengar celotehan penuh harap Sakura "Tidak mendapatkan ayahnya, anakku harus berjodoh dengan anaknya, Pig!"
"Sakura~~~~~!" pekik Ino. mencubit kedua pipi Sakura gemas.
.
.
.
.
Sasuke memasuki ruangan Naruto dengan membawa beberapa lembar laporan yang diserahkan oleh anak buahnya, Ia membuka knob pintu begitu Naruto mengijinkannya masuk.
Ia terdiam sesaat begitu mendapati sosok yang ia sangat kenal betul duduk di hadapan Naruto yang tak kalah terkejut tatkala ia melihat sosoknya.
Sudah lama setelah perang berakhir mereka tidak pernah saling bertemu, dan kini di tempat ini mereka kembali dipertemukan.
"Sudah lama ya, Sasuke-kun!" sapa perempuan berambut merah, membetulkan letak kacamata yang membingkai matanya. Ia tersenyum, berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat pada Sasuke yang masih terpaku.
"Ka . . . Karin!" ucap Sasuke terbata.
Bagaimana bisa wanita itu di sini sekarang?
Karin mengulurkan tangannya ramah, sepersekian detik tak ada balasan dari pemuda emo yang malah mengalihkan pandangannya pada sahabatnya yang menjabat sebagai Hokage di desanya itu.
Seolah mengerti dengan arti dari tatapan itu, Naruto mengembangkan senyum lebarnya "Seperti yang kau ketahui bahhwa Karin adalah kerabatku, Teme! Jadi dia akan tinggal disini dan menjadi bagian dari Konoha!" Naruto beranjak dari tempatnnya duduk, berjalan mendekata pada tempat dimana Sasuke dan Karin berdiri "Sambutlah jabatan tangannya, Teme!" perintah Naruto masih dengan memasang senyuman lebar.
"Oh~ Selamat datang Karin!" jawab Sasuke. Ia tak memandang gadis itu sama sekali "Aku ke sini untuk membawa laporan dari anak buahku, Dobe!" Sasuke menyerahkan laporan-laporan yang ia bawa, kemudian bersiap untuk meninggalkan ruangan kerja pemuda pirang jabrik itu.
"Kau sama sekali tak melihatku, Sasuke-kun? Apa ada masalah diantara kita berdua sehingga membuatmu bersikap dingin seperti itu padaku? Padahal kita pernah . . .!"
"Hentikan Karin!" potong Sasuke. Tak membiarkan Karin untuk menyelesaikan kata-katanya. Apapun yang terjadi diantara mereka berdua dulu, semua itu adalah hal yang terjadi di masa lalu. Tak ada gunanya untuk membahas semua itu sekarang. "Aku pergi, dobe!"
Naruto mengeryitkan dahinya heran. Ia tentu saja mengetahui tentang Sasuke dan timnya, tapi tentang sesuatu hal yang terjadi antara Sasuke dan Karin, ia benar-benar harus mengetahui ceritanya!
"Ada apa diantara kaian berdua?" selidik Naruto.
Gadis itu tersenyum ceria pada Naruto, menepuk-nepuk pundak sang Hokage akrab "Kami rekan setim dulu, Naruto-sama!" celotehnya enteng, kembali melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia duduk tadi, menyisakan Naruto yang hanya mampu berdiri terpaku, larut dalam pikirannya sendiri sebelum akhirnya memutar badan dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Selamat bergabung di Konoha, Karin! Kau akan mulai bergabung dengan Konoha Hospital besok, ini surat rekomendasimu!" Naruto menyerahkan secarik kertas pada wanita itu, menerimanya dengan senang hati. Oh tentu saja! bukankah ini impiannya? Bergabung dengan Konoha, dekat dengan orang yang ia cintai dan juga berusaha untuk mendapatkan kembali cinta pria itu. Karin tersenyum "Terimakasih, Hokage-sama! Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk desa ini!"
"Jika ada kesulitan ataupun ada hal yang ingin kau tanyakan, temui Sakura-chan atau Ino-chan di sana!" perintah Naruto pada wanita yang juga mempunyai garis darah yang sama sepertinya "Apa ada yang masih ingin kau tanyakan?"
Karin menggelengkan kepalanya "Saya rasa sudah cukup Hokage-sama!"
"Kau boleh pergi!" perintah Naruto, menyunggingkan senyuman lebar dan mengacungkan jempolnya pada Karin.
.
.
.
.
.
"Hhhhh~"
Sasuke terengah-engah, menyeka keringat yang mengucur dari tubuhnya. Saat ini pria itu sedang berada di training ground milik keluarganya. Di saat kekalutan tengah melanda dirinya ia pasti akan mendatangi tempat ini untuk latihan atau sekedar mengeluarkan emosinya.
Jemarinya dengan cepat melepas satu per satu kancing pakaiannya, begitu sudah selesai ia membuang kasar pakaian yang penuh dengan peluh hasil dari pembakaran energy saat ia melakukan latihan tadi.
Ia mendudukkan tubuh lelahnya, bersandar pada pohon keyaki. Ia kembali menghela nafas panjang. Sudah beberapa kali dalam beberapa jam ini ia terus menerus melakukan "ritual" ini. Memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya.
"Sasuke-kun! Aku mencintaimu!" desah Karin di tengah kegiatannya mengocok dan mengulum bagian bawah tubuh Sasuke. "Mmpphhh!"
"Kk…Karinhh! Hentikan! Hhh~" seru Sasuke memerintahkan Karin untuk berhenti melakukan kegiatannya pada pusat nafsunya. Ia mengerang frustasi, ini adalah pengalaman pertamanya melakukan hal seperti ini, apakah Karin yang akan menjadi yang pertama untuknya?.
"Aku tidak akan mengakhiri apa yang sudah kumulai begitu saja, Sasuke-kun!" senyumnya licik. Kembali berkutat dengan "adik" Sasuke.
"Kaaaa Ahhhhhh!" jerit pemuda itu begitu cairannya keluar, tanda bahwa ia sudah mencapai titik puncaknya. Sasuke terengah, dadanya naik turun, memandang gadis di hadapannya dengan mata sayu.
"See! Kau menikmatinya Sasuke-kun!" jelasnya. Kemudian memposisikan dirinya untuk memasukkan "benda" itu pada bagian terlarangnya "Shhhh! Kaaarinh~!"
"Ssssttt!" Karin membungkam bibir Sasuke dengan jari telunjuknya "Cukup nikmati saja, sayang!" ungkapnya berusaha memasukkan milik Sasuke yang ukurannya lumayan cukup besar itu. "Ahhh~!" pekik keduanya begitu "benda" itu tertancap sempurna di dalam tubuh Karin.
"Sssaaasuhhhhh~"
"Karin!" desisnya. Ia tersadar dari mimpinya. Tak menyadari bahwa ada sesosok wanita yang telah duduk disampingnya saat ini.
"Karin?" mendengar nama itu di sebut oleh pria yang sejatinya adalah ayah dari anaknya membuat hati Ino perih. Wanita pirang itu menatap sinis pemuda Uchiha yang masih tidak menyadari kehadiran Ino disampingnya.
Karin? Oh tentu saja wanita itu adalah wanita pertama yang mendapat "kehormatan" untuk merasakan tubuh Uchiha sebelum dirinya, tentu saja seorang Sasuke pernah menaruh perasaan pada wanita itu! kenapa ia marah?! Itu hanyaalah masa lalu, bukan? Namun, Apakah Karin akan menjadi ancaman untuk hubungannya bersama Sasuke?
Ia menundukkan kepalanya. Berusaha membuang segala pemikiran bodoh itu dari otaknya.
"Sasuke!" lirih ia mengumandangkan nama pemuda itu. sepersekian detik sebelum akhirnya pemuda itu menyadari kehadiran wanitanya.
"I … I … Ino-chan!" ucapnya terbata. Raut wajah tampan itu terlihat terkejut sebelum akhirnya bisa menguasai dirinya "Kau? Kenapa kau disini? Sejak kapan kau datang?"
"Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan hingga kau tak merasakan keberadaan chakraku!" Ino tersenyum, menyandarakan tubuhnya pada pohon yang sama seperti Sasuke menyandarkan dirinya. Jemari lentiknya mengusap pelan perutnya.
"Tidak ada yang sedang kupikirkan, Ino-chan! Katakana padaku kenapa kau berada disini? Ini sudah larut malam!" terangnya.
"Apa aku tidak boleh menemuimu?" tanya Ino memandang Sasuke yang enggan untuk memandangnya. Entah mengapa melihat Sasuke seperti ini membuat perasaannya sakit. Tak seharusnya pemuda itu bersikap seperti ini padanya.
Lagi-lagi Sasuke menghela nafas panjang "Tapi ini sudah malam Ino-chan! Tidak baik untukmu dan bayimu berada disini!"
Bayimu? Ia memilih kata bayimu daripada bayi kita seperti biasanya? Apa yang berada pada pikiran pemuda ini?. Ino terpaku. Memandang tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Sasuke.
Yamanaka Ino menarik nafasnya kemudian mengeluarkannya dengan cepat sebelum akhirnya dengan susah payah berdiri. Merapikan bagian belakang bajunya yang sedikit tidak rapi karena ia gunakan untuk duduk tadi "Aku pergi, Uchiha-san! Kurasa kau benar bahwa bayiku akan tidak baik-baik saja jika terus berada disini! Jangan forsir tenagamu dan beristirahatlah!" perintah Ino tanpa melihat pemuda yang masih dalam posisi terakhir kali ia lihat tadi. Kenapa ia masih saja perhatian pada pemuda itu? hah~? Kenapa?
"Maafkan aku Ino-chan!" desis Sasuke menatap punggung Ino yang mulai menjauh, tak ada niatan untuk mengejar wanita itu. apa saja yang akan ia katakan pasti akan menyakitinya, apapun yang akan ia katakan pasti Ino tak akan mempercayainya. Jadi ia membiarkan Ino pergi begitu saja. kembali memejamkan matanya berkutat dengan bayang masa lalu.
Sakit? Kenapa rasanya sakit? Seolah terdapat luka lecet pada "benda"nya. Sasuke mengerang frustasi! Tentu saja! karena ini adalah yang pertama kali untuknya.
Jadi, Karin memperkosanya? Ehhh?
"Kaaarinhhh, akuu …"
Sasuke buru-buru mencabut "benda"nya dari dalam tubuh Karin dan mengeluarkan semua cairanya di luar "Ahhhhhh~ hah . . .hah …" nafas Sasuke memburu, terbatuk dan tersengal ketika cairannya keluar.
"Kenapa kau mengeluarkannya?" ucap Karin kecewa. Memandang Sasuke dengan tatapan tak suka "Aku tak ingin menghamilimu!"
"Kau tidak mencintaiku? Kau tidak menginginkanku setelah aku memberikan semuanya padamu?"
"Aku bukan yang pertama untukmu, bukan? dan kau adalah yang pertama untukku! Kau memaksaku, Karin!" ucap Sasuke sinis kembali memakai pakaianya.
"Sasuke-kun!"
Saat Sasuke sibuk dengan lamunannya, sementara di tempat lain Ino sudah berada dirumahnya sekarang. Ia bahkan tak menyapa keduaorangtuannya saat memasuki rumah, menyisakan seribu tanda tanya pada dua orang dewasa di keluarga Yamanaka itu, terutama pria paruh baya, pemimpin clan sekaligus ayahnya itu.
Ino tetap berjalan menaiki anak tangga demi anak tangga, tak menggubris pekik suara sang ayah yang memanggilnya. Menutup pintu dan menguncinya rapat. Memberi segel pada kamarnya agar tak ada seorangpun yang mengganggunya.
Lelah, gadis yang kini telah bertransformasi menjadi wanita itu duduk pada ayunan yang terbuat dari anyaman rotan pada balkon kamarnya, dengan malas ia melucuti stocking yang membalut kedua kaki indahnya. "Yamanaka Ino tidak akan pernah menjadi Uchiha Ino, selamat Uchiha Karin!"
Inner Ino menjerit frustasi.
Seperti inikah rasanya cemburu itu? lebih sakit daripada saat ia harus berbagi dengan Sakura.
"Kau anak yang kuat, nak!" Ino berujar ketika merasakan tendangan lemah sang bayi. Tersenyum hangat memandang perut buncitnya "Setidaknya, ibu mempunyaimu!"
.
.
.
.
.
.
"Saki~! Apa yang dilakukan perempuan itu disini?" pekik Ino pada sahabatnya. Ia baru saja datang ketika mendapati Karin keluar dari ruang kerjanya bersama Sakura. Ia menatap Sakura tajam, tak ingin menerima jawaban bohong sekecil apapun dari sahabatnya.
"Tenanglah~ Pig! Dia kesini untuk memberikan surat rekomendasi dari Hokage, mulai hari ini ia bagian dari Konoha dan bagian dari Rumah Sakit ini!" Sakura berjalan menuju meja kerjanya, meninggalkan Ino yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Kau baik-baik saja kan, Pig?" raut khawatir Sakura menjadi, menyadari bahwa sahabat dan mantan rivalnya itu berdiri dengan raut pucatnya, Haruno Sakura kembali berlari menuju Ino "Pig!"
"Aku tidak apa-apa, Jidat!" senyumnya sinis.
Ia berjalan menuju meja kerjanya. Memasukkan beberapa kue dango ke dalam mulut mungilnya.
"Kau pucat, baka! Ada apa? Apa ini tentang Karin?" tanya Sakura. Kunoichi merah muda itu berjalan mendekat pada sahabatnya, bergabung untuk menikmati santapan pagi yang dibawa Ino.
"Sasuke . . .!" ucapnya lirih namun masih dapat ditangkap dengan jelas oleh Indera pendengaran Sakura. Ino menghela nafas panjang. "Bayiku!" imbuh Ino lagi.
"Berbicaralah yang jelas, Pig!" perintah Sakura tak sabar. Kekasih Shikamaru itu mengusap lembut punggung tangan Ino untuk memberinya kekuatan dan rasa nyaman "Kau mempercayaiku, bukan?"
"Sasuke pasti sudah tau kedatangan wanita itu di Konoha, dan dia … dan dia … sikap dia berubah terhadapku, Jidat!"
Ino tak tau harus berbuat apalagi! Menangis? Rasanya air matanya sudah kering dan mood swing-nya tidak se-ekstrim bulan-bulan sebelumnya, jadi ia bisa kembali pada kepribadiannya, wanita tegar dan kuat tanpa mengandalkan air mata meskipun batinnya teriris perih.
Ia yakin bahwa pernah terjadi sesuatu diantara keduanya dulu, apa Sasuke juga pernah menyukai wanita itu? lalu apa kata 'aku mencintaimu' yang sering diucapkan pemuda itu padanya akhir-akhir ini? Omong kosong!.
"Jangan asal menuduh, Pig! Sasuke-kun tidak mungkin mencintai Karin, jika dia memang mencintainya lalu mengapa ia malah memilih menghamilimu?"
"Agar keberadaanya diterima dengan mudah di Konoha?!" jawab Ino asal, entah mengapa ia rasakan tendangan bayi pada perutnya terasa melemah dari pertama kali kemarin lusa, ada sesuatu yang tak beres pada dirinya. Dia tau itu, sampai akhirnya ia merasakan rembasan hangat diantara kedua pahanya, Darah!
"Sakiii~!" Ino menatap Sakura panik "Darah!"
"Pig~!"
Semuanya terasa gelap dan gelap, terakhir ia ingat adalah Sakura mendatangi tubuhnya yang sudah setengah tak sadarkan diri hingga akhirnya semuanya menjadi hitam dan gelap. Dan ia tak tau lagi apa yang telah terjadi pada dirinya.
Yamanaka Ino pingsan.
…
"Apa yang harus kulakukan? Aku harus menghubungi siapa? Paman Inoichi? Sasuke-kun? Naruto-sama atau Shika-kun?! Shika-kun! ya dia saja!" Sakura mengingit jarinya panik. Satu langkah salah maka ia akan menyesalinya di kemudian hari. Memilih untuk menghubungi Inoichi mengenai keadaan Ino akan berdampak pada hubungan Inoichi dan Sasuke yang akan semakin memburuk karena Inoichi pasti akan bertambah membenci pemuda yang telah menghamili putri kesayangannya.
Menghubungi Sasuke? Jika Ino terbangun, maka dia akan bertambah stress dan tertekan dan akhirnya . . . Tidak! Tidak! Tidak! Ino dan bayi Uchiha bukan orang yang lemah, Sakura buru-buru mengusir pikiran jelek dari otaknya.
Naruto? ahh~ apa yang bisa diharapkan dari pemuda itu? Hokage yang menyimpan rasa suka pada Kunoichi keluarga Yamanaka itu akan murka pada Sasuke juga! bahkan dia pernah berjanji tidak akan memaafkan Sasuke lagi jika pemuda itu kembali menyakiti Ino.
Shikamaru! Kekasihnya adalah jawaban yang tepat selain itu ia dapat berdiskusi bagaimana sebaiknya ia bertindak untuk menyelesaikan masalah ini, atau tidak memperburuk keadaan.
"Sakura!"
"Ya! Shishou . . .!" jawabnya terkejut mendengar Tsunade yang telah selesai menangani Ino.
"Dia akan segera sadar, untung saja bayinya kuat, aku sudah menyiapkan beberapa resep, kau pergilah untuk mengambil ramuannya! Shizune akan disini menjaga Ino!"
Shizune yang di sebut namanya mengangguk, tersenyum pada keduanya "Tenang saja! Ino-chan akan aman bersamaku!"
Gadis berambut pendek itu melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Ino terbaring, menarik kursi untuk ia duduki.
Sakura mengangguk mengerti, kemudian berjalan keluar bersama wanita pirang mantan Hokage Konoha itu.
Kunoichi merah muda itu menghela nafas panjang "Apa dia benar-benar baik-baik saja, Shishou?" tanyanya.
Wanita pirang itu tersenyum "Tentu saja, dia wanita kuat dan bayi yang ada pada perutnya adalah keturunan Uchiha! Kau meragukan kekuatan mereka?" Tsunade tertawa. Mengeluarkan sebotol sake dari kantong bajunya "Ngomong-ngomong, dia sudah datang! Aku pergi ke ruanganku dulu!" Telunjuk Tsunade menunjuk pada sesosok pemuda dengan tampilan rambut nanasnya tengah berjalan mendekat pada mereka.
"Aku pergi!" Tsunade mengerlingkan matanya jahil membuat Haruno Sakura merona. Malu.
"Sakura-chan!" sapanya dengan nada malas, memandang balik punggung sang wanita penyembuh yang mulai menjauh "Ada apa dengan Tsunade-sama?" tanyanya.
Sakura yang ikut memandang pada direksi dimana sang 'guru' pergi hanya tersenyum, kembali memalingkan wajahnya pada pemuda Nara yang kini juga telah mengalihkan pandangannya pada sang kekasih "Ada apa? Apa yang telah terjadi pada Ino?" raut kekhawatiran mulai muncul di wajah malas pemuda itu.
"Dia mengalami pendarahan, terlalu banyak pikiran dan stress!" ungkap gadis musim semi itu, ia melangkahkan kakinya melewati Shikamaru untuk duduk di kursi yang berjajar di setiap koridor Rumah Sakit.
Shikamaru mengikuti kekasihnya. Duduk tepat disamping putri keluarga Haruno "Bagaimana bisa? Uchiha lagi?! Aku akan membuat perhitungan dengan pemuda itu!" kilatan kemarahan muncul di mata pemuda itu, ia baru saja akan bangun dari posisinya jika saja tangan mungil Sakura tidak mencegahnya.
Sakura menggelengkan kepalanya "Jangan! Kau ingin pig semakin tertekan? Jika paman Inoichi sampai tau, kau pikir apa yang akan terjadi Shika-kun?"
Kekasihnya kembali tenang. Menyandarkan tubuhnya pada kursi dan terlihat berfikir.
"Jika aku memanggil Sasuke-kun . . .! keadaan Ino juga tidak akan menjadi lebih baik! Karin sudah menjadi bagian dari Konoha dan bekerja di sini, Shika-kun?"
"Jadi dia cemburu?! Merepotkan! Benar-benar merepotkan!" dengus pemuda itu memejamkan matanya.
Sakura memandang kekasihnya sebal. Bagaimana bisa pemuda itu sesantai ini menghadapi sahabatnya di dalam sana sedang 'menderita' dan terlebih karena gadis dari masa lalu Sasuke datang untuk mengganggu "Shika-kun!"
"Kau juga cemburu pada Karin?"
"Ehhh? Apaaaa?!" pekik Sakura tak terima.
Shikamaru membuka matanya. Tersenyum jahil pada sang kekasih "Aku bercanda!" ungkap Si jenius keluarga Nara "Bagaimana keadaan Ino dan bayinya?"
"Syukurlah mereka baik-baik saja, tapi jika keadaan ini terus berlangsung aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi pada calon penerus Uchiha di dalam perut Ino!"
"Banyak yang perlu diluruskan?! Mengapa kau tidak memanggil Uchiha saja kemari?! Tentunya pemuda itu bukan banci, bukan?" Shikamaru bertanya sinis pada sang kekasih. Menunjukkan rasa tidak sukanya yang bertambah pada Sasuke pasca mengetahui bahwa pemuda itu telah menghamili sahabat yang harus ia jaga setelah kepergian sensei mereka.
"Jika Sasuke banci maka dia tidak akan mampu menyentuh Ino dan menghasilkan janin yang kini sudah berusia 4 bulan di dalam perut sahabatmu itu, Shika-kun!" bela Sakura tak terima dengan pernyataan Shikamaru mengenai rekan setimnya.
"Lalu apa kita juga akan menghasilkan bayi hasil dari hubungan kita kemarin?"
Blush!
Pipi Sakura terlihat merona karena perkataan sang Kekasih. "Shika-kun! kau ini! aku … aku ….!" Sakura tak dapat melanjutkan perkataannya.
"Aku akan temui Uchiha dulu! Jaga Ino untukku!"
"Tapi kau tidak akan melukainya kan?"
"Aku akan mematahkan kakinya! Melukai wajah tampannya dan akan kubuat dia tidak bisa menghamili wanita lagi!" Shikamaru menyeringai jahil yang membuat Sakura menatapnya horror, benarkah Shika akan melakukan hal itu?
Shikamaru mencium dahi lebar kekasihnya. Berjalan meninggalkan Sakura yang masih terpaku duduk dengan pikiran horrornya.
"Lakukan semua yang kau mau padanya, Shika-kun!" pekik Sakura. Tertawa menyadari kejahilan sang kekasih.
.
.
.
.
.
Karin tengah berjalan meninggalkan Rumah Sakit untuk menikmati makan siangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12:30 ketika wanita itu melewati beberapa kelompok murid akademi yang mengerubungi sesosok pemuda emo yang ia tau betul itu adalah Sasuke.
Ia berjalan mendekat ketika akhirnya tatapan mereka kembali beradu "Kalian pergi dulu ya . . .!" ucap Sasuke lembut pada beberapa anak perempuan kecil yang mengerubunginya tadi "Baik paman!" pekik mereka riang berlari menjauh dengan menggenggam permen kapas pada tangan mungil mereka.
"Kau telah banyak berubah, Sasuke-kun! sepertinya kau telah siap menjadi seorang ayah!"
"Begitukah?" ujar Sasuke dingin. Satu-satunya Uchiha yang tersisa itu akan pergi sebelum akhirnya jemari Karin mencengkramnya erat "Apa aku punya salah padamu, Sasuke-kun?! jangan terus menghindar dariku!" teriaknya.
"Apa maumu, Karin?"
"Aku mau dirimu!" katanya, menghamburkan tubuhnya untuk memeluk pemuda Uchiha yang terdiam, mematung begitu saja "Kau mencintaiku, kau menginginkanku kan? Kau berusaha menjauhiku karena kau terlalu mencintaiku! Aku yang pertama bagimu dan diantara kau dan aku telah terjadi suatu hubungan, kau tidak boleh melupakan itu Sasuke-kun!"
"Hentikan semua omong kosong ini, Karin! Aku muak dengan segala hal yang terjadi pada masa lalu kita!" Sasuke tetap bersikap dingin. Mencengkram erat jari-jemari pada keduatangannya menahan emosi.
"Jangan membohongiku, Sasuke-kun! Kau masih mengingat semua yang telah terjadi diantara kita! Sasuke-kun . . .!" ucap Karin memelas pada pemilik Sharingan itu.
Sasuke tetap tak bergeming sebelum akhirnya ia membalas pelukan Karin, menumpahkan segala kesakitannya akan masa lalu. Tentu saja ia pernah mempunyai perasaan pada Karin, tentu saja ia tak bisa melupakan hal yang mereka lakukan pada masa lalu, tentu saja! Karena Karin adalah wanita pertama yang melakukan hal itu padanya. Kedua tangan kekar Sasuke meraup wajah Karin untuk bertemu pandang dengannya, tatapan mereka bertemu hingga Sasuke mempersempit jarak diantara mereka. Mencium bibir merah sang wanita, hangat.
"Oh~ maafkan aku, telah menganggu keintiman kalian, Uchiha-san!"
Suara itu . . .
Sasuke buru-buru mendorong tubuh Karin pelan untuk menjauh darinya, ia mengedarkan pandangannya pada sosok tinggi dengan raut malas yang ia tau benar itu adalah Nara Shikamaru, sahabat Ino.
Ino?
Entah mengapa ia baru mengingat wanita itu sekarang, dadanya terasa perih. Bagaimana keadaan putri Yamanaka itu setelah semalam ia kecewakan? Dalam sehari ini dia tidak berusaha untuk menemui ibu dari calon bayinya, apa yang telah ia fikirkan.
"Shikamaru?" desisnya.
Karin memandang bingung. Baru saja Sasuke bersikap lembut padanya, namun dengan kedatangan pemuda Nara ini, mengapa sikapnya berubah?
"Sasuke-kun?"
Shikamaru memandang bosan kedua 'makhluk' dihadapannya. "Selamat kalian memang pasangan serasi!" ucap orang kepercayaan Hokage Konoha itu "Tadinya aku mencarimu untuk mengatakan sesuatu Uchiha! Tapi melihat kalian seperti ini, kurasa sudah jelas semuanya!" Shikamaru berjalan mendekati Sasuke, tangannya mencengkram erat kerah baju Sasuke "Aku sudah memperingatkanmu! Rasanya tidak ada lagi yang harus dipertahankan! Jauhi Ino!" perintahnya melepas cengkramanya disertai sedikit dorongan.
"Sasuke-kun? Ino? apa yang terjadi?"
"Nara!" Sasuke memanggil pemuda dihadapannya "Kau tidak bisa memisahkanku dengannya!" ujar Sasuke dingin melayangkan pukulan yang mengenai pipi Shikamaru.
Bughhhhh!
Shikamaru membalas pukulan Sasuke tak kalah kerasnya "Aku berhak melakukannya! Kau telah menyakitinya berkali-kali! Salahkan Ino karena ia terlalu bodoh untuk tetap mempertahankan anakmu, salahkan dia karena dia mencintai laki-laki sebrengsek dirimu!"
Buggghhh!
"Jangan dekati dia lagi jika kau menginginkan anak kalian selamat! Berada di dekatmu hanya akan menyakiti diri dan bayinya! Ingat bayinya! Bukan bayimu!"
Bayinya? Bayi kami!
Tubuh Sasuke limbung dan akhirnya terjatuh "Apa yang terjadi padanya?"
Shikamaru memandang sinis pemuda Uchiha itu "Masih peduli? Atau hanya akting?"
"Nara Shikamaru!" teriaknya penuh dengan kilatan amarah. Ia bangun dari posisi duduknya "Apa yang terjadi pada Ino dan bayi kami?"
Karin yang masih berada di tempat itu berdiri mematung, tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Jadi Sasuke akan mempunyai anak dengan putri Yamanaka itu? lalu bagaimana dengannya? Ia ke Konoha untuk lebih dekat dengan Sasuke dan membuat pemuda itu menjadi miliknya.
"Sebaiknya kau tidak pernah menemuinya lagi, Uchiha!"
Shikamaru melangkahkan kakinya menjauh dari keduanya. Karin membelai lembut punggung Sasuke, hal yang paling Sasuke ingat dan sukai dari wanita dari masa lalunya ini, kebersamaan mereka memang tidak lama seperti kebersamaan dengan para anggota Rookie 9 dan terutama Team 7, tapi tak bisa dipungkiri memang telah terjadi sesuatu diantara mereka.
Sasuke berteriak frustasi "Aku pergi! Jangan mencoba untuk mengejarku, Karin!"
"Sasuke-kun! kau tak bisa meninggalkanku begitu saja! apa benar yang dikatakan Nara, bahwa Yamanaka Ino tengah hamil anakmu?"
Langkah Sasuke terhenti, menarik nafasnya sesaat "Ya dia benar!" jawabnya dingin.
"Lalu mengapa kau tak melakukan hal itu padaku? Mengapa kau malah memilihnya?" Karin berucap sinis, berjalan mendekat pada Sasuke yang tak bergeming pada tempatnya "Kau mencintaiku! Kau tau itu! Kau mencintaiku Sasuke-kun!"
"Semuanya telah berubah Karin! Terimalah kenyataan!"
"Kenyataan bahwa kau mencintai wanita Yamanaka itu?! aku tau bahwa itu semua bohong Sasuke-kun! jangan membohongi dirimu sendiri! Bahkan kau masih mengingat peristiwa itu, ahh~ atau jangan-jangan saat melakukan hal itu dengan Yamanaka, kau melihat wajahku padanya!"
"Karin!" gertak Sasuke "Jangan membuatku untuk berbuat kasar padamu!" Sasuke segera pergi dari hadapan Karin, meninggalkan sosok berambut merah itu dalam ketidakpercayaannya.
"Sasuke-kun . . .!"
.
.
.
.
.
"Ahhh~"
"Jangan banyak bergerak dulu, Ino-chan!" Shizune tersenyum, membantu Ino untuk duduk bersandar pada dashboard ranjang Rumah Sakit. Ino membalas senyum Shizune ramah "Shizune-nee, terimakasih!" ucap pewaris clan Yamanaka itu, pandangannya lega ketika menyadari bahwa perutnya masih besar, tanda bahwa ia tak kehilangan anaknya.
"Seorang Uchiha akan kuat, tapi kau juga tidak boleh terlalu banyak pikiran dan stress Ino-chan!"
Ino mengangguk. Ia pasrah dengan apapun yang akan terjadi nanti! Yang ia pedulikan sekarang adalah keselamatan anak yang berada pada kandungannya, ia tidak mau kehilangan janin ini, sungguh jika nanti ia harus kehilangan Sasuke karena Karin ia benar-benar rela, tapi tidak dengan kehilangan bayinya.
"Baru saja Shizune-neechan memberitaumu agar tidak terlalu banyak berpikir tapi kau malah melamun dan aku yakin pasti sedang memikirkan sesuatu, Ino-pig!" entah kapan datangnya Kunoichi pink ini, ia melangkahkan kakinya mendekat pada meja di samping Ino untuk meletakkan beberapa ramuan dan makanan yang ia bawa "Aku mengatakan pada ayah dan ibumu agar tidak mengkhawatirkanmu karena kau sekarang menginap dirumahku, aku tidak memberitau paman dan bibi karena aku tidak mau hubungan Sasuke-kun dan paman Inoichi menjadi lebih buruk!"
"Saki~~~, terimakasihh!" pekik Ino, sepertinya ia tidak seperti orang sakit karena semangatnya benar-benar kembali saat ini.
"Kau benar-benar merepotkan!" dengus Shikamaru, berjalan memasuki ruangan tempat Ino dirawat dan duduk memposisikan tanganya untuk menjadi sandaran kepalanya. Matanya tertutup rapat untuk menyembunyikan amarah yang daritadi ia simpan pasca pertemuan tak disengajanya dengan Sasuke.
"Oh~ kau juga berada disini, tuan pemalas? Heh, forehead! Jangan-jangan kau disini untuk memamerkan kemesraan kalian!" Ino menatap sahabatnya penuh selidik.
"Karena Sakura-chan dan Shikamaru sudah berada disini, aku pergi dulu ya! Ino-chan jaga baik-baik kandunganmu!" Shizune tersenyum ramah pada Kunoichi cantik itu, memeluknya erat sebelum akhirnya keluar.
"Apa Sasuke tau keadaanku?" tanya Ino pada Sakura yang sekarang duduk pada tempat yang tadi ditempati Shizune, "Jangan beritau dia! Dia akan khawatir!"
Khawatir huh? Entah mengapa mendengar Ino berkata seperti itu membuat Shikamaru ingin sekali memukuli pemuda Uchiha itu, khawatir? Dimana pemuda itu sekarang, bahkan ia tak berusaha mencari keberadaan Ino!
Ia benar-benar tak habis fikir mengapa Ino mau berkorban dan peduli pada pemuda itu! lalu apa balasan Sasuke pada dirinya? Hanya rasa sakit bukan?
"Kau berisik, Ino!" keluhnya, berusaha membuat sahabatnya itu untuk tidak membahas segala apapun tentang Sasuke.
"Shika-kun!" ucap Sakura lembut pada kekasihnya yang membuat Ino terkikik geli karena melihat moment ShikaSaku dihadapannya "Pig! Apa yang kau tertawakan?!"
"Kalian lucu, hahahaha! Kau benar-benar lembut saat dihadapan Shikamaru, hahahah! Kau bukan jidat sahabatku!" tawa Ino tak henti-hentinya.
"Pig!"
"Kalian akan menginap disini, bukan?" Ino nampak antusias memandang kedua sahabatnya bergantian. Kunoichi itu tersenyum lega ketika sahabat pinknya menganggukkan kepalanya, tersenyum tak kalah manis.
"Terimakasih!"
"Sudah berapa kali kau mengucapkan hal itu, Ino?!" dengus Shikamaru, mengucek matanya malas. Pemuda itu berdiri kemudian berjalan pada ranjang Ino untuk duduk di tepi ranjang diantara Ino dan Sakura.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino menatap Shikamaru aneh.
"Aku lapar, jadi berhentilah mengoceh Ino! kau, aku dan Sakura-chan makan bersama! Kau tidak kasihan pada bayimu? Huh?"
"Iya pig! Shika-kun benar . . .! hahaha . . .!"
"Kalian benar-benar pasangan yang aneh!" Ino memandang kedua sahabatnya aneh, menepuk dahinya dengan tangan kananya.
…
Ia masih saja tak ada keberanian untuk menemui Ino, meskipun ada perasaan dalam dirinya ingin sekali menemui wanita yang ia yakini sedang tidak baik-baik saja itu.
Sasuke menyusuri jalanan Konoha yang sudah terlihat sepi. Langkah kakinya membawanya menuju rumah kediaman Yamanaka, ia menengadahkan kepalannya, lampu kamar Ino bahkan tidak menyala, dimana dia? Seketika rasa kekhawatiran menyelimutinya. Bahkan, ia tak merasakan chakra Ino di rumah ini.
"Sasuke-kun . . .?!"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued . . .
Well, chapter ini kurang memuaskan u.u, bagaimana menurut kalian ? #plakk
Wehhh sakit hati kalau jadi Ino, pengen tendang dan jambak Sasu Ayam jadinya ahahahhahaa.
Btw, semakin sedikit entry ff terbaru tentang Ino-chan ;( #miris, ayo dong pada bikin
Enjoy ^^
#Vale
