Naruto menatap datar sahabatnyaㅡralat, saudaranyaㅡyang jatuh berlutut di hadapannya. Mata hitam kelam besarnya menatap bekas luka melintang di leher saudaranya dengan pandangan yang sukar diartikan. Ada perasaan mengganjal setelah melihat bekas luka itu, namun ia terkesan tidak peduli dan tetap menatap angkuh saudaranya itu.

"Apa yang kau lakukan, Kubo-rou?"

Kubo masih bergeming dan enggan menatap langsung ke kedua mata Naruto. Perasaannya masih kesal. Hatinya sakit saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Naruto menghabisi ayah dan ibunyaㅡlalu, adiknya. Tapi kenapa..

"Kenapa kau tidak membunuhku juga, Naruto?"

Naruto mengalihkan pandangannya. Sejauh mata memandang, hanyalah mayat-mayat dengan kondisi mengenaskan yang terlihat. Tak ada pemandangan bagusㅡsetidaknya selama 3 minggu ini. Dapat ia rasakan chakra salah seorang keluarganya mulai memudar. Ia menggenggam sesuatu di tangan kirinya. Sebuah botol berisi cairan hijau dengan sebuah bola mata di dalamnya.

"Baa-chan benar-benar tak mau mengikuti rencanaku. Maka dari itu, aku menggunakan keluargamu untuk menjalankan rencana cadanganku." ujar Naruto tanpa ekspresi penyesalan dan malah terkesan tidak peduli.

Kubo berdiri dan menatap Naruto marah. "Kau! Kau pikir kau siapa? Dewa? Seenaknya saja kau membunuh orang atas dasar Rencana Dewa?! Grrh," Kubo menerjang ke arah Naruto dengan cepat, namun masih kalah cepat. Naruto mengambil sebuah kunai dan mengayunkannya cepat.

Tap!

Satu centi. Ayunan itu berhenti satu centi tepat di atas mata kanan Kubo. Tangan Naruto terlihat sedikit bergetar dan dapat Kubo lihat bahwa air mata terus mengalir dari kedua mata saudaranya itu.

"Kubo.. Ini mungkin menjadi pertemuan terakhir kita," Naruto mendesis pelan, merasakan bahwa sesuatu perlahan mengambil alih tubuhnya. "Dan... aku sungguh menyesal telah membunuh keluargamu, tapi bukan aku yang melakukannya. Bukan aku!" Naruto memberikan botol di tangan kirinya kepada Kubo. "Sharinnegan, aku memberikanmu itu sebagai permintaan maafku. Banyak rahasia yang belum kau ketahui, termasuk Rahasia Tiga Klan Besar yang menjadi inti dari semua kekacauan ini. Maka dari itu," perlahan kedua mata Naruto berubah menjadi Rinnegan dan rambutnya yang semula putih berubah menghitam.

"Larilah dari kutukan bernama Perdamaian ini!"


Uchiha Naruto: Kami no Shinobi

Naruto Masashi Kishimoto

Story Cassio-Team 88' Studios

Written by Dicky-san Faiz-san

Warning(s): Gajeness, OOC, Typo

Genre: Adventure, Humor, Romance


Chapter 9: Nameless

"Tak kusangka ayah mau repot-repot mengirim kalian hanya untuk ku eksekusi. Benar-benar.." Rambut hitamnya berkibar dan kedua matanya nampak Mangekyo Sharingan yang menyala terang. "...Tindakan yang bodoh!"

Momo menatap gelisah Naruto. Meskipun Kubo bersikap tenang, namun ia tahu bahwa pemimpin mereka itu juga bergetar melihat Naruto berdiri di depannyaㅡseakan menantang mereka.

"Jadi, Kubo-rou.." Naruto menatap datar saudaranya yang menjadi pusat, "Apakah kau membawa Sharinnegan yang dulu kutitipkan padamu? Jika tidak, maka jangan salahkan aku jika salah satu temanmu hanya memiliki satu mata dalam sisa hidupnya." ujarnya tanpa ekspresi dan sinis.

Azura menatap terkejut Kubo, kemudian memicingkan kedua matanya pada Kubo. "Apa maksudnya ini, Leader? Sharinnegan? Terdengar menjengkelkan tapi," Azura beralih menatap tajam Naruto. "Jika itu benar, kau seharusnya menggunakannya. Itu satu-satunya cara untuk melawan Naruto-sama." Katanya dengan suara pelan.

"Aku benci mengatakannya, tapi aku setuju." Timpal Shinno dengan raut muka datar.

"Aku juga." Kyu menambahi.

"Entah mengapa, aku juga setuju, Kubo-sama." Bahkan, Momo yang selalu memihak Kubo pun ikut setuju dengan perkataan Azura.

Naruto tersenyum mengejek. "Bertengkar dengan temanmu, Kubo-rou?" Kemudian dengan cepat Naruto melesat menuju kelimanya. Shinno pun maju dan menghadang Naruto, namun Naruto dengan cepat menggunakan sunshin-nya untuk berpindah ke..

"Minna! Di belakang kalian!"

Teriakan Shinno mengejutkan Kubo dan lainnya. Tapi dengan cepat mereka meloncat menjauh dan menatap Naruto yang berdiri tepat di bekas mereka berdiri tadi. Kyu menatap tak percaya Naruto, kemudian memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

"A-Apa? A-Aku tak bisa merasakannya. Nande?!"

"Mudah saja," Naruto berseru dari kejauhan. Pamdangannya nampak merendahkan lawannya, "Shi no Hana. Kau sepertinya familiar dengan nama itu 'kan, Kubo-rou?" Ujarnya dengan senyum mengejek yang terpatri di bibirnya.

Kubo tersentak. Kemudian dengan cepat ia merangkai segel Domba,

KAI!

Swushh! Kubo bernafas lega. "Ini jebakan. Kalian dibuat seakan tak bisa mengeluarkan chakra maupun jutsu, tapi sebenarnya tidak. Simpelnya, chakra kalian seakan disembunyikan." Kubo menggeram pelan mengingat lawannya dari Uzumaki beberapa saat yang lalu. "Uzumaki sialan, bisa-bisanya aku terkecoh dengan jutsu murahannya itu!"

"Heh.." Naruto menonaktifkan Doujutsu-nya. Onyx kelamnya memandang Kubo dengan angkuh. "Berterima kasihlah padaku. Karena jika tidak, kalian akan selamanya berhenti menjadi ninja." Naruto tertawa sinis.

Momo memicingkan kedua matanya. "Ada yang aneh." Tuturnya pelan. "Uzumaki tadiㅡkurasa tak benar-benar terbunuh. Karena dapat kurasakan chakra nya berada di sebuah tempat. Meski samar, tapi aku yakin itu chakra nya." Sambungnya.

Lalu, kedua mata Momo beralih menatap mayat Kou yang beberapa saat lalu tewas. Mata Momo melebar menyadari sesuatu. Sebuah tindikan kecil di telinga kiri mayat Kou.

"Rikudo?" desisnya pelan. "Jadi, dia memiliki garis keturunan." Kemudian, Momo menjelaskan kepada Kubo melalui telepati. Ya, hanya Kubo dan Momo yang bisa melakukan telepati tanpa menyentuh tangan ataupun tubuh. Kemampuan misterius milik Kubo, dapat dengan mudah membaca pikiran orang lain.

Tanpa disadari semuanya, mayat Kou tiba-tiba menghilang lenyap.

"Serang dia!" Perintah Kubo. Kemudian, Azura dan Kyu merangkai handseal secara bersamaan dan mengucapkan nama jutsu mereka secara bersama pula.

"Futon: Reppusho!"

Dari telapak tangan mereka muncul gelombang angin dengan daya besar menghantam tubuh Naruto. Naruto menyilangkan kedua tangannya tepat di depan wajahnya. Tanpa ia sadari, tiga orang tersisa telah menyelesaikan handseal mereka.

Doton: Sando no Jutsu

Brakkh! Dari samping Naruto muncul dua buah bukit mini yang berusaha menghimpit dan menjepitnya. Ia terkejut dan berusaha menghindar dengan menahannya dengan kedua tangannya, namun ia terkejut lagi karena dapat ia dengar seruan nama jutsu lainnya.

Suiton: Dai Bakusui Shouha

Muncul gelombang air besar yang melaju menuju Naruto yang masih berusaha menahan himpitan bukit mini dengan kedua tangannya. Safirnya menatap marah kelima orang di depannya saat gelombang itu mulai membentuk kubah dan memerangkapnya. Kemarahannya semakin menguar tatkala ia mendengar lagi seruan jutsu yang efektif terhadap air.

Raiton: Kangekiha

Muncul aliran petir yang merambat menuju Naruto. Sembari menahan nafas, Naruto terlihat berpikir keras. 'Jika aku terkena Kangekiha-nya, dapat dipastikan aku akan terluka walau tidak terlalu parah. Tapi tetap saja..' Kedua matanya melebar '..aku masih ingin mempertahankan status tak terluka-ku!'

ZZRRTT! ZZRRTT!

Aliran petir itu sukses menyambar kubah air dengan Naruto berada di dalamnya. Kubah air itu pun tak lama kemudian hancur. Terlihat sebagian tubuh Naruto nampak masih terdapat aliran listrik. Naruto menggerakkan tubuhnya dengan susah payah.

"Kalian merusak status tak terluka milikku," Naruto bangkit dan menatap kelimanya dengan Sharingan yang menyala terang, "Kalian akan mati!"

Jrasshh! Dari arah belakang, sebuah pedang menusuk punggung Naruto hingga tertembus ke depan. Naruto melebarkan kedua matanya dan melirik sang pelaku. Ia menyeringai tipis.

"Izanagi. Kau benar-benar licik, Uzumaki Senju. Khh, ohok." Komen Naruto sembari terbatuk dan mengeluarkan darah.

Kou menyeringai penuh kemenangan. "Tak kusangka aku dapat melukai Uchiha dengan jutsu itu. Dan tak kusangka kau bisa memaksaku menggunakan mata kiriku. Kau hebat, Uchiha." Ia menarik kasar pedangnya, "Tapi semua sudah berakhir. Akhirnya aku menang, bahkan dengan peluang sekecil apapun!" Kou makin melebarkan seringainya tatkala Naruto memuntahkan darah yang tidak sedikit dari mulutnya.

"Kheh, cuih.." Naruto meludah kasar. "Masih terlalu cepat untuk mengalahkanku!" Naruto berbalik dan melesat dengan cepat menuju Kou. Kou yang tak mengira pergerakan Naruto hanya menghindari gerakan memukul yang Naruto lakukan. Namun Naruto tak kalah gesit. Ia menggunakan kaki kanannya sebagai poros dan tumpuan untuk berbalik badan, dan ia sengaja mengalirkan chakra nya ke tangan kanannya dan menghantam wajah Kou dengan keras hingga terpental sejauh kurang lebih 3 meter.

"Saa.." Naruto menggeremetakkan kedua tangannya dan menatap tajam ke Kubo dkk. "Siapa yang ingin berdansa denganku selanjutnya?"

Tanpa banyak omong, Shinno dan Kyu maju selangkah dan menatap Naruto dengan mata yang menajam dan serius. "Kami yang akan melawanmu!" Ujar keduanya bersamaan.

Naruto sedikit terkekeh. "Khekhekhe, apa ini?" Mata sharingan nya memandang lawannya dengan bosan. "Bukankah dulu kita pernah sparring? Kyu? Shi-san? Dan hasilnya adalah 4-0 untuk keunggulanku!" Naruto dengan cepat melesat menuju keduanya. Kyu dan Shinno saling berpandangan sejenak sebelum saling menganggukkan kepala mereka. "Variasi 3!"

Naruto menarik salah satu sudut bibirnya, mulai tertarik dan penasaran dengan jalan pertarungan ke depannya. 'Heh, bagus! Buat aku terhibur!' batin Naruto dengan perasaan menggebu dalam hatinya.

Kyu dan Shinno bergerak melintang kanan dan kiri, membuat fokus Naruto sedikit terpecah. Kemudian, Kyu membuat sebuah Kekkai angin tipis di area pertarungan. Shinnoㅡyang mengerti kode dari Kyuㅡlangsung merangkai handseal dan meneriakkan sebuah jutsu familiar.

Katon: Goukyaku no Jutsu

Shinno menyemburkan bola api berukuran besar dari mulutnya. Naruto semakin menarik sudut bibirnya ke atas. 'Menarik! Sangat MENARIK!' pikirnya kegirangan. Naruto dengan kalem menggerakkan tangan kanan nya ke depan. Mata Kubo memicing tajam.

"Rinnegan 'kah?" Benar saja dugaan sang pemimpin itu. Jutsu bola api milik Shinno langsung terserap ke telapak tangan Naruto. Tetapi, Kubo langsung menyadari satu hal janggal.

"Matanya masih Sharingan, tapi bagaimana dia bisa menggunakan jutsu Rinnegan?" Tanya Kubo, entah kepada siapa. Tak dinyana, Momo pun juga merasa penasaran akan hal itu.

'Apa yang akan aku lakukan jika terlahir sebagai anak pertapa? Pikir, pikir, pikir!' batin Momo. Hingga, sebuah teori masuk ke dalam kepalanya. Membuatnya sedikit linglung karena rasa terkejut.

'Mencuri...dalam senyap' gigi Momo bergemeletuk hebat. Ia dengan kasar membuang kacamata yang berfungsi sebagai penyamaran optik mata Rinnegan-nya. Ia,ㅡdengan amarahㅡmenatap Naruto yang secara tanpa sengaja membalas tatapannya.

Naruto menghindari pukulan dari samping kirinya dengan menundukkan kepalanya. Lalu, menangkis sepakan dari kanan dengan tangan kirinya. Tak berhenti sampai disitu, ia dengan gesit menghindari 4 pukulan beruntun dari kombinasi Kyu-Shinno.

'Sial, kita memang bukan tandingan Naruto-sama. Bahkan dalam hal apapun' Kyu menggeram frustasi saat lagi-lagi taijutsu miliknya dihalau dengan mudah oleh Naruto.

Shinno menambahkan sedikit chakra nya di salah satu kakinya dan berusaha menendang kepala Naruto. Namun lagi-lagi, Naruto dapat menangkisnya hanya dengan satu tangan.

Kyu-Shinno semakin merapat dan Naruto melihat itu sebagai celah. Dengan cepat ia mengalirkan chakra ke kedua kakinya dan menerjang keduanya. Kyu-Shinno telah mengantisipasi gerakan Naruto. Namun..

Syutt! Duagh! Duagh!

Naruto sunshin ke belakang mereka dan mencoba melayangkan pukulan dengan kedua tangannya. Namun, dengan reflek yang bagus, keduanya mampu berbalik dan menepis serangan Naruto di detik-detik sebelum pukulan Naruto mengenai telak keduanya. Tapi tetap saja. Dorongan yang kuat dan dengan sedikit chakra di tinjuan Naruto, membuat Kyu-Shinno sedikit terseret ke belakang.

Tak sampai disitu, Naruto dengan gesit bergerak cepat dan melesat menuju Kyu-Shinno. Naruto menggerakkan kedua tangannya membentuk segel tangan yang cukup rumit. Kemudian ia membengkakkan dadanya dan mengucap jutsunya.

Suiton: Teppoudama no Jutsu

Aliran air yang deras menyembur dari mulut Naruto membentuk peluru air. Naruto sedikit meringis sesaat setelah mengeluarkan jutsunya. Ia melihat luka yang lumayan lebar di tubuhnya.

"Sial, aku tak bisa bergerak leluasa dengan luka ini.." Naruto terbatuk darah dan nampak wajahnya semakin memucat. Jutsunya pun berhasil dihindari. 'Chakraku tinggal sedikit lagi, tapi ini masih panjang. Cih' Naruto kembali melesat dengan sangat cepat dan menghantam telak wajah Kyu-Shinno yang bahkan tak bisa mengikuti kecepatannya.

"Dia terlalu cepat," Kedua mata Momo sedikit bergetar, "Hanya sharingan yang bisa melihat pergerakannya." Momo berkata dengan wajah sedikit gelisah dan panik.

Azura menepuk bahu Momo dari belakang. Dapat Momo lihat Azura menatapnya dengan senyum misterius yang terkesan menyiratkan sesuatu yang mengerikan.

"Daijobou," Azura memejamkan kedua matanya, "Setiap orang pasti memiliki kelemahan. Bukan begitu?" Azura membuka matanya dan nampak pola aneh di matanya (ㅈ).

"Lawan doujutsu dengan doujutsu!"


"Uchiha-san, kita sudah bergerak. Dan nampaknya Naruto-sama sedang bertarung. Apa kita akan membantunya?" Zetsu hitam merubah wujudnya menyatu dengan setengah tubuh Haruki.

"Tidak," Haruki berkata simpel, "Menurutmu, apa cara efektif untuk mengawetkan jasad?" Justru Haruki malah bertanya kepada Zetsu hitam, yang membuat Zetsu hitam sedikit penasaran.

"Kenapa kau bertanyaㅡ"

"Jawab saja." Zetsu hitam melepaskan diri dari Haruki dan kembali mengubah wujudnya membentuk satu kata. "Daun Kuchifu?" Haruki duduk di salah satu kursi disana dan bertopang dagu. "Dimana kita bisa mendapatkannya?"

"Hehehe.. Kupikir kau sudah tahu, dimana tempat yang ditumbuhi pepohonan." Haruki tersentak mendengarnya, "Senju 'kah?" Tanyanya, yang hanya dijawab dengan respon singkat oleh Zetsu hitam.

"Begitulah."

Haruki memejamkan kedua matanya sejenak sebelum menatap tajam Zetsu hitam. "Jadi, aku harus mengotori tanganku lagi?" Killing Intent yang dikeluarkan Haruki begitu pekat, namun Zetsu nampak tidak terpengaruh sama sekali.

"Kau saja yang pergi, aku akan menolong Naruto-kun." Setelah mengucapkan itu, Haruki pergi dengan sunshin meninggalkan tanda tanya pada diri Zetsu.

"Naruto-kun?"

.

.

Naruto vs Kyu-Shinno Azura

Jrasshh! Kubo melihat dengan jelas apa yang terjadi. Azura, dengan doujutsu misterius dan pedang yang disimpan dalam fuin di lengannya, berhasil menusukkan pedangnya dalam-dalam ke dada sebelah kanan Naruto. Naruto merasakan perih yang luar biasa di dada kanannya. Namun ia beruntung karena ia telah sedikit menggerakkan tubuhnya sehingga yang terkena adalah dada kanannya, tak mengenai organ vital nya.

Ohok! Naruto batuk darah lagi. Pandangannya mengabur tapi ia dapat memprediksi apa yang terjadi selanjutnya.

Ia kalah.

Kalah dengan telak.

Mata sharingan nya pun telah menghilang digantikan dengan mata hitam kelamnya. Ia kalah dan ia mengakui itu. Pergerakannya tidak seluwes seperti dirinya dulu. Memang benar bahwa ia perlu berlatih lagi agar skill istimewa nya tidak menghilang.

Tapi, ia tahu ia tidak kalah. Belum. Setidaknya masih ada secercah harapan kecil saat ia merasakan sepasang chakra yang ia kenal tengah menuju kemari.

'Peluangku tak lebih besar dari 40%. Semoga saja Haruki mampu membereskan mereka untukku. Dan nii-san.. Maafkan aku yang telah membohongimu. Aku sangat menikmati kebersamaan kita.' Naruto memejamkan kedua matanya memahan perih saat Azura menarik pedangnya dengan kasar.

"Ini salah. Kita seharusnya tidak membunuhnya, benar kan Kubo-sama?" Tanya Momo dengan wajah cemas saat mendapati Azura benar-benar menggila di pertarungan. Namun, Kubo tetap diam saja.

Kembali ke pertarungan, Naruto mendongak dan menatap tiga orang yang berdiri di depannya.

"Kau kalah, Naruto-sama." Azura berucap pelan. "Kau bahkan tidak merasa menyesal karena telah membunuh kakakku. Itu menyedihkan! Cuih!" Azura meludah dengan kasar.

Dalam keadaan hampir kalah, Naruto masih bisa mengulas seringai tipis. "Bukan salahku membunuh pengkhianat seperti Azuna, terlebih lagi dia peliharaanku yang paling manis." Seringai Naruto makin lebar saat wajah Azura nampak memerahㅡmenahan amarah.

"Kau!" Azura dengan amarah kembali melayangkan pedangnya ke arah Naruto. Sedikit lagi pedang itu akan kembali melukai sang anak sulung pertapa itu, kalau saja..

Grephh! Tangan Kubo mencengkeram erat tangan Azura. Azura menggeram marah kepada pemimpinnya itu.

"Lepaskan aku, Kaicho."

"Apa yang kau pikir kau lakukan hah?!" Krekk! Kubo memelintir pergelangan tangan Azura hingga membuatnya berteriak. "Akkh!"

Kubo menatap tajam Azura. "Bukan kau yang memimpin disini, kau tahu. Dan dilarang terbawa perasaan jika kau masih ingin kuanggap sebagai anggota tim." desis Kubo dengan KI yang pekat, hingga membuat seluruh anggotanya merasa seperti tercekik.

Azura, dengan pergelangan yang dipelintir, masih ngotot dengan pendiriannya. "Tapi, dia membunuh kakakku! Dia juga sudah merendahkan kakakku! Apa itu pantas?! HAH?! JAWAB AKU!" Teriak Azura disertai derai air mata dari kedua pelupuk matanya.

Kubo melepaskan cengkeramannya, "Hanya itu?" ujar Kubo kalem. Azura menatap tidak percaya Kubo yang dengan entengnya mengatakan kata tersebut. Seakan tidak peduli dengan perasaannya terhadap sesama.

Saat mereka berdebat, diam-diam Naruto sudah membuat handseal dan mengaktifkan sebuah jutsu. 'Hanya dengan itu aku bisa sementara aman.' pikir Naruto. Sebuah Genjutsu tingkat tinggi ciptaannya yang ia ciptakan dengan bantuan Mangekyo Sharingan.

"Genjutsu: Inja no Noroi."

Dalam sekejap, dunia di sekeliling Kubo dan anggotanya berubah. Sebuah gambaran ilusi tentang masa lalu dari masing-masing anggota yang suram dan menyedihkan.

Kubo memandang masa lalu nya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Emosinya pun nampak naik-turun.

Momo memandang masa lalu nya sebagai kesalahan yang tak pantas diingat maupun diulangi. Kedua matanya nampak bergetar menahan tangis dan kedua tangannya erat mengepal.

Shinno memandang masa lalu nya dengan perasaan sedih dan hancur. Karena, masa lalu nya adalah hal yang ia hindari karena terlalu menyakitkan.

Kyu memandang masa lalu nya dengan hati bergejolak. Amarah, kesedihan, kehampaan, kebahagiaan, ke-datar-an. Semua bercampur menjadi satu kesatuan. Pada saat ini, Kyu tengah menangis sejadi-jadinya mengingat masa lalu nya.

Azura memandang masa lalu nya sebagai kebahagiaan. Ingin rasanya ia kembali ke masa lalu dan mengulanginyaㅡmembuat loop (proses pengulangan) di dunia ini. Hanya Azura yang berekspresi datar dan kosong.

Di luar dunia genjutsu, nampak Naruto sedang terbaring lemah. Tampak Madara dan Haruki disampingnya. Madara memandang adiknya dengan sedih. Ingin ia mengulangi semuanya dari awal. Ingin lebih menikmati kebersamaannya dengan adik angkatnya itu. Kini, ia menyesal kenapa ia tak bisa lebih peduli kepada adik angkatnya itu.

Harukiㅡlengkap dengan masker hitam dan tudungㅡmemandang Naruto dengan perasaan yang berkecamuk. Jika terus seperti ini, Naruto bisa mati karena kehilangan banyak darah. Haruki menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Ia tidak rela jika Naruto mati! Ia tidak akan rela!

Iris Haruki melebar.

Hanya ada satu cara...

"Naruto-kun, gunakanlah Izanagi. Aku mohon."

Madara melirik orang di depannya. 'Kenapa aku merasa tak asing dengan suara dan chakranya?' pikir Madara dalam hati.

Naruto menggeleng lemah. "Mungkin ini sudah menjadi takdirku." ujarnya lemah. Namun, dalam benaknya ia masih bertanya-tanya tentang arti dari Takdir.

"A-Aku.." Ucapan Naruto terpotong oleh Madara.

"TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU MATI, BAKA OTOUTOU!" Madara berteriak keras. Kemudian, suaranya memelan. "Tidak akan kubiarkan.."

Naruto tersenyum tulus. "Akhirnya kau memperdulikanku, Nii-san. Kupikir.." Suara Naruto mulai tercekat, "..kupikir kau tidak akan peduli padaku lagi semenjak kematian Izuna-chan." Ujar Naruto dengan nafas patah-patah.

"Aku selalu peduli padamu! Karena kau adikku!" Madara berkata dengan setetes air mata yang mengumpul di pelupuk matanya. Membuat mata Naruto melebar sejenak.

'Adik 'kah?'

Ingatan Naruto berputar jauh. Sebelum konflik dengan neneknya, keluarga yang Naruto miliki sangatlah sempurna. Nyaris tanpa cacat. Naruto memiliki dua adik kecil manis yang selalu menjadi korban kejahilan Naruto. Meski menjadi korban kejahilan Naruto puluhan bahkan ratusan kali, namun kedua adik Naruto masih menyambut Naruto dengan senyum riang gembira. Tak ada dendam yang tersirat. Mungkinkah suatu saat jika ia kembali bertemu dengan kedua adiknya itu, kedua adiknya masih tetap akan menyambutnya dengan senyum riang gembira? Setelah semua kejahatan yang ia lakukan, pantaskah ia mendapatkannya?

Tiba-tiba Naruto tersentak.

Takdir, heh?

Naruto menyeringai dalam hati. Benar. Untuk apa ia hidup? Untuk apa sang Pertapa menghukumnya dengan mengirimnya ke bumiㅡtempat yang menjijikkan, menurutnya. Benar! Naruto hidup dengan berbagai tujuan. Ia hidup untuk tujuan itu. Ia hidup untuk merubah dan membelokkan takdir! Itu tujuannya!

Secara tiba-tiba, sebuah ingatan merasuk ke kepalanya. Ingatan tentang masa kecilnya bersama keluarganya. Ingatan yang menyesakkan baginya.

Naruto kecil meringkuk dibawah sebuah pohon besar yang lebat daunnya. Kedua matanya meredup. Sudah setengah hari ia berada disitu dan tak ada yang menemukannya. Ia sedang bermain bersama kedua adiknya, tapi ia merasa seperti sendirian. Tak ada gurat senang di wajahnya. Yang ada hanya kesedihan yang kentara.

"Nii-chan, jika tidak keluar sekarang, kami akan meninggalkanmu, loh!" Indra, dengan wajah bosan dan tak peduli, berkata terus terang.

"Apa yang kau katakan, Indra-nii?! Kita harus menemukan Nii-chan! Jangan berpikir akan meninggalkannya!" Ashura sedikit membentak sang kakak. "Kita bahkan belum pernah menemukan Nii-chan dalam permainan ini." Tambah Ashura.

Indra tersenyum meremeh. "Terserahmu saja, tapi aku akan tetap pulang. Jaa." Indra kemudian berbalik dan meninggalkan Ashura. Tak mau ditinggalkan, Ashura akhirnya mengikuti langkah kakaknya.

Sementara itu, Naruto yang tak jauh dari sana, dengan cepat meraba-raba sekitarnya. Berpegangan pada sebuah pohon, ia memfokuskan chakra nya dan melacak chakra kedua adiknya. Dengan menghitamnya penglihatannya, yang bisa ia lakukan untuk kembali ke rumah hanya mengikuti kedua adiknya. Tapi adik-adiknya tak pernah mau menuntunnya meski ia yang meminta. Dilahirkan dengan kondisi buta, ingin ia mengakhiri semuanya. Namun, tak disangka, hati kecilnya memberontak. Ia ingin ditemukan. Sekali saja,

"Hei, adik-adikku yang manis. Kakak kalian disini, kenapa kalian tidak mencoba menemukan kakak kalian?" Naruto berujar dengan suara bergetar dan bahu bergetar menahan tangis. "Aku selalu menemukan kalian, tapi kenapa kalian tak pernah menemukan ku?"

"Aku mohon, sekali saja. Indra, Ashura...

...Tolong temukan aku."

Deg!

Madara dan Haruki terkejut saat dari kedua mata Naruto, keluar cucuran air mata yang tak bisa dibendung. Semakin heran lagi saat mereka mendengar Naruto sesunggukan dalam tangisnya.

"Hikss.. Hikss.. Siapa saja," Naruto menahan nyeri di dadanya, "Tolong selamatkan aku."


Hagoromo menggemeletukkan giginya. Geraman terdengar sangat jelas di ruangan itu. Bahkan, Indra dan Ashura sudah pergi dari dekat ayahnya karena emosi sang Pertapa enam Jalur sedang labilㅡtidak stabil.

"Tidak salah lagi. Perasaan ini, aura ini.." Hagoromo menggeram penuh amarah hingga kedua anaknya juga merasakan ketegangan yang pekat.

Sang Pertapa dengan cepat menatap kedua anaknya dengan pandangan serius dan tajam. "Kalian ingat tentang Legenda Monster Tanpa Nama?" Tanya sang Pertapa serius.

Indra-Ashura dengan cepat mengangguk. "Ada apa dengan itu?" tanya Indra serius.

Hagoromo mengangguk, "Sangat serius." Sang Rikudou mengusap wajah lelahnya dan mulai berucap,

"Dahulu kala, di sebuah tempat, hiduplah seekor monster buruk rupa. Monster itu sangat kuat. Saking kuatnya, monster itu mampu meluluhlantakkan sebuah negara dalam sekali serang. Tapi monster itu tidak bahagia. Karena monster itu tidak mempunyai nama. Monster itu kemudian melakukan perjalanan panjang untuk mencari sebuah nama. Di tengah perjalanan, monster itu membelah diri. Yang satu pergi ke Selatan dan satunya pergi ke Utara. Monster yang pergi ke Utara menemukan sebuah desa. Di desa itu ia bertemu seorang gadis 10 tahun sedang menangis dibawah sebuah pohon. Ia menghampiri gadis itu dan bertanya, 'Mengapa kau menangis?' sang gadis tidak menjawab dan tetap menangis. Sang monster pun berkata lagi, 'Aku akan memberimu kekuatan tapi beri aku nama'. Sang gadis setuju, kemudian sang monster merasuki gadis itu. Sang gadis menjadi kuat, ia bisa mengeluarkan berbagai macam jutsu tingkat tinggi dan mendapat elemen misterius. Sampai suatu ketika, saat sang gadis tengah menceritakan betapa hebat dirinya kepada keluarganya, sang monster memakan gadis itu dari dalam. Monster itu pun kembali tidak mempunyai nama.

Sang monster kembali berpetualang mencari nama. Ia melakukan hal yang sama kepada kakek tua yang ia temui di tengah jalan, kakek tua itu pun juga berakhir di dalam perut sang monster. Hal yang sama terjadi juga pada seorang peracik obat di sebuah Kerajaan. Peracik obat itu juga berakhir di perut sang monster tanpa memberinya nama. Suatu ketika, seorang remaja berambut putih berjalan dan bertemu dengan monster itu. Monster itu kembali mengucapkan kalimat yang sama, 'Aku akan memberimu kekuatan tapi berikan aku namamu' Tak terduga, remaja itu berkata dengan datar, 'Kita sama, aku juga tak mempunyai nama. Kau boleh memakan ku asal kau memberiku sebuah nama' Sang monster berubah menjadi bingung. Namun tanpa sengaja ia melihat rambut remaja itu dan berkata, 'White' Remaja yang diberi nama White itupun tersenyum dan berkata kepada sang monster, 'Itu nama kita. Terima kasih telah memberiku nama' Sang monster kemudian merasuki tubuh White dan memberinya kekuatan.

Hal yang biasa terjadi, terjadi juga. Sang monster kelaparan, namun sang monster menahannya. Padahal White sendiri telah rela jika sang monster memakannya saat itu juga. White akhirnya tumbuh dewasa dan sang monster masih menahan laparnya. Ia menyukai nama White dan akan menjaganya sampai White mati, dan ia kembali tanpa nama. Hingga kemudian, ia tak bisa lagi menahan rasa laparnya. Ia (dalam tubuh White) berlarian ke seluruh penjuru tempat dan memakan semua orang yang dia temui. Untuk melampiaskan kekesalannya, ia melalui White berteriak, 'Lihat aku! Lihat aku! Lihat seberapa besar monster di dalam tubuhku telah tumbuh!'

Kemudian White tanpa sengaja bertemu dengan seorang seumurannya berambut perak. Sang monster menyadari jika itu dirinya yang lain. White bertanya, 'Siapa namamu?' namun tak ada jawaban yang ia dapatkan. White kembali bertanya hal yang sama, namun ia tetap tak mendapat jawaban. Sampai akhirnya, seorang itu berkata dengan lirih, 'Namaku Gray dan monster di dalam tubuhku lapar. Aku tak bisa memakan seseorang'. White tertawa dan mengajaknya bertaruh, 'Kita bertarung. Jika aku menang, aku akan memakanmu. Jika aku kalah, kau boleh melakukan apa saja padaku'. Akhirnya, White dan Gray mengambil jalan yang berseberangan. Gray memilih berlatih untuk memperkuat kekuatannya sementara White masih terus memakan orang-orang tak bersalah. Dalam suatu kesempatan, sang monster (White) berkata kepada White, 'Aku menyukai nama White yang kau berikan'."

Indra dan Ashura saling berpandangan sejenak, "Maksud ayah, White yang memberikan Naruto-nii penglihatan dan semua itu?"

Hagoromo mengangguk dengan serius. "Tidak salah lagi." Hagoromo menghela nafas sejenak, "White, bahkan sampai saat ini pun aku masih tidak mengerti mengapa aku menciptakan monster kekacauan itu."

Hagoromo mengepalkan kedua tangannya. Memikirkan rencana-rencana yang telah ia buat dulu, akan kacau hanya dalam satu hentikan jari.

'White..Kau tidak seharusnya ada di dunia ini..'


To be Continued


Author Notes:

Fyuhhh.. 3,900-an kata. Lebih pendek dari sebelumnya tapi saya puas dengan chapter ini. Hasilnya walau ga memuaskan tapi jauh dari jelek dan monoton. Hehe, salahkan ambisi kami yang agak terburu-buru menulis chapter 9 ini. Terima kasih kepada G-san dan Yola-san yang memberi semangat kepada saya dan Faiz-san dalam menulis :)

Hmm, pada akhirnya setelah perdebatan panjang diantara 4 author, kami akhirnya sepakat mengambil sedikit cerita dari anime panjang Monster. Memang, agak sedikit aneh jika membayangkannya tapi kami rasa ini bukan ide yang jelek namun bukan ide yang bagus juga :"D

Oh iya, ada saran mengenai jutsu Naruto? Saya ada beberapa gambaran jutsu Katon-nya tapi masih ragu saya gunakan dikarenakan beberapa hal. So, kalau ada saran soal Jutsu Naruto silahkan PM saya :)

Yah, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Maaf kalau telat update, ya karena pas puasa kami agak males buat nulis dan update :v Sebagai gantinya, mungkin 2-3 minggu saya update lagi chapter 10. Oke, segitu saja. Jangan lupa terus ikuti fic ini!


© Cassio-Team 88' Studios


Karanganyar,

06/06/2019, 12:10 PM