The Faults in Byun Baekhyun

Author: blehmeh

Translator: berryinlove

Desclaimer: Cerita ini milik blehmeh berry hanya menerjemahkan

Original Link: (tambahin asianfanfics. di depannya) com/story/view/833300/the-faults-in-byun-baekhyun-angst-romcom-baekhyun-chanyeol-baekyeol-chanbaek-sliceeoflife/18

Cast: Chanyeol; Baekhyun; EXO's member; Other

Pairing: Chanbaek; Other

Genre: Romcom; Angst; Slice of Life

Rate: M

Warning: BL; banyak umpatan-umpatan dan sex talk

Note: Do not copy or re-publish. Do like, comment, and review~ ^^

.

ooo

.

261216

.

.

.

Kalimat dalam /blabla/ itu maksudnya dicoret ya. di ffn gak bisa soalnya.

.

"Jongin kembali."

"Apa?!" Chanyeol dan Baekhyun menolehkankan kepala mereka dengan cepat sambil menatap Kris tidak percaya dan berharap. Kris hanya bisa mengangguk suram.

"Dia di kamar 88—" Sebelum Kris dapat menyelesaikan perkataannya, Chanyeol dan Baekhyun bergegas pergi dengan kecepatan yang Kris dan Chen belum pernah lihat sebelumnya. Saat kedua musuh itu pergi, Sehun muncul di samping dua orang lainnya.

"Ada apa?" Yang lebih kecil berbicara. "Mereka ke mana?"

"Ke Kim Jongin." Chen, membalas seakan-akan itu sangat jelas.

"Kau tak pergi juga?" Kris berbalik ke yang paling pendek, yang mengedikkan bahu.

"Aku mengunjunginya setiap minggu. Aku diberi izin, ingat?" Chen membalas dengan santai. "Sedangkan dua orang itu tidak …"

"Siapa itu Kim Jongin?" Sehun menyela, memanyunkan bibir karena merasa tak dianggap.

"Apa kau ingat rumor terbesar dan pertama yang kau dengar ketika kau memasuki sekolah ini?" Kris bertanya pada Sehun, yang berpikir melihat ke langit-langit.

"… 'Baekhyun-hyung dan Chanyeol dulunya sering bertengkar dan merusak seluruh gedung sekolah …'" Suara Sehun melemah, tapi Kris meyakinkannya untuk melanjutkan. "'Mereka sangat berbahaya sampai ketika seseorang mencoba untuk melerai mereka, mereka menyakiti orang itu juga…" Mata sehun melebar sadar sambil Kris dan Chen mengangguk.

"Mereka menyakiti seseorang dengan sangat parah sehingga orang itu harus diopname selama setengah tahun. Satu-satunya orang yang memiliki keberanian untuk berada di antara mereka tak lain dan tak bukan, yaitu sahabat keduanya. Kim Jongin."

.

.

.

.

"Kau lebih baik membiarkan aku bicara padanya lebih dulu, atau aku akan …" Baekhyun memulai sambil mendorong Chanyeol dan bergegas pada waktu yang sama. Chanyeol balik mendorong dengan kekuatan yang sama.

"Tidak. Biarkan aku bicara padanya lebih dulu …" Chanyeol menggertakkan giginya. Kamar 88 ada di penglhatan mereka, tepat di hadapan mereka, dan untuk beberapa alasan itu memberikan motivasi untuk bergegas lebih cepat. Keduanya meraih gagang pintu sambil mereka mendekat, tangan mereka membungkus pada satu sama lain sambil memutar gagang pintu dan mendorong pintunya dengan kekuatan terbesar yang mereka bisa—

"JONGIN!" Mereka berdua berseru, seperti hal itu adalah kompetisi untuk melihat siapa yang bisa mengatakan nama Jongin lebih kencang, atau pada siapa Jongin akan menoleh terlebih dahulu.

Saat pintunya terbuka, mereka bertemu dengan lelaki setengah telanjang yang mencoba memakai pakaian. Bekas luka pudar berbentuk garis dia lengan coklatnya sambil dia mencoba untuk memakai dengan benar T-shirt putihnya.

"Ahh—" Lelaki bagaikan tercium matahari itu mengeluarkan suara antara terksiap dan cicitan terkejut sebelum raksasa dan puppy meloncat padanya dan menahannya di lantai.

"Jongin kau ke mana saja hidup membosankan tanpamu—"

"Apa kau tahu betapa bosannya berurusan dengan Kris dan naksir bodohnya pada culun terbesar di sekolah—"

"Banyak yang telah terjadi Jongin dan kau banyak melewatkan tunggu sampai aku memberi tahumu—"

"Dan aku bertemu dengan bocah bernama Oh Sehun ini dan gosh dia sangat menyebalkan dan dia bahkan tidak mau memanggilku hyung dia seumuran denganmu tunggu itu sama sepertimu—"

"Tebak hal terbodoh yang telah terjaid padaku? Aku harus sekamar dengan idiot yang disebut Yeol dan—"

"Aku harus sekamar dengan orang tidak ada aoa-apanya di sini ini yang bahkan tidak akan mau membersihkan dirinya sendiri sebagian waktu dan barusan kau memanggilku apa—"

"Yeol aku memanggilmu Yeol Yeol Yeol Yeol Yeol—"

"Diamlah! Jongin hentikan dia—"

"YeolYeolYeolYeol—"

"For fuck's sake jika kau tidak diam—"

"YeolYeolYeolYeol—"

"Diamdiamdiamdiamdiamdiamdiam—"

"Oke, oke! Aku mengerti!" Jongin berseru mendorong mereka dari dirinya, bertanya-tanya sebenarnya apa yang merasuki kedua sahabatnya. Pertama, mereka berjuang mendapatkan perhatiannya dan selanjutnya mereka bahkan tidak sadar kalau dia ada di bawah mereka!

"Jongin ada banyak yang ingin ku katakan padamu man—" Baekhyun memulai, tapi Chanyeol menutup mulut dan mendorongnya jauh.

"Jongin jangan dengarkan asshole ini—"

"Aku memang punya lubang pantat!" Baekhyun menyela, mendelik pada Chanyeol. "Takutnya kau tdiak sadar, kau juga punya."

"… Jongin jangan dengarkan dick—"

"Aku memang punya penis."

"… Tidak kau tidak punya." Sudut mulut Chanyeol terangkat ketika melihat mata Baekhyun berapi dengan amarah. Saat ini, keduanya telah berdiri dengan Chanyeol mentiangi Baekhyun yang tak terintimidasi.

"Dengan kurangnya kemajuan akan dirimu dengan Do Kyungsoo sepertinya kau tidak cukup jantan untuk—"

"Apa kau menghina kejantananku?" Chanyeol menggeram, melangkah lebih dekat sampai mereka berjarak beberapa inchi dari satu sama lain.

"Ketidak jantananmu," Baekhyun mengkoreksinya dengan cepat, menerima tantangan melangkah ke arah si raksasa sampai dagunya hampir menyentuh dada Chanyeol.

"Mau ku tunjukkan padamu?" Chanyeol mulai membuka sabuknya, dan Baekhyun melakukan hal yang sama.

"Maju sini!"

"Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!" Jongin berseru sambil mendorong jauh keduanya, terengah dengan berat ketika dia berdiri di antara mereka. Kedua sahabatnya menghentikan pergerakkan mereka dan mentap Jongin kaget, seperti bertanya-tanya kenapa dia ada di sini. Ketika yang paling muda telah selesai terengah, dia berdiri dan mulai berbicara.

"Takutnya kalian tidak sadar …" Jongin menunujuk lengannya, yang dihiasi bekas luka pudar. "Pertengkaran kalian membuatku ke rumah sakit selama hampir setengah tahun! Bagaimana jika kalian membuatku ke rumah sakit lagi?" Dengan segera keduanya terdiam. "Jika kau berdua mulai bertengkar lagi di hadapanku, aku serius tidak akan berbicara pada kalian lagi sampai kalian berdua baikan! Serius!" Ada keheningan panjang sambil Baekhyun dan Chanyeol berdebat antara mendengarkan teman mereka atau hasrat untuk memukul satu sama lain. Bagaimana pun juga, keabasenan teman tercinta mereka membuat hati mereka sakit, dan akhirnya mereka setuju secara diam. Jika Jongin mengatkan hal tersebut enam bulan lalu, Baekhyun dan Chanyeol akan tertawa kencang dan mengabaikan Jongin selama sisa hari itu, tapi keabseanan membuat hati mereka lebih berkasih sayang.

"Kalian berdua tidak berubah sama sekali …" Jongin mendesah, mengambil kaus yang telah terlempar ke lantai tanpa sengaja setelah temannya meloncat padanya. "Dan karena itu, sekarang aku harus mengulang satu semester lagi!"

"Itu masih tak apa, karena secara teknis kau seharusnya tidak di tingkat tahun yang sama dengan kita." Baekhyun menunjukkan. Jongin dua tahun lebih muda, tapi karena dia jenius, dia tumbuh ke tingkat yang sama dengan Baekhyun dan Chanyeol ketika dia pindah ke sekolah ini. Jongin memanyunkan bibir, dan Baekhyun mencubit pipinya dengan afeksi.

"Hentikan itu." Jongin komplain, dan Baekhyun mengeluarkan kikikkan. Walau Chanyeol melihat dari samping dengan jengkel, karena ayolah Jongin itu sahabatnya juga dan mereka setidaknya harus berbagi kalau tidak memberikan Jongin sepenuhnya pada dirinya, tapi dia tidak bisa tidak menyadari perbedaan tak kentara pada sikap Baekhyun saat dia berbiacara pada Jongin. Lebih lembut, hampir seperti dia berbicara pada anak atau adik laki-lakinya, seperti dia ingin melindungi Jongin dengan hidupnya. Mata itu mengerut dalam tawa, tentu saja tanpa kegelapan, sarkasme atau rasa pahit, bibir itu melengkung ke atas menjadi senyum kecil karena mendengar lelucon garing yang Jongin buat, dan mengusap dengan afeksi pada rambut Jongin dalam gerakan memutar itu, hampir menghipnotis.

Mungkin Chanyeol tidak menyadari semua ini karena dia tidak pernah melihat dengan sungguh-sungguh akan bagaimana Baekhyun memperlakukan dongsaengnya Jongin (karena setengah waktu /sepanjang waktu/ dia sibuk mencoba mengambil Jongin kembali), tapi ini adalah sesuatu yang belum pernah Chanyeol lihat pada Baekhyun sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya dia terpukau.

.

.

.

.

"Apa? Kalian sekamar?" Jongin bertanya pada Bakehyun, yang mendesah dan mengangguk. Mata Jongin lebar sambil menatap antara si raksasa yang menyilangkan lengan dan bersandar di sudut dan pada Baekhyun, yang duduk di kasur dan menatap lantai.

"Ini sangat …" Jongin mulai tertawa. "ini hal terlucu yang pernah aku dengar!" Jongin terus tertawa. Chanyeol memutar mata pada ke-4Dan Jongin dan Baekhyun berbalik untuk melihat yang lebih muda berguling di kasur tertawa.

"Aku hanya …" Jongin terus tertawa untuk beberap saat, lalu dengan cepat duduk dan mengusap air mata non-eksis dari matanya. "Karma pasti telah menjadi kesulitan yang besar. Kalian membayar enam bulan ku di rumah sakit!" Jongin mulai tertawa lagi, dan Chanyeol bertanya-tanya apa dia sudah terlalu lama di rumah sakit.

"Jika kau terus tertawa seperti itu. Karma akan terjadi padamu juga." Baekhyun sedikit menggoda (dan sekali lagi Chanyeol menyadari perbedaannya), lalu dia bergerak dan mulai mengibas perut Jongin.

"Aw! Kau tahu itu sakut, hyung!" Jongin memekik lebih setiap Baekhyun mengibasnya, dan Chanyeol merasakan alisnya berkedut jengkel. Jongin tidak pernah memanggilku hyung.

Kenapa semua orang memanggilnya hyung tapi aku tidak.

"Chanyeol-ah, bagaimana kabarmu?" Jongin bertanya setelah pulih dari tawaan dan tangisan akan kesakitan dari Baekhyun yang mengibasnya, seakan-akan dia baru sadar temannya yang lain ada di sini.

"Baik." Chanyeol bergumam merespon, mencoba mengumpulkan perasaan kebingungan (setelah menyadari kebanyakan dia telah menatap musuhnya for god's sake) dan berusaha mengabaikan perasaan cemburu yang tumbuh dalam jantungnya karena merasa terabaikan. Juga … masalah hyung itu.

"Kau tidak seru." Jongin mendesah ketika dia sadar Chanyeol tidak responsif.

"Seseorang cemburu~" Baekhyun memaparkan, menyeringai lebar. Chanyeol mengirimkan delikan padanya.

"Kenapa kau tidak diam untuk sekali saja?" Semangat bertengkar Chanyeol mengempis dan dia mendesah "Pergilah. Biarkan aku bicara dengan Jongin untuk beberapa menit. Atau mungkin sejam. Atau sehari. Atau sisa akhir hidupku. Tanpamu."

"Dia bukan satu-satunya temanmu—"

"Ya? Well, aku menarik dia ke nerakanya sekolah."

"Well secara teknis aku kenal dia lebih dulu daripada kau—"

Jongin, yang sebelumnya menikmati kepopulerannya, hanya terlihat bosan dan tak nyaman. Chen hyung … Dia berpikir pada dirinya sendiri. Kau di mana—

Seperti apa yang diharapkan, pintu terbuka dan Chen datang ke penglihatan.

"HYUUUUUUUUUUUNG!"Jongin memanggil lega tepat saat Chen berjalan masuk. Chanyeol dan Baekhyun berhenti berargumen dengan satu sama lain dan berbalik ke Jongin pada waktu yang sama.

"Pilih!" Mereka berseru padanya, dan Jongin merunduk kaget dan kebingungan tepat saat chen duduk di sampingnya.

"… Pilih apa?" Suara Jongin bahkan bisikan saja tidak sambil melihat api dan tekad di mata marah mereka sambil mereka mendelik padanya dengan tajam.

"Aku atau dia?!" Baekhyun dan Chanyeol menunjuk dengan menuduh pada satu sama lain tanpa mengalihkan pandangan dari sahabat mereka.

"Ingat siapa yang membelikan sepeda untuk ulang tahunmu yang ke-8—"

"Siapa yang mau tak masuk kelas karena dia ingin berlatih dance dan siapa yang—"

"Hyung lebih tua akan mmebelikanmu apa pun jika kau mau memilihnya—"

"Aku akan membelikanmu ayam setiap hari selama satu bulan ke depan jika kau memlihku—"

"… Chen hyung …" Jongin berbisik.

"APA?!" Baekhyun dan Chanyeol berseru, dan Jongin bergerak lebih dekat ke arah Chen.

"Aku … Chen hyung … Chen hyung, ayo pergi!" Sebelum dua orang lain bisa merespon, Jongin memegang lengan Chen dan berlalri keluar. Ketika mereka memahami apa yang terjadi, mereka mendelik pada satu sama lain.

"Ini salahmu!" Mereka berseru.

.

.

.

.

"Mereka sama saja seperti saat aku meninggalkan mereka." Jongin mendesah ketika mereka telah hilang dari penglihatan. Chen berjalan bersama di sampingnya. "Aku kira mereka akan berubah, tapi sepertinya tidak … sama sekali …"

Jongin mendesah lagi, dan bertanya-tanya dengan keras apakah opnamenya itu sia-sia.

"Apa mereka benar-benar tidak berubah? Sungguh?" Chen bertanya setelah beberapa detik, dan Jongin terdiam. "Pikirlah. Kau yang paling dekat dengan mereka berdua jadi seharusnya tahu."

"…" Jongin menatap Chen dengan tatapan kosong, dan pada akhirnya Chen mendesah dan menepuk punggungnya.

"Kau secepatnya akan sadar apa yang berubah dari mereka. Jangan khawatir. Ketika kau sadar apa yang sebenarnya berubah pada mereka, itu akan sangat jelas." Jongin terus menatap dengan kosong.

"Anyways, apa Chanyeol menyebutkan tentang pesta ulang tahunnya." Jongin menggeleng kepalanya dengan bengong.

"Dia mengadakannya hari Sabtu. Bawa alkohol dan bertemu di kelas 61 setelah makan malam." Mata Jongin melebar dan tertawa.

"Dia tidak bisa mentoleransi alkohol sama sekali!" Jongin tertawa lagi. "Kenapa aku harus bawa alkohol, jika dia bahkan tidak bisa menghabiskan satu botol tanpa mabuk?"

"Suruhan Kris." Chen mengedikkan bahu, lalu mengeluarkan senyuman. "Siapa yang tahu, kita mungkin akan mengadakan kompetisi minum dan jujur berani …" Jongin mengeluarkan senyuman yang sama dan melakukan jabat tangan dengan Chen.

"Senang untuk kembali, man."

.

.

.

.

Apa sesusah itu untuk memilih antara dirinya dan Byun Bakehyun?

Kenapa Jongin idiot?

Mendengus jengkel, Chanyeol membuka pintu miliknya (dan Byun fucking Baekhyun) dan menghentakkan kaki ke dalam, lalu menutupnya. Byun Baekhyun itu puppy kecil iblis yang tidak apa-apanya yang bisa berganti mood secepat air dan dia tidak dapat percaya kalau Jongin baru saja memilih—

Matany terbuka lebar ketika melihat sesuatu di mejanya.

Dia hampir berkaca-kaca.

Menghampirinya dengan hati-hati, dia menatapnya dengan mata lebar dan mulut menganga sambil menggerakkan jari-jarinya pada kotak itu.

Itu adalah kotak yang terbungkus dengan rapi dengan headphone duduk nyaman di dalamnya.

Bukan hanya headphone biasa—itu headphone yang selalu dia inginkan.

"STAR SR-009!" Dia berseru sambil mengambil dan mengangakat kotak itu dengan tangan yang gemetar. "AKU SELALU MENGINGINKAN INI!" Saat dengan hati-hati membulak-balikkan kotaknya, dia tidak menemukan nama atau catatan apa pun, tapi dia melihat harganya.

"HOLY SHIT $4000—" Chanyeol menatap label harganya, dan walau tidak tahu berapa 4000USD itu, dia tahu itu pasti banyak. Kesadaran memasukinya dan dia tersenyum licik.

Heh heh heh … sepertinya bagiamana pun Jongin memilihku. Membuka kotak itu dengan hati-hati, dia mengeluarkan headphone Dewa itu dan memakainya di kepala, merasakan kenyamanannya. Pasti Jongin yang memberinya ini. Dia melihat meja Bekhyun, bahkan sampai-sampai mencari di bawah kasur dan di belakang bantal dan di antara sprei, tapi dia tidak melihat jejak-jejak akan hadiah. dia tersenyum dengan senang sambil mensteker headphone ke ponselnya, merasa seperti akan meleleh ketika mendengar musik melalui objek barunya.

Dia tidak dapat lebih bahagia dari ini.

.

.

.

.

Chanyeol berjalan di lorong menggunakan headphone-nya dengan bangga. Ketika duduk untuk makan malam, Kris menyapanya sementara Sehun benar-benar mengabaikannya.

"Wow. Apa yang terjadi dengan headphone mu yang lama?" Kris bertanya penasaran, dan Chanyeol menyeringai lebar sebelum mengambil sesendok penuh mienya.

"Rusak." Dia menyeringai seperti orang gila. "Dan Jongin membelikan aku yang baru." Kris mengangkat alisnya.

"Bagaimana kau tahu kalau itu Jongin? Kau pikir aku yang memberimu sandwich dan—" Chanyeol melambaikan tangannya.

"Hanya Jongin yang tahu kalau aku selalu menginginkan headphone ini!" Chanyeol tersenyum. "Aku tidak tahu dari mana dia dapat uang, tapi damn, dia memakainya pada orang yang benar!"

"Jangan loncat telalu cepat ke kesimpulan seperti waktu terakhir kali." Kris memperingati, tapi saat itu juga, seperti panjang umurnya, Jongin loncat ke penglihatan. Lebih seperti, loncat di belakang Chanyeol dan memastikan untuk menghempaskan tangannya ke bahu Chanyeol, menakutkan si raksasa.

"Lihat siapa yang memutuskan untuk gabung denganmu hari ini." Jongin duduk di sebelah Chanyeol. Sebelum siapa pun dapat memperkenalkan Jongin ke Sehun dan Sehun ke Jongin. Chanyeol berbalik ke sahabatnya.

"Terima kasih man. Aku sangat menghargainya, man." Chanyeol tersenyum lebar sambil menepuk punggung Jongin.

"Apa?" Jongin menatap dengan kosong, lalu sepertinya dia melihat headphone di kepala Chanyeol. "HEI, BUKANNYA ITU HEADPHONE YANG SELALU KAU INGINKAN—"

"TEPAT SEKALI!" Chanyeol berseru, terlalu bersemangat untuk menahan semangatnya. "TERIMA KASIH BANYAK KARENA TELAH MEMBERIKANNYA PADAKU—"

Ada keheningan. Kris mendesah, dia seharusnya sudah mengantisipasi hal ini.

"… …" Chanyeol menatap dengan kosong pada Jongin, dan Jongin menatapa balik dengan sama kekosongan yang sama.

"… Kau tidak memberikanku headphone ini?" Chanyeol menyimpulkan dengan horor.

"Apa yang terjadi dengan yang satunya yang aku berikan padamu?!" Jongin akhirnya bertanya, suara sedikit jengkel.

"Aku merusaknya!" Chanyeol dapat melihat wajah temannya hancur berkeping-keping.

"Dude! Aku bekerja keras supaya dapat uang untuk membelikan itu untukmu! Dan kau menghancurkan-nya? Hanya dalam dua tahun?"

"Dua tahun itu waktu yang lama, oke! Lagipula itu barang bekas, for God's sake!"

"Aku tidak bisa untuk punya uang!" Ada keheningan singkat.

"… … Jadi kau tidak membelikanku barang ini?" Chanyeol akhirnya bertanya, dan Jongin menggelengkan kepalanya sedih.

"LALU SIAPA YANG MEMBELIKANKU INI?!" Chanyeol berkoar, mengambil nampan makanannya dan berlari keluar dari kafeteria.

"Tunggu!"Jongin berseru, putus asa, dan berbalik pada Kris dan Sehun yang canggung.

"… Jadi …" Kris memulai, ingin menutup wajahnya sendiri dan ingin membanggil Chanyeol kembali dan memukul kepalanya—

"… Uh, Jongin. Ini Sehun, teman baru yang ditambahkan ke grup kita." Jongin mengangguk jengkel kepada Sehun yang mengangguk sedikit dan melanjutkan makan. "Sehun ini Jongin."

Ada keheningan singkat lainnya.

"Jangan khawatir Jongin, Sehun itu pemalu, tapi ketika kau sudah mengenalnya, dia bocah nakal terbesar yang pernah ada." Sehun tersedak makanannya dan kemudian memerah. "Ngomong-ngomong, dia seumuran denganmu."

Kris menutupi wajahnya lagi ketika gelombang keheningan canggung lainnya memenuhi meja mereka. Sepertinya ini tidak akan berakhir.

.

.

.

.

Chanyeol bergegas kembali ke kamarnya, terengah sambil dia menutup pintu. Apa itu si fuckery? Sebenarnya siapa yang membelikannya headphone?

Ini sangat mengerikan Chanyeol bahkan tidak dapat—

Dia bergegas ke tempat tidurnya, headphone masih di kepala (karena dia tidak mau melepaskan bayi barunya) dan menyembunyikan dirinya di bawah selimut sambil mencoba memikirkan siapa yang memberikan headphone itu.

Bagaimana kalau dia punya penguntit?

Itu mungkin saja, karena dia sangat tampan …

Saat itu juga, pintu terbuka, membuat Chanyeol tersentak di bawah selimutnya.

"Apa yang kau lakukan?" Suara familiar tersebar ke ruangan, dan untuk sekali ini Chanyeol lega mendengarnya. Dia mengintip dari selimutnya.

"Sepertinya aku punya penguntit. Kunci pintu itu, mau kan?" Chanyeol meminta, dan Baekhyun menutup pintu dan menyilangkan lengannya sambil bersandar di sana. Aksi itu, untuk beberapa alasan, membuat Chanyeol menggerakkan matanya ke jins yang musuhnya pakai—mereka melekat dengan posesif di paha kencang dengan bagus, dan untuk pertama kalinya Chanyeol bertanya-tanya mengapa dia tidak menyadari itu sebelumnya.

Menyadari bahwa musuhnya memliki kaki luar biasa seksi.

Apa yang ku pikirkan? Chanyeol menggelengkan kepalanya sambil melihat wajah Baekhyun, yang alisnya terangkat sangat tinggi sampai tersembunyi di bawah poni.

"Kau? Punya penguntit?" Baekhyun mendengus. "Itu hal terlucu yang pernah aku dengar!" Dengan itu, dia bergerak ke kasur dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Pada titik ini, headphone Chanyeol sudah terjatuh dari kepalanya ketika bersembunyi di bawah selimut, dan dia berjuang untuk menemukannya lagi. Ketika dia menemukannya dan benda itu telah aman di tangannya, dia berbalik untuk melihat teman sekamarnya lagi, yang menyuap satu gigitan sandwich.

"Jangan meloncat terlalu cepat ke kesimpulan seperti waktu terakihr kali." Tiba-tiba Chanyeol diinggatkan skenario sandwich dan skenario perban dan—

Tidak mungkin.

Iya kan?

"STAX 0009 …" Chanyeol bergumam, dan Baekhyun, mengunyah sandwich-nya degan polos, berbalik dan menatap musuhnya.

"Apa?"

"Apa kau melihat siapa pun masuk dan memberikanku headphone ini?" Chanyeol bertanya sambil melempar selimut untuk memperlihatkan benda baru favoritnya. Baekhyun terlihat kaku lalu berputar ke arah berlawanan terlalu lambat untuk dibilang kasual.

"… Tidak." Baekhyun membalas, dan Chanyeol mendapatkan jawabannya.

Memanjat keluar dari kasur, dia berdiri tangguh di lantai sebelum menunjuk dan menuduh jari ke teman sekamarnya yang-mencoba-untuk-tidak-kentara.

"AKU TAHU!" Dia berteriak. "KAU MEMBELI INI, YA KAN?"

"Aku tidak tahu apa yang kau—"

"Berhenti beromong kosong, Byun Bakehyun! Aku tahu ketika kau berbohong!" Chanyeol berseru sambil memakai headphone-nya. "Pertanyaannya adalah, mengapa kau melakukannya?"

Ada keheningan singkat.

"… Aku bosan, dan barang itu murah …" Baekhyun bergumam sambil mengunyah sandwich-nya dengan sangat lambat.

"Murah? MURAH?" Chanyeol mengambil kotak di mejanya dan melemparkannya ke Baekhyun. "Lihat harganya dan beritahu aku kalau itu murah! Sekarang beritahu aku kenapa kau terus melakukan hal ini! Yang pertama perban, lalu sandwich, dan sekarang ini!" Baekhyun baru saja akan membuka mulut, tapi Chanyeol menyelanya.

"Bukan hanya itu, tapi aku bertaruh waktu hari di mana kau membebaskanku dari aktivitas klub bukan karena aku sangat menjengkelkan, tapi karena kau tahu betapa lelahnya aku! Iya kan?" Chanyeol tertawa maniak ketika Baekhyun memutar mata tapi tidak menyangkal.

"Fro fuck's sake, Park Chanyeol. Berhenti berpikir aku orang suci yang naksir padamu atau sejenisnya! Aku benar-benar bosan dan aku melihat catatanmu jadi aku memutuskan untuk melakukan sesuatu!"

"Haha, menghabiskan 4 ribu dolar untukku? Musuhmu?" Chanyeol tertawa lagi. "4 ribu dolar itu seperti gajiku setiap tahun!"

"… Aku punya … cara untuk mendapatkannya .." Baekhyun bergumam. Ada keheningan. Lalu:

"… Kau prostitusi?" Baekhyun melempar sepatu padanya.

"What the fuck? Aku tidak serendah itu!" Frustasi, Baekhyun mengambil bantal dan mulai memeluknya. Memebenamkan wajah pada kehangatan dan kelembutannya. Ada keheningan (normal) nyaman antara mereka.

"Haha, sepertinya aku tahu kau itu bagaimana." Chanyeol menginterupsi keheningan berumur pendek itu setelah beberapa saat, dan Baekhyun ingin mengerang dan melempar sesuatu pada Chanyeol untuk membuatnya diam. Dia memutuskan untuk tetap diam.

"Kau berpura-pura seakan little bitch, dan sebenarnya kau seperti itu pada kebanyakan waktu, tapi kau punya periode singkat kecil akan kebaikan, iya kan?" Chanyeol tersenyum seperi orang gilla, dan mungkin itulah alasan dia mau melihat 'kebaikan' Baekhyun karena akhirnya dia telah mendapatkan sesuatu yang selalu ia inginkan untuk waktu yang lama. "A little tsundere puppy~"

"Diamlah." Baekhyun bergumam. Tapi itu sepertinya membuat Chanyeol menjadi lebih senang.

"Gosh, terus lakukanlah seperti itu dan mungkin aku akan berpikiran kau tidak membenciku lagi!" Chanyeol menyelesaikan riang. Baekhyun memutar mata.

"Aku selalu membenci orang sepertimu. Apa pun persoalannya." Dia bergumam, tapi Chanyeol terlalu senang untuk peduli.

.

.

.

.

.

.

.

.

Waktunya untuk menyimpulkan sesuatu.

Ini sesuatu yang Chanyeol ingin pungkiri sejak waktu yang lama, tapi semenjak dia sekamar dengan Baekhyun, dia awalnya percaya bahwa dia akan membenci Baekhyun selamanya.

Tapi ternyata tidak seperti itu.

Faktanya, bukannya mulai sangat membenci Baekhyun sampai dia dapat membakar dirinya sendiri menjadi ketidak-adaan dan masih membenci Baekhyun dengan seluruh kemampuannya, dia menemukan kebenciannya untuk Baekhyun mulai merosot atom demi atom.

Dia tidak tahu mengapa.

Karena kurangnya alasan, dia memaksa dirinya untuk lebih membenci Bakehyun, tapi ternyata tak ada yang berhasil, dan dia akan kembali ke tahap awal.

Apalagi dengan perilaku kebaikan mendadak dari musuhnya ini, sangat tak kentara sampai dia hampir gagal melihatnya. Chanyeol hampir berharap dia tidak akan turun dari melayangnya akan merima hadiah terbaik yang pernah ada.

Dan fakta itulah yang mungkin membuat kebenciannya pada Baekhyun semakin dan semakin berkurang.

Ini adalah sesuatu yang belum pernah dia pertimbangkan sebelumnya, dan sekarang membuatnya takut setengah mati.

Ini menyisakan fakta kalau dia masih membenci Baekhyun, iya dia membencinya, tapi tidak sebanyak biasanya.

Berasap karena kebingungan, Chanyeol menghentakkan kaki setelah menyelesaikan kelasnya (dan menghabiskan seluruh pembelajaran memikirkan tentang perasaannya pada Baekhyun). Pada awalnya, dia memikirkan untuk makan siang, di mana dia akan bertemu dengan Kris dan Sehun yang tidak mengabaikannya lagi, tapi setelah dua detik merenung, dia memutuskan dia ingin sendirian.

Berjalan kembali ke kamarnya dengan terburu-buru, dia membuka pintu tapi tidak menyangka untuk melihat teman sekamarnya di sana.

Yang lebih tidak dia sangka, adalah teman sekamarnya setengah telanjang dan merawat ke lebamnya, wajah mengerenyit sakit saat dia melakukannya.

"…"

"…"

Mereka menatap satu sama lain.

"…"

"…"

"Kenapa kau ditutupi lebam-lebam?" Adalah hal pertama yang muncul di pikiran Chanyeol yaang sebaliknya kosong. Baekhyun memutar dan memutuskan kontak mata.

"Bukan urusanmu." Dia membalas, tapi bagaimana dia lebih berhati-hati dengan pergerakkannya membuktikan pada Chanyeol bahwa dia merasa tak nyaman karena pandangan teman sekamarnya. Saat mata Chanyeol bergerak di tubuh lebam Baekhyun yang juga dihiasi bekas gigitan dan cakaran, Chanyeol cukup cepat untuk menyimpulkan apa yang terjadi.

"Ini lelaki itu lagi, 'kan?" Chanyeol bertanya, dan dia mengernyit ketika melihat luka parah khusus di punggung Baekhyun. Yang lebih kecil memilih untuk mengabaikannya.

"Kink apa yang dia punya? Kau tidak bertemu dengannya semenjak kau mabuk, kan?" Satu-satunya lelaki yang dapat datang ke pikiran Chanyeol adalah yang dari waktu malam itu ketika Chen membawa teman sekamarnya kembali. Pertanyaan aneh dan dahsyat mendadak dari Chanyeol membuat Baekhyun lebih merasa tak nyaman dan sedikit curiga.

"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?" Baekhyun menatapnya dengan mata tajam, dan Chanyeol mundur sedikit.

"Bukannya jelas? Seluruh tubuhmu ditutupi dengan tanda seperti ini waktu itu juga." Baekhyun memutuskan untuk mengabaikannya lagi. Chanyeol, karena terlepas dari mata menakutkan nan mengaggetkan itu, merasa lebih percaya diri.

"Kenapa kau tidak menolaknya? Jika dia menyakiti tubuhmu, maka kau seharusnya berhenti bertemu dengannya saja!" Untuk beberapa alasan, rasanya tidak benar untuk melihat Baekhyun yang terluka. Rasanya tidak benar sama sekali.

"Apa urusannya denganmu?" Baekhyun berdiri jadi dia bisa(lebih) setingkat dengan pandangan Chanyeol. "Ini hidupku, jadi berhenti ikut campur di dalamnya."

"Aku tahu kau membenci rasa sakit, Byun Baekhyun. Tidak kecuali kau pikir kau pantas mendapatkan." Mata Chanyeol menusuk pada yang lebih kecil, yang melakukan hal yang sama pada teman sekamarnya yang lebih besar. "Berhenti saja melakukan ini pada dirimu sendiri. Itu tidak akan membuat apa pun menjadi lebih baik." Apa yang kukatakan?

"Aku sudah biasa dengan ini." Seperti digerakkan dengan kesakitan tiba-tiba, Baekhyun mengerenyit dan tertatih ke belakang, lalu dengan perlahan dia membaringkan dirinya sendiri ke kasur. "Berhenti menggangguku, Park Chanyeol."

"Apa, jadi kau akan terus memuaskan lelaki itu, walau jika itu artinya kau membunuh dirimu sendiri?" Chanyeol dapat merasakan amarah tumbuh dalam dirinya, dan dia tahu dia seharusnya tidak peduli sama sekali, tapi itu terasa tidak benar. Tidak ada yang terasa benar tentang ini. Seseorang sekecil Baekhyun (bahkan jika seseorang yang dia benci) tidak seharusnya disakit seperti ini bahkan jika itu untuk semacam kink bodoh,. "Jika terlalu sulit untuk menolaknya, beri tahu aku namanya, Chen dan aku akan—"

"Kenapa kau sangat peduli?" Suara Baekhyun juga meninggi. "Itu bukan seperti tubuhku mempengaruhi apa pun juga—"

"Itu berpengaruh!" Chanyeol berteriak. "Kau teman sekamarku … dan … dan … jika orang-orang melihatmu dengan lebam, mereka mungkin berpikir akulah yang melakukannya padamu!" Ya, pasti itu. Itu pasti alasan mengapa aku sangat peduli … tunggu aku tidak peduli. Aku sama sekali tidak peduli.

"Kau idiot." Baekhyun berbalik untuk membersihkan lukanya, tapi Chanyeol tidak akan membiarkan seperti itu. Dia memegang pergelangan tangan Baekhyun (sedikit terlalu kasar, dia sadar kemudian), dan aksi itu membuat Baekhyun berbalik marah pada Chanyeol, baru akan menyerukan sesuatu yang tak sopan padanya, tapi dia berhenti ketika sadar bagaimana dekatnya wajah mereka—hidung mereka nyaris beresntuhan.

"Hisap aku. Sekarang juga." Baekhyun baru akan tertawa pada lelucon bodoh Chanyeol, tapi dia melihat matanya serius dan begitu pula dengan pegangan pada pergelangan tangannya. Lalu dia ingat.

Chanyeol belum bermasturbasi selama berbulan-bulan, dan tatapan matanya lapar, cukup untuk menelan dirinya sepenuhnya.

.

.

.

.

"Jangan main-main—" Baehyun memulai, tapi Chanyeol mengenggamnya lebih kasar dan menariknya lebih dekat.

"Aku tidak bermasturbasi selama hampir lima bulan, dan karena aku butuh pelepasan, aku mungkin juga mendapatkan bantuan dari slut terbesar di sekolah." Ada keheningan singkat sambil Baekhyun menatap tatapan bersungguh-sungguh dan bertekad Chanyeol, dan dia sadar bahwa Chanyeol tidak berbohong, apalagi karena dia bisa melihat kelaparan di mata si raksasa.

"Cepatlah." Chanyeol menggeram, tapi tidak bergerak, karena dia menunggu Baekhyun untuk bergerak—untuk memilih.

Awalahnya, si raksasa tidak mengira kalau musuhnya akan melakukan itu. Hell, dia bahkan mengekspetasikan teman sekamar sassy-nya itu memukulnya dengan kuat (dan dia tahu dia pantas mendapatkannya), tapi Baekhyun tidak melakukan hal itu.

Justru, dia melihat yang lebih kecil turun dari kasur dan berlutut sampai wajahnya sejajar dengan selangkangan Chanyeol.

Sebelum yang lebih tinggi dapat memahami secara penuh apa yang telah terjadi, dia merasakan jari-jari Baekhyun membungkus sabuknya sambil mulai melepaskannya.

Mungkin sisi dirinya, sisi hormon testosteron masa muda, akan menyerah pasrah pada musuhnya (betul dia tidak bermasturbasi selama berbulan-bulan), karena bagaimana pun juga, siapa yang tidak mau menerima blowjob dari slut teratas universitas?

Tapi matanya melebar horor ketika melihat emosi di bawah ekspresi Baekhyun (yang sebaliknya netral yang Chanyeil telah pelajari untuk mengenalinya seleama tahunfeuding): jijik, horor, dan torment yang absolut.

Yang paling membuat Chanyeol kaget adalah, saat Baekhyun tanpa kata membuka jinsnya, dia bahkan tidak dapat melakukannya dengan benar karena tangannya bergertar. Bukan hanya itu, itu terlihat seperti seluruh badannya mengigil sangat biolent sampai dia dengan susah melakukan apa pun degan akurat.

"Fuck." Chanyeol kembali ke akal sehatnya dan mengambil sabuk dari jari-jari bergetar Bakehyun sebelum melempar ke belakangnya. Tanpa merenungkan apa yang dia lakukan, Chanyeol membungkuk turun dan mengangkat Baekhyun ke atas ke lengannya.

"You fucking idiot," Chanyeol berbisik, dan dia dapat merasakan getaran itu di tulangnya. Ini tidak benar. Entah bagaimana, BAekhyun yang anehnya patuh ini tidak benar. Baekhyun yang mendadak diam, tidak komplain, tidak sassy, tidak berontak seperti ini tidak benar, dan Chanyeol merasa bersalah telah mengungkit hal ini.

"Pukul saja aku ketika aku mengatakan itu .." Chanyeol berkata sambil membaringkan Baekhyun. "Pukul aku seperti yang akan kau lakukan jika ini situasi yang lain."

Kecuali dia tidak bisa, ya kan?

Pada titik ini, Baekhyun berbaring di kasur dan berbalik menjauh darinya, tidak responsif. Chanyeol tidak dapat untuk tidak melihat bagaimana mungilnya musuhnya itu. Merasa lebih dari bersalah, dia menggapai dan mencoba menyetuh lengan Baekhyun (dan untuk pertama kalinya bertanya-tanya mengapa dia merasakan seperti ini), tapi Baekhyun mundur menjauh. Jengkel, Chanyeol meraih lagi, tapi sebelum jarinya dapat menyentuh kulit putih lebam, Baekhyun bergerak menjauh sekali lagi.

Itu menjadi kompetisi kecil akan siapa yang dapat menyentuh dan sapa yang dapat menghindar, sampai Chanyeol tidak dapat tahan lagi.

"Jika kau tidka ingin aku menyentuhmu, katakan saja!" Dia berteriak, tapi Baekhyun tetap diam keras kelapa.

"Byun fucking Baekhyun, apa kau ingin aku menyentuhmu?" Chanyeol menggeram, dan walaupun Baekhyun menjawab dengan keheningan, seluruh posturnya meneriakkan FUCK NO.

Tapi Chanyeol sadar hanya dia yang dapat membaca postur Bakehyun dan kata-kata diamnya. Tidak semua orang dapat mengerti.

Dan untuk beberapa alasan, pemikiran akan orang-oroang yang mengambil kekuntungan dari penolakan diam dan penerimaan yang enggan membuat Chanyeol gelisah.

"Aku akan ajari apa arti tidak." Chanyeol menggeram sambil memegang lengan Baekhyun dan menariknya ke depan. Kaget, Baekhyun mengeluarkan pekikan kecil.

"Jangan pegang aku, Yoda!" Yang lebih kecil berteriak, dan Chanyeol membeku.

"Kau baru saja memanggilku apa?"

"Kuping besar membuatmu terlihat bodoh." Baekhyun menatap menantang, dan Chanyeol (Untuk beberapa alasan yang sangat aneh) merasa hampir akan tersenyum karena Baekhyun kembali menjadi dirinya sendiri. Tapi bukan berarti dia menerima nama panggian bodoh itu.

"Kupingku tidak besar." Dia mengelak, merasa wajahnya memanas dan mengetahui itu terjadi ketika dia merona, kupingnya secara khusus merah. Sebelum Baekhyun mempermalukannya lebih jauh, dia menggenggam pergelangan tangan Baekhyun lagi dan menariknya lebih dekat.

"Kembali ke topik," Dia berbisik sambil melihat humor keluar dari mata Baekhyun. "Aku benar-benar membutuhkan blowjob. Mengapa kau tidak membantuku?"

Mata Baekhyun bercampur emosi, berubah-ubah sambil mendelik padanya lalu mengalihkan pandangan. Ada sedikit perlawanan, tapi Chanyeol mendekap kuat.

"Lakukan," dia bergumam dengan sangat pelan, mengencangkan pegangannya pada pergelangan tangan Baekhyun. "Katakan tidak." Ada sedikit keheningan.

"Apa kau benar-benar butuh pelepasan?" Baekhyun akhirnya bergumam, dan mata Chanyeol melebar kaget.

"Aku … Aku …" Sebelum Chanyeol dapat menyelesaikan, tangan yang lebih kecil mulai menggerayang di atas celananya.

"Aku akan membantumu," Dia menawarkan dengan cepat, dan jika dia membiskikkannya dengan lebih pelan Chanyeol akan melewatkan argumen tak terucap antara dirinya sendiri dalam kata-kataya. "Gunakan aku dengan cara apa pun yang kau ma—"

"What the fuck?" Chanyeol berseru sambil mengambil tangan Baekhyun yang lain dan membatasinya dari gerakan lebih apa pun. "Katakan tidak saja!"

"Aku tidak bisa!" Suara Baekhyun bergetar marah, dan dia masih menolak untuk bertemu dengan mata Chanyeol.

"Kenapa tidak?" Chanyeol dapat merasakan frustasi bangun dalam dirinya, dan dia tahu kemungkinan dia akan meledak secepatnya.

"Itu … Itu bukan urusanmu!" Baehyun membalas, jengkel. Dari nada suaranya, Chanyeol dapat tahu bahwa Baekhyun bahkan tidak tahu mengapa dia tidak dapat menolak.

"For fuck's sake, Byun Baekhyun! Sadarlah!" Chanyeol tidak tahu mengapa dia berteriak atau mengapa dia sangat gusar mengenai orang yang seharusnya tidak dia pedulikan. Karena bingung, dia melepaskan tangan Baekhyun. Tanpa penyangga, Baekhyun mengeluarkan megapan dan terjatuh ke lantai. Setelah beberapa percobaan untuk kembali berdiri, dia terjatuh. Chanyeol menggenggamnya dan menariknya kembali ke atas (kali ini dengan lembut) dan menaruhnya di kasur. Ekspresi kesakitan Baekhyun (yang dia coba untuk sembunyikan) dan engahannya menggerakan Chanyeol untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.

Memballikkan badan Baekhyun (dan yang lebih kecil bahkan tidak bisa bergerak menjauh karena betapa lemahnya dia), yang lebih tinggi dengan perlahan melepaskan celana Baekhyun. Chanyeol mengerenyit ketika melihat lebam dan luka di punggung Bakehyun. Dengan segan, matanya bergerak di tubuh belakang Baekhyun, dan dia mengernyit lagi ketika melihat pintu masuk musuhnya bengkak. Darah beku di paha bagian dalam bercampur dengan mani dan banyak lebam lagi.

"Fuck." Chanyeol mengumpat lagi dan mengambil sekotak Kleenex wipe* yang Baekhyun gunakan sebelum dia masuk ke kamar, dan mulai mengusap di lukanya. (*merek tisu)

"Apa yang kau laukan …" Terdengar suara lemah Baekhyun sambil dia mencoba untuk bergerak menjauh, tapi Chanyeol menahannya dengan satu tangan.

"Berhenti bergerak, God dammit." Chanyeol dapat merasakan jangtungnya membola dengan frustasi dan horor karena melihat semua luka pada tubuh Baekhyun. Memicing dalam konsentrasi, dengan hati-hati dia mengusap kuman dari tubuh musuhnya dan mulai merawat luka dengan kemampuan medikal yang minim.

Dia tidak tau mengapa dia melakukan ini. Dia bertanya pada diri sendiri mengapa dia melakukan ini untuk seseorang yang dia benci, tapi sekali lagi dia tidak tahu jawabannya.

Yang dia tau, adalah kink sadis ini tidak dapat diterima dan menjijikkan, dan dia menentangnya seratus persen.

YA, pasti itu. dia membantu musuhnya keran dia membenci hal-hal seperti ini.

"Sakit tidak?" Dia bergumam dengan pelan sambil mulai membersihkan di sekitar pintu masuk tersakiti Baehyun dengan hati-hati. Pada titik ini, wajah Baekhyun telah dimasukkan ke dalam bantal dan dia tidak mersepon, hampir seperti dia mencoba menahan sakitnya.

Untuk satu jam setengah ke depan, Chanyeol mengahabiskan waktu dengan membersihkan teman sekamarnya, memastikan semua luka telah di (karena dia itu perfeksionis) dan setiaptrace od any dirty deed terselesaikan lebih cepat telah dirawat. Karena perfeksionis, Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk diam di mana dia sekarang sampai lebih baikan.

"Apa kau idiot?" Baekhyun mendengsu sambil menaruh dagunya di lengan. "Bagaimana aku makan atau pergi ke kelas atau buang air besar atau kecil atau mandi—"

"Kalau begitu, hanya untuk malam ini saja." Chanyeol menghembuskan nafas jengkel. "Aku akan membawakan makan malammu atau apa pun itu."

Dan dia melaukan itu.

Sejauh ini, Chnyaeol tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi dia sudah terlalu jauh untuk peduli—kebanyakan karena akhir-akhir ini dia melakukan beberapa hal dan tidak tahu mengapa melakukannya. Itu pasti kebaikan. Itu saja, tidak ada yang lain.

Dia membawakan nasi goreng kimchi dan sup ke lantai atas untuk Baekhyun, dan memeperingatinya agar diam ketika yang lebih kecil mencoba bangun dalam posisi duduk untuk makan. Mungkin Canyeol itu hanya orang empatik khusus, dan dia hampir bisa membayangkan bagaimana rasanya duduk dengan bokong yang lebam.

Mungkin Baekhyun terlalu lapar untuk peduli, tapi Chanyeol lega ketika dia tidak menolak object.

Saat dia menyuapi musuhnya, Chanyeol tidak bisa untuk tidak merasakan perutnya bergemuruh—dia belum makan sama seklai. Itu salah satu kebiasaan buruk yang harus dia hindari bagiamana pun caranya, karena dia tidak bisa berfungsi tanpa makan tiga kali sehari, tapi saat ini, untu beberapa alasan, dai tidak terlalu mrmikirkan, dia sadar betapa kecilnya teman sekamarnya itu, tidak sadar saat melihat bibir itu mengerucut untuk meminum supnya.

"Kenapa kau melakukan ini?" Baekhyun bertanya, dan Chanyeol dapat merasakan kecurigaan di nada suaranya. Merona, dan tidak tahu kenapa dia melakukannya, Chanyeol terbata-bata.

"… Untuk membalasmu … untuk sandwich." Baekhyun mungkin menemukan jawabannya memuaskan, karena dia terus membiarkan dirinya disuapi musushnya. Tidak ada kata-kata lagi yang tertukar. Selama sisa malam itu, Baekhyun mendengarkan musik seraya menutup matanya dalam posisi yang sama di atas kasur, sementara Chanyeol mengerjakan pr.

Saat malam, Chanyeol bergerak-gerak tak bisa tidur, ingin melempar sesuatu pada Baekhyun karena merengek pada malam hari walaupun itu adalah salah satu kebiasaan tidurnya yang harus dia terima setiap malam, tapi sudah terbiasa dengan hal tersebut. Selain itu, dia tahu bukan suara Baekhyun membuatnya tetap terjaga.

Kesadaranlah (dan penyagkalan), saat Baekhyun berjongkok dan bersiap untuk membuka celananya, yang membuat Chanyeol merasakan perasaan mengasyikan mengalir menuju seluruh tubuh dan langsung ke selangkangannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pada malam pertama semenjak Jongin kembali, dia memikirkan dua teman terdekatnya, yang menjadi musuh pada satu sama lain selama mereka bertemu yang lainnya.

Sedikit mengecewakan untuk Jongin, karena bagaimana pun juga, kebencian mereka terhadap satu sama lain sangat kuat sampai ketika mereka mengeluarkan padanya, dia terbang melewati dinding dan membuat lubang di sana ketika dia jatuh melewatinya, mengahsilkan setengah tahunnya tinggal di rumah sakit. Selama beberapa bulan tidak dapat melihat teman dekatnya (bersama atau secara terpisah) bukanlah hal terbaik, dan dia sangat bosan walaupun Joonmyun dan Chen dan terkadang Kris mengunjunginya. Itu tidak sama.

Setiap malam dia akan berdoa mereka akan bersama dan menjadi sahabat. Hell, dia bahan tidak akan peduli jika mereka menjadi lebih dekat terhadap satu sama lain dibandingkan dekat dengan dirinya. Setiap malam, dia akan berdoa agar kedua hyungnya tidak membenci satu sama lain lagi, karena tak ada satu pun dari mereka yang jahat selain opini mereka terhadap yang lainnya.

Dan ketika Jongin kembali, dia sadar bahwa mimpinya kemungkinan tidak akan menjadi nyata.

Tapi saat dia berefleksi r pada sikap sahabat-sahabatnya hari ini, dia menyadari sesuatu yang sebenarnya telah berubah.

Mereka tidak bertengkar secara kasar lagi.

Dan bagaiman dia tidak menyadri itu? Jongin duduk secara tiba-tiba, menatap kamar yang kosong (karena ternyata Joonmyeon pergi—lagi). Dia mengingat kejadian-kejadian yang terjadi hari ini dalam pikirannya, mengingat bagaiman Cahnyeol dan Baekhyun tidak memukul satu sama lain atau menampar satu sama lain atau apa pun yang sejenis itu. Faktanya, apa yang Jongin lebih lihat pada mereka adalah berseteru.

Sementara watu dulu, mereka memiliki aura membunuh di sekitar mereka sangat kuat sampai tidak seorang pun berani mendekat ke mereka.

Tapi sekarang, ternyata itu tidak membahayakan,hampir seperti auranya berganti menjadi argumen antara dua anak kecil.

Juga, percobaan putus asanya untuk mengancam mereka agar berhenti dengan mengabaikan mereka behasil, ketika percobaan itu tidak banyak seperti sentuhan rambut pada tubuh mereka setengah tahun sebelumnya.

"Kau secepatnya akan sadar apa yang berubah dari mereka. Jangan khawatir. Ketika kau sadar apa yang sebenarnya berubah pada mereka, itu akan sangat jelas."

Itu sangat jelas

Dan Jongin meghabiskan sisa malamnya dengan tersenyum sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yes! Akhirnya kita telah menyelsaikan surveinya." Kyungsoo bergumam dalam kemenangan sambil mengumpulan kertas yang Chanyeol berikan padanya. Chanyeol tersenyum.

"Yes, menurutku itu adalah kesakitan terbesar." Ada keheningan singkat sambil dia melihat Kyungsoo menghitung kertasnya. "Apa kau mau aku memasukkkan datanya?"

"Tidak, tidak apa-apa." Kyungsoo menjawab, lalu menaruh tumpukkannya di salah satu sisi meja. "Aku akan memasukkannya nanti, karena aku sudah mulai memasukannya juga." Dia mengeluarkan uapan kecil. Chanyeol melihat tasirannya, lalu berdiri dan mengambil nafas dalam sebelum menaruh tangan besarnya pada pundak kecil dan mulai memijatnya.

"Kau yang melaukan semua pekerjaannya …" Dia mengatakan dengan apologetically, tidak sadar akan bagaimana postur Kyungsoo menjadi kaku karena sentuhannya.

"Tidak apa." yang lebih kecil menolaknya "Aku hanya membutuhkan kopi …"

"Aku akan mengambilnya untukmu!" Chanyeol berkicau, dan sebelum Kyungsoo dapat menolaknya, dai berlari pergi. Kyungsoo tersenyum sendiri.

Akhir-akhir ini hubungan mereka telah menjadi lebih baik dan mereka menjadi semakin dekat, dan Kyungsoo menyadari bahwa dia menyukai Chanyeol lebih dan lebih.

Bukan hanya keimutan yang natural saja, tapi juga kecanggungan naturalnya. Dia selalu tersandung pada kata-katanya pada satu titik dalam setiap percakapannya atau dia akan hanya menatap dengan bodoh untuk sepersekian detik sebelum menjawab.

Bukan hanya itu, tapi dia secara khusus baik pada Kyungsoo. Apa pun yang Kyungsoo butuhkan, dia akan mendapatkan untuknya, mendesak bahwa dia harus merawat rekannya.

Hampir seperti puppy, Kyungsoo ingin mengacak rambut gelap miliknya, tapi setiap saat ia menahan diri untuk melakukan itu, karena dia menolak untuk menjadi terlalu hangat dengan siapa pun—itu hanya bukan kepribadiannya.

Sebgai gantinya, dia memilih untuk menunjukkan afeksinya melalui pukulan jengkel kecil dan headlocks. Akhir-akhir ini mereka berada pada tahap pertemanan di mana Kyungsoo dapat meng-headlock Chanyeol untuk senang-senang dan keduanya akan menertawakan hal itu (atau lebih seperti, Chanyeol saja).

"Jadi, um, apa kau akan datang ke pestaku hari Sabtu?" Chanyeol bertanya ketika kopi telah bersamanya. Kyungsoo menggelengkan kepalanya maaf.

"Maaf. Ada yang harus aku lakukan pada hari Sabtu …" Dia membalas, lalu mengalihkan pandangan. Chanyeol dapat merasakan kekecewaan menggulung di jantungnya, tapi dia mengabaikannya.

"Tidak—tidak apa." Chanyeol dengan cepat menyisipkan, benar-benar menggoyangkan lengannya, sesuatu yang menurut Kyungsoo imut (walau dia tidak akan pernah mengakuinya). "I-itu hanya pesta." Ada keheningan singkat di antara mereka.

"Walau pestanya akan lebih seru jika kau datang," kata Chanyeol dengan pelan, mengagetkan mereka berdua. Kedua partner itu merona malu.

"Meski begitu, aku akan ada di sini untuk ulang tahunmu, aku janji." Kyungsoo meyakinkan.

"… Apa yang kau lakukan pada hari Sabtu?" Chanyeol menceploskan, penasaran sambil menatap taksirannya dengan mata lebar. Kyungsoo sekali lagi berbalik menjauh dan menolak bertemu dengan mata Chanyeol.

"Aku hanya … ada hal yang mesti dilakukan." Dia bergumam. Hanya seperti itu, dia menutup topiknya. Chanyeol langsung mengerti.

"Tak apa." Lalu dia mengubah topiknya menjadi sesuatu yang lucu yang telah terjadi padanya pada hari sebelumya sampai Kyungsoo tidak melakukan apa-pun selain senyuman berbentuk hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol terbangun keesokan harinya, mengetahui bahwa hari itu ulang tahunnya yang ke-20.

Untungnya tidak ada siapa pun di sana untuk menatapnya, tidak ada yang mengganggunya (tidak seperti tahun kemarin, di mana orang-orang ramai di sekitar kasurnya dan menunggunya untuk bangun—memalukannya). Walau, ada sesuatu yang lain di sekelilingnya.

Kado.

Kaget. Dia menatap sekitar kasurnya, yang tertutupi kado dari yang kecil hingga yang besar, dari panjang ke pendek. Sebelum dia bisa mengerti apa yang terjadi. Baekhyun berjalan keluar dari kamar mandi (dan saat sedang terpukau, Chanyeol tidak sadar teman sekamarnya telah bangun).

"Semua orang mampir untuk memberianmu kado saat fajar untuk memberikanmu kejutan." Baehyun menjelaskan, menggerakkan tangan ke rambut gelapnya (dan Chanyeol tidak sadar kalau dia memandanginya).

"B-Bagaimana bisa aku bisa tahu aku tidak mendengar mereka mengetuk? Bagaimana bisa aku tidak menyadari apapun?" Chanyeol megap-megap kaget pada semua kadonya—itu pasti kesakitan dan dia yakin semuanya pasti mengghasilkan banyak suara hanya denga melakukan ini.

"Aku membuka pintunya, kau idiot." Baekhyun memutar mata.

"Kau merencanakan ini?" Rahang Chanyeol jatuh sampai lantai.

"Tidak, aku tidak melakukannya." Baekhyun mendesah, seperti dia berbicara dengan anak yang lambat merespon yang tidak mengerti ponnya. "Aku hanya membuka pintunya—"

"Well, jika kau tahu mereka akan datang, maka kau pasti dalam rencan juga—" Mereka mendelik pada satu sama lain, jengkel.

"Selamat ulang tahun, asshole." Baekhyun akhirnya berkata, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain dengan benda itu. Merona untuk alasan yang tak diketahui dan kemungkinan karena dia frustasi karena Baekhyun hari ini menyerah dengan mudah, Chanyeol menghembuskan nafas dan berbalik ke kadonya.

Dia mengambil satu, melihat catatan kecil yang terbaca: 'Yo wassup, brother. Berbahagialah karena aku menyimpan yang satu ini untukmu.' Dia membuka benda kecil yang seperti paket buku dan menemukan ternyata itu ternyata kupon-kupon untuk segalanya. Tipikal Kris yang tidak mengeluarkan uang kecuali dibutuhkan. Chanyeol berpikir sendiri.

Sudah tersenyum, dia mengambil beberapa hadiah lain dan membukanya—kaus kaki hangat, plushie, beberapa paket kondom (mengapa dia membutuhkannya? Siapa sebenarnya yang mengirmkan itu?) dan sepasang sepatu. Chanyeol membuka kado dari Chen. 'Selamat ulang tahun, roommate ;)'. Itu adalah jumpsuit print leopard.

Dia melewati beberapa banyak kago lagi, menerima kado dari lebih banyak sepatu ke lebih banyak T-shirt. Jongin memberikannya plushie Rilakkuma dan Chanyeol memuatar matanya karena kekanakan temannya), dan yang terkahir, sebuah snapback dari Sehun.

Dalam spirit yang tinggi dan tersenyum lebar sendiri, Chanyeol telah melupakan Byun Baekhyun yang ada di sampingnya. Tepat saat ia melangkah keluar dari kasur, dia melihat kado kecil di mejanya. Penasaran, dai berjalan menghampiri itu dna mengambil ke tangannya.

Dia membukanya dan menemukan jam duduk di dalamnya, hampir berkilau dengan kesempurnaan. Itu tidak terlihat mahal, tapi tidiak terlihat murah juga. Chanyeol melihat kartu mini sederhana di meja dan mengambilnya.

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat ketika dia mengenail tulisan itu.

'Selamat ulang tahun. Have a nice one.'

Walau kata-katanya sederhana, Chanyeol dapat merasakan wajahnya merona sekali sambil menatap dari jam ke kartu di tangannya.

"Lupa memberitahumu." Baehyun berkicau dari belakangnya. "Kyungsoo juga bagian dari ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Uh … terima kasih kadonya." Chanyeol berkata dengan malu sambil duduk dengan Kyungsoo, yang memutuskan tetap dengannya untuk kebanyakan bagian pada hari itu, menepati janjinya. Bagaimana pun juga, mereka menghabiksan sepuluh menit pertama dengan berargumen pada satu sama lain, Kyungsoo meminta maaf karena dia tidak bisa datang pada hari Sabtu dan Chanyeol melambaikan tangan.

"Tak apa." Kyungsoo tersenyum lebar, lalu senyuman itu pudar secepat datangnya. "Oh! Aku lupa menuliskan namaku—"

"Tak apa." Chanyeol mneyela dengan cepat. "Aku langsung mengenalinya." Ada keheningan canggung sambil mereka berdua merona, walau Kyungsoo tidak sebanyak dengan Chanyeol.

"Aku hanya … aku melihat kau selalu terburu-buru dan menanyakan jam dan segalanya, jadi aku pikir aku mungkin dapat memberikanmu jam …" Suara Kyungsoo melemah, dan Chanyeol tidak bisa untuk tidak keluar dalam kebahagiaan karena menyadari bahwa taksirannya terus memikirkannya. Walau dia tidak tahu aku tidak terlalu bisa membaca jamnya.

Tapi tak apa. Karena dia memberikanku sesuatu!

Dan jalan bersamanya hari ini karena hari ini ulang tahunnya dan dia ingin memperbaiki karena tida bisa datang hari Sabtu! Mungkin ini lebih baik daripada dia datang hari Sabtu …

Angin musim dinginnya dingin saat berhembus ke mereka berdua, yang kehangatannya langka di taman sekolah yang luas.

"Mungkin … mungkin kita harus mengambil jumper terlebih dahulu …" Kyungsoo berbisik sambil mengusap lengan, dan Chanyeol mengangguk tak fokus.

"Jam berapa ini?"

"… Kita telat untuk makan malam." Keduanya bangun.

"Apa kau … duduk denganku hari ini?" Chanyeol bertanya. Kyungsoo terdiam sesaat.

"Oke … jika itu terdengar bagus." Chanyeol menelan ludah. Tentu saja itu terdengar bagus god dammit!

"B-Bagus. Sampai ketemu di sana." Sebelum Chanyeol dapat mengatakan apa pun yang memalukan, dia bergegas pergi menuju kamarnya, tiba-tiba menggigil dan sangat tahu itu bukan karena dingin.

Lorongnya selalu panas dibandingkan cuaca di luar. Chanyeol menggigil lagi, tapi kali ini karena dia terkena kehangatan dari lantai sekolah bagia dalam, dan berjalan cepat menuju kamarnya, hampir meloncat-loncat karena bersemangat.

Dai membuka pintu kamarnya dan menemukan hoodie di kasurnya. Saat memakainya ke lengan, dia membuka pintu dan berjalan keluar.

Saat itu juga, dia mendengar gedebuk di sampingnya dan terlonjak. Berbalik, dia melihat lelaki tak familiar mentiangi orang lain.

Seseorang yang tak lain dan tak bukan, yaitu Byun Baekhyun.

Mereka tidak terlihat seperti menyadari kehadirannya.

"Pergi menjauh dariku." Baekhyun berbisik, suara pelan, tapi justru, lelaki itu bergerak lebih dekat, pergerakkannya lambat tapi mengintimidasi, hampir seperti dia mabuk.

"Aku akan melakukan apapun yang aku mau," Lelaki itu berbicara tak jelas, tapi bukan dengan cara mabuk, hanya seperti kebanyakan layaknya-gangster. Dalam sepersekian detik, Chanyeol mendengar gedebuk lainnya sambil lelaki itu membanting Baekhyun lagi ke dinding, kali ini dengan kasar, pergeraknnya secepat kilat dan kontras dengan postur menipu yang dia miliki sebelumnya.

"Kau miliku dan kau akan melakukan apa pun yang aku katakan." Dia menggertak, tanganya bergrak ke bawah dari dinding, memegang erat tenggorokan Baekhyun dengan cara yang membuat yang lebih kecil mulai tercekik. Dia mendekat sampai bibirnya(bibir menjijikkannya) di samping kuping Baekhyun.

"Kau tahu kau menyukainya ketika aku menyakitimu …" Dia berbisik, suara mengancam, dan Chanyeol hampir dapat merasakan Baekhyun mengigil. "Kau tahu ketika aku menarik rambutmu seperti ini …" Dia menggerakkan tangan bebasnya ke atas dan memegang erat rambut yang lebih kecil dengan kasar, sangat kasar sampai Chanyeol dapat melihat rambut tercabut karena kekuatannya.

"Berhenti … Aku … fuck, tinggalkan aku sendiri …" Baekhyun menggumamkan apa yang dia bisa melalui tenggorokan yang dibatasi, dan Chanyeol dapat mendengar sedikit getaran dalam suaranya—bukan karena takut akan lelaki itu, tapi takut akan dirinya sendiri. Akan apa yang akan dia lakukan terhadap dirinya itu (yang Chanyeol mulai untuk benci dengan dalam) merunduk dan mengapitkan giginya ke tulang selangka Baekhyun. Yang lebih kecil berteriak kesakitan.

"Ayolah …" Lelaki itu membalas serak sambil menarik jauh dan melepaskan tenggorokan Baekhyun, yang akan jatuh jika rambutnya tidak di tarik oleh si tukang menyakiti itu. "Kau tahu kau ingin disetubuhi seperti slut … kau tahu kau mengininkanku untuk fisting sambil memasukkan penis besarku di dalammu … kau tahu tubuhmu bagus untuk hal itu …" Chanyeol dapat meihat Baekhyun gemetar.

Saat itulah dia sadar bahwa lelaki ini adalah lelaki yang menyakiti Baekhyun dalam seks, yang menutupi Bakehyun dengan lebam dan luka dan membuat bokongnya sakit selama berminggu-minggu.

Dan Baekhyun masih dalam penyembuhan sekarang.

Dan lelaki itu akan menyakitinya lagi.

"Kau tahu kau ingin ini, you litle piece of shit." Lelaki itu berkata tak jelas, lalu mendekat untuk mencium (lebih seperti menggigit) leher Bakehyun. Chanyeol melihat teman sekamarnya menjadi kaku, melihat mata itu tertutup erat dan tubuh itu rileks dalam kepatuhan, di tidak melihat apa pun. Hanya si bangsat itu.

Sebelum dia bahkan sadar apa yang terjadi, Chanyeol mengepalakan tangan dan berjalan menuju bajingan itu dengan langkah panjang. Dia memegang rambut lelaki itu, menaruh seluruh kebencian dan kekuatannya dalam pukulan yang terhubung ke rahang lelaki itu. Dia mengirim lelaki itu terbang ke lorong, ke bagian di mana ada orang-orang berjalan di sana. Hal itu menyebabkan keributan, dan akhirnya orang-orang melihat apa yang terjadi. Keramaian kecil terbentuk untuk melihat.

"Kau bajingan sakit." Chanyeol menggeram, amarahnya sangat terfokus pada psiko itu sampai dia tidak melihat Baekhyun menjadi rileks lega dan mencengkram tulang selangkanya yang memar dan berdarah.

"Kau memiliki kink sakit, huh?" Dia melihat si tukang menyakiti itu bangun dengan lambat, tapi juga berbahaya. "Apa yang salah denganmu? Jika ingin menyakiti seseorang, carilah yang sebesar dirimu!" Lelaki itu mulai berjalan ke arahnya, dan Chanyeol menelan ludah—damn, dia seharusnya tidak bertingkah sangat ceroboh.

Dia akan mati.

Lelaki itu berjalan sampai dai berjarak beberapa inchi dari Chanyeol, dan meskipun dia setidaknya 6 sentimeter lebih pendek, dia sudah jelas lamban (kurang tau ini apa maaf).

Kenapa aku tidak memikrikan ini …

"Kau hampir seukuran denganku," Lelaki itu menggeram, lalu sebelum Chanyeol dapat melakukan apa pun, dia merasakan kesakitan membutakan di sisi wajahnya, lalu dia didorong ke bawah menuju lantai.

Fuck this. Apa yang aku lakukan sampai pantas mendapatkan ini?

Dia merasakan lebih banyak hantaman ke wajahnya, setiap hantaman membutakan dan ledaka akan rasa sakit sampai dia bahkan tidak dapat merasakan wajahnya lagi, lalu dia mencium nafas berasap dari lawannya.

"Aku dapat melakukan apa pun yang aku mau." Suaranya mengancam dan rendah dalam bahaya. "Jalang itu tidak peduli dengan apa yang didorong masuk ke bokongnya, selama dia mendapatkan lebih dari satu akan hal itu." Chayeol merasakan dirinya tercekik saat lehernya ditekan lebih kasar ke lantai. "Dan aku mempunyai cara sendiri dengannya. Aku akan membuatnya memohon untuk berhenti sambil kurasakan air matanya meluncur di lenganku … dan aku akan menyetubuhi cumslut itu dengan apa pun yang dapat aku temukan sampai dia meneriakkan namaku dan mengecat sprei dengan darahnya …"

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, ketakutan Chanyeol memudar lagi, kali ini memantul kembali dengan amarah yang belum pernah dia rasakan sebleumya. Yang hanya Chanyeol lihat adalah merah dan ketika memahami apa yang telah terjadi, dia memegang lelaki tak sadar di lantai dan memukulnya sampai babak belur. Akhirnya, dia merasakan lebih dari sepasang lengan menggengamnya hanya untuk membuatnya berhenti memukul lagi. Dia tidak melihat dan mendengar apa pun, hanya kenyataan bahwa lelaki itu sungguh sakit dan menjjijikan bagaimana bisa dia menyukai seks yang hampir mendekati pemerkosaan dan penyiksaan dan fuckfuckfuckfuckfuck

"Semuanya. Please, aku meminta kalian untuk tetap diam. Terutama jangan beri tahu guru-guru, karena kita tidak ingin menyebabkan kerusuhan lagi." Dia mendengar suara seseorang yang familiar naik di atasnya, tapi tetap dia tidak melihat apa pun selain merah, hitam, dan putih. "Please. Aku akan memberikan kalian kupon gratis dari toko manapun dalam jarak lima meter dari sekolah ini, tapi jangan beritahu siapa pun tentang hal ini." Chanyeol mendengar bisikan, tapi bisikan itu terluap oleh denyutan di kepalanya.

"Jongdae, dan … Huang Zi Tao, bawa dia dan Baekhyun ke ruang kesehatan. Beritahu perawat kalau dia bertengkar." Ada pergeseran sambil Chanyeol merasakan dirinya dipindahkan dari lengan yang panjang ke yang lebih pendek (tapi masih panjang). Sebelum dia diseret menjauh, dia mendengar sedikit lebih banyak lagi.

"Sehun, Jongin, Kyungsoo … seret sampah ini keluar dan pastikan dia tidak datang ke sekolah lagi," Lalu suara tenang tapi marah temannya memudar. Tetap saja, ini belum berakhir—bajingan itu belum cukup menderita. Chanyeol merasakan nafasnya menjadi lebih pendek, pandangannya berubah merah menjadi hitam dan kembali menjadi merah lagi, dan dia mendengar Chen berseru tapi tidak dapat mendengar kata-katanya, dan dia mendengar suara tidak familiar balik berseru pasrah, dan dia harus keluar dari pegangan ini karena pegangan ini menahannya dan dia harus menghabisi asshole itu. Fuck, dia harus mengahabisi bangsat tak berguna itu, apa pun yang harus dilakukan.

Saat dia baru akan lepas dari genggaman, dia merasakan lengan yang lebih kuat menahannya, dan tiba-tiba bernafas menjadi lebih sulit.

Pandangannya berubah menjadi hitam ke merah ke hitam ke merah ke kembali lagi ke hitam.

Dan kali ini, dunianya tetap hitam.

.

ooo

.

BALASAN REVIEW (maaf kalau ada salah tulis nama)

Daebaektaeluv : Udah baca kan? Itulah Jongin XD baca terus aja kalau untuk kyungsoo apa nggak.

Eka915 : Iya setiap Minggu tapi maaf update yang ini telat /bow 90 derajat/

Jung HaRa : Baca aja yaaa XD

BaekheeByunnie : XD udah baca kan? Lega? Chapternya gak sama. Udah jauuuuh anget di aff XD udah komplit.

Byunae 18 : Sudah bacakan? Itulah jongin. Ini lanjutannya makasih semangatnya.

Hyun CB614 : Semua akan terjawab. Tunggulahh~

Ikakaaaaaaaa (maaf kalau a nya salah XD) : Kalau menurut berry sih dia bukan bipolar. Lebih ke jago aja ngefake sama cepet ganti mood.

ChanBMine : Iya XD gak cape cape. Peduli banget mereka tuh :') Chanyeol apa lagi.

maybae506 : Maaaaaaaaaaaf berry banyak tugas minggu ini

Dhea Park : SI brengsek XD ntar bakal ketahuan begitu pula dengan Moon Angel. Pantengin aja.

.

MAKASIH BUAT YANG BACA, REVIEW, FAV, DAN FOLLOW :*

.

MAAF BERRY UPDATENYA TELAT /bungkuk 90 derajat/ DAN MAAF JUGA KALAU BANYAK TYPO. NGETIKNYA AMPE TELER NGANTUK XD.

.

T/N :

CHANYEOOOOL! Siapa yang pengen meluk Chanyeol abis baca chap di atas sama kemarin? /maaf Baekhyun/ tapi Chanyeol ya ampun. Baek banget. Berry baper kalau jadi Baekhyun bhak eh nggak juga deng /apasi/

Ok. Berry minata maaf sebesar-besarnya kerena sudah telat update. sumpah deh ini chapter 8k dan banyak urusan. Maaf sekali lagi. tapi ini cerita makin seru kan. Karena tuh, siapa yang nanyain mereka bakal lunak? Mereka udah mulai lunak uunch XD.

Berry mau nanya. Siapa yang mau Berry ngetrans oneshoot? Kalau mau sertakan genre dan rate wkwk M juga boleh XD

Xoxo,

Berry