WORDS BLEED
Baekhyun tak tau apakah ia harus panik, menangis atau bertingkah tenang seolah apapun sama baik-baik saja.
Langit-langit putih bersih rawat inap adalah hal pertama yang menyambut indera kala ia membuka mata. Baekhyun tak terkejut, bagaimanapun segalanya terekam dengan baik dalam dirinya mengapa ia berakhir disana.
Baekhyun lagi tak tau apa yang harus ia lakukan pada dirinya kini. Semuanya membingungkan. Sebenarnya itu lebih menakutkan bagaimana tiap kemungkinan itu pun bisa terjadi.
Dalam dirinya. Dalam kehidupannya.
Baekhyun memejamkan lagi. Bersamaan dengan itu tangannya menapak di atas perutnya. Bagian itu datar, namun terasa seperti ia memiliki sesuatu yang hidup di dalam sana. Bsekhyun tak yakin. Sebenarnya lagi, ia berharap itu hanyalah sekedar ilusi dalam dirinya.
Hela nafasnya terdengar memecah kesendirian. Kemudian disela, terpotong oleh derit pintu. Baekhyun sontak membawa pandangannya pada daun pintu dan ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan sosok Chanyeol disana.
Kontak mata mereka terjalin. Baekhyun berubah gugup hanya untuk arahan mata datar tak terbaca pada Chanyeol. Ia buru-buru bangun dari posisi berbaringnya. Mengabaikan pusing mendera, Baekhyun tegakkan tubuhnya.
"Chanyeol..." suaranya dalam gumanan terdengar.
Chanyeol tak memberikan sahutan. Derap kaki menapak mendekati Baekhyun dan berdiri di samping tempat tidur. Chanyeol menatapnya lagi disana. Lama. Dan Baekhyun seolah déjà vu akan pertemuannya di dalam ruangan laki-laki itu untuk pertama kalinya.
"Apa kau bisa berjalan?" Berat suara Chanyeol menguar akhirnya.
Baekhyun sedikit terkejut akan hal itu namun dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Y-ya."
"Kita pulang sekarang." Chanyeol berujar lagi.
Baekhyun sebenarnya memiliki banyak pertanyaan dalam dirinya. Mengenai Chanyeol juga setiap kalimat yang serasa menusuk dingin untuknya. Baekhyun merasa asing, namun ia tak memiliki keberanian untuk mempertanyakan apapun. Baekhyun berakhir dengan meredam seluruh pertanyaan itu dalam praduga dirinya.
Di dalam dirinya... Baekhyun tak ingin memikirkannya. Apa yang ia takutkan selama ini, mual dan muntah setiap pagi, mungkin hanyalah reaksi lelah yang mendera akibat jadwal padatnya. Benar.
Itu seharusnya melegakan, namun tak tau mengapa setitik keresahan lain masih terasa dalam dirinya.
Namun mengesampingkan hal itu, Baekhyun memaksa dirinya bangkit dari tempat tidur. Chanyeol menarik sepasang sepatu sneaker di bawah tempat tidur, masih baru dan meminta Baekhyun memakainya.
Baekhyun menurut, juga ketika Chanyeol meminta ia memakai mantel besar miliknya, pun Baekhyun tak bertanya. Menyembunyikan seragam pasien yang ia kenakan, Chanyeol membantunya keluar dari kamar itu.
Lorong sepi dengan beberapa orang berbadan besar yang menuntun mereka ke lift darurat. Baekhyun masih tak bertanya mengapa dan lagi menerka dalam dirinya, mengenai beberapa wartawan yang mungkin berada di depan rumah sakit atau Chanyeol memang ingin menghindarinya dari hal-hal yang berkemungkinan seperti itu.
Ketika sampai di mobil, barulah Baekhyun menyadari jika waktu telah benar menjemput dini hari. Dengan keterdiaman yang menemani selama perjalanan ke penthouse laki-laki itu.
...
Chanyeol tak pernah tau ia bisa sepanik ini dalam hidupnya. Ia pernah beberapa kali berada dalam suasana pelik ketika pertama kali dipercayakan oleh ayahnya mengurus Loey Ent. Pada tahun pertama semuanya tak berjalan dengan sesuai kehendaknya, ia kehilangan nyaris 3% saham miliknya dan ia berada dalam kerugian besar ketika itu.
Saat itu Chanyeol baru mendebutkan artis pertamanya, itu bukan perawalan yang bagus tapi tak cukup menjadi alasan bagi Chanyeol untuk berlari seperti orang gila, berteriak pada Jongin dan mengemudikan mobilnya tanpa peduli suara klakson lain menggerutui dirinya.
Tapi itu Baekhyun. Penampilan langsung dari grub debutannya itu seketika menjadi buruk bagaimana Baekhyun ambruk di atas panggung. Penampilan kacau bukan permasalahannya, tapi Baekhyun dan Chanyeol seperti di hilang kendali akibat panik menyerangnya.
Jongin memakinya sepanjang jalan. Mamaki dirinya yang berkendara ugal-ugalan sembari berbicara melalui sambungan dengan manejer Baekhyun. Mereka sampai di rumah sakit, pada UGD dengan manajer Baekhyun berada di depan pintu gawat darurat itu.
Dokter keluar dari sana pada saat yang bersamaan dan Chanyeol menjadi yang pertama berbicara disana.
"Apa Anda wali dari pasien?"
Itu seharusnya menjadi tanggung jawab dari manajer, namun Chanyeol dengan cepat menganggukkan kepalanya dan menjadi satu-satunya yang ikut masuk ke dalam ruangan dokter itu.
Chanyeol hanya memiliki kemungkinan dimana jadwal padat yang tak dibarengi dengan stamina bagus, menjadi hal yang membuat Baekhyun pingsan seperti itu.
Itu bukanlah kali pertama terjadi sebenarnya. Pada kasus yang sama ketika salah satu artisnya di larikan ke rumah sakit, Chanyeol hanya meninggalkan pesan pada manejer artis itu sendiri tanpa sisipan kekhawatiran dalam dirinya.
Namun tak tau mengapa, duduk berhadapan dengan pria berjubah putih itu membuat perasaannya berubah kalut dengan pemikiran random memenuhi dirinya. Mengapa seperti itu?
"Baekhyun hanya kelelahan dan dia akan kembali membaik dengan istirahat beberapa hari." Dokter itu memulai. Itu melegakan, namun taunya tak mampu menahan kekhawatiran dalam dirinya.
"Dan sesuai dengan prosedur, aku mengambil sampel darah dan urinnya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Lalu bagaimana dengan hasilnya?"
Dokter itu menatap Chanyeol teduh. Chanyeol menelan liur kelu dan menunggu dengan degupan jantung berdebar.
"Hasil pemeriksaan mengatakan jika Baekhyun... hamil."
Satu-satunya hal yang Chanyeol lakukan untuk responnya, ialah mata membola lebar dengan satu dentuman keras di dada. "A-apa?"
"Kandungannya telah memasuki minggu ke 9, dengan kondisi kehamilan semuda ini tidak seharusnya Baekhyun masih melakukan aktifitas seperti itu. Itu tak hanya membahayakan calon bayi tapi juga dirinya—"
"Tunggu dokter—" Chanyeol memotong. "Apa maksudmu Baekhyun... hamil?"
Dokter itu berbalik menatap Chanyeol terkejut. "Anda tidak mengetahuinya?"
"..."
"Baekhyun adalah laki-laki interseks. Dia memiliki kemungkinan besar untuk hamil dan melahirkan bayinya."
Chanyeol tak tau harus seperti apa menanggapi hal itu. Mencerna hal itu... keterkejutan menguasai dirinya dan seketika kosong pikirannya. Kenyataan jika Baekhyun interseks dan kini hamil, menampar dirinya dalam kenyataan jika dirinyalah yang... menyebabkan hal itu.
Chanyeol tak lupa untuk apa yang ia lakukan pada Baekhyun. Nyaris setiap harinya, untuk jumlah yang tak terhitung kalinya... dia menyetubuhi anak itu. Membiarkan spermanya memenuhi anak itu dan dan... membuat anak itu hamil. Hamil benih dari dirinya.
Chanyeol tak banyak mengingat seperti apa konyol ekspresinya ia di depan dokter itu. Tapi satu-satunya yang mendominasi ialah, amarah dan emosi meluap dalam dirinya.
Emosi amarah tentang Baekhyun yang menutupi hal itu darinya. Membohongi dirinya.
...
"Apa yang dokter katakan?" Jongin menjadi satu-satunya yang mendekati posisinya sejak ia keluar dari ruangan dokter. Jongin menepuk bahunya pelan dan itu cukup membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.
"Dia hanya kelelahan saja bukan?"
Chanyeol mendongak, menatap sekretarisnya itu tanpa suara. Menarik nafasnya pelan, Chanyeol menyahut. "Ya, dia baik. Mungkin sekarang publik sedang bertanya-tanya apa yang terjadi padanya, berikan pernyataan mengenai keadaannya."
...
"Apa kau mengetahuinya?"
Baekhyun pikir semuanya benar baik-baik saja dan sikap dingin Chanyeol hanya akan berlangsung sampai mereka sampai ke penthouse. Chanyeol mungkin masih berada dalam situasi profesionalnya dengan bertingkah mereka hanya sekedar artis dan dkrektur agensi saja. Maka ketika telah berada dalam lingkupan ruang dimana hanya ada mereka berdua saja, maka semuanya akan berjalan seperti sedia kala.
Tapi taunya Baekhyun masih menemukan tatapan tajam nan dingin menghunus dirinya kala bersibobrok dengan laki-laki itu. Mereka masih berada di depan pintu dan Baekhyun baru selesai melepas sepatunya, ketika Chanyeol berdiri di hadapannya dan membiarkan kalimat itu menguar begitu saja.
Baekhyun berubah patung dengan degupan jantung tak menentu dalam dadanya. Keringat dingin membasahi sedang lidah terasa kelu.
"Cha-Chan—"
"Aku tanya, apakah kau mengetahuinya? Apakah kau tau jika kau adalah laki-laki interseks?!" Suara Chanyeol meninggi dan Baekhyun tersentak pada tempatnya.
"Jawab aku sialan!" Umpatan itu seperti petir menyambar di dalam kepalanya. Baekhyun tersentak lagi dalam keterkejutannya dan ketika ia menahan kepalanya pada Chanyeol, ia temukan tatapan penuh amarah dari laki-laki itu. Baekhyun merasa begitu asing. Seperti bukan Chanyeol.
"A-aku mengetahuinya." Pelan Baekhyun menjawab.
Baekhyun mendengar Chanyeol mengumpat lagi. Menyerapahinya dengan makian beragam dan Baekhyun bahkan tak tau harus bagaimana. Kepalanya tertunduk tak berani menatap Chanyeol yang penuh sarat benci padanya.
"Kau mengetahuinya tapi kau membiarkan aku menyetubuhimu?! Brengsek! Aku menyetubuhimu hampir setiap hari sialan!"
Baekhyun tergugu dengan tubuh tegang dan membiarkan inderanya menangkap tiap makian Chanyeol padanya. Membiarkan perasaannya tergores oleh makian Chanyeol.
"Kapan kau mengetahuinya?" Chanyeol bertanya lagi. Nada suaranya masih sama tingginya dengan kilatan amarah menyambar pada remaja itu.
"Saat a-aku berumur 8 tahun, ayahku memberitau jika I-ibuku-" Tergagap Baekhyun menyahut. "Ibuku adalah laki-laki interseks."
"Dan kau tak memberitauku jika kau interseks dan tetap membiarkanku menyetubuhimu!?"
Baekhyun tergugu pada tempatnya, ia tak menyadari mengenai pipinya yang basah akan air mata kini. "A-aku selalu meminum obatku setelah kita selesai melakukannya. Tapi aku kehabisan sejak 3 bulan yang lalu dan dan... aku tak bisa membelinya."
Baekhyun tak lebih seperti anak ayam basah dengan cicitan ketakutan merangkai perkata keluar dari tenggorokannya. Baekhyun bahkan tak mampu menyembunyikan getaran pada tubuhnya—ketakutan akan situasi amarah Chanyeol di depannya.
Chanyeol mencolos. Rahang terjatuh dan menatap tak percaya pada Baekhyun. Bagaimana bisa—
"Dan apa kau pikir semuanya akan baik-baik saja? Kau pikir karirmu juga akan baik-baik saja?" Chanyeol tertawa miring. Merutuki dirinya betapa bodohnya ia melupakan hal-hal seperti ini. Sial! Chanyeol mengumpat lagi kemudian.
Bulat lingkaran kelopaknya taunya masih pada tarikan tajam yang sama. Emosi menguasai bahkan untuk tangisan Baekhyun seperti itu masih tak mampu membuat luapan dalam dirinya berkurang.
"Kau kukeluarkan dari grub."
Maka itu akan menjadi keputusan final.
Baekhyun mengangkat kepalanya cepat dan sipitnya membola sampai pada batas yang mampu ia lakukan.
"Chanyeol tidak—kumohon ja-jangan lakukan hal itu. Ak-aku—" Baekhyun tercekat. Otaknya blank dengan bibir bergetar mengeluarkan patahan kalimatnya. Chanyeol tak peduli.
Laki-laki itu berbalik. Meninggalkan Baekhyun yang bahkan menekuk lututnya kini—berlutut sembari memengangi kain celananya.
"Chanyeol kumohon bi-biarkan aku tetap disana, a-aku akan..." Baekhyun tercekat ludahnya namun taunya otak kosong malah tak mampu memikirkan hal lain. Suaranya masih tergagap namun ia biarkan mengucur begitu saja.
"Aku akan menggugurkannya."
"Aku akan menggugurkannya!" Narae berteriak kalap. Ia melempari Chanyeol dengan kedua sepatu mahalnya dan memaki laki-laki itu di sela.
"Tidak, kau tidak bisa melakukannya!" Chanyeol balas berteriak. Ia mengabaikan bagaimana wanita itu menghujaninya dengan kepalan tangan keras dan memengangi lengan itu dengan kuat.
"Mengapa aku tidak boleh melakukannya?" Narae balas menatap Chanyeol dengan hujaman tajam yang sama, tak terlihat takut sama sekali. "Karirku baru saja berjalan dan aku tak mau bayi ini merusak karirku begitu saja!"
"Persetan dengan karirmu. Ini bayiku dan kau tak boleh menggugurkannya!"
"Persetan dengan bayimu Park!" Wanita itu menghempaskan cekalan Chanyeol pada lengannya dalam sekali hentakkan. "Aku akan tetap menggugurkannya!"
"Ahn Narae!"
Chanyeol tak mampu menghindari ingatan lama menyakitkan itu dalam dirinya. Emosinya memuncak untuk dua kali lipat dan menarik dagu Baekhyun dan mencengkram rahangnya. Kuat dan sampai pipi berisi itu mencekung.
"Katakan sekali lagi." Chanyeol bersuara rendah. "Katakan sekali lagi bangsat!"
"Cha-Chanyeol-"
"Jika kau menggugurkan kandunganmu, atau melakukan sesuatu yang bisa membahayakan bayiku—"
Chanyeol memberi jeda. Mencengkram semakin erat rahang itu dengan merah oleh cetakan jarinya terlihat. Menusuk Baekhyun dengan tatapannya sampai remaja itu tak mampu melepas oksigen dalam paru-parunya.
"Aku akan membunuhmu."
Lalu menghempas kuat dagu Baekhyun sampai anak itu terjungkal pada tempatnya.
"Apa-apaan kau hyung!" Sehun datang dari kamarnya. Ia menatap terkejut Chanyeol dan terburu menghampiri Baekhyun di lantai—termangu dengan seluruh pergerakan motorik hilang. Sehun membawa anak itu pada dadanya dan menatap nyalang Chanyeol. "Kupikir kau sudah berhenti memukuli orang."
Chanyeol tak menanggapi. Ia menggertakkan rahang kala inderanya menangakap bagaimana Sehun membawa Baekhyun ke dalam pelukannya dan bagaimana remaja itu memasrahkan dirinya— tenggelam dalam tangis disana.
Chanyeol mendengus dan menuju pintu. Membantingnya kuat dengan umpatan sama keluar tanpa beban dari mulutnya
"Damn it!"
...
"Apa dia sering memukulimu seperti tadi?" Sehun bertanya di antara kesal dalam suaranya.
Itu bukanlah pemandangan pertama baginya, dimana ia melihat Chanyeol melayangkan tangannya pada seseorang. Ketika berada di bangku sekolah Chanyeol adalah berandalan, berkelahi adalah alasannya pergi sekolah. Tapi kemudian orangtua mereka mengirim Chanyeol ke Amerika dan menjanjikan salah satu perusahaan untuknya saat lulus dari Universitas, dengan syarat Chanyeol mengubah perilaku buruknya itu.
Chanyeol berhenti. Berkelahi atau apapun yang meninggalkan bekas luka pada wajahnya, namun beralih keluar masuk kelab dan hidup hura-hura di Amerika sana. Itu lebih baik dibanding, nama keluarga mereka lagi tercatat pada panggilan di kantor polisi.
Dan Sehun tak pernah tau, jika saudara laki-lakinya itu masih suka main tangan bahkan untuk seseorang seperti Baekhyun. Sehun bahkan tak pernah mendengar Baekhyun berteriak atau melontarkan umpatan sejak mereka tinggal seatap di penthouse Chanyeol, tapi lihat bagaimana Chanyeol pun sama memberlakukannya sama seperti berandalan SMA dulu.
Baekhyun memberikan gelengan cepat dan mengusap wajahnya yang basah air mata. Isakannya telah berhenti namun tak tau mengapa matanya masih saja keluar seperti itu.
Sehun membantunya duduk di sofa dan menenangkan dirinya disana. Memberikan beberapa usapan pada punggungnya dan itu membuat Baekhyun merasa lebih baik.
"Tak apa, kau bisa mengatakannya padaku." Sehun mendorong dirinya lagi dalam pertanyaan. Namun Baekhyun kembali menggeleng, karena memang itulah kenyataannya.
Ini adalah kali pertama Chanyeol memukulnya. Rahangnya masih terasa nyeri namun bukan itu yang membuat air matanya menguar lagi dan lagi. Perasaannya, disana tergores.
Baekhyun seolah berada gaum menyesakkan dimana ia menyadari jika Chanyeol... hanya ingin tubuhnya saja. Hanya ingin kepuasannya. Perlakuan baik, lembut... semua hanya mengacu karena laki-laki itu ingin menjaga kepuasannya.
Baekhyun menukar tubuhnya untuk debut. Chanyeol mendebutkannya dan Baekhyun memberikan tubuhnya. Chanyeol memilikinya. Dirinya.
Sehun berakhir dengan menghela nafas lagi. Ia seharusnya tau Baekhyun tidak berada dalam suasana hati yang baik. Lagipula mereka bukanlah 2 orang akrab dan hal-hal seperti ini, tak seharusnya dapat dilakukan dengan nyaman.
"Baekhyun..." Sehun memanggil namanya dengan lelah. Yang kecil mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan sedih. Aktor itu menatapnya dengan ringisan dan merutuki Chanyeol lagi dalam hati.
"Kau tau, tak seharusnya kau terlibat dengan hyungku, dia... bukanlah seseorang yang pantas untukmu." Sehun menghela nafasnya lagi. "Aku tidak tau apa yang membuatmu bersama dengannya sampai sekarang, tapi... kau bisa pergi jika kau ingin."
"A-aku baik-baik saja, hyung."
Sehun menghela nafasnya lagi untuk kesekian kalinya. Sehun hanya mencoba memakluminya. "Baiklah," tangan lebarnya mengusap punggung kecil itu lagi. "Kau terlihat tak baik, istirahatlah, hm?"
...
Baekhyun mungkin bodoh. Dia terlalu naïf dengan menganggap apa yang ia jalani adalah hal yang normal dan seperti apa adanya.
Saat menjadi trainee dulu, yang ia lakukan setiap harinya adalah berlatih. Baekhyun bangun di pagi hari untuk berlatih sampai malam, kemudian tidur untuk mengumpulkan energinya dan melakukan hal yang sama di keesokan harinya.
Lalu ketika ia debut, Baekhyun memiliki pagi sampai malam larut untuk jadwal satu dan jadwalnya yang lain. Baekhyun mengesampingkan banyak hal, lelahnya, waktunya yang bersisa juga 5 jam waktu istirahatnya untuk... melayani Chanyeol.
Baekhyun menyangkal habis-habisan mengenai hal itu. Kenyataan itu.
Chanyeol membiarkannya tinggal di penthouse mewah itu daripada tinggal di dorm bersama dengan 5 anggota yang lain. Chanyeol membiarkannya tinggal disana tak hanya untuk memberikan ia tempat layak dengan kenyamanan luar biasa untuknya. Dibalik itu, untuk memudahkan Chanyeol menikmati dirinya. Meraih kenikmatan darinya.
Baekhyun mengetahui hal dimana ia terlahir dari rahim seorang laki-laki interseks. Ayahnya memberitaunya dulu, mengenai laki-laki yang bahkan tak sempat ia lihat sejak ia menatap dunia untuk pertama kalinya.
Ayahnya bilang, ibunya meninggal ketika ia lahir. Melahirkannya dengan keadaan sama dengan laki-laki itu pula. Interseks, dan Baekhyun tak ingin menyalahi siapapun dengan keadaannya yang seperti itu.
Ayahnya bilang, ibunya istimewa. Dan itu pun sama istimewanya. Mungkin itu hanyalah ucapan basa basi yang akan terlupakan pada hari esoknya, namun taunya itu membuat Baekhyun mampu melampaui hidupnya dengan normal.
Baekhyun menutupi hal itu sebisa yang ia lakukan. Kemudian Chanyeol memilikinya. Mengikatnya dalam benang transparan dan ia terjabak dengannya hingga kini.
Chanyeol menyutubuhinya. Hampir setiap hari dan itu tak menjadi beban pikiran bagaimana Baekhyun memiliki sebotol pil penuh untuk melindungi rahasianya. Kemudian berubah buruk ketika Baekhyun bahkan tak bisa melangkahkan kakinya keluar tanpa adanya manejer dan penjaga dari penggemar yang menggerubungi dirinya setiap ia menampakkan batang hidungnya di tempat umum.
Namun botolnya telah kosong kini. Tanpa sisa potongan apapun namun Chanyeol masih memenuhi dirinya seperti apa yang selalu laki-laki lakukan. Dan Baekhyun memilikinya sekarang. Kehidupan lain yang berada di dalam perutnya. Dan Baekhyun taunya tak memiliki hal untuk ia lakukan untuk hal itu.
Bayinya.
Karirnya.
...
Baekhyun ingat ia berada di ruang santai dengan mata terbuka lebar—terjaga sepanjang malam. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya dan itu berhasil membuat ia tak mampu memejamkan matanya di antara sisa pusing yang masih mendera.
Namun ketika ia terbangun di pagi harinya, Baekhyun mendapati dirinya berada di atas tempat tidur Chanyeol, tidak lagi terbungkus mantel besar laki-laki itu juga seragam pasien sebagai kain tubuhnya, tapi piyama nyaman miliknya dengan selimut lembut yang menghangatkan dirinya.
Di tengah kebingungannya, mual menghampiri dirinya lagi. Baekhyun tak melakukan apapun selain berlari menuju kamar mandi dan berakhir di depan kloset lagi. Memuntahkan seluruh cairan yang berasal dari lambungnya. Baekhyun meringis pelan dan membasuh wajahnya pada wastafel. Kemudian masuk ke dalam kamar lagi dan ia nyaris luput memperhatikan adanya segelas air pada nakas dengan beberapa butir obat di atas piring kecil.
Baekhyun berkerut kening dan mendekati nakas. Disana terdapat secarik kertas dengan tulisan rapi tergores tinta: 'minum obatmu, itu akan membuat mualmu berkurang.'
Baekhyun terdiam selama beberapa saat menyadari jika itu adalah tulisan tangan milik Chanyeol. Sekelebat ingatan akan malam lalu mengusik dirinya lagi. Baekhyun tanpa sadar menggigit bibirnya, satu tangannya berada di atas perut dan Baekhyun menelan obatnya segera.
Ia keluar dari kamar setelah itu. Membawa gelas kosong dengan piring kecilnya juga menuju dapur dan mendapati Sehun di ruang santai. Menonton tv dengan raut wajah serius, namun segera mengalihkan pada channel lain ketika melihat sosoknya.
...
"... pernyataan resmi dari agensinya, Loey ent, membuat kekhawatiran penggemar menjadi beralasan. Dalam waktu yang masih tak di tentukan, Baekhyun akan melakukan perawatan juga beristirahat sampai kembali-"
Sehun berkerut kening kala pembawa acara itu terdengar dari channel acak yang di pilihnya. Berita mengenai Baekhyun dengan potongan video menampilkan penampilan Baekhyun malam kemarin.
Sehun memiliki respon keterkejutan dengan mata memicing menatap layar plasma lebar di depannya itu. Apa-apaan— Baekhyun bahkan berada disini dan terlihat baik-baik saja berbanding terbalik dengan apa yang diberitakan seolah ia memiliki tumor ganas yang harus di tangani secepatnya.
Sehun beralih mengambil ponselnya. Membuka situs internet dan segera ia temukan judul dengan Baekhyun sebagai topik utamanya.
Kesehatan memburuk, Baekhyun akan hiatus dari kegiatan grub
Apa yang terjadi pada Baekhyun?
Video Baekhyun pingsan di atas panggung menjadi viral.
Pingsan di panggung, ini pernyataan agensi tentang kesehatan Baekhyun.
Sehun membuka judul berita terakhir. Membacanya terburu dan ia temukan penggalan dalam cetak miring, merupakan pernyataan dari juru bicara Loey Ent.
Mereka mengatakan jika Baekhyun baru saja melakukan pemeriksaan dikarenakan kesehatannya yang memburuk. Dia memiliki suatu penyakit yang di rahasiakan agensi dan itu membuat Baekhyun akan hiatus sementara dari kegiatan grub juga jadwal keartisannya selama masa pemulihan sampai waktu yang tak dapat di tentukan.
Omong kosong. Sehun merutuk dalam hati. Ini jelas merupakan bualan agensi, Sehun bahkan melihat Chanyeol memukuli Baekhyun semalam, dan bagaimana mungkin saudaranya itu tega melakukan hal itu jika memang benar Baekhyun tengah sakit?
Chanyeol tak mungkin sebiadab itu.
Sehum beralih pada judul berita yang lain dan membacanya sedang pikiran melayang dalam pra duganya. Apa yang terjadi sebenarnya?
Grub Baekhyun sedang berada dalam perhatian besar dan Baekhyun sendiri tengah disibukkan dengan jadwal individunya. Baekhyun adalah sumber uang yang lain dan tak mungkin Chanyeol membuat pernyataan seperti itu yang berakhir dengan hilangnya pemasukannya juga.
Jika hanya peralihan dari asumsi publik mengenai jadwal ekstrim artis agensinya, maka menjadi hal yang mudah dengan memberikan pernyataan pemberikan waktu istirahat dengan bumbu manis sebagai pelengkap. Tidak seperti omong kosong ini.
Atau apakah... Baekhyun benar memiliki suatu penyakit?
Rasanya tidak-
Suara deritan pintu dari kamar Chanyeol menyentak Sehun dan dengan gerakan cepat ia mengganti channel televisi yang masih menayangkan berita tentang Baekhyun. Membawa pandangannya pada sumber dan ia temukan sosok Baekhyun disana. Masih dengan piyama dengan gelas kosong tangan.
"Hai, Baek." Sehun menyapa pertama kali. Ia menyimpan ponsel miliknya di dalam kantung celana yang ia kenakan, bangkit kemudian dan menghampiri Baekhyun.
"Tidurmu nyenyak?"
"Ya, hyung." Baekhyun menjawab, meringis pelan akibat sisa mual. Ia melanjutkan kembali langkah menuju dapur. Sehun di belakangnya mengikuti, memperhatikan bagaimana remaja itu mengambil langkah, bergerak pelan dengan wajah pucat.
"Kau baik, Baek?" Sehun lagi bertanya. Baekhyun yang mencuci gelas dan piring kecilnya pada bak cuci, menganggukkan kepalanya, berpikir Sehun menanyai keadaannya pagi itu.
Baekhyun merasa baik.
"Ya, hyung."
"Kupikir kau seharusnya berada di rumah sakit lebih lama lagi, kau terlihat pucat."
Seluruh pergerakan tangannya terhenti. Baekhyun menggigit bibir bawahnya pelan tanpa niatan menyahut apa yang Sehun ujarkan padanya.
Sehun di belakangnya terlihat tak puas.
"Ah, omong-omong apa kau menginginkan sesuatu untuk sarapanmu? Chanyeol hyung memintaku untuk memasakkanmu sesuatu saat kau bangun nanti."
"Chanyeol-" Baekhyun seolah tersadar mengenai ketidakberadaan laki-laki itu disana.
Baekhyun mengingat Chanyeol hanya mengantarnya pulang semalam, terlibat dalam teriakan keras di depan pintu dan kemudian Chanyeol pergi. Sampai pagi ini, Baekhyun masih tak mendapati keberadaannya.
"Apa semalam Chanyeol pulang?" Baekhyun berbalik badan menghadap Sehun yang berdiri pada pinggiran pantry.
"Ya, tapi pergi dia pergi lagi pagi-pagi sekali."
Baekhyun tak lagi berujar apapun sedang pikirannya kembali dikuasai akan yang terjadi semalam. Chanyeol dengan seluruh makian yang laki-laki itu lontarkan padanya.
Baekhyun menggigit bibirnya lagi tanpa sadar ia lakukan. Langkah kakinya bergerak keluar dapur-lagi mengabaikan Sehun dan menuju kamar. Meraih ponselnya berpikir untuk sebuah pesan kepada Chanyeol namun urung ia lakukan ketika hujaman pesan dari Kyungsoo tertera pada layar.
Baekhyun membukanya dan membaca satu per satu dan matanya membola bersamaan dengan kacau hatinya menguar kembali.
'Baekhyun apa kau baik-baik saja? Mengapa kau hiatus dari grub, apakah benar kau sakit parah? Kumohon balas pesanku, Baek. Aku khawatir sekali padamu.'
Chanyeol... menghiatuskan dirinya, apakah itu yang laki-laki itu lakukan untuk mengeluarkannya dari grup?
Baekhyun luruh pada lantai. Mengabaikan ponselnya dengan pesan Kyungsoo yang seharusnya ia balas. Air mata menganak lagi pada pelupuknya. Membasahi wajahnya dan Baekhyun terisak keras disana.
Tak menyadari jika Sehun berdiri di depan pintu, menatapnya dengan seribu artian dengan sisa kasihan dalam hatinya.
...
Chanyeol benar masih dikuasai oleh kesadarannya walau bau alkohol menguar dari pakaian yang ia kenakan. Itu sudah hampir pagi dan Chanyeol menghabiskan sebagian malamnya dengan sebotol vodka.
Satu-satunya yang menyambut pandangannya ketika memasuki penthousenya adalah sosok Baekhyun yang berbaring di sofa. Tertidur masih dengan mantel miliknya yang menenggelamkan tubuh mungil remaja itu.
Chanyeol menatapnya nanar. Langkahnya terseok ia dekati Baekhyun disana. Berjongkok pada kaki sofa dan menyibak poni Baekhyun menjuntai pada dahinya.
Chanyeol tertegun. Selama beberapa saat ia seolah terjatuh pada wajah lelap itu. Begitu polos. Begitu murni. Namun lihat apa yang ia lakukan?
Chanyeol mengusap halus pipi itu. Mengusapnya penuh kasih dan dapat menahan diri untuk kecupan kecil di bibir. Baekhyun mengeliat pelan akibat ciumannya, mengusap wajahnya lagi... Baekhyun kembali masuk pada mimpinya.
Chanyeol membawa kedua tangannya kemudian mendekap Baekhyun pada dadanya. Mengangkat ringan tubuh itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Baekhyun ia baringkan dengan perlahan, membenarkan letak bantal di kepalanya sebelum beralih membuka mantel besar miliknya pada tubuh mungil itu.
Chanyeol menuju lemari kemudian. Mengambil piyama Baekhyun acak di dalam sana dan mengganti pakaian rumah sakit itu dengan piyama. Chanyeol taunya tak segera beranjak pergi. Lagi menghabiskan waktunya dengan menatap jauh Baekhyun yang terlelap, mengusap wajahnya lagi dan memberikan sebuah kecupan lain pada kening.
...
Cocot: maafkan segala macam bentuk typonya geng, aku ga sempat megang laptop dan ngetik chap ini di tab trus ngedit di doc manager T.T but thankseu so much for all reviewers, kucinta kusayang kalian~ see ya next chap... kkk~
