Jongin menghela nafas di dalam mobilnya, dia memencet sebuah tombol untuk menerima panggilan dari Kai.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
"Aku bilang lebih baik kau mati saja. Lagi pula untuk apa orang tidak berguna sepertimu tetap hidup? Aku sudah sering mengatakannya, suatu saat kau akan tahu jika dosa-dosamu itu terlalu banyak hingga untuk mencium wangi surgapun kau tidak pantas!"
Jongin tidak menjawab apapun. Dia menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong selama beberapa detik dan ia baru sadar saat ada seorang anak kecil berlari menyebrangi jalan di depannya. Jongin langsung panik, dia segera membanting stir untuk menghindari anak itu dan
BRAKKKK
"HYUNG!/JONGIN!" pekik Hanbin dan Kyungsoo yang masih bisa melihat mobil Jongin menabrak tiang di ujung jalan.
Chapter 9
Jas Putih
Happy Reading~^^
Hanbin dan Kyungsoo langsung membawa Jongin ke rumah mereka. Untung kecelakaan itu hanya kecelakaan kecil meski Jongin sempat pingsan dan mendapat beberapa luka ditubuhnya setidaknya Kyungsoo bisa mengatasi luka-luka kecil itu sendiri di rumahnya.
Ini adalah pertama kalinya Jongin masuk ke rumah keluarga Do. Rumah ini nampak nyaman dan hangat. Tidak seperti rumahnya yang besar dan mewah namun lebih terlihat seperti rumah kosong tanpa penghuni. Jongin duduk di atas ranjang kamar tamu keluarga Do. Ia sedang mencoba menggerakan tangan kanannya tapi tidak bisa. Tangannya hanya menggantung seperti terlepas dari sendinya. Dia meringis sesekali untuk menahan sakit. Jongin melirik kearah Hanbin yang baru saja masuk kedalam kamar ia berjalan menghampiri Jongin lalu mendudukan diri disisi ranjang.
"masih ada yang sakit Hyung?" tanyanya khawatir.
"tidak, aku sudah lumayan baikan. Kau tidak perlu khawatir itu hanya kecelakaan kecil" Jongin menjawab sambil tersenyum tipis. Ia juga menghentikan usahanya untuk menggerakan tangan kanannya agar Hanbin tidak khawatir dan mencurigainya.
"aku sudah menelpon bengkel langgananmu, mereka bilang hanya kerusakan kecil di bamper mobilmu mereka akan menyelesaikannya dalam beberapa hari"
Jongin mengangguk mengerti "terima kasih, dan sepertinya aku harus segera pulang"
"tidak tidak. istirahatlah disini. Hyung menginap saja, aku juga akan tidur di rumah malam ini, aku baru akan kembali ke dorm besok"
"aku tidak enak, aku bisa pulang naik taks-"
"Aku sudah memasakkan sup daging, Makanlah selagi hangat." Jongin sedikit kaget saat tiba-tiba mendengar suara Kyungsoo. Gadis itu bicara tanpa berani menatap wajahnya. Dia hanya berjalan mendekat lalu menyimpan nampan berisi mangkuk dengan nasi dan sup daging di nakas samping ranjang.
Jongin masih belum bergerak, dia hanya diam sambil memandangi Kyungsoo yang juga hanya diam dengan wajah yang sengaja dibuat sedatar mungkin. Hanbin terkekeh melihat kedua orang itu "Hyung tidak mau membuat Kyungsoo Noona marah-marah lagi padamu kan? Sudah turuti saja selagi dia sedang baik. Aku mandi dulu Hyung" Hanbin beranjak keluar kamar tamu setelah menepuk pundak kiri Jongin pelan sekedar menyadarkan Jongin dari lamunannya.
"Kau tidak mau memakannya?" tanya Kyungsoo saat Jongin masih tidak menggerakan badannya.
"eh? A-aku akan memakannya.. mungkin nanti"
"kenapa? Hanbin bilang kau belum makan dari siang tadi. Cepat mak-"
"shhh" Kyungsoo menghentikan ucapannya mendengar ringinsan Jongin.
"ada apa dengan tanganmu? Apa sakit?" Gadis itu langsung melirik tangan kiri Jongin yang sedang menyanggah sikut lengan kanannya.
"sedikit. Mungkin tadi terkena benturan keras. Tapi ini bukan masalah besar"
Kyungsoo menghela nafas panjang "Aku akan meminta Ayahku untuk mengobati tanganmu jika ia sudah pulang, mungkin tanganmu juga butuh penyangga. Dan sekarang kau harus tetap makan..." gadis itu menggigit bibir bawahnya nampak sedang memikirkan sesuatu, Jongin tidak bisa makan sendiri karena tangannya sakit "Aku.. akan membantumu makan. Hmm menyuapimu mungkin"
Jongin sudah membuka mulutnya untuk bicara tapi Kyungsoo langsung menyela "ka-kau jangan salah paham dulu. Kau tahu, aku... aku kasihan saja padamu. Well... anggap saja sebagai permintaan maafku juga"
"permintaan maaf?"
"hmm... semua orang benar, aku sudah keterlaluan padamu. Jadi.. Maafkan aku" Kyungsoo bicara dengan nada bersalah. Andai saja ia tidak menunduk ia pasti dapat melihat wajah Jongin yang kini sedang tersenyum lembut kearahnya.
"kau tidak seharusnya meminta maaf. Itu memang salahku, aku memang pantas mendapat perlakuan seperti itu"
Kyungsoo kembali menghela nafas "kita bahas nanti saja" ucapnya sambil mengarahkan sendok yang sudah berisi nasi dan sayur kedepan mulut Jongin "sekarang makanlah"
Jongin membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Kyungsoo. Senyuman itu tidak lepas dari mulutnya yang bahkan saat ini sedang mengunyah makanan. Matanya juga masih menatap ke objek yang sama, wajah Kyungsoo. dan jujur saja itu membuat Kyungsoo sedikit salah tingkah.
"terima kasih Kyungsoo" ucapnya setelah berhasil menelan makanan di mulutnya. Kyungsoo hanya mengangguk untuk menanggapinya dan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menyuapi Jongin.
...
"Sekarang Noona tidak punya alasan untuk membenci Jongin Hyung. Bahkan Soojung Noona saja sudah memaafkannya."
Kyungsoo terperanjat kaget saat Hanbin tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia sedang mencuci piring kotor bekas makan malam Jongin. Gadis itu menghela nafas sambil kembali menyibukan diri dengan pekerjaannya tanpa menanggapi ucapan adiknya barusan.
"Jangan terlalu lama membenci, karena pada akhirnya Noona hanya akan lelah sendiri. lagi pula membenci orang itu tidak ada gunanya"
"jangan banyak bicara bocah, cepat duduk dan makan makananmu"
Hanbin terkekeh melihat wajah cemberut kakaknya "Ayah dan Ibu belum pulang?" tanyanya "apa mereka tidak tahu aku ada dirumah? Jika mereka tahu mereka pasti akan pulang cepat untuk melihat anaknya yang akan segera menjadi idol ini, Noona tidak memberitahu mereka ya?"
"Apasih kau ini, mereka sedang sibuk. Ayah masih harus melakukan satu operasi lagi dan Ibu, ada salah satu pasiennya yang tiba-tiba kumat. Mereka mungkin baru akan pulang satu atau dua jam lagi" Kyungsoo menarik kursi di samping Hanbin dan mengambilkan nasi dan beberapa lauk pada piring adiknya itu.
"Noona suapi aku" rengek Hanbin.
"jangan manja kau bayi besar"
"Oh jadi sekarang Noona lebih peduli pada Jongin Hyung dibanding aku begitu? Jongin Hyung saja disuapi masa aku tidak?" Hnabin menunjukan waja cemberutnya, dia hanya sedang ingin menggoda kakaknya.
Kyungsoo langsung memelototi Hanbin dengan wajah yang sedikit memerah. "Kau mengintip?"
Hanbin terkekeh mendengarnya "mengintip? Memang kalian melakukan apa?"
"tidak. jangan berpikiran macam-macam"
"aku tidak berpikiran macam-macam karena aku melihat semuanya kkk~ aku melihat Noona menyuapi Jongin Hyung dengan baik dan kalian mulai bisa berbincang dengan nada normal tidak seperti kemarin-kemarin. Harusnya Noona seperti itu dari dulu aku kan jadi senang melihatnya"
"jangan banyak bicara cepat makan" Kyungsoo masih menunjukan wajah galaknya pada Hanbin mencoba untuk tidak terpancing oleh godaan yang di lontarkan sang adik.
"Noona mau tahu sesuatu tidak?"
"tidak" sahut Kyungsoo datar.
"sepertinya Jongin Hyung menyukai Noona, bagaimana?"
"Aku tidak peduli"
"eiy memang Noona tidak mau membalasnya? Aku pikir kalian cocok Jongin Hyung kan tampa-UHUK UHUK" Hanbin tersedak oleh sesendok nasi yang Kyungsoo masukan secara mendadak kedalam mulutnya. Lelaki itu langsung meraih gelas berisi air mineral di dekatnya dan meminumnya sampai habis "NOONA ITU TIDAK LUCU"
"memangnya siapa yang sedang melucu? Makanya diam dan makan saja katanya kau ingin aku suapi. Kau ini lama-lama sama saja seperti Baekhyun si tukang gosip itu"
"tuh kan! Noona sekarang lebih sayang pada Jongin Hyung, tadi saja Noona menyuapi Jongin Hyung dengan senang hati kenapa padaku seperti terpaksa begitu? mana membuat aku tersedak lagi.. ah benar-benar.." ternyata Hanbin masih belum kapok untuk menggoda kakaknya,
"DO HANBIN!"
...
Pagi ini suasana di rumah Kyungsoo terasa lebih ramai karena Hanbin ada di rumah, bocah itu sedang bermanja-manja pada orang tuanya. Kyungsoo sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit pagi ini. Dia menggunakan blouse putih yang cenderung vintage dengan kerah klasik dipadu dengan kombinasi motif bunga-bunga kecil pada bagian kerah, pinggang dan lengannya ia juga memakai celana panjang berwarna peach yang senada dengan motif bunga pada atasannya. Kyungsoo mengikat rambut hitamnya selain karena tuntutan pekerjaan, rambut ekor kudanya itu juga membuat kesan lebih fresh pada wajahnya.
Setelah keluar dari kamarnya Kyungsoo tidak langsung turun menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya, Ia malah diam di depan kamar tamu tempat Jongin menginap. Dia merasa harus memastikan keadaan Jongin sebelum ia turun, semalam Jongin bilang akan pulang pagi ini. Dia tidak bisa hadir ke rumah sakit karena tangan kanannya masih sakit.
"Jongin-ah" Panggil Kyungsoo sambil mengetuk pintu berwarna putih di depannya. Dia terus mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Jongin berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam.
"apa terjadi sesuatu padanya?" tanyanya pada diri sendiri "ah lebih baik aku masuk saja"
Kyungsoo mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar itu. Jongin tidak ada disana. 'apa mungkin dia sudah kebawah bersama Hanbin?' pikirnya. Kyungsoo menghela nafas lalu berniat membuka pintu kamar itu kembali namun suara decitan pintu dari arah lain berhasil menghentikannya. Ia reflek berbalik dan matanya langsung membelalak saat melihat Jongin keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Jongin hanya memakai celana panjang yang ia kenakan kemarin. Jongin belum memakai baju.
Mata bulat Kyungsoo kini tertuju pada tubuh bagian atas Jongin yang terbuka. Bukan... Kyungsoo bukan terpesona pada tubuh bagian atas Jongin, dia hanya... merasa kaget dengan apa yang ia lihat. Bekas luka-luka yang mungkin selama ini di tutupi oleh Jongin dari orang-orang kini terpampang jelas di depannya. Dan bukan hanya Kyungsoo yang kaget. Jongin juga merasa kaget, sangat. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kasur tempat tergeletaknya baju yang akan ia kenakan.
"tunggu!" cegah Kyungsoo membuat Jongin juga refleks menghentikan langkahnya.
"J-jongin.. it-itu.." Kyuungsoo tidak bisa meneruskan kalimatnya. Mulutnya memang terbuka beberapa kali tapi tidak ada satu katapun yang dapat ia keluarkan setelahnya.
Jongin hanya bisa menundukan kepalanya saat mata Kyungsoo terus menelusuri bekas luka-luka yang ada di tubuhnya. Dia tidak bisa mengelak lagi, semuanya sudah terpampang dengan sangat jelas. Di lengan kirinya masih terdapat bekas luka irisan dangkal yang memiliki kemiripan satu sama lain dalam arti terpola. Kyungsoo memang pernah melihat luka itu tapi waktu itu ia tidak terlalu memperhatikannya, ia hanya melihatnya sekilas karena Jongin langsung menyembunyikannya. Dan ternyata luka itu bukan hanya di lengan kirinya, bagian tubuh lainnya pun ada meski tidak terlalu banyak, ada juga beberapa luka lebam, luka bekas jahitan dan yang paling menarik mata Kyungsoo adalah sebuah luka dengan bentuk lingkaran tidak sempurna yang ada di dada atas sebelah kiri dekat dengan jantung, itu bekas luka tembak.
Setelah menelusuri hampir seluruh luka yang ia lihat, Kyungsoo langsung memandang wajah Jongin yang masih tertunduk. Gadis itu menghela nafas dengan berat "Kau mau menjelaskannya padaku?" tanyanya pelan.
"tidak disini" Jongin juga bicara sama pelannya.
Kyungsoo mengerti, Jongin mungkin merasa tidak nyaman jika harus membicarakan tentang luka-luka itu disini. "baiklah, kita bicara dirumahmu, cepat pakai bajumu kita pergi lima belas menit lagi kita juga harus sarapan dulu"
"kau tidak ke rumah sakit?"
"Aku akan menelpon dokter Irene untuk meminta ijin datang terlambat, aku juga akan bilang padanya kau tidak akan masuk hari ini" Kyungsoo pun segera keluar dari kamar tamu meninggalkan Jongin yang masih terpaku di tempatnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Setelah menutup kembali pintunya dari luar Kyungsoo merasa tubuhnya tiba-tiba lemas. Kyungsoo menyandarkan punggungnya di pintu dengan tatapan mata kosong, ia juga berusaha mengatur nafasnya yang terasa berat. Ini bukan pertama kalinya ia melihat bekas-bekas luka seperti yang ada di tubuh Jongin, dia bahkan sering melihat yang lebih parah dari itu saat berada di stase forensik. Setelah berusaha membuat nafasnya kembali normal Kyungsoo langsung menegakkan kembali tubuhnya lalu segera turun kebawah untuk sarapan bersama keluarganya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
...
Jongin masuk kedalam rumahnya dengan Kyungsoo yang mengikutinya dari belakang. Sedari tadi tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Keduanya sama-sama diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Seorang wanita paruh baya segera datang menghampiri Jongin saat ia sadar jika tuan mudanya baru saja datang.
"Tuan muda sudah pulang?" tanya Bibi Yoon, asisten rumah tangga Jongin. Dia menatap heran kearah Kyungsoo. Ini adalah kali pertamanya ia melihat Jongin membawa orang lain kerumah padahal Kyungsoo pernah kesini sebelumnya hanya saja saat itu bibi Yoon sudah pulang ke rumahnya jadi mereka tidak sempat bertemu.
"hm" jawab Jongin seadanya.
"kemarin sore tuan besar pulang"
"Apa?" Jongin memekik kaget "Ayah? Ayah pulang?" wajahnya yang tadi nampak murung tiba-tiba berbinar.
"iya Tuan"
"Apa Ayah menanyakanku?" Jongin terlihat sangat antusias.
"iya, beliau menanyakan keadaan tuan. Saya sudah mengatakan pada Tuan besar jika tuan sehat dan baik-baik saja" jelas Bibi Yoon.
"lalu sekarang Ayah dimana? Apa dia sedang istirahat dikamarnya?"
"maaf tuan muda tapi tuan besar sudah pergi lagi tadi pagi-pagi sekali" ucap Bibi Yoon dengan nada menyesal membuat ekspresi penuh semangat dari wajah Jongin langsung berhenti seketika.
Jongin merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Kenapa ia masih saja berharap terlalu besar pada Ayahnya. Padahal ia tahu sendiri jika harapan itu hanya akan menyakiti hatinya.
"ini, Tuan besar menitipkan uang untuk tuan muda" Bibi Yoon bicara dengan hati-hati sambil menyodorkan beberapa lembar uang dengan jumlah besar pada Jongin.
Jongin menatap uang itu sekilas lalu kembali menatap Bibi Yoon "Aku masih punya uang. Bibi bisa menyimpannya atau berikan saja uang itu pada orang yang membutuhkan" ucap Jongin, nada bicaranya kini kembali datar.
Bibi Yoon mengangguk mengerti karena bukan sekali saja Jongin seperti ini. Ia setidaknya sedikit mengerti dengan keadaan keluarga ini. "baik tuan, saya akan pergi ke supermarket dulu untuk membeli bahan makanan. Saya permisi" wanita paruh baya itu membungkuk kearah Jongin dan Kyungsoo lalu segera pergi dari sana.
"apa kau bisa menyimpulkan sendiri dari mana datangnya luka-luka ditubuhku?" tanya Jongin tiba-tiba membuat Kyungsoo sedikit terkejut karena sebenarnya Kyungsoo masih berusaha memahami kejadian yang ada didepannya tadi.
"hmmm.. aku baru menebak. Tapi, tidak. aku takut salah paham lagi, insting dan pengetahuanku tidak sebaik Sehun. Kau tahu Aku masih sering salah" jawab Kyungsoo sedikit gugup.
"kita bicara di taman belakang" ucap Jongin lalu berjalan mendahului Kyungsoo.
...
"Apa yang ingin kau ketahui terlebih dahulu? Aku akan mengatakan semuanya. Aku tidak mau ada salah paham lagi" ucap Jongin.
Kini mereka sedang duduk di taman belakang rumah Jongin. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia masih merasa bingung sendiri. Sebenarnya untuk apa juga dia ingin tahu kehidupan Jongin, itu kan bukan urusannya. Tetapi mereka sudah sepakat untuk berteman sejak kemarin malam, jadi Kyungsoo rasa tidak masalah jika ia terkesan sok ingin tahu urusan Jongin karena dia juga seperti itu pada Baekhyun dan Sehun dan mereka tidak merasa terganggu akan hal itu.
"hmmm Aku mungkin sedikit mengerti dengan adanya luka-luka di lengan dan bagian tubuhmu yang lain tapi aku rasa sepertinya bukan hanya hal tadi saja yang menjadi penyebabnya dan ada juga satu bekas luka yang membuat aku sangat penasaran... luka di dada atasmu itu... bekas luka tembak 'kan?" tanya Kyungsoo hati-hati.
"hm" Jongin mengangguk singkat.
"Kau melakukannya sendiri juga?" Kyungsoo memandang Jongin dengan tatapan tidak percaya.
"tidak, aku tidak separah itu. luka ini... luka inilah yang menyebab Hyung dan Ibuku terpaksa pergi dari rumah"
Kyungsoo semakin di buat penasaran oleh Jongin. Hanbin tidak pernah menyinggung tentang penyebab perginya ataupun perceraian orang tua Jongin. Kyungsoo bahkan yakin jika Hanbinpun belum tahu tentang luka-luka yang Jongin miliki.
Jongin menghela nafas berat "sebenarnya aku tidak pernah mau membagi kisahku pada orang lain"
"oke, tidak apa-apa. Jangan dipaksakan" ucap Kyungsoo berusaha mengerti padahal rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.
"tapi aku akan menceritakannya padamu"
"kenapa?"
"entahlah... Aku hanya merasa... Aku hanya ingin kau tahu aku yang sebenarnya dan mengerti keadaanku. Aku tidak mau ada salah paham lagi sehingga kau kembali membenciku, aku tidak akan peduli jika itu orang lain, tapi jika itu kau.. Do Kyungsoo... Aku tidak mau"
Entah kenapa Kyungsoo merasa perasaaannya menghangat bahkan sampai menjalar menuju wajahnya sehingga memunculkan rona merah meski hanya samar-samar. "kalau begitu ceritakanlah" ucapnya tanpa berani memandang wajah Jongin.
Sebenarnya semua itu berakar dari hubungan Kim Minho dan Lee Taemin. Kim Minho adalah anak satu-satunya dari Kim Yunho dan Kim Jaejoong. Yunho sudah menaruh harapan besar pada anaknya, dia ingin Minho mengurus perusahaan-perusahaannya tapi Minho menolak dan malah memilih menjadi seorang Pilot. Yunho masih bisa memaklumi hal yang membuat seorang Kim Yunho marah besar adalah Minho yang kembali keras kepala dengan tidak mau menerima perjodohan yang sudah ia siapkan dan malah membawa Lee Taemin seorang anak miskin yang tengah berbadan dua yang ia akui sebagai kekasihnya.
Dengan terpaksa Yunho pun membiarkan mereka menikah setelah di desak oleh Jaejoong. Dan kemarahan Kim Yunho itu berimbas pada Joonmyun, anak pertama Minho dan Taemin. Semenjak Joonmyun lahir pun ia tidak pernah mau peduli padahal itu adalah cucu pertamanya. Yang ada Yunho malah selalu berlaku buruk pada Joonmyun. Dia menganggap Joonmyun adalah pembawa sial karena dengan adanya bayi itu dia terpaksa harus menikahkan anaknya dengan Taemin.
Untungnya kemarahan Yunho tidak berlaku pada anak kedua mereka, Kim Jongin. Yunho malah sangat sayang pada Jongin. Dia berpikir jika Jonginlah satu-satunya keturunannya yang bisa diandalkan. Jongin sudah diistimewakan sejak ia lahir. Yunho membawa Jongin ke Jepang bersama Jaejoong dan Jongin baru kembali ke Korea saat ia mulai masuk sekolah dasar atas paksaan Jaejoong karena ia pikir tidak baik memisahkan anak dengan orang tuanya.
Saat itu umur Jongin sudah 17 tahun dia masih duduk di kelas 2 sekolah menengah atas sedangkan Joonmyun –kakaknya- baru saja lulus dan berencana untuk mengikuti tes masuk keperguruan tinggi dan ingin mengambil fakultas kedokteran. Hubungan antara kakak-beradik ini tidak sehangat hubungan Kyungsoo dan Hanbin, hubungan Joonmyun dan Jongin malah terkesan sangat dingin. Sebenarnya Joonmyunlah yang selalu bersikap dingin pada Jongin. Joonmyun hanya merasa tidak adil. Kakeknya selalu membeda-bedakan keduanya. Jongin sangat dimanja sedangkan Joonmyun selalu diperlakukan dengan tidak baik. Yunho bahkan sering menyebutnya sebagai 'anak sial'.
Suatu malam, Jongin beserta Ibu dan Kakaknya terjebak dalam suasana yang sangat mencengkam. Rumah mereka diserang oleh sekelompok perampok. Minho sedang tidak ada dirumah karena ia sedang ada jam terbang. Joonmyun berusaha melawan kelompok perampok itu dengan kemampuan seadanya sedangkan Jongin hanya bisa meringkuk di bawah meja makan sambil memeluk Taemin karena Jongin memang sama sekali tidak bisa berkelahi. Jangankan berkelahi, untuk berinteraksi dengan orang lain selain keluarga dan kerabat dari keluarganya saja jarang sekali. Yunho benar-benar posesif padanya dan tidak membiarkan Jongin mengenal orang sembarangan.
Jongin terus berdo'a dan berharap ada yang menolong mereka. Tubuh Jongin yang masih memeluk Ibunya itu tiba-tiba menegang. Ia melihat salah satu dari perampok itu mengeluarkan sebuah pistol dibalik jaket kulit yang ia kenakan dan mengarahkannya pada Joonmyun. Jongin langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari kearah Joonmyun untuk menyelamatkan kakaknya yang kini tergeletak tidak berdaya.
DORRR
Dan peluru itu akhirnya bersarang di dada kirinya, nyaris mengenai jantung membuat Jongin koma selama beberapa hari.
"dan lagi... Aku seperti orang bodoh. Aku tidak tahu apa-apa. Karena setelah aku sadar pasca operasi yang aku tahu Ibu dan Hyung sudah tidak ada di rumah dan Nenek bilang orang tuaku bercerai. Makanya waktu itu aku sangat marah, sampai aku tidak sadar telah menabrak Soojung" jelas Jongin lirih, airmata sudah menumpuk di kelopak matanya tapi ia berusaha untuk tidak membiarkanya keluar.
Kyungsoo mengangkat tangan kanannya untuk mengelus punggung rapuh Jongin. Ia menatap lelaki itu iba. Rasa bersalah mulai menjalar di hatinya. Selama ini Jongin pasti tertekan dengan keadaannya dan Kyungsoo malah menambah bebannya waktu itu. Kyungsoo benar-benar menyesal. Gadis itu belum mau mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya bisa menenangkan Jongin dengan mengelus punggungnya saja.
"dan luka-luka ini... Kau sudah tahu kan dari mana asalnya?" Kyungsoo mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Dia sudah banyak belajar tentang ilmu kejiwaan, dan dia paham. Jongin mengidap self injury gangguan yang membuat pengidapnya melukai atau menyakiti diri sendiri. Ia merasa ingin menangis saat melihat wajah Jongin sekarang. Wajah yang sarat akan kelelahan, putus asa, bingung, takut semuanya bercampur menjadi satu.
"Aku sangat mencintai keluargaku. Aku merasa tertekan dengan hubunganku dan Hyung yang sangat dingin, aku sangat ingin akrab dengannya sama halnya dengan pasangan kakak-adik yang lain tapi Hyung terus menghindar. Ibu... menurutku dia adalah sosok perempuan paling sempurna didunia ini. Dia cantik, lembut, penyayang, penyabar... Ya Tuhan betapa aku sangat mencintainya. Dan aku merasa ingin mati saja saat tahu dia pergi meninggalkanku bersama Hyung" Jongin sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk tidak keluar. Kyungsoo juga jadi semakin ingin menangis melihatnya. Jongin pasti sangat tertekan selama ini.
"Aku selalu mencari mereka selama ini, aku tidak diam. Tapi aku belum memiliki petunjuk apapun hingga sekarang. Aku benar-benar tidak berguna"
Kyungsoo langsung meraih kepalan tangan Jongin yang sedang memukuli kepalanya sendiri. Gadis itu menggenggam tangan Jongin erat agar Jongin berhenti menyakiti dirinya sendiri. Jongin menatapnya lama lalu melanjutkan ceritanya.
"sekarang aku hanya memiliki Ayah... aku juga sangat mencintainya. Dia adalah panutanku. Tapi.. aku merasa ia menghindariku. Mungkin ia membenciku karena bisa saja aku adalah penyebab dari perpisahan Ayah dan Ibuku. Aku tahu ini seperti anak kecil, tapi aku selalu berpikir aku akan punya kisah hebat dan membanggakan yang dimuat di media dan, maksudku, seharusnya aku menjadi seorang yang bisa dibanggakan. Mungkin dengan itu Ayah akan mau memelukku lagi. memberikan waktunya untukku dan..." Jongin tersenyum miris sebelum melanjutkan kalimatnya "yahhh aku tahu harapanku terlalu besar"
"Aku tidak pernah tahu rasanya ditinggalkan, merasa kehilangan ataupun merasa terluka. Maafkan Aku, tapi berhentilah membuat tubuhmu terluka, memangnya kau tidak merasa sakit?" ucap Kyungsoo pelan. Airmatanya juga sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia bahkan harus susah payah menahan lenguhannya saat bicara.
Jongin menatap dalam mata Kyungsoo yang kini penuh airmata "Aku bingung Kyung. Aku merasa marah tapi aku bingung harus marah pada siapa. Aku merasa sakit, Aku ingin mengobati lukaku tapi aku tidak tahu dimana letak luka itu. kau tahu rasa sakit secara fisik lebih mudah dihadapi dibanding sakit secara psikis karena sakit secara fisik nampaknya lebih nyata. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuat luka sendiri agar rasa sakit itu setidaknya terasa nyata dan tindakan itulah yang biasanya membuatku sedikit tenang"
"tapi itu tidak baik Jongin. Ya Tuhaan.." Kyungsoo menghempaskan punggungnya kesandaran kursi taman dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jongin "Kau tahu, melukai diri sendiri hanya menyebabkan pembebasan yang bersifat sementara dan tidak mengatasi akar permasalahannya."
"Aku tidak punya cara lain"
"Aku akan membantumu. Kau perlu pengobatan Jongin, kau tidak boleh seperti ini terus. Aku juga akan membantu untuk mencarikan Hyung dan Ibumu" ucap Kyungsoo yakin.
Jongin belum memberikan tanggapan. Ia terus menatap Kyungsoo dengan padangan yang sulit diartikan. "Aku sudah tidak ingat lagi sejak kapan aku harus menahan diri... Aku sangat ingin memelukmu, Kyungsoo"
Kyungsoo tersenyum lembut kearahnya. Ia tahu Jongin sedang sangat membutuhkan seseorang. Gadis itu bangkit dari kursinya lalu berdiri di depan Jongin.
"kemari" ucapnya sambil merentangkan tangan bersiap untuk menerima pelukan Jongin. Lelaki itu tersenyum senang. Ia langsung bangkit dan memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat.
Mereka berpelukan selama beberapa menit dengan Kyungsoo yang menepuk-nepuk punggung Jongin pelan sekedar menenangkan lelaki itu. Kyungsoo benar-benar tidak menyangka sosok yang selama ini ia anggap sebagai manusia batu itu ternyata sangat lemah. Selama ini, Jongin memang pandai menyembunyikan semua kesakitannya dengan sempurna.
"Aku tidak bermaksud untuk minta dikasihani Kyung, sungguh. Aku melakukan ini hanya agar setidaknya ada yang memahami teriakan keputusasaanku ketika aku sudah benar-benar tidak sanggup nanti, agar rasa frustasiku dimengerti. Hanya itu" ucap Jongin yang kini sedang menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo dengan posisi tubuh masih memeluk gadis mungil itu.
"Aku tahu. Kau tidak sendirian Jongin. Sekarang kau bisa membagi apapun yang kau rasakan pada kami. Kau tidak sendiri"
"terima kasih" lirih Jongin sambil mengeratkan pelukannya.
...
Kyungsoo berjalan dengan lunglai di koridor rumah sakit. Jam sudah menunjukan pukul 11.20 ia baru selesai menemui dokter Irene untuk menjelaskan alasannya datang terlambat sekaligus memintakan ijin untuk Jongin yang tidak bisa bertugas hari ini karena masih butuh istirahat. Gadis itu membuka pintu ruang kerja pelan. Tatapannya tidak fokus, ia bahkan tidak peduli saat berpapasan dengan Kris dan Tao yang hendak keluar ruangan. Dia segera mendudukan diri di tempatnya. Disebelah kanan dan kirinya ada Sehun dan Baekhyun yang tadinya sedang menulis laporan kini beralih menatapnya penuh tanda tanya.
Baekhyun segera menyimpan bulpoinnya lalu mengangkat tangannya untuk mengelus punggung sempit sahabatnya itu. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada Kyungsoo. "Mau bercerita?" tanya Baekhyun lembut.
Sehun tersenyum melihatnya. Meski Baekhyun dan Kyungsoo itu hobi sekali berdebat tapi mereka berdua benar-benar saling peduli dan menyayangi bukan hanya mereka berdua tapi Sehun juga. Mereka tidak selamanya berdebat karena ada saat ketika mereka berusaha untuk menguatkan satu sama lain juga. Itulah yang membuat persahabatan mereka awet dan sangat berharga dimata ketiganya.
Kyungsoo menghela nafas berat lalu menyandarkan punggunya di sandaran kursi. "Jongin"
"Jongin? Ada apa dengan Jongin? Sehun bilang kalian sudah berdamai kemarin. Dan... ah dia juga tidak datang hari ini apa terjadi sesuatu lagi di antara kalian?" tanya Baekhyun penasaran.
Kyungsoo pun mulai menceritakan semua yang ia alami bersama Jongin mulai dari Jongin yang kembali kecelakaan setelah mengantar ia dan Hanbin sampai percakapan yang ia lakukan dengan Jongin tadi pagi di rumah lelaki itu. Baekhyun dan Sehun juga mendengarkannya dengan seksama.
"self injury?" tanya Sehun untuk meyakinkan. Dia takut salah dengar setelah Kyungsoo menjelaskan jika Jongin mengidap sebuah gangguan. Kyungsoo mengangguk lemah menanggapinya.
Sehun menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya disandaran kursi sama seperti posisi Kyungsoo "ahhh aku sudah menduganya sejak lama"
"sejak lama? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Kyungsoo langsung menegakkan badannya dan menatap Sehun tajam.
"memangnya kau akan percaya dan peduli jika aku memberi tahumu waktu itu?" Sehun berkata datar sedikit menyindir Kyungsoo yang kini mendelik kesal dan Baekhyun terkekeh pelan melihatnya.
"Hey Aku memang tahu apa itu self-injury tapi aku tidak sepaham kalian. Ya kalian tahu aku tidak begitu tertarik dengan ilmu kejiwaan. Jadi, bisa kalian jelaskan lebih detailnya padaku?" tanya Baekhyun pada dua sahabatnya yang memang sangat menyukai ilmu kejiwaan.
"Self-injury adalah gangguan mental yang dilakukan seseorang untuk mengatasi rasa sakit batin mereka dengan merusak fisik sendiri" jawab Sehun.
"astaga Oh Sehun aku tidak sebodoh itu. jika pengertiannya saja aku tahu. beritahu aku yang lainnya seperti.. apa benar self-injury itu hanya untuk mencari perhatian? Apa Jongin hanya sedang mencari perhatian saja?"
Kyungsoo langsung menatap Baekhyun tajam "ucapanmu itu seperti tidak menunjukan jika kau adalah seorang sarjana kedokteran"
"YAK! mata dan mulutmu itu biasa saja! Aku kan hanya bertanya, sensitif sekali" cibir Baekhyun.
"Kau perlu melihatnya sendiri, badannya benar-benar penuh luka dan ia telah melakukan hal ini sejak berpisah dengan Ibu dan Hyungnya. Jika dia hanya ingin cari perhatian dia pasti akan memamerkan luka-luka itu pada semua orang." omel Kyungsoo.
"ya biasa saja jawabnya. Lagi pula dari tadi aku bertanya pada Sehun bukan padamu. Kenapa kau selalu menjawabnya seolah-olah kaulah yang paling tahu segalanya"
"Aku mem-"
"Hal ini memang berlaku untuk beberapa orang Baek, terutama karena self-injury menjadi lebih populer" Sehun segera menyela ucapan Kyuungsoo agar perdebatan antara kedua sahabatnya segeraa berhenti. 'Mereka ini.. padahal baru saja terlihat akur sudah berdebat lagi' batin Sehun.
"Namun sebagian besar penderita secara aktif berusaha menyembunyikan luka-luka mereka dengan memakai baju lengan panjang atau apapun yang bisa menyembunyikan lukanya atau terkadang mereka juga akan memotong di tempat yang biasanya ditutupi oleh pakaian seperti paha atas mereka atau perut" Sehun melanjutkan penjelasannya.
"ahh benar juga, Jongin selalu memakai baju lengan panjang bahkan sekarang itu sedang musim panas" Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya. "kasihan sekali dia, dia bisa saja mati bunuh diri jika terus seperti ini"
"Kau benar, amkanya hal ini tidak boleh di biarkan" sahut Sehun atas pernyataan Baekhyun. Kini mata Sehun beralih pada Kyungsoo. "Apa kau memaksanya untuk menceritakan semua itu padamu?"
Kyungsoo balas menatapnya masih sambil cemberut karena tadi Sehun menyela ucapannya untuk membela diri dari Baekhyun" tidak"
"kalian tahu? beberapa dari mereka sangat ingin seseorang untuk mencari tahu tentang perilaku mereka sehingga mereka bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Tetapi bahkan banyak dari mereka yang terlalu takut dengan reaksi orang lain, dan merasa malu untuk menunjukan luka-luka mereka. Tapi... sepertinya Jongin sangat percaya padamu" Sehun tersenyum diakhir kalimatnya
"Eiy sepertinya Jongin menganggap Kau spesial untuknya Kyung" goda Baekhyun.
"omong kosong" elak Kyungsoo sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"kau bicara banyak dengannya sejak semalam bukan? Apa sekarang kau sudah sadar jika Jongin terlihat benar-benar tampan dari dekat?" Baekhyun semakin gencar menggoda Kyungsoo. Sehun terkadang setuju dengan pernyataan Kyungsoo dulu, ia takut Baekhyun mengidap Bipolar disorder, Mood nya benar-benar cepat berubah. Tadi ia begitu perhatian pada Kyungsoo, lalu mereka bertengkar dan sekarang ia malah gencar menggoda Kyungsoo. tapi selama Baekhyun tidak berbuat yang aneh-aneh ia selalu menepis pemikiran yang sedikit sok tahunya itu.
"Itu tidak penting Baek." Kyungsoo memutar bola mata malas "Sekarang aku hanya merasa sangat kasihan melihatnya sepertinya dia sangat menderita selama ini. Kita bisa membantunya kan, Hun?" Kyungsoo melirik Sehun dengan tatapan penuh harap.
Sehun mengangguk sambil tersenyum lebar "tentu, tapi kita belum bisa banyak membantu. Kita belum ahli, untuk masalah pengobatan bisa kita serahkan pada Ibumu. Yang bisa kita lakukan adalah terus menemaninya, jangan biarkan ia merasa sendiri dan melakukan hal-hal yang membahagiankan dirinya sendiri lagi"
"kau terlihat sangat mengkhawatirkannya Kyung" ucap Baekhyun.
"aku hanya merasa bersalah, aku sudah menambah bebannya selama ini. Jika aku tahu yang sebenarnya aku juga tidak akan tega memperlakukannya seperti itu" lirih Kyungsoo. "dan demi Tuhan, Byun Baekhyun jika kau melihatnya secara langsung, bagaimana luka-lukanya dan bagaimana ekspresi wajahnya saat menceritakan tentang masalahnya kau akan sama khawatirnya denganku"
"ya, karena aku memnag temannya. Tapi kau? Kalian baru berdamai selama satu hari dan itu terasa aneh saat kau tiba-tiba sangat peduli padanya. Kau tahu? Saat kau merasa simpati dan khawatir dengan seseorang, itu berarti dia sudah benar-benar ada dihatimu"
"teruslah bicara sesukamu" Kyungsoo kembali memutar bola matanya malas menanggapi Baekhyun yang terus menggodanya.
"Kyungsoo kau tahukan kenapa Jongin melakukan ini? Karena batinnya terluka. Bagi seseorang yang terluka batinnya semuanya akan menjadi kelam dan kelabu, tidak ada warna warni dalam hidupnya. Bahkan matahari terbit yang bersinar indah menjadi tidak berarti, semua tampak kelam dan kelabu" jelas Sehun dengan wajah serius.
Baekhyun tersenyum geli melihatnya. Ia paham, Sehun ternyata ingin ikut menggoda sahabat mereka itu karena Sehun memberi kode dengan matanya pada Baekhyun untuk meneruskan kalimatnya.
"Sehun benar. Kau memangnya tidak mau membuat hidup Jongin menjadi berwarna. Aku pikir kau bisa dan pasti mau melakukannya" ekspresi Baekhyun tidak kalah seriusnya dengan Sehun.
"Kalian sinting" dengus Kyungsoo sambil beranjak dari kursinya hendak pergi keluar ruangan meninggalkan Baekhyun dan Sehun yang sedang menertawakannya.
"Aku yakin tidak lama lagi Kyungsoo pasti akan menyukai Jongin. Cinta dan benci benar-benar sangat berbeda tipis, Kyungsoo bahkan bisa berubah secepat kilat" Baekhyun terkekeh lagi dan Sehun mengangguk mengiyakan "Oh si burung hantu itu... YAK! MULUTMU MEMANG BISA BERBOHONG TAPI MATA BESARMU ITU TIDAK" pekik Baekhyun. Ia yakin Kyungsoo pasti masih bisa mendengarnya dari luar. Untung saja ruang kerja mereka ada di ujung koridor sehingga tidak terlalu menimbulkan keributan.
Dan memang benar, Kyungsoo masih bisa mendengarnya dengan jelas "dasar bebek sialan tukang gosip. Ishhh bisa-bisanya Chanyeol bertahan dengan gadis bermulut besar seperti itu" gerutu Kyungsoo sambil terus berjalan menghentak-hentakan kakinya kesal di sepanjang koridor rumah sakit.
"Ugh kenapa juga dengan jantungku" gadis itu menepuk-nepuk dada kirinya seolah sedang menenangkan jantungnya yang masih berdetak kencang sejak Baekhyun terus menggodanya tentang Jongin.
"tidak-tidak. kau tidak boleh menuruti apa kata bebek sialan itu. jangan terbawa perasaan Kyungsoo, Ya Tuhaaan yang benar saja.." Kyungsoo terus bicara sambil menatap dan menunjuki dada kirinya degan telunjuk kanan seperti sedang berusaha mengomeli jantungnya sendiri. Sebenarnya yang sinting itu kau atau teman-temanmu nona Do? Ck.
"YAK AKU BILANG BERDETAKLAH DENGAN NORMAL" pekiknya gemas sendiri.
Krik krik krik..
"HUAAAAAAA" suara tangis seorang bayi pun menyadarkan Kyungsoo dari dunianya sendiri. Dia baru sadar jika ia kini berada di tengah lorong rumah sakit dan Kyungsoo yakin sekarang semua orang yang ada disekitarnya sedang menatapnya aneh. Kyungsoo juga sadar, bayi itu pasti menangis karena kaget oleh pekikannya. Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan, di depannya kini ada dokter Jongdae yang sedang menatapnya tajam.
Kyungsoo menelan ludahnya susah payah. "eh d-dokter"
"apa ada masalah dengan jantungmu, Kyungsoo-ssi?" dokter Jongdae berkata dengan datar dia seolah sedang menyindir kelakuan Kyungsoo.
"eh? Ah, aku- aku tidak terlalu yakin dokter, tapi aku akan memeriksakannya nanti. Aku permisi dulu" Kyungsoo membungkukkan badannya pada dokter Jongdae beberapa kali lalu segera pergi dengan alasan akan ke bangsal untuk memeriksa beberapa pasien dengan dokter Irene.
TBC
Hai~ apa kabar kalian? Hihi. Maaf kalau chap ini tidak sesuai harapan, mengecewakan dan kurang ngefeel. Maaf yaa.. aku sebenernya takut kalian malah jadi bingung sama chap ini T.T aku juga ga akan bikin janji-janji buat chap depan soalnya takut ga kesampean huhu, tapi yang penting kan KaiSoo udah akur yaa Kyungsoonya juga udah mulai baper tuh hihi. Terus masa lalu Jongin juga udah di ceritain, Kai di umpetin dulu karena banyak yang hujat dia di chap kemaren mungkin chap depan dia muncul lagi dengan kebiadabannya wkwk.
Untuk penyakit Jongin, ya self-injury itu awalannya dulu. Mungkin kedepannya bakal ketahuan penyakit dia yang lain. Hihi.
Oh ya satu lagi, gak terlalu penting sih sebenernya hehe aku mau minta do'a dari kalian, sabtu kemaren umur aku nambah, makin tua aja nih tapi se'engganya masih bisa manggil Sehun dengan sebutan Oppa hihi, umurku 1 tahun dibawah Sehun aku 95Line dan...
Selamat ulang tahun buat Lu-ge, Gege kesayangan-ku. Kita do'ain semoga dia sehat terus dan makin sukses ya, semoga dia bahagia juga. Bukan cuman buat Lu-ge tapi buat semua orang yang ada disekitar kita juga. Buat Sehun si ganteng kesayangan yang juga ulang tahun bulan april ini *telatbgt* wkwk.
Semoga semuanya happily ever after deh pokoknya :D
Aku mau ucapin makasih banyak buat :
Oneblacktomato, humaira9394, Baby Crong, MbemXiumin, Kim YeHyun, , artiosh, pastelblossom, Kaisoo32, zheazhiioott, ViraaHee, sehunpou, fitri22exo, kaisooship, yixingcom, auliawahyusantosa, noersa, Prince Changsa, NaYool, kimyori95, RiKyungie, InSoo-nim, krsmpppprt, LuXiaoLu, mrblackJ, parksoora9997, Song Haru, loovyjojong, MaudiRein, jdcchan, Lovesoo, reshaelli11, overdyosoo, dwimeisy, Rinids, rizkialila1, Luluhanbyun, Ryuuichi-kun, Kimsibling, delugheis, ShinJiWoo920202, Haiiro-Sora, yyaswda, overdokai, ParkByun, Gigi Onta, Kim Insoo, Guest, Guest, fishy, joonwu, vitavita, syifa, sarah, kaimes, cuTe, soo, deadyo, Lovechanbaek09, mamik, NopwillineKaiSoo, erikawidya568, Ms. Do12, yeonhikYu, Guest, kaixsoo, Fenny030502, kyungin, zirayulfani, sopiyuliawati15, anon, baconslight, Guest.
Makasih banyak ya kalian ({}) maaf kalau ada yang ga kesebut atau kesalahan penulisan nama hehe makasih banyak juga buat yang udah nge-follow dan nge-favorite ff ini semoga kalian suka dan gak bosen. Hehe
Jangan sungkan buat ngasih kritik dan saran. Aku tunggu banget karena aku butuh masukan juga biar ff-nya bisa lebih baik lagi hehe^^
Sampai jumpa di Chap depan^^
-ALKEY PCY-
