Tittle : Let me know

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : chaptered

Genre : Romance

Summary : Dan sepertinya, kehidupan Seokjin untuk kedepannya tidak akan sama lagi. Karena ia membawa tambahan satu nyawa bersamanya.

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Kepanikan terlihat jelas di wajah setiap member yang berdiri gelisah didepan ruang UGD yang tengah tertutup rapat, memberikan penanganan terhadap Seokjin yang pingsan dan mengalami pendarahan. Mereka tidak memikirkan apapun, bahkan membiarkan beberapa pasien dan keluarga pasien yang ada disana menyaksikan bagaimana penampilan mereka yang berantakan dengan pakaian training karena sehabis latihan. Ini sudah sore, dan mereka harus segera terbang ke Jepang untuk Wings tour besok.

Saat semua masih sibuk merapalkan do'a, berharap cemas pada keadaan Seokjin, manager mereka tergopoh-gopoh berlari menghampiri ruang UGD. Mereka membubarkan beberapa orang yang mengerubungi mereka dan meminta tidak menyebarkan gambar dan berita apapun mengenai keberadaan bangtan di rumah sakit.

"yak! Apa yang kalian pikirkan hingga dengan tenang berdiri tanpa penyamaran apapun disini?!" salah satu dari 3 manager yang ikut menyusul ke rumah sakit menggertak kesal. Ia sungguh kaget dan panik saat Hoseok menelponnya, mengatakan bahwa Seokjin pingsan dan membawanya ke rumah sakit. Juga keenam member lainnya yang ikut mengantar.

"sudahlah hyung, mereka pasti sangat panik saat Seokjin pingsan tadi. Ini, pakai dulu mantel kalian, setidaknya rapikan sedikit penampilan kalian." Manager lainnya membagikan mantel kesetiap member, dan dibalas dengan ucapan terima kasih, juga senyuman tipis.

"kita harus segera bersiap untuk ke Jepang malam ini. Kalian pulanglah, biarkan Hyung yang menjaga Seokjin disini." Sejin, salah satu manager yang sudah bersama mereka sejak awal mencoba memberi pengertian kepada member lain.

"tapi hyung – " Hoseok sudah akan protes, namun langsung diam saat manager hyung memelototinya.

"kalian tetap harus profesional, ingat, ada ribuan ARMY yang menunggu penampilan kaian besok."

Member lain langsung diam, mereka mengangguk paham. Tanpa mengucapkan apapun, mereka mengikuti dua manager lain yang sudah lebih dulu berlalu, meninggalkan Sejin untuk mengurus keperluan Seokjin.

"hyung." Namjoon memanggil Sejin, membiarkan dirinya tertingal dari member lain yang sudah berlalu.

Sejin mengalihkan perhatiannya dari pintu UGD, menatap Namjoon yang terlihat sangat berantakan, bahkan noda darah terlihat di bajunya yang tertutup mantel, "Ada apa, Namjoon ah?"

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam, "jika nanti Seokjin hyung sudah selesai ditangani, aku mohon hyung jangan melaporkan semuanya ke agensi. Ada beberapa hal yag belum pernah hyung dengar akan dijelaskan oleh dokter. Kumohon, hyung harus memberitahu padaku apa yang terjadi sebelum melaporkannya ke agensi. Aku mengetahui beberapa hal yang tidak hyung tahu."

Sejin mengerutkan keningnya, "maksudmu?"

"hyung akan tahu nanti. Aku mohon, hyung hanya harus memberitahu apa yang terjadi padaku. Dan tidak perlu melaporkan pada agensi. Bilang saja Seokjin hyung kelelahan hingga pingsan dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Bukankah Seokjin hyung memang akan melakukan konferensi pers mengenai keluarnya dia dari Bangtan? Biarkan Seokjin hyung sendiri yang menjelaskannya jika sudah sadar. Ya hyung?"

Sejin terlihat berpikir keras, dan Namjoon menangkupkan tangannya, memohon.

"kumohon hyung, kumohon kali iniiii saja. Sembunyikan keadaan Seokjin hyung dari agensi."

Sejin menghela nafasnya pasrah, "baiklah, terserah dirimu saja."

Namjoon tersenyum, memeluk sekilas Sejin, "terima kasih hyung." Lalu berlari menyusul member lain yang sudah lebih dulu menghilang. Ia berdoa, semoga Seokjin baik-baik saja, dan kkumi juga tidak mengalami masalah apapun.

.

.

.

Kim Seokjin atau yang biasa dikenal dengan Jin BTS diharuskan untuk dirawat di Rumah Sakit akibat kondisi kesehatannya yang menurun, sehingga keterangan dari BigHit membenarkan bahwa Jin tidak akan mengikuti Wings Tour Japan untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Tidak dijelaskan secara pasti apa yang menyebabkan Jin diharuskan dirawat di Rumah Sakit, juga tidak diketahui pasti apakah Jin tidak akan mengikuti seluruh rangkaian Wings Tour di Japan. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari BigHit. Dan untuk Jin BTS, semoga cepat pulih dan kembali beraktifitas dengan BTS.

Seokjin menghela nafas panjang. Ia menatap Sejin yang masih setia berdiri disisi ranjangnya, matanya menatapnya intens, menuntut penjelasan dari keadaan yang tengah mereka alami sekarang.

Sejin tengah berada di labirin yang sangat rumit dari masalah grup yang tengah ia temani selama ini. Ia merasa gagal menjadi manager karena tiba-tiba, ia mendapat kabar dari pimpinan agensi bahwa Seokjin akan keluar, karena alasan kesehatan. Ia belum mendapat penjelasan yang memuaskan dari Seokjin, ia sudah harus dihadapkan pada Seokjin yang kini berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, dengan perutnya yang sedikit 'menonjol'.

"jadi, berniat menjelaskannya padaku?"

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, ia menatap Sejin yang kini berpindah menjadi duduk di kursi, masih tetap disamping ranjangnya.

"hyung sudah tahu dari hasil pemeriksaanku, juga penjelasan dokter tadi." Jawab Seokjin singkat. Ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk menjelaskan panjang lebar pada Sejin. Tubuhnya lelah, begitu juga pikirannya.

Sejin mendekatkan kursinya, menggenggam tangan Seokjin yang tidak terpasang infus, "Jadi, benar bahwa kini kau tengah hamil, Seokjin ah?" dan pertanyaan itu dijawab dengan anggukan mantap dari Seokjin.

"lalu, alasan sesungguhnya kau memutuskan keluar dari BTS adalah kandunganmu? Bukan karena penyakit apalah itu yang kau sebutkan untuk agensi kan?"

Lagi, Seokjin mengangguk. Karena memang apa yang dikatakan oleh Sejin adalah fakta sesungguhyna. Sejin menghela nafas panjang.

"selain aku, siapa saja yang tahu? Namjoon? member lain? manager yang lainnya? Orang tuamu? Pdni – "

"Hanya member. Sekarang ditambah hyung." Jawab Seokjin cepat. "Orang tuamu?"

Seokjin menggeleng, "tidak tahu. Karena itu, aku tidak ingin agensi mengabarkan mengenai kesehatanku yang sesungguhnya kepada publik. Bahkan aku berbohong pada Pdnim, pada semuanya. Biarkan aku yang memutuskan untuk menceritakan masalah ini atau tidak."

"Siapa? Siapa ayah dari bayi yang ada di kandunganmu?"

Diam, lagi-lagi Seokjin diam. Pertanyaan ini adalah satu dari berbagai pertanyaan lain yang sangat tidak ingin ia dengar. Ia sangat membenci mendengar orang lain bertanya ini.

"menurut hyung siapa?" Seokjin justru balik bertanya. Kali ini Sejin yang diam. Ia menatap tak mengerti ke arah Seokjin yang tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

"tunggu! Apa dia tahu bahwa kau hamil? Anaknya?"

"Dia tahu aku hamil. Tapi mungkin dia tak tahu bahwa ini anaknya."

Mata Sejin melebar, "Jadi?! Jika yang tahu mengenai kehamilanmu hanya member, berarti ayah dari bayi dalam kandunganmu – jangan bilang – "

"ya, apa yang hyung pikirkan itu benar."

Sejin diam, begitu pula Seokjin. Keduanya hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun. Lalu Seokjin tersenyum, tangannya yang masih digenggam Sejin kini balas menggenggam tangan managernya itu.

"Hyung tenang saja. Setelah keluar dari BTS, aku tidak ingin menuntut apapun. Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban dari siapapun itu. Aku hanya ingin melahirkan dan membesarkan anakku seorang diri dengan tenang." Jelas Seokjin tenang, seakan ia sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari.

Tapi Sejin bukannya senang, ia jsutru menatap tajam Seokjin, "Siapa?! Katakan padaku siapa ayah dari bayi itu? Apa Hoseok? Namjoon? Yoongi? Taehyung? Ah, apa jangan-jangan Jimin? Atau justru Joungkook? Katakan siapa padaku Seokjin ah, ia harus bertanggung jawab. Setidaknya tahu bahwa ia akan memiliki anak!"

Seokjin dengan cepat menggeleng, "Tidak hyung. Sudah sampai disini yang perlu hyung tahu. Hanya, jangan pernah, sekalipun membiarkan orang lain tahu mengenai keadaanku. Juga siapa ayah dari bayi ini, jangan sekali-kali hyung mengatakannya pada member. Aku tak ingin mereka tahu. Biarkan kehamilanku aku simpan sendiri, fans, orang lain tidak perlu tahu. Cukup aku."

"tidak Seokjin. Kau pikir membesarkan seorang anak semudah itu? Kau tetap bu – "

Drrrtttt Drrrttt

Getar dari ponsel yang berada tepat disamping Seokjin menghentikan kalimat Sejin. Ia membiarkan Seokjin mengangkat telpon masuk itu setelah tahu dari ibunya.

"Ne, eomma?"

Dan Sejin kembali diam. Memerhatikan bagaimana Seokjin berusaha meyakinkan ibunya, memaksa agar tidak perlu menjenguknya kemari.

Sejin merasa bahwa kehidupan Seokjin benar-benar seperti drama, drama fiksi yang bahkan ia belum pernah menonton ataupun membacanya. Ini – seakan benar-benar tidak masuk akal, namun terjadi dan terpampang bukti nyatanya.

Tapi ia juga merasa, bahwa Seokjin memang calon ibu yang pantas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Joungkook atau Namjoon yang menjadi seorang ibu. Itu pasti –

"Hiii" bahkan Sejin merinding membayangkannya.

.

.

.

Namjoon berjalan keluar dari kamar hotelnya dan sedikit menjauh hinggal berada di lobby lantai satu. Ia duduk di kursi yang disediakan disana dan membuka ponselnya. Ia membaca keterangan yang diberikan bighit mengenai keadaan Seokjin. Ia juga sudah mendengar langsung dari Sejin, bahwa Seokjin diharuskan bedrest selama 2 minggu, mengingat kandungannya yang sedikit terguncang kemarin.

Ini sudah hampir seminggu terlewati, dan ini menjadi malam terakhir mereka di osaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Hiroshima untuk wings tour selanjutnya. Ia belum menghubungi Seokjin, entahlah dengan member yang lain. ia tak terlalu memperhatikan.

"eo, yoboseyo, hyung?" senyum Namjoon terlihat, bersamaan dengan panggilannya yang diangkat. Akhirnya ia menghubungi Seokjin setelah berdebat dengan dirinya sendiri.

"eh, Namjoon ah. Bagaimana kabarmu? Kau belum menghubungiku seminggu ini. Bagaimana yang lain? semuanya baik-baik saja kan disana?"

"Aku baik-baik saja, hyung. Member yang lain juga baik-baik saja. Kupikir mereka sudah menghubungi hyung lebih dulu."

"Memang. Mereka langsung menghubungiku begitu aku sadar, bahkan sebelum eomma. Tapi mereka belum menelpon lagi setelah konser."

Namjoon tresenyum, ia lebih menyamankan duduknya dan mulai berbincang lebih santai dengan Seokjin. Ia terus tersenyum, sepanjang waktu selama sambungan teleponnya masih bisa membiarkannya mendengar suara Seokjin.

Leader bangtan itu menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk mendengar suara Seokjin, menjawab berbagai pertanyaan dan membiakan hyung tertuanya itu bercerita panjang lebar. Mengenai apapun, bahkan menganai rencananya yang minggu depan akan kembali ke dorm. Ia akan terus beristirahat di dorm sampai bangtan kembali dari Jepang.

"Aku sangat ingin terbang kesana, Namjoon ah. Sungguh-sungguh! Tapi kata dokter kandunganku masih sangat rawan untuk naik pesawat. Sepertinya kkumi mengambek karena sejak awal sudah aku ajak berkeliling dunia. Hah~ jadi sekarang ia ingin beristirahat dengan tenang."

"tak apa, hyung. Hyung sitirahat saja dengan tenang. Kami akan kembali dengan cepat."

"Ya. Dan rencananya sedikit berubah. Aku akan mengadakan konferensi pers setelah kalian kembali ke korea."

Namjoon terdiam, senyum diwajahnya menghilang, "Apa hyung benar-benar akan berhenti dari bangtan?"

Kali ini ganti Seokjin yang diam, Namjoon hanya bisa mendengar suara nafas Seokjin dari line seberang.

"Hyung?"

"ya. Itu sudah keputusanku yang terakhir Namjoon ah. Kau tahukan, setelah kkumi lahir semuanya tidak akan sama lagi. Popularitas bangtan tengah diatas, aku tak ingin keberadaanku mengacaukan segalanya. Reporter, sasaeng, dan pencari berita tak akan meninggalkanku sendirian. Mereka akan terus mencari berita dan gosip mengenai absenku jika aku hanya cuti untuk melahirkan. Aku tak ingin kkumi menjadi kendala bagi bangtan. Biar aku saja yang keluar, jikapun kkumi sampai akhirnya tetap sampai ke publik, semua akan baik-baik saja karena aku bukan bagian dari member bangtan lagi. Aku – "

"hyung. Setidaknya – setidaknya biacarakan baik-baik dengan member lain. mereka pasti akan sangat shock saat mendengar keputusan hyung, bukan melalui hyung sendiri, tapi dari berita."

"Mereka pasti menentangku. Aku tak ingin menjadi goyah dan membatalkan keputusanku. Tidak mudah Namjoon, bahkan sangat sulit bagiku untuk memutuskan keluar. Bangtan, bangtan sudah seperti keluarga bagiku."

"ya. Aku tahu. Jika memang ini keputusan hyung, aku tak bisa berbuat apa-apa, kan?"

"kau memang yang terbaik, Namjoon ah. Baiklah, kurasa kau butuh istirahat. Selamat bertemu 3 minggu lagi~"

"ne. Hyung juga. Selamat malam."

Lalu sambungan terputus. Namjoon diam, ia menatap kosong pada pemandangan malam di balik kaca hotel. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bangtan tanpa Seokjin. Ia tak mau membayangkannya, dan ia tak mau itu menjadi kenyataan.

"Aku harus melakukan sesuatu."

.

.

.

Seluruh berita elektronik menuliskan mengenai kepulangan BTS setelah hampir 1 bulan menetap di Jepang untuk menyelesaikan Wings Tour Japan. Pemberitaan itu juga tak luput dari keadaan Seokjin yang mengharuskannya tidak mengikuti member lain tampil di jepang. Beberapa situs portal internet kembali membahas mengenai abesnnya member tertua di bangtan kali ini. Juga mengenai Bighit yang tidak memberi pemberitahuan yang jelas mengenai sebab absennya Seokjin. Hanya menjelaskan mengenai kesehatan Kim Seokjin yang memburuk.

"Loh hyung, dimana Seokjin hyung?" pertanyaan Taehyung itu membuat seluruh member dan juga manager hyung menoleh ke arah namja Daegu itu. Member lain langsung mengangguk, "iya juga, pantas aku tidak menemukan Seokjin hyung disini. Memang kemana hyung?" tambah Hoseok.

"ah, iya aku lupa memberi tahu kalian. Tadi kata Sejin hyung, Seokjin tengah dibawa ke rumah sakit. Entahlah, mengenai check up dan aku juga tak tahu. Sejin hyung terdengar sedikit panik saat menjelaskannya padaku tadi." Jelas salah satu manager disana.

Yoongi bergerak cepat, ia memakai kembali mantelnya dan mengambil masker, "kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita susul ke rumah sakit!" ucapnya sembari menarik lengan Namjoon.

"ya, ya, ya hyung! Kenapa menarikku?!" protes Namjoon. ia dengan susah payah membenarkan letak mantel yang sudah akan ia lepas. "tentu saja karena kau ledernya. Jika kau ikut, manager hyung tidak akan menolaknya. Ayo!"

Lalu keenam member itu kembali masuk kedalam van, dengan salah satu manager yang berada dibalik kemudi.

"memang kalian tahu dimana Seokjin melakukan check up?" tanya manager hyung saat ia mengeluarkan mobil dari basement apartemen.

Yoongi dengan cepat mengangguk, "tahu, tentu saja. Di rumah sakit yang sama dimana dia dirawat kemarin. Hyung masih ingat kan?"

Manager hyung hanya mengangguk, lalu van kembali hening.

"Ah, iya. Nanti saat sampai sana, jangan membuat keributan apapun. Tidak ada satu media dan fans yang tahu kalau Seokjin di rumah sakit. Jadi kalian jangan membuat keadaan semakin runyam. Oke?"

"siap, hyung!"

Namjoon terdiam. Ia memikirkannya sekarang. Selama berminggu-minggu ia jauh dari Seokjin, ia sudah memikirkannya matang-matang. Mengenai rencananya kedepan. Mengenai Seokjin, nasibnya di bangtan, dan tentu saja kandungannya. Meskipun ia dan Seokjin tak pernah putus kontak selama berpisah, namun ia tetap diam mengenai rencananya memberitahu member.

Dan sekarang adalah waktu yang tepat.

"Hey, bangtandeul." Namjoon memanggil pelan. Meski cukup keras untuk membuat semua penumpang didalam van menoleh kearahnya. Ia duduk didepan, disamping manager, sebagai keistimewaan menjadi leader.

Joungkook melepas earphone yang ia pakai, "kenapa hyung?"

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam, "aku akan memberitahu suatu hal mengenai Seokjin hyung dan rencananya untuk melakukan konferensi pers lusa."

"Oi, oi Namjoon. kau yakin tak apa menceritakan ini kepada member lain? bukankah Seokjin sudah melarangnya?" manager hyung memotong kalimat Namjoon.

"lalu hyung hanya akan membiarkannya dan diam? Membiarkan yang lain tidak tahu?" manager hyung hanya diam, tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan Namjoon.

"kalian tahu apa yang akan diungkapkan Seokjin hyung ke publik lusa?" tanya Namjoon, mengacuhkan bagaimana manager hyung akan merespon.

member lain mengangguk. "ya, mengenai Seokjin hyung yang akan vacuum sampai kkumi lahir dan cukup besar untuk ditinggalkan?" jawab Jimin. Namjoon dengan cepat menggeleng.

"kalian salah. Seokjin hyung tidak berencana vacuum untuk melahirkan kkumi."

"lalu? Seokjin hyung berencana memberitahu publik mengenai kehamilannya?" jawaban Joungkook membuat member lain terkejut.

"benarkah Namjoon ah?" tanya Hoseok.

Namjoon menggeleng, "tidak. Seokjin hyung tidak berencana memberitahu publik mengenai kehamilannya. Justru Seokjin hyung ingin menyimpan hal itu selamanya."

"tunggu!" lagi-lagi member menyelanya. Kali ini Yoongi, ia menatap ragu kearah Namjoon, "jangan bilang kau Seokjin hyung, tidak mungkin! Tidak mungkin kan Seokjin hyung berencana keluar – "

"Ya hyung! Kalau bicara jangan sembarangan!" Taehyung dengan cepat mengehentikan apapun yang akan dikatakan oleh Yoongi.

"tidak tae. Yoongi hyung tidak asal bicara. Karena memang Seokjin hyung berencana untuk berhenti dari dunia entertainer dan meninggalkan bangtan."

"Hyung!"

Serempak member lain menatap Namjoon tak percaya.

"lalu apa yang akan kita lakukan? Melihat Seokjin hyung melakukan konferensi pers mengenai keluarnya ia dari bangtan dan membiarkannya?! Sungguh?!" pekikan kesal Jimin membuat Namjoon memejamkan matanya. Ia juga bingung.

"kita tidak bisa memaksa Seokjin hyung. Pasti untuk mengambil keputusan ini juga tidak mudah baginya. Mungkin, kita bisa sedikit demi sedikit secara perlahan membujuk Seokjin hyung untuk membatalkan niatnya. Kita bisa meyakinkan Seokjin hyung bahwa kita menerima Seokjin hyung dan kandungannya tanpa syarat apapun. Seokjin hyung butuh dukungan dan pengertian kita." Penjelasan Yoongi membuat member lain diam. Mereka kembali berpikir, apa yang diucapkan Yoongi memang benar. Mungkin, selama ini Seokjin masih ragu kalau bangtan sudah menerima kandungannya. Ditambah hanya member dan Sejin yang tahu, agensi dan staff lain tidak ada satupun yang tahu. Bahkan orangtuanya.

"kalau begitu, kita bersikap biasa saja. Jangan memojokkan Seokjin hyung. Kita bicarakan perlahan, mencari waktu yang tepat untuk berbucara dari hati ke hati. Kita sudah lama juga tidak melakukannya semenjak saat itu."

saran Namjoon disetujui tanpa kata oleh member lain. dan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit diisi oleh keheningan.

.

.

.

Keenam member sampai di rumah sakit disambut dengan pemandangan Sejin yang tengah berdiri gelisah didepan ruangan tempat Seokjin berada. Namjoon yang menyadari ada yang salah setengah berlari menghampiri Sejin, menepuk pelan pundak manager mereka tersebut.

"Ada apa, hyung?" tanyanya cepat. Sejin menatap Namjoon dengan kerutan dalam di keningnya, "bagaimana ini Namjoon ah. Aku tak bisa berbuat apa-apa."

"memang ada apa hyung?" tanya Yoongi cepat. Sejin menatap pintu ruangan disampingnya, "kedua orang tua dan kakak Seokjin datang. Mereka didalam, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya, Seokjin belum memberitahu keluarganya tentang keadaannya yang sebenarnya. Dan sekarang, hah~ sepertinya ia tengah mendapat – "

Dan sebelum Sejin selesai menjelaskan, Namjoon sudah lebih dulu membuka pintu kamar Seokjin. Keenam member dan Sejin membelalakkan matanya, terkejut melihat bagaimana Seokjin yang terjatuh dilantai dengan appanya yang terlihat baru saja memukulnya. Hyung kandung Seokjin tengah memeluk sang eomma yang menangis histeris.

"Abeonim!" Namjoon memekik dan segera menghampiri Seokjin, membantunya berdiri dan kembali duduk di ranjangnya.

"kalian! Pasti kalian tahu bahwa dia tengah membawa anak sialan itu didalam tubuhnya kan?! Apa kalian bodoh?! Bagaimana mungkin kalian diam dan menerima keadaan Seokjin begitu saja, hah?!" teriakan ayah Seokjin disambut dengan tundukan pasrah oleh member bangtan. Mereka tidak berani membalas kalimat itu.

"aku tidak mau tahu. Aku mau anak itu menghilang dari tubuhmu segera. Kau membuat malu jika sampai melahirkan dan mengasuh anak tanpa status seperti itu. Kau seorang laki-laki Seokjin! Bagaimana mungkin kau dengan bangga mengatakan akan melahirkan?! Dan dipanggil eomma?!" ayah Seokjin kembali berteriak.

Seokjin sesenggukan, hidungnya sembab, matanya memerah. Dan dikedua pipinya terlihat bekas tamparan. Namjoon memeluk erat-erat pundak Seokjin, mencoba menenangkannya.

"aku seorang ayah, appa?! Anak ini akan memanggilku appa!" Seokjin balas berteriak, diantara isakannya yang belum berhenti.

"Appa?! Kau sebut dirimu appa?! Anak itu tidak memiliki appa! Kau bodoh, dasar anak tidak tahu diuntung! Appa sudah membesarkanmu, memberimu uang untuk menjadi artis sesuai keinginanmu. Dan ini balasan yang appa terima?! Kau mengandung tanpa tahu siapa ayah dari bayi yang kau kandung?! Aku tidak sudi menerima anak yang tidak jelas asal-usulnya seperti itu! Gugurkan segera!"

Namjoon berdiri, ia beranjak hingga berada didepan Seokjin dan berhadapan langsung dengan appa Seokjin, "abeonim, kita bisa membicarakan ini baik-baik."

"kau tahu apa, hah?! Aku tidak mau tahu, kau harus menggugurkan kandunganmu. Dan katakan padaku siapa ayah dari bayi itu? Aku harus memberinya pelajaran!" ayah Seokjin mendorong bahu Namjoon menjauh, membiarkannya kembali berhadapan dengan Seokjin yang menutup wajahnya erat dan menggeleng cepat.

"dia anakku appa! Hanya anakku?!" Seokjin berteriak.

Eomma Seokjin berjalan mendekat, masih dengan sang kakak yang membantunya berdiri, "Seokjin ah, sayang. Katakan pada appa, turuti saja kemauan appa. Siapa ayah dari bayimu, hm? Hiks, kau hanya perlu menggugurkannya, sayang. Belum terlambat untuk melakukannya." Ucapnya lembut, mencoba membujuk Seokjin.

Seokjin menggeleng, menatap sang eomma dengan mata sembabnya, "eomma, hiks. Bagaimana mungkin eomma membiarkan appa menggugurkan kandunganku? Dia sudah enam bulan eomma, dia sudah bernyawa. Eomma tega menggugurkannya?!"

Eomma Seokjin balas menggeleng, ia semakin mendekat dan menggenggam kedua tangan Seokjin, "turuti saja apa kata appamu, ya? Kau bisa menggugurkannya diluar negeri. Lalu kau bisa kembali lagi kesini, kembali menjadi member bangtan, ya? Tidak akan menyakitimu, kau akan baik-baik saja, sayang. Hanya turuti kata appa. Appa bisa menuntut orang yang telah membuatmu seperti ini. Katakan pada eomma, kau dipaksa? Kau mengalami kekerasan? Katakan bahwa kau dipaksa dan appa yang akan mengurusnya. Sayang, dengarkan kata eomma ya?"

Seokjin melepas genggaman sang eomma. Ia menjauh, hingga kini terduduk di sudut ranjang, menghindari siapapun dan memeluk erat-erat perutnya.

"aku tidak mau eomma! Aku tidak mau menggugurkannya. Dan – dan aku tidak dipaksa. Aku tidak mengalami kekerasan apapun."

"Kalau begitu katakan pada hyung, siapa yang melakukannya?! Hyung akan membuat perhitungan karena telah membuatmu seperti ini dan tidak mau bertanggung jawab." Sang hyung ikut menimpali.

Sang appa kembali maju, ia menarik kaki Seokjin hingga kembali berada disisi ranjang, dengan kedua bahu yang dicengkeram erat olehnya, "dengarkan appa! Lakukan sesuai perintah appa dan semua akan kembali seperti semula. Gugurkan kandunganmu dan katakan siapa ayah dari bayi itu. Lalu appa akan menyingkirkan orang itu hingga tidak akan menganggumu lagi. Kau bisa kembali menjalani kehidupanmu seperti sebelumnya Seokjin ah."

"Shireo!" Seokjin berteriak, mendorong dada sang ayah.

Appa Seokjin kembali tersulut, ia mengangkat tangannya, berniat kembali memukul Seokjin sebelum ada tangan yang menghentikannya.

"Namjoon?!" Seokjin memekik. Ia menggeleng, memberi isyarat Namjoon untuk tidak ikut campur. Appa Seokjin bukan seseorang yang bisa dibantah. Isyarat itu hanya ditanggapi dengna senyum tipis oleh Namjoon.

"abeonim, itu saya. Saya yang telah membuat Seokjin seperti ini, dan saya adalah ayah dari bayi yang dikandungnya." Kalimat itu dikatakan oleh Namjoon dengan lantang, hingga seluruh yang ada disana mendengarnya dengan jelas.

Bugh!

Hyung Seokjin memukul wajah Namjoon dengan cepat, menimbulkan pekikan samar dari yang lain. mereka belum selesai mencerna kalimat Namjoon, dan kini semakin terkejut dengan apa yang dilaukan oleh hyung Seokjin.

"hyung!" Seokjin berteriak. Segera beranjak turun dari ranjang dan berusaha menghampiri sang hyung yang kini tengah memukul Namjoon yang terlihat pasrah telentang di lantai. Perutnya diduduki oleh hyung Seokjin, dan tubuhnya dipukul membabi buta oleh hyung kandung Seokjin.

"hyung hentikan! Hyung!" Seokjin kembali berteriak, memberontak dari pelukan sang eomma yang menghentikan gerakannya yang akan menghampiri Namjoon. sedangkan sang appa hanya diam, terlihat puas dengan apa yang dilakukan oleh anak sulungnya tersebut.

Seokjin menggeleng cepat, "tidak eomma. Bukan Namjoon! bukan Namjoon?!"

"lalu siapa, hah?!" sang hyung berteriak. Ia masih duduk diatas tubuh Namjoon, memperlihatkan bagaimana wajah Namjoon yang babak belur, bahkan terlihat darah disana.

Seokjin hanya menggeleng, masih keukeuh untuk diam.

"uhuk uhuk!" Namjoon terbatuk, ia meludahkan darah yang memenuhi mulutnya. Ia mendorong tubuh kakak Seokjin hingga kini ia duduk. Ia menyeka darah disudut bibirnya kasar, menatap semua yang ada disana dengan nyalang.

"aku ayah dari bayi yang dikandung Seokjin. Aku berani bersumpah!"

"Namjoon!"

Dan pekikan Seokjin adalah hal terakhir yang bisa didengar Namjoon sebelum gelap.

Hyung kandung Seokjin kembali memukulnya hingga pingsan.

.

.

.

Kamar rawat Seokjin hening, tidak ada yang berbicara. Sang eomma masih setia duduk disampingnya, memeluk erat-erat bahunya yang masih naik turun tidak teratur, juga mengompres pipinya yang terlihat sedikit bengkak, efek tamparan sang appa. Masih tersisa isakan dari tangisnya beberapa menit yang lalu.

Sedangkan sang appa dan hyung terlihat duduk diam di sofa, begitu pula member lain yang kini duduk tak jauh dari sana. Keadaan menjadi seperti ini setelah Namjoon dibawa pergi oleh manager hyung dan dibaringkan di kamar lain.

"hyung." Yoongi yang pertama bersuara, membuat seluruh pandangan mengarah padanya.

Namja berkulit putih itu terlihat ragu, "benarkah Namjoon ayah dari kandungan hyung?"

Yang lain terdiam, dalam hati ikut menanti jawaban apa yang akan dikeluarkan Seokjin.

Seokjin menatapp Yoongi, dalam hati masih ragu harus menjawab apa. Semuanya baik-baik saja sebelumnya. Ia hanya tengah melakukan check up rutin dan menapat transfusi darah sebelum keluarganya datang. Belum selesai masalah dengan keluarganya, pengakuan Namjoon membuat semuanya menjadi lebih runyam.

"Seokjin ah. Benarkah?" sang eomma ikut bertanya.

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, "aku tidak pernah bercerita pada Namjoon mengenai ayah dari kandunganku. Aku tidak tahu darimana ia mengambil kesimpulan bahwa dia ayah dari kkumi."

"Tapi, benar dia ayah kkumi?" kali ini Taehyung yang bertanya.

Dan anggukan samar Seokjin sudah menjawab segalanya.

.

.

.

TBC

Next! Wkwkwkwk, aku suka nih udah ampe adegan ini ajaaa

Aku rencana mau buat satu chap full dari Namjoon viewnya, gimana dia sejak awal tragedi malam panas bareng seokjin. Jadi, biar nanti kalian gak ngehujat namjoon mulu'

Tapi kayaknya chap depan lanjut dulu ke konflik ini. Kan member lain belum ketemu ama namjoon, seokjin juga belum ngomong juga ama ayah dari kandungannya, wwkwkwk

Jadi, semangat menunggu~ hahahahahaha

Terima kasih atas dukungannya selama ini. Juga review yang sangat luar biasa! Saranghae~

PS. Aku ada ide buat next namjin ff, kan ini udah mau end.

PSS. Temanya coworkers AU! Kkk

PSS. Ditunggu ya~~~ Coming Soon. Draft nya udah ada, tinggal ngetik. kkkk