Sleep With the Devil (KookV version)

Original story by Santhy Agatha

Rated : M

Main cast :

Kim Taehyung as Lana

Jeon Jungkook as Mikail Reveno

Kim Namjoon as Norman

Park Bogum/Dokter Park as Dokter Teddy

Warning : YAOI, M-preg, typo(s).

...

a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.

...

BAB 9

Dokter Park mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan yang mengarah ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Taehyung yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Dokter Park penuh rasa ingin tahu.

"Kita akan kemana, Dokter?"

Dokter Park menoleh lalu tersenyum manis, "ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Jeon tidak akan bisa menjangkaumu."

Taehyung menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam semakin gelap dan Taehyung mulai merasa mengantuk. Akhirnya ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.

.

Jungkook menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Taehyung di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di depan kamar Taehyung berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Jungkook.

"Kenapa kalian bisa sebodoh itu, hah?" Suara Jungkook terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri.

Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka memang bersalah. Namjoon sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun yang akan masuk dan keluar dari kamar perawatan Taehyung. Tetapi karena Dokter Park tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau Dokter Park adalah Jackal yang ditakuti itu?

Jungkook masih menatap marah pada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Taehyung melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri. Demi Tuhan! Dia sekarang ada di tangan Jackal.

Namjoon datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Jungkook.

"Sepertinya dugaan Anda benar, Tuan. Profil Dokter Park sangat mirip dengan profil Jackal. Dia lulusan jenius dari jurusan kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas-desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia terdaftar sebagai dokter pelamar di rumah sakit ini sejak dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap latar belakangnya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya telah dihapus."

"Cari sampai dapat," Jungkook menggertakkan giginya, "apapun itu. Alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Taehyung, sebelum terlambat," Jungkook memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya.

Taehyung harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Taehyung berada di tangan Jackal yang sangat kejam. Jungkook akan menempuh segala cara untuk mendapatkan

Taehyung kembali, dan dalam keadaan hidup.

.

"Taehyung, kita sudah sampai," Dokter Park mengguncang bahu Taehyung lembut.

Taehyung membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.

Dokter Park turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Taehyung turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Dokter Park membuka kunci pintu rumah itu, Taehyung mengernyit dan bertanya.

"Ini rumahmu, Dokter?"

Dokter muda itu tersenyum lagi dan menggeleng, "bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang berada di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu... Kau bisa bersembunyi di sini untuk sementara, karena aku tahu Tuan Jeon pasti sedang sangat marah sekarang dan dia pasti akan menggunakan segala cara untuk menemukanmu."

Taehyung menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya digiring masuk ke dalam villa itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali.

"Ayo, kuantar kau ke kamarmu, kau bisa beristirahat disana, aku yakin kau pasti capek setelah perjalanan panjang." Dokter Park melangkah melalui anak tangga dan Taehyung mengikutinya.

Kamar untuk Taehyung adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri. Tanpa sadar Taehyung menguap dan Dokter Park terkekeh.

"Tidurlah,Taehyung. Semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar."

Taehyung menganggukkan kepalanya, "Terima kasih, Dokter, terima kasih atas segalanya, aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepadamu karena sudah menyelamatkan aku dari Jungkook."

Dokter Park melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang, "tidak apa-apa, Taehyung. Aku senang bisa membawamu ke sini," lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

.

Taehyung terbangun karena merasa sangat haus , iaterduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Matanya memandang ke sekeliling, dan mendapati keadaan gelap di luar sana. Mungkin inimasih dini hari, pikirnya.

Dengan langkah hati-hati Taehyung turun dari ranjang, dan keluardari kamar. Dimanakah dapurnya? Ia ingin minum...

Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih diujung sana, mungkin itu dapurnya... pikir Taehyung dalam lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawake sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.

Taehyung membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Ia sudahhendak membalikkan badan, ketika pandangan matanyaterpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.

Di sana, di salah satu sisi tembok ruangan itu penuh dengan foto-fotoyang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-fotoJungkook sedang melakukan aktivitasnya, beberapa diantaranya terdapat Jungkook yang sedang bersama Taehyung. Danmelihat ekspresi Jungkook di sana, tampaknya foto-foto itudiambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.

"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saatakan menjadi penyebab kematianmu."

Taehyung terlonjak kaget, mendengar suara yang mendesisitu, ia membalikkan badannya dan berhadapan dengansosok Dokter Park yang berdiri diam di balik bayang-bayang.

Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari,melainkan seringai jahat yang menakutkan.

.

"Kita sudah berhasil melacak mobilnya," Namjoon datang dengan terengah, mendatangi Jungkook yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang dalam ruangannya.

Jungkook langsung berdiri dan bergegas, ia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini terselip di balik kaos kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau ia harus membunuh demi Taehyung, akan ia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga ia tidak terlambat datang.

.

Mata Taehyung hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Taehyung diikat di sebuah kursi dan Taehyung sepenuhnya tidak bisa bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.

"Membunuh dengan pisau adalah favoritku," Dokter Park memainkan pisau itu di dekat Taehyung, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan, "karena itulah aku dipanggil

Jackal," lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Taehyung, "yah, kenalkan, akulah Jackal yang kalian cari-cari itu."

Taehyung mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi seorang psikopat menakutkan yang pernah diceritakan oleh Jungkook.

Dokter Park tertawa melihat usaha Taehyung yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi Taehyung ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Taehyung.

"Pisau ini sangat tajam," Dokter Park memain-mainkan pisau itu di pipi Taehyung, "aku ragu apakah Jungkook masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau wajahmu rusak," diletakkannya besi dingin itu di pipi Taehyung, membuat mata Taehyung terpejam ketakutan.

Tetapi kemudian kata-kata Dokter Park menyulut amarahnya, dia bukan pelacurnya Jungkook!

"Aku bukan pelacur Jungkook!" dengan Lantang Taehyung meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Dokter Park.

"Bukan pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas yang dia berikan dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Jungkook dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau."

Lalu Dokter Park tertawa mengerikan, "mari kita mulai ritual ini... Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah..."

Pisau itu berkelebatan dengan main-main di depan Taehyung, "lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Jungkook, pasti aku akan sangat puas... Sebelum aku menghabisi Jungkook dengan tanganku sendiri," dengan tawa mengerikannya yang terkekeh menakutkan. Dokter Park mengayunkan pisaunya, dan dalam sekejap, Taehyung merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.

.

Jungkook memasuki rumah itu dengan marah, Namjoon dan pengawalnya yang lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Jungkook mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi disana.

Dokter Park sudah melukai Taehyung dengan dua sayatan berdarah di lengan Taehyung, membuat Taehyung meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.

"Lepaskan dia, Jackal," suara Jungkook dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Taehyung, ia tidak ingin Taehyung terluka lebih dari ini.

Dokter Park membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Jungkook berdiri di ruangan itu.

"Ah... Sang pangeran penyelamat akhirnya datang," dengan tenang Dokter Park mengacungkan pisaunya ke arah Jungkook, "kau lihat, Jungkook. Pelacurmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkan mayatnya kepadamu. Tetapi rupanya kau datang terlalu cepat."

"Aku akan membunuhmu, kau tahu itu," geram Jungkook marah.

Tawa Dokter Park membahana ke seluruh ruangan. "Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah," dengan cepat Dokter Park bergerak ke sebelah Taehyung lalu menempelkan pisau tajam itu ke lehernya, "tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini dulu."

Taehyung terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.

"Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati mengenaskan di tanganku," kali ini Jungkook sudah tidak bisa menahan kemarahannya, "aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik menjelang kematianmu."

"Kau ketakutan, Jungkook. Kau takut aku menyakiti pelacur ini, bisa kulihat di matamu," Dokter Park menatap Jungkook dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di leher Taehyung, "satu sayatan saja, dan aku akan memotong nadinya, tepat di leher... Darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat... Tepat di depan kedua matamu... Dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu," lalu dengan gerakan secepat kilat, Dokter Park mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Taehyung.

Taehyung memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian ia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu ia membuka matanya, dan langsung terkesiap dengan pemandangan di depannya.

Jungkook sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Taehyung.

Sekali lagi, Jungkook menyelamatkan Taehyung dari kematian.

Dokter Park tampak terperangah dengan gerakan Jungkook yang tak disangkanya itu, ia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Jungkook, tetapi Jungkook menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh.

"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu..." Jungkook menerjang Dokter Park ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul. Tetapi Dokter Park, Jackal itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga ia kewalahan, Jungkook terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Taehyung menghentikannya.

Jungkook melihat Taehyung kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi. Perhatian Jungkook teralih, dan ia berdiri untuk meraih Taehyung, pada saat itulah, Dokter Park yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Jungkook tadi, ia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Jungkook dan... DOR!

Tubuh Dokter Park ambruk ke lantai karena tembakan itu. Jungkook menoleh ke belakang, melihat Dokter Park ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan ia lalu menoleh ke pintu, ke arah Namjoon yang memegang pistol di tangannya.

"Bereskan dia," Jungkook memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Taehyung, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, ia membuka ikatan Taehyung, dan lelaki itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.

.

Ketika kesadarannya kembali, Taehyung berada dalam ruangan putih, dan ia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya ia merasa begitu bersyukur berada di dalam ruangan ini.

Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di wajahnya, di tubuhnya, di lengannya...

Aduh!

Taehyung merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam Taehyung akibat pengalaman buruknya itu.

Taehyung terduduk, Jungkook telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena ia dianggap sebagai pelacur istimewanya? Karena ia melayani Jungkook dengan tubuhnya? Dengan pucat Taehyung memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.

Jungkook menyelamatkannya. Taehyung memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Jungkook, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Taehyung masih ingat darah yang mengalir dari tangan Jungkook, dan mau tidak mau Taehyung menyadari sudah beberapa kali ia diselamatkan oleh Jungkook.

Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Taehyung menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Jungkook yang jahat telah menghancurkan keluarganya. Yah, Jungkook memang jahat. Tetapi selain mengurung Taehyung, dia memperlakukan Taehyung dengan baik... Apakah dia memang menganggap Taehyung sebagai kekasihnya?

Pipi Taehyung memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Jungkook murni disebabkan karena dorongan gairah?

Seharusnya Taehyung merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa ia kehendakki. Ia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata untuk menghadapi lelaki itu... Kalau sampai Taehyung merasakan perasaan lebih kepada Jungkook... Taehyung menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang menggayutinya.

Dengan gemetar ia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang telah hancur, dan ia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekali lagi berhutang nyawa kepadanya.

"Jangan menangis."

Taehyung terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan ia menoleh dan mendapati Jungkook di sana, duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang dan mengamatinya.

Dengan kasar Taehyung menghapus air matanya dan menatap Jungkook dengan sorot marah, "semua ini gara-gara kau!" serunya menuduh, "kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!"

"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah," sela Jungkook tajam.

"Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak pernah mengerti dan melepaskan aku?" Kali ini Taehyung berteriak penuh frustrasi, "aku mohon, aku sudah muak berada di sini... Aku..."

"Tidakkah engkau merasa bahagia disini, Tae?" Jungkook mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Taehyung dengan jemarinya. Pada saat itulah Taehyung melihat, telapak tangan Jungkook juga di balut perban, "aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?"

"Aku bukan pelacur," desis Taehyung tajam. "Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!" Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan menantang.

Lelaki itu menatap Taehyung tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Taehyung lurus-lurus, "sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ditatapnya Taehyung dengan serius, "bagaimana kondisimu?"

Jungkook menunduk dan mengamati Taehyung. Taehyung terdiam, otomatis memalingkan wajahnya dari Jungkook.

"Taehyung," Jungkook memanggil Taehyung dengan penuh penekanan, membuat lelaki itu akhirnya mau menatap matanya.

"Aku baik-baik saja," jawab Taehyung ketus, "sekalipun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu."

Jungkook terkekeh, "hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh," Jungkook menyentuhkan jemarinya di pipi Taehyung, "maafkan aku."

Taehyung tertegun karena permintaan maaf Jungkook, ia menatap Jungkook dengan hati-hati.

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena membuatmu terlibat dalam situasi berbahaya ini," lelaki itu mengangkat bahu, "situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu."

Taehyung mendengus, "aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja."

Jungkook menatap Taehyung tajam, "tidak bisa. Situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku," Jungkook menatap Taehyung lurus-lurus, "kau adalah kelemahanku."

Pipi Taehyung memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Jungkook barusan. Tetapi karena cara Jungkook mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Jungkook mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu.

Dan Jungkook tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Ia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untuk mempengaruhi Taehyung.

"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku," Jungkook mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Taehyung langsung teringat peristiwa itu, ketika Jungkook dengan

cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar ia bergidik ngeri.

"Ya," gumam Jungkook, memperhatikan reaksi Taehyung, "kau seharusnya takut, Taehyung. Karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman di sini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik tetap berada di sini."

.

Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Taehyung sepenuhnya. Oh, ia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Ia masih trauma akan kejadian itu. Setidaknya di rumah ini ia aman. Namjoon masih mengawasinya diam-diam ketika ia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika ia berjalan-jalan di taman. Tetapi Taehyung belajar untuk mengabaikannya.

Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Taehyung berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu. Taehyung berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Ia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!

Dengan bersemangat Taehyung memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Jungkook rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati.

"Kau sepertinya suka membaca."

Suara Jungkook mengejutkan Taehyung, ia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Jungkook duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata hitam yang tajam.

Dengan angkuh Taehyung mendongakkan dagunya, "ya, aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli," Taehyung tanpa sadar mengernyit.

"Kau boleh membaca di sini," Jungkook menawarkan, tampak begitu berbaik hati.

Tetapi Taehyung merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Jungkook terasa begitu menggoda, Taehyung tidak berani.

"Aku tidak akan mengganggumu," Jungkook mengangkat alis melihat Taehyung nampak ragu-ragu. "Aku tidak akan mengganggumu, Tae," lelaki itu mengulang lagi katakatanya, "aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini."

Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan curiga, "tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?"

Jungkook menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Jungkook dalam hati, tetapi ia akan kehilangan kenikmatan menggoda Taehyung, ia ingin Taehyung terpaksa berada dalam ruangan ini, bersamanya, "tidak bisa, buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan bisa menjaganya dan malah merusaknya."

Kata-kata Jungkook terasa menyinggung Taehyung, jangan-jangan Jungkook bahkan menyangka Taehyung ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Jungkook untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara

mereka, dan memaksa Taehyung menunjukkan diri, apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Jungkook.

Taehyung sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan ia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.

Jungkook tersenyum. Taehyung jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Taehyung di ruangannya sangat menarik perhatiannya, ia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan memilih mengamati Taehyung yang sedang berakting membaca buku di tangannya dengan intens.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Taehyung akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Jungkook sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan dia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf di tubuh Taehyung mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.

"Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan pura-pura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita," gumam Jungkook dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam.

Pipi Taehyung memerah mendengar perkataan Jungkook barusan, dengan marah dibantingnya buku yang sedang dibacanya itu di sofa dan berdiri, "kurasa sebaiknya aku pergi."

"Merasa takut, Taehyung?" Jungkook bergumam dengan nada mencemooh, "kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku, ya? Aku tadi menawarimu disini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan... Ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa."

Oh Ya! Tatapan Jungkook kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Taehyung merasa sudah sewajarnya ingin menyelamatkan diri.

"Aku akan keluar dari sini."

"Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak, pilihanmu hanya satu. Berbaring di ranjangku."

"Itu hanya ada dalam mimpimu!" Taehyung setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Jungkook mengiringi kepergiannya.

.

"Taehyung," suara Jungkook mengagetkan Taehyung yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat ia dilempar Jungkook dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.

Taehyung menoleh dan mendapati Jungkook sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Taehyung tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.

"Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?" Jungkook mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun semakin deras, bahkan cipratan airnya mulai membasahi Taehyung yang memang sedang berdiri sambil menatap halaman di bawah.

Sejak Taehyung dibebaskan, inilah pertama kalinya ia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putihnya, Taehyung hanya bisa menikmati hujan dari jendela,

tanpa menyentuhnya. Sekarang ia bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya, terasa begitu luar biasa untuknya.

"Aku sedang menikmati hujan," Taehyung membalikkan tubuhnya membelakangi Jungkook, mencoba mengacuhkan lelaki itu.

"Kau akan membuat dirimu sakit," Jungkook mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah.

Taehyung menoleh lagi dan menatap Jungkook dengan menantang, "Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku."

"Oke," Tatapan Jungkook kepada Taehyung terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, "terserah, silahkan buat dirimu sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya."

Jungkook membalikkan badannya, tetapi setelah beberapa langkah ia memutar tubuhnya kembali dan menatap Taehyung, "setelah kau siap, aku ingin bicara denganmu."

"Tentang apa?" Taehyung mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Jungkook. Ia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu

muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.

"Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima."

*TBC*

Mind to review?

Author's note :

Maafkeun saya yang buat Park Bogum jadi karakter jahat disini, awalnya saya mau buat Jin yang jadi karater Jackal, tapi saya tidak tega. Sekali lagi maafkeun saya! #bungkukdalam

Terimakasih buat yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca, ngereview, ngefav, ngefollow ff ini, saya sangat berterimakasih, karena kalian ff ini masih berlanjut, jangan bosen baca sama ngereview lagi yaa!

Sampai jumpa di chapter berikutnya!