Genre: Drama/Romance?
Pairing: Taoris/Kristao/Fantao
Cast: Huang Zitao, Wu Yifan, Luhan, EXO members
Rate: T
Summary: Bukan salah Yifan jika dia dilahirkan dengan segala kelebihan yang dimilki. Dia tampan? Jelas iya. Dengan rambut pirang mencolok bagaikan tokoh utama manga yang keluar dari komik. Sayangnya, banyak orang merasa salah paham dengan ketampanan yang dimilikinya terutama karena Bitch face-nya. "Sungguh Hyung. Dia seperti cuter version dari wajah bitchy yang kau miliki itu – Park Chanyeol
Warning: OOC, Boyslove, alur membingungkan, typo(s) bertebaran, author sableng dll
Cuter version?
.
.
Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan
Dengan para cast dan warning-nya
.
Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun
Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author
.
Enjoy the story
.
.
.
Ini sudah hampir 30 menit Zitao melakukannya. Matanya yang tajam tapi berbinar polos layaknya anak kecil tetap bergulir kesana kemari mengikuti pergerakan obyek yang sadar atau tidak sadar telah mengunci manik kelamnya. Sosoknya yang tinggi menjulang namun ramping berisi semakin terlihat menarik setiap pasang mata yang sejak tadi melewatinya. Tidak lupa surai pirangnya yang terlihat lembut saat disentuh membuat siapa saja berkeinginan untuk mengusapnya barang satu atau dua elusan. Namun nyatanya sang bocah polos yang menjadi perhatian tidak sedikitpun bergeming dari posisinya sejak awal. Dia malah semakin merapatkan tubuhnya pada pintu hingga wajahnya nyaris menempel pada bidang kaca. Wajahnya yang cantik semakin terlihat menggemaskan saat mulutnya membentuk huruf 'O' kecil dengan mata semakin intens mengamati obyek di dalam sana. Seorang pemuda tinggi, pirang nan tampan yang menjadi tujuannya sejak bel istirahat berbunyi tadi. Zitao bahkan menolak ajakan Kyungsoo, Jongin dan Sehun ke kantin karena dia beralasan dan lebih memilih untuk datang ke lapangan basket indoor untuk melihat seseorang.
Zitao ingin bertemu dengan Kris lagi.
Sejak pertemuan terakhir mereka yang terjadi di rumah Zitao kemarin, entah bagaimana bisa pemuda polos itu ingin sekali melihat wajah sang Wu muda. Minimal Zitao ingin mengamatinya dari jarak aman seperti sekarang ini. Karena dia cukup sadar, jika Luhan-gegenya tahu semua hal ini pasti pemuda cantik itu akan mengintrogasinya habis-habisan. Masalah introgasi memang mudah, tapi aura mencekam yang dikeluarkan gegenya itulah yang membuat Zitao ketakutan. Dia hanya tidak ingin membuat sang gege marah dan mengabaikannya lagi.
Mata Zitao seketika melotot lucu saat sang obyek menyadari keberadannya di balik pintu. Dengan panik berlebihan, tubuhnya langsung mundur mendadak hingga naas kakinya tersandung satu sama lain hingga membuatnya jatuh terjungkal ke belakang. Dia bermaksud untuk merengek kesakitan ketika manik kembarnya melihat pintu di depannya terbuka dan menampilkan sosok rupawan Kris.
"Zitao?" panggilnya kecil dengan nada kurang yakin. Sebelum kaki jenjangnya berjalan mendekat lalu membantu sang pemuda polos untuk berdiri. Matanya yang tajam sedikit berkilat akan kekhawatiran melihat Zitao tengah meringis.
"Apa tidak apa-apa?" tanyanya lagi. Kris dengan cekatan memapah tubuh Zitao yang kini pemuda itu menatapnya dengan begitu memelas. Seperti seekor panda kecil yang minta untuk digendong induknya. Kris diam-diam memekik gemas dalam hati.
"Sakit gege~" adu Zitao lucu. Membuat Kris mati-matian untuk tidak lepas kendali dan menyeret Zitao ke ruang kesehatan. Untuk apa? Tentu saja untuk di obati. Memang apalagi? Tapi menilik bagian luar tubuh Zitao yang sepertinya tidak ada luka serius, hanya tersandung biasa, membawanya ke ruang kesehatan sepertinya tidak perlu.
"Dasar panda kecil ceroboh. Lain kali jangan seperti ini lagi, kau membuat gege cemas dan khawatir." dengus Kris pelan. Akhirnya mendudukkan pemuda mirip panda itu di bangku panjang terdekat. Dia sempat tersenyum samar tatkala matanya menangkap ekspresi sebal Zitao yang begitu lucu.
"Ada apa kemari?" imbuhnya langsung.
Zitao gelagapan. Matanya sempat melebar lucu sebelum pemuda itu mendadak salah tingkah dan menggigiti bibir bawahnya gugup. Tidak tahu jika Kris yang duduk di sampingnya juga ingin menggigit bibir mungil nan menggemaskan itu.
"Eung~ Tao ingin melihat gege." balasnya malu-malu panda. Pemuda itu sekilas melirik Kris dan kembali menggigit bibirnya pelan.
"Kenapa? Bukankah kemarin gege sempat membuatmu menangis dan ketakutan?"
Zitao sebenarnya bingung ingin menjawab apa. Memang benar dia sempat ketakutan akan perlakuan Kris kemarin. Tapi itu sudah berlalu dan dia sudah tidak mempermasalahkan hal itu sekarang. Lagipula dia tidaklah mungkin bisa menghindari pemuda pirang jika pikirannya sejak kemarin selalu dihantui bayangan yang sama, yaitu wajah rupawan Kris.
"Apa gege tidak mau menemui Tao lagi? Tapi kemarin gege bilang ingin menjadi kekasih Tao dan mau menunggu Tao. Apa sebenarnya gege hanya berbohong saja?" balasnya pelan dan nyaris ingin menangis. Tidak tahu kenapa tapi memikirkan Kris sekedar membohonginya membuat hatinya perih tanpa sadar. Terasa begitu familiar. Seolah pernah dia mengalami hal yang sama sebelumnya. Tapi tidakkah itu aneh? Dia baru mengenal Kris belakangan ini.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin gege bermaksud untuk menolakmu, Tao-er~ aku pikir kau menuruti Luhan untuk tidak terlalu dekat-dekat denganku." balas Kris dengan senyum kecut diluar, tapi diam-diam seringai licik terukir di dalam. Matanya semakin intens untuk mengamati Zitao seakan itu adalah hal yang sangat penting baginya. Karena bagaimanapun hanya sosok disampingnya inilah yang selama ini mengisi bilik-bilik kosong di hatinya.
"Anniyo~ Tao tidak seperti itu. Tapi jangan bilang-bilang Luhan-ge nee, gege~ Tao tidak mau Luhan-ge marah lagi." ungkapnya jujur, dengan bibir mengerucut lucu. Tidak sekalipun sadar jika pemuda di sampingnya lagi-lagi tengah tersenyum miring. Kris perlahan mengangkat sebelah tangannya dan mengusap poni Zitao lembut. Mengusapnya penuh perhatian dan rasa sayang.
"Arraseo Tao-er, apapun untukmu." bisiknya pelan.
.
.
.
"Ya Tuhan Lulu, kau masih belum bisa memaafkan Suho?" tanya Xiumin dengan nada tidak percaya, walaupun Luhan yang mendengarnya sedikit terselip juga nada jahil di dalamnya. Pemuda cantik itu sempat melempar senyum misterius sebelum kembali berkutat dengan buku di depannya. Sebelah tangannya memegang bolpoin merah dan sibuk menandai hal-hal yang penting di buku tersebut.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya? Akhir-akhir ini kekasih Yixing itu terlihat lesu dan meratap. Kau tidak mengancam atau sejenisnya-kan? Wajahnya yang tertekan itu membuatku ingin terjungkal sekaligus tertawa miris." imbuh Xiumin menggebu-menggebu. Lupa jika mereka masihlah berada di perpustakaan yang mengharuskan penghuninya untuk tenang dan tidak berisik. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk mereka berdua, malahan dua pemuda cantik itu asyik dengan dunianya sendiri dan mengabaikan beberapa penghuni yang terang-terangan menampilkan raut wajah kesal. Bahkan petugas perpustakaan yang berdehem keras sejak tadi tidak mereka hiraukan.
"Aku hanya meminta Yixing untuk mengurus Suho. Karena ketua OSIS kita yang pendek itu belakangan ini sering menghilang seperti hantu saat akan bertemu denganku." jawab Luhan kalem. Tapi ekspresi yang ditampilkannya begitu puas dan tanpa beban.
"Kau memang tiada matinya, lulu-sayang~ aku penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Yixing sampai Suho terlihat mengenaskan seperti itu." Xiumin tertawa kecil nyaris terpingkal-pingkal. Mengingat jika beberapa hari ini ketua OSIS mereka digosipkan berubah setengah gila karena tersebar kabar telah dicampakkan sepihak oleh Yixing. Tentu saja itu hanya gosip miring semata, mereka tidak putus (syukur-syukur masih belum -_-) karena hal yang paling mengejutkan adalah bukan putusnya hubungan mereka tapi menderitanya pihak Suho karena telah dianiaya kekasihnya sendiri. Sungguh, Xiumin ngakak parah.
"Well~ siapa yang tahu, salah sendiri bertindak sembrono dengan salah memberi tiket nonton segala." Luhan ikut-ikutan terkikik geli. Bersikap tidak peduli tatkala 2 orang siswa di depan mereka mengirim sinar leser ke arah mereka berdua.
"Tunggu! Aku baru mengingat sesuatu... Oh, Ya tuhan, aku lupa jika istirahat siang ini aku ada janji dengan Jongdae. maafkan aku lulu, Aku harus bertemu dengannya sekarang." Xiumin lagi-lagi tanpa peduli sekitar, langsung berteriak histeris dan secepat kilat memberesi buku-buku yang tercecer di mejanya. Mengabaikan Luhan yang kini menatapnya bingung sekaligus ingin tahu.
"Kau janji kencan, Umin?" tanyanya penasaran.
"Tidak! Ah maksudku, iya? Bukan kencan sebenarnya hanya... Bertemu saja. Tidak mungkin aku kencan dengannya di sekolah, lulu sayang~ ah sudahlah berbicara dengan jones memang membingungkan, aku duluan ya?" balasnya cepat. Xiumin sempat melempar kiss-bye norak sebelum benar-benar hilang di balik pintu perpustakaan. Tidak benar-benar peduli tatkala mendengar Luhan berteriak dan menyumpahinya seenak jidat. Bahkan dia sempat ngikik cantik dan berdoa tulus -_- jika semoga saja semua orang yang ada di perpustakaan sabar dan tabah menghadapi Luhan. Poor everyone
"Ya tuhan, ya tuhan... " Luhan tanpa pikir panjang langsung menunduk dan bersumbunyi di kolong meja tatkala mata rusanya menangkap sosok Sehun di depan pintu perpustakaan. Pemuda albino itu tampak celingukan seperti mencari seseorang. Jangan bilang jika dia ingin menemui Luhan?
Oh Shit!
Luhan belum siap, Tuhan... Dia belum mau bertemu Sehun setelah insiden pelukan kemarin. Dia malu bertatap muka dengan pemuda minim ekspresi itu setelah kemarin dia sempat menangis tersedu-sedu di pelukannya. Luhan langsung meringis mengingat betapa bodohnya dia yang dengan mudahnya memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan Sehun begitu saja. Dia merutuk dalam hati, kenapa harus dengan pemuda itu dia membagi beban yang ia pikul selama ini?
Luhan malu! Aaarrrrggghhhhhh-
"Luhan-ssi, apa yang sedang kau lakukan?" dia mendongak dan seketika salah tingkah. Dihadapannya berdiri seorang wanita yang dikenalnya sebagai petugas perpustakaan di sekolahnya. Yeoja berkacamata itu memandang Luhan sinis dan tidak suka. Bagaimana mungkin dia bersikap baik dengan pemuda itu jika sejak awal masuk perpustakaan tadi sudah membuat kehebohan dengan teman bakpaonya? Dia tidak peduli meskipun pemuda itu popular dan dipuja warga sekolah.
"Ma-maafkan saya... " dengan menanggung rasa malu akibat menjadi pusat perhatian, Luhan muncul dari kolong meja dan duduk kembali di bangkunya dengan gaya elegan. Wajahnya sudah begitu cuek dan bertingkah seolah semuanya hal yang sepele meskipun di dalam hatinya dia sudah ingin terjun bebas ke laut dan dimakan hiu. Sejenak, matanya melirik ke arah pintu dan tidak mendapati sosok Sehun di sana. Dia sudah akan bersujud sembari mengucap syukur tatkala sebuah suara datar mengintrupsi pemikiran absurdnya.
"Luhan-hyung, kau menghindariku?"
Mati kutu. Wajah Luhan mendadak pucat seperti tidak makan berminggu-minggu mendengar suara yang familir itu. Kepalanya menoleh takut-takut dan melihat seorang Oh Sehun berdiri tegak tidak jauh di belakangnya. Mampus.
.
.
.
Suho tidak tahu ada yang namanya keberuntungan di dunia sampai dia memiliki Zhang Yixing sebagai kekasihnya. Pemuda itu walau di luar tampak dewasa, berwibawa dan sangat bertanggung jawab terhadap bawahannya tapi tidak ada yang tahu jika di dalamnya dia begitu mellow dan sensitif sangat. Apalagi jika kekasih manisnya sudah menyinggung-nyinggung soal masa lalu yang seringkali membuat Suho sakit hati sekaligus galau. Sebenarnya bukan menyinggung, Yixing hanya tanpa sadar menyuarakan sesuatu hal yang berkaitan dengan kisah masa lalu mereka, atau sejujurnya masa lalu tidak langsung antara Yixing dengan orang lain.
Sialan!
Kurang apa Suho sampai Yixing hampir selalu gagal dalam hal move on? Dia kaya raya, jelas sekali. Pintar dan pandai berorganisasi, tidak lagi diragukan. Lantas apa yang membuat Yixing susah berpaling dari masa lalunya?
Atau jangan-jangan Suho kurang tinggi? Damn it!
Dan apa yang lebih mengenaskan daripada itu? Saking cinta matinya dengan Yixing, ia akan rela begitu saja diapa-apakan oleh pemuda berdimple manis itu. Walaupun itu hal nista, aneh dan konyol sekalipun.
"Lihat? Zitao lucu sekali, hyung~ dia melompat-lompat seperti anak kecil." ujarnya antusias. Pemuda itu mengintip dari balik jendela mobil menggunakan kaca mata hitam yang terlihat... Kontras sekali. Suho bingung sebenarnya, kenapa harus memakai kacamata hitam segala? Dan gilanya, dia ikut memakainya juga.
"Sudahlah sayang~ berhentilah berputar akan masa lalu dan lanjutkan hidupmu. Apa kau tidak lelah seperti ini terus?"
Plakk!
"YYA! Kenapa menampar pipiku?" raung Suho sambil memegangi sebelah pipinya yang kini memerah. Tapi tubuhnya mendadak bekeringat dingin tatkala mendapati sang kekasih meliriknya begitu sadis dan seakan siap untuk menerkamnya hidup-hidup. Yixing setelahnya mendengus dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Menjadi stalker dadakan.
"Ada apa sih sampai-sampai kau berubah menjadi penguntit seperti ini? Dan apa-apaan itu, kau melakukan semua ini untuk Kris dan Zitao?!" protes Suho setelah beberapa saat. Tapi sepertinya tidak sedikitpun direspon oleh sang kekasih yang saat ini lebih memilih menjerit kecil dan berteriak kegirangan. Entah apa yang dilihatnya, Suho tidak begitu peduli.
Seharusnya mereka kencan setelah pulang sekolah tadi, tapi kenapa berubah haluan menjadi movie ala-ala james bond begini? Menjadi seorang agent rahasia bukanlah gaya Suho. Apalagi hanya menjadi stalker ababil seperti ini, mau ditaruh dimana harga dirinya?
"Xing, baby~"
"SSSTTTTT! Diam, hyung..."
"Tapi sayang, ki-"
"Huusshhh! Aku sedang sibuk, jangan menggangguku!"
Apanya yang sibuk jika Yixing sejak tadi hanya mengintip ke arah gerbang sekolah dari dalam mobil? Lebih tepatnya, pemuda manis itu sedari awal tengah mengamati Zitao yang kini berada di samping gerbang bagian luar seperti sedang menunggu seseorang. Sepertinya memang menunggu Kris. Tolong, jangan tanya darimana Yixing tahu semua hal itu karena jika bukan berkat Baekhyun, dia tidak tahu jika sebenarnya mereka berdua (KrisTao) memutuskan menjalin hubungan gelap dibelakang Luhan.
Jangan berprasangka negatif dulu akan kata 'gelap' di atas, mereka hanya saling bertemu dan mengakrabkan diri tanpa sepengetahuan Luhan tentunya. Dan juga tanpa tambahan aneh-aneh atau anu-anu entah apalah itu. Yang pasti, berkat informasi sakral itu, Yixing berubah semangat dan memutuskan untuk mendukung mereka berdua. Lupakan akan masa lalu lebay yang sempat dibahas Suho sebelumnya. Dia sedikit demi sedikit akan belajar merelakan karena sedari awal dia sudah sadar jika sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memiliki 'orang itu'. Dia sudah punya Zitao dan Yixing sudah memilih Suho untuk berada di sampingnya.
"Kau sepertinya sudah mulai terobsesi dengan Zitao. Atau kau memang sebenarnya tidak bisa untuk melupakan Kris?" cibir Suho dalam keheningan mereka. Pemuda itu diam-diam menghela nafas dan melirik Yixing.
"Hyung, jangan memulai pertengkaran sia-sia dengan alasan yang sama lagi. Aku akan benar-benar marah jika kau selalu memojokkanku seperti ini." jawab Yixing dengan fokus mata masih tetap mengawasi Zitao dari kejauhan. Pemuda berdimple manis itu seketika berwajah cerah tatkala manik kembarnya melihat sebuah mobil sport merah berhenti di samping Zitao. Mobil yang sudah dia kenal sebagai mobil Kris.
"Hyung! Ikuti mereka berdua!" imbuhnya nyaris berteriak heboh, membuat Suho hampir tuli mendadak. Pemuda tampan itu Menjalankan mobil ogah-ogahan dan terpaksa mengikuti mobil sport merah itu dari belakang. Apa sebenarnya yang ada di otak polos kekasihnya itu?
"Xing, aku baru mengingat sesuatu. Darimana kau tahu jika mereka hari ini akan berkencan?" tanya Suho penasaran.
"Ucapkan terima kasih pada Park Chanyeol yang telah menjadi informan berharga untuk kita~"
"Kita?"
"Yup. Aku, Baekhyun dan Kyungsoo tentu saja. Sepertinya bukan hanya aku yang penasaran dengan masa lalu mereka berdua."
Suho bingung. Masa lalu mana yang sedang dibahas oleh Yixing? Duhh, Suho memberi respon seolah mereka semua memiliki banyak rahasia di masa lalu yang masih tersembunyi.
"Maksudmu Kris dan Zitao?"
"Jangan merusak suasana, hyung. Memang siapa lagi kalau bukan mereka? Tidak mungkin masa laluku dengan Kris-kan? Kau sudah tahu semuanya jika hal itu."
Suho facepalm, mati kutu atau nama lainnya, diam membisu. Diam-diam mengutuk Kris dengan berbagai mantra ampuh yang pernah dipelajarinya. Tuhan, haruskah dia berurusan dengan hubungan cinta konyol bersegi empat atau segi enam abstrak(?) ini seumur hidupnya?
Tolong Suho, Tuhan... Dia tidak kuat, dia ingin pulang dan tidur saja.
.
.
.
"Jadi, apa gege-mu percaya?" tanya Kris sambil fokus menyetir selagi matanya menatap sekilas pemuda panda polos di sampingnya. Zitao dengan senyum menggemaskan miliknya, mengangguk lucu berulang kali.
"Tao sudah bilang akan pulang bersama Kyungsoo-hyung. Awalnya Luhan-ge sempat curiga tapi setelah itu gege percaya dan masuk ke dalam kelas." jawabnya jujur. Tipikal anak baik dan polos. Kris diam-diam mengulum senyum tipis sebelum kembali fokus menatap jalanan. Namun manik kembarnya sesekali melirik Zitao yang saat ini tengah membuka kaca jendela mobil hingga menerbangkan helai demi helai anak rambutnya. Di mata Kris, sosok Zitao sekarang begitu indah dan mempesona. Seperti malaikat.
"Kau sudah membicarakannya dengan Kyungsoo?" tanyanya lagi. Berusaha untuk membagi konsentrasi antara setir mobil dan Zitao. Walau keseluruhan otaknya lebih banyak untuk memikirkan sosok sempurna Zitao daripada jalanan cukup lenggang yang saat ini mereka lewati. Tadi sebelum berangkat, Zitao sempat merengek ingin ke pantai daripada tempat wisata lain, jadi jangan heran jika jalan yang mereka tempuh cukup sepi kendaraan.
"Nee gege~ Soo-hyung bilang tidak masalah dan berpesan pada Tao untuk hati-hati di jalan. Bahkan Kai membekali Tao ini." pemuda polos itu berceloteh riang hingga mengukir senyum langka milik Kris. Tapi senyum itu seketika pudar digantikan raut wajah syok saat tahu benda apa yang dipegang Zitao.
Kondom?
Tunggu, Tunggu sebentar!
KONDOM?
Tanpa pikir panjang sebelah tangan Kris langsung menyambar benda laknat itu. Meremasnya lalu membuangnya ke jendela mobil. Bingung harus menjawab apa saat Zitao memandanginya terkejut dengan ekspresi menahan tangis yang tercetak jelas.
"Kenapa gege membuang permen Tao?"
F*cking SHIT! Ingatkan Kris untuk menebas leher Kai ketika pulang nanti. Bagaimana mungkin Kai tega memberi Tao benda laknat seperti itu? Rasanya Kris ingin memutar balik kemudi, memburu Kai dan memutilasi tubuh pemuda hitam itu untuk disumbangkan ke Hiu laut.
"A-ah, permennya sudah kadaluarsa, Tao-er... Nanti kau sakit perut." elaknya setelah beberapa lama memutar otak. Jujur menghadapi bocah polos macam Zitao lebih sulit daripada harus berkelahi menghadapi 20 orang preman. Namun serumit apapun puzzle berjalan (Zitao) yang mesti dihadapinya seorang diri tanpa bantuan siapapun, Kris bahkan tanpa memikirkan resiko apapun, akan senang hati menyelesaikannya hingga tuntas.
"Eung~ benarkah? Hihihi terima kasih gege. Luhan-gege juga sering melakukannya untuk Tao. Katanya, Tao jangan terlalu banyak makan permen, nanti gigi Tao bisa berlubang."
Kris tidak tahu harus berterima kasih pada Luhan atau tidak. Mengingat pemuda cantik itu saat ini terjebak kelas tambahan di sekolah sedangkan dirinya tidak tahu jika sang adik kesayangan tengah diculik oleh Kris untuk dibawa ke pantai. Well~ tidak adil memang. Tapi jika tidak menggunakan cara licik seperti ini, Kris tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan Zitao lagi.
Kuberitahu kau, Hidup itu butuh perjuangan, bung. Sekalipun itu tindakan curang dan merugikan pihak orang lain. Toh apa peduli Kris, selagi Zitao ada disampingnya, dia akan baik-baik saja.
"HOREEEE... PANTAI~~"
itu adalah teriakan childish yang Zitao lontarkan ketika mobil yang mereka berdua kendarai telah hampir sampai di tempat tujuan, dimana sejauh mata memandang, menampilkan pemandangan laut biru yang indah dan ujung cakrawala yang begitu mengagumkan.
.
.
.
.
.
.
TBC
Note : sy lanjutin pelan-pelan nih ff tinggalan kadaluarsa(?) milik author. Sebenarnya sy sudah hampir lupa sama konsep cerita ini bagaimana, tapi berhubung sy lagi good mood dan sedikit mau berfikir ulang, akhirnya sy selesaikan juga chap. Lanjutannya. XDDD
Sy tidak mau banyak curhat di sini, ntar dikira sy author yang suka ngeluh dan banyak tingkah, hahahahaha walau aslinya begitu #dilemparbom
At last~ author cuma mau ngucapin terima kasih buat partisipasi fic yg sebelumnya, sungguh ane gedeg ama tingkah kalian, dikasih sequel masih aja minta sequel lagi... Lha opo kurang cukup toh nduk? #ngomongapaini -_-
See u next time ya? :) :)
Review?
::: Semarang, 09:43 P.M :::
