BETWEEN YOU AND US

CHAPTER 9

DISCLAIMER: STILL BELONG FUJIMAKI TADATOSHI

ENJOY READING!

.

.

.

Langit malam kota Kyoto dipenuhi dengan pijar bintang-bintang. Semilir angin yang tidak menusuk kulit, bulan dan bintang yang menghiasi langit hitam nan kelam adalah langit favorit Hana. Biasanya, Reo dan Hana akan duduk berdampingan, menikmati segelas coklat hangat sambil menatap langit penuh bintang. Namun kali ini Hana duduk sendirian. Sendirian menatap langit. Sendirian diselimuti kekhawatiran dan keresahan. Hana menatap sebuah map coklat yang ada disebelahnya. Dengan perlahan, ia membuka map dan kembali membaca isi dokumen didalam map tersebut.

FLASHBACK

Hana hanya duduk termenung saat mobil sedan hitam yang ditumpanginya melesat menembus jalan raya. Rasa penasaran dan resah terus menyelimutinya.

"Kau ingin membawaku kemana?"tanya Hana pada sang supir dengan bahasa inggris

"Nanti nona akan tahu. Ny. Watson memerintahkan saya untuk menjemput anda untuk menemui beliau." Jawab sang supir sambil melirik kaca spion tengah.

Hana hanya diam setelah mendengar jawaban dari pertanyaannya. Pasti masalah penerus perusahaannya, batin Hana. Taklama setelah itu, mobil yang ditumpangi Hana berhenti disebuah restoran berkelas yang tentu saja sangat mewah dan hanya orang-orang yang berdompet tebal bisa makan disana. Setelah melewati pintu restoran, seorang pelayan wanita mengantarkan Hana kesalahsatu ruang restoran kelas VVIP. Pintu dibuka, dan terlihat Ny. Watson, ibu Hana, sedang duduk menatap Hana dengan senyumnya yang menawan

"Tidak usah repot tersenyum seperti itu. Aku bukan teman bisnismu. Jadi tidak usah memberika senyum formal itu padaku." Aku langsung mengambil duduk didepannya. "So, just to the topic. I'm rufuse. Tidak peduli seberapa kerasnya kau mencoba untuk membujukku, aku tidak akan meninggalkan negara ini sejengkalpun." Ujarku lantang.

Natalie hanya tersenyum simpul. "Tidak usah terburu-buru, sayang. Makanlah dulu. Aku sudah memesan makanan-makanan ini untukmu."

Setelah memberikan sebuah tanda dengan tangan, para pelayan segera bergerak dan menggiring sebuah troli yang diletakkan sebuah nampan aluminium diatasnya. Sebuah hidangan diletakkan tepat didepan Hana dan begitu tutup aluminium dibuka, sepiring ratatoile terlihat dengan aroma yang menggiurkan. Hidangan yang disajikan didepan Natalie tak kalah menggiurkan. Sepiring steak yang dilumuri saus dan lelehan mentega diatasnya. Hanya dentingan pisau dan garpu yang menyelimuti mereka. Walau Hana sangat tidak tega memakan ratatoile didepannya dengan cepat, ia tidak punya pilihan lain karena ingin segera menuntaskan urusan dengan ibunya dan kembali kekehidupannya yang normal, damai, dan tentram.

Setelah piringnya telah bersih dari makanan, Hana minum dan segera mengelap mulut. Tak berselang lama setelah itu Natalie juga telah menandaskan makanannya. Saat Hana akan membuka mulutnya untuk berbicara, Natalie mengacungkan tangannya memberikan isyarat agar Hana tidak berbicara.

"Aku tahu kau tetap memberikan jawaban yang sama." Natalie memberikan sebuah map coklat kepada Hana. "Tapi setelah kau melihat isi map ini, apa kau masih akan memberikan jawaban 'tidak' padaku? Aku rasa tidak."

Hana mengambil map coklat itu dengan ragu. Dengan ragu, ia membuka dan mengeluarkan isi dari map tersebut. Hana terdiam. Tangan bergetar menggenggam lembaran foto yang ada didalam map itu. Natalie terus mengamati ekspresi Hana.

"Why do you doing this for me?"tanya Hana dengan suara yang bergetar.

"Karena aku ingin memberitahukanmu bahwa tidak semua keputusan yang kau anggap benar itu akan membahagiakan banyak orang. Termasuk dia. Your twins. Your brother." Natalie melihat lembaran foto itu dan menunjuk sebuah foto bergambar Reo dan seorang pria paruh baya yang sedang memarahinya "Ini saat Reo ditegur salahsatu dosen karena banyak tugas yang belum diserahkannya. Padahal sebentar lagi dia harus menyusun skripsi." Natalie menunjuk sebuah foto Reo yang terlihat seperti sedang memohon kepada dua orang pria berbadan kekar dan wajah mengerikan. "Itu foto saat Reo ditagih oleh para debt collector." Hana melotot menatap Natalie. "Oh? Kau tidak tahu ya? Bisnis Reo saat ini sedang surut hingga meminjam uang kepada debt collector hanya untuk kebutuhanmu saja."

Hana hanya terpaku menatap selembaran foto itu.

"Reo terus-menerus bekerja untukmu tanpa memperdulikan pendidikan dan kondisi fisiknya sendiri. Sungguh ironi."

"Jadi tujuanmu memberikanku foto-foto ini.."

"Itu terserah padamu. Aku tidak memaksamu. Tidak masalah kalau kau masih tetap di Jepang. Tapi kau harus menikah dengan Akashi Seijurou." Hana terkejut. "Tentu saja itu agar mungurangi sedikit beban untuk Reo. Tidakkah kau berfikir begitu?" Natalie menyodorkan satu map coklat lagi. "Kuberi waktu sampai akhir minggu ini. Kuharap kali ini kau memikirkannya lebih matang." Natalie bangkit dari kursinya dan mengecup puncak kepala Hana yang mematung. "See you next week."

Natalie meninggalkan Hana yang terpaku.

FLASHBACK END

Hana menatap selembaran didalam map yang diberikan ibunya tempo hari lalu. Beberapa brosur dan entah kertas apalagi. Ditangan Hana merupakan brosur beberapa universitas ternama dan terkenal US yang sangat Hana impikan selama ini. Keraguan mulai mengikat tubuh Hana hingga ia sulit bernafas. Menikah atau berpisah. Dua pilihan sulit. Dua pilihan yang sama sekali tidak ingin Hana pilih. Tapi bagaimanapun, mau tidak mau, suka tidak suka, Hana harus memilih diantaranya. Hana kemudian meraih boneka pinguin yang sedaritadi tergeletak disebelahnya. Hana memeluk boneka itu erat hingga tangannya memutih. Hana sangat ingin bertemu pria itu. Bisa saja Hana tetap di Jepang dan mencarinya. Tapi Hana akan berakhir dengan menikahi Akashi. Tidak. Waktu Hana masih panjang untuk urusan pernikahan. Ke US? Berarti pupus sudah harapannya untuk mencari pria bertopeng.

"Hana?" Hana terkesiap. Ia berbalik dan mendapati Mayuzumi berdiri dihadapannya dengan nafas terengah-engah dan bersimbah peluh. "Gomen, aku telat. Tadi ada sedikit masalah di caffee."

"Chihiro-kun kenapa di.."

"Bukankah aku sudah berjanji akan menjagamu selama tiga hari?" tanya Mayuzumi

Hana terkesiap. Tidak menyangka Mayuzumi menepati janjinya. Padahal, jika dia mau Mayuzumi tidak usah repot-repot datang kemari.

"Arigatou. Seharusnya tidak usah repot-repot." Ujar Hana sungkan

Mayuzumi menatap Hana. Gadis itu terlihat cantik walau hanya mengenakan hotpans dan kaus lengan panjang kelonggaran warna putih. Tanpa sengaja, mata Mayuzumi melihat boneka yang dipegang Hana. Boneka pinguin pemberiannya saat Bunkasai. Hati Mayuzumi berteriak senang karena Hana masih menyimpan boneka pemberiannya. Apakah itu berarti Hana memiliki perasaan padanya?

"Hari sudah malam. Kenapa duduk disini? Kau bisa sakit. Sudah makan malam?" Tanya Mayuzumi bertubi-tubi. Hana hanya tertawa ringan yang membuat jantung Mayuzumi berdegub

"Kenapa Chihiro-kun menjadi cerewet seperti Reo-nii? Aku sudah makan kok. Chihirou-kun duduklah disini. Kita lihat bintang bersama." Ujar Hana sambil menepuk tempat yang masih kosong disebelah kirinya.

Mayuzumi ragu. Ia takut dengan kondisi jantungnya jika terus-menerus berada didekat Hana. Karena tidak mendapat respon, Hana beranjak dari tempatnya dan memegang tangan Mayuzumi yang otomatis membuat jantungnya semakin berdegub.

"Temani aku sebentar, ya? Jarang-jarang bintang bermunculan di perkotaan seperti ini." Hana menuntun Mayuzumi ketempat duduknya semula dan mereka duduk berdampingan. Hana terus-menerus memandangi bintang yang berpijar di langit gelap sedangkan Mayuzumi hanya menatap wajah Hana yang terlihat..sendu.

"Chihiro-kun."

Mayuzumi terkejut. "Ya?"

"Apa kau percaya pada bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonan?" Tanyanya sambil terus menatap bintang.

"Aku..tidak percaya hal-hal yang seperti itu."jawabnya ragu karena tidak ingin menyinggung perasaan Hana kalau-kalau mereka memiliki pendapat berbeda. Kiyoshi pernah berkata padanya bahwa hati perempuan itu sangat sensitif. Jadi, Mayuzumi sangat berhati-hati dalam berkata karena takut Hana marah dan membencinya.

"Begitukah? Baguslah kalau begitu." Mayuzumi bernafas lega mendengar respon Hana. "Dulu, Reo-nii selalu bercerita jika saat bintang jatuh kita bisa meminta permohonan. Aku sangat antusias saat itu. Karena itu, setiap langit malam cerah dan menampakkan pijar bintang kami selalu duduk berdua seperti sekarang dan memandangi langit berharap ada bintang jatuh." Ceritanya.

Hana menatap langit tanpa melanjutkan ceritanya.

"Lalu, apa bintang yang kalian tunggu datang?" tanya Mayuzumi

Hana menatap Mayuzumi dengan senyum getir dan kembali menatap langit. "Pernah sekali. Aku langsung mengucapkan permohonanku begitu bintang jatuh itu didepanku. Tapi setelah itu aku tidak pernah mempercayai bintang jatuh."

Alis Mayuzumi bertaut. "Nande? Apa permohonanmu?"

"Aku berdoa agar keluargaku selalu bersama selamanya." Hana menatap Mayuzumi. "Tapi pada akhirnya orangtuaku bercerai dan meninggalkan kami." Hana menatap sendu langit. "Sejak saat itu aku menjadi pesimis. Tidak mempercayai harapan. Bagiku, semua yang kau dapat harus dengan usaha, bukan hanya berharap begitu saja."

Mayuzumi hanya diam berusaha menahan keinginan mendekap gadis didepannya. Hana memang kuat secara fisik, tapi tidak dengan perasaannya. Dia sangat rapuh seperti porselin yang berusia berabad-abad.

"Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini aku menanti bintang jatuh untuk kedua kalinya." Hana tersenyum simpul.

"Kenapa?"

Hana menatap Mayuzumi. "Tentu saja untuk meminta permohonan." Hana kembali menatap langit. "Kau mau tahu permintaanku pada bintang jatuh?" Hana mengeratkan pelukannya dengan boneka pinguin. "Aku berharap bertemu kembali dengan pria bertopeng di festival Bunkasai untuk terakhir kalinya. Pria yang memberiku boneka pinguin ini." Ujarnya tanpa tahu pria yang diceritakan tepat disebelahnya.

Mata Mayuzumi membulat. Hana ingin bertemu dengannya? Apakah itu artinya Mayuzumi selalu berada didalam setiap sudut fikirannya? Apakah Mayuzumi mendapatkan tempat khusus di hati gadis itu? Tapi apa maksudnya dengan terakhir kali? Apakah ini pertanda buruk? (#author: aduh senpai banyak amat nanyanya..#mayuzumi:elu kali yang nulis. Ngapain protes sama gua.)

"Kenapa kau ingin bertemu pria itu?" Tanya Mayuzumi penasaran. Apa kau menyukaiku seperti aku menyukaimu?, batinnya

Hana tersenyum malu-malu. "Janji jangan tertawa ya?"

"Eh?" Mayuzumi bingung "Kenapa?"

"Pokoknya janji dulu!" Paksa Hana.

Mayuzumi hanya tersenyum kecil. "Baiklah, aku berjanji."

Mata Hana menyipit. "Kalau begitu janji kelingking." Ujarnya sambil mengangkat jari kelingking

Mayuzumi tertawa. "Kau seperti anak kecil."

"Mau dengar atau tidak?" Tanya Hana cemberut.

Tawa Mayuzumi semakin kuat melihat ekspresi Hana. " ." ujarnya sambil menautkan jari mereka. "Jadi, alasannya?"

Hana menarik nafasnya dalam-dalam. "Karena.. aku menyukai pria itu." Jawabnya singkat dan jelas. "Eh? Chihiro-kun? Kenapa wajahmu memerah? Kau demam?" Hana menyentuh kening Mayuzumi dengan punggung tangannya sambil melihat wajah Mayuzumi yang memerah.

"A-aku..tidak apa-apa. Tidak udah khawatir." Ujar Mayuzumi sambil menyingkirkan tangan Hana dari keningnya dengan lembut.

Jantung Mayuzumi nyaris saja keluar dari dadanya saat Hana mengatakan 'suka'. Walaupun kata itu tidak ditujukan langsung pada dirinya, tetap saja membuatnya berdebar dan senang bukan main. Mayuzumi tidak menyangka perasaannya terbalas. Selama ini mereka saling menunggu. Saling mencari.

"Kau yakin? Sebaiknya kita masuk kedalam. Hana meraih tangan Mayuzumi dan menariknya menuju ruang tamu. "Aku punya film bagus. Ayo tonton bersama."

.

.

.

PRIITTT!

Semua anggota tim basket segera menuju bench. Hayama langsung menegak minuman begitu sang manager memberikannya. Tak jauh dari tempat Hayama berdiri, Reo duduk sambil membasuh keringatnya dengan handuk.

"Chihiro-senpai." Sapa Reo saat Mayuzumi berdiri tidak jauh darinya.

"Ya?" Jawab Mayuzumi setelah menegak minumannya.

"Apa siang ini kau ada acara? Bagaimana kalau kita makan bersama?"

Gym menjadi hening. Mayuzumi menatap Reo dengan alis yang terangkat sebelah. Hayama dan Nebuya yang berdiri tidak jauh dari Reo langsung mengambil beberapa langkah kebalakang dan menatap horror Reo. Mengerti maksud reaksi mereka, Reo mengusap leher belakangnya dengan kaku.

"Kalian semua jangan berfikiran yang aneh-aneh. Aku masih suka wanita kok. Chihiro-senpai, aku mengajakmu makan hanya untuk ucapan tetima kasih karena telah menemani Hana di rumah selama aku pergi."

"Chotto." Hayama berdiri diantara Mayuzumi dan Reo "Maksudmu Chihiro-senpai dan Hana hanya berdua saat kau pergi selama tiga hari?"

"Tiga orang. Kalau kau juga menghitung Aoi-san, Kotarou-chan." Ujar Reo

"Itu tidak penting. Intinya iya atau tidak kalau Hana dan dia.." Hayama menunjuk Mayuzumi "Hanya berdua selama tiga hari?"

Reo mengangguk.

"Senpai kau curang! Kenapa kau tidak mengajakku!" Rengek Hayama sambil memeluk leher Mayuzumi

"Kau kira aku pergi tamasya? Untuk apa mengajakmu? Menjauh dariku Kotarou!" Maki Mayuzumi sambil mendorong Hayama menjauh.

Reo hanya menggeleng. Akashi berjalan mendekati mereka saat Reo dan Nebuya sibuk melihat pertengkaran Hayama dan Mayuzumi. Nebuya orang pertama yang menyadari kehadiran Akashi

"Akashi, apa kau juga ingin ikut makan bersama?" Tanya Nebuya

"Ada perayaan apa?" Tanya Akashi

"Hanya ucapan terima kasihku pada Chihiro-senpai. Tapi tidak masalah kalau kalian juga ikut. Ramai juga lebih meriah. Hana juga akan ikut makan siang ini." Ujar Reo

"Chotto! Apa maksudmu 'tidak masalah kalau kalian ikut'?kau tidak terima kalau kami pergi?!" Tanya Hayama

Reo menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Bukan tidak terima. Lagipula dari awal aku hanya mengajak Chihiro-senpai. Tapi aku juga mengundang kalian. Dan berhentilah berteriak Kotarou-chan!" Ujar Reo sambil menjentik kening Hayama

"Dan berhenti menggunakan 'chan' pada namaku dan menjentik! Dasar banci!" Maki Hayama

"Siang ini?" Tanya Akashi tiba-tiba

Reo mengangguk "Kenapa? Aka-chan tidak bisa?"

Akashi berfikir sejenak. "Hanya ingin memastikan. Karena tadi kau bilang kita akan makan bersama Hana."

Reo mengerutkan alis. "Memang. Kenapa memangnya Aka-chan bertanya seperti itu?"

"Karena kudengar dari ayahku siang ini Hana akan.."

"Hello everyone. Good afternoon." Seorang wanita memotong pembicaraan Akashi. Semua penghuni Gym berbalik menatap pintu Gym. Tempat wanita itu berdiri

Semua penghuni Gym terpesona dengan paras cantik wanita itu walau terlihat sudah berumur. Minus Reo, karena itu ibunya, Akashi, karena dia mengenal wanita itu, dan Mayuzumi karena sejak lahir ia memiliki wajar tanpa ekspresi.

"Maaf karena telah mengganggu." Wanita itu-Natalie Watson, menatap mereka satu-persatu dan berhenti didepan Akashi. "Long time no see, Akashi Seijurou." Sapa Natalie dengan senyum pada Akashi

"Good afternoon, . I'm glad to meet you again. You look beautiful today." Sapa balik Akashi sambil membungkukkan badannya.

Natalie hanya tertawa simpul. "Kau sangat pandai mengambil hati orang Seijurou." Natalie menatap Reo. "You too Reo. Long time no see. You look like your father now."

Mayuzumi mengamati wanita itu. Ia merasa familier dengan Natalie. Ia berfikir sejenak, mengingat apa dia adalah salahsatu pelanggan yang pernah mengunjungi caffenya. Tapi dilihat dari gaun yang dikenakan wanita itu, rasanya tidak karena ia tidak pernah melihat pelanggannya mengenakan pakaian yang begitu 'wah' seperti wanita itu. Tiba-tiba, Mayuzumi melihat manik mata kuning kehijauan wanita itu.

Hayama mendekati Reo dan berbisik. "Kau kenal wanita cantik ini Reo?"tanyanya. Karena tidak mendapat respon, Hayama menatap Reo. Hayama terkejut melihat ekspresi Reo. Dingin dengan tatapan mata yang menusuk.

"Dulu dia adalah Oka-san ku." Jawab Reo yang disambut dengan ekspresi terkejut Nebuya,Hayama, dan Mayuzumi."Why are you here, Natalie?"

"Don't be like that, honey. Seharusnya kau memberikan pelukan hangat padaku mengingat kita sudah lama tidak bertemu." Ujar Natalie.

"Aku tidak butuh itu. Kenapa anda ada disini?" Tanya Reo dengan formal. Seperti berbicara dengan orang asing. Bukan layaknya ibu dan anak.

Natalie hanya mengendikkan bahu. "Hanya ingin mengucapkan selamat tinggal, karena siang ini aku akan kembali ke US."

Reo mendengus. "Pergilah. Seharusnya anda tidak perlu membuang waku anda hanya untuk mengucapkan selamat tinggal."

Natalie mengangguk. "Kau benar. Aku juga sebenarnya sangat terburu-buru karena begitu sampai aku harus menghadiri rapat penting. Tapi, 'dia' sangat ingin berbicara padamu sebelum pergi." Natalie menunjuk pintu masuk Gym.

Bukan hanya Reo yang terkejut tapi Akashi, Nebuya, Hayama, dan Chihiro begitu melihat siapa 'dia' yang Natalie maksud. Hana berdiri tepat didepan Gym. Dengan rambut yang diikat ekor kuda, mengenakan kaus putih, tas ransel kain, jins hitam pendek, dan sepatu sneakers. Hana menatap mereka satu-persatu dengan tatapan sendu. Terutama Reo. Perlahan, Hana berjalan mendekati Reo. Setelah beberapa meter didepan kembarannya itu Hana mendongakkan kepala untuk melihat manik mata Reo yang terlihat terkejut dan sedih.

"Rasanya tidak pantas mengucapkan 'konichiwa' untuk menyapamu karena pada akhirnya aku akan mengucapkan 'sayonara'" ujar Hana dengan wajah tak kalah sedih dari Reo

"Kau tidak harus mengucapkan 'sayonara' Hana. Bahkan jangan pernah mengucapkannya padaku." Ujar Reo dengan tangan bergetar.

"Tapi aku harus." Jawabnya cepat. "Kalau aku tidak mengatakannya, apa nii-san rela aku menikahi Seijurou-kun?" Bukan hanya Reo, tapi Nebuya, Hayama, dan Mayuzumi sangat terkejut. "Kau bilang, aku harus meraih impianku bagaimanapun caranya. Dan inilah caraku. Maaf, aku tidak ingin menyakiti siapapun termasuk nii-san. Tidak samasekali. Tapi ini adalah resiko dari jalan yang aku tempuh."

Reo berusaha menahan air matanya. "Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan hingga membuatmu marah? Apa aku terlalu keras padamu?"

Hana tersenyum sambil menetes airmata dan menghapusnya kembali. "Justru aku yang membuat kesalahan padamu. Karena aku, kau bekerja terlalu keras hingga melupakan kuliahmu." Reo terkejut karena Hana mengetahuinya. "Kau curang. Kau selalu bilang aku harus belajar yang baik dan sebagainya. Tapi kau sendiri tidak belajar dengan benar. Berjanjilah padaku, kalau kau lulus dengan predikat terbaik aku akan mengundangmu sebagai waliku saat aku lulus universitas di Amerika nanti." Hana mengangkat jari kelingking. "Ayo, janji kelingking padaku."

Reo menautkan jari kelingkingnya pada Hana. "Kau akan aku buat tercengang dengan nilaiku nanti."

"Coba saja."Hana tersenyum

Hana melepaskan tautan jari kelingkingnya dengan Reo dan menatap Hayama, Nebuya, Mayuzumi, dan Akashi. Hana membungkuk hormat.

"Arigatou gozaimasu mina-san! Aku senang mengenal kalian semua. Mibuchi-kun kita harus sering bertukar e-mail. Aku sangat senang bisa bercerita banyak hal padamu." Hana menatap Hayama. "Kotarou-kun, lainkali ayo ke kebun binatang bersama."

Hayama berlari mendekati Hana dan memeluknya. "Aku menyukaimu." Hana dan Mayuzumi terkejut minus Akashi, Reo, Nebuya karena sudah mengetahui. "Aku sangat menyukaimu. Bukan suka sebagai adik, tapi sebagai pria dan wanita."

Hana mendorong Hayama dan tersenyum. "Ya aku mengerti. Tapi, Kotarou-kun juga mengerti karena aku..tidak bisa menyukaimu.." Hayama terkejut. "Aku sudah menyukai orang lain. Memang terdengar sangat bodoh menyukai orang yang tidak kau tahu namanya bahkan wajahnya. Tapi, setiap kali aku berusaha melupakannya rasa suka itu semakin kuat. Jadi aku putuskan untuk mencarinya setelah menyelesaikan pendidikanku. Walaupun nanti, pria itu mungkin sudah memiliki yang lain. Setidaknya aku ingin menemuinya dan mengetahui namanya."

Mayuzumi nyaris saja berlari dan memeluk Hana. Tapi kakinya seperti terpaku dilantai. Samasekali tidak bisa bergerak

Hana sekali lagi menatap mereka dan membungkuk. "I don't wanna say 'goodbye'. Because I'm believe all of us will meet again. See you guys. And thanks for everthing." Hana berjalan mendahului Natalie yang sedari tadi menonton kejadian tadi. "Come on, Natalie we must go. Or I will change my mind." ujar Hana sambil tersenyum

Natalie hanya menyeringai. "Are you dare doing that?"

"If I want, why not?" Ujar Hana sambil mengendikkan bahu.

Hana menatap Reo dan yang lain untuk terakhir kalinya. Hana tersenyum dan dibalas Reo dengan senyuman

TBC

Arigatou sudah membaca hingga chapter ini! Selanjutnya adalah chapter terakhir. Sekali lagi, saya sabagai author mengucapkan arigatou pada semua reader yang sudah membaca hingga saat ini. See you at last chapter!