9.

Terkadang, untuk membuang waktu sembari menunggu obat pesanannya, Hozuki mengambil salah satu kelinci apoteker untuk digendongnya. Oke, itu tidak aneh. Sekalipun yang melakukannya adalah seorang iblis agung kelas atas dari Neraka. Yang aneh itu adalah ketika Hakutaku meminta kelinci yang ada di gendongan Hozuki, dan iblis itu memberikannya. Dari gendongan, ke gendongan.

Tahu se-awkward apa momen itu bagi Momotaro? Seperti adegan serah terima bayi antara istricoretsuami-suami. Dan celakanya lagi, tidak hanya sekali. Setiap ia selesai membuat pesanan obat dan hendak menyerahkannya pada Hozuki, jika Hakutaku tidak lupa atau ngambek atau terkapar karena pukulan, pasti ritual itu berulang. Seperti kebiasaan. Seperti sesuatu yang lumrah. Apa mereka menyadarinya? Tidak. Karena endingnya selalu ditutup dengan cekcok mulut beberapa menit (tidak ada pukulan yang melayang, karena Hozuki sayang hewan—si kelinci, bukan satunya).

Melihat adegan itu selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata.

Kalau dari sudut pandang orang keempat, misalkan Shiro, maka akan ada penambahan karakter baru di adegan tersebut. "Seorang istri kedua yang merasa canggung diantara keharmonisan-fiktif istri pertama dan sang suami", uhuk. Ia terbatuk.

.

.

*Adegan-End*