Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 7 part 1. DarkBlueSong, Lumostotalus: Ma kasih banget dah review, tetap review, ya :D.
Selamat Membaca chapter 7 part 2!
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 7 Relikui Kematian part 2
Hermione POV
Aku membuka mata, memandang debu-debu yang beterbangan dalam sinar matahari pagi yang masuk melalui kisi jendela. Seleret langit tampak di antara gorden: biru cerah tak berawan. Suasananya begitu hening, hanya terdengar desah nafas Ron yang lembut dan teratur di dekatku. Aku memandangnya dan melihatnya begitu terlelap, tanganku hanya berjarak beberapa senti dari tangannya. Semalam memang Ron tidur sambil menggenggam tanganku. Yah, akhirnya Ron mengakui, dalam sikapnya, bahwa Ron memang menyukaiku. Aku tidak memintanya mengakui dalam kata-kata bahwa dia menyukaiku, dia juga tidak akan mengucapkannya karena ini adalah perang. Dalam suasana perang orang tidak berhak untuk mengucapkan cinta, karena siapa tahu orang itu tidak selamat dalam melewati perang ini.
Memutar kepalaku, aku memandang langit-langit ruang tamu yang penuh sarang laba-laba. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu aku berdiri di bawah kanopi dan berdansa dengan Ron. Rasanya sudah seabad yang lalu. Apa yang terjadi sekarang adalah hal lain yang tidak pasti akhirnya seperti apa. Aku teringat orangtuaku: Mom dan Dad pasti sedang menikmati hidup baru mereka di Australia, mereka tidak akan sedih dan para Pelahap Maut juga tidak akan memburu mereka di sana. Aku bisa berbahagia untuk mereka. Mengerjap, aku menahan airmata yang hendak jatuh di mataku. Aku tidak bisa menyesal sekarang, aku yang memilih perjalanan ini. Aku yang memilih untuk pergi bersama Harry dan aku akan terus sampai akhir.
Aku keluar dari kantong tidur, memandang ke samping dan menyadari bahwa Harry tidak ada di sebelah Ron.
Panik, aku segera membangunkan Ron.
"Sebentar lagi, Hermione," kata Ron, membalikkan badan.
Aku tahu Ron memang bukan orang yang biasa bangun pagi dan susah sekali dibangunkan.
"Ron, Harry hilang!" teriakku di telinganya.
Ron tergagap dan segera bangun, memandang berkeliling seperti orang bingung, kemudian menyadari Harry tidak ada bersama kami.
"Harry? Mana Harry?"
"Itu dia, kita harus mencarinya... aku tidak mau berkeliaran sendirian di rumah sebesar ini," kataku.
"Oke, oke..."
Kami segera berpencar mencari, Ron mencari dari lantai satu sampai ruang bawah tanah, sedangkan aku mencari di lantai dua. Aku naik tangga menuju lantai dua sambil memanggil nama Harry, sedangkan Ron turun ke lantai bawah sambil menggerutu. Aku membuka semua kamar yang kulewati. Kamar-kamar itu semuanya berantakan: penutup tempat tidur telah disibakkan, pintu lemarinya terbuka. Rupanya ada orang yang telah menggeledah kamar-kamar ini. Apakah Snape untuk mencari rahasia Orde? Tidak mungkin, Snape sudah tahu semua tentang Orde. Atau mungkin Mundungus, yang mencari barang-barang berharga milik keluarga Black untuk dijual. Ya, pasti ini kerjaan Mundungus Fletcher, pencuri yang tidak berguna itu. Harry pernah menegurnya di Hogsmead, tapi rupanya dia masih kembali ke sini untuk mencuri. Aku terus naik ke bordes paling atas, yang hanya terdiri dari dua kamar; satunya bertulis Sirius dan satunya ditulis dengan tulisan yang agak mencolok dan sombong Dilarang Masuk Tanpa Izin Khusus dari Regulus Arcturus Black.
"Harry? Harry! Harry!" teriakku memanggil Harry.
"Aku di sini!" jawaban Harry terdengar dari balik pintu yang bertuliskan Sirius.
Aku segera menghambur ke dalam dan melihat Harry sedang berdiri di tengah kamar yang berantakan oleh buku-buku dan perkamen-perkamen berwarna kekuningan, juga jubah-jubah yang berhamburan keluar dari sebuah lemari pakaian besar.
"Kami bangun dan tidak tahu kau di mana!" kataku, setelah mengatur nafas, aku memutar kepalaku dan berteriak keras, "Ron! Aku sudah menemukan dia!"
Suara jengkel Ron bergaung dari kejauhan, mungkin dari lantai satu,
"Bagus! Kasih tahu dia, dia sarap!"
"Harry, jangan menghilang begitu dong, kami kan ketakutan. Lagi pula, kenapa sih kau naik ke sini? Apa yang telah kau lakukan?" tanyaku, menyadari bahwa Harry tampaknya sedang mencari sesuatu.
"Lihat apa yang baru saja kutemukan?"
Harry memberikan sepotong perkamen yang berisi tulisan tangan yang kusut. Ternyata itu adalah surat dari ibu Harry, Lily Potter, yang bercerita tentang Harry saat ulangtahunnya yang pertama, Dumbledore yang meminjam Jubah Gaib James Potter, dan tentang tetangga mereka di Godric's Hollow yang bernama Bathilda.
"Oh Harry," kataku. Aku mengerti bagaimana perasaannya.
"Dan ada ini juga."
Dia menyerahkan robekan foto, seorang anak kecil yang terbang di atas sapu mainan. Aku tersenyum memandang anak kecil itu, yang tentu saja adalah Harry saat dia berumur satu tahun.
"Aku sedang mencari-cari lanjutan surat itu," kata Harry. "tapi tak ada di sini."
Aku memandang ruangan yang berantakan.
"Apa kau yang membuatnya seberantakan ini, atau kamarnya memang sudah agak berantakan waktu kau tiba di sini?"
"Ada yang sudah menggeledahnya sebelum aku," kata Harry.
"Kupikir juga begitu. Semua ruangan yang kulongok dalam perjalanan ke atas sini sudah diobrak-abrik. Apa yang mereka cari menurutmu?"
"Informasi tentang Orde, kalau itu Snape."
"Tapi mestinya kan dia sudah memiliki semua yang dibutuhkannya, maksudku, dia anggota orde, kan?"
"Yah, kalau begitu, bagaimana kalau informasi tentang Dumbledore? Halaman kedua surat ini, misalnya. Kau tahu Bathilda yang disebut-sebut ibuku ini, kau tahu siapa dia?
"Siapa?"
"Bathilda Bagshot, pengarang―"
"Sejarah Sihir," kataku tertarik. "Jadi orangtuamu kenal dia? Dia ahli sejarah sihir yang luar biasa."
"Dan dia masih hidup," kata Harry. "Dia tinggal di Godric's Hollow, Bibi Muriel bicara tentang dia di pernikahan. Bathilda kenal keluarga Dumbledore juga. Pasti menarikkan omong dengan dia?"
Aku tersenyum, aku tahu Harry pasti ingin bicara dengan Bathilda tentang orangtuanya.
"Aku mengerti kenapa kau ingin bicara dengannya tentang ibu dan ayahmu, dan juga Dumbledore," kataku, tersenyum. "Tetapi itu tidak benar-benar membantu kita dalam pencarian Horcrux, kan?" ketika Harry tidak menjawab aku melanjutkan. "Harry, aku tahu kau benar-benar ingin pergi ke Godric's Hollow, tapi aku takut... aku takut akan betapa mudahnya Pelahap Maut menemukan kita kemarin. Itu membuatku semakin yakin kita harus menghindari tempat orangtuamu dimakamkan. Aku yakin mereka akan mengharapkanmu mengunjunginya."
"Bukan hanya itu," kata Harry. "Muriel mengatakan hal-hal tentang Dumbledore di pernikahan. Aku ingin tahu kebenarannya..."
Harry memberitahuku apa yang diceritakan Bibi Muriel tentang keluarga Dumbledore: ayah Dumbledore, Percival, yang dikirim ke Azkaban karena menyihir anak-anak Muggle; ibu Dumbledore, Kendra, yang mengurung anak perempuannya, Ariana, karena dia adalah Squib, dan tentang adik laki-laki Dumbledore, Aberforth, yang memukul Dumbledore pada pemakaman Ariana.
"Tentu saja, aku bisa melihat kenapa itu membuatmu bingung, Harry―" kataku
"Aku tidak bingung," potong Harry cepat. "Aku cuma ingin tahu apakah itu benar atau tidak―"
"Harry, apakah kau benar-benar mengira kau akan mendapatkan kebenaran dari wanita tua jahat seperti Muriel dan Rita Skeeter? Bagaimana kau mempercayai mereka? Kau kan kenal Dumbledore!"
"Kupikir aku kenal," gumam Harry memalingkan muka.
Aku langsung tahu bahwa sesuatu telah merusak pekercayaannya pada Dumbldore. Saat ini Harry berada dalam suasana batin yang penuh keraguaan. Dia ingin mempercayai Dumbledore, tapi beberapa hal membuatnya ragu.
"Tapi kau kan tahu berapa banyak kebenaran yang ada dalam semua tulisan Rita Skeeter tentangmu! Bagaimana kau bisa membiarkan orang-orang menodai kenanganmu akan Dumbledore?"
Harry berpaling, tampak kesal.
"Bagaimana kalau kita turun ke dapur? Cari sesuatu untuk dimakan?" usulku, mengabaikan kekesalan Harry.
Kami berjalan keluar kamar dan aku sudah mulai menuruni tangga saat Harry berkata,
"Hermione, naik lagi ke sini," kata Harry.
"Ada apa?"
"R.A.B. Kurasa aku telah menemukannya."
"Apa?" aku memekik.
R.A.B adalah inisial penyihir yang telah meninggalkan liontin palsu di dalam danau tempat Voldemort menyembunyikan liontin Slytherin, tempat potongan jiwa Voldemort disembunyikan. Aku segera berlari kembali ke atas. "Dalam surat ibumu? Aku tidak melihat―"
Harry menggeleng dan menunjuk pintu di sebelah pintu kamar Sirius. Pintu yang bertuliskan tulisan sombong: Dilarang Masuk Tanpa Izin Khusus dari Regulus Arcturus Black, yang telah kulihat sebelumnya, tapi tidak begitu memperhatikannya.
"Adik Sirius?" kataku dalam bisikan tertahan.
"Dia dulunya Pelahap Maut," kata Harry. "Sirius bercerita padaku tentangnya, dia bergabung ketika masih muda sekali dan kemudian ketakutan dan mencoba keluar―jadi, mereka membunuhnya."
"Cocok kalau begitu," kataku. "Kalau dia tadinya Pelahap Maut dia punya akses ke Voldemort, dan kalau dia keluar tentunya dia ingin menjatuhkan Voldemort!"
"Ron! RON! Naik ke sini, cepat!"
Ron naik dengan tergesa-gesa semenit kemudian, tongkat sihir siap di tangan.
"Ada apa? Kalau laba-laba besar lagi, aku mau sarapan sebelum―"
Aku tersenyum, rupanya Ron teringat kejadian semalam. Aku mengangguk ke arah pintu Regulus. Dia mengernyit memandang papan tanda di pintu Regulus.
"Apa? Itu adik Sirius, kan? Regulus Arcturus... Regulus... RAB! Liontin―menurut kalian―?"
"Ayo kita cari tahu," kata Harry.
Kami masuk ke dalam ruangan yang dulunya pasti megah, dengan warna hijau zamrud Slytherin di seluruh ruangan. Ada lambang keluarga Black, bersama motonya, Toujours Pur, Selalu Berdarah Murni dilukis dengan cermat di atas tempat tidur. Di bawahnya ada guntingan surat kabar yang sudah menguning, ditempel bersama menjadi semacam koleksi.
Kami mencari selama beberapa menit dan memutuskan bahwa Regulus tidak menyimpan liontin berisi Horcrux itu di kamarnya.
"Bisa jadi di tempat lain rumah ini," kataku, saat kami kembali ke bawah. "Apakah dia berhasil menghancurkannya atau tidak, dia pastilah ingin menyembunyikannya dari Voldemort, kan? Ingin semua barang-barang mengerikan yang kita singkirkan waktu kita di sini dulu? Jam yang menembak baut pada semua orang, jubah-jubah tua yang mencoba mencekik Ron; Regulus mungkin sengaja meletakkannya di sana untuk melindungi tempat perlindungan liontin, meskipun kita tidak menyadarinya waktu... waktu..."
Aku mengerutkan kening dan berpikir, waktu itu, waktu itu memang ada―
"Waktu itu," bisikku.
"Ada yang tidak beres?" tanya Ron.
"Memang ada liontin..."
"Apa?" seru Harry dan Ron bersamaan.
"Dalam lemari panjang di ruang tamu. Tak ada yang bisa membukanya. Dan kita... kita..."
Aku tidak melanjutkannya, aku tahu mereka sudah mengingatkannya. Waktu itu kami mengedarkan liontin itu dan semua orang mencoba membukanya.
"Kreacher mengambil kembali banyak barang yang kita buang," kata Harry. "Dia punya setumpuk barang dalam lemarinya di dapur."
Kami berlari ke dapur, menuruni dua anak tangga sekaligus, turun dengan ribut membuat lukisan ibu Sirius terbangun dan mulai meneriakkan caci maki saat kami lewat. Kami tak peduli, saat ini liontin lebih penting dari segalanya. Kami menyebrangi dapur dan berhenti di depan lemari Kreacher. Harry membukanya dan tampaklah selimut tua kotor, tempat Kreacher tidur dulunya, tapi tidak ada lagi koleksi barang-barang keluarga Black milik Kreacher yang ada hanyalah sebuah buku tua tebal berjudul Bangsawan Alamiah: Ginealogi Sihir. Menolak mempercayainya, Harry menyambar selimut Kreacher dan mengguncangnya. Seekor bangkai tikus terjatuh dan menggelinding ke lantai, menyedihkan. Aku memejamkan mata, mendengar Ron mengerang dan mendengar Harry berkata,
"Belum selesai," dia mengeraskan suaranya dan memanggil, "Kreacher!"
Bunyi tar keras terdengar di dapur yang sunyi. Kreacher muncul di depan perapian yang dingin dan kosong; mungil, ukurannya separo manusia, kulit pucat menggantung berlipat-lipat, rambut putih menyembul lebat dari telinganya yang seperti telinga kelelawar. Dia masih memakai gombal kotor yang dipakainya ketika pertama kali kulihat, dan pandangannya yang menghina pada Harry menjelaskan bahwa dia bagaimanapun tetap tidak setuju dengan peralihan kepemilikan.
"Tuan," kuak Kreacher dengan suara katak belatungnya. Membungkuk rendah dan bergumam, "Kembali ke rumah nyonyaku dengan si darah-pengkhianat dan Darah-Lumpur―"
"Aku melarangmu menyebut siapa saja dengan Darah-Pengkhianat dan Darah-Lumpur," geram Harry marah. "Aku punya pertanyaan untukmu, dan kuperintahkan kau menjawabnya dengan jujur. Mengerti?"
"Ya, Tuan," Kreacher membungkuk.
"Dua tahun yang lalu," kata Harry, "ada liontin emas besar di ruang tamu di atas. Kami membuangnya apakah kau mencurinya kembali?"
Sunyi sejenak, kemudian Kreacher berkata, "Ya."
"Di mana liontin itu?"
Kreacher memejamkan mata dan menjawab, "Sudah tidak ada."
"Sudah tidak ada? Apa maksudmu, liontin itu sudah tidak ada?"
"Mundungus Fletcher," jawab Kreacher, sambil berayun di tempat. "Dia mencuri semuanya; foto-foto Miss Bella, dan Miss Cissy, sarung tangan nyonyaku, lencana Order of Merlin kelas pertama, piala dengan lambang keluarga Black dan―" Kreacher mengeluarkan jerita mengerikan. "Dan liontin... liontin Tuan Regulus, Kreacher bersalah, Kreacher gagal melaksanakan perintahnya!"
Kreacher menyambar alat pengorek api yang berdiri di atas pemanggang, Harry melemparkan diri padanya dan menindihnya. Kreacher menjerit dan aku juga menjerit.
"Kreacher, kuperintahkan kau untuk diam," teriak Harry.
Kreacher diam, dia berbaring di lantai dengan bercucuran air mata. Sungguh menyedihkan!
"Harry, biarkan dia bangun!" aku berbisik.
"Supaya dia bisa memukul dirinya sendiri dengan pengorek api?" dengus Harry, berlutut di sebelah Kreacher. "Kurasa tidak. Baik, Kreacher, aku ingin kebenaran: bagaimana kau tahu bahwa Mundungus Fletcher mencuri liontin itu?"
"Kreacher melihatnya," jawab Kreacher, airmata bercucuran di pipinya. "Kreacher melihatnya keluar dari lemari Kreacher dengan tangan penuh harta Kreacher. Kreacher menyuruh si tukang serobot itu untuk berhenti, tapi Mundungus Fletcher tertawa dan l-lari..."
"Kau menyebut itu 'liontin Tuan Regulus'," kata Harry, "Kenapa? Dari mana asalnya liontin itu? Apa hubungan Regulus dengannya? Kreacher, duduklah dan ceritakan padaku segala yang kau ketahui tentang liontin itu dan segala hubungan Regulus dengan liontin itu!"
Kreacher duduk meringkuk seperti bola, meletakkan wajahnya di antara lutut dan mulai berayun ke depan dan ke belakang. Dia bercerita tentang Regulus yang kembali pada suatu hari dan berkata bahwa Voldemort membutuhkan peri-rumah dan Regulus telah menawarkan Kreacher. Voldemort membawa Kreacher ke sebuah goa dengan danau penuh Inferi. Dia menyuruh kreacher meminum cairan dari baskom penuh ramuan beracun. Setelah Kreacher meminumnya, Voldemort pergi dan Kreacher merasa haus dan merayap ke danau penuh Inferi dan tangan-tangan Inferi menyambarnya untuk bergabung di dalam kematian.
"Bagaimana kau bisa lolos," tanya Harry dalam bisikan.
"Tuan Regulus menyuruh Kreacher pulang," jawab Kreacher.
"Aku tahu―tapi bagaimana kau bisa kabur dari Inferi?"
"Tuan Regulus menyuruh Kreacher pulang," ulang Kreacher.
"Aku tahu, tapi―"
"Kan sudah jelas, Harry," kata Ron. "Dia ber-Disapparate."
"Tapi... kau tak bisa ber-Apparate untuk masuk keluar goa itu," kata Harry. "Kalau bisa kan Dumbledore―"
"Sihir penyihir tidak sama dengan sihir peri-rumah kan?" kata Ron. "Maksudku, mereka bisa ber-Apparate dan ber-Disapparate masuk-keluar Hogwarts sementara kita tidak bisa."
Sunyi sesaat, aku berpikir dalam hati bagaimana Voldemort tidak menyadari hal ini?
"Tentu saja," kataku, menyuarakan apa yang kupikirkan. "Voldemort akan menganggap cara-cara peri-rumah rendah dan jauh dari layak untuk mendapat perhatian, sama seperti semua penyihir berdarah murni yang memperlakukan mereka seperti binatang... tak akan pernah terpikir olehnya bahwa mereka mungkin memiliki keahlian sihir yang tak dimilikinya."
"Hukum paling tinggi peri-rumah adalah melakukan perintah tuannya," kata Kreacher. "Kreacher disuruh pulang maka Kreacher pulang."
"Nah, kau melakukan seperti yang diperintahkan," kataku tersenyum ramah. "Kau sama sekali tidak melanggar perintah."
Kreacher menggeleng, berayun cepat lagi dan melanjutkan ceritanya tentang Regulus yang menyuruh Kreacher membawanya ke danau, meminum semua ramuan dalam baskom dan mengambil liontin asli, kemudian meletakkan liontin palsu sebagai gantinya. Setelah itu, dia menyuruh Kreacher kembali dan menghancurkan liontin itu sementara dia ditarik ke dalam danau oleh para Inferi.
"Oh, Kreacher..." kataku, ingin memeluk Kracher, menenangkannya karena belum pernah aku melihat sesuatu yang sangat menyedihkan seperti ini.
Kreacher tidak ingin kusentuh dia mulai memanggilku Darah-Lumpur lagi, kemudian Harry berkata,
"Aku tidak memahamimu Kreacher. Voldemort mencoba membunuhmu, Regulus meninggal dalam usaha untuk menjatuhkan Voldemort, tapi kau masih tetap senang mengkhianati Sirius pada Voldemort? Kau senang pergi ke Nascissa dan Bellatrix untuk menyampaikan informasi kepada Voldemort melalui mereka..."
"Harry, Kreacher tidak berpikir seperti itu. Mereka budak dan sudah biasa diperlakukan dengan brutal. Aku tahu bahwa akhirnya Regulus berubah pikiran, tapi dia tampaknya tidak menjelaskannya pada Kreacher, kan? Dan kurasa aku tahu kenapa. Kreacher dan keluarga Regulus, semuanya lebih aman jika mereka mempertahankan garis darah-murni mereka. Regulus mencoba melindungi mereka semua."
"Sirius―" Harry mulai.
"Sirius bersikap jahat pada Kreacher, Harry," aku melanjutkan. "Kan sudah kukatakan penyihir akan mebayar perlakukan buruk mereka pada peri-rumah. Nah, Voldemort membayar untuk itu... dan begitu juga Sirius..."
Dapur sunyi lagi, hanya terdengar isakan tertahan Kreacher. Lalu Harry memberikan liontin palsu pada Kreacher (menjerit dan menangis terharu lagi) dan menyuruhnya mencari Mundungus Fletcher.
Aku tahu Harry akhirnya telah mendapat kehormatan dari Kreacher. Dengan mengetahu kisah ini, kami berharap liontin itu akhirnya sampai ke tangan kami dan kami bisa menghancurkannya, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya.
Ron POV
Kreacher belum kembali, tapi Pelahap Maut, atau mungkin orang Kementrian―karena mereka tahu Harry mewarisi rumah ini― telah muncul di lapangan Grimmauld Palce. Sementara menunggu Kreacher, kami memikirkan mengapa Dumbledore memberikan barang-barang ini pada kami. Pada hari ketiga absennya Kreacher, Lupin datang mengunjungi kami dengan membawa berita bahwa sekarang seluruh dunia sihir sedang mencari Harry untuk diinterogasi mengenai kematian Dumbledore. Aku menahan kemarahan dalam hati. Diinterogasi? Berarti mereka menuduh Harry membunuh Dumbledore? Lupin juga bilang bahwa Kementrian akan memberikan sepuluh ribu Galleon bagi siapa saja yang bisa menangkap Harry. Kementrian juga sedang melakukan pencarian terhadap kelahiran Muggle, yang dituduh sebagai pencuri kemampuan sihir.
Aku memandang Hermione, yang tampak tenang dan tidak takut. Dia tidak takut pada registrasi kelahiran Muggle yang dilakukan Kementrian. Aku berpikir mungkin karena itulah aku menyukainya, dia adalah cewek paling berani yang pernah kutemui (yah, ketakutannya pada hantu, atau orang mati yang bisa bangkit lagi memang tidak masuk hitungan karena semua orang memang takut pada hantu.) Namun di atas segalanya, Hermione tampak tegar dan bisa bertahan menghadapi hari-hari tak menentu ini. Dia kuat, bahkan kami masih bisa berdebat mengenai Deluminator dan Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita, dia bahkan masih bisa menertawaiku tentang Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Wanita. Yah, Hermione memang adalah Gryffindor sejati.
Aku mengembalikan pikiranku pada situasi sekarang dan menyadari bahwa Lupin sekarang sedang bertanya pada Harry apakah dia bisa ikut dalam perjalanan kami. Harry tampak bimbang, dia memandangku. Aku tak bisa memberikan pendapat karena beberapa hal masih membuatku bingung.
"Tapi bagaimana dengan Tonks?" Hermione menyuarakan apa yang kupikirkan.
"Memangnya kenapa dia?" tanya Lupin, suaranya tampak keras dan aneh.
"Yah," Hermione melanjutkan. "Kalian kan menikah! Bagaimana pendapatnya tentang kau pergi bersama kami?"
"Tonks aman sepenuhnya, dia akan tinggal di rumah orangtuanya," kata Lupin.
Ada yang aneh di sini, bagaimana Tonks bisa tinggal di rumah orangtuanya sementara mereka sudah menikah?
"Remus," kata Hermione lagi hati-hati. "Apakah semua baik-baik saja? Kau tahu... antara kau dan―"
"Semuanya baik, terima kasih," kata Lupin tajam.
Wajah Hermione memerah. Hening sejenak, kemudian Lupin berkata dengan sikap seolah memaksakan diri mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Tonks akan punya bayi," katanya.
"Oh, menyenangkan sekali," pekik Hermione.
"Bagus sekali," kataku senang. Ini merupakan berita paling baik dalam situasi tak menentu sekarang ini.
"Selamat!" kata Harry.
"Nah," kata Lupin pada Harry. "Apakah kau menerima tawaranku? Apakah tiga bisa jadi empat?"
"Hanya agar jelas," katanya. "Kau ingin meninggalkan Tonks dan pergi bersama kami?"
"Tonks akan aman sepenuhnya di sana, mereka akan mengurusnya," kata Lupin. "Harry, aku yakin James pasti menginginkan aku bersamamu."
"Aku tidak," kata Harry tegas. "Aku yakin sekali ayahku ingin tahu mengapa kau tidak bersama anakmu sendiri sesungguhnya."
"Kau tidak mengerti," kata lupin dengan wajah pucat. "Aku telah melakukan kesalahan besar dengan menikahinya. Tidakkah kau mengerti apa yang kulakukan pada istriku dan anakku yang belum lahir? Aku seharusnya tidak menikahinya dan membuatnya menjadi orang buangan!"
Lupin bergerak bangun dengan ganas, sehingga kursinya terbalik dan menendang kursi itu dengan keras.
"Bahkan keluarganya tidak merestui perkawinan kami. Orangtua macam apa yang menginginkan anak perempuan mereka satu-satunya menikah dengan manusia serigala? Dan bayi itu―bayi itu―" Lupin benar-benar mencabut segenggam rambutnya karena frustrasi. "Manusia serigala sepertiku tidak biasanya punya anak. Anak itu akan seperti aku. Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri kalau aku secara sadar mengambil resiko menurunkan kondisiku pada anak yang tidak berdosa. Dan jika karena keajaiban anak itu tidak seperti aku... dia akan lebih baik, dan seratus kali lebih baik tanpa ayah yang pastilah akan membuatnya malu..."
Mata Hermione digenangi airmata saat dia berkata, "Remus, jangan berkata seperti itu! Bagaimana mungkin ada anak yang malu punya ayah sepertimu."
Harry tampak gusar.
"Jika rezim baru ini berpendapat bahwa kelahiran Muggle itu buruk," kata Harry, "apa yang akan mereka lakukan terhadap anak setengah-manusia serigala yang ayahnya anggota Orde? Ayahku meninggal dalam usaha melindungi ibuku dan aku, dan kau menduga dia akan menyuruhmu meninggalkan anakmu untuk bertualang dengan kami."
"Ini bukan soal keinginan―untuk menghadapi bahaya atau untuk kemuliaan pribadi―"
"Mungkin kau merasa sedikit berani mati," kata Harry. "Kau ingin menjadi seperti Sirius―"
Wajah Harry tampak merah padam menahan kemarahan, aku tahu dia akan mengatakan kata-kata yang pedas dan―
"Harry, jangan!" jerit Hermione.
"Aku tak pernah mempercayai ini," lanjut Harry. "Orang yang mengajariku melawan Dementor ternyata pengecut."
Lupin mencabut tongkat sihirnya dengan cepat dan mengacungkannya pada Harry, yang langsung membuatnya menghantam dinding dapur dan merosot ke lantai, kemudian Lupin pergi.
"Harry, bisa-bisanya kau," kata Hermione.
"Jangan memandangku seperti itu," bentak Harry pada Hermione.
Aku memandang Harry dengan tajam, aku tidak suka melihat orang lain membentak-bentaknya.
"Jangan memarahinya!" gertakku, memberi pandangan sangar pada Harry.
"Jangan... jangan kita tidak boleh bertengkar," kata Hermione, melemparkan diri di tengah Harry dan aku, yang sudah saling mendelik.
"Kau seharusnya tidak mengatakan hal-hal tadi pada, Lupin," aku berkata pada Harry.
"Orangtua," kata Harry pelan. "tak boleh meninggalkan anak-anak mereka kecuali―kecuali terpaksa."
Aku memandangnya dan mengerti apa yang dipikirkannya, dia memikirkan tentang orangtuanya sendiri yang telah meninggalkannya karena kematian. Aku mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan orangtua, tapi aku tahu bagaimana perasaan Harry. Setelah mengenalnya sekian lama dan menganggapnya sebagai salah satu dari saudaraku, aku mengerti bahwa keluarga, dalam hal ini orangtuanya, adalah hal yang paling penting bagi Harry. Tetapi, tetap saja dia tidak boleh menyebut Lupin, pengecut.
"Aku tahu aku seharusnya tidak menyebutnya pengecut," kata Harry, seolah membaca pikiranku.
"Memang seharusnya tidak," kataku.
Dapur kembali hening. Hermione dan aku berpandangan, sedangkan Harry mulai membaca Daily Prophet yang ditinggalkan Lupin. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi tar, Kreacher muncul dengan Mundungus Fletcher yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Kreacher melepaskannya dan membungkuk pada Harry.
"Kreacher sudah pulang dengan membawa pencuri Mundungus Fletcher, Tuan."
Mundungus buru-buru mencabut tongkat sihirnya, tapi Hermione lebih cepat darinya.
"Expelliarmus!" tongkat sihir itu melayang ke tangan Hermione, dan aku menjegalnya saat dia hendak berlari ke arah tangga. Dia terbanting ke lantai dan aku memeganganya agar dia tidak bisa melarikan diri.
"Apa?" dia meraung sambil berusaha melepaskan diri. "Apa salahku? Mengirim peri-rumah sialan itu untuk menangkapku. Lepaskan aku―lepaskan aku kalau tidak―"
"Kau tidak dalam posisi bisa mengancam..." kata Harry, kemudian berlutut di sebelah Mundungus yang meronta. Aku melepaskan Mundungus dan Harry mengancamnya dengan tongkat sihir.
Mundungus kemudian mulai mengoceh tentang tidak siap bunuh diri untuk Harry dan piala-piala yang dicurinya.
"Ini juga bukan soal piala, meskipun kau hampir benar," kata Harry. "Sekarang tutup mulut dan dengarkan?"
"Sirius tidak pernah peduli dengan barang-barang itu―"
Kreacher menghantam kepala Mundungus dengan wajan. Mundungus menjerit kesakitan.
"Jangan Kreacher," kata Harry.
"Barangkali sekali lagi, Tuan Harry, untuk keberuntungan," kata Kreacher penuh kebencian.
Aku tertawa, Hermione mendelik. Oke, aku tahu ini memang bukan saatnya untuk tertawa, namun Mudungus memang harus digetok dengan wajan seratus kali lagi setelah semua yang telah dilakukannya.
Kemudian Harry bertanya tentang liontin.
"Kenapa?" tanya Mudungus. "Apakah liontin itu berharga?"
Dia bercerita bahwa seorang perempuan berwajah kodok dari Kementrian Sihir telah mengambilnya. Harry tak sengaja membakar hidung Mundungus dan Hermione menyiramnya dengan air. Aku memandang Harry dan mengerti bahwa dia teringat pada Umbridge.
Hermione POV
Hari-hari bulan di bulan Agustus berlalu, lapangan berumput di depan Grimmaud Place nomor 12 mulai kering dan coklat. Penyihir-penyihir datang dan pergi di lapangan berumput itu seakan berharap suatu hari mereka akan melihat kami keluar dari rumah itu. Sepanjang bulan Agustus yang telah berlalu itu, kami sering pulang-pergi Kementrian Sihir dalam Jubah Gaib untuk mencari tahu apa yang terjadi dan juga untuk mencari tahu tentang keadaan Kementrian Sihir sebab kami berencana untuk menyusup ke sana dan mengambil liontin itu dari Umbridge.
Pada tanggal satu September penyihir-penyihir yang disuruh mengawasi Grimmauld Place nomor 12 semakin banyak. Mereka berkerumun di lapangan berumput, mungkin menunggu Harry menarik kopernya dan berjalan ke King's Cross untuk naik Hogwarts Express. Harry sendiri saat itu baru saja kembali dari Kementrian membawa kabar tentang Snape yang akhirnya diangkat sebagai kepala sekolah Hogwarts. Aku teringat pada Phineas Nigellus yang sering berpindah-pindah dari Hogwarts dan Grimmauld Place, dan segera berlari ke lantai dua, melepaskan lukisan itu dari dinding dan memasukkannya ke dalam tas manik-manik.
"Kurasa kita harus melakukannya besok pagi," kata Harry, saat aku dan Ron sedang mendiskusikan penyihir-penyihir yang bekerja di Kementrian. Meja di depan kami penuh perkamen bergambar denah Kementrian Sihir dan catatan tentang hal-hal penting yang dilakukan orang-orang dalam Kementrian.
"Baiklah," kata Ron perlahan. "Kalau memang kita bereaksi besok... Kurasa yang pergi hanyalah Harry dan aku."
"Oh, jangan mulai lagi!" kataku sebal. Sejak Harry mengusulkan akan menyusup ke Kementrian, Ron berpendapat bahwa aku harus tinggal di Grimmauld Place. "Kupikir soal ini sudah beres."
"Berkeliaran di dekat jalan masuk di bawah Jubah Gaib, dan yang akan kita lakukan besok berbeda, Hermione," kata Ron, menusukkan jarinya ke Daily Prophet bertanggal sebelumnya. "Kau ada dalam daftar kelahiran Muggle yang tidak melapor untuk interogasi!"
"Kau sendiri sedang sekarat kena spattergroit di The Burrow!" kataku, teringat pada hantu kubur yang menyamar sebagai Ron di The Burrow. "Dan kalau ada yang harus tidak pergi Harry-lah orangnya, kepalanya dihargai sepuluh ribu Galleon―"
"Baiklah, aku akan tinggal di sini," kata Harry. "Beritahu aku kalau kalian sudah mengalahkan Voldemort."
Ron dan aku tertawa, kemudian Harry mulai menyentuh bekas lukanya lagi. Aku menatapnya dengan curiga.
"Nah, kalau kita bertiga pergi, kita harus ber-Disapparate terpisah," kata Ron. "Jubah Gaib tak muat untuk menyembunyikan kita bertiga."
Harry berdiri dan Kreacher yang tampak bersih dan rapi, dari ujung kaki sampai ujung rambut, segera berlari mendekati Harry.
"Tuan belum menghabiskan supnya. Apa tuan mau hospot gurih, atau kue tar karamel yang Tuan sangat suka?" kata Kreacher, sejak diberi liontin Regulus, sikap Kreacher telah berubah drastis, menjadi lebih baik. Meskipun begitu, aku merasa sangat kasihan melihatnya siap sedia melayani Harry meskipun tanpa dibayar.
"Trims, Kreacher, tapi aku sebentar lagi kembali dari er―kamar mandi," kata Harry, kemudian cepat-cepat menuju kamar mandi.
"Apakah kau tidak lihat Harry memegang bekas lukanya dengan wajah kesakitan?" aku berkata pada Ron, yang asyik membaca catatan tentang Kementrian Sihir.
Dia mengangkat muka, "Apakah menurutmu itu bekas lukanya lagi?"
"Benar, dia telah membiarkan Voldemort masuk ke dalam pikirannya lagi, padahal Dumbledore menyuruhnya untuk berlatih Occlumency―"
"Kau tahu Harry tidak bisa Occlumency, Hermione," kata Ron.
"Dia bisa, hanya tidak mau berusaha," kataku tegas.
Ron mengangkat bahu, kemudian terdengar jeritan keras dari kamar mandi. Ron dan aku saling pandang sesaat dan segera berlari ke kamar mandi dengan tongkat sihir siap.
Dari dalam terdengar jeritan lagi.
"Harry, buka pintu!" kataku, menggedor pintu.
Pintu terbuka. Aku nyaris terjungkal, tapi menguasai keseimbangan lagi dan berdiri memandang sekeliling kamar mandi, sedangkan Ron, dengan tongkat sihir di tangan, memandang setiap sudut kamar mandi dengan curiga.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanyaku dengan curiga.
"Menurutmu apa yang kulakukan?" Harry balik bertanya memandangku dengan menantang.
"Kau tadi berteriak," kata Ron.
"Oh, aku pasti tertidur dan―"
"Aku tahu bekas lukamu sakit di bawah tadi, dan kau pucat pasi," kataku.
Harry duduk di pinggiran bak kamar mandi dan bercerita bahwa dia baru saja melihat seorang wanita dibunuh.
"Dengar, Dumbledore menginginkan kau menutup pikiranmu," kataku.
"Lupakan Dumbledore!" kata Harry. "Ini pilihanku, bukan pilihan orang lain. Aku ingin tahu mengapa dia mengejar Gregorovitch."
"Siapa dia?" tanya Ron.
"Dia pembuat tongkat sihir di luar negeri," kata Harry. "Dia yang membuat tongkat sihir Krum dan menurut Krum dia brilian."
"Tapi menurutmu," kata Ron. "Dumbledore sudah mengurung Ollivander di suatu tempat. Kalau dia sudah punya pembuat tongkat sihir untuk apa lagi dia perlu yang lain?"
Kemudian Harry mulai berbicara tentang tongkat sihirnya yang bisa mengalahkan tongkat sihir pinjaman Voldemort.
"Harry, kau terus saja bicara tentang apa yang dilakukan tongkat sihirmu," kataku, "tapi kau sendirilah yang membuat itu terjadi! Mengapa kau sengotot itu tidak mau bertanggung jawab atas kekuatanmu sendiri?"
"Karena kau tahu itu bukan aku! Dan begitu juga Voldemort! Kami berdua tahu apa yang terjadi sesungguhnya."
Aku sudah ingin membantah lagi, tapi Ron berkata,
"Sudahlah... terserah dia. Dan kalau kita mau ke Kementrian besok pagi, apakah menurutmu tidak sebainya kita meninjau lagi rencana kita?"
Dengan enggan, aku meninggalkan topik ini. Meyusup ke Kementrian Sihir adalah yang paling penting saat ini. Aku memberi Harry pandangan 'ini belum selesai kita akan bicara lagi nanti', lalu kembali ke dapur untuk mempelajari kembali denah dan fakta-fakta tentang Kementrian Sihir.
Malam itu tidurku tidak nyaman. Beberapa kali aku terbangun di malam hari, menatap langit-langit kamar, tempatku dan Ginny tidur saat tinggal di Grimmauld Place dua tahun lalu. Aku memikirkan rencana kami dan barang-barang yang harus kami siapkan: jubah, ramuan Polijus, Jubah Gaib, Detonator Pengalih-Perhatian... Pastiles Pemuntah dan Nogat Mimisan.
Setelah merasakan sudah saatnya untuk bangun, aku bangun berganti pakaian dan segera menuju dapur. Kreacher, yang tahu tentang perjalanan kami sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
"Miss Hermione, mau sarapan apa?" tanya Kreacher ramah.
"Kopi dan roti, Kreacher," kataku, tersenyum pada Kreacher.
Aku memandangnya yang bergerak dengan lincah di dapur, membuatku teringat akan SPEW.
"Sudah berapa lama kau ikut keluarga Black, Kreacher?" tanyaku ramah.
"Entahlah, Miss, Kreacher sudah ada di sini sejak Kreacher lahir dan Kreacher senang menjadi bagian dari keluarga Black."
"Kau tidak ingin menjadi peri-rumah yang bebas Kreacher?" tanyaku. "Kalau kau mau, Harry bisa melepaskanmu."
"Kreacher tidak ingin bebas, Miss," kata Kreacher. "Keacher bahagia menjadi milik keluarga Black. Keluarga Black adalah orang-orang baik... dan sekarang Kreacher telah menjadi milik Tuan Harry Potter, Tuan Harry Potter juga adalah orang baik..."
"Yeah, Harry memang orang baik," kataku, kemudian memutar kepala memandang perkamen yang ada di atas meja.
Ron dan Harry muncul di dapur saat kreacher sedang menyuguhkan kopi dan roti hangat untukku. Kami sarapan dalam diam, lalu naik ke atas untuk ber-Disapparate menuju Kementrian Sihir. Kreacher berjanji pai daging-dan-ginjal siap menyambut waktu kami pulang. Aku ber-Disapparate dengan Ron terlebih dahulu, kemudian kembali menjemput Harry.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami telah berdiri di atrium Kementrian Sihir dengan tubuh yang berbeda: Harry menjadi seorang bertubuh tinggi besar, entah bernama siapa, tapi orang itu telah pulang karena mimisan hebat. Ron menjadi Reg Cattermole, Reg yang asli telah pulang karena muntah-muntah. Aku menjadi Mafalda Hopkirk, asisten di Kantor Penggunaan Sihir Tidak Pada Tempatnya. Mafalda yang asli dibiarkan dalam keadaan pingsan di lorong gelap yang terkunci.
Kami bergabung dengan aliran para penyihir yang bergerak ke gerbang keemasan di ujung aula, sambil memandang berkeliling siapa tahu Umbridge muncul entah dari mana. Kami memasuki gerbang dan masuk ke ruangan yang lebih kecil, tempat orang-orang sedang mengantri lift, yang berjumlah sekitar dua puluh. Kami bergabung di antrean terdekat.
"Cattermole!"
Kami berpaling, dan melihat seorang berjubah megah dengan sulaman benang emas. Wajahnya berwarna merah karena marah. Beberapa orang yang mengantri bersama kami di depan lift tampak pucat dan ketakutan. Salah seorang dari mereka berkata, "Selamat pagi, Yaxley!", namun Yaxley tidak mengacuhkannya.
"Aku perlu orang dari Pemeliharaan Peralatan Sihir untuk membereskan kantorku. Masih hujan terus di sana."
Aku memandang Ron, dia tampak agak bingung. Aku membatin, apakah Ron lupa bahwa namanya sekarang adalah Cattermole.
"Hujan... dalam kantor Anda? Itu tidak baik, ya?" kata Ron, kemudian tertawa gugup.
Sialan, Ron! Tidak bisakah kau berkata 'Baiklah Yaxley, aku akan memeriksa kantormu nanti' atau hal seperti itu.
Yaxley tampak lebih marah dari sebelumnya. Dua penyihir wanita segera masuk ke dalam lift.
"Menurutmu itu lucu, Cattermole, begitu?"
"Tidak," kata Ron cepat. "Tidak, tentu saja―"
"Kau sadar bahwa aku sedang akan turun untuk menginterogasi istrimu, Cattermole? Aku heran sekali kau tidak di bawah sana untuk memegang tangannya sementara dia menunggu. Sudah menyesal menikah dengannya rupanya? Barangkali bijaksana. Pastikan lain kali kau menikahi darah-murni."
AKu memekik pelan, dan menyamarkannya menjadi batuk lemah saat Yaxley menatapku. Aku menyesal telah menyuruh Cattermole yang asli memakan Pastiles Pemuntah itu. Padahal dia harus bersama istrinya saat diinterogasi. Pantas saja dia tidak memakai jubah biru laut-nya karena dia bukan datang untuk bekerja, tapi untuk menghadiri menemani istrinya.
"Saya... saya..." gagap Ron.
"Tapi kalau istriku dituduh Darah-lumpur," kata Yaxley, "―walaupun perempuan mana pun yang kunikahi tidak mungkin sampah seperti itu―dan Kepala Depertemen Pelaksanaan Hukum Sihir perlu orang untuk suatu pekerjaan, aku akan memprioritaskan melakukan pekerjaan itu Cattermole. Kau mengerti maksudku?"
"Ya," bisik Ron.
"Kalau begitu, uruslah, Cattermole, dan jika kantorku belum sepenuhnya kering dalam waktu satu jam, Status Darah istrimu akan jauh lebih diragukan dari pada sekarang."
Kisi-kisi di depan kami berdentang. Yaxley memberikan anggukan dan senyum sangar pada Harry, nyata sekali ingin Harry mengapresiasikan perlakuannya pada Cattermole, kemudian melenggang meninggalkan kami. Kami segera masuk lift, tidak ada yang mengikuti kami masuk lift, kelihatannya mereka terlalu ketakutan untuk bergabung bersama kami.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ron, setelah lift berdentang tertutup dan mulai bergerak ke atas. "Kalau aku tidak ke sana, istriku―maksudku istri Cattermole―"
"Kami akan ke sana bersamamu, kita harus bersama-sama―"
Ron menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Itu gila, kita tidak punya banyak waktu. Kalian berdua cari Umbridge. Aku akan membereskan kantor Yaxley―tapi bagaimana aku menghentikan hujannya?"
"Cobalah Finite Incantatem," kataku, "itu akan menghentikan hujannya kalau hujan itu guna-guna atau kutukan. Kalau tidak berhenti berarti ada yang tidak beres dengan Mantra Atmosfer, yang akan jauh lebih sulit dibereskan. Jadi, sebagai tindakan sementara, cobalah Impervius untuk melindungi barang-barangnya―"
"Katakan lagi, pelan-pelan―" kata Ron, mencari pena-bulu dalam sakunya, namun lift bergetar berhenti, beberapa penyihir masuk, bersama beberapa pesawat kertas ungu muda yang beterbangan di langit-langit lift.
"Pagi, Albert," kata seorang pria berkumis lebat pada Harry.
Aku memandang Harry yang tersenyum secukupnya dan aku cepat-cepat membisikkan petunjuk pada Ron, yang dicatat Ron dengan tergesa-gesa, sementara si penyihir berkumis lebat terus berbicara pada Harry tentang Dirk Cresswell.
Lift berhenti; kisi-kisi membuka lagi.
"Tingkat Dua, Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir termasuk di dalamnya Kantor Penyalahgunaan Sihir Tidak Pada Tempatnya, Markas Besar Auror, dan Kantor Pelayanan Administrasi Wizengamot," kata suara dingin penyihir wanita tak bersosok.
Aku mendorong pelan Ron dan dia bergegas keluar mengikuti penyihir-penyihir lain. Aku memandangnya dengan cemas, aku takut Ron mungkin akan melakukan kesalahan dan merusak segalanya. Begitu pintu keemasan menutup lagi, aku berkata pada Harry, "Sebenarnya, Harry, kurasa lebih baik aku menyusul Ron. Kurasa dia tidak tahu apa yang dilakukannya dan kalau dia sampai tertangkap, seluruh rencana―"
"Tingkat Satu, Mentri Sihir dan Staf Pendukung-nya."
Kisi-kisi keemasan terbuka dan aku terkejut memandang empat orang yang berdiri di hadapan kami. Dua di antaranya sedang asyik berbicara: seorang penyihir pria berambut panjang, memakai jubah megah hitam keemasan, dan seorang penyihir perempuan gemuk-pendek, mirip kodok, memakai pita beludru di atas rambut pendeknya, dan memegangi clipboard ke dadanya
"Ah, Mafalda," kata Umbridge, memandangku. "Travers mengirimmu ke sini, ya?"
"Y-ya," gagapku, sedikit gemetar.
"Baguslah, kau cocok untuk tugas ini." Umbridge berbicara pada penyihir berjubah hitam keemasan. "Masalah ini beres, Pak Mentri, kalau Mafalda bisa dipinjam untuk tugas mencatat, kita bisa segera mulai." Dia mengecek clipboard-nya. "Sepuluh orang hari ini dan salah satunya istri pegawai kementrian! Wah, wah... bahkan di sini di jantung kementrian!" Dia masuk ke dalam lift disebelahku, begitu juga dua penyihir lain yang tadi mendengarkan percakapan Umbridge dan Mentri Sihir.
"Kita langsung turun, Mafalda, kau akan menemukan semua yang kau butuhkan dalam ruang sidang. Selamat pagi, Albert, kau tidak keluar?"
"Ya, tentu saja," kata Harry dalam suara berat Albert Runcorn.
Harry lalu keluar meninggalkanku bersama Umbridge dan dua penyihir lain.
"Hari ini hari yang menyenangkan, bukan?" kata Umbridge, tersenyum senang. "Sepuluh orang dan kalau beruntung kita akan langsung mengirim semuanya ke Azkaban."
Dia tersenyum licik, membuat tampaknya lebih mirip kodok.
"Dan salah satunya adalah istri pegawai kementrian... Siapa sangka? Ada pegawai kementria sihir yang menikah dengan Darah-Lumpur," kata Umbridge lagi, dia memandangku.
Aku mengangguk tersenyum.
"Ya," kataku singkat berharap cukup.
"Kau tentu tidak menduga betapa senangnya aku pada rezim baru ini, Mafalda," kata Umbridge lagi. "Sekarang tidak ada lagi sampah-sampah seperti Darah-Lumpur, kita akan mengirim mereka semua ke Azkaban. Dan dengan Profesor Snape sebagai kepala sekolah Hogwarts, kita dapat memangkas langsung para Darah-Lumpur dari awal."
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat-kuat, dan merasakan kuku-kuku tajam menghujam telapak tanganku. Memangkas langsung para Darah-Lumpur dari awal? Tidak ada lagi anak-anak kelahiran Muggle yang akan masuk Hogwarts, tidak ada belanja awal tahun ajaran di Diagon Alley bagi mereka. Bagaimana mungkin perempuan mengerikan seperti ini bisa menjadi Asisten Senior Mentri.
Umbridge memandangku dan wajahnya bersinar dengan sinar fanatik yang mengerikan.
"Dan aku juga sudah meminta pada Pak Mentri untuk membunuh semua turunan campuran," kata Umbridge. "Terutama, Manusia Serigala dan para centaurus. Bagaimana menurutmu?"
"Bagus sekali," jawabku berpura-pura antusias.
Lift terus bergerak dan dua penyihir yang bersama kami segera keluar dari lift ketika lift berhenti di tingkat empat: Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Sihir.
"Yang pertama adalah Alderton, memalsukan silsilah keluarganya, yang jelas dia adalah Darah-Lumpur. Setelah itu ada Mary Cattermole, istri pegawai kementrian, senang rasanya bisa menjebloskan sampah kementrian itu ke Azkaban."
Kami terus meluncur ke bawah dan segera turun lantai sepuluh. Umbridge keluar di lorong batu yang disinari cahaya obor yang berbeda dari lorong di atas yang dindingnya berpanel dan lantainya dilapisi karpet. Aku menatap dengan tergidik pintu hitam di ujung lorong, yang adalah Departemen Misteri.
"Mafalda, apa yang kau lakukan, ayo!" kata Umbridge.
"Maaf," dan aku segera keluar menyusulnya.
Lift meluncur ke atas meninggalkan kami. Kami melangkah menyusuri lorong dan membelok ke kiri, menuruni tangga menuju lorong lain yang gelap. Aku merasakan sekujur tubuhku dingin membeku, dan perasaan bahwa aku tidak akan pernah bahagia lagi menghantamku.
Dementor, pikirku.
Dan benar saja. Dementor: tinggi besar dengan kerudung hitam tanpa wajah, sedang melayang mengerikan di sekitar lorong tempat para Kelahiran-Muggle yang ditangkap sedang menunggu untuk disidang. Beberapa tampak ditemani oleh keluarga, sementara yang lain duduk sendirian dengan gemetar.
"Expecto patronum!" bisik Umbridge, dan kucing perak bercahaya muncul di depan kami, menjaga kami dari para Dementor.
Kami masuk ke ruang sidang tertutup, berlangit-langit tinggi. Lebih banyak Dementor di ruangan ini, mereka tampak prajurit tak berwajah di sudut-sudut yang paling jauh dari podium, tapi dengan adanya kucing perak di depan kami, Dementor itu tidak bisa mempengaruhi kami.
"Lama sekali, Dolores," kata Yaxley, dia sudah duduk di belakang langkan.
"Maaf, Yaxley," kata Umbridge, berjalan di podium. "Aku harus mencari orang untuk mencatat, dan Mafalda akan membantu kita."
Aku berjalan menyusul Umbridge dan duduk di sampingnya.
"Bagus... bagus, kita bisa mulai interogasinya, kalau begitu."
"Silakan, Yaxley!" kata Umbridge.
"Baiklah, kita mulai saja... Arlesius Alderton," kata Umbridge.
Seorang laki-laki, berwajah ketakutan, berumur sekitara awal empat puluhan dengan rambut pirang kotor masuk ke ruang sidang, bersama dua Dementor yang mencengkram lengannya dan mendudukkannya di satu-satunya kursi di tengah lantai tepat di bawah podium. Begitu dia duduk rantai-rantai menjulur keluar dari lengan kursi dan mengikatnya.
Umbridge mengambil clipboard-nya lagi dan mulai membaca, "Interogasi Kelahiran-Muggle, sesuai Keputusan Mentri Sihir nomor 12 bulan Agustus tahun 1997 tentang Kelahiran-Muggle dinyatakan sebagai penyihir jika memiliki hubungan darah dengan seorang penyihir, terhadap Alresius Bernadus Alderton. Interogator: Dolores Jane Umbridge, Kepala Komisi Registrasi Kelahiran Muggle; Charles Peter Yaxley, Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Panitera: Mafalda Ludwine Hopkirk."
"Kau Arlesius Bernadus Alderton, yang tinggal di Small Cheleston?"
Laki-laki itu mengangguk gemetar.
"Bekerja sebagai manager di toko Peralatan Quidditch Berkualitas?"
Dia mengangguk lagi.
"Kau telah mengisi kuesioner yang diberikan anggota Komisi Registrasi Kelahiran Muggle pada tanggal 30 Agustus."
"Benar..."
"Kau mengaku punya hubungan darah dengar Robert Donalson-Alderton, desainer Cleansweep, tapi setelah dikonfirmasi anggota Komisi Registrasi Kelahiran-Muggle diketahui bahwa hubungan darah itu palsu."
"Kami memang punya hubungan darah dengan Robert Donalson-Alderton," kata Alderton gemetar. "Kakek buyut kami bersaudara, kakekku itu Squib, sehingga kami tinggal di dunia Muggle dan melupakan keluarga penyihir kami, tapi kekuatan sihir itu baru muncul pada generasi ketiga, yaitu saat aku lahir."
"Omong kosong," teriak Yaxley.
"Kalau kakek buyutku masih hidup, kalian bisa bertanya padanya dan―"
"Mana berkasnya, Mafalda," kata Umbridge.
Aku segera membalikan tumpukan perkamen dan menarik sebuah perkamen dengan nama Arlesius Alderton ada pada bagian atasnya, aku segera menyerahkan perkamen itu padanya.
"Tadi kau mengatakan buyutmu Squib, di sini kau tertulis berdarah campuran..." kata Umbridge, membaca perkamen.
"Benar, selain buyutku penyihir, ayahku juga seorang penyihir dia adalah seorang desainer sapu―"
Yaxley menyeringai jahat.
"Arkie Alderton adalah seorang montir mobil yang tinggal di Wales," katanya.
"Tidak... tidak, kalian harus percaya padaku!" jerit Alderton.
"Bawa dia ke Azkaban!" kata Umbridge.
Alderton menjerit, ketika tangan-tangan berkeropeng dua Dementor di kiri-kanan kursinya, membawanya keluar. Di depan pintu dia menjerit,
"Tidak, tidak, saya berdarah-campuran, saya berdarah-campuran, sungguh! Ayah saya seorang penyihir, betul, silahkan dicek, Arkie Alderton, dia adalah seorang desainer sapu yang terkenal, coba cek―lepaskan saya, lepaskan sa―"
"Ini peringatan terakhir untukku," kata Umbridge, "Kalau kau memberontak kau akan mendapatkan kecupan Dementor."
Jeritannya langsung berhenti, diganti isakan.
"Bawa dia pergi," kata Umbridge. "Berikutnya―Mary Cattermole."
Seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut hitam yang disisir licin menjadi gelungan, masuk.
"Duduk," perintah Umbridge.
"Kau Mary Elizabeth Cattermole?"
Mrs Cattermole memberikan anggukan tunggal, gemetar sedikit.
"Menikah dengan Reginald Cattermole dari Departemen Pemeliharaan Peralatan Sihir?"
Airmata Mrs Cattermole bercucuran.
"Saya tak tahu di mana dia, dia mestinya menemui saya di sini!"
Umbridge tidak mengacuhkannya.
"Ibu Maisie, Ellie dan Alfred Cattermole?"
Mrs Cattermole tersedu lebih keras dari sebelumnya.
"Mereka ketakutan, mereka mengira saya mungkin tidak akan pulang―"
"Tidak usah mengiba-iba," sembur Yaxley. "Anak-anak Darah-lumpur tidak menggerakkan rasa simpati kami."
Aku mengerjapkan mata. Semua ini salahku, Mrs Cattermole tidak akan sendirian di sini kalau aku tidak memberikan Pastiles Pemuntah itu pada Reg Cattermole. Saat Umbridge berbicara lagi pada Mrs Cattermole, aku mendengar suara serak dan kasar di belakangku.
"Aku di belakangmu?" kata suara itu.
Aku terlonjak, nyaris menjatuhkan botol tinta. Ini pasti suara Albert Runcorn orang yang disaru Harry.
Umbridge dan Yaxley masih melanjutkan interogasi, mereka tidak mengetahui bahwa Harry baru saja bergabung dalam ruang sidang ini.
"Bisa kauberitahu kami dari penyihir mana kau ambil tongkat sihir itu?"
"A-ambil?" isak Mrs Cattermole. "Saya tidak m-mengambil dari siapa-siapa. Saya m-membelinya waktu umur saya sebelas tahun. T-tongkat itu memilih saya."
Umbridge tertawa lembut. Dia membungkuk di atas langkan, supaya bisa mengamati korbannya lebih jelas, dan sesuatu dari emas terayun ke mukanya juga dan berjuntai di udara kosong: liontin.
Aku menahan nafas. Liontin itu.
"Tidak, kurasa tidak Mrs Cattermole. Tongkat sihir hanya memilih penyihir. Kau bukan penyihir. Aku punya jawaban-jawabanmu atas kuesioner yang dikirim padamu di sini―Mafalda, berikan padaku."
Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku segera mencari berkas Mrs Cattermole di antara perkamen-perkamen yang bertumpuk-tumpuk, tanganku gemetar.
"Itu indah sekali, Dolores," kataku, menunjuk bandul kalung yang berkilau di antara lipatan rimpel blus Umbridge.
"Apa?" bentak Umbridge, memandang ke bawah. "Oh, ya―pusaka tua keluarga," katanya mengelus liontin yang terletak di dadanya yang besar. "Huruf S-nya singkatan dari Selwyn... aku masih keluarga Selwyn... memang hanya ada sedikit keluarga berdarah-murni yang tak ada hubungannya denganku... Sayang," dia melanjutkan dengan suara yang lebih keras, membolak-balikkan berkas Mrs Cattermole, "hal yang sama tak bisa dikatakan untukku. Pekerjaan orangtua: pedagang sayur-mayur."
Yaxley tertawa keras.
"Stupefy!" kata Harry, dan Umbridge terjungkal dengan dahi menghantam tepian langkan, kucing perak, yang tadi melindungi mereka kini lenyap. Yaxley bingung mencari suara tanpa wujud kemudian Harry mengacungkan tongkat sihirnya lagi dan Yaxley merosot ke bawah dan tergeletak meringkuk di lantai.
Para Dementor, yang awalnya terhalang oleh patronus Umbridge kini mulai mendekat Mrs Cattermole. Dia menjerit ngeri.
"Harry, Mrs Cattermole!" aku menjerit.
"EXPECTO PATRONUM!" teriak Harry, dan rusa jantan perak muncul dari tongkat sihirnya dan menerjang para Dementor.
"Ambil Horcrux-nya," kata Harry.
Aku segera mendekati Umbridge, membaliknya dan denga cepat melepaskan liontin itu dari lehernya.
"Hermione, bagaimana cara menyingkirkan rantai ini?" tanya Harry dari belakangku.
Aku mengangkat muka dan melihatnya sedang mencoba melepaskan rantai yang mengikat Mrs Cattermole di kursi.
"Tunggu, aku sedang mencoba suatu di sini," aku menyahuti Harry. Aku sedang mencoba membuat duplikat liontin itu.
"Hermione, kita dikepung Dementor," kata Harry lagi.
"Aku tahu, Harry, tapi kalau dia sadar dan liontinnya sudah tidak ada―aku harus membuat duplikatnya..." aku mengacungkan tongkat sihirku ke leher Umbridge, "Geminio! Nah ini akan membuatnya terkecoh..."
Aku segera berlari menuruni undakan, mendekati Harry yang sedang berkutat dengan rantai di tangan Mrs Cattermole.
"Coba kita lihat... Relashio!" kataku, dan rantai-rantai itu terlepas.
"Kau akan pergi dari sini bersama kami," kata Harry pada Mrs Cattermole. "Pulanglah, bawa anak-anakmu dan pergilah! Pergi keluar negeri kalau perlu. Kau sudah melihat bagaimana keadaannya, kau tidak akan mendapatkan sidang yang adil di sini."
Harry mengarahkan rusa jantan peraknya di pintu dan menyuruhku untuk membuat Patronus agar bisa melewati Dementor di depan pintu
Aku mencoba memikirkan saat-saat bersama orangtuaku, seperti yang aku lakukan saat latihan LD.
"Expec―expecto patronum!" seruku, mengacungkan tongkat sihir, namun tak ada yang terjadi.
"Ini satu-satunya mantra yang tidak begitu dikuasainya," aku mendengar Harry memberitahu Mrs Cattermole. "Agak kurang menguntungkan sebetulnya, ayo Hermione!"
Ya, nampaknya pikiran itu kurang membahagiakan. Aku memikirkan Ron, aku akan keluar dari tempat ini dan bertemu dengannya lagi.
"Expecto patronum!"
Seekor berang-berang perak muncul di udara, menyusul si rusa jantan perak.
Kami berjalan keluar mengikuti kedua Patronus yang sudah berjalan lebih dulu. Orang-orang yang menunggu di luar menjerit melihat kami, para Dementor mundur di kiri-kanan bergabung dalam kegelapan.
"Telah diputuskan kalian semua harus pulang dan pergi bersembunyi bersama keluarga kalian," kata Harry, memberitahu para kelahiran Muggle, yang disilaukan oleh cahaya Patronus. "Pergilah keluar negeri kalau kalian bisa. Pokoknya pergi sejauh mungkin dari Kementrian. Itu―er―keputusan resmi yang baru. Nah, sekarang kalau kalian mengikuti Patronus, sekarang kalian bisa keluar lewat Atrium."
Kami berhasil melewati tangga batu dan mendekati lift. Lift itu berdentang dan berhenti di depan mereka, dan Ron muncul dengan tubuh basah kuyup.
Mrs Cattermole segera memeluknya.
"Reg!" katanya, kemudian mengoceh tentang apa yang terjadi.
Ron melepaskan diri dan berkata pada Harry.
"Harry, mereka tahu ada pengacau di Kementrian, sesuatu tentang lubang di pintu kantor Umbridge. Kurasa kita punya waktu lima menit kalau itu―"
Aku memelik ketakutan lagi, dan Patronusku lenyap.
"Harry, kalau kita terperangkap di sini!" kataku kuatir.
"Tidak, kalau kita bergerak cepat," kata Harry, kemudian dia berbicara pada rombongan yang diam di belakang kami. "Siapa yang punya tongkat sihir?"
Separuh mengangkat tangan.
"Oke, kalian semua yang tidak punya tongkat sihir berpegang pada yang punya. Kita perlu bergerak cepat―sebelum mereka menghentikan kita. Ayo!"
Kami menjejalkan diri dalam dua lift. Sementara rusa jantan perak berjaga di depan lift, kedua lift itu mulai naik.
Kami muncul di atrium, dan melihat orang-orang bergerak ke perapian dan mulai menyegelnya.
"Apa yang harus kita lakukan," pekikku ketakutan.
"STOP!" teriak Harry dengan suara Runcorn yang menggelegar. Para penyihir yang sedang menyegel perapian membeku. "Ikut aku!" bisiknya pada para Kelahiran-Muggle yang ketakutan. Kami kemudian bergerak dalam kerumunan.
"Apa yang terjadi, Albert?" tanya seorang penyihir botak.
"Orang-orang ini perlu keluar sebelum kalian menyegel jalan keluar," kata Harry.
Rombongan penyihir di depan mereka saling pandang.
"Kami diperintahkan untuk menyegel semua jalan keluar dan tidak mengijinkan siapa pun―"
"Apakah kau membantahku?" gertak Harry. "Kau ingin aku memeriksa silsilah keluargamu seperti yang kulakukan pada Dirk Cresswell?"
"Sori," kata si penyihir botak terperanjat mundur. "Aku tak bermaksud apa-apa, Albert, tapi kupikir―kupikir mereka di sini untuk diinterogasi dan―"
"Darah mereka murni," kata Harry. "Lebih murni dari pada banyak di antara kalian, aku berani berkata. Ayo kalian pergi!" lanjutnya keras pada Kelahiran-Muggle.
Para Kelahiran-Muggle mulai menghilang dalam perapian. Para pegawai Kementrian tampak bingung, kemudian―
"Mary!"
Reg Cattermole yang asli muncul, tak lagi muntah-muntah. Ron mengumpat, sementara Mrs Cattermole tampak bingung memandang Ron dan Reg Cattermole.
"Hei, apa yang terjadi?"
"Segel jalan keluar! SEGEL!"
Yaxley baru saja berhambur keluar dari lift dan sedang berlari kekerumunan di sebelah perapian-perapian, tempat para kelahiran Muggle baru saja menghilang. Si penyihir botak mengangkat tongkat sihirnya dan Harry meninjunya dengan kepalan tinju Runcorn membuatnya melayang di udara dan jatuh di lantai dengan bunyi gedebuk keras.
"Dia membantu para Kelahiran-Muggle itu keluar, Yaxley," kata Harry.
Kolega si penyihir botak gempar. Dalam hiruk-pikuk itu aku melihat Ron menyambar pergelangan tangan Mrs Cattermole dan membawanya menghilang ke dalam perapian.
"Istriku! Siapa yang membawa istriku? Apa yang terjadi?" teriak Reg Cattermole asli.
"Ayo!" Harry menyambar tanganku dan kami menghilang dalam perapian, sebelum terkena mantra Yaxley.
kami berpusing selama beberapa detik, kemudian keluar di dalam toilet ke biliknya. Saat membuka pintu bilik, Ron sedang berkutat dengan Mrs Cattermole.
"Lepaskan, saya bukan suami anda, Anda harus pulang!"
Terdengar suara dari bilik sebelah. Yaxley baru saja muncul.
"AYO PERGI!" teriak Harry menyambarku dan Ron, kemudian ber-Disapparate.
Aku merasakan sensasi ber-Apparate dan sensasi lain. Aku merasakan tarikan pada ujung jubahku, aku tahu ada yang menyambar jubahku untuk ber-Disapparate bersama kami. Kami sudah melihat pintu Grimmauld Place nomor 12, saat aku melepas tangan Harry, mengucapkan Mantra Reaksi-Mendadak dalam kepalaku dan merasakan tarikan dari ujung jubahku terlepas. Aku mencengkram Harry dan Ron lagi dan ber-Disapparte: hutan tempat piala dunia Quidditch.
Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! Hanya sedikit ide ceritaku di chapter ini karena semuanya di ambil dari buku. See you in Kisah Ron dan Hermione chapter 7 part 4.
Riwa :D
