Nae Sunbae

.

.

Dhienhie Fujoyerelf

.

.

Genre: TeenRomance, Drama, Littlehurt

.

.

Rate: T

.

Lenght: Chaptered

.

.

Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D

.

.

Warning: YAOI, Typo(s), DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!

.

.

.

enJOY~

CHAPTER 9

.

~(*o*)~

.

This fict is dedicated..

To the world biggest shipper..

The JOYers..

Bel berakhirnya pelajaran telah berbunyi hampir tiga puluh menit yang lalu. Sungmin memukul-mukul kepalanya dengan gerakan dramatis, namja manis yang saat ini tengah berada dalam salah satu bilik restroom itu terlihat berputar-putar gelisah dalam ruangan gerak terbatas itu.

"Oh Tuhan, Lee Sungmin bodoh, apa yang sudah kau lakukan?" gumam Sungmin sambil mengumpat dirinya sendiri. Setelah bosan memukul-mukul kepalanya, Sungmin beralih menghadapkan tubuhnya pada tembok yang ada di sebelahnya. Menatap tembok bercat putih itu dengan perasaan tak menentu kemudian bergumam seolah-olah dirinya tengah berdiri di depan cermin.

"Heh, kenapa otakmu tak pernah berfungsi dengan baik Lee Sungmin?" ujarnya sambil menunjuk-nunjuk tembok di depannya seolah-olah tembok itu adalah cermin yang bisa memantulkan bayangannya.

"Kenapa kau melakukan itu bodoh?"

Sungmin masih setia mengumpat pada dirinya, setelah berhasil keluar dari ruangan sepi, gelap, dan pengap yang sampai saat ini tidak Sungmin ketahui namanya, namja manis itu buru-buru berlari ke kelas meninggalkan Kyuhyun yang masih tersenyum-senyum di belakangnya.

Pikiran Sungmin melayang pada saat-saat Kyuhyun menciumnya tadi. Ya, Sungmin akui dengan segala kerendahan hatinya, ciuman yang Kyuhyun lakukan padanya tadi adalah salah satu tipe ciuman yang selama ini Sungmin khayalkan.

Tapi masalahnya, pelakunya adalah Cho Kyuhyun. Namja itu masih sempat-sempatnya menyeringai usil setelah melepas tautan bibirnya dengan Sungmin.

"Hahh~ dasar bodoh! Bisa saja dia hanya mempermainkanku," gumam Sungmin sambil menunjuk sadis kepalanya sendiri.

Puas mengomel pada dirinya sendiri, Sungminpun memilih menyandarkan tubuhnya pada tembok yang tadi menjadi cermin tak kasat mata baginya. Pikirannya mau tak mau melayang pada kejadian di ruang misterius tadi. Sampai saat ini Sungmin masih bisa merasakan bagaimana detak jantungnya seolah berlomba mencapai finish setiap mengingat kata-kata yang Kyuhyun ucapkan untuk menyampaikan perasaannya.

Kaku namun cukup memicu detak jantung karena kegugupan yang Sungmin rasakan.

Perlahan tangan Sungmin terangkat dan bergerak menyentuh bibirnya. Lengkungan manis perlahan terbentuk di bibir plump namja kelahiran Januari itu. Sampai saat ini Sungmin seolah masih bisa merasakan bagaimana bibir Kyuhyun bergerak lembut di atas bibirnya.

Terlalu manis hingga Sungmin lupa jika namja Cho itu telah merebut ciuman pertamanya dengan tidak berpri-keciuman. Seandainya Cho jelek itu tidak merusak suasana dengan seringai menyebalkannya itu, mungkin Sungmin masih berada di sana, menghabiskan waktu berjam-jam sambil menikmati romansa sesaat yang Sungmin rasakan tadi.

Yah, berjam-jam~

"Eh! Jam?" sentak Sungmin pada dirinya sendiri.

Namja manis bermarga Lee itu buru-buru menatap pergelangan tangannya, lebih tepatnya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"HAH!" seruan panik bercampur kaget itu terdengar dari Sungmin, namja manis itu mendelik horor ke arah jam tangannya.

"Bagus Lee Sungmin, setelah tidak masuk tanpa keterangan yang jelas kau akan datang terlambat sekarang. Bagus sekali!" komentar Sungmin pada dirinya sendiri saat menyadari jam kerjanya akan dimulai 45 menit lagi sementara Sungmin harus mengunjungi sebuah tempat sebelum pergi menuju tempat kerjanya.

Yang harus Sungmin lakukan sekarang adalah keluar dari restroom, menghindari orang-orang yang akan semakin memperpendek waktu yang ia punya, khusunya namja bernama Cho Kyuhyun.

Tak ingin membuang waktu yang tersisa, Sungmin bergegas keluar restroom, melangkah waspada seperti seorang pencuri yang selesai melakukan aksinya dan bersiap untuk kabur. Sesekali Sungmin bergerak menoleh ke arah sekitarnya, koridor sekolah masih menyisakan beberapa siswa yang menyibukkan diri dalam kegiatan masing-masing, walaupun faktanya mereka menyempatkan diri untuk menatap Sungmin dengan pandangan "Demi apa namja itu harus menjadi kekasih Cho Kyuhyun."

Karena ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu, Sungminpun memilih mengabaikan tatapan itu sambil terus melangkah melintasi koridor yang cukup lengang. Sungmin mendadak parno, Kyuhyun itu seperti hantu, muncul dan pergi seenaknya. Bisa saja di ujung koridor sana namja Cho itu tiba-tiba muncul kemudian menyeret Sungmin sesuka hati seperti yang biasa dilakukannya.

"Aish! Apa sih yang kupikrikan," gerutu Sungmin sambil berdesis pada dirinya sendiri. Mungkin Kyuhyun benar, Sungmin terlalu negative thinking padanya.

'Lupakan Cho Kyuhyun dan pergi ke tempat kerjamu sekarang, Lee Sungmin!' bentak batin Sungmin seolah menyentak kesadaran Sungmin.

Namja manis itu mempercepat langkah kakinya, nyaris berlari melintasi koridor untuk mencapai pintu keluar Gyeohryseong School.

"Hai!"

"Huwaaaaaaa!"

Sungmin nyaris terjengkang. Dugaannya tak sepenuhnya meleset, tepat saat dirinya akan berbelok di ujung koridor, tampak sosok tinggi berwajah oriental yang tiba-tiba muncul seperti hantu.

"Kau terkejut sekali sepertinya," komentar sosok itu saat melihat Sungmin menghembuskan napas dengan ekspresi wajah yang jelas melukiskan jika ia terkejut dengan kemunculan sosok itu.

"Kupikir Zhoumi sunbae siapa, kenapa muncul tiba-tiba?" ucap Sungmin nyaris menyerupai omelan.

Zhoumi –sosok tinggi yang membuat Sungmin terkejut itu hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah lucu Sungmin.

"Kau ini. Memangnya kau pikir siapa? Kyuhyun?" tebak Zhoumi membuat ekspresi terkejut Sungmin perlahan berganti ekspresi kikuk.

"Bukan, bukan begitu."

"Aku memperhatikanmu dari sini sejak tadi, kau saja yang tidak sadar. Sepertinya kau sedang terburu-buru."

"Ya, aku memang harus segera pergi."

"Ke tempat kerja?" tanya Zhoumi.

Sungmin mengedikkan bahunya kemudian mengangguk.

"Sebagai hadiah atas peresmian hubunganmu dengan Kyuhyun, aku akan mengantarmu pergi ke tempat kerja hari ini. Eotte?" tawar Zhoumi sambil mengukir senyum ramah yang selalu Sungmin sukai, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan bagaimana tampannya wajah Zhoumi dengan senyuman seramah itu.

"Tidak usah sunbae, aku bisa pergi sendiri."

Zhoumi memudarkan senyum di wajahnya kemudian memasang ekspresi sedih.

"Ayolah~"

Sungmin bergerak melirik sekitarnya, situasi memang sepi namun tidak ada yang tahu kan kapan Kyuhyun muncul, bisa jadi keberadaan Zhoumi di sini juga atas perintah Kyuhyun kan? Salah-salah Sungmin tidak bisa pergi ke restoran tempatnya bekerja.

"Ah, sunbae~ maaf sebelumnya tapi aku benar-benar harus pergi sekarang, aku tidak punya banyak waktu. Aku bisa terlambat," Sungmin berucap seperti itu dengan tujuan agar Zhoumi segera membiarkan Sungmin pergi, namun tujuan Sungmin justru membuat senyum Zhoumi kembali mengembang.

Seolah tak mempedulikan bagaimana Sungmin, Zhoumi bergerak merangkul Sungmin.

"Nah! Karena kau akan terlambat jika tak segera pergi, berarti aku harus mengantaramu," ucap Zhoumi seenaknya.

"Tidak, tidak! Maksudku aku harus pergi ke sebuah tempat, jadi sunbae tak perlu mengantarku," elak Sungmin masih berusaha menolak dengan sopan.

"Aku akan mengantar kemanapun kau pergi," lagi-lagi Zhoumi berucap seenak kepalanya sambil memaksa Sungmin melangkah bersamanya.

"Bukan begitu, maksudku-"

"Tidak ada penolakan Lee Sungmin, tenang saja Kyuhyun tidak akan marah hanya karena aku mengantar kekasihnya."

"Astaga, bukan itu maksudku-"

"Oke! Hanya mengantar sampai tempat yang akan kau kunjungi dan aku tak menerima penolakan lagi," putus Zhoumi membuat Sungmin hanya bisa meringis pasrah. Namja manis itu hanya bisa mengikuti langkah Zhoumi dengan perasaan harap-harap cemas, entah kenapa Sungmin merasa jika Kyuhyun tengah mengawasinya saat ini.

'Mungkin karena aku terlalu khawatir bertemu dengannya,' pikir Sungmin kemudian menatap Zhoumi yang tengah tersenyum ke arahnya.

"Sungguh, hanya sampai tempat yang akan kau kunjungi," ucap Zhoumi meyakinkan Sungmin.

Sungmin hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari membalas senyum ramah Zhoumi. Ya, setidaknya dengan niat baik Zhoumi untuk mengantarnya, Sungmin mungkin bisa memperpendek waktu keterlambatan.

"Terimakasih sunbae," ucap Sungmin dengan tulus membuat Zhoumi tertawa kecil kemudian mengacak pelan rambut halus Sungmin.

Mereka melangkah bersama, terus melangkah bersama hingga ujung koridor berikutnya menelan tubuh mereka berdua. Sungmin mungkin mengabaikan apa yang tengah dirasakannya, namun seandainya Sungmin menolehkan kepalanya sebelum menghilang diujung koridor bersama Zhoumi, ia akan menemukan Kyuhyun di sana. Berdiri diam menatap bagaimana Zhoumi –sahabat yang sangat dipercayainya bertindak selancang itu.

'Tenang saja Kyuhyun tidak akan marah hanya karena aku mengantar kekasihnya.'

Ucapan Zhoumi yang sempat Kyuhyun dengar tadi seolah berputar-putar di kepalanya. Atas dasar apa Zhoumi berbicara seperti itu jika faktanya dia mengenal baik bagaimana Kyuhyun.

Cho Kyuhyun tidak pernah suka jika orang lain menyentuh apapun yang menjadi miliknya tanpa izin.

Awalnya Kyuhyun mengikuti Sungmin diam-diam, ia sadar betul jika Sungmin berusaha menghindarinya, dari gerak-gerik Sungmin yang terlihat seperti pencuri bersiap kabur itu Kyuhyun sudah tahu jika Sungmin tak ingin bertemu dengannya untuk saat ini.

Sungmin keras kepala dan selalu mengedepankan harga diri beserta gengsinya, mungkin Sungmin masih malu setelah kejadian di ruangan misterius tadi, tapi Kyuhyun justru tersenyum. Tingkah Sungmin yang seperti itu terlihat sangat lucu di matanya.

Namun, senyum Kyuhyun langsung menguap tak berbekas saat namja Cho itu melihat Zhoumi muncul kemudian membawa Sungmin pergi seolah-olah Kyuhyun tak ada di sana, dan ini bukan bagian dari keingian Kyuhyun.

Tangan Kyuhyun perlahan terkepal kuat, senyum sinisnya berganti dengan senyum penuh ejekan yang tak jelas Kyuhyun tujukan untuk siapa.

"Kau berulah lagi, Zhou," gumam Kyuhyun kemudian melangkah pergi dengan wajah tanpa ekspresinya.

Henry masih berdiri di posisinya, ia melihat semuanya sejak awal bahkan bisa dikatakan jika ini adalah salah satu keinginan konyolnya.

Sungmin pergi bersama Zhoumi dan Kyuhyun yang mengaku dengan lantang sebagai kekasih Sungmin hanya bisa berdiam diri seperti orang bodoh, membiarkan kekasihnya pergi bersama sahabatnya sendiri.

Terdengar sangat dramatis memang, namun itulah keinginan konyol Henry.

Satu senyum sinis terlukis di bibir Henry, namja bermarga Kim itu hanya bisa menatap punggung Kyuhyun dan koridor yang yang telah menelan bayangan Sungmin dan Zhoumi, kemudian bergumam pelan.

"Dasar bodoh!"

.

~(*o*)~

.

Shindong baru saja pulang dari pekerjaannya. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana murid-murid Kindergarten memujinya dengan kata-kata tulus khas anak kecil.

Setelah meneguk segelas air, Shindong berniat mendudukkan tubuh lelahnya di kursi sambil membaca koran yang Sungmin bawa dari tempat kerjanya tadi. Namun, niatnya menguap begitu saja saat namja tambun itu mendengar bunyi bel rumahnya.

"Eh? Apa Sungmin pulang sebelum pergi ke restoran?" gumam Shindong sambil menatap pintu flat.

Tapi, jika itu Sungmin mana mungkin masih terdengar bunyi bel? Biasanya Sungmin akan langsung membuka pintu dan berteriak "Appa, aku pulang."

"Siapa yang bertamu ya?" monolog Shindong sambil melangkah menggunakan tongkatnya menuju pintu.

Terbiasa dengan kondisinya membuat Shindong tak kesulitan saat membuka pintu. Di depan pintu rumah tampak tiga orang namja berpakaian formal namun bukan serba hitam seperti pakaian yang biasa digunakan suruhan keluarga Cho.

"Annyeong, ada yang bisa saya bantu?" tanya Shindong sambil berusaha mencari fokus tatapan satu namja berkacamata hitam yang kini berdiri di hadapannya.

"Dengan Lee Shindong?" tanya balik namja itu dengan nada angkuh. Kepalanya bergerak seolah mengamati Shindong dari balik kaca mata hitamnya.

"Ne, saya Lee Shindong. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Shindong berusaha tenang walau sejujurnya ia mulai sedikit terganggu dengan sikap aneh namja-namja di hadapannya.

"Boleh kami masuk?"

Seolah menyadari ketidaksopanannya, Shindongpun segera mundur. Memberi ruang agar tamunya bisa masuk ke dalam flat kecilnya.

"Silahkan, maaf sedikit berantakan."

Namja berkacamata hitam yang menjadi tamu Shindong tak menjawab apapun, yang ia lakukan hanyalah menatap setiap sudut ruangan flat dari balik kacamatanya sambil menyunggingkan senyum sinis.

"Silahkan duduk, saya siapkan minum-"

"Tidak perlu repot-repot," sela namja berkacamata hitam sambil menatap Shindong lagi-lagi dari balik kacamatanya.

"Aku kemari hanya untuk beberapa hal," lanjut namja itu kemudian membuka kacamatanya.

Satu kesan pertama yang Shindong dapatkan dari namja di hadapannya, sosok di depannya adalah namja yang sangat tampan namun terlalu angkuh hingga tak ada sedikitpun kesan baik yang terlukis di wajahnya.

"Ne? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Shindong mengulang pertanyaan yang sama.

"Bantuan yang kami butuhkan darimu tidak banyak, dan jika kau bersedia semuanya akan menjadi lebih baik."

Karena tak mengerti maksud pembicaraan namja di hadapannya, Shindong hanya bisa terdiam, mencerna ucapan namja itu kemudian melontarkan pertanyaannya.

"Maksud tuan?"

"Kau mengenal Cho Kyuhyun?"

Shindong menahan napas beberapa saat, menatap namja di depannya dengan pandangan serius kemudian mengangguk yakin.

"Ya, saya mengenalnya."

Namja itu menghela napas, sedikit tersenyum konyol kemudian mengentalkan tatapan angkuhnya saat pandangannya bertemu dengan tatapan penuh tanya yang Shindong layangkan.

"Katakan pada putramu yang tidak tahu diri itu untuk segera menjauhi Cho Kyuhyun."

Shindong tertegun. Kenapa namja yang sama sekali tak dikenalnya ini berkata seperti itu? Dan apa katanya?

Putramu yang tidak tahu diri?

Siapa yang tidak tahu diri?

Sungmin kah?

Yang benar saja!

"Jaga ucapanmu Tuan yang terhormat!" tukas Shindong terpancing emosi.

"Aku hanya menyampaikan apa dan seharusnya kalian lakukan sebelum kau dan putramu benar-benar menyesal."

"Kau boleh menghinaku tapi tidak dengan putraku!" teriak Shindong kemudian mengangkat satu tongkatnya berniat memukul namja angkuh yang berdiri tak jauh di hadapannya.

Namja itu berhasil menghindar hingga Shindong terhuyung dan beberapa langkah dari posisinya. Dua namja yang sejak tadi hanya berdiam diri mulai bergerak melindungi namja berkacamata hitam, berniat menyerang Shindong namun namja itu segera menghalaunya. Matanya bergerak sinis menatap tubuh Shindong terutama kakinya.

"Hanya sebatas itu kemampuanmu, huh?"

Shindong semakin meradang mendengar penuturan namja itu, ia kembali menyerang namja itu dengan tongkatnya, berusaha menempatkan pukulannya namun namja berkacamata hitam berhasil mengelak dan menangkap tongkat Shindong.

"Cih! Untuk berdiripun kau masih meminta belas kasihan benda mati. Kau. Bukan. Tandinganku. Tua Bangka!"

BRAK!

.

~(*o*)~

.

Zhoumi menghentikan mobilnya di depan sebuah toko kecil yang ada di sebelah rumah sakit. Namja tinggi itu mengamati toko yang Sungmin tunjuk.

"Aku bisa menunggumu di sini, setelah itu aku akan mengantarmu," ucap Zhoumi saat mengamati Sungmin yang tengah membuka seatbeltnya.

Sungmin menggelengkan kepalanya, mengukir senyum seolah menunjukkan dirinya akan baik-baik saja. Zhoumi hanya bisa menghela napas.

"Baiklah, aku sedikit kecewa karena kau tak membiarkanku untuk menyelesaikan hadiahku," kata Zhoumi sambil memasang ekspresi kecewa yang terlihat sangat lucu di mata Sungmin.

"Haha, sunbae terlalu berlebihan. Aku harus turun sekarang, hati-hati di jalan ne?" pamit dan pesan Sungmin saat namja manis itu membuka pintu mobil.

Zhoumi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Tangannya terangkat kemudian melambai pelan seolah menunjukkan kata 'sampai berjumpa lagi' dan Sungmin hanya bisa membalas lambaian tangan Zhoumi setelah ia turun dan kembali menutup pintu mobil.

Mobil Zhoumi melaju perlahan meninggalkan Sungmin yang kini berjalan menuju toko kecil yang menjadi salah satu tujuannya.

Sementara Zhoumi terlihat menggenggam kuat kemudinya, matanya melirik ke arah spion mobil, bukan mengamati Sungmin melainkan mengamati satu mobil lain yang sejak tadi mengikuti mobilnya.

Mobil sport hitam bermerk Lamborgini itu masih berada di belakangnya, bedanya mobil itu tak lagi mengikutinya.

Zhoumi menghela napas kemudian menyandarkan punggung dan kepalanya pada jok mobilnya. Matanya terpejam sejenak kemudian kembali terbuka, menunjukkan bola matanya yang tengah diliputi sinar kebimbangan.

"Lupakan persahabatan. Aku sudah melangkah sejauh ini. Maaf, Kyuhyun-ah," monolog Zhoumi kemudian menginjak dalam gasnya, mengendarai mobilnya seperti pembalap liar mengabaikan umpatan-umpatan yang mungkin dilayangkan beberapa pengendara mobil yang tak suka dengan tindakannya.

.

.

.

Sungmin memasuki toko kecil itu dengan perasaan cemas, sudah dua hari lebih Sungmin tak mengunjungi tempat ini.

Seolah tak mempedulikan tatapan aneh beberapa pengunjung toko, Sungmin bergerak buru-buru, menghampiri salah satu sudut toko yang selama ini memang menjadi salah satu sudut ter-favorite-nya.

Helaan napas lega terdengar cukup keras dari mulut Sungmin saat benda yang selama ini menjadi incarannya masih berada di posisinya seolah tak tersentuh sama sekali.

"Hei Sungmin-ah! Kenapa dengan wajahmu?" seru seorang wanita yang duduk tenang di meja kasir.

Jarak Sungmin dengan meja kasir memang tak terlalu jauh mengingat toko ini hanyalah toko kecil.

"Oh, hai ajjuma. Tidak apa-apa, hanya luka kecil. Maaf aku tidak mengunjungimu beberapa hari terakhir," sahut Sungmin sambil menatap bergantian dua benda yang menjadi incarannya.

"Oh syukurlah. Tenang saja, demi anak manis sepertimu aku tidak akan menjualnya pada siapapun," ucap si ajjuma sambil melayani pelanggan yang membayar barang beliannya.

Sungmin tersenyum lebar kemudian menganggukkan kepala penuh terimakasih. Tangannya bergerak menyentuh benda berbentuk kaki itu dengan gerakan pelan.

"Sudah berkal-kali ku katakan pegang saja, benda itu tidak akan rusak apalagi pecah hanya karena kau pegang," suara ajjuma penjaga kasir lagi-lagi terdengar membuat Sungmin tersenyum kecil.

"Satu atau dua bulan lagi aku akan membawa salah satu benda ini ajjuma, tabunganku sedikit lagi cukup. Kruk milik appa sudah lusuh dan tak cukup membantu pergerakannya tapi seperti saran ajjuma, kurasa kaki palsu lebih baik," ucap Sungmin.

"Apapun yang kau pilih nanti, aku yakin jika appamu adalah ayah paling beruntung di dunia karena memiliki anak sepertimu," ucap ajjuma penjaga kasir membuat Sungmin tersenyum malu.

"Ajjuma jangan terlalu sering memujiku."

"Wae? Aku senang melihat wajah manismu memerah karena putraku tak pernah merespon saat kugoda."

Sungmin cekikikan seperti bocah berusia delapan tahun setelah mendengar penuturan ajjuma penjaga kasir.

"Nah, anak manis! Sepertinya kau harus segera pergi, bus akan segera datang."

"Ah iya!" seru Sungmin kemudian menatap jam tangannya.

"Ajjuma aku pergi ne? Bersabar sampai dua bulan lagi, aku pasti membelinya. Annyeong!" seru Sungmin sambil melangkah buru-buru keluar toko.

Ajjuma penjaga kasir hanya bisa menganggukkan kepalanya, tersenyum haru saat menatap punggung Sungmin yang perlahan menghilang, namja kecil itu pasti berlari menuju halte yang berada tak jauh dari toko.

Ya, awalnya ia cukup terganggu dengan kedatangan Sungmin yang sering sekali mengunjungi tokonya namun keluar tanpa membeli apapun, saat itu kruk lengan atau kruk Losftrand yang selama ini selalu Sungmin lihat nyaris dibeli orang lain. Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana Sungmin menangis dan memohon agar kruk yang cocok untuk orang-orang yang memiliki cacat permanen itu tak dijual.

"Anak itu~"

KLING!

Bunyi bel pertanda masuknya pembeli membuat ajjuma penjaga kasir tersadar, yeoja paruh paya itu nyaris meneteskan liur saat matanya menangkap sosok luar biasa tampan tengah berdiri di pintu masuk tokonya.

Tidak seperti pembeli lainnya yang langsung masuk dan memilih benda yang ingin ia dapatkan, sosok itu justru menatap setiap sudut toko dengan pandangan menilai.

Beberapa pengunjung lainnya juga seolah ditarik untuk menatap si pusat perhatian. Namja jangkung berkulit pucat itu mulai melangkah menuju meja kasir. Menatap ajjuma penjaga kasir yang seolah tak bisa melepaskan matanya dari wajah tampan sosok yang mengunjungi tokonya.

"Apa yang namja kecil tadi lakukan di sini?" tanya sosok itu.

Ajjuma penjaga kasir terlihat mengerjabkan matanya berusaha meraih kesadarannya.

"Ne? Ada yang bisa saya bantu?"

Sosok itu berdecak pelan, nyaris memutar bola matanya namun ia menahan itu sebisa mungkin. Ia sadar jika cara bicaranya saja sudah terkesan tidak sopan.

"Namja kecil tadi. Apa yang ia lakukan sebelum keluar dari sini?" ulangnya.

"Eoh? Banyak namja kecil yang mengunjungi toko-ku. Namja yang mana?"

"Yang baru saja pergi. Namja kecil yang –aku tidak tahu kau mengenalnya atau tidak, tapi namanya Lee Sungmin."

"Oh Sungmin!"

"Ya, apa yang ia lakukan tadi?"

Ajjuma penjaga kasir terlihat mengerutkan kening kemudian menatap sosok di hadapannya dengan pandangan curiga. Hal itu sontak mengundang decakan malas.

"Aku kekasihnya dan dia sedang menghindariku."

"Benarkah? Sungmin sudah memiliki kekasih?"

"Ya. Jadi bisakah kau mengatakan apa yang dilakukannya tadi?"

Ajjuma penjaga kasir kembali mengerutkan kening, berusaha mengenali wajah sosok yang terasa tidak asing baginya.

"Sepertinya~"

"Aku Cho Kyuhyun dan bisakah kau segera menjawab pertanyaanku?"

Seolah kehilangan kata-katanya, ajjuma penjaga kasir hanya bisa melongo kaget.

"Ch-Cho Kyuhyun? Cho Kyuhyun putra keluaraga Cho? Pemilik rumah sakit sebelah? Benarkah?"

Kyuhyun nyaris menggebrak meja saat pertanyaan tak penting itu kembali mampir di telinganya.

"Aku bertanya sekali lagi bisakah kau mengatakan apa yang Sungmin lakukan di sini tadi!"

Ajjuma penjaga kasir tersentak dari ke-ecxited-annya. Wanita paruh baya itu hanya bisa menganggukkan kepalanya kemudian menghela Kyuhyun untuk melihat apa yang selalu Sungmin lakukan setiap mengunjungi tokonya.

.

~(*o*)~

.

Sungmin memasuki pelataran restoran dengan perasaan berdebar. Wajah galak Tuan Hwang -bosnya sejak tadi tergambar dalam pikiran Sungmin. Sebenarnya Sungmin tak yakin masih bisa bekerja di sini atau tidak, bosnya adalah tipikal pemimpin yang perfeksionis. Satu kali tak masuk kerja tanpa keterangan sudah menyebabkan pemotongan gaji apalagi Sungmin yang tidak masuk lebih dari dua hari, bisa habis gajinya bulan ini dan kemungkinan terburuknya adalah katakan selamat tinggal untuk pekerjaannya.

"Oh Tuhan, selamatkan aku~" gumam Sungmin saat kakinya memasuki pintu masuk restoran.

Sambil terus mengatur napas dan detak jantungnya, Sungmin melangkah ke arah satu namja yang berdiri membelakanginya di depan sana. Gaya bosnya berdiri akan selalu seperti itu, bersedekap seperti orang-orang yang tengah berada di musim dingin.

Suara riuh dari setiap meja terdengar bersahutan, Sungmin sedikit terheran saat melihat seluruh meja nyaris terisi penuh dengan pengunjung, bahkan ada beberapa pengantre yang berdiri di depan meja kasir. Restoran sedang dalam kondisi sangat sibuk.

"Annyeong~" sapa Sungmin nyaris mencicit. Kepalanya setia menunduk menunggu bosnya membalikkan tubuh, menatapnya dengan pandangan marah, kemudian mendamprat Sungmin dengan kata-kata memalukan.

'Ya ampun,' batin Sungmin tak enak hati.

Sungmin mengerjabkan matanya, hampir seperempat menit ia menunduk seperti orang bodoh menunggu bosnya mengucapkan sesuatu namun tak ada satu katapun yang terdengar ke telinganya. Karena merasa aneh, Sungminpun sedikit mendongakkan kepalanya. Mengintip bosnya dan mendapati tatapan datar dari mata galak namja bertubuh tinggi besar di hadapannya.

"Annyeong bos," sapa Sungmin lagi, sedikit kikuk kali ini.

Sungmin berniat kembali membungkuk saat pelukan dan seruan keras itu menyambar tubuh dan gendang telinganya bersamaan.

"Sungmin-ahhhh! Kau yang terbaiiiikkkkk!"

Sungmin mengerjab-ngerjab tak mengerti, tubuhnya berputar-putar karena bos yang tengah memeluknya tengah memutar-mutar tubuhnya sambil berseru senang seperti penjudi yang baru saja menang besar.

"A-aduh!" ringis Sungmin saat bosnya sedikit mengguncang-guncang tubuh Sungmin.

"Ah? Kenapa? Apa aku terlalu keras memelukmu? Mana yang sakit?" tanya Tuan Hwang setelah melepas pelukan kejamnya di tubuh Sungmin.

Sungmin hanya menggelengkan kepalanya, berusaha tersenyum sambil menatap bingung pada bosnya.

"Tidak apa-apa bos."

"Ah? Kenapa kau sudah bekerja? Apa kau benar-benar sudah sehat?"

Sungmin hanya bisa menganggukkan kepalanya, masih sedikit bingung dengan tingkah bosnya. Dia sudah tidak datang bekerja dan kini ia berteriak memuji Sungmin, apa ini trik baru bosnya sebelum memecat Sungmin.

Diangkat setinggi mungkin sebelum dijatuhkan ke dasar jurang terdalam.

Eh? Tapi dari mana bosnya tahu jika Sungmin tidak datang bekerja karena sakit?

"Ah, maaf karena aku tidak datang bekerja beberapa hari terakhir bos," ucap Sungmin sambil membungkukkan tubuhnya.

Tuan Hwang tertawa kemudian menepuk bahu Sungmin.

"Gwaenchana, semua yang kau lakukan sudah lebih dari cukup. Aku beruntung memiliki pegawai sepertimu, Sungmin-ah!"

Sungmin yang tak mengerti maksud bosnya hanya bisa mengerutkan keningnya.

"Semua yang ku lakukan? Memangnya aku melakukan apa?" gumam Sungmin bingung.

Tuan Hwang mendengar gumaman Sungmin.

"Kau ini pura-pura tidak tahu, jangan selalu merendah Sungmin-ah. Bukankah kau yang mengirim mereka untuk bekerja di sini menggantikanmu untuk sementara waktu. Kau tahu? Jumlah pelanggan kita naik 3 kali lipat! Aku bangga padamu!"

Mengirim mereka?

"Mereka siapa?" tanya Sungmin.

"Tambang emasku, Sungmin-ah!"

Tuan Hwang lagi-lagi tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian menunjuk ke arah meja pesanan.

Sungmin nyaris memekik melihat siapa yang berdiri di sana.

'Astaga! Apa yang mereka lakukan?' batin Sungmin memekik kuat.

"Hai Sungmin!" sapa Ryeowook saat melewati Sungmin dengan senampan besar pesanan pelanggan.

Demi seluruh benda pink yang ada dunia Sungmin tak percaya jika tiga namja yang menjadi tambang emas bosnya adalah Ryeowook, Kibum, dan Eunhyuk.

"Tapi bos, aku benar-benar tak pernah menyuruh mereka untuk menggantikanku."

"Tapi mereka datang kemari dan mengatakan itu. Mereka juga tidak ingin digaji. Untuk apa menolak untung besar?" ucap bosnya sambil tertawa-tawa.

Sungmin berdesis pelan kemudian melangkahkan kakinya untuk menghampiri Kibum, dan Eunhyuk yang terlihat menunggu giliran mengantar pesanan.

"Ya! Apa yang kalian lakukan di sini!" omel Sungmin to the point.

Kibum hanya tersenyum kecil sementara Eunhyuk hanya mendelik ke arah Sungmin.

"Heh! Kemana saja kau tadi? Menghilang seperti hantu!" omel Eunhyuk balik.

Sungmin hanya bisa berdecak pelan kemudian berdiri di tengah-tengah Eunhyuk dan Kibum.

"Apa yang kalian lakukan di sini. Tidak lucu tahu!"

"Ck! Ck! Ck! Kami sudah berbaik hati menggantikanmu sementara waktu, kau malah mengatakan ini? Keterlaluan sekali kau, Lee Sungmin."

"Ayolah Hyukkie, ini bukan tempat kalian~"

Eunhyuk hanya memutar bola matanya kemudian mengangkat nampan yang harus ia antarkan ke salah satu meja pelanggan.

"Dimanapun tempatku berada, akulah orang paling fashionable. Kau harus mengingat itu!" ujarnya kemudian berlalu meninggalkan Sungmin yang hanya bisa menghela napas pasrah.

"Sudahlah, ini hari terakhir. Tuan Cho-mu pasti mendapatkan yeoja-yeoja cantik dan namja-namja tampan yang akan menggantikan kami. Tenang saja," ucap Kibum.

Sungmin mengerutkan keningnya.

"Tuan Cho-ku?"

"Ah! Sebaiknya kau bersiap, mungkin Kyuhyun akan tiba beberapa detik lagi. Selamat untuk kencan pertama kalian," lanjut Kibum membuat kerutan di kening Sungmin semakin dalam. Setelah mengukir senyum misteriusnya, Kibum berlalu meninggalkan Sungmin dengan senampan pesanan di tangannya.

Masih tak mengerti dengan maksud ucapan Kibum, Sungminpun memilih diam untuk mencerna kata-kata Kibum.

Kyuhyun akan tiba beberapa detik lagi?

Sungmin tersentak kemudian menatap ke arah pintu masuk. Dan benar saja, di sana sudah berdiri sesosok namja dengan ketampanan yang mampu menghipnotis siapapun yang menatapnya. Sungminpun begitu, tubuhnya selalu bereaksi berlebih jika sudah bertemu pandang dengan obsidian Kyuhyun.

Seolah tenggelam dalam pemikirannya, Sungmin hanya menurut seperti orang bodoh saat Kyuhyun menariknya keluar restoran.

"Sungmin-ah! Hwaiting!" seru Ryeowook dari dalam restoran.

Sungmin menolehkan kepalanya kemudian tersadar sesuatu.

"Eoh? Ya! Mau kemana? Aku harus bekerja sunbae!" teriak Sungmin sambil menghentikan langkahnya, hal itu mau tak mau membuat Kyuhyun juga ikut menghentikan langkahnya.

"Bisakah kau tidak membantah sekali saja?" sungut Kyuhyun sambil kembali menarik Sungmin memasuki mobilnya yang terparkir di pelataran restoran.

"Aish! Aku harus bekerja!"

"Aku sudah menyiapkan banyak orang untuk menggantikanmu, tenang saja!" sahut Kyuhyun sambil membuka pintu mobilnya.

"Ya! Ya! Ya!" protes Sungmin saat Kyuhyun mendorongnya masuk ke dalam mobil.

"Asih! Kau ini! Kenapa harus selalu dipaksa baru menurut sih!" omel Kyuhyun sambil mendorong paksa tubuh Sungmin diiringi terikan protes Sungmin. Walaupun begitu Kyuhyun berhasil mendorong tubuh Sungmin memasuki mobilnya kemudian menutup pintu mobilnya.

BLAM!

Kyuhyun duduk tenang di kursi kemudi setelah mengunci pintu mobilnya. Matanya melirik Sungmin yang terlihat melipat dua lengannya di depan dada sambil memasang wajah marah yang menurut Kyuhyun tidak menakutkan sama sekali.

"Pikirkan satu tempat yang menyenangkan," ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin yang awalnya menatap marah lurus ke depan langsung mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun yang duduk di sebelahnya. Apa maksudnya tempat menyenangkan? Kenapa gaya bicara Kyuhyun selalu begitu? Ambigu!

'Sama seperti orangnya!' batin Sungmin mengejek sadis.

Kyuhyun menolehkan kepalanya, menatap Sungmin dengan pandangan 'Apa kau baru saja mengejekku?'

"Iya!" sahut Sungmin sambil melotot marah pada Kyuhyun.

Namja Cho itu hanya bisa berdecak kesal kemudian menatap Sungmin dengan pandangan malas.

"Kau selalu seperti ini, sunbae! Seenaknya! Aku tidak suka dengan kau yang seperti ini."

Kyuhyun hanya memutar bola matanya kemudian menatap lurus ke depan. Lagi-lagi Sungmin memulai perdebatan. Kapan sih Sungmin bisa mengerti jika ia tak terlalu pandai mengutarakan keinginannya?

"Ya, memangnya kapan kau menyukaiku? Selama ini kau selalu membenciku, jadi wajar saja jika semua hal yang berhubungan denganku adalah sesuatu yang tidak kau sukai," kata Kyuhyun sambil mennyandarkan kepala dan punggungnya pada jok mobil.

Sungmin mendadak kehilangan kata-katanya. Kalimat-kalimat yang sudah ia siapkan untuk menyerang Kyuhyun menguap begitu saja setelah mendengar penuturan Kyuhyun yang terkesan lelah menghadapi sikap keras kepala Sungmin.

"Ma-maksudku bukan begitu sunbae~" lirih Sungmin sambil menggigit kecil bibirnya, rasa bersalah mulai mendominasi perasaanya.

"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidak disukai orang lain, tenang saja," ucap Kyuhyun berusaha terdengar biasa saja, namun Sungmin menangkap jelas nada keputus-asaan dalam kata-kata Kyuhyun.

Sungmin menolehkan kepalanya, mengintip wajah Kyuhyun dan mendapati gurat lelah di wajah tampan pewaris keluarga Cho itu. Tak ingin membuat suasana hati Kyuhyun makin memburuk, Sungminpun mengutarakan maksudnya. Bukankah komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam 'menjalin sebuah hubungan'.

"Aku hanya terkejut. Sunbae tiba-tiba muncul dan menyeretku pergi seperti ini, aku harus bekerja apalagi Kibummie dan yang lain sedang berada di dalam. Jadi-" Sungmin terdiam, tak jadi melanjutkan kalimatnya saat mendengar bunyi 'clek' menandakan pintu mobil tak lagi terkunci.

Sungmin menatap pintu di sebelahnya dan wajah Kyuhyun bergantian. Ekspresi Kyuhyun masih sama. Datar dengan kekesalan yang terselubung dalam obsidiannya.

"Tunggu apalagi? Kau harus bekerja kan?" ucap Kyuhyun membuat Sungmin hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Setelah melirik Kyuhyun, Sungminpun memilih beranjak membuka pintu. Sekali lagi Sungmin menatap Kyuhyun sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil Kyuhyun. Menutup pintunya dengan gerakan pelan.

Kyuhyun melirikkan ekor matanya dan mendapati tubuh Sungmin yang masih berdiri di sebelah mobilnya.

"Kencan pertama? Huh! Lucu sekali, dalam mimpimu saja Cho!" ejek Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Sementara di luar mobil, Sungmin hanya bisa terdiam, lagi-lagi seperti orang bodoh. Namja manis itu memang merasa harus bekerja tapi di sisi lain, Sungmin merasa tetap harus dengan Kyuhyun.

Karena logika memerintah Sungmin untuk memasuki restoran, Sungminpun melangkahkan kakinya menuju restoran.

Bunyi mobil Kyuhyun terdengar di belakangnya.

'Selamat untuk kencan pertama kalian!'

BRUUUMMM!

Sungmin menolehkan kepalanya dan mendapati mobil Kyuhyun yang telah melaju meninggalkan pelataran restoran.

'Memangnya kapan kau menyukaiku? Selama ini kau selalu membenciku, jadi wajar saja jika semua hal yang berhubungan denganku adalah sesuatu yang tidak kau sukai.'

'Tidak apa-apa. Aku sudah biasa tidak disukai orang lain, tenang saja.'

Jantung Sungmin serasa bergolak, penuturan Kyuhyun berputar-putar di kepalanya membuat denyutan nyeri tak beraturan mulai menyerang dada bagian kirinya.

Logikanya terlalu membenci Kyuhyun, namun hatinya tetap tak bisa berdusta. Sungmin memutar tubuhnya.

"Dasar bodoh! Tahu apa dia soal perasaanku," ujar Sungmin kemudian berlari kencang menyusul mobil Kyuhyun yang baru saja menghilang dari pelataran restoran.

"SUNBAE! TUNGGU!"

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah, pikirannya melayang pada usul-usul sahabatnya tentang kencan pertamanya dengan Sungmin.

"Mereka yang sok tahu atau memang aku yang bodoh?" gumam Kyuhyun sambil menatap jalan di depannya.

"Seharusnya ini berjalan baik, bukankah dia sepakat untuk memulai semuanya dari awal?" lagi-lagi Kyuhyun bermonolog.

"Huh, aku saja yang terlalu banyak berharap!" ejek Kyuhyun kemudian menatap spion di atas kepalanya, berniat mengamati situasi sebelum menginjak kuat gasnya. Namun niatnya urung terlaksana saat matanya menangkap sesuatu yang aneh di belakang sana.

"Sungmin?" gumam Kyuhyun sambil menatap ke belakang.

Sekali lagi Kyuhyun menatap spionnya, memastikan jika sosok yang tengah berlari mengerjar mobilnya itu benar-benar Sungmin. Dari seragam yang melekat di tubuh sosok itu sudah jelas jika memang Sungminlah yang tengah mengejar mobil Kyuhyun.

"Apa dia sudah gila!" geram Kyuhyun sambil menepikan mobilnya.

Dengan gerakan sedikit tergesa, Kyuhyun membuka dan membanting pintu mobilnya sebelum melangkah lebar-lebar menuju Sungmin yang berada beberapa ratus meter dari belakang mobilnya.

"Apa yang kau lakukan! Apa kau sudah gila!" sentak Kyuhyun saat namja Cho itu sudah berdiri di depan Sungmin yang terlihat membungkukkan tubuhnya sambil mengatur napasnya yang terengah.

"Kitahhh-" Sungmin berusaha bicara di sela-sela engahan napasnya. Kyuhyun berdecak tak suka kemudian membantu Sungmin berdiri dengan baik.

"Demi Tuhan kenapa kau sebodoh ini, Lee Sungmin! Kau pikir orang tolol mana yang-"

"Kita ke Lotte World, aku sudah memilih," sela Sungmin.

"Apa?" tanya Kyuhyun sedikit tak percaya.

"Kita ke Lotte World, kencan pertama kita sunbae."

Kyuhyun masih terbengong dalam posisinya. Menatap Sungmin seolah bertanya 'apa kau baik-baik saja?'

"Kita sudah sepakat memulai semuanya dari awal kan?" lanjut Sungmin membuat Kyuhyun perlahan menemukan kesadarannya.

"Kau serius?"

Sungmin tersenyum kemudian meraih tangan Kyuhyun dan menempelkan telapak tangan namja Cho itu di keningnya.

"Aku berkeringat, mengejar mobil sunbae seperti orang bodoh demi kencan pertama kita."

Kyuhyun bukan namja yang pandai merayu atau mengucapkan kata-kata manis untuk membalas ucapan Sungmin. Namja kelahiran Februari itu hanya bisa tersenyum sebelum membawa tubuh Sungmin dalam rengkuhannya.

Sungmin hanya bisa tersenyum sambil memejamkan matanya saat bibir Kyuhyun mendarat di pelipisnya menggantikan kata-kata manis yang biasa dilontarkan setiap namja pada kekasihnya.

"Dasar bodoh! Jangan seperti itu lagi! Kau pikir lucu berlari-lari di tengah jalan seperti orang gila? Kau bisa menggunakan ponsel, hubungi aku dan katakan kita jadi pergi bersama, jadi kau tak perlu berkeringat mengejarku seperti ini!"

Sungmin hanya menggelengkan kepalanya.

"Jangan katakan kau tak menyimpan nomor ponselku?" tebak Kyuhyun sambil melepaskan pelukannya.

Sungmin kembali menggeleng kemudian berkata dengan polosnya.

"Aku tidak punya ponsel."

"Astaga."

.

~(*o*)~

.

Setelah mendengar penuturan polos nan ajaib Sungmin, Kyuhyunpun menolak mentah usulan Sungmin untuk pergi ke Lotte World. Jadilah saat ini mereka berdiri di depan sebuah etalase besar mengamati berbagai macam ponsel yang membuat Sungmin tak henti-hentinya bergumam kagum.

"Apa kita akan berkencan di Supermall?" tanya Sungmin sambil menatap Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya. Mengamati beberapa model ponsel yang menarik perhatiannnya.

"Kau suka warna yeoja kan?" tanya Kyuhyun tak berniat menjawab pertanyaan Sungmin.

Sungmin berdecak kemudian mencibir pada Kyuhyun.

"Pink! Bukan warna yeoja!" semprot Sungmin membuat Kyuhyun tersenyum tipis.

"Aku ingin yang itu," ucap Kyuhyun sambil menunjuk ponsel dengan model tipis berlayar penuh, yang terpenting berwarna yeoja –menurut Kyuhyun.

"Cih! Tadi mengejekku, sekarang sunbae memilih ponsel berwarna pink. Apa jangan-jangan sunbae juga menyukai warna yeoja, huh?" balas Sungmin masih sakit hati dengan ejekan Kyuhyun tadi.

Kyuhyun mendengar Sungmin, hanya saja ia tak terlalu memedulikan itu. Matanya tertuju pada ponsel yang telah berada di hadapannya.

"Kau suka ini tidak?" tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin kini juga menatapnya.

"Karena itu PINK, aku menyukainya!" ucap Sungmin bangga tak lupa menekankan kata pink dalam ucapannya.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya kemudian menatap yeoja yang berjaga di counter ponsel.

"Aku juga menginginkan satu ponsel yang sama dengan warna biru."

Yeoja yang sejak tadi memang diam-diam mengagumi ketampanan Kyuhyun itu sedikit terlonjak kemudian mengangguk kaku.

"De-dengan nomornya?"

"Ya. Dua-duanya. Kau atur nomornya." jawab Kyuhyun sambil menunjuk ponsel pink di depannya.

"N-ne."

Kyuhyun yang sadar dengan gelagat yeoja itu hanya bisa melakukan rolling eyes. Matanya beralih menatap Sungmin yang masih berceloteh sendiri mengagumi ponsel-ponsel yang tertata rapi di etalase. Sambil menunggu nona penjaga counter ponsel itu selesai, Kyuhyun memilih mengamati tingkah lucu Sungmin yang perlahan berjalan menjauh mengikuti panjangnya etalase dengan senyum geli yang terlukis di bibirnya.

"Sungmin," panggil Kyuhyun membuat Sungmin tersadar kemudian menoleh pada Kyuhyun yang mengisyaratkan Sungmin untuk mendekat.

"Ne?"

Kyuhyun menarik lengan Sungmin untuk berdiri di depannya. Sungmin yang tak mengerti hanya bisa mendongak bingung, menatap wajah Kyuhyun dengan pandangan 'Kenapa aku harus berdiri di sini?'

"Diamlah. Kau sudah seperti anak hilang jika bertingkah seperti tadi."

Sungmin mempoutkan bibirnya kemudian menyikut pelan lengan Kyuhyun

"Dasar menyebalkan," gerutunya.

"Ini tuan."

Kyuhyun menatap satu ponsel biru yang kini berdampingan dengan ponsel pink yang tadi dipilihnya. Senyumya terukir. Tangannya bergerak meraih dua ponsel berbeda warna itu kemudian menyerahkan ponsel berwarna pink untuk Sungmin.

"Ah? Apa?" tanya Sungmin bingung.

"Kau warna yeoja dan aku biru. Aku menyebutnya ponsel couple."

"Tapi untuk apa?"

"Kalau kau tidak memiliki ponsel, bagaimana caraku menghubungimu?"

"Sunbae, kita bisa bertemu di sekolah. Tidak perlu seperti ini," ujar Sungmin mulai melayangkan protes.

"Kau mulai lagi."

"Bukan begitu, aku tidak membutuhkan ini untuk saat ini."

"Tapi aku membutuhkan kau untuk memiliki ini! Aku tidak terima penolakan! Jika kau tidak tahu cara menggunakannya, aku akan mengajarimu nanti. Ayo pergi!" ajak Kyuhyun membuat yeoja yang bertugas menjaga counter ponsel langsung memanggilnya.

"Tuan tunggu, Anda membutuhkan ini untuk pembayaran di kasir," ujar yeoja itu.

Kyuhyun menolehkan kepalanya membuat Sungmin ikut menoleh.

"Aku Cho Kyuhyun!" ucap Kyuhyun penuh penekanan membuat yeoja itu mendadak memucat.

"Ah~ Jeosonghamnida."

Kyuhyun tak menanggapi apapun, berlalu dengan menyeret Sungmin yang masih terbengong-bengong.

"Aku Cho Kyuhyun," ulang Sungmin pelan.

Hebat sekali.

"Aku Lee Sungmin," gumamnya pelan.

Kyuhyun tersenyum geli kemudian menatap Sungmin yang berjalan di sebelahnya.

"Tidak ada yang peduli jika kau berkata seperti itu. Katakan "Aku Cho Sungmin, kekasih Cho Kyuhyun" dan semua orang akan mempedulikanmu."

Wajah Sungmin perlahan memerah, tak menyangka jika Kyuhyun mendengar gumaman konyolnya.

"Setelah ini kita kemana?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum kecil melihat wajah Sungmin yang masih merona.

"Ke Lotte World kan?" tanya Sungmin balik.

Kyuhyun terdiam untuk beberapa saat, ingin menolak namun saat melihat tatapan penuh harap yang Sungmin layangkan, Kyuhyun hanya bisa menganggukkan kepalanya kemudian memimpin langkah menuju pintu keluar.

.

.

.

Tak terasa matahari perlahan kembali ke singgasananya membuat langit Seoul perlahan menggelap. Sungmin menunduk lesu, berkeliling di mall apalagi Supermall seperti tadi memang menyita waktu hingga ia tak sadar jika hari beranjak malam. Untuk apa pergi ke Lotte World? Bermain-main menjelang malam?

'Tidak lucu,' batin Sungmin sambil mempoutkan bibirnya.

Kyuhyun menolehkan kepalanya, menatap Sungmin yang sudah pasti kehilangan minatnya. Samar-samar Kyuhyun ikut merasakan kekecewaan, seumur hidup ia tak pernah tahu secara langsung bagaimana Lotte World. Ia hanya tahu lewat sentilan cerita masa kecil teman-temannya. Heechul terlalu mengekang Kyuhyun dengan aturan-aturan masa depan yang membuat Kyuhyun tak pernah menikmati masa kecilnya.

"Kita bisa pergi besok, besoknya lagi, dan setiap hari," ucap Kyuhyun, entah kenapa ia merasa harus menghibur Sungmin.

Sungmin hanya menganggukkan kepalanya. Menatap Kyuhyun kemudian berusaha tersenyum. Sudah lama sekali rasanya, Sungmin bahkan lupa kapan terakhir kali ia dan Shindong pergi ke Lotte World.

"Ya, masih ada waktu lain," gumam Sungmin sambil menatap keluar jendela yang memperlihatkan lalu lalang masyarakat Seoul yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di sekitar trotoar.

Kyuhyun menghentikan mobilnya saat traffic lamp menunjukkan warna merah. Matanya beralih menatap Sungmin yang terlihat melongokkan kepalanya, tampak menengok sesuatu. Hal itu mau tak mau membuat Kyuhyun ikut menengok apa yang tengah Sungmin perhatikan.

"Lucunya~" gumam Sungmin sambil mengelus jendela mobil Kyuhyun.

"Kita berhenti di depan," ucap Kyuhyun membuat Sungmin tersadar.

"Eh? Kenapa?"

Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya kemudian menatap traffic lamp yang tak lama berubah warna hijau. Mobilnya melaju perlahan dan berhenti di sebuah parkir khusus.

"Kemana lagi?" tanya Sungmin saat melihat Kyuhyun membuka seatbeltnya. Kyuhyun hanya tersenyum.

"Ayo turun!" ajaknya.

Sungmin hanya menurut kemudian mengikuti langkah Kyuhyun.

"Kenapa jalanmu lambat sekali?" ejek Kyuhyun membuat Sungmin mau tak mau berlari kecil untuk mengimbangi langkah Kyuhyun yang perlahan berhenti di depan sebuah toko kecil bertuliskan 'Rabbit Shop' yang tadi Sungmin perhatikan dari dalam mobil.

"Kau suka kelinci yang bagaimana?" tanya Kyuhyun sebelum memasuki toko.

"Maksudnya?"

"Jawab saja."

"Tidak mau," tolak Sungmin membuat Kyuhyun berdecak.

"Tunggu di sini!" perintahnya sebelum memasuki toko.

Sungmin hanya bisa mengomel pelan melihat tingkah Kyuhyun yang meninggalkannya sendiri di depan toko. Setelah menunggu beberapa saat, Kyuhyun muncul dengan membawa sebuah kotak berwarna pink –ah lebih tepatnya sebuah kandang kecil berwarna pink dan seekor penghuni imut di dalamnya.

"KYAAAAAA! Lucunyaaaa!" seru Sungmin sambil berjalan menghampiri Kyuhyun yang terlihat tidak baik-baik saja.

"Kau pegang sendiri," ucap Kyuhyun setengah jengkel.

Sungmin hanya bisa menerima kandang berisi kelinci kecil itu sambil mengamati Kyuhyun yang terlihat bersin berkali-kali. Hidungnya memerah bahkan matanya seperti kehilangan fokus karena terlalu banyak bersin.

"Sunbae gwaenchanayo?" tanya Sungmin yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Kyuhyun.

Sungmin sedikit memahami kondisi Kyuhyun kemudian menjaga jarak dengan mundur beberapa langkah dan menyembunyikan kandang lebih tepatnya menyembunyikan kelinci kecil itu dibelakang tubuhnya.

"Sunbae alergi bulu ya?" tanya Sungmin lagi.

'Lalu kenapa membeli kelinci?' batin Sungmin melanjutkan.

"Aish! Aku benar-benar tak bisa memelihara hewan," gerutu Kyuhyun sambil melangkah menuju mobilnya, diikuti Sungmin yang mengekor dibelakangnya.

"Sementara letakkan di bagasi," ucap Kyuhyun sambil menunjuk kandang kelinci yang ada di tangan Sungmin.

"Hah? Sunbae ini bagaimana? Kenapa membeli kelinci jika ingin membunuhnya," Sungmin kembali mengomel.

"Aku membeli untukmu bukan untukku!" sahut Kyuhyun

"Eh? Jinjayo?"

Kyuhyun menganggukkan kepalanya sambil mengisyaratkan Sungmin untuk memasuki mobil membuat Sungmin hanya bisa mengangguk manut, memasuki mobil kemudian memangku kandang kelincinya sambil tertawa pelan.

Kyuhyun kembali bersin membuat Sungmin meringis pelan.

"Astaga! Lee Sungmin bisakah kau meletakkan makhluk kecil itu di belakang!" sentak Kyuhyun jengkel.

Sungmin mengangguk patuh kemudian meletakkan kandang berisi kelinci kecil itu di bagian belakang mobil. Membuka blazer sekolahnya kemudian menyelimuti kandang kelincinya.

"Sudah," ucap Sungmin sambil tersenyum innocent.

Kyuhyun tak menjawab apapun, ia segera memutar kunci mobilnya mengabaikan Sungmin yang masih mengintip ke arah kelincinya. Dari ekspresi wajahnya Kyuhyun bisa melihat jelas jika Sungmin tengah berpikir keras.

"Sunbae~" gumamnya.

"Hm?" sahut Kyuhyun yang merasa dipanggil Sungmin.

Sungmin terkekeh pelan kemudian menggeleng.

"Aku bukan memanggil Kyuhyun sunbae, aku memanggil sunbaeku," ucap Sungmin sambil menunjuk kelincinya. Tak ayal hal itu langsung membuat Kyuhyun sweatdrop.

"Aku antar kau pulang," ucap Kyuhyun namun Sungmin tak menanggapi, ia justru sibuk bermain dengan makhluk menyebalkan penyebab bersin –menurut Kyuhyun.

.

~(*o*)~

.

Sepanjang jalan menuju flat Sungmin, Kyuhyun hanya bisa terdiam, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk semua ocehan polos Sungmin tentang makhluk kecil bernama kelinci. Satu hal baru yang Kyuhyun tahu, Sungmin adalah namja cerewet jika sudah merasa nyaman dengan orang lain.

"Sunbae ingin masuk?" tanya Sungmin saat mobil Kyuhyun telah berhenti di halaman depan flatnya.

"Ya, setidaknya aku harus bertemu dengan ajushi."

Sungmin menganggukkan kepalanya kemudian membuka seatbeltnya. Tubuhnya buru-buru bergerak untuk meraih blazer berikut kandang kelincinya.

"Sunbae, kita sudah sampai~" ucap Sungmin sambil menimang-nimang kandang kelincinya.

Kyuhyun berdecak tak suka kemudian melayangkan protesnya.

"Sungmin, kenapa kau harus menamainya Sunbae sih? Kau memanggilku sunbae dan memanggilnya Sunbae juga, kau pikir aku sama dengan kelincimu."

Sungmin menyunggingkan cengirannya.

"Ganti namanya!"

"Tidak mau, itu sudah bagus, sunbae. Lagipula ini dari sunbae kan?"

"Panggil aku Kyuhyun tanpa embel-embel sunbae. Aku tidak mau kau samakan dengan kelinci," sungut Kyuhyun.

Sungmin terkikik pelan kemudian mengangguk patuh.

"Baiklah Tuan muda Kyuhyun."

"Kyuhyun saja! Mana ada seorang kekasih memanggil kekasihnya dengan sebutan Tuan muda!"

"Ne, ne, ne. Kyuhyunnie tanpa sunbae," ucap Sungmin mau tak mau membuat Kyuhyun tersenyum kecil mendengar panggilan manis Sungmin untuknya.

"Ayo turun. Aku akan menunjukkan ini pada appa," ajak Sungmin.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya kemudian keluar mobil, mengekori Sungmin yang berjalan di depannya sambil mangajak kelincinya bicara. Konyol sekali kan?

Seperti biasa, Sungmin membuka pintu rumahnya.

"Appa, aku pulang!" serunya dengan nada gembira. Kyuhyun yang berdiri di belakangnya hanya ikut tersenyum.

"Appa~" lirih Sungmin saat melihat Shindong duduk dilantai meratapi sesuatu. Kondisi flat kecil mereka tak bisa dikatakan baik, beberapa perabot terlihat tak berada di tempat semestinya.

Sungmin meletakkan kandang kelincinya kemudian menghampiri Shindong yang masih membelakanginya. Kyuhyun merasa ada sesuatu yang tidak beres segera menghampiri Sungmin dan Shindong.

"Appa, kenapa bisa begini?" suara Sungmin terdengar bergetar.

Isakan pelan juga terdengar dari Shindong yang masih setia menundukkan kepalanya. Kyuhyun juga tertegun, menatap tongkat yang biasa Shindong gunakan sebagai alat bantu jalannya. Sepasang benda itu kini telah tak karuan bentuknya, satunya bengkok dan satunya terbelah menjadi dua bagian.

"Appa! Kenapa bisa begini!" seru Sungmin sambil mengguncang lengan Shindong.

Shindong tak menjawab apapun, kepalanya hanya bergerak menggeleng seiring isakannya yang semakin mengeras. Hal itu mau tak mau membuat Sungmin ikut meneteskan air matanya.

"Appa~" panggil Sungmin lebih lembut, kali ini tangan Sungmin bergerak meraih wajah sang ayah dan betapa terkejutnya Sungmin saat melihat lebam dan bercak darah di sekitar wajah Shindong.

"Siapa~ Siapa yang melakukan ini appa?" tanya Sungmin nyaris mencicit. Butiran air matanya mengalir deras saat melihat kondisi ayahnya.

Shindong tak lagi bisa menahan perasaannya, namja tambun itu langsung memeluk erat Sungmin sambil menepuk pelan punggung putranya tak menyadari keberadaan Kyuhyun yang masih tak bersuara. Ia masih tertegun dalam ketidakpercayaannya. Orang biadab mana yang tega melakukan ini pada ayah Sungmin yang bahkan tak bisa melawan sedikitpun?

"Minnie, jauhi Kyuhyun. Mereka mengancam akan kembali jika kau tidak menjauhi Kyuhyun."

Sungmin menatap Kyuhyun dengan mata basahnya sementara Kyuhyun hanya bisa meneguk ludahnya, dadanya serasa dijatuhi godam setelah mendengar penuturan Shindong. Tangannya terkepal kuat, darahnya seolah mengumpul di kepalanya membuat wajah Kyuhyun memerah padam karena emosinya.

Sungmin tersadar dalam tangisannya, memilih berjalan beriringan dengan Kyuhyun adalah sesuatu yang harus dibayar mahal olehnya.

Kepalanya mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Kyuhyun yang masih diliputi keterkejutan. Sungmin menggelengkan kepalanya membuat dada Kyuhyun diliputi perasaan khawatir berlebih. Ingin berteriak rasanya tak cukup untuk menyampaikan perasaannya, ingin marah dan memukulpun tubuh Kyuhyun seolah tak bisa bergerak, yang bisa ia lakukan hanyalah membalas tatapan Sungmin dengan tatapan tajamnya yang penuh tuntutan sambil berujar dengan nada dingin yang mampu membekukan siapapun yang mendengarnya.

"Kau sudah berjanji memulai semuanya denganku, Lee Sungmin. Kau pikir aku akan berhenti di sini, huh! Dalam mimpimu saja!"

TBC

Annyeong~

Saya datang membawa sesajen #plak

Sudah baca kan? #SUDAAAAAHHH d(*0*)b

Oke, oke. Terimakasih buat sambutan di chapter kemarin. Senang sekali masih dapat sambutan sehangat itu walaupun saya sempat gak tepat janji. Buat yang doain semoga kuliah saya lancar dan lain sebagainya, makasih banget ya. Semoga Tuhan kasih yang terbaik juga buat chingudeul sekalian. Amin :D Buat yang kangen saya, saya juga kangen sekali sama chingudeul :D Yang tanya line, saya line 94 :D Kuliah masih semester 3 :D

Oiya, saya bingung. Chapter kemarin masih ada typo ya? Banyak yang bilang gak ada typo sama sekali tapi ada juga yang bilang masih ada beberapa typo. Lah? Kesalahan siapa ini? Kesalahan FFn #plak

Jujur saya masih bingung yang dikatakan typo itu seperti apa? Kesalahan penulisan masuk salah satu typo ya? Soalnya kemarin ada yang bilang typo di kata 'memedulikan'. Err- setahu aku sih, kalo kata peduli dapat awalan –me, kan jadinya me-medulikan bukan mem-pedulikan. Huruf P-nya membaur jadi M, jadinya memedulikan sama seperti kata 'pinta', dapat awalan –me, jadi me-minta, pantau jadi memantau. Seperti itu ya chingu.

Memang ada beberapa kata yang kadang dianggap benar tapi kalau sesuai sama EYD ataupun bahasa baku, itu salah. Makalahku sering kok di corat coret dosen gara-gara salah kata #curhat gak papa sih sekalian belajar #LOL :D :D :D

Ah, oke! Oke! Cukup sampai di sini cuap-cuap gak jelasnya. Sampai jumpa chapter depan yah~

NEXT!

RCL please~

Gomawo udah baca \(*o*)/