Appa Hyung Waeyo?
Pair : KyuTeukHae
Kibum
Changmin
Others
Genre : Family, Hurt, Drama
Disclaimer : Super Junior milik Tuhan, diri mereka, keluarga mereka, Elf.
Dan masih berharap Kyuppa menjadi suami dari anak-anakku nanti #Plakkk
Warning : Fast, Channel, Geje, Ooc, Typo, Bad language, RnR, and Don't Bashing nde….?
.
.
Donghae jatuh dalam pelukan Kyuhyun dengan kondisi tak sadarkan diri. Kyuhyun yang telah menangkap pasti tubuh idealis milik hyungnya, hanya diam dengan tatapan yang tak tau pasti apa maksudnya. Tanpa ada pergerakan sedikitpun, ia masih setia menatap Donghae dengan tatapan sendu miliknya. Hatinya meringis, sakit atau bahagiakah? Hanya dia seorang yang paham akan kondisinya saat ini.
Sejenak Kyuhyun tersenyum lembut menatap manik coklat Donghae yang terpejam saat ini. Perlahan, ia mendudukkan dirinya dan juga Donghae untuk bersender dibatang pohon maple. Lalu, Kyuhyun merogoh saku celananya mengambil smartphone miliknya. Disambungnya headset ke handphonenya lalu menyumbatnya ke telinga kirinya satu dan juga telinga kanannya Donghae.
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
Kyuhyun memejamkan manik coklatnya, menikmati setiap lirik dan juga nada Eric Clapton – tears in heaven yang menyapa lembut gendang telinganya. Sedikit lirik ia dendangkan, dengan ditemani Donghae disampingnya.
Time can bring you down
Time can bend your knee
Time can break your heart
Have you begged it please
Begged it please
Donghae diam. Ia jelas sudah bangun dari ketidaksadarannya. Tapi Donghae tetap bergelung dalam posisinya saat ini yang tengah mendengar senandung yang dinyanyikan Kyuhyun. Ia memejamkan matanya kembali, kembali menikmati setiap kehangatan yang harus ia terima.
"Kenapa berhenti?" tanyanya. Kyuhyun tersentak. Ia melepaskan earphone yang tersemat ditelinganya dan beralih menatap Donghae. "Ka..kau sudah sadar hyung?"
Donghae tersenyum. Ia membuka matanya lalu membenarkan letak duduknya. Sejenak, mereka hanya diam, terbelenggu kedalam rasa canggung diantara satu sama lain. Tak ada yang berani memulai perbincangan untuk menghancurkan batas kecanggungan mereka. Bahkan Kyuhyun masih tetap cuek dengan memainkan smartphonenya dan tenggelam bersamanya.
Donghae melirik keasyikan yang Kyuhyun buat sendiri melalui ekor matanya. "Dia adalah nae namdongsaeng. Namja yang selalu hadir didalam mimpiku, dan selalu diungkit-ungkit dalam perbincangan diantara nae chingudeul adalah adikku. Seorang adik yang menyedihkan yang tak pernah diakui keberadaannya didalam keluarga. Seorang adik yang selalu aku sia-siakan saat ia membutuhkan pertolongan dan juga sayangku disaat ia dikucilkan ayahnya dirumah. Seorang adik yang begitu bodoh yang rela merelakan nyawanya demi keluarga yang membencinya…Park Kyuhyun adalah adikku."
Kyuhyun terpaku saat untaian kata yang mengalir begitu saja dari bibir Donghae menginterupsi jalannya otaknya. Hatinya terenyuh sakit, tapi Kyuhyun mencoba untuk menahannya. Ia berusaha menulikan pendengarannya saat Donghae kembali mengutarakan kenyataan yang harus membuatnya kembali sakit. Pendengarannya sakit, begitu juga hatinya. Hatinya yang sakit mencoba berteriak memanggil Donghae yang menyerukan bila adik bodohnya kini ada disampingnya. Tapi..tak semudah yang Kyuhyun bayangkan. Lidahnya masih terasa kelu entah apa yang terjadi, dan faktanya bila dirinya masih belum siap mengungkap identitas dirinya yang sebenarnya.
"Dan apa kau tau? Ditempat inilah ia selalu menyendiri dan menghabiskan waktu, disaat semua murid membullyingnya.." Kyuhyun tercekat dengan manik coklatnya yang ikut melebar. Hyungnya tau? Mungkin pertanyaan itu yang terus bermain dalam otaknya.
"Dan lagu yang kau dendangkan tadi, itu adalah lagu favoritnya..."
"Kenapa kau menceritakan semuanya kepadaku, hyung? Aku bukanlah Kyuhyun yang sedang kau cari Kekkee~" tanya Kyuhyun dengan raut anehnya.
Donghae tersenyum maklum akan pertanyaan yang Kyuhyun ajukan. Ia menengadahkan kepalanya keatas seperti hendak berfikir. Helaian dedaunan yang mulai menua jatuh menghampirinya. Donghae memungut satu helaian daun tersebut dan memainkannya. "Aku tau kau bukanlah dia, bahkan wajah kalian tentu saja berbeda…tapi, sifat kalian memiliki kesamaan" jawabnya singkat.
"Apa yang akan kau lakukan bila namdongsaengmu kembali, hyung?" Donghae menoleh menangkap raut kepastian dari pertanyaan yang Kyuhyun umbar. Kyuhyun tentu saja gugup saat bertemu pandang dengan manik kelam Donghae. Ia takut, takut akan rasa gugupnya mampu ditangkap baik oleh hyung terkasihnya.
"Tak ada yang ingin kulakukan." Jawab Donghae telak. Kyuhyun tersenyum kaku saat jawaban Donghae mengalun begitu saja bermain diotaknya. Begitukah?
"Melihatnya bahagia disaat ia menampakkan wajahnya kepadaku, aku sudah merasa senang. Setidaknya, ia mampu menemukan kebahagiaannya sendiri diluar sana tanpa harus merasa takut dan tersakiti.."
"Hah..kau terlalu mendramatisir Hyung. Cha~ aku lapar! Aku ingin memakan semua sajian yang tersaji didalam sana hyung…" rengek Kyuhyun manja. Donghae tersenyum, merangkul pundak Kyuhyun dan mengajaknya pergi dari sana.
Mereka mungkin telah pergi. Tapi tidak dengan bukti yang mereka tinggalkan disana bersama dengan saksi bisu yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka. Dia boleh dianggap remeh, hanya sebatang pohon tua yang tak pandai berbicara.. tapi, bukankah ia mengetahui semuanya dan suatu saat akan berseru bersama dedaunnya?
.
Appa Hyung Waeyo?
.
Donghae tampak senang dan juga bahagia dengan guyolan yang Kyuhyun katakan. Dan lihatlah dia! Wajahnya sudah memerah padam menahan tangis akibat sakit diperutnya akan lelucon Kyuhyun. Bukan hanya Donghae yang begitu lepas tertawa, Kyuhyun pun juga. Tak jarang Donghae memamerkan leluconnya. Leluconnya terkadang memang tak lucu, tapi Kyuhyun masih saja tertawa lepas menanggapinya.
"Apanya yang lucu? Biasa saja.." kata Hyukkie dengan wajah bingungnya. Tangan kanan Kyuhyun memegang pundak Hyukkie erat dan tangan kirinya memegang perutnya yang juga ikut kesakitan.
"Ahaha..Appo! itu sangat lucu hyung.. bagaimana bisa gajah bergelantung diatas pohon.. ahhaa…" jawab Kyuhyun masih dengan tawa menggelegarnya. Hyukkie bingung dengan menggaruk tengkukya pelan. Ditatapnya satu persatu Kyuhyun dan juga Donghae secara bergantian. "Selera humor kalian sangat aneh.." cerca Hyukkie.
KyuHae tak menggubris. Mereka tetap tertawa lepas tanpa henti. Tak diperdulikannya beberapa pasang mata yang mengarah pada mereka. Music klasik yang mengalun indah di aula SMA tersebut, harus rela terkontaminasi kelembutannya oleh gelak tawa yang dihasilkan dua bersaudara itu. Ada yang memandang mereka aneh, ada pula yang menatap mereka sebal.. semua jenis tatapan tersebut tak mereka respon pasti.
"Aku tak pernah melihatmu tertawa begitu lepas begini sejak beberapa tahun silam. Wae? Wae Hae?" tanya Hyukkie dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Donghae terhenti dari tawanya dan beralih memandang Hyukkie. "Apa ada yang salah? Apa aku tak boleh tertawa?" tanya Donghae dingin.
"Aniyo.. hanya saja aku heran dengan perubahan sikapmu. Apa kau memakan sesuatu yang salah?"
"Sudahlah! Tak perlu dipermasalahkan juga. Bukankah kita disini untuk bernostalgia bersama?"
"Ne.. tapi~"
"Sudahlah Hyukkie! Aku baik-baik saja saat ini" potong Donghae dengan nada suaranya yang sedikit meninggi.
Hyukkie bungkam. Ia juga sedikit kaget dengan intonasi Donghae yang seakan membentaknya. Memang ada sesuatu yang salah terjadi pada namja pecinta ikan tersebut. Donghae yang ia kenal beberapa tahun ini, ialah Donghae dengan jalur hidupnya yang mengalir begitu saja akan arus kehidupan yang menghanyutkannya. Tapi ini? Apakah Donghae telah mengingat semuanya? Jelas-jelas sifat Donghae saat ini adalah sifatnya yang dulu.
Hyukkie sedikit menyunggingkan garis bulan sabit dibibirnya. Walau ia bukan seorang namja yang jenius seperti Kibum, ia paham betul akan sifat dan karakter asli dari sahabatnya satu ini. Ia tak memperkirakannya, ia yakin betul apa yang ia yakini. Bahwa Donghaenya telah kembali…!
"A..a..A.. tes tes" suara microfon menggelegar menyapu semua gendang telingan para tamu undangan. Semua mengarahkan arah pandang mereka kearah podium yang memang telah tersaji dibagian tengah aula tersebut. Changmin, sipelaku hanya tersenyum lebar saat berpuluh-puluh pasang mata tersebut menatapnya. Diraihnya mic itu kembali dan memegangnya erat. Ia gugup memang bila harus ditatap tajam demikian. Changmin mendekatkan mic yang ia pegang bibirnya. Ia menarik pelan nafasnya untuk menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Hei kau Shim Changmin! Apa yang kau lakukan disana bodoh?" pekik salah satu dari mereka.
Changmin mendengus kesal akan olokkan tersebut. ditambah lagi semua orang yang ikut tertawa terbahak-bahak oleh olokkan yang ditujukan padanya. "Apa kalian ingin permainan?" ucap Changmin menghentikkan tawa mereka.
Changmin sedikit tersenyum melihat tatapan mereka masing-masing. Tampaknya mereka cukup tertarik akan usulan Changmin. Changmin semakin tersenyum lalu mengetuk-ngetukkan jarinya ke mic. "Euhm, apa kalian merasa bosan saat ini?" tanyanya untuk memecah suasana yang terasa canggung.
"Euhm, kita semua tentunya pasti punya sesuatu yang menjanggal dihati bukan? Nah, untuk permainan kali ini, gimana kalau saat ini kita mengadakan ajang buka rahasia selama kita masih duduk di SMA dulu. Eotthoke?"
"Hanya begitu? Kurang menarik!" pekik seorang yeoja yang terlihat tomboy.
Changmin mengaruk kepalanya dan juga memutar otaknya. "Bagaimana bila pengakuan yang diungkapkan, orang yang bersangkutan juga ikut berdiri diatas panggung?" imbuh Hyukkie yang seakan tertarik dengan games yang dibuat Changmin.
"Baiklah kalau begitu.. Aku duluan" sahut seseorang. Semua pasang mata beralih menatapnya. Seorang yeoja dengan dress selutut bewarna orange muda berhasil membuat semua undangan berdecak kagum. Ia melangkah dengan ketukan high heels yang ia pakai dengan anggunnya. Surai ikal kelamnya yang melambai selembut sutera, terus saja menggoda nakal tanpa pernah mengenal malu. Bahkan kulit putihnya yang lembab selaras susu, menambah aksen kekaguman mereka semua.
Ia berdiri dengan anggunnya diatas panggung. Yeoja tersebut menjulurkan tangannya kepada Changmin. Changmin yang notabennya juga larut dalam decak kagumnya, serasa terhipnotis akan kecantikkannya..menyambut uluran tangan tersebut dengan senang hati.
"Bukan tanganmu.. tapi serahkan mic itu padaku." Ucapnya. Semua terbahak-bahak akan ucapan manis yeoja tersebut. Memang tak ada yang salah dari ucapannya, tapi lihat saja raut Shim Changmin yang telah merah padam karena malu. "Mi..mianhe.." jawab Changmin terbata.
Yeoja tersebut tersenyum manis menanggapinya. Ia mengambil alih mic yang Changmin genggam ke tangannya. Dipandangnya sejenak seluruh penjuru sudut sebelum ia memulai. Ia kembali lagi tersenyum dan berkata ''Annyeonghaseo.. apa kalian semua mengingatku~"
"Aku Stella Kim. Siswi dari kelas B"
Semua sontak kaget bukan main. Stella Kim? Benarkah? Yeoja buruk rupa yang selalu ditindas itu? Tapi kini, dia sungguh luar biasa cantik dengan tubuhnya yang tinggi semampai. Wajar bila mereka begitu shock melihatnya.
"Aku selalu ditindas oleh kalian dulu, tapi sekarang? Aku bukanlah Stella yang dulu. Stella yang dulu yang selalu diam tak berani untuk bersuara karena tindasan kalian, dan juga tak mempunyai nyali untuk mengungkap isi hatiku~"
" Disini..aku ingin mengutarakan isi hatiku yang tak pernah kusampaikan sejak dulu. Lama aku memendamnya, dan kini..melihatnya juga disini, aku tak ingin memendamnya lebih lama lagi. Untuk kau~"
Semua berbisik, gerangan siapa yang dimaksudkan. "Kim Kibum" tambahnya lagi. Semua bersorak kaget, termasuk Changmin yang juga berdiri disamping Stella. Semua pandang mengarah kearah Kibum yang masih terlihat santai dengan tatapan datarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju panggung tempat dimana Stella berada. Stella tersenyum manis menyambut kedatangan Kibum, tapi Kibum seolah membuatakan matanya tak ingin beradu tatap memandangnya. Stella kecewa akan sikap dingin Kibum tersebut.
Semua yang menyaksikan hanya bersorak heboh menghujat Kibum yang telah menyia-nyiakan Stella disampingnya. Kibum cuek tak ingin menanggapi seruan lalat-lalat hijau baginya yang telah memekakkan telingannya. Stella yang semakin kecewa, lalu mendekatkan micnya dan berkata, " Kau pasti sudah mendengar isi hatiku kan Kibum-ssi? Apa kau mau menerimanya? Aku hanya ingin mendengar isi hatimu juga."
Kibum yang semula cuek, beralih pandang menatap yeoja cantik tersebut. Cukup lama ia memandang hingga membuat Stella merasa gugup akibat tatapan jantung hatinya.
"Molla…" jawab Kibum. Semua cengo akan jawaban Kibum, Sungguh tak berperasaan! Tidakkah ada kata-kata yang lebih manis untuk menolaknya? Dia jenius namun perasaannya tak sejenius dengan otak yang ia miliki. Stella yang telah dipermalukan habis-habisan, memberikan mic yang dipegangnya kembali kedalam genggaman Changmin dan meninggalkan panggung dengan lesu.
Kibum merasa sesal dengan apa yang ia kata. Ia meminta Chagmin untuk memberikan micnya dan berkata," Stella-ssi, tunggu.~"
Langkah Stella sejenak berhenti namun ia kembali lagi untuk berjalan. " Aku bilang berhenti!~"
"Maafkan aku sebelumnya yang tak bisa membalas perasaanmu. Tapi satu yang perlu kau tau, bahwa aku menyukai kau yang dulu. Memang fisikmu tak seindah dulu, tapi aku suka dengan apa adanya kau dulu. Aku tau dengan perkembangan zaman saat ini yang memaksa setiap wanita harus mempermak tubuhnya agar seideal mungkin, tapi.. kau tak menyadari, kau yang dulu sudah cantik."
Stella berbalik dengan berurai airmata. Ia berlari mendekati Kibum dan berhambur memeluknya. Semua heboh dengan lakon yang dihadapkan kepada mereka. " Tapi maaf, sampai saat ini perasaanku tak bisa lebih dari seorang teman." Tutur Kibum. Stella mengangguk cepat dan menjawab, " Gwenchana.. Aku sudah merasa senang Kibum" . Kibum tersenyum dan mengajak Stella untuk segera turun dari atas panggung. Changmin yang menjadi pemandu dari permainan ini bersorang riang mengiringi perjalanan mereka begitupun dengan para tamu undangan.
"Ada lagi? " tanya Changmin.
"Aku!" tunjuk Donghae. Semua undangan bersorak heboh kembali mengiringi langkah Donghae, memikirkan rahasia apa yang akan diungkapnya? Perasaan cintakah? Namun tidak dengan mereka yang dekat dengan namja pecinta ikan tersebut. Mereka merasa bingung dengan apa yang akan dikatakannya?
Donghae merebut cepat mic yang Changmin genggam, Changmin menggeleng enggan untuk memberikannya. Namun dengan sigap, Donghae merebut mic tersebut dalam genggaman Changmin. "Kenapa aku tak boleh sih?" rajuknya. "Kau akan mengatakan apa?" bisik Changmin. Donghae tersenyum childish.
Ia melangkah ketengah panggung dengan senyum kanak-kanaknya. Disapanya semua para tamu undangan dengan riang. Semua menjawab sama riangnya sepertinya, namun seseorang berseru " Hei Park Donghae, apa yang ingin kau akui disana? Apa kau akan megaku bila kau itu adalah anak angkat dari Park Jungsoo? Ahahah.."
Donghae masih tersenyum dan menjawab "Anni.."
"Lalu?" tanyanya kembali.
"Apa kalian tau namja yang bernama Park Kyuhyun?"
"Ouh.. kau ingin mengatakan bila kau tertarik padanya ya?" seru namja berambut coklat. Semua tertawa terbahak-bahak dengan seruan tersebut namun tidak dengan Kyuhyun. "Benar-benar konyol. Apa ia akan menanyakan pada semua dimana Kyuhyun berada?" bisik Hyukkie ke Kyuhyun. Kyuhyun enggan menjawab, ia masih menatap lurus kearah Donghae entah apa yang ia fikirkan dari tatapannya tersebut.
"Dia adalah adikku." Jawab Donghae dingin. Semua bungkam akan penegasan Donghae. Mereka mulai grasak-grusuk mencari keberadaan Kyuhyun diruang ini, namun Nihil!
"Kau kan anak tunggal? Ouh, kau menganggkatnya untuk menjadi pembantu dirumahmu ne?" seru seorang yeoja dengan style tomboynya. Kibum dan juga Changmin beralih menatap Kyuhyun yang masih menatap lurus kearah Donghae. Kyuhyun seakan menulikan pendengarannya walau caci dan juga maki ia terima saat ini namun tatapannya masih tertuju kearah Donghae tanpa seincipun beralih.
"Dia adik kandungku..~" jawab Donghae tegas. Semua semakin bingung dengan apa yang Donghae utarakan. Bagaimana bisa ia tiba-tiba mengatakan kebenaran tersebut, bukankah ia yang mengomandoi untuk membullyi namja pucat itu dulu? Menghajar, menghina, dan bahkan menjahilinya semua Donghae komandoi dulu. Wajar bila mereka terkejut dengan apa pengakuan yang dibuatnya. Bahkan tidak terkecuali dengan Hyukkie, Changmin, dan juga Kibum.
"Aku memang sangat menyesal dengan perilaku ku dulu kepadanya. Karena keegoisanku dan juga nae appa, kami menyembunyikan identitas ia sebenarnya. Kyuhyun memang tak pernah menolak akan usul konyol tersebut, bahkan disaat aku membullyinya ia tak melawan. Ahaha.. ia memang namja bodoh! Aku akui itu~"
Perlahan, bulir beningnya menetes lepas. Semua menangkap pemandangan tersebut lalu diam mendengarkan curahan hati Donghae, seakan mereka juga merasakan apa yang Donghae rasakan. Bahkan Changmin yang berdiri disisi panggung juga ikut menangis karenannya. Kyuhyun menunduk, mungkin tengah meratapi dirinya sendiri. Ia kembali mengingat saat dimana Donghae membullyinya. Kyuhyun memang tak melawan dahulu, bukan ia takut atau tak bisa melawan… namun ia merasa memang tak pantas untuk menikam saudara kandung.
"Hidupnya memang naas harus lahir didalam keluarga yang tak menginginkannya. Appa bilang, dia bukanlah saudara kandungku karena dia adalah anak dari hasil perselingkuhan eomma~"
Kyuhyun mendongak kaget. Begitukah? Itukah alasan selama ini tuan Park membencinya? Ia seringkali berseru meminta kejelasan mengapa appa yang slalu ia banggakan membencinya, namun tuan Park tak pernah menanggapi pertanyaan tersebut dan menganggap Kyuhyun hanya membuang waktunya seorang.
"Dan dari situ, aku diajarkan untuk selalu membencinya walau aku tak bisa melakukannya. Hah.. terlalu munafikkah aku?~" Bulir airmatanya kembali menetes. Semua tertegun dengan apa yang mereka dengar. Begitukah kenyataannya?
"Lalu dimana dia saat ini? kenapa aku tak melihatnya dari tadi?" tanya namja berambut blonde.
"Dia memang tak hadir saat ini. Beberapa tahun yang lalu, ia sengaja menghilangkan diri sampai saat ini. Aku memang tak mencarinya karena hal tertentu, namun sekarang aku akan mencarinya dimanapun ia berada… Karena dia adalah adikku dan aku sangat menyayanginya.~"
Tes..
Satu tetes liquid bening yang sedari tadi Kyuhyun penjarakan berhasil jua untuk lolos dari jeratnya. Ia tak mampu lagi menahan sesak dihatinya untuk terus berbohong. Tapi, lagi-lagi keegoisan yang dimilikinya terus untuk menahan niat hatinya tersebut. Ia memang egois, terlalu egois untuk mementingkan dirinya sendiri..tapi itulah pilihan sendiri yang membuat hatinya malah semakin teriris menangis.
"Jadi aku mohon, bila kalian bertemu dengannya… tolong katakan isi hatiku ini. Terima Kasih" tutur Donghae diakhir ceritanya. Ia mengusap jejak air matanya kasar dan lansung turun dari atas panggung.
.
Appa Hyung Waeyo?
.
Sungmin tersenyum merekah memandang lepas ke seluruh penjuru bandara Incheon. Ia menarik kasar lengan Hangeng yang berada tak jauh dibelakangnya. Diapitnya lengan Hangeng posesif dan bergelayut mesra disana. "Sudah lama sekali kita tak kembali ke Korea. Aku sampai lupa dengan kampung halaman kita sendiri.." tuturnya dengan tersenyum manja.
Hangeng menggeleng lemah tak habis fikir dengan perlakuan manja istrinya. " Kenapa baru sekarang kau mengajakku untuk kembali? Kepindahanku belum sepenuhnya ku urus sayang.."
Sungmin tersenyum manis dan berkata, "Ya sudah.. selagi kau mengurus kepindahanmu kemari, aku akan menunggu disini bersama Ku Xian dan juga Jifan. Arraseo?"
Hangeng hanya mendesah berat masih dengan menjinjing barang bawaan mereka. Sungmin masih mengedar pandangnya keseluruh penjuru bandara, tanpa memperdulikan nasib suaminya yang tampak kesusahan disampingnya. "Aku tak sabar ingin segera melihat Ku Xian" gumam Sungmin.
"Kau tak menyayangiku lagi" cibir Hangeng. Satu ciuman manis, Sungmin layangkan kepipi mulus Hangeng. Ia tersenyum manja dan berucap, "kau mencemburui anak kita? Sudahlah sayang jangan kekanakkan seperti itu…"
Hangeng hanya tersenyum maklum membalas perkataan Sungmin. Begitupun Sungmin yang juga ikut merespon senyuman Hangeng. Langkah demi langkah mereka tapaki meninggalkan aiport. Mereka terhenti sesaat diambang pintu utama airport. Sungmin melihat jam tangan dipergelangan kirinya dengan tatapan bingung. "kenapa?" tanya Hangeng.
"Anni.. aku hanya bingung pukul berapa saat ini? Setting jamku masih mengarah pada waktu di China." Jawab Sungmin. Sungmin sedikit bingung dengan pengaturan waktunya. Ia sedikit melangkah beberapa langkah kedepan, menemui seorang namja yang tampak sibuk dengan smartphonenya.
"Permisi tuan.. bolehkah saya tau pukul berapa ini?" tanyanya seraya menyenggol bahu namja tersebut. Namja tersebut berbalik, masih dengan smartphonenya yang tertempel didaun telinganya. Hangeng melotot sempurna saat namja tersebut berbalik, begitupun dengan Sungmin. "Kau? Park Jungsoo?" tanya Sungmin bercampur kaget.
Tuan Park juga tak kalah hebatnya terkejut melihat dua orang tersebut. Matanya menyalang melihat sosok Hangeng dihadapannya seakan binatang buas yang menemukan mangsanya. "Kau.." erangnya.
"Jungsoo-ah.." lirih Hangeng. Tuan Park lansung mencengkram kerah baju Hangeng dan menguncinya dalam genggamannya. Sungmin ketakutan dengan apa yang Tuan Park lakukan terhadap suaminya, namun tidak dengan Hangeng yang melihatnya dengan tatapan menyesalnya.
Buagh!
Satu pukulan Tuan Park layangkan ke pipi mulus Hangeng dengan bringasnya. Sungmin menjerit histeris dengan apa yang dilihatnya. Ia terus berteriak memanggil pihak keamanan untuk memisahkan mereka, namun taka da satupun mereka yang kunjung datang.
Buagh!
"Dimana wanita jalang itu? Apa ia sudah mati?" tanya tuan Park.
"Maafkan aku Jungsoo-ah"
"Kau dan wanita jalang itu, kenapa kalian menitipkan anak haram itu padaku hah!" erang Tuan Park.
"Bayi itu.. bayi itu anakmu Jungsoo"
"Jangan menipuku Bangsat!"
Sungmin semakin menjerit histeris saat satu pukulan keras tuan Park layangkan dan berhasil menumbangkan Hangeng dari berdirinya. "Di..dia..an..an.. Jungsoo-ah" lirih Hangeng.
TBC
Enggg..iii..Engg….! #Tebar menyan
Disaat yang tak tepat Amoree malah update mengingat udah berapa lama ni efef berhiatus ria.
Ada yang masih menunggu? Amoree harap masih #PuppyEyes
Mianhe kalo chap ini kurang memuaskan, habis.. datanya udah ilang semua jadi lupa dech #DitabokReader.
Jadi Amoree harap masih ada yang minat menambah masukkan buat amoree ne #KeepSmile
