Disclaimer : Masasshi Kishimoto
8
Pergi ke rumah Naruto bukanlah sesuatu yang baru bagi Hinata. Ketika dia sedang bosan atau sedang kurang kerjaan, dia akan pergi kesana untuk mengrecoki pemuda itu. Secara lama waktu pertemanan, Hinata harusnya lebih dekat dengan Sasuke mengingat mereka sudah jadi teman sejak kecil. Tapi sebab pemuda itu selalu dikelilingi oleh gadis-gadis yang entah datangnya dari mana, Hinata selalu mencoba menghindari kelihatan terlalu dekat dengan teman masa kecilnya itu.
Menghadapi perempuan itu lebih menguras mental. Dia paham sebab dulu dia juga sering jadi bulan-bulanan perempuan. Atau lebih tepatnya, anak-anak perempuan yang menyukai Sasuke saat dia masih SD.
Di sisi lain, Naruto adalah seseorang yang orang lain lebih suka hindari. Dengan kata lain, dia bisa jadi tempat kabur yang aman dari gangguan kebanyakan orang yang menggap dirinya normal. Meski hal itu artinya sama saja dengan orang yang menempel pada pemuda itu adalah orang-orang aneh, Hinata tidak keberatan berkompromi.
Sasuke, Hanabi, Amaru, dan dirinya sendiri.
Tiga orang yang dia sebutkan adalah orang-orang yang keberadaannya bisa dia tolerir dengan mudah.
Hanya saja, hari ini dia tidak datang ke sana untuk mengerecoki atau menjahili pemuda itu. Dia ingin minta maaf pada Naruto yang di hari sebelumnya dia sudah tinju wajahnya dengan sekuat tenaga setelah menghina Ibunya.
Kalau ditanya apakah Hinata menyesal atau tidak saat melakukannya, dia akan bilang tidak. Sebab Naruto menghina Ibunya adalah kenyataan. Tapi kalau apakah dia merasa bersalah saat melakukannya, Hinata akan menjawab iya. Sebab dia tahu, kalau apa yang Naruto lakukan hanyalah bagian dari metode lamanya untuk menyelesaikan masalah.
Metode yang dia sangat benci.
Naruto bisa membuat Ibunya kelihatan seperti orang jahat dan menunjukan kalau Hinata adalah korbannya dan membuat wanita itu merasa bersalah. Sebelum memperlihatkan kalau apa yang Ibunya kira baik untuk dirinya bukanlah sesuatu yang benar-benar baik.
Dia juga bisa mendorong Hinata untuk maju dan menghadapi Ibunya sendiri untuk melawan lalu memaksa keduanya berbicara satu sama lain dengan panjang lebar.
Tapi yang dilakukannya adalah memberikan penghakiman kalau dia dan Ibunya adalah orang idiot. Dengan kata lain dia memilih untuk jadi antagonis yang perlu dikalahkan oleh keduanya dengan menunjukan kalau keduanya hanya sedang berusaha untuk melakukan apa yang mereka bisa untuk membuat yang lainnya bahagia.
Berkat hal itu, hubungan Hinata dan Ibunya bisa jadi lebih baik tanpa harus membuang waktu untuk merasa canggung dulu sebelum bisa membiasakan diri satu sama lain. Jika salah satu dari mereka harus dicap sebagai antagonis oleh Naruto, hubungan mereka tidak akan pulih dengan cepat sebab ada yang merasa harus bertanggung jawab dan ada yang merasa harus menerima sesuatu yang bahkan mereka tidak pantas dapatkan.
Selain minta maaf, hari ini dia juga ingin mengomeli pemuda itu sebelum akhirnya berterima kasih padanya.
Dia merasa kalau dia akan bicara tentang sangat banyak hal, oleh sebab itulah dia pergi ke tempat pemuda jauh lebih awal dari biasanya.
"Hehe. . "
Sambil terus berjalan, Hinata tersenyum kecil.
Naruto bilang kalau kesalahpahamannya dengan Ibunya bukanlah sebuah masalah besar, mereka hanya kurang komunikasi. Ketika dia sadar kalau apa yang dia anggap sebagai sebuah masalah yang tidak bisa dia selesaikan hanyalah sebuah kesalahpahaman bodoh, tiba-tiba dia benar-benar merasa seperti orang idiot.
Jika kau tidak tahu tentang sesuatu, tanyakan hal itu.
Kenapa dia tidak bisa mendapatkan jawaban sangat sederhana tentang masalahnya itu sampai kemarin?
Jawabannya adalah karena dia terbawa suasana, dia sok tahu, dan dia hanya fokus dengan apa yang ada di depannya. Sama seperti banyak sekali orang-orang di sekitarnya.
Meski tidak selevel Naruto, Hinata juga tidak banyak koneksi pada dengan orang lain. Meski tidak ada yang aktif menghindarinya, dia juga tidak pernah aktif mendekati orang lain. Dalam hal ini, entah dia ataupun Naruto bisa dibilang sama-sama penyendiri.
Hanya saja alasan kenapa dia tidak punya banyak teman jauh berbeda dengan Naruto. Jika pemuda itu kehilangan teman karena dia terlalu sering membuat orang lain ingin menusuknya dari belakang. Alasan Hinata tidak membaur dengan orang lain adalah karena dia tidak merasa perlu.
Tidak, bukan itu. Gadis itu, jauh di dalam sana merasa kalau dia itu lebih baik dari orang lain. Dia merasa kalau orang-orang di luar lingkarannya berada di bawahnya. Dan berhubungan dengan mereka hanya akan membuatnya turun ke level mereka. Orang-orang bodoh yang hanya bisa mengikuti arus tanpa pernah mencoba berpikir sendiri dan selalu menjadikan tindakan orang lain sebagai kiblat untuk mengambil keputusan.
Setidaknya sampai kemarin.
Setelah mendengar apa yang Naruto katakan tentangnya dia sadar kalau sebenarnya dia tidak jauh berbeda dengan orang lain. Dia bukan orang elit yang berada di atas semua orang, dia hanyalah seorang gadis berumur enam belas tahun sombong yang merasa kalau dia bisa melakukan apapun sendirian.
Dia hanya mengikuti seseorang tanpa mau berpikir sendiri, dia menjadikan tindakan orang lain sebagai kiblat, dan dia mencoba membaca atmosfir tanpa pernah mencoba mengkonfirmasi isinya dengan jelas.
Kalau namanya, Mai Sakuraj*ma mungkin saja dia sudah hilang dari pikiran semua orang karena atmosfir ingin dijauhi yang dia pancarkan.
Alasan awal kenapa Hinata bisa menerima keberadaan Naruto saat Sasuke membawa pemuda itu kedepannya adalah karena Naruto bisa melawan arus. Tapi dia sendiri sudah melakukan apa yang harusnya jadi hal yang sangat dia benci.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi"
Seperti yang sudah Naruto katakan, kehidupan itu tidak perlu drama.
Dan untuk bisa merealisasikan keinginan itu, dia membutuhkan seseorang yang selalu bisa mengingatkannya kalau dia lupa. Orang seperti Naruto.
Hinata tahu kalau Naruto bukan tipe orang yang akan menghindari seseorang hanya karena alasan sepele seperti orang itu menghajarnya dengan sekuat tenaga. Tapi dia tidak mau mengambil resiko. Spesies seperti Naruto itu langka, dan dia tidak akan memberikan pemuda itu alasan untuk menjauhinya.
Hinata membutuhkannya, dan agar bisa tetap di sampingnya dia bersedia untuk sedikit mengubah dirinya sendiri.
Dia ingat kalau Naruto suka orang yang jujur dan blak-blakan. Kalau jadi jujur dan blak-blakan adalah tiket agar dia bisa terus bersama pemuda itu, dia akan jadi orang yang seperti itu.
"Aku tidak mau keduluan orang lain!"
Orang yang ingin dekat dengan Naruto bukan hanya dia saja, orang yang memerlukan pemuda itu bukan hanya dia saja. Hinata punya banyak saingan, dan meski dia mungkin tidak perlu mengalahkan mereka semua. Menyerang lebih awal akan memberikannya keuntungan lebih besar.
Langkah penuh rasa buru-buru Hinata akhirnya berhasil membawanya ke depan tempat Naruto tinggal, dan begitu dia melihat ada seorang gadis cantik berambut merah yang kelihatan sedang ragu-ragu untuk masuk. Tiba-tiba Hinata merasakan sebuah firasat buruk. Membuatnya merasa kalau langkahnya perlu dia percepat.
"Kak Sara, kenapa kau ada di sini?"
Hanya untuk dipaksa berhenti oleh suara seorang gadis lain yang baru keluar dari bangunan di depannya. Secara refleks Hinata menyembunyikan dirinya meski sebenarnya dia tahu dia tidak perlu melakukannya. Hanya saja keluar sekarang akan membuatnya ditanya kenapa dia harus bersembunyi sebelumnya.
Dia menemukan satu lagi kebiasaan yang harus dia rubah,
"A-aku, ingin menemui Naruto"
Begitu mendengarnya, Hinata merasa kalau firasat buruknya akan benar-benar jadi kenyataan. Tapi dia masih belum bisa keluar dari tempatnya bersembunyi dan memutuskan untuk mengetahui urusan macam apa yang gadis itu miliki dengan Naruto.
Beberapa saat kemudian, Naruto keluar dan ketiganya tiba-tiba berbicara dengan akrab. Dari ekspresi yang dipasang Amaru, gadis itu bisa dipastikan bukan orang asing. Dan dari gelagat Naruto yang dengan santainya berbicara dengannya, sepertinya ketiganya cukup akrab.
Selama beberapa saat ketiganya terus membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting. Hanya saja, setelah topik tentang sekolah, kesehatan, serta keadaan finansial Amaru dan Naruto berakhir. Si gadis bernama Sara mulai bertingkah aneh.
"Na. . Naruto. . . "
"Apa?"
"Um. . "
Gadis bernama Sara tadi melihat ke arah Naruto dengan wajah ragu-ragu. Dari ekspresinya yang kelihatan seperti murid yang disuruh mengerjakan soal yang tidak dia pernah pelajari, sepertinya dia ingin membawa topik yang sulit untuk dibicarakan.
Wajah memelas, mata basah, pose layaknya orang yang ketakutan, dan juga fakta kalau yang memperlihatkan semua itu adalah seorang gadis cantik membuat yang melihatnya akan langsung ingin bilang 'aku akan melindungimu'. Bahkan Hinata sendiri merasa, kalau dia laki-laki mungkin dia sudah memeluknya dengan erat.
"Tolong..."
"Tolong?"
Hanya saja Naruto entah kenapa tidak kelihatan terpengaruh. Sesuatu yang aneh mengingat tidak mungkin laki-laki normal bisa menerima serangan psikologis itu dan tidak menunjukan reaksi macam apapun.
"Tolong jadi pacarku!"
Setelah lama mengumpulkan keberanian, akhirnya si gadis berambut merah berani bicara. Atau lebih tepatnya, berani berteriak.
"Haaaa?"
"Haaaa?"
Yang tentu saja langsung mengundang teriakan lain, teriakan Hinata dan Amaru.
"Apa maksudmu kak Sara! aku sangat yakin kalau hak menembaknya secara langsung itu cuma milikku!"
"He? . . "
Amaru yang sedari memasang wajah ramah langsung berubah dan memasang wajah seakan kalau gadis yang ada di depannya adalah musuh bebuyutannya. Lalu. .
"Kenapa kau repot-repot meminta orang ini jadi kekasihmu? maksudku apa yang bagus darinya? dia itu miskin, tidak punya banyak teman, penyediri, tidak peka, dan juga tidak pintar-pintar amat"
Hinatapun keluar dari tempat sembunyinya sambil melemparkan hinaan terhadap Naruto. Atau lebih tepatnya, dia mencoba memberi alasan bagi si gadis bernama Sara untuk tidak maju lebih dalam dan mulai menjauhi Naruto.
"Mm. . ."
Sara yang tidak tahu kenapa tiba-tiba ada dua gadis yang menatapnya dengan pandangan sangat tajam langsung mundur beberapa langkah. Lalu, Naruto yang melihat kalau sepertinya keadaan di sekitar mereka jadi lumayan ramai memutuskan untuk mengambil alih pembicaraan.
"Aku ingin tanya kenapa Hinata ada di sini, tapi kurasa akan lebih baik kalau kita semua masuk dulu"
Naruto melihat ke arah tiga gadis yang ada di sekitarnya, dan ketiganya mengangguk untuk menunjukan kalau mereka setuju dengan ide pemuda itu. Kemudian dia juga tidak lupa untuk bilang. .
"Aku tidak tahu apa masalahmu kak Sara, tapi kalau kau butuh pacar tolong jangan mengajak adik laki-lakimu sendiri"
Hinata menghentikan langkahnya untuk sesaat, setelah itu dia melihat ke arah Naruto dan Sara lalu.
"Haaaaaaaaaaa!"
Dia berteriak dan memukul keningnya sendiri. Sepertinya firasat buruknya baru saja terealisasi. Dia tidak tahu masalah apa yang dibawa oleh gadis yang Naruto panggil kakak itu, tapi setidaknya dia yakin kalau kesempatannya untuk curi start sudah hilang begitu saja.
END
Terima kasih banyak pada semua reader yang mau balik lagi ke sini meski authornya jarang keliatan, sesuai request diriku akan berusaha kasih UnMotivated hero update. update terakhir, rencananya.
