Setahun setelah kecelakaan besar terjadi. 12 Desember 2005

Pintu mobil terbuka, Hangeng melangkah turun dengan beberapa butler yang langsung mengikutinya. Mengantar sang jutawan memasuki perusahaan mewah milik Kangin yang bergerak dibidang Pendidikan. Kangin merupakan salah satu kandidat besar calon presiden Korea 2006, keaktifisannya yang bergerak dibidang pendidikan menunjang karirnya sebagai pemimpin Korea masa depan dengan amat sangat baik.

Pintu lift terbuka, dan Hangeng melangkah masuk seorang diri. Tangannya yang bergerak lembut diudara menyiratkan para butlernya untuk berhenti mengikuti Hangeng, mereka berdiri patuh dengan tubuh membungkuk didepan pintu lift.

Hangeng terlihat menghela nafas, matanya yang sipit dan wajah tampannya yang lembut menatap pintu lift yang nyaris tertutup, seseorang pemuda bertubuh subur berlari masuk tepat sebelum pintu lift tertutup sempurna. Bibirnya menyunggingkan senyuman sesal dan berdiri dengan sopan disamping Hangeng, tangannya memegang sebuah map besar yang tebal.

Tangan sang pemuda terulur, menekan beberapa tombol yang ada di dinding lift dengan angka dua dan delapan ter pampang disana, Hangeng hanya diam, matanya sesekali melirik tubuh yang cukup subur disampingnya.

Perjalanan mereka dilalui dengan diam, pintu lift terbuka dan kedua orang itu melangkah keluar bersamaan, dengan gerakan yang sama dan tujuan yang hampir sama. Hangeng mengangguk kecil, tangannya terulur dengan cepat dan menarik amplop besar itu begitu cepat.

Isinya terburai diatas lantai, beragam foto yang diambil secara diam-diam terlihat berserakan disana.

"Anda tidak sopan, Tuan." Suaranya berat, dengan nada kontrol kesal yang teredam dengan sangat baik, tubuh suburnya membungkuk dan kedua jarinya dengan begitu lihai memasukkan foto-foto beragam yang diambil secara diam-diam kembali masuk kedalam amplop.

Hangeng mengerjap tak percaya, tangannya kembali terulur begitu cepat dan memegang pergelangan tangan sang pemuda dengan erat, suara lembutnya yang dingin perlahan terdengar.

"Lebih tidak sopan aku, atau pekerjaan yang kau lakukan?"

Tubuhnya mematung, tangannya disentak cepat dan matanya memicing menatap Hangeng, berkas yang ada ditangannya tergenggam begitu erat. "Ini pekerjaanku."

Hangeng tersenyum tipis, membalikkan tubuh tingginya yang terbaluti tuxedo berwarna hitam dan disiap melangkah. "Ikuti aku jika kau ingin pekerjaan yang lebih baik."

Tubuhnya kaku, matanya mengerjap tidak mengerti menatap tubuh Hangeng yang melangkah menjauh dengan yakin.

Siapa dia hingga dia harus diikuti?

Ada dengusan malas yang terdengar, pemuda itu berbalik dan melangkah berseberangan dari langkah Hangeng yang menjauh, tangannya semakin memegang map dengan erat dan matanya menatap pintu mewah ruangan Kangin didepannya dengan mata yang kini berbinar ragu.

Tangannya nyaris terulur untuk membuka pintu, "Sialan." Sebelum suara desisannya terdengar dan tubuhnya bergerak cepat untuk mengejar Hangeng yang bergerak masuk kedalam lift, angka 30 terlihat, angka tertinggi digedung besar ini.

Matanya memicing saat angin segar menghembus keras diatas gedung, kakinya melangkah mendekat dan menatap tajam sosok Hangeng yang kini tersenyum kecil menunggu didepannya, dengan tangan terlipat, dan ekspresi santai yang tercetak begitu tampan diwajahnya.

"Aku yakin kau akan menyusulku."

Sosok itu mendengus, tangannya memegang map dengan erat dan matanya memicing tajam menatap Hangeng. "Kau menganggu pekerjaanku, Tuan. Apa sebenarnya urusanmu disini?"

Hangeng tersenyum kecil, mengulurkan tangannya begitu santai. "Sejak kapan Kangin menyuruhmu melakukan ini?"

Dia terkesiap, matanya yang sipit semakin terlihat sipit, wajah tampannya yang Chubby justru kini terlihat menggemaskan. "Ini baru pertama kali." Jawabnya kemudian. "Namun apa urusannya denganmu? Kau bisa menghancurkan omset pemasukanku, Tuan."

Hangeng menggeleng, tangannya yang terabaikan kini terlipat dengan lembut ditubuhnya. "Siapa namamu?"

"Shindong, Shin Dong Hee." Dia mendengus, hendak berbalik sebelum kembali menatap Hangeng. "Siapapun kau, jangan ganggu pekerjaanku."

Hangeng mengangguk kecil, membalikkan tubuh tegapnya dan menatap papan iklan besar yang ada didepan jalan perusahaan milik Kangin, sebuah poster dengan wajah tampan Kangin yang minim senyum terlihat jelas, dibawah sana tertulis dengan tinta merah 'Calon pemimpin masa depan.'

"Jangan ganggu keluarga Jaejoong-ssi dan anaknya Sungmin, Shindong-ssi."

Suara lirih Hangeng terdengar begitu tajam ditelinganya, langkah Shindong terhenti begitu tiba-tiba, dan mata sipitnya menatap punggung Hangeng dengan tatapan tidak mengerti.

"Kau tahu mereka tidak bersalah, kau juga pasti tahu bahwa ini semua murni kecelakaan dan mereka semua adalah korban." Suara Hangeng terdengar kecil, "Aku tidak akan menyalahkan Kangin atas dendam butanya pada Keluarga Lee Yunho. Tapi aku mohon padamu untuk tidak memperkeruh suasana, mereka seharusnya bisa hidup dengan tenang di China sana tanpa harus mengkhawatirkan gangguan dari Kangin."

Suara Shindong terasa sulit untuk terdengar, kakinya yang terbaluti sebuah pantofel model lama melangkah ragu mendekati punggung Hangeng yang masih membelakanginya. "Kau tahu?" Suaranya nyaris terdengar seperti bisikan.

Hangeng mengangguk, wajah tampannya menoleh dan menatap Shindong kemudian. "Aku juga memantau keluarga Sungmin selama ini, kenapa Jaejoong-ssi bisa menikah dengan Byun Myung Soo itu semua karena campur tanganku."

Shindong nyaris tergagap. "Anda mengkhianati Kangin-ssi?"

Hangeng menggeleng, wajah tampannya kembali mengabaikan Shindong dan menatap wajah tampan Kangin yang tercetak besar didepan sana. "Aku juga memiliki putra seperti Sungmin, dan sebagai seorang ayah aku tidak akan pernah rela jika ada yang menyakiti putraku meski aku sudah meninggal terlebih dulu. Kau pasti tahu dengan baik bahwa apa yang dilakukan Kangin adalah kesalahan."

"Aku hanya bekerja dan aku tidak akan ikut campur." Shindong menggeleng cepat, kembali berbalik untuk yang kesekian kalinya sebelum langkahnya kembali terpaku.

"Aku akan membayarmu dua kali lipat jika Kangin tidak akan pernah tahu bagaimana wajah Sungmin yang sebenarnya."

"Apa maksudmu?" Shindong tergugu, bertanya tanpa berbalik, membiarkan dua punggung mereka berseberangan oleh angin.

"Lanjutkan pekerjaanmu, tetap lakukan apapun yang diperintahkan Kangin, tapi aku hanya minta padamu agar Kangin tidak pernah melihat wajah Sungmin."

"Kangin mungkin saja memerintahkan aku untuk membunuh mereka, tidak ada gunanya permintaanmu."

Hangeng menggeleng, tubuhnya berbalik dan senyum kecil tercetak begitu indah diwajah tampannya. "Percaya atau tidak, Akan ada yang melindungi Sungmin darimu nantinya."

Shindong mengerjap, tubuhnya terasa meremang secara tiba-tiba. "Siapa anda sebenarnya?"

"Aku hanya seorang ayah yang jika diberi kesempatan akan selalu melindungi putranya jika aku bisa." Wajah tampan Shindong semakin terlihat kebingungan. "Pada intinya, Aku hanya ingin melindungi Sungmin seperti aku melindungi anak-anakku. Dia tidak bersalah, keluarganya tidak bersalah, dia juga seorang korban, dan itu alasan yang cukup untukku melakukannya."

Shindong mendesah tak mengerti. "Aku belum setuju dengan permintaanmu."

Hangeng mengangguk, tangannya terulur menjabat tangan kaku Shindong disisi tubuhnya. "Senang bekerja sama denganmu Shindong-ssi, aku hanya berharap bahwa Kangin tidak akan pernah menyesal suatu saat nanti karena apa yang dia lakukan sekarang."

Shindong kembali mematung untuk yang kesekian kalinya, matanya yang sipit menatap punggung Hangeng yang melangkah dengan begitu santai.

"Alasannya sederhana." Hangeng berbisik dalam diam. "Sungmin itu indah, dan keindahannya selalu mengingatkan aku akan Heechul. Mungkin suatu saat nanti anakku akan jatuh cinta pada laki-laki cantik seperti Sungmin."

Hangeng tersenyum kecil, wajah puas tercetak jelas diwajah tampannya.

Tidak akan ada yang pernah tahu bahwa bisikan lirih Hangeng akan terkabul bukan?

Takdir sesederhana itu.

.

.

PATHOS

.

Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun.

Saya percaya itu.

.

YAOI, BxB, M!warning, M-Preg, Typo(s), Bahasa yang tidak sesuai ejaan yang disempurnakan, membingungkan, dan berantakan.

.

Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan, orang tua mereka, dan tentu saja diri mereka sendiri. Namun saya percaya, cerita ini milik saya XD

.

.

Berani baca, Berani komentar bukan? XD

.

.

Chapter 9

.

.

.

Ruangan itu begitu megah, disulap menjadi sebuah lantai dansa dengan pencahayaan lembut yang tersorot dari berbagai sudut. Ruangan besar itu penuh, mereka berjas rapi dan bertuxedo mewah, dengan para wanita bergaun glamour karya desainer terkenal, mereka berkumpul dan membentuk aliansi, mencari partner bisnis baru sebagai niat terselubung.

Disudut, dekat jendela besar yang megah berdiri tiga pemuda dengan stelan jas mahal mereka yang mencetak tubuh tegap mereka dengan begitu indah, salah satu dari mereka berdiri santai dengan sebuah pakaian besar yang megah yang menutupi tubuh langsingnya yang begitu putih, ada celana denim tanggung berwarna hitam bercorak emas yang membungkus kaki jenjangnya yang dielukan semua wanita normal.

Dia Cho Heechul, Nyonya besar keluarga Cho yang berdiri angkuh disamping sang suami dengan tangan kekar Hangeng melingkari pinggang mungil istrinya dengan lembut, wajah tampan Hangeng yang terpahat dengan sempurna terlihat begitu tampan dengan senyum kecil yang tersungging manis dibibir tipisnya.

Ada Eunhyuk dan Donghae yang bergabung bersama mereka, dengan tuxedo mewah karya desainer terkenal yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan oleh Heechul, laki-laki cantik yang tampak anggun berdiri disamping Hangeng malam ini.

"Kangin Ahjussi cukup terlambat."

Heechul mengangguk membenarkan, wajah tampannya yang nyaris mendekati cantik menoleh dan menatap Hangeng yang masih menatap keluarga kecilnya dengan lembut. "Kita menikah sudah sangat lama, tapi kenapa mereka masih menatapku dengan tatapan seperti itu. Aish." Ada geraman yang terdengar, tangan Heechul yang bebas terlipat, dan mata sipitnya dengan bulu mata yang berlengkung indah melempar tatapan sinis ke beberapa kelompok yang sedari tadi menatap mereka dengan tatapan beragam.

Wajah mereka memerah, dan sontak menunduk dengan wajah takut.

"Kau harus tegas menghadapi orang-orang seperti mereka jika kalian jadi menikah Hyukkie."

Eunhyuk menghela nafas, menolehkan wajah tampannya dan menatap beberapa kelompok yang mengelilingi sebuah hidangan kini tengah menatap mereka secara diam-diam, jelas pilihan 'Special' mereka dalam menjalin hubungan merupakan sebuah tantangan besar, kepedulian orang-orang yang tidak penting hanya satu dari beragam alasan yang akan menganggu mereka suatu saat nanti.

"Aku anakmu, Umma."

Heechul tersenyum puas, wajah cantiknya mengangguk membenarkan dan tangannya balas menggenggam tangan Hangeng yang sedari tadi mengusap lengannya yang mengenakan atasan berlengan pendek, memperlihatkan tangan putihnya yang mulus meski usia sudah tidak lagi muda.

"Seandainya Kyuhyun juga hadir bersama calon menantuku, aku yakin para wanita akan iri dengan kecantikannya."

Eunhyuk terkekeh kecil, melempar senyum menenangkan kearah Donghae yang masih berdiri begitu gugup disampingnya, wajah polosnya kini begitu tampan. Dengan rambut hitamnya yang tersisir rapi keatas tanpa poni.

Hanya satu hal yang menganggu Eunhyuk, Donghaenya terlalu bersinar malam ini.

"Katakan pada Kyuhyun untuk memperkenalkan kekasihnya pada Appa."

Heechul mengerjap, wajah cantiknya menatap Hangeng yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Astaga, aku lupa mengatakannya." Heechul terkekeh kecil, memeluk pinggang ramping Hangeng dari samping. "Kau akan menyukainya jika kau melihatnya sayang, Kita akan menemuinya ketika ada waktu luang."

Eunhyuk terkekeh, mengulurkan tangannya yang bebas dan memeluk lengan Donghae dengan lembut, wajahnya yang kelewat tampan mendekat kearah Donghae. "Aku bahagia melihat mereka," Suaranya terdengar begitu lirih.

Donghae tersenyum kecil, mengulurkan tangannya dan mengusap tangan Eunhyuk yang ada dilengannya. "Kita akan seperti mereka suatu saat nanti, Aku berjanji."

Eunhyuk mengangguk, tidak ada suara, namun wajah tampannya merona secara perlahan.

"Kalian tertawa tanpa menungguku?"

Suara bass Kangin terdengar, sang tuan rumah melangkah begitu santai dan bergabung bersama mereka, disisinya ada seorang wanita cantik dengan gaun mahal yang menghias tubuh mungilnya.

Wajah cantiknya yang seperti malaikat tersenyum lembut menatap keluarga kecil dari sahabat suaminya.

"Kau sangat terlambat sebagai tuan rumah Kangin-ah." Heehcul menyindir sinis, tangannya terulur dan memeluk tubuh mungil Soo Jung dengan lembut. "Kau semakin cantik, Noona."

Soo Jung tersenyum kecil, menggandeng lengan Kangin dengan lembut. "Kecantikanmu bahkan membuatku iri, Heenim-ah."

Heechul terkekeh kecil, tangannya lagi melingkari lengan Hangeng dengan lembut. "Aku tahu, Noona."

Kangin tersenyum kecil, tangannya menjabat tangan pemuda-pemuda tampan yang terulur kearahnya, matanya yang begitu tajam menatap sepasang pemuda dihadapannya dengan tatapan tidak terbaca.

"Kau menemukan calon menantu yang tampan, Hangeng-ah."

Hangeng mengangguk kecil, menatap pasangan putranya yang kini membungkuk begitu sopan dengan senyum yang begitu tampan disana. "Tentu karena Eunhyuk-ku juga tampan."

Kangin terkekeh, kekehan yang terpancar lembut dimata hitamnya. Tangannya memegang lengan Soo Jung dengan lembut, membiarkan istrinya menyapa Eunhyuk dan Donghae yang kini tengah membungkuk sopan kearah mereka.

"Garis keturunan memang sangat berpengaruh, bahkan 'keanehan' anaknya tidak berbeda dengan kedua orang tuanya."

Percakapan yang terhenti, dan bisikan sinis yang terdengar sukses membuat Heechul meradang, tangannya yang berada disisi tubuh Hangeng bergetar hebat.

"Bisa anda mengatakannya secara langsung dihadapanku Nyonya bergaun merah yang ada disana."

Suasana pesta tampak hening, musik lembut yang sedari tadi mengiring kini terdengar begitu horor, tatapan tajam yang Heechul layangkan sukses membungkam seluruh pengunjung pesta.

"Ada apa, Heechul-Ssi?"

Heechul tersenyum teramat tipis, tangannya bergerak lembut melepas pelukan Hangeng yang mencoba menahannya, kaki jenjangnya melangkah tanpa ragu dan berdiri angkuh tepat dihadapan wanita jangkung yang kini sedikit menatap takut kearahnya.

"Bisa anda katakan apa yang ingin anda katakan secara langsung nyonya? Aku ada dihadapanmu sekarang, dan aku ingin mendengarnya lebih jelas."

Wanita itu mengeram, tangannya memutih. "Apa yang aku katakan benar bukan?"

Heechul terkekeh, kekehan yang entah kenapa seperi backsound horor ditengah suasana pesta, Kangin hanya tersenyum kecil, menatap Hangeng yang juga tidak berkomentar disampingnya.

"Itu heechul yang aku kenal."

Hangeng menoleh, menatap Kangin yang terkekeh pelan.

"Anda benar, sangat benar." Heechul mengangguk, tangannya terulur dan menyentuh gaun mahal yang wanita tanpa nama itu kenakan. "Kim Sa eun-ssi, aku fikir putraku jauh lebih baik dari putramu. Dia menikahi pria yang memang dia cintai, sedangkan putramu menikahi seorang wanita yang anda gunakan hanya untuk menyelamatkan perusahaanmu yang terancam bangkrut."

Sa Eun terlihat pucat, tangannya mengepal hebat. "Kau keterlaluan Cho Heechul-ssi."

Heechul membungkuk kecil, matanya yang sedikit bulat menatap sinis. "Aku fikir anda jauh lebih keterlaluan disini, aku tahu pilihan keluargaku sangat aneh dimata kalian, namun apakah pilihan itu mengganggu kalian?"

Suara lirih Heechul terdengar begitu dingin, matanya memicing menatap sekeliling, dimana pengunjung pesta berdiri kaku tanpa suara.

"Kami sudah hidup cukup sulit selama beberapa tahun, apa kalian juga akan mempersulit keputusan anak-anakku?" Heechul tersenyum tipis, melangkah mendekat dan menatap wanita cantik dihadapannya dengan tajam. "Aku tidak ingin bermain kotor dan melakukan suatu hal yang rendah, tapi aku fikir perusahaanmu masih merangkak naik Kim Sa Eun-ssi. Bukankah bijak jika kau harus menjaga mulutmu demi anak-anakmu kelak."

Heechul berbalik, tersenyum manis menatap keluarga kecilnya yang melempar senyum bangga kearahnya. Tangannya terulur dan memeluk tubuh jangkung Eunhyuk yang bergetar dengan lembut.

"Aku sama seperti kalian." Heechul tersenyum kecil, menatap sekeliling dimana semua orang masih menatapnya. "Aku juga seperti kalian karena aku melahirkan anakku sendiri." Bibirnya menyunggingkan senyuman manis. "Jadi seperti orang tua lainnya, aku tidak akan pernah diam jika ada yang menganggu anak-anakku."

Kangin terdiam, wajah tampannya sedikit pucat.

Sosok Heechul yang berdiri kokoh dihadapannya seolah membuatnya merasa tertampar.

.

.

~o0o~

.

.

Wajah cantiknya terlihat begitu fokus, kaki mungilnya yang mulus terlipat dibawah meja, tangannya memegang laptop, dan mata beningnya yang Kyuhyun suka tertutupi kacamata baca yang membuat wajah tampannya terlihat menggemaskan.

Kyuhyun mendesah dalam diam, langkah kakinya yang hendak mendekati Sungmin yang ada didepan televisi terhenti, wajah tampannya terlihat begitu datar menatap wajah cantik Sungmin yang tampak fokus mengerjakan sebuah laporan baru. Sesekali keningnya yang tidak tertutupi poni mengernyit, bibir merahnya digigit, dan mata beningnya melotot gemas.

Kyuhyun rasa dia ingin menangis dan tertawa diwaktu bersamaan.

"Apa yang akan aku lakukan jika Sungmin mengingat masalalunya?"

Suaranya terdengar parau, tubuh jangkungnya tersembunyi di balik dinding yang menghubungkan dapur dengan ruang santai, tubuhnya yang memakai pakaian santai berdiri kaku dalam diam.

"Aku tidak tahu bahwa aku jatuh begitu dalam karena Sungmin." Matanya mengerjap pelan, matanya menyipit menatap Sungmin yang masih tidak menyadari akan keberadaannya. "Aku takut jika aku tidak akan pernah bisa lagi melepas Sungmin, Tuhan."

Nafasnya tertarik secara kasar, tangannya mengepal disisi tubuhnya. Wajah tampannya terlihat sedikit berkeringat, keringat dingin yang menetes lembut bahkan tidak Kyuhyun sadari.

Kyuhyun tidak tahu seberapa lama dia menatap Sungmin dalam diam dibalik dinding, Kyuhyun tidak tahu sebarapa lama dia memperhatikan raut Sungmin yang terus berganti, terkadang ada senyum manis diwajah cantiknya dan terkadang ada kerutan kening dan ekspresi kesal yang tetap saja terlihat cantik dimata Kyuhyun.

Sederhananya, Kyuhyun benar jatuh terlalu dalam untuk Sungmin.

Kyuhyun mendesah, menarik nafas secara perlahan dan melangkah mendekati Sungmin, wajah tampannya tetap datar, namun tatapan mata yang tertuju pada Sungmin mampu membuat salju meleleh karena terlalu panas.

Tatapan posesif seorang pria yang jatuh cinta.

"Kyu." Sungmin berteriak kecil, mengulurkan tangannya dan menarik Kyuhyun untuk duduk berdampingan dengannya. "Ada beberapa laporan yang membuatku kebingungan, berkali-kali aku memeriksanya aku tetap kebingungan, bagaimana caranya Kyu? Kyu-"

Kyuhyun tersenyum kecil, menjauhkan wajahnya setelah mencuri ciuman manis dibibir merah Sungmin yang refleks terkatup rapat. Pipi chubbynya yang mulus sontak merona merah secara perlahan.

"Mesum." Sungmin terkekeh, mengulurkan tangannya dan mengacak surai coklat Kyuhyun dengan lembut. "Masih enggan bercerita?"

Kyuhyun menggeleng manja meski wajah tampannya masih sedatar papan seluncuran. Tangannya yang yang berlengan pendek terulur, memeluk tubuh mungil Sungmin dengan lembut.

"Jangan memaksakan diri, Ming."

Sungmin mengangguk, sebelah tangannya yang bebas mengusap lengan Kyuhyun dengan lembut, menghilangkan rasa dingin yang menghinggapi tangan mungilnya.

"Apa yang ingin kau lakukan, Kyu?"

Kyuhyun mengerjap pelan, memegang sisi pundak Sungmin dan menatap wajah cantik Sungmin yang tengah menatapnya dengan tatapan lembut. "Apa?"

Sungmin mengangkat kedua bahunya dengan lembut, senyum cantik masih terhias disana, "Iya, Apa? Aku akan melakukannya untukmu."

"Anything?"

Sungmin mengangguk, memperbaiki posisi duduknya dan menatap Kyuhyun, membiarkan kedua kakinya yang terlipat bersentuhan dengan Kyuhyun. "Um." Disusul dengan sebuah anggukan manis.

"Bagaimana jika aku meminta sesuatu hal yang mesum, Ming?"

Sungmin tersenyum kecil, tangannya terulur dan menyentuh pipi Kyuhyun dengan lembut, "Kau tidak akan melakukannya, aku yakin itu."

Kyuhyun mengerjap pelan, melepas elusan lembut menggetarkan yang Sungmin lakukan pada tubuhnya dan menggenggam tangan Sungmin, membawa tangan mungil itu mendekati bibir tebalnya yang terkatup rapat.

"Percayalah aku ingin melakukannya, Ming." Tatapan Kyuhyun begitu dalam, intens, membuat Sungmin dapat merasakan getaran yang sama. "Namun seperti katamu, aku tidak akan melakukan apapun yang membuatmu tersakiti."

Sungmin mengangguk, wajah cantiknya menatap Kyuhyun begitu lembut, tatapan sederhana, tatapan yang membuat Kyuhyun tidak mampu untuk tidak membalas senyuman manis yang Sungmin tujukan untuknya.

"Peluk Aku." Sungmin berbisik lembut, bisikan yang membuat Kyuhyun mengangguk tanpa perlu menjawabnya, tangannya yang menggenggam tangan Sungmin bergerak, menarik tubuh mungil Sungmin dengan lembut kearahnya.

Memerangkap tubuh mungil Sungmin dalam dekapan hangat miliknya.

.

.

~o0o~

.

.

Pesta masih berlanjut, Para undangan semakin memadati ballroom mewah dikediaman Kangin yang disulap menjadi lantai dansa, pusat utama berlangsungnya acara pesta. Walaupun pesta sempat terhenti karena kejadian tadi, namun kemeriahan dan kemegahannya tetap berlanjut sampai sekarang.

Kyura dan Kibum muncul bersamaan, kedatangan mereka berdua berhasil mengusik pesta selama beberapa saat, membuat beberapa pasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan menilai, tatapan ingin tahu yang tentu saja diabaikan oleh Kyura dan Kibum dengan baik.

Kedua nya melangkah dengan anggun, bergandengan tangan dan berbaur bersama Heechul yang masih berdiri dengan angkuh dimana ada Hangeng yang masih memeluknya dari samping dengan lembut, ada pasangan Eunhyuk dan Donghae serta Kangin dan istrinya yang ikut bergabung setelah sebelumnya menyapa para tamu undangan, sekedar basa-basi.

"Kalian terlambat." Heechul mendengus, membuka kedua tangannya dan membiarkan Kyura memeluknya, satu-satunya wanita cantik yang ada dikeluarga besarnya yang dipenuhi laki-laki tampan.

"Aku harus menyeret Kibum untuk hadir, Umma." Kyura berbisik, melepas pelukannya setelah sebelumnya mencium pipi Heechul, tubuhnya bergerak cepat dan memeluk Hangeng yang ada disamping Ibunya dengan pelukan tak kalah lembut, tersenyum kecil saat puncak kepalanya merasakan ciuman sayang dari ayahnya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Kibum membungkuk sopan, wajah tampannya yang dingin menatap Hangeng dengan tatapan sedikit lembut, meski orang lain tidak akan menemukan adanya perbedaan.

"Baik, Ahjussi. Bagaimana dengan anda?"

Hangeng tersenyum lirih, sekilas melirik Kangin yang masih minim akan ekspresi, tangannya yang bebas terulur, mengusap lengan Kibum dengan lembut. "Baik, tentu saja."

Kibum mengangguk, mencoba tersenyum meski wajahnya tetap saja terasa kaku. Tubuhnya bergerak perlahan, mendekati Ibunya yang sedari tadi menatap sendu kearahnya.

"Maaf aku terlambat, Umma."

Soo Jung megangguk. Wanita yang sudah melahirkan Kibum kedunia itu tersenyum kecil, mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Kibum dengan lembut.

"Kau tampan, Nak."

Ada senyum tipis disana, wajah tampannya yang minim ekspresi menatap serba salah ke arah ibunya.

Aula yang tadi dipenuhi oleh suara tawa sontak hening saat seorang pemuda dan seorang gadis lagi-lagi melangkah masuk, bergandengan tangan, dan melangkah dengan pasti.

Bisik-bisik hebat sontak terdengar, suara pengunjung seolah berdengung menjadi satu, wajah tampan Kangin dan Kibum sontak kaku secara bersamaan, kaku namun tetap saja mereka tampan.

Tubuh tegapnya dibaluti Tuxedo berwarna abu-abu, disebelahnya berdiri seorang gadis cantik dengan gaun hijau toska diatas lutut, langkah kakinya pasti bak model profesional, tangannya yang indah menggandeng Siwon dengan lembut, ada keposesifan yang tersembunyi disana.

Hangeng menghela nafas, tangannya terasa kaku tanpa disadarinya, matanya yang sipit menatap bergantian kearah Kangin, Kibum, dan Siwon yang sama-sama menyembunyikan emosi mereka dengan baik.

Kyura mengerjap, merasakan aura tidak nyaman dan kaku yang tiba-tiba saja melingkupi mereka, matanya yang dihiasi riasan sederhana bergerak cepat, merekam wajah pucat Kangin, Siwon, Ibunya dan Kibum diwaktu bersamaan, ada kerjapan lembut yang Kyura layangkan saat tubuh Kibum yang berdiri tidak jauh darinya bergetar.

"Kau baik?" Bisikan Kyura saat dia mendekati Kibum secara diam-diam terdengar begitu lirih, tangannya yang terhiasi sebuah gelang perak menyentuh lengan Kibum dengan lembut, tubuh Kibum yang kaku membuat Kyura tahu bahwa Kibum tidak dalam keadaan baik.

Siwon membungkuk sopan, dengan Liu Wen yang ikut membungkuk disampingnya. Para pengunjung berbisik-bisik, menatap lapar kearah Siwon yang menggandeng Liu Wen dengan angkuh, untuk pertama kalinya dimana putra kandung Kangin ada dihadapan mereka. Dengan aura mengintimidasi, dan wajah tampannya yang seksi.

"Selamat datang, Nak."

Siwon tersenyum kecil, senyuman tulus yang memperlihatkan dua buah lesung pipitya yang dalam, tangannya yang sudah dilepas oleh Liu Wen terulur dan memeluk Ibu tirinya dengan lembut. Matanya terpejam, menikmati rasa hangat yang membungkus tubuh tegapnya.

"Aku pulang, Appa." Suara Siwon lirih, matanya yang tajam tertuju pada Kangin yang masih tidak menunjukkan ekspresi apapun. Siwon membungkuk sekali lagi, menahan kedua tangannya yang gatal ingin memeluk Kangin, sosok paruh baya yang sangat dirindukannya.

Nafasnya tertarik secara perlahan, matanya menatap sekeliling dan terhenti pada satu titik, pada mata tajam yang sedang menatap sinis kearahnya, bibir merahnya terkatup begitu rapat, pipinya masih semulus yang Siwon ingat, dan wajah tampannya masih semempesona yang Siwon suka.

"Apa kabar?" Siwon mencoba bersuara, melangkah mendekati Kibum. Sosok tampan yang masih berdiri kaku disamping Kyura, gadis cantik yang menatap dua sosok tampan dihadapannya dengan tatapan memicing, mencari penjelasan lebih lanjut.

"Baik." Suara Kibum terdengar amat sangat dingin, namun Kyura tahu bahwa ada getaran kecil yang berhasil didengarnya. Tangannya yang masih menggenggam lengan Kibum bergerak, mengusapnya dengan begitu lembut.

Siwon melihat semuanya, wajah tampannya mencoba tersenyum, menahan senyum menyedihkan yang memaksa ingin keluar, mata tajamnya mengerjap beberapa kali, membungkukkan tubuhnya dan kembali melempar senyum sopan kearah Heechul, Hangeng, Eunhyuk dan Donghae yang masih diam sedari tadi.

Para undangan masih menatap dalam diam, bisikan lirih sesekali terdengar, mereka seperti pelengkap yang menatap dalam diam, tidak di anggap, namun mereka mencari tahu, drama apakah yang sedang terjadi didepan mereka secara live.

Kangin tersenyum kecil untuk pertama kalinya, bibirnya yang kaku tertarik tipis, tangannya yang terasa dingin bergerak, mencoba merangkul Siwon yang juga berdiam kaku dengan senyum 'Profesionalnya'

"Dia putra pertamaku." Suaranya dingin, tangannya menepuk punggung Siwon dengan lembut, tepukan yang membuat Siwon nyaris ingin menumpahkan air mata, sederhananya Siwon tahu bahwa itu bukan tepukan tulus yang dulu sering dia dapatkan. "Dia ingin membuktikan dirinya bahwa dia bisa sukses tanpa bantuanku, dan sekarang dia sudah membuktikanya dengan baik."

Tepukan meriah terdengar, para pengunjung semakin berbisik-bisik, tidak mampu menyembunyikan rasa penasaran mereka.

"Dia tumbuh semakin tampan, bahkan aku yakin kalian para gadis pasti menginginkannya." Suara teriakan terdengar, teriakan yang tentu saja berasal dari mereka yang merasa seorang gadis. "Tapi kalian terlambat, wanita cantik yang ada disampingnya adalah calon menantuku."

Aula berdengung, semua berbicara keras dan berbaur menjadi satu. Seolah menguapkan rasa ingin tahu mereka yang akhirnya terbayar. Semua mata tertuju pada Presiden mereka, semua mata tertuju pada Siwon, dan semua mata juga tertuju pada gadis cantik yang masih tersenyum manis disisi Siwon.

Hangeng menghela nafas, sedari tadi tatapannya tertuju pada Siwon dan Kangin, namun ketika menatap Liu Wen, entahlah, ada tatapan yang sarat akan ketidak sukaan, luput dari pandangan.

"Mereka akan bertunangan dalam waktu dekat, bukankah begitu?" Suara Kangin dingin, matanya yang tajam menatap tanpa arti kearah Siwon yang hanya mengangguk kecil disisinya. "Kalian akan diberikan undangan secepatnya." Ada kekehan yang santar terdengar, tangannya yang bebas menepuk punggung Siwon sekali lagi. "Kalian bisa melanjutkan pestanya sekarang." Dan Kangin langsung berbalik, meninggalkan mereka semua dengan langkah cepatnya yang kaku.

Kyura mengerjap gelisah, mengabaikan tubuh Kangin yang jauh dan menoleh takut mendapati Kibum yang kini melangkah mundur dalam diam, seperti bayangan yang menghilang dalam sekejap.

Semuanya seolah meninggalkan tanda tanya dalam euforia pesta yang berlebihan.

.

.

~o0o~

.

.

"Tidak ada sayur lagi, Ming."

Sungmin menggeleng keras kepala, matanya memicing dengan tangannya yang bergerak lincah memasukkan bahan makanan berwarna hijau yang Kyuhyun sebut bernamakan sayur.

s-a-y-u-r

"Aku tidak akan memakannya." Suara Kyuhyun datar, tangannya bergerak mendorong troli meninggalkan Sungmin dibelakang sana.

"Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkan aku."

Kyuhyun mengeram, menghentikan dorongannya pada troli dan berdiri diam ditengah-tengah, matanya yang tajam menyipit geram menatap beberapa makanan yang lagi berwarna hijau kini menghias manis isi trolinya.

"Kau membelakangiku, Kyu."

Suara Sungmin kembali terdengar, dan Kyuhyun mengeram gemas karena kakinya tiba-tiba saja melangkah mundur, dengan troli yang ikut tertarik dan kembali berhenti tepat dihadapan Sungmin yang kini menyunggingkan seringaian manis.

Sungmin belajar dengan cepat untuk menaklukkan seorang Cho Kyuhyun bukan?

"Satu ikat Selada ini, Oke?"

Kyuhyun mengangguk tidak peduli, wajahnya yang tampan hanya diam tanpa ekspresi, layaknya Cho Kyuhyun yang biasanya.

"Baiklah jika kau tidak mau." Bibirnya memberengut, selada yang sedari tadi digenggamnya kini kembali diletakkan ditempatnya semula, Sungmin melangkah cepat, meninggalkan Kyuhyun yang tertinggal dengan troli yang berisi banyak bahan makanan.

Bukankah Kyuhyun terlihat seperti calon suami idaman?

Mengabaikan beberapa pengunjung wanita yang jelas-jelas menatapnya terang-terangan, Kyuhyun mendengus dan melangkah cepat, mencari tubuh mungil Sungmin yang kini menghilang ditengah labirin rak makanan.

Kyuhyun itu dingin dari lahirnya, wajahnya sudah minim ekspresi sejak kecil, bibirnya terlalu sulit untuk tersenyum, dan tatapan matanya sudah tajam sejak dalam kandungan. Namun satu yang patut disesalkan,

Bagaimanapun datarnya wajah Kyuhyun, Kyuhyun tetaplah begitu tampan, tetaplah menjadi sorotan, bahkan untuk anak kecil yang kini berdiri terpaku menatap Kyuhyun.

Matanya bulat dan bening, mata yang jarang dimiliki oleh anak Korea pada umumnya, hidungnya mancung kedalam persis seperti teman sebayanya yang biasa, bibirnya merah dan sipit, serta giginya yang berbaris kecil.

"Oppa." Suaranya merdu, tangannya terulur mencoba menggapai Kyuhyun yang tampan dan bersinar dimatanya. "Oppa lihat Hyemi." Suara jernihnya lagi-lagi terdengar, berhasil mengusik Kyuhyun dari dunianya mencari Sungmin, matanya yang tajam menatap sekeliling.

"Oppa." Kali ini suara rengekan, dan Kyuhyun kebingungan saat mendapati seorang anak kecil kini tengah melotot gemas kearahnya.

"Aku?"

Kyuhyun itu manusia tampan menyebalkan yang bahkan menjawab sapaan seorang anak kecil saja tidak bisa dilakukannya dengan benar.

"Iya." Ada senyum yang menghias wajah menggemaskannya, lagi-lagi tangannya terulur meminta Kyuhyun menyambutnya.

Kyuhyun mengerjap tidak mengerti, trolinya ia lepaskan dan tubuhnya perlahan duduk, melipat kedua lututnya dan menyamakan tinggi badannya dengan gadis yang menyebut dirinya bernama Hyemi.

"Ada apa?" Kyuhyun sesungguhnya mencoba untuk bersikap lembut, namun jawaban dan realitanya sungguh tidak sesuai dengan ekspestasi yang ia harapkan.

"Jadi pacal Hyemi, ya?"

Eh,

Kyuhyun mengerjap bingung, menatap sekeliling dan mendapati bahwa lorong yang kini dilewatinya dalam keadaan sepi, dimana semua orang?

Dan dimana ibu dari bocah yang baru saja menembaknya.

"Pacar?" Kyuhyun membeo.

Hyemi mengangguk, rambutnya yang terkuncir kuda bergerak berima, matanya yang bulat menyipit saat senyum bulan sabitnya terlihat. "Oppa tampan." Dan Kyuhyun terdiam saat mendapati wajah cantik Hyemi merona, persis seperti Sungmin jika Kyuhyun berhasil menggodanya.

"Kau masih kecil, bocah."

Sudah dikatakan bahwa Kyuhyun itu sama sekali tidak memiliki sopan santun.

"Kalau begitu nikahi Hyemi kalau Hyemi cudah becal, ya?"

Suara cadelnya pada huruf 's' yang terdengar jelas ditelinga Kyuhyun semakin membuat Kyuhyun terpana, anak kecil dihadapannya benar-benar ajaib.

Jika Sungmin yang minta dilamar Kyuhyun tidak akan berfikir dua kali untuk menyeret Sungmin ke altar.

Tapi ini,

Kyuhyun menarik nafas, mengulurkan tangannya yang langsung dengan sigap ditangkap oleh Hyemi. Matanya yang bulat mengerjap manja.

Pesona seorang Cho Kyuhyun benar-benar luar biasa.

"Ayo, kita cari Ibumu."

Hyemi terkikik saat Kyuhyun meletakkan tubuh mungilnya diatas belanjaan Kyuhyun yang menggunung, tangannya yang mungil memegang terali, dan mata beningnya menatap wajah tampan Kyuhyun dengan mata yang berbinar.

"Nama Oppa ciapa?"

Kyuhyun mendorong troli dengan lembut, menghindari bentrokan yang mungkin saja akan menerpanya, mata yang tajam menatap mata bening Hyemi yang masih menatapnya.

Anak didepannya menggemaskan, terlihat seperti anaknya dan Sungmin suatu saat nanti.

Mungkin,

"Kyuhyun." Dan Kyuhyun tersenyum manis membayangkannya.

"Kyuhyun oppa tampan."

Dan Hyemi kembali terkikik, mata beningnya masih betah menatap Kyuhyun, seolah ada Pangeran diwajah tampan Kyuhyun.

Kyuhyun mengeram, memicingkan matanya dan menatap tajam sosok Sungmin yang kini tampak berbincang dengan seorang pemuda, tubuhnya tinggi dan setara dengan tubuh Kyuhyun.

Dan Kyuhyun merasa kesal, kakinya melangkah cepat dengan Hyemi yang sedikit kebingungan mendapati pangeran tampannya kini mengeluarkan aura seorang penyihir jahat yang sering ditontonnya difilm cinderella.

"Apa yang kau lakukan disini, Sayang." Suara Kyuhyun mendayu-dayu, matanya yang tajam menatap intimidasi kearah pemuda yang juga kini tengah menatapnya balik.

Oh, sepertinya ada yang jatuh cinta dengan Sungmin-nya meski Kyuhyun baru meninggalkannya sebentar saja.

"Dia meminta pendapatku tentang daging kualitas mana yang baik untuk digunakan sebagai Steak, Kyu." Sungmin menjawab lembut, sama sekali tidak menyadari jika dua pemuda dihadapannya masih saling berhadapan.

"Oh." Kyuhyun bergumam datar, tangannya terulur dan merangkul Sungmin posesif. "Hyemi mengantuk Ming, tidak baik jika anak kita tidur larut malam."

Anak kita?

Wajah cantik Sungmin kebingungan, dan wajah tampan yang kalah tampan dari Kyuhyun kini terlihat pucat, matanya memicing horor menatap seorang bocah yang masih menatap Kyuhyun dari atas troli.

"Hyemi?" Sungmin membeo, baru menyadari ada seorang bocah yang kini tengah menatapnya dan Kyuhyun dengan tatapan yang menggemaskan.

Kyuhyun menyeringai manis, mengusap rambut kuncir kuda Hyemi dengan lembut. "Hyemi ngantuk?" Suara Kyuhyun lagi-lagi terdengar aneh untuk siapa saja yang mendengarnya, tangannya yang biasanya kaku kini mengusap rambut Hyemi dengan lembut. "Kita pulang setelah Umma membayar belanjaannya ya sayang."

Seolah terpesona dengan ucapan asal Kyuhyun, Hyemi mengangguk dengan mata yang masih berbinar. Mata beningnya menatap Kyuhyun dan Sungmin bergantian.

"Terima kasih atas bantuannya Sungmin-ssi, aku pergi dulu."

Dan Kyuhyun menyeringai puas, menatap sosok tampan yang tidak diketahui namanya itu kini pergi dengan cepat tanpa mengambil satu dagingpun.

Modus tetap saja modus.

"Dia siapa Kyu?"

Sungmin terpana, mengerjapkan matanya dan menatap gadis mungil didepannya dengan senyuman lembut. "Siapa namamu gadis cantik?"

Hyemi merona lagi, mata beningnya menatap terpesona kearah Sungmin. "Hyemi oppa cute."

Sungmin terkekeh, tangannya terulur dan menyentuh pipi menggemaskan Hyemi dengan lembut. "Hyemi cantik sekali."

Hyemi terkekeh, mengabaikan Kyuhyun yang menatap mereka, tangan mungilnya terulur, menyentuh tangan Sungmin dengan wajah merona parah. "Jadi pacal Hyemi yah Oppa?"

Dan Kyuhyun hanya bisa mematung dibelakang sana.

Calon istrinya ditembak oleh anak kecil yang baru saja menembaknya?

Pesonanya kalah karena Sungmin?

Kyuhyun terpaku.

.

.

~o0o~

.

.

Kyura mengeram, menahan tangan Kibum yang kembali ingin meneguk minuman beralkohol tinggi yang ada ditangannya, matanya yang biasanya menatap tajam kini tampak tidak fokus, bergerak liar mencari titik yang tidak pasti.

"Kau sudah mabuk Kibum-ah."

Kibum mendengus, wajah putihnya terlihat merona karena suhu, matanya lagi-lagi bergerak liar menatap pemandangan cantik yang terlihat dari balkon kamarnya.

"Aku menyedihkan, Bukan?"

Suaranya parau, suara yang bahkan terdengar sangat asing ditelinga Kyura. Gadis cantik itu mendesah, pasrah dan membiarkan Kibum meneguk kembali cairan pekat memabukkan yang ada ditangannya.

"Yah. Kau menyedihkan." Kyura mendesah lelah, mengambil alih gelas Kibum dan meminumnya sekali teguk, mata beningnya sontak terpejam saat sensasi yang jarang ditemuinya kini menghinggapinya, matanya menyipit saat rasa pahit mengaliri tenggorokannya dengan rasa panas yang seolah menjadi bonus.

Kibum mendesah lelah, matanya yang tidak fokus menatap wajah cantik Kyura yang kini mengerjap berkali-kali.

Berbeda dengan Kyuhyun yang raja Wine, Kyura sebaliknya, dia paling tidak bisa meneguk Wine.

"Kau berputar Kibum-ah." Kyura terkekeh, tangannya bergerak liar menyentuh wajah Kibum yang masih merona, sebelah tangannya yang bebas lagi-lagi terulur menuangkan cairan pekat memabukkan itu kedalam bibirnya.

Dengan decakan lidah menikmati sensasi panas yang membuat candu.

"Kau juga mabuk." Kibum meracau, mata tajamnya mengerjap lemah menatap Kyura yang mengerjap berat dihadapannya, walau hanya beberapa gelas, namun wajah cantik Kyura justru lebih parah dari Kibum.

"Bukan hanya kau yang menyedihkan." Suara Kyura bergetar, tangannya yang memegang gelas juga bergetar. Bibirnya yang merah digigitnya secara asal. "Kau masih beruntung Kibum Kim." Kyura terkekeh, matanya mengerjap tidak fokus menatap Kibum yang juga tidak berbeda jauh dengannya. "Hik, kau beruntung karena kau tahu kau menyukai siapa, tidak seperti aku."

Kibum mengangguk, tangannya terulur dan menggenggam tangan Kyura yang bebas diatas meja. "Kau cantik Cho Kyura, hehe."

Kyura ikut terkekeh, balas menggenggam tangan Kibum. "Aku memang cantik." Kyura mengusap wajahnya dengan tangannya yang bebas. "Tapi aku tidak tahu aku menyukai siapa, aku merasa sendiri."

Kibum menarik nafasnya dengan kasar, matanya memicing mencoba fokus menatap Kyura. "Daripada sesakit ini," Suaranya terdengar amat parau. "Aku berharap aku menyukaimu Kyura-ya, kau cantik dan mengerti aku dengan baik." Senyumnya terukir lirih, senyum yang jarang terlihat di wajah tampannya. "Tapi aku terlanjur menyukai Siwon bodoh yang tidak peka itu."

Kyura ikut mendesah, mata beningnya juga terlihat terluka. "Kau tetap harus kuat Kibum Kim. Aku sahabatmu loh." Dan diakhiri dengan suara cekikikan yang menyedihkan.

Kibum mendesah, memejamkan matanya saat meja Balkon yang dingin menyentuh pipinya yang merona merah sejak tadi. "Sa-sakit hati tidak enak, tidak."

Kyura hanya mengangguk, matanya terpejam secara perlahan saat rasa dingin menyentuh kedua pipinya yang mulus.

"Aku harus melupakannya." Kibum mendesah lelah dan membiarkan kedua matanya perlahan terlelap.

.

.

~o0o~

.

.

"Dia manis sekali." Sungmin melambaikan tangannya, menatap tubuh mungil Hyemi dalam pelukan ibunya yang kini menghilang masuk kedalam mobil. Masih ada senyum yang menghias wajah cantik menggemaskan miliknya.

Kyuhyun tidak berkomentar, tangannya bergerak cepat memasukkan belanjaan dari troli ke bagasi mobil. Wajahnya teramat datar dengan bibir yang terkatup rapat.

Sungmin tersenyum kecil, menatap kepergian mobil Hyemi dengan lambaian tangan sekali lagi. Matanya mengerjap lembut mendekati Kyuhyun yang sampai sekarang masih mengabaikannya.

"Aku berbuat salah lagi?"

Kyuhyun menghentikan gerakan tangannya, matanya tertuju pada Sungmin yang masih menatapnya.

Siapa yang bisa marah dengan Sungmin jika wajahnya terlihat begitu menggemaskan.

"Banyak yang mengejarmu, Ming."

Kyuhyun mendengus, menutup pintu bagasi dan melangkah memasuki mobil mewahnya, memasang sabuk pengaman dengan wajah datar, dan bersiap menghidupkan mobil.

"Tidak ada yang mengejarku, Kyu." Sungmin menjawab dengan lembut, menutup pintu mobil setelah memposisikan tubuhnya disamping Kyuhyun, matanya yang bening menatap Kyuhyun dengan lembut.

"Aku baru meninggalkanmu sebentar dan kau sudah dikejar laki-laki lain."

Kyuhyun cemburu itu menggemaskan.

Percayalah.

"Apa aku peduli?"

Matanya tajam, menatap mata bening Sungmin yang masih menatapnya dengan lembut. Kyuhyun terbiasa jadi sorotan dan dikejar-kejar, tapi dia tidak terbiasa jika memiliki seorang kekasih yang menjadi sorotan berbeda dengannya.

Karena cemburu dan posisif itu satu kesatuan penting yang mengikat suatu hubungan.

"Aku cemburu, Ming." Kyuhyun mendengus untuk yang kesekian kalinya, mematikan mesin mobil dan menatap intens kearah Sungmin. "Aku tidak pernah seposesif ini dengan orang lain, aku tidak pernah peduli dengan orang lain, tapi aku tidak tahu kenapa itu tidak berlaku untukmu."

Sungmin terdiam, mata beningnya mengerjap tidak percaya menatap wajah tampan Kyuhyun yang terlihat frustasi didepannya. "Kau pernah bilang jika kau berbelok hanya untukku." Elusan lembut yang Sungmin layangkan di pipi Kyuhyun. "Dan jika ini mampu membuatmu tenang dan percaya padaku."

Ada senyum manis diwajah cantik Sungmin yang bersinar terang dimata Kyuhyun.

"Kau juga satu-satunya laki-laki didunia ini yang mampu membuatku untuk berbelok."

Dan kebahagiaan itu sederhana.

.

.

~o0o~

.

.

Kibum mengerjap tidak mengerti, tangannya merangkul Kyura yang nyaris tertidur disampingnya. Tubuhnya sedikit linglung membopong tubuh Kyura melitasi kamar mewahnya yang remang-remang dan minim pencahayaan.

"Mabuk memang menyebalkan."

Kibum mendengus malas, menahan tubuh Kyura yang hampir terjatuh dengan sebuah pelukan lembut, matanya mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan titik fokus. Kakinya yang tidak lagi memakai alas kaki terseok melintasi kamar mewahnya menuju pintu kamarnya yang kini terasa jauh.

Nyaris tengah malam dan pesta sudah akan berakhir.

"Hyung, jemput Kyura dikamarku."

Ponselnya terlempar jatuh tepat setelah Kibum memutuskan sambungan telepon, matanya hanya mengernyit sedikit melihat ponselnya yang terlempar ke sudut karena kibasan tangan Kyura, ada helaan nafas yang terdengar saat pintu kamar akhirnya terlihat.

"Astaga, ada apa dengan kalian?"

Eunhyuk nyaris menjerit, menangkap tubuh Kyura yang begitu linglung dan membawa tubuh tinggi gadis cantik itu ke punggungnya, menggendong satu-satunya adik perempuan yang dimilikinya dengan gerakan cepat.

Kibum mengerjap lemah, melepas jas yang dikenakannya dan mendekati Eunhyuk yang kini menatap tajam kearahnya. "Maaf, Hyung." Kibum membeo datar, tubuhnya bergerak linglung mendekati Kyura dan menyampirkan jas mewahnya ketubuh Kyura yang sedikit terekspos di punggung Eunhyuk.

"Kau membuatku tidak jadi marah." Eunhyuk mendengus, memperbaiki posisi Kyura dipunggungnya dan sekali lagi melirik Kibum yang jauh berbeda dari yang biasanya, tanpa sadar wajah tampannya berubah sendu. "Beristirahatlah."

Kibum mengangguk, membungkukkan tubuhnya nyaris 90 derajat sebelum menegakkan tubuhnya dengan raut kebingungan, matanya mengerjap bingung menatap kamar mewahnya yang kembali minim cahaya saat pintu kamarnya tertutup dengan Eunhyuk yang menggendong Kyura melangkah keluar.

Tubuhnya bergerak lelah mendekati sebuah sofa, menjatuhkan tubuhnya secara asal, tangannya yang terasa kebas bergerak liar melepas kemeja yang ia kenakan, melemparnya tanpa arah dan membiarkan tubuh bagian atasnya toples begitu saja.

Suara nafasnya tidak teratur, matanya terpejam lemah dengan keringat dingin yang meluncur secara perlahan dari pori-pori kulitnya. Membuat wajah tampannya yang bersemu merah sedikit bercahaya karena pantulan cahaya bulan dari pintu balkon yang terbuat dari kaca terbuka.

"Jangan berisik." Kibum mendengus, menguap malas saat mendengar suara pintu tertutup dengan langkah kaki seseorang yang perlahan mendekat.

Mata Kibum nyaris terpejam erat saat tubuhnya lagi-lagi merespon sebuah sentuhan, ada elusan lembut yang berhasil menggetarkan tubuhnya yang setengah sadar, elusan halus seringan beludru dari kedua pipi mulusnya dan jatuh menuruni lehernya, seolah menjajahi kulit putih mulus Kibum yang tidak tertutupi apapun.

"Nghhh~." Kibum mengerang, menggerakkan tangannya secara asal saat sensasi menggetarkan seolah kembali melingkupinya, memberikan getaran sensasional diantara relung sadarnya yang mengambang.

Ada kecupan ringan dibibirnya yang terbuka, pergerakannya yang hendak menarik nafas terganggu saat kecupan itu kini berubah, menjadi sebuah ciuman lembut yang mendamba.

Kibum mengeram didalam bawah sadar, matanya mengerjap dalam kegelapan saat mendapati tubuh polosnya berada dalam sebuah dekapan hangat, dekapan yang selalu hadir dalam mimpinya.

Mungkin ini mimpi indah yang terasa begitu nyata karena dia patah hati.

Kibum mengeram, tidak pernah didalam mimpinya yang paling erotis sekalipun dia dikecup begitu intens, dengan sarat akan dambaan yang menggetarkan, dan kecupan posesif yang terselimuti kerinduan.

Kibum merasa bahwa dunianya tiba-tiba berputar karena gairah.

Ketika kecupan itu semakin menuntut dan menyusuri bibirnya dengan jilatan basah yang menggetarkan, Kibum menolak. Matanya mengerjap liar diantara kesadarannya, dan matanya memicing mendapati bahwa wajah tampan Siwon berada begitu dengannya, berbagi nafas yang sama.

"Kibum-Ah." Suara Siwon parau, tangannya yang tadi diam kini kembali bergeriliya, menyentuh titik sensifitinya dengan begitu lembut. "Aku merindukanmu."

"Tidak." Ratap Kibum, mata beningnya terhiasi air mata yang tiba-tiba saja mengenang disana. "Aku tidak akan membiarkanmu membuatku jatuh semakin dalam, tidak Brengsek."

"Ya." Siwon menjawab pasti, tangannya yang bebas mengusap air mata yang meluncur mulus dipipi Kibum dengan lembut, raut sendu Kibum mampu membuatnya merasa sakit. "Ya aku menyakitimu Kibum-ah, Aku memang brengsek, tapi Si brengsek ini juga menyukaimu sejak lama."

Kibum menggeleng, mendorong tubuh Siwon yang ada diatasnya dan beranjak bangun dengan sensasi pusing yang kembali menderanya, kakinya yang telanjang berjalan sempoyongan tidak tentu arah.

"Kau satu-satunya laki-laki paling brengsek yang pernah aku kenal, kau brengsek Choi Siwon."

Siwon mengangguk, menangkap tubuh Kibum yang linglung dan nyaris terjatuh dalam sebuah pelukan lembut, tangannya menangkap tubuh mungil Kibum dengan lembut, menikmati sensasi dingin ketika kulitnya menyentuh tubuh Mungil Kibum yang toples. Bibirnya mendesah, dan Siwon kembali maju, menciumi Kibum dalam sebuah ciuman panjang.

Penolakan marah yang justru membangkitkan semangat Siwon, beradu lidah dalam gua hangat milik Kibum yang menyisakan aroma mint dan alkohol yang kuat. Punggung Kibum melengkung, menyerah pada kepemimpinan Siwon dan merapatkan tubuhnya yang dingin dalam pelukan hangat Siwon, memperdalam ciuman mereka tanpa perlu berfikir dua kali.

Dengan lembut Siwon menaklukkan kekeras kepalaan Kibum yang luar biasa, lidahnya bergerak lembut membelai sudut bibir Kibum, menggelitik bibir merah Kibum yang kini bergetar hebat. Ciuman Siwon tidak lagi terasa bagaikan paksaan, kepasrahan Kibum justru menjadi penyuntik keerotisan mereka menuju puncak, Siwon membelai bibir Kibum dengan lembut, meluluh lantahkan pertahanan Kibum dengan ciuman lembut yang menggelora.

Lebih dari sekedar ciuman, mereka berpagut bagaikan ungkapan kerinduan.

Siwon mendesah, pasokan udara yang menipis memaksanya melepas bibir Kibum yang terasa begitu manis dibibirnya, wajah menggemaskan Kibum yang merona dengan bayang kabut dimata tajamnya membuat Siwon tersenyum kecil, tangannya mengelus pipi merona Kibum dengan lembut.

"Mungkin kau tidak mengingat ini saat membuka mata," Siwon mendesah, mengusap kepala Kibum yang ada didalam pelukannya dengan lembut. "Aku tahu kita sudah salah sejak awal." Ada suara getir yang terdengar, tangannya yang bebas mengusap punggung telanjang Kibum yang memeluknya nyaman dengan lembut. "Tapi satu hal, aku tetap menyayangimu sebagai satu-satunya laki-laki yang membuatku jatuh cinta."

Kibum mengerang, melepas pelukan mereka dan menatap liar ke wajah tampan Siwon yang masih menatap intens kearahnya. Wajah tampannya merona parah.

"Persetan dengan mimpi." Kibum mendengus kasar, mengulurkan tangannya yang tidak kokoh karena mabuk dan menyentuh kedua pipi Siwon dengan lembut. "Aku mencintaimu meski kau sekarang tidak nyata."

Siwon hendak menjawab, namun terdiam saat bibir Kibum terlebih dulu menciumnya.

Meredamnya begitu dalam dan meninggalkan kewarasannya disana.

.

.

.

~TBC~

.

.

.

Pojok FF :

Ciyee Dika update Weekend, ciyeee. Aduh dika lagi stres karena tugas, suer deh, dika gak bisa komentar apa-apa tapi dika bersyukur karena bisa menyelesaikan chap ini.

Well, dari review yang kemarin ada beberapa pembaca baru, selamat datang dan terima kasih udah review *senyum cantik ala Hyemi. Buat yang kemarin nanya Dika orang Pekanbaru? Well, dika emang lagi kuliah Di Pekanbaru, disalah satu Universitas negri lah pokoknya *maksa. Dan dika juga gak tau kalau ternyata di Pekanbaru ada Joyers kecuali Eonni Rena, sedih kan ya *eh

Pokoknya terima kasih buat yang sudah review, jika ada yang mau ditanya silahkan, terserah mau dijawabnya disini atau lewat inbox juga bisa. And buat LivelikeKyumin (?) mian dika lupa nama lengkapnya, maaf inboxnya gak kebaca, kehapus masa *mian~

Sekali lagi Graciassssss~

Review lagi? *eh