I WILL PROTECT YOU, SASUKE CHAPTER 8
Moshi-moshi, Minna-san :D Kangen sama Ai nggak ? Saat ini Ai baru aja selesai kuliah lagi yang lagi-lagi jadwalnya berubah. Akhirnya ai nggak bisa nyempetin waktu buat FF, deh... tapiii untungnya perkuliahan telah selesai dengan oleh-oleh tugas yang banyak banget ditangan ! (Biasanya oleh-oleh 'kan yang enak atau bagus ? Ini malah nambah capek aja)
Yakk, di chapter ini, Ai akan segera mengakhiri permusuhan antara Madara dengan anak-anak Fugaku... dan karena itu Ai akan berusaha semaksimal mungkin... ya !
Balasan Review :
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Ai Masahiro
Rated : T
Genre : Drama & Romance (maybe)
.
.
.
I WILL PROTECT YOU, SASUKE
.
.
.
Malam dingin yang masih meraja kini menjadi semakin dingin dengan iringan suara tangisan dari Sasuke. Di hadapannya kini terbaring tubuh Naruto yang berlumuran darah. Minato kini tengah berusaha untuk melakukan perawatan darurat pada anak bungsunya itu sedangkan Kushina ikut menangis semabri memeluk tubuh Sasuke.
Di lain pihak Deidara memandang tajam pada sosok yang baru saja datang bersama Izuna, Uchiha Itachi. Ia menjauhkan diri dari Kyuubi dan berjalan mendekati Itachi.
"Kenapa kau bisa ada di sini ?" tanyanya dengan suara pelan.
Itachi tidak langsung menjawab dan hanya memandang Deidara dalam diam. "Aku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Madara dan juga menyelematkan adikku" Iatchi mengalihkan pandangannya pada Izuna yang kini duduk di samping Madara.
"Siapa dia ?" Deidara melihat Izuna yang berusaha mengobati kakaknya.
"Uchiha Izuna, adik Madara dan juga salah satu alasan atas semua tindakan Madara selama ini..." Itachi terdiam sejenak. "Lebih baik bila kita melakukan sesuatu untuk adikmu dulu"
Deidara menganggukkan kepalanya dan dengan segera ia mengambil handphone-nya untuk memanggil ambulance. Sesekali mata sapphire-nya melirik kearah sosok Izuna dan Madara yang masih pingsan karena amukan Kyuubi.
Setelah selesai menelpon ia langsung mendekati kedua orangtuanya dan Sasuke yang masih menangis tanpa menyadari bahwa kakak yang selama ini dia cari tengah berdiri di belakangnya. Deidara menepuk pelan pundaknya, dengan pelan dan wajah yang terlihat sangat kusut, Sasuke menolehkan kepalanya pada Deidara.
"Dei-nii.. hiks..." panggilnya sedikit terisak.
"Sasuke, tenang saja. Naruto kuat, kok, jadi pasti dia akan selamat dan aku juga sudah memanggil ambulance." Deidara mengelus lembut rambut Sasuke berusaha menenangkannya. " Sementara itu, lebih baik kau temui orang yang ada di belakangku ini !"
Sasuke bingung, dengan pelan ia melirik ke arah belakang Deidara. Mata onyx-nya terbelalak kaget melihat sosok kakaknya yang selama ini ia cari ada di hadapannya. Perlahan dengan tubuh yang masih gemetar hebat, ia mulai berdiri dan berjalan menuju kakaknya.
"Aniki..." panggilnya lirih, diulurkannya tangannya untuk menyentuh wajah Itachi yang tersenyum padanya. "Aniki... Ini bukan bohong, 'kan ?"
Itachi tersenyum lembut. "Iya, Sasuke. Ini aku"
Air mata yang tadi sudah mulai hilang kini kemabli mengalir dengan deras. Sasuke tidak percaya, akhirnya ia bisa bertemu dengan kakaknya, keluarga satu-satunya yang tersisa. Dengan cepat ia memeluk tubuh Itachi dan menagis keras.
"Aniki... Aniki, aku merindukanmu... hiks..."
"Aku juga, Sasuke tapi sekarang lebih baik membawa Naruto ke rumah sakit dulu" Itachi melepaakan pelukannya kemudian menghapus air matanya yang masih mengalir. Itachi kemudian mendekati Madara dan Izuna. "Lebih baik kau juga ikut dengan kami"
Izuna terdiam ragu mendengar tawaran Itachi, tapi ia juga ingin mengobati luka kakaknya. Ia pun menyetujuinya.
Tak lama kemudian, dua buah mobil ambulance datang dan dengan segera meraka membawa Naruto dan Madara ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Kyuubi terus saja menatap tajam pada Itachi yang terus saja memeluk Sasuke. Ia masih belum tahu siapa orang yang berani memeluk Sasuke.
Deidara yang duduk di sebelahnya menyadari aura tidak menyenangkan yang menyelimuti adiknya tersebut. 'Kenapa anak ini ?' batinnya bingung. Ia pun mengikuti arah pandangnan Kyuubi dan sampailah pada Itachi yang memeluk erat Sasuke. 'Aahhh, ternyata... Eh, benar juga, dia belum tahu kalau itu Itachi, ya ? yah, nanti saja kuceritakan sekalian...' pikirnya dengan cuek.
.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Naruto langsung di bawa keruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang tadi menembusnya, sedangkan Madara sendiri di bwa ke ruang perawatan yang ada di sebelahnya.
Suasana khawatir dan was-was masih terus menyelimuti sekeliling mereka. Kushina dan Minato kini hanya bisa berdoa untuk keselamatan putra bungsu mereka. Kyuubi sendiri terus saja mondar mandir tidak tenang, biar pun begitu ia sanagt menyayangi adiknya. Sedangkan Deidara yang sedari tadi berusaha untuk tenang, mulai terganggu dengan aksi mondar mandirnya Kyuubi yang semakin membuatnya pusing.
"Kyuubi, tidak bisakah kau tenang sedikit ?" ucapnya.
Kyuubi menatap Deidara sebentar lalu menghela napas. "Maaf"
"Tak apa. Sekarang duduk dan tunggu saja sambil berharap adik kita bisa selamat" Deidara pun menyenadarkan punggungnya yang kaku.
Kyuubi pun hanya bisa diam, tapi kemudian ia melihat ke arah Itachi dan Sasuke juga Izuna yang duduk menyendiri.
"Hei, Deidara..." panggilnya.
"Deidara-nii, Kyuubi. Deidara-nii" potong Deidara.
"Itu tidak penting, lebih baik kau jelaskan siapa orang dari tadi memeluk Sasuke dan juga yang sedang duduk menyendiri di sana itu " perintahnya.
Deidara kesal mendengar panggilan Kyuubi dan sekarang dengan seenak jidatnya memerintah dirinya. "Tanya saja pada orangnya, un"
Merasa menjadi bahan perbincangan, Itachi mendekati Namikaze sekeluarga. Sasuke pun mengikutinya. Dengan tenang dan ramah, Itachi mulai memperkenalkan dirinya.
"Maaf kalau terlambat memperkenalkan diri, aku Uchiha Itachi kakak Sasuke" ujarnya sembari memberikan sebuah senyuman untuk adiknya tersebut.
"Eh ? Kakak Sasuke ?" tanya Kyuubi terkejut dan sebagai jawabannya, Itachi memberikan sebuah anggukan.
"Boleh kutanya, dimana dan sedang apa kau selama ini ?" tanya Kushina terdengar sedikit tidak suka.
"Selama ini berusaha melarikan diri dari Madara dan bersembunyi sekaligus berusaha mencari adikku..." Itachi menatap Sasuke sejenak. "...dan sekitar setahum yang lalu akhirnya aku tidak sengaja melihat Sasuke yang baru pulang dari sekolah bersama dengan putra bungsu Anda"
"Awalnya, aku ingin segera menemuinya dan membawanya pergi, namun begitu melihat ia sangat bahagia bersama kalian dan kalian juga sangat memperhatikannya... Aku merubah pikiranku dan mulai mengawasinya dari jauh." Itachi terdiam sejenak mengambil napas. Dapat dilihatnya Sasuke yang menatapnya sedih seakan merasa bersalah. Selembut mungkin Itachi mengelus wajah cantik adiknya.
"Selama setahun ini aku berusaha menjauhkannya dari jangkauan Madara agar ia bisa terus bersama kalian. Aku tidak ingin ia ditemukan dan mengalami hal yang menyakitkan, tapi kenyataannya... Madara dapat menemukannya dan aku tidak dapat melindunginya. Karena itu aku memberikan peta dimana tempat Madara berada.." Deidara mendengus pelan mendengarnya dan kini Kushina juga Minato paham darimana anak sulungnya itu mendapatkan peta itu.
"Kenapa kau tidak bilang kalau itu dari Itachi ?" tanya Kyuubi.
"Dia memintaku untuk merahasiakan dirinya jadi apa boleh buat..."
Sasuke tersenyum senang dan memeluk erat lengan Itachi. "Apa... apa sekarang kita bisa bersama lagi, Aniki ?"
"Tentu saja, Sasuke"
Kyuubi akhirnya hanya bisa pasrah melihat betapa mesranya kakak adik di depannya itu, ia tidak akan bisa menyela lagi karena Itachi adalah kakak Sasuke. Walau begitu tetap saja ia merasa tidak senang dengan sikap mesra yang diberikan Itachi dan ditambah lagi, kini ia punya masalah mengenai perasaan Sasuke pada Naruto.
"Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Sekarang boleh kutahu siapa kau ?" tanya Minato pada Izuna.
Izuna memutar tubuhnya untuk menghadap Minato. "Namaku Uchiha Izuna, adik Madara..."
"aku... pertama, aku minta maaf atas semua yang telah dilakukan oleh kakakku. Dia melakukan itu hanya karena aku..." Izuna terdiam.
"Sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Kushina.
"Kakak, aku dan Fugaku-nii adalah saudara sepupu, mereka selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam keluarga Uchiha. Selama ini mereka hanya bersaing untuk itu, tapi suatu hari kakek menyerahkan semua harta warisan dan juga perusahaan kepada Fugaku-nii. Kakak sangat terkejut mendengar itu, tapi ia masih bisa mengontrol emosinya dan terus berusaha menjadi yang terbaik... tapi..." Izuna menggantungkan kalimatnya, matanya yang tidak bisa melihat itu mulai berkaca-kaca.
"...tapi, ketika terjadinya kecelakaan yang membuatku jadi buta, kakak mulai berubah dan menaruh dendam pada Fugaku-nii... Alasannya karena orang yang mengendarai mobil penyebab kecalakaan itu adalah Fugaku-nii. Karena itu, kakak selalu memikirkan cara untuk menyingkirkan Fugaku-nii dan walau aku sudah berusaha menghentikannya, dia tetap saja melakukan niatnya... aku.. hiks... sudah tidak bisa... hiks.."
Semua yang mendengar itu terkejut bercampur sedih mendengar cerita Izuna, tapi siapa yang akan disalahkan dalam hal ini. Rasa iri dari seorang manusia itu sangat sulit untuk dihilangkan apalagi rasa dendam karena menyakiti hal paling berharga bagi orang itu.
Emosi manusia adalah hal yang mutlak dan juga merupakan hal yang paling rumit di dunia ini. Sedikit rasa iri, dendam dan juga amarah akan bisa membuat seseorang bertindak diluar perkiraan bahkan dapat membuat orang lain terlibat dan menyebabkan penderitaan. Paling parah akan membuat hilangnya nyawa yang tidak perlu.
Sasuke paham betul betapa besarnya kasih sayang kakak dan adik karena ia pun bisa saja melakukan apa pun untuk kakaknya. Tapi bila itu hanya membuat yang kita lindungi merasa menderita, akan lebih baik bila ia memilih untuk menyimpan penderitaannya sendiri.
"Kami mengerti... Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ? Kakakmu telah membuat keluarga Sasuke menderita dengan pembunuhan dan juga penyiksaan, apa kau akan rela menyerahkannya pada polisi ?" tanya Minato.
Izuna terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya ia sama sekali tidak menginginkan kakaknya dipenjara, ia takut sendirian. Tapi bila begini terus, maka kakaknya akan terus menanggung dosa besar yang akan selalu mengikatnya dan itu akan berlangsung selamanya. Ia lebih tidak ingin itu.
"Aku... aku akan.. meminta kakak untuk menyerahkan diri.." ujar Izuna lirih.
Itachi lega mendengarnya, ia tidak perlu merasa takut akan terjadi apa-apa pada Sasuke lagi dan ia bisa melihat senyuman Sasuke selalu.
.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dokter yang mengoperasi Naruto keluar. Langsung saja Kushina dan Minato berdiri dan mendekati sang dokter.
"Dokter, bagaimana keadaannya ? Bagaimana keadaan Naruto, putraku ?" tanya Kushina cemas.
"Tenang saja, nyonya. Putra Anda sekarang baik-baik saja, sekarang yang dibutuhkannya adalah istirahat setelah operasi." Sahut sang dokter.
Perasaan senang dan bahagia sudah tida terbendung lagi. Air mata kini mengalir deras di wajah Kushina, bahkan Sasuke pun ikut menangis mendengar kabar bahagia itu.
"Terima kasih... terima kasih, dokter..." Kushina sedikit terisak.
"Kalau begitu saya permisi" Dokter itu pun pergi meninggalkan mereka.
Dengan cepat mereka langsung memasuki ruangan dimana Naruto kini berbaring dengan tenang. Berbagai peralatan perawatan yang membantu penyembuhan Naruto tersambung dengan selang dan tubuhnya. Wajah pucat tadi kini berganti dengan wajah tenang, deru napasnya pun kini sudah tenang.
Kushina duduk di samping ranjang Naruto dan mengelus keningnya sembari menangis bahagia. Minato memeluk lembut pundak Kushina. Kyuubi bahkan tidak bisa menyembunyikan senyuman senangnya dari wajahnya yang biasanya jarang tersenyum tulus. Deidara kini hanya bisa berterima kasih pada Tuhan karena sudah menyelamatkan adiknya.
"Kau tidak kesana, Sasuke ?" bisik Itachi melihat adiknya sama sekali tidak bergeming untuk mendekati Naruto yang masih terbaring itu.
"Nanti saja..." sahut Sasuke pelan. Ia tidak mungkin menyela keluarga Naruto yang tadinya panik dan cemas kini kembali tersenyum bahagia. Ia lebih baik menunggu walaupun sebenarnya ia ingin sekali segera mendekati sosok yang tengah terbaring itu.
"Baiklah" Itachi hanya menyetujui adiknya dengan sedikit senyuman. Ia tahu adiknya memiliki perasaan pada Naruto. Selama setahun ia mengawasi adiknya, ia selalu melihat rona merah tipis yang menghiasi wajah cantik ketika sedang bersama Naruto.
.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
.
Hari kini sudah berganti siang dan waktu telah menunjukkan pukul 11.40. Naruto yang dirawat di rumah sakit masih juga belum bangun, sedangkan Madara hanya membutuhkan perawatan ringan tanpa operasi. Madara telah menerima semuanya berkat permintaan dari adiknya, Izuna.
Saat ini Minato dan Kushina sedang pergi untuk mengambil segala keperluan Naruto selama masa opname. Deidara sendiri tengah berbincang dengan Itachi. Dan Sasuke sendiri, kini masih setia menunggui Naruto.
Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh Naruto ketika bangun nanti. Secara sabar Sasuke terus menunggu sembari menggenggam tangan Naruto. Mata onyx-nya tidak pernah melepaskan pandangannya dari objek yang dicintainya tersebut.
"Nee, Naruto... cepatlah bangun..." panggilnya penuh nada memohon.
"Kau tahu ? aku sangat ingin mendengar suaramu... aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya... aku... hiks..." air mata kembali membahasi wajahnya. Direbahkannya kepalanya di samping tubuh Naruto.
Tok Tok Tok...
Terdengar suara ketukan dari pintu, dengan cepat Sasuke menghapus airmatanya dan melihat siapa yang datang. Tampaklah Kyuubi yang membawa dua buah kaleng minuman di tangannya. Sasuke tersenyum kecil.
"Istirahatlah, Sasuke. Semenjak semalam kau belum istirahat." Sembari memberikan salah satu kaleng minuman yang ia bawa. Perlahan dielusnya wajah Sasuke. Sasuke hanya menggeleng pelan kemudian kembali menatap Naruto yang masih tertidur.
"Aku akan menunggu sampai Naruto bangun.."
Kyuubi mendecih pelan mendengar jawaban Sasuke. Ia memandang kesal pada Naruto. 'Kenapa selalu Naruto yang dilihat olehnya ?' batinya marah.
Dengan paksa dialihkan pandangan Sasuke untuk menatapnya. Sasuke kaget dan ketika mata onyx-nya melihat dengan sangat dekat wajah Kyuubi ia lebih merasa terkejut. Mata yang biasanya selalu tampak angkuh dan penuh keyakinan kini menghilang tergantikan oleh sorotan mata yang seakan memohon, mata yang seakan melihat benda yang disayanginya hilang. Dapat dirasakan oleh Sasuke genggaman tangan Kyuubi di pundaknya semakin mengencang.
"Sasuke... Tidak bisakah, tidak bisakah kau melihat diriku ?" tanya Kyuubi dengan putus asa. "Apa kau tahu ? Sudah dari dulu aku sangat mencintaimu, apa kau tahu ?"
Sasuke terkejut mendengar pernyataan dari Kyuubi. Pernyataan cinta dari orang yang selama ini sudah dianggap sebagai keluarga, orang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri itu kini mengatakan bahwa ia mencintai dirinya. 'Tidak, itu tidak mungkin dan tidak boleh terjadi' Sasuke berusaha membantah apa yang barusan ia dengar.
"Sasuke, aku mohon padamu... tolong pandanglah aku, Sasuke"
Sasuke memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya, menolak semua yang ia dengar. Kyuubi terdiam melihat reaksi Sasuke yang menolaknya. "Sasuke... kenapa ?"
"Ma, maafkan aku Kyuu-nii... aku idak bisa, aku menyukai Naruto..." Sasuke menatap Kyuubi dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. "Maaf... maafkan aku..."
Dikepalkannya tangannya hingga keras. Kyuubi tidak menyukai ini, sangat tidak menyukainya. Bukan wajah itu yang ingin lihat, bukan wajah yang penuh penyesalan dan rasa sedih yang ingin dia lihat. Bukan tangisan yang ingin ia dengan tapi suara tawa dari Sasuke yang ingin ia dengar. Bukan ini.
"Cukup... Sudah cukup.." kini Kyuubi menatap Sasuke dalam diam dengan pandangan yang tidak bisa diprediksi. "... Sudah cukup, Sasuke. Aku mengerti"
"Kyuu-nii..."
Dengan cepat Kyuubi membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan Sasuke. Sasuke sendiri tidak ingin mencegahnya, ia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Kyuubi hanya rasa kasihan. Lebih baik begini daripada harus menyesal diakhir nanti.
"Naruto... apa aku salah ?"
.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
.
Kyuubi POV
Aku terus mempercepat langkah kakiku menyusuri lorong rumah sakit. Bahkan tidak sekali aku menabrak orang dan pergi begitu saja tanpa minta maaf. Aku harus pergi dari sini, aku harus segera menghilangkan perasaan tidak nyaman ini.
Kini aku sudah hampir sampai di halaman rumah sakit dan tanpa basa basi aku langsung berlari mencari tempat sunyi. Sayangnya, aku malah menabrak orang hingga aku jatuh terduduk.
"Apa, sih ? Sakit, nih" ucapku tidak terima.
"Hm, bukannya kau yang tadi menabrakku ?" kulihat siapa yang barusan menjawab gerutuanku. Dan ternyata Uchiha Itachi. Ugh, entah kenapa aku punya perasaan kurang suka padanya walaupun aku tidak tahu apa itu.
Aku segera berdiri dan membersihkan pakaianku. Niatku yang tadinya ingin menyepi kini malah terganggu karena bertemu dengan 'Si Uchiha Itachi' ini. Sekarang aku benar-benar ingin sendiri dan tanpa babibu, aku melenggang pergi meninggalkannya. Niatnya, sih begitu. Tapi sekali lagi, dia menggangguku.
"Hei, bisa temani aku sebentar ?" katanya dengan wajah polos yang semakin membuatku ingin sekali memukulnya.
"Tidak mau. Dan namaku bukan 'Hei' tapi Kyuubi" sahut tak peduli.
"Hm, jadi namamu Kyuubi ? Manis juga. Boleh kupanggil Kyuu-chan ?" katanya lagi dan kali ini aku benar-benar ingin memukulnya. Apa dia ini memang suka mengganggu orang ?
"Jangan seenaknya dan jangan ganggu aku" bentakku habis kesabaran. Kali ini aku benar-benar meninggalkannya sendirian.
Aku benar-benar ingin sendiri, sendiri untuk menenangkan diri karena baru saja mendapatkan penolakan dari orang yang kusukai. Penolakan dari Sasuke.
Sejujurnya aku sudah tahu sedari dulu kalau Sasuke menyukai Naruto, tapi aku tidak ingin menerima kenyataan itu. Aku ingin memilikinya, hanya untukku tapi aku juga bukan orang yang dengan tega memaksakan kehendakku dan pada akhirnya malah membuat orang yang kucinta menderita. Apa lebih baik begini ?
Mungkin memang lebih baik begini. Paling tidak, Naruto bisa membuat Sasuke tersenyum dan merasa bahagia. Dan aku sendiri bisa menyayangi dalam bentuk lain, sebagai kakak dan adik. Ya, lebih baik begini.
End Kyuubi POV
.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
.
Keesokan harinya, Naruto telah sadar dari tidurnya dan itu benar-benar membuat keluarga sangat senang. Naruto kini benar-benar merasa senang ketika mendapati Sasuke di sampingnya. Tidak ada kata-kata bahagia yang bisa untuk menyampaikannya.
Itachi yang sedari tadi berdiri di dekat Deidara dapat melihat betapa senangnya Sasuke. Dapat dilihat dari airmata yang mengalir dan senyuman yang terpampang dengan jelas di bibirnya. Sungguh ia merasa senang karena adiknya itu bisa tersenyum kembali, mengingat mereka sudah mengalami hal yang menakutkan dan menderita selama bertahun-tahun.
"Akhirnya kau sadar juga, dasar adik yang merepotkan" Deidara menepuk pelan kepala Naruto disertai tawa.
"Terima kasih dan selamat untuk Sasuke karena sekarang kau bisa bersama kakakmu lagi..." Naruto tersenyum pada Sasuke yang kini menatap Itachi.
"Lalu apa kalian akan mencari tempat tinggal sendiri ?" tanya Minato menatap Itachi.
"Aku rasa tidak, karena sepertinya Sasuke akan sedih kalau harus berpisah dari Naruto" sahut Itachi sedikit menggoda adiknya dan benar saja, kini wajah Sasuke sudah merona merah. Sasuke menatap Itachi dengan wajah cemberut. Itachi sendiri tidak peduli itu karena ia suka dengan ekspresi Sasuke yang baginya terkesan sangat lucu dan manis.
"Ehe he he... Begitu, ya. Aku juga ingin selalu bersama Sasuke, lagian aku sudah janji akan melindunginya" ujar Naruto dengan tawa ceria. Dengan ini wajah Sasuke sudah seperti gurita rebus bahkan ia menyembunyikan diri di belakang Itachi.
"Aih, lucunya... " Goda Deidara.
"Mou~ ~ Hentikan.." rajuk Sasuke.
Ruangan itu kini dipenuhi oleh suara tawa bahagia. Sedangkan di luar ruangan tampak Kyuubi yang tengah menyandarkan diri sambil mendengarkan perbincangan keluarganya dari luar. Dengan tekad yang sudah ia buat, ia menatap ke dalam ruangan yang memperlihatkan gambaran bahagia.
'Ayolah, Kyuubi. Kau sudah memutuskannya jadi lakukan' perintahnya pada diri sendiri.
Akhirnya ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan dan disambut oleh suara keras adik bungsunya.
"Ah, Kyuu-nii." Teriak Naruto.
"Berisik, lukamu bisa terbuka lagi nanti" hardik Kyuubi.
"Ehe he.. karena dari tadi aku tidak melihatmu, aku kira kau sudah pergi ke dunia sana" ujar Naruto penuh candaan yang sungguh mengesalkan.
"Enak saja, justru kau baru saja hampir ke dunia sana" balas Kyuubi tidak terima.
Kyuubi melihat Sasuke yang menunduk merasa bersalah. Kyuubi pun memberikan senyuman menenangkan yang menandakan bahwa ia tidak merasa apa-apa. Sasuke dapat melihatnya dan dengan kini ia sudah merasa tenang.
Itachi memundurkan jaraknya untuk menyamakan baris dengan Kyuubi lalu tersenyum dengan senyuman polosnya, lagi. Kyuubi yang melihatnya langsung membuang muka, namun matanya masih melirik pada Itachi. Perlahan dapat dirasakan oleh Kyuubi bahwa tangan di genggam oleh Itachi dan segera ia lepaskan. Tapi sekali lagi Itachi menggenggamnya dan Kyuubi melepaskannya. Terus seperti itu hingga mereka tidak menyadari bahwa Deidara melihat kegiatan mereka.
'Ternyata Itachi tertarik pada Kyuu, ya' batin Deidara.
Tiba-tiba terdengar suara telpon yang berdering. Ternyata itu suara yang berasal dari handphone milik Deidara. Maka ia pun keluar untuk menjawab panggilan masuk itu.
Saat ini Sasuke merasa bahagia karena bisa memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya, bertemu dengan kakaknya yang selama ini terpisah dan bahkan ia kini memiliki orang yang sangat ia cintai. Ia sudah bisa melupakan rasa sedih dan penderitaan yang selama ini selalu menghantuinya. Ia bisa melepas belenggu gelap yang selalu mengikatnya. Dan kini ia bisa pergi melangkah menuju masa depan yang cerah bersama keluarga barunya dan juga bersama Naruto.
.
.
.
#Ai Masahiro#
.
.
.
OMAKE
Sekembalinya Naruto dari rumah sakit, keluarga Namikaze kini menambahkan anggota baru, Uchiha Itachi yang kini menjalin hubungan dengan Kyuubi. Dan saat ini mereka sedang bercanda berdua di depan TV. Naruto dan Sasuke bahkan tengah saling berbincang mesra. Bagaimana dengan Deidara ?
Deidara hanya bisa merutuki dirinya yang harus melihat adik-adiknya bermesraan dengan pasangan mereka masing-masing.
"Duuh, sekarang adik-adikku sudah dewasa dan saling lempar kemesraan" ujar Deidara dengan sengaja. Naruto dan Kyuubi yang mendengarnya langsung berjengit kaget, detik berikutnya, wajah mereka dipenuhi rona merah.
"Dei-nii, berisik, ah" ucap Naruto malu, Sasuke sendiri hanya bisa tertawa malu-malu.
"Heh, bilang saja kau iri karena jomblo sendiri" Kyuubi tak mau kalah.
Deidara yang merasa terhina pun langsung memberikan pukulan dengan buku yang baru saja ia baca. Kyuubi pun merintih kesakitan sambil mengelus kepalanya.
"Kalau hanya pacar, sih aku juga punya" Deidara kini membalas kata-kata Kyuubi dan yang lain langsung kaget.
"Benarkah ? Siapa ?" tanya Naruto dan Kyuubi bersamaan dengan wajah tidak percaya.
Kini Deidara menunjukkan wallpaper di hanphone-nya yang menampilkan foto seorang laki-laki berwajah manis dengan rambut merah dan mata coklay yang lembut. Itachi yang ikut melihat foto itu merasa aneh.
"Bukannya dia Sasori ?" katanya.
"Bagaimana caranya kau bisa pacaran dengannya ?" tanya Kyuubi penasaran.
Deidara tidak langsung menjawab dan hanya menebar senyum manis. "itu R-A-H-A-S-I-A" jawab Deidara dengan kedipan mata yang misterius.
'Apa yang dia lakukan pada Sasori, ya ?' batin semua begitu mendengar jawaban Deidara.
Nah, kira-kira apa yang dilakukan Deidara pada Sasori ? Sungguh misterius...
THE END
Nah, ini adalah chpater terkakhir. Maaf kalau lama updatenya. Ai nggak bisa ngetik karena banyaknya tugas kuliah dan tugas dirumah.
Untuk yang terakhir ini semoga kalian suka dengan penyelesaian ceritanya, ya... oh ya, saat ini Ai sedang membuat cerita baru dengan pairing KYUUSASU... nanti jangan lupa untuk mampir lagi, ya ;)
Jaa matta nee, Minna-san
