Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo, Death Chara
Pair : NaruSaku, NaruSara
Special : Khusus untuk bab ini, kadar gore sedikit meningkat
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mistery
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 9, readers ! Huwwaaaa, saya kangen kalian semua setelah seminggu tak jumpa ! (*Peluk readers satu-satu*). Sebelumnya saya minta maaaaaffff banget karena baru bisa rilis hari Minggu. Iya, soalnya internet saya lagi ada masalah dari hari Kamis yang bikin saya galau empat hari, ini juga saya pake nebeng di rumah temen segala (malah curhat).
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Dan akhirnya...setelah menempuh UN saya kembali terjun ke fanfiction dan segera bisa update ! (Dengan plus gore, death chara dan genre mistery).
Saya janjikan chapter ini lumayan FULL FIGHT, oleh karena itu gore tidak bisa terhindarkan, karena legenda tidak menceritakan semua naga itu baik dan lemah lembut, apalagi beberapa naga antagonis yang akan saya tampilkan. Sementara ini, Naruto masih belum bertemu dengan timnya karena harus menunaikan tugas khusus dari Pakura. Apakah tugas itu ? Dan bagaimanakah kelanjutan petualangan Tim Paradox ketika mereka sampai di Gunung Phicium ?
Dan maaf, bagi readers yang sudah tidak sabar ingin membaca deskripsi, bahkan ingin segera mengetahui pertemuan Naruto dengan karakter judul, yaitu Paradox, naga terutama di fic ini, tolong mohon bersabar sedikit, karena kemungkinan besar Paradox baru akan benar-benar terlihat dan akan terlibat dalam dialog interaktif sekitar bab 11-14 (Diantara tiga bab tersebut). Oleh karenanya, saya mengimbau readers untuk bersabar sedikit lagi, toh ini sudah bab sembilan. Orang sabar disayang Tuhan lho ! (*Malah ceramah, eh*). Well, sebisa mungkin saya akan tampilkan Etatheon terlebih dahulu.
Enjoy read chap 9 !
PARADOX
Chapter Sembilan :
The Juggernaut
"Basilisk ?" Ulangku. Pakura mengangguk, sementara air muka Sara berubah muram dan Kurama tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Naga...seberbahaya apa dia ?" Tanyaku.
"Cukup berbahaya. Dia bisa dikategorikan level Death-see. Begitu kau melihat, kau mati. Nyaris tidak ada kemungkinan selamat begitu apapun yang bernyawa dan bergerak serta bernapas, melihat naga itu. Ukurannya terhitung tidak besar, jauh lebih kecil daripada Venator dan nagamu, lagipula dia hidup di dalam sebuah menara. Menguasai satu menara. Hanya ada seekor, tapi dia sangat mengkhawatirkan. Kami sengaja selama ini menahannya dalam menara itu. Jika dia sampai lepas, habislah seluruh Rouranian" cerita Pakura panjang lebar.
"Haha, soal itu serahkan saja padaku" jawabku. "Aku bisa gunakan Shunshin untuk menghindar dan Kagebunshin bertubi-tubi untuk membingungkannya. Serangan kombinasi elemena api dan angin pasti cukup untuk menghanguskannya kalau memang fisiknya tidak sekuat Venator atau Kurama" jawabku sambil menggaruk kepala.
"Death-see, mati saat melihat, itu disini bukan konotasi, Naruto, jangan sembarangan" ucap Sara padaku.
"Apa maksudmu ?" Tanyaku lugu.
Kurama menghela nafas. "Dasar Naruto-baka. Death-see disini adalah denotasi. Makna sebenarnya" Kurama memberi penekanan pada dua kata terakhir. Aku makin mengernyit.
"Memangnya dia bisa membunuh hanya jika kita melihatnya ? Rasanya itu terlalu berlebihan" tukasku.
"Tapi memang begitu adanya" sahut Pakura. "Yaa, tidak seluruhnya, tapi, matanya. Basilisk menyemburkan lidah api kuning yang sangat panas, walau hanya untuk jarak pendek. Paruhnya setajam pisau daging, walau dia naga. Tentu dia punya gigi, sekali giginya menancap, untuk lepas susahnya minta ampun. Jika dia berdesis, ular berbisa paling mematikan pun akan kabur ketakutan. Ia punya dua kaki kekar bercakar mengerikan yang dapat membuatnya berlari cepat dan lincah. Jika dia berlari, semak-semak akan hangus, batu-batu akan hancur. Dia punya sepasang sayap tapi kemampuan terbangnya tidak terlalu bagus. Kulitnya ditutupi sisik sekeras besi..." Pakura menjelaskan dengan serius.
"Dan senjata terbesar Basilisk adalah..."
"...mata kuningnya. Mata sebesar bola pingpong berwarna kuning cerah berpupil bulat hitam. Yang akan membunuh siapapun yang menatap matanya secara langsung".
DEG
Aku merinding.
"Sudah puluhan prajurit pemberani yang mencoba masuk ke menara itu dan berusaha membunuhnya, tapi yang ada mereka hanya menambah kenyang makhluk itu dan menambah sampah kerangka manusia di tempat terlarang itu" desah Pakura.
"Konon Basilisk adalah makhluk langka sama sepertiku, hanya mungkin sedikit lebih banyak" Kurama mendadak ikut bicara. "Dan yang lebih aneh lagi, semua Basilisk adalah betina dan mereka hanya bisa bereproduksi jika kawin dengan ayam jantan. Ayam jantan itulah yang bertelur, dan tidak sampai situ keanehannya, yang mengerami telur bukan Basilisk atau ayam jantan itu sendiri, tapi seekor katak jantan. Ketika telur ini menetas, si katak-lah korban pertama tatapan mata sang Basilisk baru" desisnya sengit.
"Jika dibiarkan, seekor Basilisk dapat hidup hingga 350 tahun" lanjutnya.
"Telur misterius itu ada beberapa dekade lalu saat masa pemerintahan ibuku" Sara ikut bercerita. "Dan sepertinya segel menara kurang ketat sehingga bahkan ada seekor katak gurun yang masuk, mungkin dia juga mengerami telur itu sampai menetas. Kadang, pekikan khas Basilisk dapat terdengar sampai di sekitar Menara Tenggara, mendirikan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya" lanjutnya.
"Bagaimana, Naruto-sama ? Maukah kau menghilangkan ancaman ini ? Demi Rouran ? Demi kami ?" Tanya Pakura akhirnya.
"Tinggal hancurkan, ledakkan, atau robohkan saja menaranya, dia pasti ikut mati. Toh itu hanya satu dari ratusan menara, kan" sesumbar Kurama.
Sara dan Pakura menatapnya dengan pandangan kurang sedap. "Oke, itu ide buruk" koreksinya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Kurama. Ia mengangkat bahu kedua kaki depannya, mengisyaratkan 'terserah'.
"Aku masih punya hati, Naruto. Kita tidak bisa membiarkan mereka dalam ancaman naga sebuas itu" katanya datar.
Aku beralih ke Pakura.
"Bisa...kalian tahan si Basilisk itu dengan penghalang yang lebih kuat ? Setidaknya sampai kami menemukan 'Dia' dan mengalahkan Madara, ketika semuanya sudah beres, aku akan kembali kemari dan membunuh Basilisk itu" kataku pelan.
"Jadi...kau menolak ?" Selidik Pakura kecewa.
"Bukan begitu" balasku cepat. "Aku merasa ada...sesuatu yang lebih penting...walau ini juga penting...". Aduh, bagaimana ini ? Aku tidak bisa menjawab begitu saja dan mengecewakan mereka. Aku bahkan belum menyelidiki kebenaran Haruno Kizashi !
"Ayolah. Demi Sara" Pakura masih membujuk.
.
.
.
"Baiklah" kataku akhirnya. "Besok pagi. Malam ini aku harus istirahat. Setelah itu beres, aku akan pergi, bagaimana ? Walau sekali-kali aku akan berkunjung kemari lagi" aku memutuskan. Pakura tersenyum.
"Tidurlah yang nyenyak".
Naruto's Chamber
"Kapan ada aturan yang mengatakan bahwa seekor naga sepanjang bus boleh masuk ke ruangan semewah ini ?" Tanyaku ketus begitu Kurama mengikutiku sampai di hadapan pintu kristal kamarku.
"Entah" jawab Kurama asal-asalan. "Setidaknya pintunya saja sangat besar, kan. Pasti aku muat di dalamnya walau harus menggulung ekor, melipat sayap, dan membengkokkan leher" cetusnya.
Aku menghela nafas. "Jangan jorok" kataku. "Atau merusak apapun yang ada disini. Cakarmu itu tajam, bisa menggores lantai yang bersih ini".
"Seolah-olah menara ini milikmu saja" balas Kurama.
Aku membuka pintu. Naga oranye itu merangkak masuk dengan hati-hati dan segera membaringkan tubuhnya dengan perut menyentuh lantai tepat di samping ranjang mewahku. Aku merebahkan diri di ranjang.
"Kurama" panggilku.
"Hmm ?"
"Kau merasa ada sesuatu yang ganjil, tidak ?" Selidikku memastikan.
"Ganjil ? Seperti apa ?" Kurama malah balik bertanya. Tidak seperti yang kuharapkan.
Aku menghela nafas pendek. "Kata Jiraya-sensei...satu-satunya yang secara permanen bisa mengingat Paradox adalah Dracovetth-nya sendiri. Kenapa Sara bisa mengingatnya, padahal dia waktu itu masih kecil dan samasekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Paradox ?" Aku mulai mengutarakan isi kepalaku.
Kurama terkekeh. "Naruto...Naruto...Dia itu Paradox, dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Mungkin dia sengaja tidak menghapus ingatan si ratu berambut merah itu untuk alasan tertentu yang tidak kita tahu. Lagipula kau ini rada-rada pelupa, kan ?"
Aku mengernyit. "Maksudmu ?"
"Kakek Jiraya pertama kali memberitahumu bahwa ayahmu adalah Draco P di ruang bawah tanah rahasia rumahmu. Tapi begitu dia memberitahukannya untuk yang kedua kali di gua peristirahatan pertama pengembaraan kalian, kau juga masih terkejut. Masa sudah diberitahu sebelumnya masih terkejut juga ?" Sindirnya.
"Darimana kau tahu ?" Selidikku penasaran.
"Kakek Jiraya yang cerita" balas Kurama menang. "Dia juga bilang kalau kau punya watak sedikit tidak sabaran, agak suka menggerutu dan ingin sesuatu selesai secepatnya. Tapi sekarang malah aneh, kau bersedia meluangkan waktu untuk membunuh Basilisk hanya demi ratu berambut merah itu. Tadi saat aku sampai juga kalian terlihat akrab sekali, memangnya ada apa ?" Balas Kurama menggoda.
"Apa kau kebal pada tatapan mata Basilisk ?" Tanyaku iseng setelah kami terdiam beberapa saat. Yah, hitung-hitung untuk mengalihkan pembicaraan Kurama yang melenceng dari perkiraanku tadi.
"Tidak ada yang kebal" jawab Kurama. "Kecuali Etatheon. Kakashi, Sasuke, dan Madara yang punya Sharingan atau Hinata yang punya Byakugan pun aku tidak tahu, apa mereka kebal atau tidak. Tapi yang kutahu, tidak ada manusia yang kebal pada mata itu".
"Membunuhnya sebenarnya mudah saja, dibandingkan Zechuan atau Venator. Tapi kekuatan dan kecepatannya itu yang jadi masalah" desahku.
"Yang penting kau tidak menatap matanya" sahut Kurama acuh.
"Yang benar saja. Lalu bagaimana dengan apinya ? Gigi dan paruhnya ? Tendangannya ? Bagaimana dengan itu semua ? Kalau aku menutup mata, aku tidak ada bedanya dengan umpan hidup" keluhku.
"Kau terlihat stres" desis Kurama. Ia melirik sekitar. "Hei, sebuah fonograf ! Cek laci meja itu Naruto, siapa tahu ada beberapa piringan hitam. Setel saja itu, kurasa kau butuh sedikit musik" katanya antusias.
"Rusak" jawabku. "Aku tadi sore mencoba".
"Oh" balas Kurama pendek lalu terkekeh. "Udik sekali aku. Aku sudah lama penasaran pada barang-barang canggih manusia. Fonograf yang bisa mengeluarkan musik lewat corongnya hanya dengan memutar sebuah piringan hitam".
Aku memejamkan mata. Mungkin aku akan memikirkan masalah Basilisk ini pagi-pagi, dimana orang-orang mengatakan otak berfungsi paling baik di pagi hari saat subuh.
.
Tunggu sebentar !
Rusak ?
Aku mendadak bangun. Kurama menoleh. "Ada apa ?"
"Itu dia, Kurama !" Seruku. Dia mengangkat satu alis.
"Rusak !" Seruku keras. "Kita harus membuat kedua mata Basilisk rusak sampai dia tidak bisa menggunakannya !" Kataku semangat.
"Buta, maksudmu ?" Koreksi Kurama ikut antusias. Aku mengangguk. "Tapi bagaimana caranya ?"
"Kagebunshin. Mereka hanya klon bayangan, jadi kalau mati, mereka paling hanya menghilang seperti asap. Aku hanya harus membuat bunshin sebanyak-banyaknya, memerangkap Basilisk dalam timbunan bunshin dan sebelumnya akan kusuruh mereka menutup mata. Kemudian aku akan bakar dia dengan serangan gabungan elemen angin dan api dan memfokuskan itu ke kedua matanya. Kalaupun dia tidak mati, setidaknya kemungkinannya buta karena serangan itu cukup besar" kataku.
"Dan jika dia tidak bisa melihat sekaligus tidak bisa menggunakan kekuatan magisnya itu, kita akan dengan mudah membunuhnya !"
"Kita ?" Ulang Kurama. "Lorong Menara Tenggara itu sempit ! Mana mungkin aku muat disana. Kau-lah satu-satunya manusia yang akan kesana".
"Kau tidak mendengarkan ya ? Walau kecil kemungkinan kau ikut dalam operasi kali ini, Anrokuzan akan membawa beberapa pasukan terbaiknya bersamaku !"
Northern Hamada
Kaze no Kuni
Five kilometers before Mount Phicium
Tim Paradox (minus aku dan Kurama) terbang dengan kecepatan penuh ke depan. Temari, Kakashi-sensei dan Jiraya sensei seperti biasa memimpin di depan, diikuti Kiba, Lee, dan Hinata, serta Ino dan Shikamaru yang sudah mendapat Vereev dari Gaara.
"Jadi jalur mana yang akan kalian lewati ke Tsuchi no Kuni ?" Temari memecah keheningan.
"Yang terdekat" jawab Kakashi-sensei cepat.
Temari mengernyit, berusaha mengingat sesuatu. "Oke, itu pilihan yang salah" katanya misterius.
"Kenapa ? Apa yang salah ?" Tanya Lee penasaran.
"Kalau kalian memilih yang terdekat, sudah pasti jawabannya kalian akan melalui Gunung Phicium. Kusarankan jangan lewat sana. Itu tempat paling berbahaya di blokade Kaze dan Tsuchi. Ratusan pengembara sudah bermodalkan nekad dan berani, tapi tidak ada yang sampai ke tempat tujuan begitu menginjakkan kaki kesana. Kurasa disanalah tempat yang dimaksudkan Styx. Berarti memang ada yang menunggu kalian" jelas Temari panjang lebar.
"Memangnya ada apa disana ?" Jiraya-sensei mulai penasaran.
"Sphinx. Makhluk setengah naga, setengah manusia. Bersayap. Postur tubuhnya mirip seekor singa, tapi dua kali lebih besar. Wajahnya mirip wajah perempuan dengan rambut cokelat kemerahan yang lebat. Gigi-giginya sangat tajam, cocok untuk mengoyak daging. Ekornya adalah seekor ular viper yang berbisa" lanjut gadis berambut kuning itu.
"Itu saja ?" Sahut Jiraya-sensei. "Kedengarannya tidak terlalu buruk" lanjutnya.
Temari tersenyum sinis. "Kalian belum tahu. Sphinx akan memerangkap siapapun yang melewati Gunung Phicium dengan sebuah teka-teki. Dia tidak bisa mati sebelum seseorang menjawab teka-tekinya dengan benar. Dan ada rumor, bahwa Sphinx punya enam teka-teki, diantara enam itu, ada satu teka-teki yang tidak akan bisa dijawab oleh manusia manapun" jelasnya serius.
"Ironisnya, ada kabar burung mengatakan bahwa Sphinx mempelajari semua teka-teki itu dari Oedipus, sespesies Ivory Dragon yang juga merupakan penjaga Perpustakaan Besar di Tsuchi no Kuni, tidak jauh dari Iwagakure" lanjutnya.
"Jadi kita harus melewati jalur lain ? Tapi jika mengamati peta, itulah jalur terdekat. Jalur lain bahkan yang nomor dua paling dekat saja selisih waktunya bisa sampai 12 jam. Itu sungguh pemborosan waktu" kata Sakura sambil mengamati peta.
"Memang. Tapi mempertimbangkan semua resiko, daripada kita mati, mungkin lebih baik kita putar haluan" usul Shikamaru.
"Terlambat. Lihat batu-batu di bawah" potong Sasuke sambil menuding tanah. Ratusan bebatuan berwarna abu-abu cerah makin lama makin banyak, menunjukkan bahwa mereka sudah mulai berada di area Gunung Phicium.
"Sekali kesini, tidak bisa kembali lagi" lanjut Sasuke. "Mau tak mau kita harus terus ke depan. Kukira kau seorang jenius dengan IQ lebih dari 200 dan kemampuan menghafal photographic memory*, Shikamaru dari Konoha. Kurasa mungkin kau bisa menjawab teka-teki Sphinx" katanya acuh.
"Sayang sekali, tapi aku lebih sering dan lebih suka membaca buku-buku ilmiah nonfiksi daripada buku-buku teka-teki, humor, atau dongeng" kilah Shikamaru malas.
"Kau ini. Bersemangatlah sedikit, kalau ada yang mengandalkan kemampuanmu" Ino menanggapi. "Dari dulu selalu saja begitu".
"Haahhh, sungguh merepotkan" Shikamaru mengeluarkan keluhan khasnya.
.
Matahari mendadak tertutup awan berwarna kelabu. Langit berubah menjadi merah dengan semburat jingga seperti saat matahari terbenam. Pasir-pasir berubah menjadi asap hitam dengan sedikit percikan api tipis.
"Sial. Tidak kusangka dia muncul juga..." kata Temari dengan suara bergetar. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
"Dia siapa ? Jangan katakan naga bertanduk satu sialan itu" Shikamaru menanggapi.
"Bukan. Ini lain lagi. Kalau kaupikir Styx itu ganas, brutal, dan tidak sopan, yang ini lebih lagi" Temari menjelaskan dengan wajah mulai memucat.
"Sebenarnya dia siapa, Temari-san ? Wajah Anda sampai begitu dan keringat Anda begitu banyak" Tanya Hinata ikut penasaran.
Temari menelan ludah. "Sakura. Ino. Hinata. Kuharap kalian semua sangat kuat, atau setidaknya, semuanya, lindungi kami".
"Jelaskan ! Sebenarnya ada apa, Temari-san ?!" Ino mulai tidak sabar sekaligus sedikit takut.
"Zmey...Zmey Gorynych. Dia adalah sosok naga berkepala tiga yang sangat buas dan rakus. Kakashi-san, Jiraya-san, tolong berhenti dulu. Kita akan mengambang sementara di udara seperti ini sementara aku menjelaskan pada mereka. Pasalnya ini sangat penting".
Dan merekapun berhenti, naga-naga tunggangan mengepakkan sayap tapi diam di angkasa sementara Temari mulai menjelaskan.
"Dia punya tiga kepala yang identik, tapi dia hanya punya satu jiwa. Dengan kata lain, jiwanya berpindah-pindah dari satu kepala ke kepala yang lain. Jadi ketiga kepalanya tidak mungkin berbicara secara bersamaan, yang akan berbicara hanya satu kepala dimana jiwanya ada. Ekornya seperti jarum suntik yang mematikan, dan aku punya pemikiran buruk kalau dia sedang dalam masa reproduksinya...".
"Lalu apa menakutkannya ?" Potong Kiba.
"Diam, Kiba" sergah Hinata. "Lanjutkan, Temari-san".
"Kalian para laki-laki masih bisa tenang. Yang paling mengerikan dari Zmey adalah...mereka semua jantan, dan jika mereka memasuki tahap perkembangbiakannya...mereka tentu tidak akan menemukan naga betina. Karena itulah, mereka menggantikannya dengan..."
"...manusia...".
.
.
"APA ?!" Seru Ino histeris. "Ma...maksudmu...Jangan ! Jangan katakan kalau manusia berjenis kelamin perempuan-lah yang jadi pengganti naga betina Zmey !" Lanjutnya.
Temari mengangguk pelan. "Memang begitu. Kita akan dijadikan semacam wadah. Zmey baru bisa melangsungkan keturunan apabila kepala tengahnya menggigit lehermu, kepala kiri menggigit kedua kakimu, kepala kanan menggigit kedua tanganmu, dan ekornya yang seperti jarum suntik itu ditusukkan ke perutmu. Segera setelah itu, kau akan pingsan dan tidak bisa bangun lagi. Hanya dalam waktu enam jam setelah itu, tubuh perempuan yang sudah disengat itu akan menggelembung sepenuhnya dan pecah...mengeluarkan Zmey muda dari dalam tubuhnya...".
Ketiga Dracovetth perempuan di depannya langsung memucat seputih kertas. "Ya, dia memang mengerikan. Dan sungguh tidak beruntung kita akan menemui naga jenis itu".
"Adakah jutsu pengubah gender untuk waktu singkat, sensei ?" Tanya Ino iseng sambil tersenyum pasrah.
Kakashi-sensei menggeleng. "Kalau ada, aku pasti sudah coba" Jiraya-sensei menanggapi sambil manggut-manggut.
.
.
.
"Hampir saja kuhajar setan sialan itu. Untungnya upeti ini datang tepat waktu !"
.
"ZMEY !" Seru Temari terkejut.
"Ahahahaha ! Bahkan gadis Suna sepertimu mengenalku ?! Kalau begitu biarkan kau yang pertama !" Seru naga berkepala tiga dengan sepasang sayap itu –yang memang hanya satu kepala yang terus bicara- sambil menjilat bibir.
Shikamaru berdiri di naganya, melepas pedang dari sarungnya. "Aku sudah menemui banyak naga menjengkelkan sepanjang perjalananku, tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam" katanya tegas.
"Hah ! Tidak ada yang bisa menghentikanku, bocah ! Lagipula Styx benar...aku mendapati empat wanita disini !"
BRUUUSSSHHH ! ! ! Gorongosa menyembur Zmey hingga terpental. "Kau terlalu cerewet" kata Kakashi-sensei. "Ayo pergi ! Kurasa Sphinx lebih baik daripada naga yang satu ini !"
Zmey bangun, dua kepala di sisi kanan dan kirinya menyemburkan kabut asap. Kabut asap berkecepatan tinggi yang segera memerangkap mereka semua.
"Sial ! Hinata, Sasuke, cepat gunakan Dojutsu kalian ! Ia menggunakan taktik yang sama dengan Styx !" Seru Kakashi-sensei gusar.
"Hee, kenapa ini ?!" Jerit Lee tiba-tiba. Naganya mulai linglung dan sedikit demi sedikit mulai melambat. Hal yang sama terjadi pada naga yang ditunggangi rekan setimnya. "Kurasa ini bukan kabut asap biasa !"
"Memang bukan !" Seru Temari sambil berusaha menjaga keseimbangan. "Ini kabut bius ! Naga yang menghirup kabut asap ini akan terbius untuk waktu yang tidak sebentar !"
"Kenapa kau baru bilang ?!" Sungut Kiba sambil tetap menarik tali kekang naganya sekuat tenaga.
"Percuma ! Kita akan jatuh !"
"道頓:カイ犬 !"
Doton: Chidogaku
(Elemen Tanah: Daerah Peninggi)
Jiraya-sensei berseru. Dalam sekejap, area berbentuk persegi meninggi dari tanah datar, membuat efek jatuh mereka tidak terlalu terasa karena jarak dari langit ke bumi yang berkurang. "Huh" gerutunya. "Kita harus membereskan ini secepatnya atau Naruto akan bosan menunggu".
"Jadi benar ! Kalian adalah tim Draco P itu" sahut Zmey dari langit. "Heeh ? Tapi aku tidak melihat bocah blonde berambut kuning cerewet itu dari tadi. Apa dia bersembunyi ?" Selidiknya.
"Bukan urusanmu" sergah Lee ketus. Ia melompat setinggi-tingginya, berusaha menendang salah satu kepala naga itu tapi nihil. Ia kembali mendarat sia-sia di tanah.
"Jangan sembarangan, semuanya" perintah Kakashi-sensei. "Kita akan pakai formasi, semacam strategi. Sasuke-kun, Jiraya-sama, maaf menyuruh kalian, tapi kalian harus melindungi Temari-san, Sakura, Hinata, dan Ino" lanjutnya sambil mengeluarkan sepasang kunai. Ia meluruskan ikat kepalanya yang sengaja dimiringkan ke sisi kirinya. Pupil mata merah dengan tiga tomoe langsung terlihat.
"Hmph, kau tidak pernah memberitahu kalau kau juga punya Sharingan, Kakashi-san" selidik Sasuke sedikit terkejut. Maklum Sharingan adalah teknik pertalian darah yang seharusnya hanya bisa digunakan oleh klan Uchiha saja. "Darimana kau mendapatkannya ? Seorang Uchiha yang sudah kau kalahkan ?" Tanya Sasuke.
"Kau tidak perlu tahu" sergah Kakashi-sensei. "Dia bukan musuhku..." desisnya mengenang masa lalu.
"Humph, Sharingan" gerutu Zmey. "Dua pengguna Sharingan...ah, tidak terlalu menjadi masalah" lanjutnya. Ketiga kepala itu langsung menyemburkan kobaran api. Kakashi-sensei melakukan handseal secepat yang dia bisa.
"原水:隋翔ヘクタール !"
Suiton: Bakusui Shoha
(Elemen Air : Ledakan Gelombang)
ZRRAAAASSSSHHH ! ! !
"Api tidak akan mempan dilawan sesama api. Itu hanya akan membuang-buang waktu dan chakra" Shikamaru memperingatkan. "Semua ! Naga ini tipe yang berkemauan keras dan sulit dibujuk, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Dracovetth perempuan kita ! Jadi pancing dia ke jarak serangku dan akan kuikat dia dengan Kage Nui ! Begitu dia terperangkap, Chouji akan melakukan Nikudan Sensha dari arah kanan dan Jiraya-sama akan melakukan Chidogaku dari arah kiri, menghimpitnya, dan Kakashi-sensei bersama Sasuke menyerangnya dari atas dengan Raiton ! Lee, kau berjaga di depan dan serang ketiga kepalanya dengan taijutsumu, sementara Kiba, serang ekornya dan babat dia dari belakang !" Seru Shikamaru keras-keras.
"Kenapa kau beberkan strategi penyerangan seperti itu ?!" Panik Ino dari barisan belakang.
"Hanya dalam beberapa detik perjumpaan...aku tahu kalau..."
"...Zmey itu sedikit tuli !" Balas Shikamaru.
"HAH ?! Kau mengatakan sesuatu ?!" Seru naga berkepala tiga itu dari atas.
Shikamaru mendecih. "Benar kan".
"Apa ? Kau mengatakan sesuatu lagi, ya ?!"
.
BUUKK ! ! Lee menghantam kepala paling kanan dengan Konoha Senpou. Zmey oleng, Kakashi-sensei membuat handseal.
"為雷:耀文合計成功婚 !"
Raiton: Sucyiuu Summarry
(Elemen Petir: Penjara Empat Pilar)
DRAK !
DRAK !
DRAK !
DRAK !
Empat pilar besar dari batu berwarna biru keunguan memerangkap Zmey dan segera menyengatnya dengan listrik yang keluar diantara bebatuan itu, menghanguskan dan menjatuhkannya untuk sementara. "Jiraya-sama !" Pekik Kakashi-sensei.
"Aku tahu !" Kali ini giliran Pertapa Myobokuzan ini beraksi. "Kita tidak boleh membiarkannya bangun !"
"為土:類元素秋盲 !"
Doton: Otoi Buta
(Elemen Tanah: Jatuhan Batu)
BRRAAAAKKK ! ! !
.
.
Keempat Dracovetth wanita itu hanya bisa menonton pertarungan yang semakin seru itu dari jauh.
"Kalau kepala Zmey dihancurkan satu persatu, apa itu bisa membunuhnya ?" Tanya Sakura sambil meremas tinjunya.
"Entahlah" sahut Temari. "Kalaupun kau bisa melakukannya, resikonya terlampau tinggi. Itu sama saja bunuh diri".
"Kita tidak akan tahu kecuali mencobanya" Sakura menyanggah datar.
Wajah Temari berkerut. "Dengar ya, rambut harum manis ! Kalau aku tidak diperintah adikku –alias Kazekage menyampaikan surat semi-rahasia ini pada Tsuchikage di Iwagakure secara pribadi, aku pasti sudah putar balik ke Sunagakure sejak mengetahui Zmey juga ada disini ! Jangan main-main dengannya ! Kau mau dirimu yang berharga ini mati disini dan tak sempat menikmati kedamaian ketika Naruto berhasil menemukan Dia ?!"
"Menurutku Sakura ada benarnya" dukung Hinata takut-takut. Temari mendelik ke arahnya. "Kita akan hati-hati" sambungnya.
Ino mendecih. "Apa kita tidak bisa cari jalan lain atau kabur dari sini ?" Tanyanya pada...Temari tentunya.
"Tidak" jawab gadis berkucir empat itu. "Sekali kesini, tetap kesini. Kita juga sudah terjebak dalam genjutsu kuat milik naga itu. Lihat langitnya, yang tampak merah. Awan kuning dan suasana seperti senja abadi ini adalah genjutsu. Dan satu-satunya cara meloloskan diri dari ini adalah membunuhnya. Kabar baiknya, satu jam di genjutsu ini sama dengan satu menit di dunia nyata" jelas Temari lugas.
.
.
"Dia masih hidup" Chouji mengkonfirmasi. Ia memperbesar tangan kanan dan kirinya, dan langsung menumbuk naga itu diantara kedua tangannya begitu dia bangun. "Sulit sekali membunuhnya !" Gerutu Chouji begitu ia merasa pukulannya tidak berhasil. "Shikamaru, cepat !"
"Sabar" balas Shikamaru tenang. Ia berusaha mengumpulkan chakra, bersama Kakashi-sensei di sampingnya yang juga...bersiap.
"Kau lambat, Kakashi !" Seru Jiraya.
"Tunggulah sebentar. Saya tidak punya chakra sebanyak Anda apalagi Naruto" balas Kakashi-sensei sambil masih terus berkonsentrasi dan menutup kedua matanya. Handseal-nya berlambang harimau.
"Apa yang akan dilakukannya ?" Tanya Lee.
"Sharingan level khusus. Dia bukan klan Uchiha murni, jadi butuh waktu untuk mengumpulkan chakra sampai cukup untuk menggunakannya paling tidak dua atau tiga kali" Sasuke menjelaskan sambil terus berusaha menebas kepala naga itu dengan Chidorinya.
Zmey menyemburkan api. Kali ini tiga arah, membuat Jiraya-sensei sedikit kesulitan mengkoordinasikan dinding pertahanan.
"HAHA ! Kali ini lebih panas, hmm..." Zmey mendesis. Cairan merah kental mengalir dari sudut bibirnya.
"Itu lava...dia bisa menyemburkan lava ?!" Gusar Jiraya-sensei. "Itu berarti dinding tanahku bukan halangan yang bagus !"
"Rasakan ini !"
.
BLUUUPP ! !
.
CEEEEESSS... ! ! ! !
"KYAAAA !"
"PANAS !"
"Bodoh, jangan mendekat !" Seru Sasuke. Zmey mendadak menjatuhkan diri tepat di hadapannya.
"Uchiha lebih dulu" desis Zmey sambil menjilat bibir, lalu menyembur. Sasuke melompat gesit, menghindari tiga semburan lava sepanas sepuluh kali lipat air mendidih itu dengan gerakan yang sulit diikuti. Ia segera melakukan handseal.
BRRRUUUSSSHHH ! ! ! Banjir kedua muncul diantara batu, mendinginkan lava dengan cepat dan nyaris menghanyutkan naga bengis itu, yang segera terbang dan menyebur dari atas, kali ini satu kepala menyembur api, dua lainnya menyembur lava. Pelan tapi pasti, Sasuke mulai terpojok. Kini ia berada diantara tiga runtuhan batu besar dan tepat di depannya, Zmey bersiap menikmati kemenangannya.
"Kau terlalu percaya diri" timpalnya pongah.
Sasuke tersenyum kecil. "Kau juga".
"Huh ?"
SRAK !
SRAK ! !
Lee dan Kiba melakukan serangan gabungan dengan timing yang tepat –Lee merobek sayap kiri dengan taijutsu dan Kiba merobek sayap kanan dengan Gatsuga. Mereka berdua mendarat di arah yang berlawanan, lantas Sasuke langsung bersiap dengan Raitonnya, menyerang Zmey yang sedang lengah.
"千鳥 ! !"
Chidori
(Dalam arti harfiah: Seribu Burung)
.
TSK
.
JRRAAASSSHHH ! ! !
.
Zmey meraung keras, memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya. Sasuke menusuk tepat ke dadanya, dalam sekejap jutsu petir dengan penetrasi yang sangat kuat itu mengobrak-abrik jantung naga besar itu, memuncratkan belasan liter darah ke luar. Tubuh Zmey dan ketiga kepalanya segera ambruk dengan ketiga mulut yang terbuka bermandikan darah.
Sasuke melepas tangannya dan tertunduk lelah.
"Hhhh..." nafasnya ngos-ngosan. Ia bangkit berdiri dan menatap langit yang masih belum normal.
"Naruto..."
"...saat kami kesulitan begini...apa yang kau lakukan disana...?"
Rouran Great City
08.00 a.m
"Kurama ! Kurama ! Woi, bangun, dasar pemalas ! Kurama !"
.
Naga itu menggeliat. "Awas ! Ini bukan Chrysler !" Aku segera memperingatkan. Ia menguap lebar-lebar, lantas membuka kedua matanya, menampakkan biji mata semerah batu rubi yang tersembunyi semalaman.
"Siang-siang begini kau baru membangunkanku" katanya setengah menggerutu.
"Setengah jam yang lalu aku sudah mengguncangmu ! Huh, untung saja aku tidak punya elemen air" kataku sambil bersedekap. "Aku bangun sejak jam lima pagi. Sulit tidur rasanya setelah itu. Aku masih penasaran tentang beberapa hal" aku mengerutkan dahi.
Ya, pertama, yang paling primer, bagaimana cara termudah dan teraman untuk mengalahkan Basilisk itu ? Pikiranku makin kacau saat menduga bahwa tidak mustahil ada lebih dari satu Basilisk di menara itu. Dan yang kedua, apa yang sedang mereka, timku, lakukan sekarang ? Mencariku ? Atau tidak peduli dan meneruskan perjalanan ? Yang ketiga, apakah Haruno Kizashi yang notabenenya adalah ayah Sakura, benar-benar masih hidup atau Sakura yang berbohong ? Atau semalam yang kulihat hanya fatamorgana, genjutsu, atau halusinasi ? Apakah daging Venator mengandung efek halusinogen ?
Arrgghh ! Semua ini terasa membingungkan.
"Naruto, bagaimana cara membuka ini ?" Kurama mengutak-atik kunci jendela terbesar. "Kurasa aku muat terbang keluar lewat sini".
Aku bergegas membukanya sebelum Kurama memilih cara yang ekstrim –menjebol jendela, yang berarti memecahkannya. Ia langsung terbang keluar mencari udara segar, merenggangkan kaki, leher, ekor, dan sayapnya yang kaku setelah semalaman tidur di kamar sekecil ini (bagi seekor naga).
Aku menguap malas lalu bergegas mengambil handuk, masuk ke kamar mandi.
.
Wow.
.
Tidak kusangka. Karena aku memang belum pernah membuka kamar mandi ruanganku sebelum ini.
Area yang luas, nyaris setengah luas kamar utama dengan bak mandi yang sangat besar, panjang sisi-sisinya mungkin mencapai empat meter dengan kedalaman 30 hingga 70 cm. Airnya jernih dan segar dan lantai bak dihiasi mosaik bermotif yang menakjubkan. Rasanya ini lebih mirip tempat pemandian daripada kamar mandi ! Aku melepas baju, menggosok tubuh dan gigi dengan peralatan yang sudah tersedia, bersabun, dan membilasnya dengan air.
Berendam di air dingin di tengah-tengah suasana yang masih terasa 'padang gurun' benar-benar nyaman. Kurasa aku harus buat satu tempat seperti ini ketika aku kembali ke Konoha, hihihi.
.
.
Puas berendam (sekaligus sedikit khawatir mengenai polah tingkah Kurama yang entah dia sedang apa di luar) aku membebat tubuhku dengan handuk tadi, dan bersiap membuka pintu.
Ups, sekilas kulihat di cermin masih ada sedikit busa di rambutku. Aku buru-buru membilasnya, mengeringkan wajahku di depan cermin.
Cermin.
.
.
Sebentar.
.
Cermin.
Cermin itu...
Memantulkan bayangan.
Memantulkannya sama persis...dengan objek aslinya. Maya, alias tidak nyata, tapi tegak dan sama besar. Aku terlihat persis seperti aslinya di cermin hadapanku sekarang.
Memantulkan ?
Kira-kira apa yang akan terjadi...
...Kalau Basilisk itu melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin ?
...Kalau dia melihat mata kuning pembawa maut(nya) itu sendiri ?
Wajahku bersinar (dalam arti harfiah). Kurasa aku sudah menemukan caranya ! Segera saja kuputar kenop pintu dan berlari ke luar dengan tidak sabar. Aku memutar-mutar anak kunci di pintu dengan cepat, dan langsung kubuka satu-satunya pembatas ruanganku dengan koridor menuju singgasana ratu.
Ups, seseorang berada tepat di depanku.
Sara ! Dia sepertinya baru saja akan membuka pintu. Mata amethyst-nya menatapku terkejut. Wajahnya langsung memerah seperti rambutnya.
Aku sendiri terlongo bingung seperti orang dungu.
.
.
"KYAAAAA ! ! PAKAI BAJUMU DULU, DASAR !" Sara memekik sambil membanting pintu.
Aku langsung tersadar. Aku berhadapan dengan seorang Ratu Rouran –hanya dengan tubuh basah yang dibalut handuk ! Pantas saja dia memerah tadi. Fyuh, kenapa aku jadi merasa seperti Archimedes yang baru menemukan hukum gaya apung di air yang pergi dan berlari sambil berteriak mengumumkan 'Eureka !' pada orang-orang, ya ?!
Setelah memakai semua atributku, aku membuka pintu perlahan. Sara masih di depan, tapi tidak tepat di depan pintu. Ia duduk di kursi koridor tidak jauh dari pandanganku.
"Ehm" aku berdehem berusaha menarik perhatian. Dia menoleh. "Hehe, maaf soal tadi. Aku terlalu bersemangat" ujarku kikuk.
Ia sepertinya sama kikuknya. "Memangnya apa ?" Balasnya kaku.
"Cara mengalahkan Basilisk" kataku tegas. Ia bangun.
"Sungguh ?"
Aku mengangguk.
"Katakan !"
"Pertama, aku harus meminta bantuan teknisimu untuk membuat, atau setidaknya menyiapkan sebuah cermin yang cukup besar. Kira-kira tingginya dua meter dengan lebar satu meter, berbentuk persegi panjang potrait. Setelah itu, setidaknya aku ingin ada satu atau beberapa prajurit terlatih yang terbaik untuk...yaahh...menemaniku sebagai teman mengobrol atau semacamnya" jelasku.
Sara mengernyit. "Cermin ?" Ulangnya. Aku mengangguk tanpa menjelaskan. Siapa tahu dia bisa menebaknya sendiri.
"Oh, kau mau memantulkan bayangan Basilisk sehingga dia melihat matanya sendiri ?" Ujar Sara. Aku tersenyum.
"Tepat" kataku membenarkan. "Karena itulah aku butuh cermin yang cukup besar, luas, dan tidak mudah pecah. Kalau perlu, buat saja baju zirah yang setiap sisinya ditempeli cermin" kataku asal-asalan. "Terus terang saja, aku mendapat ide ini secara tidak sengaja. Awalnya kukira lebih baik merusak mata Basilisk, alias membuatnya buta, tapi itu masih cukup beresiko. Jadi kenapa kita tidak memanfaatkan kelebihan naga itu sendiri untuk melawannya ?"
Sara terdiam beberapa saat.
.
.
.
"Baiklah" katanya. Aku bersorak dalam hati.
.
Walau ada sedikit keraguan, apakah ini akan berhasil ?
Foot of the Mount Phicium
Team Paradox vs Zmey Gorynych
"Sudahlah, Kakashi-san" desis Sasuke santai. "Zmey sudah kalah. Kalian ! Mari kita lanjutkan ini" katanya pada para Dracovetth perempuan.
"Kau terlalu menganggapnya remeh" balas Temari. "Lihat langitnya, batunya. Genjutsunya belum pecah, berarti dia masih..."
.
BRUUKK !
BRAAAKK !
Kiba dan Lee –yang tadinya masih mengobrol di dekat bangkai Zmey, terlempar telak ke arah mereka.
"Apa yang terjadi ?!" Seru Jiraya-sensei gusar.
"Dia...masih hidup..." kata Lee terbata-bata. Sasuke mendelik.
"Tidak mungkin. Aku sudah menghancurkan jantungnya".
Tapi tidak. Sosok naga berkepala tiga itu muncul dengan dada yang masih rapi seperti sebelum Sasuke menebasnya dengan Chidori. Ia tersenyum meremehkan. "Kalian kuat" ujarnya. "Tapi tidak cukup cerdas" sambungnya sambil mengepakkan sayapnya yang juga pulih.
"Cih. Temari. Kau mengetahui sesuatu tentang kelemahannya ?" Tanya Sasuke.
"Kalau aku tahu, aku pasti sudah mengatakannya dari tadi !" Pekik Temari panik. Zmey melesat ke arah mereka semua, persis setelah Kakashi-sensei menyimpan cukup chakra...
.
TAP
.
"Minggir, dasar rambut putih !"
.
Ia membuka mata kirinya. Mata berwarna merah darah itu kini dihiasi pola yang lebih berbeda daripada sekedar tomoe Sharingan. Sebuah pola tiga lengkungan segitiga membentuk pusaran, modifikasi ekstrim dari Sharingan biasa.
"Mangekyo Sharingan" desis Jiraya-sensei. "Tepat waktu, Kakashi".
.
"Bentuk tidak mempengaruhi kekuatan !" Zmey terus maju.
Dalam dimensi lain, Kakashi-sensei memfokuskan pandangan mata kirinya itu. Naga berkepala tiga itu segera menyadari dunia genjutsunya ditimpa oleh genjutsu lain –yang jauh lebih kuat. Membuat semua yang dilihat matanya tampak blur. Kabur. Tidak jelas. Tidak ada garis lurus, semuanya terfokus pada satu tempat...
Kepala tengah.
.
.
"Habis kau, naga jelek..."
.
"GRRRAAAAAAAAAAAA...! ! ! !"
.
Perlahan tapi pasti, raungan itu berkurang intensitasnya. Bukan karena kelelahan berteriak, tapi karena satu sumber suara telah hilang. Kepala tengah Zmey telah tersedot ke lubang hitam dimensi lain, menyisakan pangkal leher dengan tulang vertebra dan beberapa ototnya yang terkulai lemas. Kepala tengah sudah musnah ! Kini tinggal dua kepala yang tersisa.
Kakashi-sensei langsung terduduk. Peluhnya bercucuran.
"Jutsu apa itu tadi ?" Kagum Lee.
"Kamui. Jutsu pemindah dimensi. Kakashi memindah kepala tengah naga itu ke dimensi lain. Memindah bukan berarti memotong, jadi dia tidak akan bisa kembali seperti semula" jelas Jiraya sambil bersiap melakukan serangan lanjutan.
"Kita akan kembali ke formasi semula !" Pekiknya.
DRRRRRKKK ! ! ! Dari bawah tanah mendadak muncul sebuah lengan raksasa dengan lima jari. Jutsu Jiraya-sensei langsung berhasil menggenggam naga itu dan menubruknya ke tanah.
"Baik, aku siap !" Seru Shikamaru sambil berusaha mengarahkan jutsu spesialnya ke naga yang sudah lemas itu. Bayangan hitam itu segera menusuk-nusuk sayap, leher, kaki, dan ekor Zmey, menguncinya, tapi tidak untuk waktu lama. "Sekarang, Chouji ! !" Pekiknya.
Chouji –yang sudah berukuran raksasa itu, langsung menggulung diri seperti armadilo dan menggilas Zmey dari atas. Jiraya-sensei kembali melakukan jutsu, mengapit naga itu dari sisi kanan dan kiri dengan dinding tanah padat.
Shikamaru tersenyum puas. Tinggal menunggu Lee dan Kiba siap, pikirnya. Namun senyumnya menghilang setelah melihat Sasuke bersiap dengan Chidorinya, hendak menyerang bagian belakang, tepatnya ekor, sendirian.
"Oi !" Pekiknya. "Sasuke ! Bagianmu bukan disitu, tahu !"
Sasuke acuh dan terus maju, sedikit lagi ia berhasil menyerang ekor...
Namun dengan lincah ekor itu berkelit, dan pinggirannya yang berbentuk anak panah dengan sisi setajam pisau daging itu mengibas, tepat mengenai pinggang kanan Uchiha berambut pantat ayam itu dan menjatuhkannya diantara bebatuan. Sasuke meringis. Pinggangnya seperti teriris, walau untungnya tidak terlalu panjang.
"Dasar ! Kan sudah kubilang !" Seru Shikamaru, yang kini mulai kesulitan mengendalikan Kage Nui-nya.
Kakashi-sensei membantu Sasuke berdiri, lalu segera membawanya untuk diobati Sakura. "Apa yang kau lakukan barusan ?" Tanya Kakashi-sensei. Lebih ke penasaran daripada cemas.
"Temari bilang, ekornya adalah perantara agar naga itu bisa bereproduksi. Jadi kurasa kita harus memfokuskan penyerangan kita pada ekor, daripada kepala" ujar Sasuke sambil merintih. Kakashi-sensei terdiam sejenak.
"Ini kedengaran sedikit jorok, tapi bagian antara kedua pangkal paha kaki belakang, atau yang seharusnya jadi tempat anus di naga itu memang sangat rata" Kiba menambahi. "Kurasa memang ada yang salah. Naga itu punya ciri khas. Ekornya bisa dibilang adalah...emm...kau tahu kan" lanjutnya sambil berdehem sedikit.
Ino menjambak rambut. Temari menepuk dahi. Hinata...dan Sakura...
...biasa-biasa saja.
"Ehm. Apa yang terjadi jika seorang laki-laki dipotong itunya, sensei ?" Selidik Hinata akhirnya bicara.
"Entah. Sebenarnya, bahkan kecil kemungkinan dia mati, karena itu bukan penampang luas seperti tangan atau kaki, yang bisa mengucurkan darah begitu banyak. Tapi...kita bisa melihat fungsi atau apa yang terkandung dalam bagian tubuh itu dulu, daripada memikirkan luas penampangnya" jawab Kakashi-sensei sambil menutup mata kirinya lagi.
"Kurasa Sasuke ada benarnya" katanya kemudian. "Baiklah. Kita coba strategi baru".
"Cih, mengesalkan sekali. Kenapa harus ada naga semacam itu ?" Gerutu Shikamaru dengan sikapnya yang biasa.
"Lukanya terlalu dalam" kata Sakura tiba-tiba. "Selain itu, aku baru mengetahui kalau di ekor Zmey ternyata ada racun asamnya" lanjutnya. "Dan ini jenis yang samasekali baru. Tidak seperti naga lain, atau tanaman beracun yang lain".
"Jadi ?" Tanya Ino dengan suara bergetar. Sakura menghela nafas.
"Kau hanya bisa berharap dengan mengalahkan Zmey, efeknya akan hilang" jawab Sakura datar.
"Ini tidak bagus" cetus Lee. "Kita tidak bisa menjalankan formasi penyerangan dengan baik tanpa Sasuke-kun dengan elemen petir dan apinya serta Sharingan yang dapat membaca gerakan".
"Kakashi-san masih ada Sharingan" balas Sasuke. "Dan Jiraya-sama juga punya elemen api. Apalagi Kakashi-san bisa meniru jutsu lima elemen dengan Sharingan pula" tambahnya.
Kiba mengernyit. "Tidak biasanya kau begini, Uchiha".
Sasuke tersenyum misterius. "Benarkah ?"
"Begini saja, jalankan formasi tanpa aku, atau kita mati bersama disini".
BLUAAKHH !
Zmey memuntahkan sesuatu dari kepala kiri. Bangkai manusia...yang baru setengah tercerna. Kondisinya sudah mengerikan, seluruh tendon dan otot manusia itu sudah setengah cair dan kebanyakan tulangnya sudah terlihat dan memutih. Beberapa helai rambutnya masih tertancap di kepala dan perutnya robek, mengeluarkan cairan aneh berbau tak sedap dari situ.
"Hmm...pencernaanku bekerja kurang baik belakangan ini" desisnya. "Karena aku kurang makan" lanjutnya sambil menjilat bibir.
"Dan gantinya adalah kalian !"
Southeast Tower of Rouran
Dead Eye's Home
Aku meneguk ludah. Kurama dan Pliny di belakangku malah asyik sembur-semburan api (mereka sudah akrab satu sama lain sejak pagi hari itu karena dua-duanya hobi menyembur-nyembur elemen panas itu). Cih, dasar naga tak tahu diuntung.
Dua prajurit pemberani di belakangku menatapku teguh, meyakinkanku bahwa kita pasti selamat.
Yaaa...tidak lain dan tidak bukan adalah Hiruko dan Anrokuzan. Itu cukup membuat jantungku meloncat-loncat karena ini berarti secara tidak langsung aku turut memikul keselamatan mereka berdua. Jika rencanaku tidak berhasil, apa kata seluruh Rouran. "Jangan takut, Naruto. Siapa tahu Dia muncul di saat-saat terpojok" canda Pakura sambil melambai tangan, walau jarak kami berdua baru tiga meter saat itu. Aku mendengus kesal. Walau ada sedikit sisi hatiku yang berharap begitu.
"Ayo, Naruto-sama. Lebih cepat lebih baik" kata Anrokuzan sambil menyerahkan sebungkus kardus besar padaku. Aku membukanya. Sebuah cermin besar dan tebal, kokoh dengan pigura baja yang menyangganya. Aku mengangguk.
"Jika cermin tidak berhasil, kita gunakan rencana B. Butakan matanya" Hiruko memberi instruksi.
Aku baru berjalan satu langkah di belakang Hiruko dan Anrokuzan yang berjalan sejajar selangkah di depanku ketika kerah jaketku ditarik ke belakang oleh seseorang.
Aku menoleh, bersiap memasang wajah 'aku sibuk'. Tapi ekspresi itu hancur sebelum sempat tersusun begitu melihat siapa yang menarikku.
Perempuan berambut merah ini –yang sekarang tanpa mahkota- menatapku lekat-lekat dengan permata ungu di matanya. Mau tak mau aku balas menatapnya.
Entah kenapa rasanya slow motion lagi. Ugh, sudah berapa kali, ya ?
"Jika terjadi sesuatu, pergilah" bisiknya pelan sambil meletakkan sebuah benda yang kukenal di telapak tangan kananku. Hiraishin Kunai.
Aku mengangguk mantap, dan nyaris melanjutkan langkahku ketika ia berbisik pelan nyaris tidak terdengar.
.
"Jangan sampai mati".
.
.
Oke, ini kedua kalinya aku merasa ditipu oleh suasana angin gurun menyebalkan ini. Tapi kurasa ini lebih mengejutkan daripada saat mendengar bahwa aku memiliki kemampuan Kekkei Touta dari Beleriphon.
Aku menatapnya lekat-lekat. Ratu bersurai merah itu tertunduk, tapi wajahnya masih sedikit menatapku dengan seribu harapan.
"Aku akan kembali" balasku cepat lalu menyusul Anrokuzan dan Hiruko.
.
Aku akan kembali untukmu, Sara.
Aku akan kembali untuk dunia.
Aku akan kembali untuk teman-temanku.
.
KRIIIEEEETTT...
.
BRAK
.
Tadi begitu ramai, sekarang rasanya seperti di kuburan tertua di dunia. Sunyi tanpa suara apapun kecuali nafas. Bahkan suara nafas bisa terdengar disini, hebat sekali.
"Jangan terlalu tegang" desis Hiruko. "Basilisk ada diatas lantai lima. Kita baru di lantai satu. Menara ini punya 30 lantai dan Basilisk menguasai 25 diantaranya. Lantai lima keatas" lanjutnya.
"Ini sedikit aneh, tapi aku sendiri juga tidak mengerti bagaimana bisa telur binatang aneh itu ada di menara ini" lanjut Anrokuzan sambil mengelus jenggotnya. Aku mengangguk mengiyakan. Memang aneh sih, apalagi Rouran terbilang sangat teratur, tertata begitu rapi dan apik. Rasanya sedikit mustahil binatang semacam Basilisk dapat bertelur seenaknya disini.
"Kita akan memasuki lantai dua" kata Hiruko beberapa saat kemudian. "Setelah tangga ini, yang kita jumpai masih sama, lantai kosong".
.
Hingga akhirnya kami tiba di lantai kelima. Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Aku memandang sekitar. Handseal segera kulakukan.
BOOFF !
Lima bunshin berjaga di sekitar kami bertiga, berusaha melihat apapun yang mencurigakan. "Halooo Basilisk ! Keluarlah, kami punya benda bagus untukmu !" Seru Anrokuzan dengan suara santainya yang biasa.
"Kita kesini untuk membunuhnya, bukan sales yang menawarkan cermin" potong Hiruko tak sabar. Anrokuzan hanya tertawa kecil.
.
.
"Emm...Hiruko-san" kataku takut-takut. Ia melirikku. "Apa Basilisk sensitif atau peka pada bau ?" Tanyaku.
"Sangat" jawabnya pendek.
"Kalau begitu, itu berita buruk" balasku.
"Kenapa ?"
"Aku baru saja...kentut".
.
Kedua manusia terhormat Rouran ini segera menutup mulut dan hidung mereka bersamaan. "Pantas saja ! Kukira itu bau bangkai manusia !" Seru Anrokuzan sambil mengibas-ngibas tangan. Aku tertawa kecil.
"Bau kentut bercampur bau anyir dari darah kering dan semua sisa-sisa daging yang belum dilahap, itu sangat memuakkan" tanggap Hiruko sambil memeriksa mayat seorang prajurit yang pertama kami temukan.
Dadanya berlubang hingga tembus punggungnya. Aku merinding.
"Basilisk suka jantung" desis Hiruko. "Orang malang ini dilahap jantungnya kurasa sesaat setelah dia menatap matanya. Jaga dada kalian. Cakar dan paruh naga itu merobek kulit manusia lebih mudah daripada gunting memotong kertas".
.
.
AAAAAAAANNNGGG ! ! ! !
Bulu kudukku berdiri. Suara apa itu ? Ah, tidak perlu bertanya, dalam hati aku sudah tahu. Basilisk ! Kurasa dia mencium bau kentutku ! Walau kedengarannya agak aneh, tapi bau itu sepertinya menandakan ada makhluk hidup lain disini selain lalat, kecoa, dan belatung yang mengerumuni mayat-mayat yang belum dihabiskan.
"Sial" gerutu Hiruko.
"Tapi kabar bagusnya, kita akan lebih cepat bertemu dengannya tanpa harus mencarinya sampai ke pucuk menara dan akan lebih cepat pula membunuhnya" timpal Anrokuzan sambil menyiapkan cermin ke belakang punggungnya.
"Basilisk pintar. Dia tidak akan muncul dari depan" katanya seolah mengerti keherananku.
BRAK !
Suara pintu didobrak dari belakang. Kami bertiga –ralat, berdelapan plus bunshin-bunshinku, terdiam di tempat. Suara langkah kaki terdengar mantap. Dia di belakang kami !
Dan semakin dekat...
Dekat...
.
.
"Yo !" Suara berat itu mengulurkan tangannya menepuk bahuku. Aku terperanjat, terkejut setengah mati. Begitu pula Anrokuzan dan Hiruko, yang langsung mengayunkan pedang mereka sambil memejamkan mata ke sumber suara.
"Hei, hei ! Ini aku !" Suara itu berusaha berkilah. Aku membuka mata. Rasanya aku kenal suara itu.
Sosok itu tersenyum jahil.
"Kizashi sialan" gerutu Hiruko. Pria berambut cokelat itu terkekeh.
"Aku minta izin Sara-sama dan yang lain untuk ikut membantu, susahnya minta ampun" katanya dengan tampang tak berdosa.
"Jangan lengah sedikitpun" potong Hiruko sambil memasang kuda-kuda lagi. "Dia bisa muncul dari mana saja".
BRAAAKK ! ! Mendadak langit-langit runtuh dan menampakkan sosok sebesar hampir dua kali burung unta, dengan ekor panjang bergelambir ayam di ujungnya, dua kaki kokoh bercakar tajam yang menakutkan, sepasang sayap berbulu yang juga bersisik dan memiliki kulit liat, tubuh kekar dengan sisik yang tampak keras dan berkilau, serta kepala serupa ayam raksasa dengan jengger berwarna merah menyala. Sungguh beruntung, aku tidak sempat melihat matanya...
Basilisk mendarat diantara kami berempat. Untunglah semua dalam keadaan siap, dan naga itu mendarat membelakangi kami semua, termasuk bunshinku.
Ia mendesis. Desisan paling khas yang pernah kudengar. Aku memberi isyarat pada lima bunshinku. Saatnya mengepung !
Kendati membelakangi, itu malah membuatnya mudah terperangkap. Lima bunshinku langsung memengangi naga yang ukurannya tidak terlalu besar itu, sementara aku melakukan handseal dan menambah lima bunshin lagi.
Basilisk meronta, tapi sepuluh klonku terus berusaha mengekangnya tanpa melihat matanya.
"ANROKUZAN !" Pekikku.
"CERMINNYA !"
.
Pria bertubuh bongsor itu langsung melempar cermin itu padaku. Kuarahkan sisi cermin yang berkilau itu ke depan, langsung bergeser menuju medan pandang sang Basilisk. Ini akan berhasil !
.
CROT
.
Hah ? Suara apa itu ?
"Naruto ! Dia ! Basilisk itu menutup matanya dan menyemprotkan racun kentalnya ke cermin untuk menghalangi pantulannya !" Seru Kizashi keras-keras. Aku terdiam takjub. Naga ini pintar juga. Aku memutar otak. Dia sedang menutup mata. Berarti tidak ada pilihan lain.
"RENCANA B !" Seruku keras-keras.
Hiruko langsung membebat naga itu –bersama bunshinku- dengan perban yang keluar dari tangannya. Ia membuka segel di tangan kanannya berbentuk dua segilima yang ditangkup.
"Beres ! Aku sudah menyerap energinya, dia akan lemas sementara !"
Aku melakukan handseal lagi. Sebuah bola api meluncur dari mulutku, langsung membakar Basilisk yang sedang dibungkus perban itu.
Naga itu memekik nyaring. Anrokuzan membelit moncong paruhnya dengan benang chakra sekaligus lehernya, dan dengan sekali gerakan, ia banting kepala naga buas itu dengan paruh menghadap ke bawah. Jadilah Basilisk jatuh dengan kepala gosong yang tertambat ke lantai karena paruhnya menancap disitu.
Kizashi mengeluarkan pedangnya. "Maaf, naga baik" candanya sambil berusaha menebas mata yang masih tertutup itu.
.
Ya, di detik itu mata itu masih menutup.
.
Tapi tidak.
Entah karena Kizashi terlalu lama menebas atau mata itu...
...terlalu cepat membuka.
.
.
"KIZASHI ! ! !" Anrokuzan memekik keras-keras.
.
BRUK
.
Sesosok manusia jatuh ke lantai dengan mata terbuka. Tanpa darah setetespun di tubuhnya. Seperti inikah cara sang Basilisk membawa maut pada korbannya ?
"SIAL !" Seru Hiruko keras-keras. Ia langsung melempar naga yang masih dibebat perbannya itu hingga membentur dinding. Kami segera memeriksa Kizashi. Dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Padahal aku samasekali belum bertanya soal hubungannya dengan Sakura ! Kenapa dia masih hidup begini !
"Kizashi ! Kizashi, bangun !" Anrokuzan menepuk pipinya keras-keras.
Tidak ada reaksi.
"Haruskah aku melakukan pernafasan buatan ?" Tawarnya.
"Dasar bodoh" tanggap Hiruko. "Cek denyut nadinya".
.
KWAAAAAAKKK ! ! !
"Cih, baru saja akan kusentuh pergelangan tangannya !"
Basilisk menyembur api. Aku menghindar ke salah satu tiang, mendadak teringat sesuatu. Kulakukan Kagebunshin lagi, kali ini lima bunshin memagariku dari sisi kiri ketika berlari...menuju cermin. Basilisk melihatku. Ia berlari cepat ke arah kami, tapi bunshin-bunshinku belum menghilang karena mereka tidak melihat matanya. Kugapai cermin itu. Naga itu melompat tinggi, dengan mudah melewati kelima bunshinku, dan langsung berhadapan denganku.
Ia menyemburkan api, tapi segera kuhalau...dengan cermin itu. Dengan sisi pemantul yang menghadap ke arahnya.
Api sukses menyembur cermin. Aku tersenyum kecil. Memberi isyarat.
Satu bunshinku langsung berlari ke hadapannya, langsung melempar sebuah kunai, tepat ke mulutnya. Tepat sebelum bunshin itu menghilang karena melihat mata Basilisk.
JLEB
.
WAAAAAAKKKK ! ! ! Naga itu meraung keras. Lidahnya tertusuk kunai. Langsung kuperintah empat bunshin yang tersisa untuk memegangi ekor, kaki, dan sayapnya. Aku melakukan Kaze Kiri no Jutsu, langsung menebas kaki naga itu agar dia tidak kemana-mana.
Itu memberi peluang satu bunshinku untuk bebas dari tugasnya dan beralih ke tugas lain. Ia naik ke leher naga itu dan kedua tangannya langsung membuka kedua kelopak mata Basilisk dengan paksa, mempertontonkan sepasang mata pembawa maut itu.
Aku berlari secepat mungkin dan sekuat tenaga mengangkat cermin itu dan tanpa jeda waktu lagi kuarahkan benda itu ke wajah sang Basilisk.
Battlefield of Phicium
"Percuma kalian merencanakan apapun di hadapanku !" Seru Zmey kasar sambil menyembur lagi. Kali ini bukan api atau lava, melainkan asap hijau yang terlihat pekat.
"Kabut beracun" sergah Kakashi-sensei. "Jangan menghirupnya kalau kau tak ingin mati !" Serunya sambil bergerak maju. Tidak masalah baginya berhubung kabut itu cukup pekat, jadi tidak bisa menembus ke hidung dan mulutnya...yang tertutup masker.
Jiraya-sensei membuka gulungan raksasanya lebar-lebar begitu perhatian naga berkepala dua itu teralihkan membelakanginya. BOOFF ! BOOFF ! BOOFFF ! Belasan shuriken berukuran raksasa dengan diameter sampai satu setengah meter meluncur cepat dan langsung menusuk naga itu.
"Sekarang, Kakashi !" Pekik Jiraya yang sudah melakukan handseal. Rawa gelap.
Sekarang Zmey terpendam separuh tubuh di cairan kental berwarna merah tua itu. Ia memberontak, tapi sia-sia. Shikamaru menghalangi gerakan kepala kiri dengan Kage Nui –yang lebih lemah dari percobaan pertama karena chakranya menurun. Sementara, Chouji dengan Bubun Baika no Jutsu meremas kepala sebelah kanan.
"Kau lihat kan, Sasuke benar. Mereka masih bisa bekerjasama. Itu yang kau maksud kan, Sasuke ?" Selidik Ino tanpa menoleh ke orang yang diajak bicaranya.
"Sasuke ?"
Ia celingukan mencari Uchiha berambut pantat ayam itu. "Dimana Sasuke ?"
"Kukira dia terbaring di batu itu" tuding Sakura.
"Cih. Dia pasti ingin turut ambil bagian dalam pertarungan" gerutu Temari.
"Tidak, semuanya ! Bahkan dengan Byakugan, aku tidak melihat apa-apa" desis Hinata. "Radius seratus meter dari kita pun hanya ada mereka yang sedang bertarung. Posisi Sasuke tidak diketahui !"
"Yang benar saja ?!" Seru Ino terkejut. "Maksudmu...dia hilang ?"
.
.
"Kalian tidak ada apa-apanya !" Zmey memekik. Lava merembes melalui celah bibirnya, yang sukses melepaskan kepalan tangan Chouji yang kepanasan. Lava itu kini mengalir deras dari mulut kepala kanan, bahkan dengan mudah melumerkan Rawa Gelap milik Jiraya-sensei dan akhirnya melepas Kage Nui Shikamaru. Naga itu langsung menebas Kakashi-sensei yang tidak siap dengan ekornya.
"Hahahaha ! Hanya ini ?!" Tawanya pongah.
Ia berbalik, lantas menyemburkan lava bagai gunung berapi sungguhan, dengan jumlah material yang sulit dipercaya terus menerus menyembur dari kedua mulutnya. Semua Dracovetth kini mundur.
"Sial" gerutu Shikamaru. "Chakraku sudah di ambang batas tapi kita belum melakukan sesuatu yang berarti pada naga yang menyusahkan ini".
"Selama kita tidak menebas kepalanya, kita tidak punya kesempatan. Tadi kita terfokus pada kepala dan mengabaikan ekor, tapi sekarang kita malah terfokus pada ekor dan mengabaikan kepala" jelas Kiba.
"Kita harus fokus pada dua hal, kepala dan ekor. Kita tidak mungkin melakukannya dengan jeda waktu yang sangat singkat dengan jumlah penyerang sesedikit ini, apalagi Sasuke terluka" desis Kakashi-sensei.
"SEMUA ! SASUKE HILANG !" Ino memekik dari belakang.
.
"Apa ?!" Gusar Lee.
"Satu masalah belum selesai, ditambah lagi satu. Benar-benar kita sedang jatuh ditimpa tangga" tanggap Shikamaru.
"Kita kehilangan Naruto. Lalu Kurama juga pergi. Kita berhadapan dengan naga sialan ini dan sekarang Sasuke hilang ?" Gerutu Kiba. "Apa jangan-jangan dia pergi mencari Naruto ?"
"Tidak mungkin" potong Jiraya-sensei. "Sasuke tidak sebodoh itu".
"Daripada hidup penuh masalah, lebih baik kalian mati saja" potong Zmey sinis, yang semakin dekat ke arah mereka.
"Kakashi-sensei ! Jiraya-sama ! Apa yang akan kita lakukan sekarang ?!" Seru Temari panik. Mereka tersudut. Zmey sudah mengangakan kedua rahangnya lebar-lebar, bersiap mengakhiri kehidupan Tim Paradox...
.
.
"MATILAAAHHH ! ! !"
.
GRAAAAA ! ! !
GRAUK
BREEEETTT ! ! !
SRRAAAAKKK ! ! !
.
.
BUM
.
.
"Semua ! I...it..u...itu..." tunjuk Lee terbata-bata. Mereka semua mendongak ke atas dan mendapati sosok raksasa dengan sisik-sisik besar dan kokoh berwarna putih, dengan kepala yang banyak dan duri-duri raksasa di punggungnya. Sosok itulah yang menghalau serangan Zmey dan menggigit serta memutus dua kepala yang tersisa darinya.
"Satu...dua...tiga...empat...delapan ! Makhluk itu punya delapan kepala !" Seru Chouji.
"Delapan ? Itu berarti dia..." Shikamaru menyambung ragu.
"Ya" jawab Kakashi-sensei. "Kita sedang berhadapan dengan Yamata no Orochi, ular naga raksasa berkepala delapan".
"Apa maksudnya ini ?!" Seru Jiraya-sensei gusar. Semua menoleh ke arahnya. "Yamata no Orochi berasal dari Ryuuchidou, tempat Sage Ular berada, dan itu sangat jauh dari sini ! Selain itu, ular ini juga hanya patuh pada Dracovetth dengan kekuatan mata..."
Kata-katanya terhenti begitu menyadari delapan pasang mata kuning berpupil vertikal mengawasinya. Mengawasi mereka dalam diam.
"Dia melihat ke arah kita" bisik Kiba ketakutan.
"Makan siang ?" Sambung Chouji.
"Bisa jadi".
Kedelapan kepala itu menjulurkan lidah bercabangnya. Tapi tidak terjadi apa-apa. Ular raksasa tanpa sayap itu melata dengan kecepatan kura-kura ke bangkai Zmey yang kedua leher dan kepalanya sudah hampir beregenerasi sempurna itu.
"Yamata no Orochi ?" Seru Zmey bingung. "Bagaimana..."
SSSHHHH...HHHAAAA ! ! ! Tanpa basa-basi delapan kepala bergigi taring tajam itu menyerbu Zmey, mengoyak dagingnya dan menggerusnya diantara bebatuan. Setelah merasa korbannya tidak berdaya, ular raksasa itu langsung merobek ekor, memisahkan ujungnya dari pangkalnya dan mendesis menang dengan delapan mulut berlumuran darah.
Langit kembali biru. Batu kembali hitam dan keabu-abuan, dan awan kembali putih. Genjutsu sudah pecah !
Enam belas mata mengawasi mereka. Lagi. Yamata no Orochi itu merapatkan kedelapan kepala dan lehernya, lantas bergetar dan menyusut. Terus menyusut sampai berubah menjadi sosok yang sangat mereka kenal.
.
.
"SASUKE ?!"
.
"Ya" jawab Uchiha itu datar. "Yamata no Orochi tadi adalah aku".
"Tapi...bagaimana...bisa ?!" Gusar Jiraya-sensei.
"Hm. Sederhana" Sasuke membuka sedikit bajunya dan memperlihatkan tanda tiga tomoe berdekatan di pangkal leher belakang bagian kirinya.
"Segel kutukan ini".
.
.
"Orochimaru" desis Jiraya-sensei sambil mengangguk mengerti.
"Jadi...kau salah satu eksperimennya, Uchiha Sasuke ?" Selidik Kakashi-sensei. Sasuke mengangguk.
"Hampir. Waktu aku masih 13 tahun, aku diculik. Segel kutukan ini ditanamkan Orochimaru padaku. Tapi pasukan Uchiha yang dikirim ayahku berhasil menemukan tempat persembunyian Dracovetth eksentrik itu dan membawaku pulang, walau segel kutukan ini tidak bisa dihilangkan. Setidaknya sebelum Orochimaru dibunuh. Sejak itu aku bisa berubah menjadi naga raksasa berkepala delapan itu. Tapi tidak masalah, aku bisa mengendalikannya sekarang. Inilah alasan kenapa ayahku sempat melarangku ikut" jelasnya panjang lebar.
"Itu keren. Jadi kau seorang Dracovetth yang tidak hanya bisa mengendarai naga, tapi juga bisa berubah menjadi naga !" Seru Lee antusias.
"Dasar kekanak-kanakan. Oya, apa Naruto juga punya kekuatan seperti itu, ya ? Aku jadi penasaran" kata Kiba iseng.
"Jadi inilah kekuatan misterius yang dikatakan Itachi-san ?" Kakashi-sensei menyelidik lagi. Sasuke mengangguk.
"Dan lukamu juga sembuh akibat transformasi" tambah Sakura. "Baguslah".
"Sekarang ayo ke puncak" potong Shikamaru. "Kita tidak akan membuang-buang waktu disini, dan di atas masih ada seekor lagi. Aku penasaran apa teka-teki yang diberikannya".
Southeast Tower of Rouran
Dead Eye's Home
"Tetap jaga jarak" Hiruko memperingatkan. "Menurut pengetahuanku matanya masih berfungsi bahkan setelah dia mati. Walau hanya untuk beberapa menit".
"Bagus sekali, Naruto-sama" puji Anrokuzan. "Basilisk sudah mati ! Tidak ada lagi ancaman berarti di Rouran sekarang ! Mereka pasti akan sangat berterimakasih padamu nanti" katanya sambil menepuk pundakku.
"Kurasa tidak" balasku sayu.
"Kita tidak bisa menyelamatkan Kizashi" sambungku.
"Untuk setiap hasil yang besar, kita butuh pengorbanan yang besar. Itulah hukum alam. Kau tidak bisa menghindarinya. Bukan berarti aku senang Kizashi mati, tapi lihatlah dari kacamata seorang pejuang sejati" nasihat Hiruko.
"Alih-alih dia mati, itu karena dia sendiri. Siapa suruh dia masuk" bela Anrokuzan. "Sepertinya Kementrian Rouran akan sedikit sepi karena tidak ada lelucon yang mengocok perut lagi" tambahnya.
"Kau benar. Ayo kita bawa mayat Si Rambut Mekar itu ke luar untuk diberi penghormatan terakhir dan dikubur dengan layak" desis Hiruko.
Aku mengangguk.
"Eh ?"
.
"Hei ! Tadi Kizashi tergeletak disini, kan ?!" Seru Hiruko terkejut. Aku menyelidik. Benar ! Sosok manusia itu sudah tidak ada ! Sungguh aneh, padahal tempatnya ambruk setelah menatap mata Basilisk itu seharusnya memang benar-benar disitu ! Aku mulai merinding.
"Kurasa dia sudah menjadi hantu lebih cepat dari dugaan kita dan sekarang bersiap menggentayangi menara ini" canda Anrokuzan.
"Itu tidak lucu, dasar gembul" balas Hiruko. "Ini tidak bagus. Apa yang harus kita katakan pada mereka di luar sana ?"
"Katakan saja Haruno Kizashi, Menteri Pangan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Besar Rouran hilang di Menara Tenggara saat perburuan Basilisk" jawabku sengau.
"Hilang ? Gampang sekali bicara begitu" simpul Hiruko.
"Daripada kita bilang dia sudah jadi hantu ?" Balas Anrokuzan.
.
.
Ini mengerikan. Aku merasa seperti pahlawan begitu berhasil membunuh Basilisk dengan cermin. Dengan ideku. Tapi nilai kepahlawanan itu sirna begitu aku sadar, Haruno Kizashi tidak bisa kulindungi. Dialah korban pertama Basilisk yang kulihat dengan mata kepala sendiri.
Apa yang harus kukatakan pada Sara ?
Apa yang harus kukatakan pada Sakura ?
Bahkan Sakura belum tahu ayahnya masih hidup ketika ia bercerita ayahnya telah tiada. Bahkan Kizashi belum tahu putrinya masih sehat dan hidup di luar sana, ikut denganku mencari sesuatu yang teramat sulit dicari.
Pintu luar berderak lagi. Dan hanya sedetik setelah itu, euforia seperti kemarin melanda Rouranian lagi. Hanya saja kali ini sedikit lebih sunyi karena mungkin tidak melihat Haruno Kizashi ikut keluar –atau malah mendeteksi ada yang salah di wajahku yang bukannya cerah malah muram.
Sara mendekatiku. "Kalian baik-baik saja kan ?" Tanyanya cemas.
"Ya. Tapi Kizashi hilang".
.
Bagus. Pengakuan 'palsu' Hiruko itu berhasil meredam semua sorak sorai. Sara dan Pakura tampak sangat terkejut.
"Sungguh ?!" Seru Pakura.
"Ya" jawab Anrokuzan. "Dia bersama kami tadi, tapi hilang entah kemana. Untungnya kami berhasil membunuh Basilisk itu". Hiruko menyikutnya. "Eh, maksudku Naruto-sama yang membunuhnya dengan cermin" ralatnya.
"Haruno Kizashi itu. Seenaknya main terobos. Ini pertaruhan nyawa, malah dianggap main-main" cerocos salah satu orang berjubah. Sepertinya dia juga anggota menteri Rouran.
"Kami mencarinya ke sudut-sudut menara, tapi tidak berhasil ditemukan juga" aku akhirnya turut mendukung sandiwara ini. "Aku berhasil tapi gagal".
"Sudahlah" hibur Pakura. "Setidaknya hilangnya Kizashi masih di kota ini. Siapa tahu tiba-tiba dia keluar dari menara dan berjalan latah-latah seperti zombie" candanya, menimbulkan sedikit gemuruh tawa di situ.
Aku tersenyum kecil. Perempuan berambut sayur ini memang bisa membalikkan situasi negatif jadi positif untuk sementara waktu.
"Jadi, Naruto-sama" kata Pakura lagi.
"Mau pulang sekarang ?"
Aku bingung.
Aku melirik Sara. Tidak perlu lirik, ternyata dia bahkan menatapku lekat-lekat. Air mukanya tampak sedikit sedih (atau aku yang terlalu ge-er) tapi seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya.
"Kapan-kapan kalau ada waktu datanglah kemari" katanya klise. Aku mengangguk pelan.
"Aku pasti kemari" jawabku tegas. "Kurasa Draco P tidak akan sesibuk ini selamanya". Aku beralih ke nagaku yang dari tadi diam saja. "Dasar sombong" ledekku.
"Lhaa ? Kau dari tadi sudah diserbu macam artis dadakan begitu, ditanya sana sini, jadi kurasa lebih baik aku diam saja. Toh cepat atau lambat kau pasti mendatangiku" kilahnya cerewet.
"Ayo pergi" katanya akhirnya sambil merendahkan posisi tubuhnya.
"Setelah aku mengikuti upacara penghormatan terakhir untuk Haruno Kizashi" tolakku halus.
"Cih, dasar".
Pakura dan Sara tersenyum kecil.
Top of Mount Phicium
Sphinx's Territory
"Ini lebih mirip tumpukan batu daripada gunung" gerutu Kiba yang dari tadi kakinya terus menerus tergores batu yang melintang atau yang mencuat dari daratan. "Aku tidak melihat tanah terbuka !"
"Ssshh, diam" potong Sakura. "Aku mendengar sesuatu".
.
.
.
"SELAMAT DATANG !"
.
Mereka semua langsung menoleh. Di arah kiri, tampak seorang...eh, seekor...emm...sulit menjelaskannya, tapi tampak oleh mata mereka makhluk dengan postur tubuh seekor singa, ekor berupa ular viper yang masih mendesis, empat kaki khas naga, sepasang sayap berbulu seperti elang, dan kepala dan wajah seorang wanita...dengan empat taring tajam dibalik bibir merahnya. Mata kuning bulatnya menyapu mereka dengan penuh minat. Rambut cokelatnya yang dipakaikan aksesoris mahkota dari daun dan buah beri kecil berkibar diterpa angin.
"Sphinx" desis Kakashi-sensei.
"Ohoho, aku sudah terkenal ya ? Jadi bagaimana si Zmey itu ? Apa dia menyusahkan ?" Kata Sphinx basa-basi.
"Sangat" balas Shikamaru acuh. "Ajukan saja teka-tekimu, cepat. Aku sudah muak berada di tempat ini".
"Kau kelihatannya lunak" desis Sphinx dengan tatapan mata lapar. Ia berganti melirik Chouji. "Dan kau membawa tangki daging besar" sambungnya. "Serta tiga gadis muda. Hmmm...darah mereka pasti sangat lezat. Ada lagi seorang Uchiha dan seorang keturunan Hatake...sepertinya ini hari keberuntunganku" katanya sambil menjilat bibir.
"Dasar. Sudah, kita habisi saja dia ! Lagipula ukurannya tidak besar, dia pasti mudah dibunuh" geram Ino.
"Tidak" balas Temari. "Sphinx tidak bisa dibunuh kecuali ada yang menjawab teka-tekinya dengan benar" jelasnya. "Bukannya aku sudah menjelaskan soal itu tadi ?"
"Ohohoho, gadis pintar" balas Sphinx. "Nah, bersiaplah. Satu jawaban akan mewakili nasib kalian semua ! Walau aku tidak butuh daging naga kalian" gertaknya.
"Ayolah. Ajukan saja teka-teki terbaikmu" tantang Shikamaru.
"Bodoh. Kita sedang berhadapan dengan pembawa maut, kau tahu" balas Sasuke.
"Dengarkan baik-baik" Sphinx mengambil nafas. Sementara, Tim Paradox menahan nafas karena penasaran akan teka-tekinya.
.
.
.
"Apa yang berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, dua kaki pada siang hari, dan tiga kaki pada malam hari, dan semakin banyak kakinya semakin lemahlah dia ?"
.
.
.
"Waktu kalian empat menit".
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 9 akhirnya selesai ! Yaahh, rada-rada full fight, sih, walau nggak semuanya bagian fight...hihihi (*ditampong*).
Pertarungan Naruto, Hiruko, dan Anrokuzan plus Kizashi membuahkan hasil, Basilisk berhasil dikalahkan ! Oy, sedikit tambahan, Basilisk di chapter ini bentuknya beda jauh sama Basilisk yang di film Harry Potter and the Chamber of Secrets lho, kalau di film Harry Potter bentuknya ular, disini bentuknya setengah naga setengah ayam.
Misteri kekuatan rahasia Sasuke terbongkar sudah. Disini dia dapat merubah diri menjadi Yamata no Orochi. Nama Orochimaru sebagai Dracovetth eksentrik yang suka bereksperimen mulai disinggung, akankah dia berperan besar pada chapter-chapter mendatang ? Apakah dia lawan atau justru kawan ?
Plus, misteri Haruno Kizashi ! Kemana dia menghilang ? Siapa dia sebenarnya ? Apa benar dia ayah Haruno Sakura atau siapa ?
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
NOTE : Ada yang bisa jawab pertanyaan Sphinx ? (*Ngelirik jahat*)Tulis tebakan readers di kolom review. Waktumu seminggu... (*Jilat bibir*).
Coming Soon: Paradox Chapter Ten :
"Mistery of the Lost Page"
See you again in chapter 10 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Nine :
Basilisk (Diambil dari legenda Yunani dan makhluk mitologi yang ditulis oleh sekretaris besar Roma, Pliny)
Strength : Semi-high
Ukuran : Panjang 5,5 meter, berat 300 kilogram
Kecepatan terbang : 10-55 km/jam
Spesial : Mata kuning yang membunuh siapapun yang melihatnya
Tipe serangan : Menembakkan api kuning ke korban
Kategori : Kriptid
Elemen spesial : Racun
Level bahaya : Death-see
Pemilik : Tidak diketahui
Yamata no Orochi (Diambil dari legenda Jepang tentang ular raksasa berkepala delapan yang berukuran amat besar)
Strength : Ekstrim
Ukuran : Panjang 25 meter, berat 25 ton
Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang
Spesial : Delapan kepala, ukuran raksasa yang menghancurkan apapun dengan mudah, kebal pada api
Tipe serangan : Serangan langsung atau menembakkan api biasa pada jarak menengah
Kategori : Monstrous
Elemen spesial : Sage Ryuuchidou (Jika alami)
Level bahaya : Death-see
Pemilik : Uchiha Sasuke, Orochimaru
*Photographic memory: Kemampuan seseorang untuk mengingat suatu gambar, wilayah, bacaan, atau kejadian hanya dengan satu atau beberapa kali melihat saja. Kemampuan mengingat yang kuat dan hebat yang sebenarnya bisa dipelajari dari kecil.
