Remake dari Emma Chase "Tangled".

Alur cerita sesuai dengan novel aslinya, hanya akan disesuaikan dengan cast & setting lokasi ^^

Karena ini Remake, kalau ada cerita (ff) yang mirip-mirip dengan pairing yang berbeda, itu wajar ya :)

Kali ini karakternya mayoritas OOC. Dan FF ini akan bercerita dengan POV Jimin.

Main Cast: MinYoon

- Park Jimin (!SEME!)

- Min Yoongi (!UKE!GS!)

Support Cast:

All BTS member (GS: Kim Seok Jin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook) & other Idol (random)

Rate M

Genre: Humour, Romance, Drama, Fluffy.

DON'T LIKE DON'T READ


CHAPTER 9

"Pertama kali kau mabuk?"

"Umur tiga belas. Tepat sebelum pesta dansa sekolah. Orangtuaku berada di luar kota, dan kencanku, Minzy, berpikir akan terlihat dewasa untuk meminum vodka dan jus jeruk. Tapi yang bisa aku dapatkan adalah rum. Jadi kami minum rum dan jus jeruk. Kami akhirnya muntah-muntah di belakang gym. Sampai hari ini, aku tidak tahan mencium aroma rum tanpa merasa ingin muntah. Ciuman pertama?"

"Lee Joon. Kelas enam, di bioskop. Dia memelukku dan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Kami sedang bermain First and Ten.

Bagi kalian yang asing dengan game minuman ini, akan kujelaskan. Satu orang menanyakan tentang segala hal yang pertama kepada orang lain—pertama kalian ke Lotte World, pertama kali kalian bercinta, tak ada bedanya.

Dan orang lain harus memberikan jawabannya terlebih dulu. Jika mereka belum melakukan itu untuk pertama kalinya—atau tidak mau menjawab—mereka harus menenggak minuman mereka. Kemudian mereka harus memberitahu kalian sesuatu yang telah mereka lakukan yang ada kaitan dengan angka sepuluh.

Siapa salah satu dari kami yang menyarankan permainan ini? Aku sudah melewatkan lima pengalaman pertamaku. Aku tak tahu.

"Pertama kali kau jatuh cinta?"

Hitung jadi enam. Aku mengambil vodka-ku dan menenggaknya. Kami berada di sudut gelap dari sebuah bar lokal kecil bernama Howl. Ini adalah tempat yang tidak banyak menarik perhatian. Para pengunjungnya santai, gampang bergaul.

Aku suka di sini. Kecuali untuk karaokenya. Siapapun yang menemukan karaoke itu pasti orang jahat. Mereka harus ditembak di antara matanya dengan peluru tumpul. Yoongi memiringkan kepalanya ke samping, menilaiku.

"Kau belum pernah jatuh cinta?"

Aku menggeleng.

"Cinta hanya untuk orang yang lemah, sweetheart."

Dia tersenyum.

"Lumayan sinis, ya? Jadi kau tak percaya cinta itu nyata?"

"Aku tidak bilang begitu. Orangtuaku telah menikah selama tiga puluh enam tahun. Kakak perempuanku mencintai suaminya, dan suaminya memujanya."

"Tapi kau belum pernah jatuh cinta?"

Aku mengangkat bahu,

"Aku hanya tidak melihat apa gunanya. Ini adalah usaha yang sangat besar dan tidak banyak hasilnya. Peluangmu untuk berhasil melewati beberapa tahun pertama paling tinggi hanyalah setengah-setengah. Terlalu rumit untuk seleraku."

Aku lebih suka yang sederhana dan gampang. Aku bekerja, aku bercinta, aku makan, aku tidur, pada hari Minggu aku harus makan menjelang siang dengan ibuku dan bermain basket dengan teman-temanku.

Mudah. Gampang.

Yoongi duduk tegak di kursinya.

"Ibuku sering berkata, 'Jika itu tidak sulit, itu tidak berharga.' Disamping itu, apa kau tidak merasa... kesepian?"

Seperti sudah direncanakan saja, gadis pengantar minuman berpayudara besar datang ke meja kami dan membungkuk dengan tangan di bahuku dan belahan dadanya di wajahku.

"Kau perlu apa lagi, tampan?"

Itu sudah cukup menjawab pertanyaan Yoongi, bukan?

"Tentu, sayang. Bisakah kau membawakan kami minuman lagi?"

Ketika pelayan bergerak menjauh, mata Yoongi bertemu dengan mataku sebelum berputar ke langit-langit.

"Pokoknya. Katakan padaku sepuluh pengalamanmu."

"Aku sudah pernah berhubungan seks dengan lebih dari sepuluh wanita dalam satu minggu."

Busan. Liburan musim semi tahun 2014. Tempat yang menakjubkan.

"Uhh. Apa itu seharusnya membuatku terkesan?"

Aku menyeringai dengan bangga.

"Ini mengesankan sebagian besar wanita."

Aku membungkuk dan merendahkan suara saat menggosokkan ibu jariku perlahan ke ibu jarinya.

"Dan lagi, kau bukan wanita kebanyakan, kan?"

Dia menjilat bibirnya, matanya tertuju kearahku.

"Apa kau sedang merayuku?"

"Tentu saja."

Gadis pengantar minuman membawa pesanan kami. Aku membunyikan buku-buku jariku. Aku siap. Saatnya untuk... lebih intim.

"Blowjob pertama?"

Aku sudah berusaha menahannya. Aku mengulur waktu selama yang kubisa. Tapi aku tak bisa menahannya lagi. Senyuman menghilang dari wajah Yoongi.

"Kau punya masalah serius. Kau tahu itu, kan?"

"Ayolah, jawab saja pertanyaan sederhana itu."

Yoongi mengambil minumannya dan menenggaknya secara mengesankan. Aku terkejut sekaligus tercengang.

"Kau tidak pernah memberikan blowjob?"

Kumohon, Tuhan, jangan biarkan Yoongi menjadi salah satu dari wanita itu. Kalian tahu apa yang kumaksud—dingin, tidak suka berpetualang, tipe orang-orang yang tidak akan melakukan 'itu'. Orang yang bersikeras untuk bercinta, yang berarti bersetubuh dalam posisi misionaris saja. Dia mengernyit saat panasnya vodka membakar tenggorokannya.

"Ravi tidak suka... oral seks. Maksudku, dia tidak suka melakukannya padaku."

Dia pasti sudah mabuk. Tidak mungkin Yoongi akan mengatakan ini jika dia tidak benar-benar dan sepenuhnya mabuk. Dia menyembunyikan dengan baik, bukan? Tapi dia masih belum menjawab pertanyaanku.

Adapun tunangannya—dia banci. Bukan permainan kata-kata. Ibuku selalu bilang, "Siapapun yang mau melakukannya, lakukanlah sebaik mungkin." Oke, ibuku tidak sepenuhnya mengucapkan kalimatnya persis seperti itu, tapi kalian bisa mendapat gambarannya. Jika aku tidak ingin melakukan oral kepada seorang cewek, maka aku juga tidak akan menidurinya. Maaf jika ini terdengar kasar, tapi begitulah seharusnya.

Dan ini adalah Yoongi yang sedang kita bicarakan di sini. Aku akan 'memakannya' untuk sarapan setiap hari dalam seminggu dan dua kali pada hari Minggu. Dan aku tidak bisa memikirkan satu pria pun yang akan membantah pendapatku. Ravi adalah orang yang sunguh idiot.

"Jadi, karena Ravi tidak pernah... kau tahu. Dia pikir itu tidak adil bahwa aku harus melakukan itu padanya. Jadi, tidak... Aku belum pernah..."

Yoongi bahkan tidak bisa mengatakannya. Aku harus membantunya.

"Oral seks? Mengisap miliknya? Menyedot bolanya? Meledakkan bola dan pikirannya?"

Dia menutupi wajahnya dan cekikikan. Aku cukup yakin ini adalah hal yang paling menggemaskan yang pernah kulihat. Dia melepaskan tangan dari wajahnya dan menghembuskan napas.

"Lanjutkan. Sepuluhku. Aku sudah bersama Ravi selama lebih dari sepuluh tahun."

Aku tersedak oleh birku.

"Sepuluh tahun?"

Dia mengangguk.

"Hampir sebelas."

Jadi, jika aku mendengarnya dengan benar, apa yang Yoongi katakan adalah bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melakukan oral seks padanya?

Tidak bermaksud untuk membuang waktu sia-sia, tapi aku tidak bisa memahami kenyataan ini. Itulah apa yang dia katakan, bukan?

Aku bisa menangis. Sungguh berdosa. Kesampingkan orang yang menemukan karaoke—Sisakan pelurunya untuk pacar Yoongi.

"Berapa lama kau sudah bertunangan?"

"Sekitar tujuh tahun. Dia melamarku seminggu sebelum aku meninggalkan rumah untuk kuliah."

Kedua kalimat itu menceritakan padaku dengan tepat jenis manusia bedebah macam apa Ravi sebenarnya. Tidak percaya diri, pencemburu, selalu menempel. Ravi tahu pacarnya tidak pantas untuknya, bahwa Yoongi akan menjadi orang sukses dan kemungkinan besar akan segera meninggalkannya.

Jadi apa yang dia lakukan? Dia melamar Yoongi untuk menikah dengannya, sepenuhnya menjebak Yoongi sebelum dia mengenal pria lain yang lebih baik.

"Itulah mengapa cincinnya begitu... kau tahu... kecil. Tapi itu tidak masalah bagiku. Ravi bekerja selama enam bulan untuk membelikan aku cincin ini. Membersihkan meja bar, kerja mati-matian. Batu kecil ini lebih berarti bagiku daripada permata terbesar yang ada di Tiffany."

Dan beberapa kalimat itu cukup menceritakan padaku tipe wanita macam apa Min Yoongi sebenarnya. Banyak wanita suka kemewahan—merek dari mobilnya, tulisan pada tasnya, ukuran cincinnya. Dangkal. Kosong. Aku pasti tahu, aku pernah tidur dengan sebagian besar dari mereka.

Tapi Yoongi bukan orang palsu. Dia asli. Yoongi segalanya tentang kualitas, bukan kuantitas. Dia mengingatkan aku pada kakak perempuanku, sebenarnya.

Bahkan dengan segala uang yang kami miliki saat tumbuh dewasa, Jin tidak benar-benar peduli sedikitpun tentang label atau apa yang orang lain pikirkan. Itulah kenapa akhirnya dia bersama pria seperti Namjoon. Dia dan Jin mulai berpacaran saat SMA. Namjoon bukan pria paling tampan, atau pria yang paling lembut. Dia bukan seorang playboy, dia tidak pernah bisa. Lalu bagaimana dia berhasil mendapatkan tangkapan besar seperti kakakku, kalau kalian tanya?

Kepercayaan diri.

Namjoon tidak pernah ragu pada diri sendirinya. Tidak pernah sedetik pun berpikir bahwa dia tidak cukup pantas untuk Si Menyebalkan. Ia menolak untuk diintimidasi. Dia selalu memancarkan keyakinan diri yang membuat wanita tertarik padanya. Karena dia tahu bahwa tidak seorang pun bisa mencintai kakakku seperti dirinya.

Jadi, ketika Jin masuk kuliah bertahun-tahun sebelum Namjoon bisa bergabung dengannya, apa dia khawatir? Tentu saja tidak. Dia tidak takut untuk membiarkan Jin pergi. Karena dia tahu dengan kepastian yang mutlak bahwa suatu hari dia akan kembali. Padanya.

Tak pelak lagi Ravi 'Tolol' tidak begitu percaya diri.

.

.

.

Dua jam kemudian, Yoongi dan aku bisa dipastikan mabuk. Lihat kami di sana? Menatap panggung, menyesap bir dengan ekspresi sayu di wajah kami. Kalian dapat belajar banyak tentang seseorang ketika mereka sedang mabuk, dan aku telah belajar banyak hal tentang Yoongi. Ketika ia minum—dia suka mengoceh.

Apa dia suka menjerit juga? Sudahlah, bagian itu akan datang nantinya.

Kampung halaman Yoongi adalah di Daegu. Ibunya masih tinggal di sana, menjalankan restoran milik keluarganya. Yoongi menjadi pelayan di sana selama masa SMA-nya. Dia tidak menyebutkan ayahnya sekalipun, dan aku juga tidak bertanya. Dan meskipun menjadi lulusan terbaik, Yoongi dulunya gadis yang cukup liar. Itu menjelaskan mengapa dia begitu kuat minum. Rupanya, dia dan si bedebah itu menghabiskan masa remaja mereka bernyanyi di sebuah band bersama.

Oh yeah, itulah yang si keledai lakukan untuk mencari nafkah. Dia seorang musisi. Kalian tahu apa artinya, bukan?

Ya—pengangguran.

Mengapa Yoongi masih bersama dengan pecundang ini? Itulah pertanyaan yang sangat penting, nak. Aku bukan orang yang tidak mau bergaul dengan orang kecil. Aku tak peduli jika kalian bekerja di pom bensin atau menjadi kasir di Seven Eleven. Jika kalian seorang laki-laki sejati, kalian harus bekerja—kalian tidak menjadi parasite bagi pacarmu.

"Karaoke memuakkan," Aku mendengus ketika waria pirang di depan mikrofon selesai menyanyikan lagu "I Will Survive."

Yoongi memiringkan kepalanya.

"Gadis... Pria itu... lumayan juga."

"Kurasa telingaku berdarah."

Aku menunjuk ke wajah-wajah yang seakan koma di dalam bar.

"Mereka sekarat dan mati pelan-pelan."

Yoongi menyesap birnya.

"Ini karena lagunya salah untuk tempat semacam ini. Lagu yang tepat akan membangunkan mereka."

"Kau sinting."

Dia bicara kurang jelas,

"Ya. Aku bisa melakukannya."

"Tidak mungkin. Tidak, kecuali kau berencana untuk menyanyi sambil menari striptis."

Dan, hadirin sekalian, ini adalah pertunjukan yang aku rela memberikan testis kiriku untuk menontonnya. Dia mengambil ponselku dari meja dan menggoyangkan jarinya kearahku.

"Tidak boleh memotret. Tidak boleh ada bukti apapun."

Lalu ia bangkit dan berjalan ke atas panggung. Apa kalian mendengar erangan menderita dari pengunjung bar saat musik mulai terdengar?

Tapi kemudian dia mulai bernyanyi:

I don't stand a chance when you look at me that way

I'll do anything you want me to anything for you

And I'll shout it for the whole world to know

Oh, honey, that's what you do to me

And I don't mind at all

Astaga.

Suaranya dalam, sempurna, dan merangsang. Seperti seorang pekerja telepon seks di salah satu nomor yang memakai angka sembilan ratus. Mengapung di sekitar ruangan dan membasuhku seperti... seperti cumbuan secara lisan. Tubuhku bereaksi seketika pada suaranya. Kejantananku sekeras batu.

You know I'm not a girl who cares to see

Or gives a damn what anyone thinks of me

I go down hard, I stand my ground

But whenever you come around

I'm helpless

Baby, I don't stand a chance

Every time you look at me that way

It brings me to my knees

Yoongi mulai bergoyang pinggul selaras dengan musiknya, dan aku membayangkan betapa sempurnanya Yoongi terlihat saat berlutut di depanku. Aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Dia memukau... menghipnotis.

And I'm changing, never thought I'd be like this

But you showed me a better way

I'll do anything for your kiss

In all my days I've never seen

A man who means everything to me

I can leave everything else in the dust

But it's you I just can't give up

Yoongi mendapatkan perhatian penuh dari setiap pria di tempat ini. Tapi matanya... mata sayu menakjubkannya...menatap tepat ke arahku. Dan ini membuatku merasa seperti dewa.

I've never let anyone get this close to me before

Distance keeps me safe and keeps me sane

But now you've got my heart twisted with yours

Better than it's ever been, there's a lot to lose

But even so much more to win

Oh, baby…

Dia menyibakkan rambutnya, dan aku membayangkan dia melakukan hal itu saat menunggangiku dengan goyangan panjang dan keras. Ya Tuhan. Aku pernah mendapatkan lap dance dari beberapa penari telanjang terbaik di kota ini, dan aku belum pernah ejakulasi di celana—tidak sekalipun. Tapi itulah apa yang akan terjadi padaku jika lagu ini tidak segera berakhir.

I feel so helpless when you look at me that way

I'll do anything for you only for you

Bar meledak oleh sorak, siulan dan tepuk tangan saat Yoongi turun dari panggung. Dia tersenyum bangga saat berjalan ke arahku. Aku berdiri, dan dia berhenti hanya beberapa inchi dariku. Dia menatap ke arahku dan menaikkan satu alisnya.

"Sudah kubilang aku bisa membangunkan mereka."

Aku dengan pelan berkata,

"Itu... kau... luar biasa."

Aku ingin menciumnya. Lebih dari keinginanku untuk bernapas. Kejadian kemarin malam melintas dalam pikiranku. Bagaimana nikmatnya Yoongi ada dalam pelukanku.

Aku harus menciumnya.

Senyum perlahan mengembang dari wajahnya, dan kutahu dia juga menginginkannya. Aku menyibak sehelai rambut ke belakang telinganya dan mencondongkan tubuhku...

Dan jeritan nyaring dari ponselnya mengganggu kami. Yoongi berkedip seakan terbangun dari kesurupan dan mengangkat ponselnya.

"H—Halo?"

Dia tersentak dan menjauhkan ponsel dari telinganya untuk menghindari suara teriakan di ujung yang lain.

"Tidak... Ravi, aku tidak lupa. Aku hanya mengalami malam yang berat. Tidak... ya... aku di sebuah bar yang bernama Howl. Letaknya di..."

Dia sesaat menatap ponselnya, dan aku menebak bahwa si brengsek baru saja menutup telponnya. Matanya benar-benar sadar sekarang.

"Aku harus ke luar. Ravi datang menjemputku."

Bukankah ini kejutan yang menyenangkan? Aku bisa bertemu dengan bajingan hidup ini.

.

.

.

Ketika kami menunggu di trotoar, Yoongi menoleh kearahku.

"Apa yang akan kita katakan pada ayahmu?"

Dan inilah pertanyaan yang telah aku hindari untuk tanyakan pada diri sendiri sepanjang malam. Ayahku adalah pria setia dan dapat diandalkan—seorang ksatria. Tradisional. Aku percaya ayahku akan bangga karena aku membela kehormatan Yoongi.

Tapi dia juga seorang pengusaha. Dan kenyataannya adalah, aku bisa saja membela Yoongi dan masih mendapatkan kontrak dari Anderson. Itu yang seharusnya kulakukan. Itu yang akan kulakukan seandainya terjadi pada orang lain selain Yoongi di meja perundingan.

"Aku akan menangani urusan dengan ayahku."

"Apa? Tidak, kita satu tim, ingat? Kita berdua kehilangan klien ini."

"Aku yang marah pada Anderson."

"Dan aku juga tidak mencegahmu. Sekarang, aku menghargai apa yang telah kau lakukan untukku, Jimin, sungguh. kau luar biasa, sebenarnya."

Mungkin itu hanya karena pengaruh vodka, tapi kata-katanya membuatku merasa bahagia dan terhibur.

"Tapi aku tidak butuh seorang penyelamat," ia melanjutkan.

"Aku wanita dewasa, dan aku pasti bisa menangani apa pun yang mungkin ayahmu berikan. Kita akan bicara padanya bersama-sama pada Senin pagi. Setuju?"

Ini mengkonfirmasi bahwa: Min Yoongi adalah seorang wanita yang luar biasa.

"Setuju."

Kemudian sebuah mobil Ford Thunderbird warna hitam menderu di jalan dan berhenti di depan kami. Ya—kubilang Thunderbird. Dapatkah kalian katakan bahwa ini benar-benar akhir pekan tahun 80an?

Seorang pria dengan bentuk tubuh rata-rata dan rambut cokelat muda keluar dari dalam mobil. Apakah hanya aku, atau memang dia terlihat seperti orang brengsek menurut kalian juga? Jenis orang yang ketinggalan jaman.

Dengan kening berkerut, Ravi memusatkan perhatian pada Yoongi sebelum menatap kearahku. Dan kemudian dia bahkan terlihat lebih marah lagi. Mungkin si tolol ini tidak sebodoh seperti yang kukira, dia menyadari kehadiran seorang pesaing ketika melihatnya.

Dia berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang untuk Yoongi. Yoongi mendesah dan memberiku senyum terpaksa. Lalu ia berjalan dua langkah kearah mobil dan tersandung pada lubang di trotoar. Aku bergerak untuk menangkapnya, tapi si brengsek lebih dekat dan mendahuluiku. Dia memegang Yoongi dalam jarak yang agak jauh, kemarahan di wajahnya berubah menjadi rasa jijik.

"Apa kau mabuk berat?"

Aku benar-benar tidak suka nada bicaranya. Seseorang perlu mengajari dia sedikit sopan santun.

"Jangan mulai, Ravi. Aku mengalami malam yang berat," Yoongi memberitahunya.

"Malam yang berat? Benarkah? Seperti mempunyai pertunjukan terbesar dalam hidupmu dan pacarmu tidak muncul? Apakah seburuk itu, Yoongi?"

Pertunjukan? Apakah dia benar-benar baru saja mengatakan pertunjukan? Apakah Yoongi sungguh-sungguh tidur dengan si tolol ini? Kalian pasti bercanda. Yoongi melepaskan diri dari pegangannya.

"Kau tahu..."

Dia mulai kata-katanya dengan tajam—dan kemudian melemah.

"Hanya... ayo kita pulang."

Dia masuk ke dalam mobil dan si brengsek itu membanting pintu di belakangnya. Dia melotot kearahku saat berjalan memutar menuju ke kursi pengemudi. Yoongi menurunkan kaca jendelanya.

"Selamat malam, Jimin. Dan terima kasih... untuk semuanya."

Aku memberi Yoongi senyuman meskipun hasratku untuk menghancurkan wajah tunangannya sangat besar.

"Kapan saja."

Dan Thunderbird menderu pergi. Meninggalkanku, untuk dua malam berturut-turut, mendambakan Min Yoongi. Aku mengusap tangan ke wajahku ketika sebuah suara muncul di belakangku.

"Hei, tampan. Aku baru saja selesai kerja. Ingin pergi keluar denganku?"

Ini gadis pengantar minuman. Dia berwajah biasa saja—tidak ada yang spesial—tapi dia ada di sini. Dan setelah melihat Yoongi pergi dengan bajingan pengecut yang akan dia menikah, aku menolak untuk melewatkan malam sendirian.

"Tentu, sayang. Aku akan panggilkan taksi."

.

.

.

Ini adalah seks yang buruk. Sekedar saran:

Tidak bergerak seperti mayat ketika seorang pria bercinta dengan kalian tidak akan diingat sebagai pengalaman seksual yang hebat.

Alasan lain kenapa hal ini menyebalkan karena aku tidak bisa menyingkirkan Yoongi dari pikiranku. Aku terus membandingkan Yoongi dengan gadis pengantar minuman itu, dan yang terakhir disebut, tentu saja tidak bisa mengimbanginya.

Kalian pikir aku seorang bajingan karena mengatakan ini?

Ayolah—apa kalian akan bilang belum pernah membayangkan Brad Pitt bercinta denganmu, bukannya pasangan kalian berperut gendut? Itulah yang kupikir.

Masih berpikir aku pria brengsek? Kalau begitu kalian beruntung.

Aku akan segera memperoleh apa yang kalian pikir pantas kuterima.


-TBC-

[Jimin akhirnya ketemu langsung sama si Ravi. tunangan Yoongi yang udah hampir 11 tahun bersama]

[Rival dengan 'masa jabatan' 11 tahun, good luck aja deh Jim... hahaha]

[Review? :D]