'Tokyo Ghoul' © Sui Ishida

Warning! Typo, AU, OOC, gaje, dan masih banyak lagi.. Gomen


LAST CHAPTER

"Kau baru menghormati dan menganggapku sebagai kakak saat ini?"

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya terpeleset di kamar mandi, bukan?"

"Namaku Kaneki."

"Aku menyelamatkanmu. Tapi kau membiarkanku sendiri. Mengacuhkanku setiap saat. Kau tidak menyayangiku lagi!"

'Kaneki, kau sudah bertemu Shiro dan Kuro? Mereka adik kita''


Inside Me

Malam ini Shiro dan Kuro tengah menghabiskan waktu untuk menonton televisi bersama. Kedua kembar tengah asik tertawa dengan acara film komedi yang mereka tonton —walau Shiro terlihat tidak tertarik untuk tertawa, atau mungkin kotak tertawanya rusak. Mereka masih menikmati acara itu hingga sebuah tangan usil melayang menepuk pundak keduanya secara mendadak, membuat si surai hitam berteriak kaget sementara tubuh si putih menegang untuk beberapa detik.

"NIISAN...!"

"Ahaha... ekspresimu berlebihan, Kuro!"

Haise tertawa lepas melihat tingkah kedua adiknya. Tangannya yang tadi bertengger mulus diatas pundak dua remaja didepannya kini beralih memegangi perutnya yang serasa dikocok akibat tawa berlebih yang dibuatnya. Haise tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit dan nyaris tak terlihat.

"Kau juga, Shiro! Coba lihat dirimu! Kau pikir aku hantu ya? Ahaha..."

Haise berjalan memutari sofa yang menjadi tempat si kembar itu bersantai lalu duduk diantara keduanya. Shiro dan Kuro yang melihat sang kakak tidak berhenti tertawa akhirnya merasa kesal juga. Sebegitunyakah selera humor si surai abu? Tertawa lepas melihat kedua adiknya yang nyaris menghembuskan napas terakhir akibat serangan jantung? Sungguh miris dan ironis.

"Berhentilah, niisan. Itu sama sekali tidak lucu," Shiro angkat suara.

"Apa? Itu tidak lucu? Ahaha... Itu justru lucu sekali, Shiro! Boleh aku ulangi lagi? Ahaha..."

Entah itu sebuah pendapat pribadi atau hinaan, yang jelas sepasang kakak beradik identik itu tidak terima. Dan tidak perlu waktu lama sebelum ruang tengah tempat ketiganya berkumpul dipenuhi dengan aura suram nan gelap. Lebih pekat dari biasanya dan itu tentu membuat Haise langsung bungkam seribu bahasa. Lihatlah! Kuro sudah bisa mengeluarkan aura menyeramkan seperti Shiro! Ah, sepertinya mulai sekarang Haise yang ceria sudah tidak bisa tertawa lepas lagi mengingat adik-adiknya yang telah berubah menjadi makhluk penyebar hawa negatif!

"Uumm... niisan minta maaf. Ahaha..." dan diujung kalimat permohonan maafnya, Haise masih sempat tertawa! Sungguh orang ini! Apa dia tidak takut bibirnya sobek? Ah, lupakan saja!

Shiro dan Kuro masih tetap memandang sang kakak dengan tajam, cukup membuat Haise merinding disko. Alih-alih si sulung akan kembali meminta maaf sambil tertawa kecil, Haise justru melontarkan kalimat lain yang membuat dua remaja disampingnya sontak saling bertukar pandang.

"Besok kalian ulang tahun 'kan? Ada permintaan? Apa saja! Niisan akan coba untuk memenuhi semuanya!"

Haise berujar penuh semangat. Kedua tangannya dipakai untuk merangkul adik-adiknya agar semakin dekat padanya. Shiro dan Kuro yang saling melempar pandang langsung menepuk jidat dalam imajinasinya. Ternyata keduanya lupa bahwa sekarang sudah tanggal 19 desember! Mereka bahkan lupa bahwa besok adalah ulang tahun mereka yang ke-21! Haise yang melihat tingkah kikuk kedua adiknya lantas bertanya.

"Niisan tebak kalian lupa besok ulang tahun kalian. Benar?" Haise menahan tawanya. Kuro hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

"Dasar kalian! Ya sudah, besok katakan saja apa yang kalian mau, niisan akan coba memenuhi semuanya. Besok niisan juga ingin mengajak kalian keluar, sudah lama kita tidak pergi bersama 'kan? Kalian siap-siap saja dan jangan membawa sesuatu yang tidak perlu. Tempatnya akan niisan beritahu diperjalanan," Haise melepas rangkulannya dan bangkit berdiri. Ia tersenyum lembut pada kedua adiknya lalu berjalan menuju kamarnya.

"Oh iya, kakak kalian juga akan ikut besok," Haise berujar pelan sambil tetap berjalan dan menatap lurus kedepan, mengakhiri pembicaraan panjangnya sebelum menghilang dibalik pintu. Sangat pelan, tapi tetap dapat masuk dalam radar pendengaran dua kembar itu yang langsung saling menatap dan bangkit berdiri menerjang kamar sang kakak.

"NIISAN...!" mereka berteriak bersamaan dan langsung membuka pintu kamar tanpa menunggu jawaban dari si pemilik ruangan.

"Apa?" Haise yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba kedua adiknya lantas bertanya. Shiro dan Kuro yang melihat kakak mereka tengah memakai kacamata bacanya langsung menghadap pemuda itu dengan muka panik yang luar biasa, sukses membuat Haise mengernyitkan alisnya bingung.

"Jangan bilang 'apa' niisan! Jangan pura-pura tidak tahu!" ucapan Kuro terdengar emosi, tangannya terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya. Surai hitam tersebut menatap kakaknya tajam dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Haise. Shiro juga melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya, kembali membuat Haise merasa ada yang salah dengan adik-adiknya.

"'Niisan pura-pura tidak tahu'? Apa maksudnya?" Haise berujar sembari menarik kursi yang berada didekatnya ke belakang lalu duduk disana, menatap beberapa lembar benda berwarna putih yang menggunung diatas meja kerjanya. Ia membaca kertas-kertas itu dengan seksama dan sepertinya pemuda itu tidak menghiraukan kedua adiknya yang nampak mulai kesal.

"Aku buntu," Haise bergumam tak jelas.

"Niisan," kali ini Shiro yang memanggil. Suaranya yang rendah dan dingin serta menyiratkan keinginan untuk diacuhkan Haise itu nampaknya tak berefek sedikitpun pada sang kakak. Haise tetap mengamati lembaran-lembaran pentingnya itu dengan lebih teliti. Ia menggeser kacamatanya naik ke batang hidungnya karena telah merosot turun. Tatapannya fokus pada kertas-kertas miliknya —sesekali ia menaikkan satu alisnya, merasa bingung dengan kalimat yang tertera disana.

"Ini jelas sulit untuk para Rank 1 dan Rank 2 itu. Aku harus bertanya pada Associate Special Class. Kalau seperti ini terus, kami bisa kehilangan jejak si pe—"

"NIISAN...!"

Kali ini kembali si bungsu yang berteriak memanggil Haise. Ia menggebrak meja kerja kakaknya dengan geram, membuat Haise akhirnya menyerah dan menengadahkan kepalanya menghadap dua pemuda yang berdiri disisi kanan dan kirinya. Oke, sepertinya Haise sukses membangkitkan sisi lain Kuro.

"Apa? Ayolah Kuro, jangan sekarang. Niisan harus menyelesaikan kasus ini dulu. Karena niisan akhir-akhir ini sakit, panggilan mendadak yang seharusnya dikerjakan niisan justru diberikan pada para Rank 1 dan bawahannya. Dan sayangnya lagi, mereka belum terampil untuk kasus seperti ini. Semua First Class masih memiliki kasusnya masing-masing, hanya niisan yang telah selesai. Lagipula besok kita punya lebih banyak waktu untuk mengobrol 'kan?" Haise mengacak rambutnya frustasi, mungkin efek dari pekerjaannya yang terabaikan.

"Bukannya niisan sudah libur?" Shiro bertanya, tidak mau mengalah dengan alasan sang kakak yang terlihat mengabaikannya dan saudara kembarnya.

"Kau tidak dengar, Shiro? Tadi niisan bilang 'panggilan mendadak' bukan?" Haise menghela nafas sebentar lalu memutar kursinya menghadap dua orang yang berdiri dengan setia dibelakangnya.

"Baiklah. Apa yang ingin kalian bicarakan? Singkat saja, niisan masih banyak pekerjaan. Niisan tidak akan bisa bersenang-senang bersama kalian besok kalau tugas niisan masih menumpuk begini. Arima-san pasti akan marah," Haise bersedekap di kursinya dan memandang kedua adiknya lekat, berharap obrolan ini segera berakhir.

"Baiklah. Begini, apa yang niisan maksud dengan 'kakak kalian juga akan ikut besok?' Apa Ka—"

"Apa Kane-nii akan ikut kita besok?" Shiro memotong pembicaraan adiknya. Haise yang mendengar pertanyaan itu secara tidak sadar menarik ujung bibirnya tipis.

"Ya, dia akan ikut kita besok," Haise menjawab pelan.

"Beberapa hari yang lalu dia bilang begitu," pemuda itu melanjutkan. Shiro dan Kuro saling pandang, ekspresi mereka jelas menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Kuro mulai bergumam tidak jelas, perlahan ia mundur menjauhi Haise sebelum lengannya ditahan oleh Shiro agar tidak menjauh darinya.

"Bagaimana niisan bisa bertemu Kane-nii?" Shiro bertanya. Haise yang mengerti bahwa adiknya mungkin merasa aneh dengan pernyataannya tadi langsung menyunggingkan senyum.

"Tenanglah, itu bukan sesuatu yang horor. Niisan bertemu dalam mimpi," Haise tertawa kecil. Ia berdiri dan mengusap surai hitam adiknya yang tengah gemetar dengan lembut. Kuro tidak melepas genggamannya pada lengan Shiro, takut-takut kalau Haise kembali hilang kesadaran dan serta merta menerjangnya dengan brutal seperti dulu. Dan Kuro sangat yakin, jika hal itu kembali terjadi sekarang, dia pasti tidak akan selamat dan harus berakhir dibalik peti kayu yang dikubur didalam tanah. Bukankah dulu Haise pernah nyaris membunuhnya di kamar mandi? Syukurlah Shiro datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Jika tidak, mungkin perjalanan hidup seorang Kuro akan selesai dengan perut yang membesar karena terlalu banyak meminum air!

Baiklah, sepertinya angan-angan Kuro tentang kematiannya itu terlalu berlebihan.

"Nah, niisan sudah menjawab pertanyaan kalian 'kan? Sekarang kembalilah ke kamar dan tidurlah, besok kita akan berangkat. Niisan juga ingin segera menyelesaikan ini dulu," Haise mengambil salah satu laporan penyelidikannya dan mengibaskan benda putih itu dihadapan kedua adiknya. Shiro hanya mengangguk pelan dan berlalu keluar kamar si sulung dengan Kuro yang mengikutinya di belakang.

"Konbanwa, niisan," Shiro dan Kuro mengucap salam sebelum akhirnya benar-benar menutup pintu kamar itu.

"Konbanwa, Shiro-Kuro," Haise menjawab lalu kembali duduk menatap kertas-kertas yang berserakan dengan tidak elit diatas meja kerjanya yang terkenal rapi. Ya, Haise cinta kebersihan dan paling anti dengan sesuatu yang tidak tersusun dengan baik. Dan jelas benda laknat berisi rumusan hasil penyelidikan itu membuat matanya perih dan ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya dengan otak cerdasnya!

'Yosh! Aku akan menyelesaikan semuanya dalam satu malam!'

Haise menyemangati dirinya sendiri. Dan tanpa sepengetahuannya dan kedua adiknya, sepasang iris abu yang menyerupai ketiga pemuda ini telah mengamati percakapan mereka sejak awal dari balik lemari dan kini tersenyum miring.

XXXXX

POV. SHIRO

"Kuro? Niisan?"

Aku memanggil kedua saudaraku. Aneh, kenapa rumah dalam keadaan segelap ini? Apa Kuro sedang menginap dirumah temannya? Apa niisan belum pulang? Aku berjalan menyusuri ruang tengah dan menekan saklar lampu. Tidak menyala. Mungkin memang sudah waktunya untuk diganti. Aku kembali berjalan menuju lantai dua —tepatnya kamarku. Kubuka pintunya dan mencari tombol lampu. Sama seperti sebelumnya, lampu tidak mau menyala. Bagaimana mungkin semua lampu dirumah dapat mati secara bersamaan? Kulihat jam pada ponselku menunjuk 21:49. Sudah cukup larut. Seharusnya aku tahu diri saat bermain dirumah temanku tadi.

Aku mengganti pakaianku, membiarkan tirai jendela dan pintu terbuka agar cahaya bulan dapat masuk menerangi kamarku. Selesai berganti, aku mengintip sebentar melalui jendela kamarku yang menghadap taman kecil dibelakang rumah yang dibuat niisan, taman kecil untuk merilekskan pikirannya dari pekerjaan yang merenggut sebagian besar waktu bersantainya. Aku menyapu pandanganku kesana dan mendapati bunga-bunga yang ditanam niisan telah tertutup salju.

Tunggu! Ada yang salah dengan salju itu! Salju didepan gudang! Kenapa? Kenapa saljunya berwarna merah pekat?

Aku langsung mengambil jaketku dan berlari kebawah, mengacak lemari diruang tengah dan mencari senter karena aku menduga sedang ada pemadaman listrik di distrik ini. Dan saat aku menemukannya dan menyalakannya, senter itu tidak menyala juga. Sial! Kenapa baterainya harus habis disaat seperti ini? Aku mencari alternatif lain, mengambil sebatang lilin dan sebuah pemantik diatas buffet televisi dan segera berjalan melawan tumpukan salju menuju gudang belakang.

Aku sampai di depan gudang dan langsung menundukkan diriku pada salju merah disana. Sirup kah? Atau... Darah! Ini darah! Dan aku berani menjamin ini adalah darah manusia! Bukannya aku pernah meminum darah manusia jadi mengetahuinya, hanya saja sangat janggal jika ada hewan yang berkeliaran di halaman belakang rumah kami ditengah salju dingin seperti ini. Kalau dia mati tentu seharusnya ada bangkainya bukan? Kalau dia terluka setidaknya jejak darahnya tidak hanya berada didepan gudang saja bukan?

Aku membuka pintu dan menyalakan lilin, ruangan itu benar-benar gelap. Aku mengarahkan lilin yang kupegang tadi ke segala penjuru gudang dan menemukan sebuah bekas jejak darah yang terseret kedalam ruangan tersebut. Kuikuti jejak itu dengan terus menatap kearah bawah. Langkahku terhenti begitu aku melihat asal dari darah itu —menetes dari sebuah kaki yang tak beralaskan apapun! Kaki manusia! Kaki kecil manusia yang kini berdiri didepanku! Perlahan kuarahkan pandanganku keatas. Jantungku berdegup begitu cepat dengan semakin meningkatnya rasa takut yang menjalar pada diriku. Darah itu menetes dengan deras. Cairan merah pekat berbau amis itu benar-benar membuatku merasa mual dan ingin muntah. Begitu pandanganku dapat melihat sosok itu sepenuhnya...

"...Shiro..."

Sosok yang menyerupai anak kecil itu tiba-tiba saja menyebut namaku! Aku sontak mundur beberapa langkah. Ada yang aneh dengan anak itu. Tidak ada darah yang mengalir keluar dari tubuhnya! Kusorotkan lilin yang kupegang menuju lantai tempat aku mengikuti jejak itu –darahnya sudah lenyap! Tidak ada lagi genangan merah pekat yang mengalir dilantai!

"...Shiro..."

Anak itu kembali memanggil namaku. Bagaimana bisa? Aku bahkan belum memperkenalkan diri, darimana dia tahu namaku? Dan fisiknya —rambut hitam legam dan iris asap— kenapa dia sangat mirip dengan Kuro?

"...Shiro..."

Anak itu memanggil namaku untuk yang ketiga kalinya, terdengar seperti memohon agar aku memperhatikannya. Dan begitu aku menatap manik yang rasanya sangat familiar itu, aku merasakan desiran aneh dalam tubuhku. Tatapannya serasa akan membunuhku —sangat tajam! Tubuhnya yang putih pucat dibalut kaos berwarna biru cerah dengan corak garis vertikal berwarna kuning pada lengannya terlihat menakutkan untuk anak yang menurutku berumur sekitar enam tahun itu. Kedua tangan kecilnya menarik baju yang kugunakan, memaksaku untuk berlutut dan menyamakan tinggiku dengannya.

"...Shiro..."

Dan untuk yang keempat kalinya dia menyerukan namaku. Entah mengapa tubuhku mengikuti perintahnya dengan baik. Tubuhku bergerak sendiri! Perlahan kakiku menekuk, membuatku berlutut tepat didepan anak itu. Tangannya kini beralih memegang kedua pipiku. Dingin. Tangannya sangat dingin. Tunggu! Tangan dingin dan kulit pucat! Jangan katakan dia sudah mati!

"Siapa kau?" aku langsung bertanya begitu hal negatif mulai merasuki otakku.

"Kau sudah besar ya, Shiro..." dia berucap dengan senyum tipis.

Aneh. Kenapa aku merasa bahagia melihat senyum itu?

"Jawab aku. Siapa kau? Kenapa kau bisa berada di gudang rumahku?" aku meletakkan lilin yang kupegang pada meja disampingku begitu tangan kecilnya melepas usapan lembutnya dariku. Jujur saja, saat anak ini mengusap pipiku, entah mengapa aku merasa sangat nyaman.

"Rumah ini milik Haise. Dia yang membelinya. Kakakmu yang memilikinya," dia terkekeh kecil dengan tawa yang sangat mirip dengan niisan. Kedua tangannya saling bertautan dibalik tubuhnya. Aku merasa bingung, jelas ada yang aneh dengan anak ini.

"Darimana kau tahu nama niisan?" aku bertanya namun dia justru kembali tersenyum, tangannya kini beralih mengusap rambutku.

"Kau suka aku bersikap seperti ini 'kan?" tiba-tiba dia berujar dengan kalimat yang aneh, membuatku bingung.

"Apa maksudmu?"

"Kau suka saat aku mengelus pipi dan rambutmu seperti ini 'kan?" dia kembali menjawab.

Ya, aku mengakui itu benar. Aku menyukai perlakuannya ini. Tapi bagaimana dia bisa tahu?

"Tidak. Berhentilah bertingkah seolah aku ini anak-anak!" aku melepas usapannya dengan kasar. Mengelak kenyataan bahwa sebenarnya aku menyukainya.

Aneh. Kenapa aku justru merasa sedih tidak diperlakukan seperti tadi oleh anak ini? Ada apa denganku? Ada apa dengan tubuhku?

"Kau naif, Shiro. Bilang saja kau ingin aku mengelusmu seperti tadi. Aku tahu kau suka. Aku tahu kau sangat menyukainya," dia kembali membuka suara dengan tetap mempertahankan senyumnya. Jujur saja, senyuman anak ini sangat manis. Tapi entah mengapa aku merasa ada yang salah darinya.

"Darimana kau tahu aku menyukai—" aku langsung menutup mulutku begitu kalimat itu nyaris terselesaikan. Sial! Ada apa denganku? Kenapa mulutku bergerak mengucapkan kata itu sendiri? Sialan!

"Tentu saja aku tahu, aku 'kan kakakmu."

Mataku membola sempurna begitu mendengar pernyataannya. Apa yang dikatakan anak itu tadi? Dia kakakku? Kau bercanda! Sebenarnya aku berada dimana sekarang?!

"SIAPA KAU?!" aku berteriak sembari bangkit berdiri.

"Aku Kane-nii, Shiro. Kakak yang sangat ingin kau bunuh."

Dia tersenyum miring sambil tertawa dengan suaranya yang nyaring khas anak-anak! Mengerikan! Ini pertama kalinya aku benar-benar ketakutan dengan seorang anak kecil! Tanpa sadar aku mulai beringsut mundur, menjauhi anak itu.

"Ahaha... Kenapa, Shiro? Kenapa kau ketakutan begitu? Kemarilah. Aku kakakmu 'kan? Kenapa kau menjauhiku? Ahaha..."

Dengan tetap mempertahankan senyum miring dan tawa nyaringnya, anak itu—tidak! Dia kakakku! Kakakku melangkah maju mendekatiku! Dan hanya beberapa langkah ke belakang saja, tiba-tiba kakiku bergetar dan tidak bisa digerakan! Sial!

"Aku ingat, kaulah yang paling dekat denganku dibanding Kuro. Ketika kau kecil, kau senang sekali saat aku mengelus pipi dan rambutmu. Kau selalu mengisap jariku saat kau haus. Kau selalu tertidur lelap saat aku menggendongmu. Dan namaku adalah kata pertama yang keluar dari mulut kecilmu, lebih dulu dibanding okaasan. Aku ingat. Sangat ingat. Kau benar-benar dekat denganku—selain Haise."

Dia masih berjalan dan akhirnya berhenti tepat didepanku. Dia mendongak menatapku, membuat iris kami beradu. Saat dia berkata tadi, sorot matanya menjadi lebih teduh. Tawa nyaringnya juga hilang entah kemana. Aura yang dibawa kakakku tadi benar-benar damai.

"Tapi semua berubah. Kau sangat ingin membunuhku dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Saudara kembarku. Karena itu—"

Dia memotong kalimatnya sembari tersenyum miring. Kepalanya beralih menatap kearah belakangku. Apa yang kakakku pikiran? Apa aku pernah merebut sesuatu yang menjadi miliknya? Aku lantas berinisiatif untuk melihat apa yang dilihatnya. Aku menoleh ke belakang dan menemukan gundukan hitam yang tidak tersinari lilin dengan baik. Sebuah gundukan yang mengalirkan cairan segar berwarna merah menyala disela kakiku dengan bau amis dan busuk yang bercampur menjadi satu. Gundukan yang hanya diterangi sinar bulan itu menampakkan sebuah anggota tubuh lengkap dengan cacat diseluruh bagiannya —cacat berupa sayatan, goresan, cakaran dan luka menganga yang menunjukkan daging berwarna merah muda didalamnya.

"—aku akan membawa apa yang seharusnya bersamaku."

"NIISAAAAAAAAANNNNNN...?!"

XXXXX

POV. KURO

"Anoo... Konnichiwa. Namaku Kuroneki. Aku adik First Class Haise Sasaki. Aku datang kesini karena niisan memintaku untuk mengantar dokumen yang tertinggal dirumah."

Aku membungkukkan badanku pada seseorang yang baru saja aku temui di kantor niisan —yang sepertinya adalah seorang penting di lembaga ini. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku, hendak berjabat.

"Arima Kishou—aku atasan kakakmu."

"Ah! Gomen, Arima-san!" aku langsung membungkukkan badanku lebih dalam lagi. Kudengar suara cekikikan yang berasal dari pria bersurai putih seperti Shiro itu.

"Jangan berlebihan. Kakakmu sedang keluar untuk mencari makan siang. Tunggulah di tempatnya, lantai tujuh ruangan paling ujung. Dipintu tertulis namanya, kau tidak akan tersesat. Kalau ada yang bertanya tentangmu dan siapa yang menyuruhmu masuk, katakan saja kau adalah adiknya dan aku yang menyuruhmu masuk keruangannya."

Atasan niisan yang semula adalah sosok pria yang dingin dan pendiam dalam persepsiku ternyata adalah orang yang baik. Aku segera kembali membungkuk dan berucap terimakasih sebelum akhirnya berjalan menuju lift dan menekan tombol tujuh disana. Lift bergerak naik dan berhenti, aku segera keluar dan berjalan menyusuri lorong panjang itu. Dindingnya yang terbuat dari kaca membuatku bisa dengan mudah melihat pemandangan seluruh distrik dari atas sini. Sungguh menakjubkan! Aku yakin distrik akan tampak sangat cantik bila dilihat dari sini saat malam hari! Niisan benar-benar hebat bisa bekerja ditempat yang luar biasa seperti ini!

Aku terus berjalan dan berhenti di ujung lorong, tempat sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan 'First Class Investigator : Haise Sasaki' bertengger mulus. Aku mengetuk lalu membuka pintunya.

"Ojamashimasu."

Aku masuk dan menutup pintu lalu berjalan menuju sebuah sofa panjang disisi kanan ruangan yang menghadap dispenser dan mesin pembuat kopi, lengkap dengan meja kaca didepannya. Aku mendudukkan diri disana dan mulai menginspeksi tempat kerja niisan. Satu kata untuk ruangannya, BERSIH!

"Niisan benar-benar hebat! Bahkan ruang kerjanya serapi ini! Apa niisan yang membersihkan semuanya?"

Aku menatap penuh kagum dengan ruangan itu. Bunga plastik yang disusun manis diatas meja kerja, lemari besar yang tidak sedikitpun terlihat berdebu, jendela yang mengkilap, lantai marmer yang nampak bersinar, tumpukan kertas yang tersusun rapi diatas meja, suhu ruangan yang pas, alunan musik dari piringan hitam yang klasik, dekorasi yang minim namun terlihat elegan —sungguh tempat yang cocok untuk berkutat dengan kasus rumit yang memeras otak!

Aku yang masih memandang ruang kerja niisan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan seorang anak kecil yang duduk disampingku. Kakinya berayun-ayun dibawah sofa dan tangannya dipakai untuk menumpu beratnya diatas sofa. Dia menyunggingkan senyum begitu aku melihatnya. Sebuah senyum manis yang membuatku juga ikut tersenyum melihatnya.

"Halo!"

Aku menyapanya. Dokumen yang kubawa tadi telah kuletakkan diatas meja kerja niisan. Anak disampingku masih terus menatapku dengan senyum lebarnya. Menggemaskan!

"Siapa namamu?"

Aku bertanya walau merasa aneh dengan keberadaannya. Darimana dia datang? Kenapa saat dia masuk aku tidak menyadarinya? Dan kenapa dia bisa berada di ruangan niisan? Apa dia punya kasus yang ditangani niisan? Dan terlebih lagi, saat aku melihat anak ini, entah mengapa rasanya seolah-olah sedang bercermin! Anak ini sungguh mirip sepertiku saat masih kecil!

"Hhmmm?" dia memiringkan kepalanya, kakinya masih berayun-ayun. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari gumaman dan bahasa tubuhnya.

"Mau bermain bersamaku?" tiba-tiba saja dia berucap, masih tersenyum.

"Boleh. Kita mau main apa?" aku menyanggupi permintaannya. Walau kami baru saling mengenal dan aku bahkan tidak tahu namanya, tapi aku yakin menemani seorang anak kecil bermain pasti menyenangkan. Mungkin niisan juga suka bermain bersamanya.

Bukannya menjawab, anak itu justu melompat turun dari sofa dan berdiri didepanku. Aku menautkan alis, heran. Kulihat tangannya yang menurutku pucat itu perlahan menggenggam tanganku. Dingin. Terlalu dingin.

"Aku ingin bermain, tapi nanti. Sekarang aku ingin berbicara sesuatu," dia terlihat serius menatapku sebelum akhirnya beralih pada kedua tanganku yang ia genggam

"Aku minta maaf, Kuro."

"Huh?"

Aku heran. Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia tiba-tiba meminta maaf dariku? Dan apa tadi dia memanggil namaku? Darimana dia tahu?

"Maaf, apa tadi kau menyebut nama oniichan? Kau tahu darimana?" aku bertanya.

"Aku tidak mungkin lupa dengan adikku sendiri. Maaf membuatmu takut, Kuro."

Tunggu! Apa yang dia bilang? 'adikku sendiri'? Apa dia...

"Kau—"

"—Kane-nii"

Aku langsung bangkit dari sofa, menarik tanganku yang tergenggam erat dan menjaga jarak dengan anak —tidak! Kakakku! Akal sehatku kacau! Aku terlalu takut mengetahui bahwa sosok didepanku ini adalah Kane-nii! Aku terlalu shock mengetahui bahwa sosok yang selalu menyerangku kini berada didepanku!

Dengan sisa tenaga dari keterkejutan yang luar biasa, aku berlari menuju pintu dan membukanya. Sial! Kenapa pintunya terkunci? Bagaimana ini? Apa aku akan mati? Apa aku akan mati disini? Apa aku akan mati ditangan kakakku sendiri? Aku berusaha menggedor pintu itu dan berteriak sekuatnya. Namun sayang, tidak ada yang mendengar atau menyahutku. Mungkin disinilah akhirnya, di ruangan niisan, berdua hanya dengan Kane-nii. Tremor yang luar biasa menyerang seluruh organ dan sendi tubuhku. Semuanya.

"Kane-nii, aku mohon...hiks...jangan...hiks...aku tidak mau...hiks...niisan...hiks...Shiro..."

Tanpa sadar aku menangis. Kakiku yang lemas membuatku jatuh terduduk dilantai yang dingin. Mataku terpejam rapat. Aku putus asa. Jika aku mati disini, hari ini, maka biarlah. Aku tidak bisa mengelak. Sudah cukup semua yang aku alami. Mungkin ini saatnya aku bertemu dengan okaasan dan otousan. Sisi positif, ya? Huh!

"Jangan menangis, Kuro."

Sejurus kemudian aku merasakan tangan kecil mengusap airmataku. Menyentuh permukaan lembut wajahku dan mengelusnya dengan perlahan. Perlakuan yang begitu hangat. Aku membuka mataku dan mendapati anak itu tengah tersenyum lembut padaku.

"Kane-nii?" aku memanggil pelan.

"Berdirilah, Kuro. Kau sudah besar. Jangan terus-menerus bersikap seperti itu. Kau membuat kedua kakakmu selalu mengkhawatirkanmu," dia tersenyum padaku dan membantuku berdiri. Ada apa dengannya? Kenapa dia menjadi baik padaku? Bukankah dia berkali-kali mencoba membunuhku?

"Aku tidak datang kesini untuk membunuh adik lemah sepertimu, Kuro," namun tiba-tiba saja di berbicara aneh dan ia membalikkan badannya, membelakangiku. Dia berjalan menjauhiku, berhenti di ujung ruangan samping meja kerja niisan.

"Kane-nii?"

"Kau tahu untuk apa aku datang kemari, Kuro?" dia membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan tajam, seringai keji terukir di bibir kecilnya. Nyaliku hilang. Mungkinkah kali ini aku akan benar-benar mati?

"Aku kemari untuk—"

Dia berdiri didepan dinding yang berupa kaca itu. Sorot matanya beralih menuju jalan raya yang berada dibawahnya. Seringai mengerikan masih terpahat apik di wajahnya. Melalui sudut lain dinding itu aku berusaha melihat apa yang diamatinya sambil tetap menjaga jarak dari kakakku.

Aku melihat kebawah, menemukan sebuah truk bermuatan besi batangan menabrak tiang listrik disana. Tunggu! Apa dari celah antara truk dan tiang itu mengalir cairan merah menyerupai darah? Apa ada hewan yang terhimpit disana?

"Mundurkan truknya!"

Kudengar seseorang berteriak dari bawah. Dan begitu truk tersebut dijauhkan dari tiang, terlihatlah seorang pemuda berbalut jas abu telah remuk dan mengelurakan darah segar dari sekujur tubuhnya! Tubuh yang terhimpit truk dan tiang itu benar-benar rusak! Kepalanya pecah dan tubuhnya nyaris pipih sempurna! Darah mengucur deras dari tubuh itu, menggenang dibawahnya dan mengalir masuk melalui lubang saluran air. Sebuah kotak di pinggir jalan yang tidak jauh dari tiang itu dan terlihat seperti box makanan juga telah ternodai warna merah pekat. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena membelakangiku. Namun begitu tubuh itu jatuh terlentang kesamping, aku dapat melihat dengan jelas orang itu.

"—membawa saudara kembarku pergi bersamaku."

"NIISAAAAAAAAANNNNNN...?!"

XXXXX

POV. NORMAL

"Shiro—Kuro! Ayo bangun! Kita akan segera pergi!" Haise berteriak dari bawah, memanggil kedua adiknya yang mungkin masih tidur dikamarnya masing-masing. Setelah menunggu cukup lama namun tidak mendengar jawaban, pemuda itu langsung melesat menuju lantai atas tempat kamar kedua adiknya berada.

Tok tok tok...

"Shiro? Ayo bangun!" Haise mengetuk pintu kayu si surai putih. Mulutnya tak berhenti menyebut nama adiknya, berharap sang pemilik kamar segera menyahut dan keluar dari sarangnya. Ketukan berkali-kali dilancarkan Haise, dari yang lembut hingga yang keras, namun nampaknya si penghuni masih betah berlama-lama didalam markasnya.

"Shiro? Kalau kau tidak membuka pintu, niisan akan masuk ke kamarmu sekarang," Haise yang sudah lelah akhirnya memberikan opsi pada adiknya. Dan karena dia sama sekali tidak mendengar jawaban dari dalam kamar itu, Haise segera bersiap untuk menurunkan gagang pintu kebawah. Ketika tangannya sudah mencengkeram tuas itu, secara mendadak pintu terbuka, memperlihatkan sosok Shiro dengan baju yang basah dan kantung mata yang terlihat cukup jelas.

"Astaga, Shiro! Kau kenapa?" Haise tersentak dan panik ketika melihat kondisi adiknya yang terbilang cukup mengejutkan. Pemuda itu lantas mendorong adiknya kembali masuk ke kamarnya dan mendudukkannya diatas ranjang dengan Haise yang ikut merebahkan diri dihadapannya. Ia langsung menempelkan telapak tangannya pada kening Shiro untuk mengecek suhu tubuh pemuda yang nampak berkeringat tersebut.

"Ya ampun! Kau dingin sekali, Shiro! Apa semalam kau tidak menyalakan penghangat ruangan? Kenapa kau memakai celana pendek dimusim dingin seperti ini? Kenapa jendela kamar kau biarkan terbuka? Kau ceroboh sekali, Shiro!"

Haise memberondong adiknya dengan berbagai pertanyaan, cukup membuat Shiro menjadi pusing. Haise yang semakin panik lekas berdiri dan siap berlari kebawah untuk mengambil obat sebelum langkahnya terhenti oleh Shiro yang menggenggam tangan sang kakak kuat.

"...niisan..." Shiro berucap pelan. Bibirnya bergetar dan dia menundukkan kepala. Haise yang melihat itu langsung berbalik dan berlutut dihadapan adiknya.

"Ada apa, Shiro? Kalau kau butuh sesuatu katakan saja," Haise berujar tulus walau terdengar nada khawatir disetiap suku katanya. Melihat kondisi aneh si adik membuatnya semakin cemas.

"...niisan...jangan pergi..." Shiro berujar lirih, membuat Haise merasa ada yang aneh dengan si putih. Tidak biasanya Shiro terdengar serapuh ini. Ada apa?

"Tenang, Shiro. Niisan tidak akan pergi. Mungkin kau hanya bermimpi buruk dan lupa mengunci jendela serta menyalakan penghangat semalam. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kau bisa sakit. Ayo bangun, turunlah kebawah. Niisan sudah menyiapkan sarapan," Haise tersenyum lembut dan membantu adiknya berdiri. Shiro yang berjalan dengan terseok-seok cukup membuat Haise tidak berhenti mencemaskan adiknya yang satu ini. Dan setelah Haise memastikan Shiro berada di ruang makan untuk sarapan, ia kembali keatas untuk membangunkan adiknya yang satu lagi.

Tok tok tok...

"Kuro? Kau sudah bangun?" Haise mengetuk daun pintu adik bungsunya. Sudah menunggu lama namun tidak ada jawaban, pemuda itu lantas membuka pintu yang tidak dikunci itu.

"Kuro, niisan masuk ya!" Haise berjalan masuk. Matanya menangkap gundukan besar dibalik selimut cokelat diatas ranjang yang bergetar. Haise berjalan menuju gundukan itu, tangan kanannya melayang hendak menarik selimut cokelat tersebut. Dan begitu kain bertekstur lembut itu lenyap, nampaklah Kuro yang tengah duduk diam dengan kedua kaki yang tertekuk rapat. Dagunya menempel pada kedua lutut serta kelereng miliknya bergerak cepat. Mulutnya mengeluarkan desisan aneh.

"Kuro!" kali ini Haise berteriak kaget mendapati adik termudanya.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?" Haise segera memegangi kedua bahu pemuda didepannya dan mengguncang pelan. Kini Kuro yang membuat Haise panik untuk kedua kalinya. Matanya yang semula bergetar menatap kosong lengannya yang memeluk lutut perlahan berpindah pada iris kelabu yang sama didepannya.

"...nii..san..."

'Ada apa dengan Kuro? Kenapa tingkahnya sama seperti Shiro? Kenapa mereka berdua sama-sama terlihat ketakutan? Kenapa keduanya menatapku seperti ini? Ada apa dengan mereka?'

Haise membawa Kuro dalam pelukannya, terdengar oleh si abu bahwa adiknya kini tengah menangis. Haise sendiri tidak tahu apa yang ditangisi si adik sampai seperti ini. Yang dia yakini, kedua adiknya pasti sama-sama bermimpi buruk, mimpi buruk yang sangat mengerikan!

'Jika benar mereka seperti ini karena mimpi buruk, itu jelas tidak baik. Memang apa yang mereka mimpikan? Kenapa hal mengerikan seperti ini harus datang saat mereka berulang tahun? Ah! Aku tidak yakin bisa memberikan kejutan kalau mereka bahkan ketakutan seperti ini...'

"Tenanglah, Kuro. Niisan disini. Niisan akan selalu bersama kalian," entah apa yang membuat Haise berkata seperti itu, tapi dia merasa mendadak bibirnya berucap sendiri kalimat itu.

"Ayo kita kebawah, Shiro menunggu kita."

Haise melepas pelukan mereka dan perlahan menuntun Kuro turun ke ruang makan. Kuro benar-benar kesulitan berjalan. Kakinya bergetar hebat dan sangat bermasalah dalam menopang tubuhnya, bahkan Haise harus merangkul pundak remaja itu agar tidak terjatuh berkali-kali. Sebegitu mengerikannya-kah mimpi mereka?

Haise berjalan sangat pelan ketika menuruni tangga dan berhasil sampai di ruang makan walau dengan tenaga lebih. Di ruang itu sudah ada Shiro yang duduk diam. Ya, duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan makanannya tidak ia sentuh! Kenapa?

"Kenapa makananmu tidak kau makan, Shiro? Apa masakan niisan hari ini tidak enak? Maaf ya, niisan hanya ingin mencoba sesuatu yang baru di hari ulang tahun kalian. Itu resep yang niisan lihat dari internet! Ahaha..." Haise tertawa kecil sembari menggaruk tengkuknya pelan setelah mendudukkan Kuro dikursi depan Shiro.

"Kalian makanlah. Niisan akan mandi duluan supaya kita tidak telat," Haise berujar lalu pergi meninggalkan tempat itu. Shiro dan Kuro yang masih duduk diam hanya melempar pandang dalam bisu sebelum akhirnya bersuara.

"Kau kenapa?" Shiro memulai percakapan.

"Aku mimpi buruk," Kuro menjawab pelan.

"Seburuk apa?"

"Aku tidak mau membicarakannya."

"Apa itu berkaitan dengan niisan?"

"Eh?"

"Apa berkaitan dengan Kane-nii juga?"

"Darimana kau tahu?"

"Kita sama."

Dan pembicaraan itu terputus karena keduanya telah memahami maksud dari mimpi buruk yang mereka alami. Keduanya diam dan mengingat mimpi terburuk mereka itu. Shiro mengulang ingatannya akan bunga tidur tersebut sambil menusuk-nusuk sarapannya dengan garpu sementara Kuro hanya menatap makanan diatas piringnya dengan pandangan kosong. Sunyi menguasai tempat itu sebelum akhirnya pecah akibat interupsi Shiro.

"Aku tidak akan membiarkan niisan pergi."

"Aku juga."

To be continue..


Untuk yang kesekian kalinya saya mohon maaf atas update fic yang 'terlihat tidak bertanggungjawab'. Sedikit berkisah, ini saya publish lewat handphone dan kendala dalam pengeditannya sungguh menyebalkan (bagi saya). Jadi mohon maaf kalau diatas ditemukan begitu banyak kesalahan pengejaan. Saya tidak bisa berbuat banyak tanpa laptop saya yang sekarang sudah tamat T_T

Yosh! Saya ucapkan banyak terimakasih untuk para readers yang dengan senang hati (ataupun tidak) membaca hingga akhir! Semoga tidak mengecewakan dan jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa! Saya sangat menghargainya ^^


Replies reviews

- Frwt (Sudah terungkap ya siapa yang mau dibawaaa XD Ahahaha... Maaf Frwt-san! Dibalasan saya terdahulu sempat terjadi salah paham masalah Amon :v Terimakasih atas sambutan kembalinya saya! 🎉🎊 (padahal gak penting wkwk) Terimakasih banyak sudah meninggalkan jejaknya disini! Jangan sungkan tinggalkan jejaknya lagi ya! Semoga chapter ini menghibur :D)