Lily-chan: Myaaw~ Hello I come back! Thank you for StrawberryInFlame-SilverFlame, you're my third reviewers!
Claire: Gembar- gembor bahasa Inggris bagus tuh.
Lily-chan: Kamu lagi bad mood ya? Jangan dunkz!
Claire: Gimana nggak bad mood, kamu ngelukain Cliff-kun... *mumble mumble*
Lily-chan: Uuuh... Biarkan orang yang lagi bad mood... Mulai aja chapter ini.. Disclaimer dong, Claire-chan...
Claire: *ngambek* Blablabla... nggak punya... mumble mumble... HM...
Lily-chan : Ya udahlah! Sebelumnya saya PERINGATKAN anda-anda semua! ADA VIOLENCE DI CHAPTER INI SO BE CAREFUL! AND TRENT OOC SO BE READY, YOU TRENT FANS!
Claire's POV
"Cliff-kun, Cliff-kun! Ayo ke ruang musik sama-sama!" ajakku.
"Umm.. Aku ada kerjaan... Bagaimana kalau dengan Ann-chan saja?" tolak Cliff-kun, kelihatan menyesal.
"Enggak mau! Maunya sama Cliff-kun!" paksaku sambil menggamit tangan Cliff-kun.
"I-iya deh..." balasnya pasrah. Di muka Cliff-kun tersirat ekspresi ketakutan. Berarti dugaan kakak hampir benar.
Flashback
"Kamu harus mendekati Cliff-kun, sedekat mungkin, kalau bisa agak manja sedikit sehingga orang yang mengintimidasi Cliff-kun cemburu!" jelas Jack-nii san panjang lebar.
"Tapi kenapa darimana kita bisa tau, kalau Cliff-kun itu diintimidasi atau tidak?" tanyaku bingung.
"Huuh! Kamu ini gimana sih, Claire-chan! Lemot atau gimana! Yah taulah! Kalau benar pasti dia menunjukkan muka takut!" teriak Gray-kun dengan gayanya yang biasa, nggak sabaran.
"Huweee! Onii-chan! Aku minta tolong malah dikatain! Gray-kun jahat!" teriakku, menangis lagi di dada kakakku.
"Gray-nii san! Bisa nggak sih, halus sedikit dengan anak cewek! Apalagi yang sedang sedih! Minta maaf!" kata Ann-chan sambil menjewer kuping Gray-kun.
"Adaaw! Sakiiit! Iya deh! Minta maaf! Tapi kamu sudah ngerti kan?" kata Gray-kun meminta maaf dengan nggak ikhlas.
"I-iya... Tapi misalnya dia dipanggil orang?"
"Ikuti, dong! Dan bawa terus hape kalian, kan ada kameranya, jadi kalian bisa motret barang bukti!" jelas Jack-nii san.
"Nge-ngerti. Makasih Onii-chan. Huahm..." aku menguap.
"Tidur, yuk, Claire-chan."
"Good night. Sweet dream, sis."
"Sweet dream, nii san..."
Present
Kami pun berjalan ke ruang musik bersama-sama. Dan aku menghabiskan sepanjang hari nempel dengan Cliff-kun.
Sebelum pulang, aku menuju toilet sekolah, secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Trent-kun dan Cliff-kun.
"Hei, kamu!" panggil Trent-kun sepulang sekolah.
"E-eh, a-ada apa?" tanya Cliff-kun takut-takut.
"Temui aku di belakang gedung olahraga. Aku ada urusan denganmu." katanya dengan nada suara yang dingin.
"I-iya..."
Aku segera berlari mencari Ann-chan.
"Ann-chan! Cepat ikut aku! Bawa hapemu! Hubungi kakakku dan kakakmu! Kayaknya kita bakal tau siapa yang nyiksa Cliff-kun!" kataku cepat, nyaris tanpa spasi.
"I-iya!" sahutnya sambil berlari mengikutiku.
Dalam hitungan detik kami sudah sampai ke belakang gedung olahraga sekolah, lalu kami bersembunyi di balik sebuah semak. Terlihat pemandangan mengerikan... Membuatku hampir menjerit dan pingsan kalau saja Ann-chan tidak menutup mulutku.
Di sana Cliff-kun dipukuli oleh Trent-kun menggunakan stik baseball yang nggak tahu punya siapa, mukanya memar, lebam, keningnya berdarah dan tangan serta tubuhnya luka-luka. Aku rasanya tidak percaya dengan apa yang kulihat. Perlahan air mataku menetes, tubuhku gemetaran, tak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kita ambil bukti dulu," katanya gemetar dengan suara kecil. Pasti dia juga panik, tapi dia bisa mengendalikan dirinya. "Cepat potret kejadian ini dengan hapemu. Aku merekam."
Segera kupotret gambar-gambar kejadian mengerikan ini. Tapi, Trent-kun tiba-tiba berbalik ke belakang. Dia melihat kami!
"Claire-chan cepat pergi! Bawa hapeku dan lapor guru!" teriak Ann-chan sambil mendorongku. Dia tidak bisa keluar karena kakinya terlilit semak itu.
Aku segera berlari mencari Jack-nii san dan Gray-kun. Dalam sesaat aku sudah menemukan mereka, karena mereka juga berlari ke belakang gedung olahraga sekolah dengan Zack-sensei.
"Ce-cepat ke belakang! Ann-chan mau disiksa!" teriakku sambil berlinang air mata. Mereka segera berlari mengikuti aku.
Benar saja. Untung ketika kami sampai, Ann-chan belum disiksa.
"Trent-kun! Ke kantor sekarang!" teriak Zack-sensei. Dia melihat peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri.
Aku segera berlari menghampiri Cliff-kun. Dia pingsan. Kembali aku menitikkan air mata. Ann-chan juga berlari mendekatiku.
"Bawa dia ke UKS!" katanya segera.
Aku mencoba mengangkat badan Cliff-kun, tapi tidak bisa. Akhirnya Onii-chan membantuku mengangkat cliff-kun ke ruang UKS, lalu dia mengajak Ann-chan ke kantor guru untuk dimintai keterangan, sekaligus memperlihatkan bukti pada orangtua Trent-kun yang segera datang ke sekolah begitu ditelpon Zack-sensei dan kepala sekolah.
Aku segera membersihkan luka Cliff-kun dengan alkohol, dia meringis sedikit dalam ketidaksadarannya. Pelan-pelan kuoleskan cairan obat ke luka goresnya dan kutaruh bungkusan es batu di bagian dahi kanannya, yang memarnya paling parah. Terdengar suara langkah kaki. Segera kuusap mataku yang berair, lalu meninggalkan Cliff-kun yang lukanya sudah selesai kuobati.
.
.
.
Lily-chan: Se-selesai! Akhirnya Cliff-kun bebas dari penyiksaan! Kawaaaii!
Claire: Apaan kawai-kawai, kamu harus membayar ini authoress jelek! *megang stik baseball, mau mukul orang kayaknya*
Lily-chan: Udah, deh jangan marah! Di chappie selanjutnya kamu pasti bahagia!
Claire: Janji dodol! *mukulin authoress pake stik baseball*
Lily-chan: Gaaaha! Aku harus nyelamatin diri! Review dong! *ngibrit dari Claire, diikuti 1000 anak kucing(?)* Bye, myaaw~
